Rabu, 04 Maret 2026

MENGENAL LEBIH DALAM TENTANG BHATARA HYANG GURU

 


Redite Umanis Ukir
Didalam agama Hindu khususnya di Bali, Bhatara Hyang Guru (Bhatara Guru) yang juga disebut Sang Hyang Pramesti Guru adalah guru sejati.
Bhatara Surya memberikan gelar kehormatan “Bhatara Guru” sebagai ucapan terima kasih karena menjadi salah satu anak muridnya Dewa Siwa. Gelar itu diberikan kepada beliau karena Dewa Siwa merupakan guru dari para Dewa.
Dalam TUTUR GONG BESI (kelompok naskah yang memuat ajaran siwaistik)
Bhatara Guru adalah Dewa Siwa itu sendiri dengan sebutan Ida Bhatara Dalem.
” Ida Bhatara Dalem adalah Bhatara Guru sebagai Sanghyang Paramawisesa, karena semua rasa baik, rasa sakit, rasa sehat, rasa lapar dan sebagainya adalah beliau sumbernya.
Beliau adalah asal dari kehidupan, beliau memelihara alam semesta ini dan beliaulah penguasa alam kematian yang tidak ada melebihi beliau sihingga beliau juga disebutkan dengan Sanghyang Pamutering Jagat”.
Karena kemahakuasaan beliau sebagai pencipta, pemelihara dan pelebur, beliau disebut dengan banyak nama, sesuai dengan fungsi dan tempat beliau berstana.
Di dalam Veda, kemuliaan Siwa sebagai Guru Agung tersirat dalam sloka:
“Namah Śivāya ca Śivatarāya ca”
(Yajur Veda, Sri Rudram)
Artinya: “Hamba bersujud kepada Śiva, Sang Pembawa Kesejahteraan dan kepada-Nya yang Maha Pemberi Kebahagiaan tertinggi.”
Dan dalam ajaran Guru Tattwa juga ditegaskan:
“Gurur Brahmā Gurur Viṣṇuḥ Gurur Devo Maheśvaraḥ
Gurur Sākṣāt Parabrahma Tasmai Śrī Gurave Namaḥ.”
Artinya: “Guru adalah Brahma (pencipta), Guru adalah Wisnu (pemelihara), Guru adalah Maheswara (Siwa sang pelebur). Guru adalah Parabrahman itu sendiri, kepada Beliau hamba bersujud.”
Sloka ini menegaskan bahwa Guru bukan sekadar pengajar, tetapi adalah manifestasi Tuhan dalam membimbing jiwa menuju terang.
Sebagai Dewa Siwa dalam aspek Guru, Beliau dikenal sebagai Shiva, Guru para Dewa, sumber tattwa dan jnana. Gelar “Bhatara Guru” merupakan penghormatan atas kemahatahuan dan kebijaksanaan-Nya yang membimbing semesta.
Di Bali, salah satu stana suci Beliau berada di Pelinggih Kamulan.
Di sana Beliau dipuja sebagai:
Sang Hyang Atma – sumber jiwa.
Di ruang kanan: Sang Hyang Paratma – unsur purusa (bapa).
Di ruang kiri: Sang Hyang Siwatma – unsur pradana (ibu).
Di ruang tengah: penyatuan menjadi kekuatan Brahma sebagai ibu dan Sang Hyang Tuduh sebagai bapa, simbol keseimbangan kosmis.
Secara filosofis, ini mengajarkan bahwa dalam diri manusia pun terdapat percikan Bhatara Guru. Beliau bukan hanya berstana di kahyangan, tetapi juga di dalam hati yang suci. Saat kita belajar, merenung, dan mencari kebenaran, sejatinya kita sedang berguru kepada Hyang Guru yang bersemayam dalam diri.
Redite Umanis Ukir menjadi momentum untuk memuja dan memohon tuntunan agar hidup kita selalu berada dalam jalan dharma, diterangi kebijaksanaan, serta dijauhkan dari awidya (kegelapan pengetahuan).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar