Banyak yang mengira bahwa “Sunda” adalah yang lebih dahulu, dan dalam beberapa hal itu benar. Namun, perlu dipahami bahwa “Sunda” yang dimaksud bukanlah nama sebuah pulau, melainkan nama kerajaan yaitu Sundapura. Sementara itu, jika kita berbicara tentang peradaban besar yang dikenal luas di Asia Tenggara dan China pada masa lampau, maka yang muncul adalah nama Bhumi Jawa dan Melayu.
Bukti sejarah mendukung hal ini. Prasasti Amoghapฤลa secara eksplisit menyebutkan Bhumi Jawa sebagai entitas yang kuat dan berpengaruh. Sementara itu, Prasasti Sdok K Thom dari Khmer mencatat nama Chava, yang merujuk pada Jawa. Bahkan, dalam bahasa Thailand, Jawa dikenal sebagai Chawa, sementara dalam sumber-sumber China, nama yang muncul adalah Zhaowa.
Tak hanya Jawa yang memiliki penyebutan berbeda dalam berbagai sumber sejarah. Pulau Sumatra, misalnya, dalam catatan China dikenal sebagai San-fo-ts’i, sementara dalam bahasa Thailand disebut Svarnadvipa, yang berarti “Pulau Emas.” Begitu pula dengan Bali, yang dalam sumber-sumber China disebut Dwa Pa Tan atau Po Li.
Menariknya, hingga kini masyarakat Thailand masih memahami bahwa Candi Borobudur dan Prambanan dibangun oleh orang Jawa yakni masyarakat yang bermukim di Pulau Jawa, bukan “Pulau Sunda.” Istilah Sundaland sendiri baru muncul jauh belakangan, diperkenalkan oleh ahli geologi Belanda, Reinout Willem van Bemmelen, dalam bukunya Geography of Indonesia (1949). Namun, sebenarnya istilah ini sudah lebih dahulu digunakan dalam penelitian Gustaaf Adolf Frederik Molengraaff, seorang ahli geologi Hindia Belanda.
Dengan demikian, jejak sejarah mengonfirmasi bahwa sebelum berbagai penamaan modern muncul, dunia telah lebih dulu mengenal Nusantara melalui nama-nama besar seperti Bhumi Jawa dan Melayu, bukan melalui istilah-istilah yang baru dikonstruksi di masa kolonial.
#bali #baliindonesia #taksu #taksubali #taksu_bali #upakara #bantenbali #canangsari #hindu #hindubali #pura #tradisibali #infobali #infodenpasar


Tidak ada komentar:
Posting Komentar