Jumat, 08 Maret 2024

(Mengapa) Buddha?

 

".. Sira ta katika Bhatara Ratnatraya ngaran ira, sira makasila, nga, asih, punya, bhakti, ahyun pwasira purna ning tri bhuwana. Mijil ta Bhatara Sri Wairocana sake muka Sri Sakyamuni. Mawibhaga ta Bhatara Sri Lokeswara, mijil ta Bhatara Amitabha mwang Bhatara Ratnasambawa. Mawibhaga ta Bhatara Sri Bajrapani, mijil ta Bhatara Amitabha mwang Bhatara Amoghasiddhi. Sira ta kalima sira sinangjnyan Bhatara Panca Tathagatawang Bhatara Sarwa Jnyana ngaran ira waneh." -lontar Tutur Kamahayanikan-
Entah berapa tahun yang lalu, saya coba mengingat apakah tahun 2012(?) tentang tepatnya saya bertanya di hadapan arca pralingga Buddha di Pamrajan Agung Pohmanis, mengapa Buddha? Mengapa ditempatkan di sini? Kemana harus mencari tahu?
Sedari bocah, saya dititip asuh di Saren Agung (Jero Medangin sebab posisi rumah saya paling barat dalam satu kompleks jero/puri, meminjam istilah puri pomanis dari sesuratan Ida Bhatara Lepas Ida Pedanda Made Sidemen yang disungsung pada Prasasti Merajan Agung) ya begitu saya menyebutnya, sebab di rumah saban pagi selalu ditinggal pergi bekerja oleh Ibu dan Aji, sehingga (Ida Newata) Niang Griya dan Kakyang Putu Kantor yang mengasuh, Saren Agung saya sematkan sebab menjadi kesatuan dengan Pemrajan Agung, di sinilah saya biasa bermain, naik dan duduk kida-kudaan di sendi tiang berwujud patung singa yg cukup besar di palinggih Kamulan Agung, menghayal naik mobil di asagan banten yang besar di depan Tajuk Agung/Pengaruman Agung, dll.
Setelah remaja, kemudian, saya terbiasa ikut ngayah "ngenang wastra" ketika akan menyambut piodalan, bahkan beberapa kali diperbolehkan untuk ngayah "ngias ngenang wastra" arca pratima oleh (Ida Newata) Iwa Mangku Merajan. Meski demikian, saya tidak begitu ngeh dengan Arca Pralingga Buddha ini, dan kira-kira pada 2012 lalu akhirnya muncul pertanyaan itu.
Saya mencoba mencari tahu, melacak dari cerita-cerita tentang Merajan Agung. Sekiranya dipastikan bahwa arca Buddha ini dipahat tahun 1943 merujuk angka tahun renovasi pasca Gejor 1917, tukangnya dari Tegaltamu, untuk pelinggih lainnya dari Banjar Jenah atau Cengkilung(?). Arca Buddha yang dipahatkan berupa Bhatara Sri Amitabha yang dapat dikenali dari Dhyana Mudra merujuk pengarcaan di Borobudur. Letak arca Buddha Amithaba di Merajan Agung Pohmanis berada di bagian dalam (Utama Mandala) tepatnya di aling-aling Kori Agung sebagai Ameng-ameng istilah kami, diapit oleh dua arca bidadari yang membawa nampan. Arca Buddha ini didudukan menghadap ke Selatan, dengan demikian setiap orang yang baru masuk ke areal utama Merajan Agung akan selalu berjumpa dengan-Nya.
Setelahnya saya mencoba lagi untuk mencari yang berkaitan dengan Kabuddhan, entahlah, setiap kali saya coba mencari selalu bertemu dengan orang/tokoh yang bergelut pada Kabuddhan Bali, misalnya di Budakeling melalui Ida Dayu Ani, juga sederet tulisan Ibu Cok Sawitri, bahkan yang tak kalah unik adalah saya mendapatkan satu kitab Tutur Sang Hyang Kamahayanikan ditumpukan buku-buku usang milik Aji yang kemudian saya selamatkan, setelah dibaca dalam pengantar bahwa naskah yang dipergunakan adalah lontar koleksi Pusdok yang direalisasikan pada tahun 1998/1999. Selebihnya saya coba cross check dengan lontar lainnya.
Perlu dicatat bahwa saya bukanlah orang yang begitu religius ataupun spiritualis, bukan. Hanya saja saya ingin mencari tahu bagaimana sesuatu itu ada dan bagaimana ia ada terutama di lingkungan saya hidup. Sebab kegelapan pikiran lebih berbahaya dari pada gelapnya malam Nyepi yang berpuncak pada Tilem. Pada sedikit perjalan ini saya hanya baru tahu remah-remahnya, tentang mengapa Buddha dan Amithaba, "Dang Hyang Amithaba sanyjnya, ngaranya: nama, nama ngaranya aran, ya sanyjnya ngaranya" Dalam bentuk lima pencerahan sempurna Sang Hyang Panca Tathagata, Amithaba adalah 'sanyjnya'/ "ghana", daging yang tebal. 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar