Jumat, 27 Februari 2026

Kenapa Orang Bali Terkenal Ramah dan Disukai Wisatawan?

 


Bali, pulau kecil di Indonesia yang mendunia, bukan hanya terkenal karena pantainya yang indah atau sawahnya yang memanjakan mata, tapi juga karena satu hal yang membuat wisatawan betah: keramahan warganya.
Pernahkah kalian bertanya-tanya, kenapa orang Bali bisa begitu ramah, sopan, dan jarang terlibat dalam tindakan kriminal seperti mencuri, dibandingkan dengan daerah lain?
Jawabannya sederhana, tapi dalam: adat dan kepercayaan.
Orang Bali hidup dalam sistem adat yang sangat kuat, yang disebut "desa adat" — di sini setiap perbuatan baik atau buruk tidak hanya dinilai oleh hukum negara, tapi juga oleh aturan desa dan yang paling utama, oleh hukum karma.
Mereka percaya bahwa setiap tindakan buruk akan berbalik kepada diri sendiri, cepat atau lambat. Jadi mencuri, menipu, atau berbuat jahat, bukan cuma membuat malu keluarga, tapi juga bisa “mengotori” kehidupan dan bahkan nasib di kehidupan berikutnya.
Selain itu, dalam budaya Bali dikenal filosofi hidup yang bernama Tri Hita Karana — keseimbangan antara hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.
Karena itulah, keramahan bukan dibuat-buat, melainkan bagian dari cara hidup. Tamu yang datang ke rumah atau ke Bali dianggap sebagai "tamu suci" — membawa berkah, bukan beban.
Inilah kenapa Bali selalu punya tempat istimewa di hati wisatawan dari mancanegara. Bukan hanya karena keindahan pulau ini, tapi karena senyum tulus, sapaan ramah, dan sikap menghormati orang lain yang sulit ditemukan di tempat lain.
Jadi, ketika kamu liburan ke Bali, ingat satu hal: hormati juga adat dan alamnya.
Karena keramahan mereka bukan untuk disalahgunakan, melainkan untuk dihargai.

#bali #baliindonesia #taksu #taksubali #taksu_bali #upakara #bantenbali #canangsari #hindu #hindubali #pura #tradisibali #infobali #infodenpasar 

SAAT GERHANA BULAN TOTAL, WARGA BALI SEMBAHYANG DAN PUKUL KENTONGAN

 


Fenomena alam gerhana bulan total disambut warga Bali dengan cara berbeda. Setiap warga menggelar upacara dan memukul kentongan saat gerhana bulan mulai terjadi hingga kembali muncul. Aktivitas itu dilakukan masyarakat Hindu di Bali setiap terjadi gerhana bulan total. Dalam mitologi, disebut sebagai bulan kepangan. Dalam cerita rakyat Hindu di Bali, gerhana bulan total disebut sebagai bulan kepangan. Dewi Ratih yang disimbolkan sebagai bulan dimakan oleh kala rahu (raksasa). Untuk menyelamatkan bulan, warga memukul kentongan mengusir raksasa agar batal menelan bulan. Suara gaduh dihentikan setelah bulan muncul kembali normal atau gerhana bulan selesai. Namun sebelum membuat suara gaduh dengan memukul kentongan atau benda lainnya, warga Hindu menggelar sembahyang di pura keluarga masing-masing. Usai sembahyang, warga pun menunggu momen raksasa memakan bulan (gerhana bulan). Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Bali Ida Bagus Wiana mengatakan gerhana bulan total dalam kepercayaan umat Hindu, selalu dikaitakan dengan fenomena alam yang bisa membawa kepada hal negatif maupun positif.Untuk itu, lanjut Wiana, selama bulan kepangan itu, warga Hindu melakukan persembahyangan di rumah masing-masing. Wiana mengatakan ritual membuat suara gaduh dengan memukul kentongan atau benda lainnya sudah dilakukan masyarakat Bali secara turun temurun. Pengaruh positif dalam fenomena gerhana bulan adalah agar warga selalu waspada. Warga diharapkan meningkatkan kewaspadaan jika berpergian melalui udara, darat dan laut. Wanita hamil pun waspada dan mensucikan diri saat gerhana bulan total.

Sumber : news.detik.com

#bali #baliindonesia #taksu #taksubali #taksu_bali #upakara #bantenbali #canangsari #hindu #hindubali #pura #tradisibali #infobali #infodenpasar