Senin, 30 November 2020

Kisah Tentang Kekuasaan Tuhan, Ida Sanghyang Widhi Wasa Dalam Hindu

 



Tuhan Maha Tahu menciptakan matahari, bulan dan bintang, Ia pula yang menciptakan bumi tempat kita berpijak dan mencari makan. Tuhan Yang Maha Esa Maha Tahu Maha Mendengar, Ia mendengar semua doa kalau diucapkan dengan pikiran yang sungguh-sungguh.



Image; warungbusiki

CeritraTukang Sepatu


Di suatu desa hiduplah seorang tukang sepatu yang jujur dan taat kepada ajaran Agama. Setiap hari dari pagi hingga sore dia bekerja menambal sepatu yang sudah tua dan rusak. Dengan cara demikian ia mendapat upah yang cukup untuk keluarganya, dan suatu hari lewatlah seseorang yang kaya raya bernama Wrahaspati. Shoma si tukang sepatu tertegun melihat pakaian Wrahaspati yang terbuat dari sutra dan menaiki seekor kuda layaknya seorang raja, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 282).


"Wah alangkah bahagianya si Wrahaspati itu, kekayaan yang berlimpah dan disegani orang. Ia memiliki ribuan hektar tanah pertanian, hidupnya tentu penuh kesenangan. Sedangkan aku, bekerja siang malam memotong kulit dan menambal sepatu yang rusak dan hidupku pas-pasan. Mengapa Tuhan pilih kasih?" demikian dia menyesali dirinya. 

CARA MUDAH DAPAT UNTUNG DARI TRADING FOREX KLIK DISINI

Ketika Shoma memikirkan tentang Tuhan, dia memandang patung Siwa yang ada di atas altar di samping tempatnya bekerja. Shoma lalu duduk di hadapan patung itu dan berdoa: "Ya Tuhan adalah maha kasih, engkau adalah maha tahu, engkau menyaksikan hamba telah bekerja siang dan malam. Hamba memujamu setiap waktu, tidakkah engkau menaruh belas-kasihan kepadaku? Anugerahilah hamba agar hamba memiliki rumah yang bagus, sawah untuk bertani yang cukup untuk keperluan keluarga hamba", demikianlah doanya dengan penuh perasaan.



Ada sesuatu yang aneh, pada waktu Shoma mengucapkan kata-kata permohonannya itu, dia melihat patung Deva Siwa seperti hidup dan tersenyum kepadanya. Shoma yakin tentu doanya didengar oleh Deva Siwa, tetapi mengapa Beliau tersenyum ? itulah yang menjadi tanda tanya dalam dirinya.


Tentang Wrahaspati yang kaya raya itu, dia adalah pemuja Deva Siwa yang taat juga. Dia sangat baik hati dan suka menolong orang lain. Malam hari setelah pulang dari berkeliling desa, iapun cepat tidur karena lelah. Dalam tidurnya dia mimpi bertemu Deva Siwa. "Wrahaspati, buatkanlah rumah yang bagus untuk Shoma si tukang sepatu, berikan dia dua hektar tanah pertanian dan satu peti uang emas kepadanya. Shoma adalah salah seorang pemujaku yang taat", demikian pesan Deva Siwa dalam mimpinya.

DAPATKAN CARA MENGHASILKAN PASSIVE INCOME KLIK DISINI

Besok paginya setelah Wrahaspati terbangun segera melaksanakan perintah Deva Siwa yang dia terima melalui mimpinya itu. Shoma hampir tidak percaya dengan keberuntungan itu, diapun mengubah kebiasaan hidupnya dari seorang tukang sepatu menjadi petani. Anak dan istrinya mulai bekerja di sawah mencangkul dan bercocok-tanam. Dia merasa bahwa Tuhan telah mengabulkan permohonannya. Tapi tidak lama kemudian dia merasakan ada masalah baru yang muncul. Mengetahui bahwa Shoma telah memiliki rumah yang bagus dan besar maka semua sanak familinya berdatangan. Sebagian dari mereka tetap tinggal disana, rumah Shoma jadi ramai, dia tidak lagi bisa tenang bekerja. Sanak saudaranya yang mengetahui Shoma sudah kaya raya ikut menikmati kekayaan itu, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 283-284).


Istri Shoma selalu sibuk melayani sanak familinya mereka, karena dia percaya dengan pesan orang tuanya bahwa tidak boleh menolak tamu dan tamu harus dilayani sebaik-baiknya. Masalah berikutnya adalah mengenai peti uang emasnya. Dia kubur peti uangnya di pojok ruang tidurnya, tetapi dia selalu merasa tidak aman. Dia takut ada orang lain mengetahui dan mencurinya. Shoma tidak berani meninggalkan rumahnya, malam-malam dia tidak bisa nyenyak tidurnya. Mendengar gonggongan anjing dia khawatir, jangan-jangan perampok yang memasuki rumahnya. Sawahnya terbengkelai tidak dikerjakan karena Shoma tidak berani meninggalkan rumahnya, sedangkan istrinya sibuk melayani tamunya. 


Shoma sungguh-sungguh merasa tidak tenang dan tidak nyaman, dia mulai sakit-sakitan karena kurang tidur. Hartanya telah merampas ketenangan dan kebahagiaannya. Kembali dia teringat waktu masih menjadi tukang sepatu, walaupun dia miskin, hanya cukup makan, tetapi hatinya tenang, tidurnya nyenyak dan setiap hari dia bisa menyanyikan kidung pujian kepada Deva Siwa. Setelah menimbang dalam-dalam akhirnya dia (Shoma) memutuskan; sambil sembahyang dengan sebatang dupa dia memohon kepada Deva Siwa ;

- JUAL BANTEN MURAH hub.0882-9209-6763 atau KLIK DISINI

"Tuhan yang hamba puja, akhirnya hamba sadar mengapa Engkau tersenyum waktu hamba memohon rumah, harta kekayaan dan tanah. Semua benda-benda itu tidak menambah kebahagiaan hamba, benda-benda itu telah merampas kebahagiaan hamba. Ampunilah keserakahan hamba ini, kembalikanlah hamba kepada pekerjaan hamba semula. Biarlah hamba menjadi tukang sepatu, tetapi hamba bisa memujaMu dengan penuh kebahagiaan. Hidupkanlah rasa bhakti hamba, akan hamba persembahkan hasil kerja ini kepadaMu. Engkau Maha Tahu, apa yang patut dan baik untuk hamba. Bimbinglah hamba menuju jalan yang Engkau kehendaki".


Demikian Shoma menyampaikan permohonan dengan penuh kesungguhan dan berlinang air mata karena terharu. Keesokan harinya Shoma kembali menjadi tukang sepatu, dan semua hartanya dikembalikan lagi kepada Wrahaspati pemiliknya. Ketenangan, kesehatan dan kebahagiaan lebih mulia dari segala harta kekayaan, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 284).



Ceritra “Welas-asih”


Ibu adalah perwujudan Tuhan. Lonceng berbunyi dua belas kali, anak-anak saling mendahului keluar dari ruang kelas ingin cepat-cepat pulang dan sampai di rumah. Di langit masih mendung, setelah turun hujan dan jalanan masih becek sekali. Sebuah desa yang sangat terpencil di pegunungan ini hanya ada jalan setapak yang menghubungkan ke sekolah mereka. Dengan kondisi yang curam dan licin, karena tanahnya tanah liat berlumpur.

PERTANYAAN YG SERING DITANYAKAN SEPUTAR COVID 19

Di sebelah sekolah ada seorang ibu tua yang sedang berdiri sambil memegang tongkatnya akan pulang ke rumahnya, sepertinya sedang kesulitan dan membutuhkan bantuan orang lain. Dengan sisa tenaga yang dia miliki, tubuhnya yang gemetar, badannya yang lemah, basah dan kelihatan sedih dan putus asa. Dia tidak berani beranjak dari tempatnya berdiri, menunggu orang yang mau membantunya karena jalan sangat licin. Tak seorang yang lewat menaruh perhatian kepadanya, banyak murid-murid yang melihat tapi dia langsung lari dan ingin cepat-cepat pulang.


Muditha adalah seorang anak dari salah satu siswa tersebut yang kebetulan melihat si ibu tua itu memandang kepadanya dengan penuh harapan yang membutuhkan bantuan. Muditha langsung mendekati si ibu tua sambil berkata; "Ibu, Ibu begitu kelihatan sangat lemah, gemetar dan kedinginan apakah boleh saya membantu Ibu?" Ibu tua itu matanya bersinar karena gembira. Sudah lama ia menunggu mengharapkan pertolongan, tapi tak seorangpun yang menaruh perhatian. Namun tiba-tiba ada seorang anak yang dengan suara penuh kasih sayang, memangil dirinya dengan sebutan "ibu" dan menawarkan pertolongan.

- JUAL BANTEN MURAH hub.0882-9209-6763 atau KLIK DISINI

Si Ibu tuapun lalu berkata; anakku maukah kamu membantu ibu menyeberangi jalan ini, karena jalan sangat licin dan rumah ibu ada di seberang jalan sana. Muditha menghampiri dan memegang tangan si ibu dan mengalungkan di lehernya sambil berkata; "mari ibu kita berjalan pelan-pelan, saya akan menuntun ibu sampai ke rumah". Ketika mereka berjalan berdua si ibu bercakap-cakap dengan Muditha, dengan nada yang penuh kasih. Si ibu menanyakan nama, rumah dan orang tuanya dan dijawab oleh Muditha dengan sangat ramah.

Dagang Banten Bali

Setelah sampai di rumah si ibu tua itu, lalu Muditha mohon pamit, si ibu dengan berlinang air mata lalu berkata: "Semoga Tuhan merestuimu anakku. ibu akan selalu mendoakan agar kamu bahagia". Muditha merasa bahagia karena mendapat kesempatan menolong orang lain. Ketika dia menemui kembali teman-temannya, mereka menanyakan kepadanya mengapa dia mau berusaha bersusah-susah menolong si ibu tua itu, padahal dia tidak kenal dengannya, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 285).


Muditha menjawab "saya menolong karena saya yakin dia adalah ibu dari seseorang. Mengapa kamu menolong ibu orang lain? tanya temannya. Tentu saja, bukan sa ja menghormati tapi menyayangi, bahkan sangat menyayangi. Bila saya menemui wanita yang sebaya dengan ibu saya, saya selalu ingat sama ibu saya", kata Muditha.


Mengapa kamu lebih sayang sama ibumu bukan sama ayahmu, tanya temannya. Kedua-duanya saya sayangi, tapi saya lebih sayang sama ibu saya, karena ibu saya lebih menderita dari ayah saya. Penderitaan waktu melahirkan, pengorbanan waktu merawat saya dari bayi sampai sekarang. Mungkin selama hidup tidaklah pernah saya dapat melunasi hutang budi kepada Ibu.


Di samping itu ayah saya pernah berkata : "Anakku di dunia ini tidak ada hutang yang lebih berat dari pada kepada ibu. Barang siapa yang tidak menghormati dan menyayangi ibunya, dia tidak akan bisa menjadi manusia yang baik", Demikian ayah saya menasehati saya. Semua teman-temannya sangat terkesan dengan Muditha. Kutukan orang tua seperti awan di langit, sinar matahari tidak akan bisa menembus kalau awan menghalangi. Betapa pun taat dan bhakti seseorang kepada Tuhan, kalau dia tidak hormat kepada orang tuanya, maka anugerah Tuhan tidak akan bisa sampai kepadanya. Demikianlah ceritanya, camkanlah......! (oleh : Kimudà), (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 286).


Referensi https://www.mutiarahindu.com/2018/11/contoh-ceritra-tentang-kekuasaan-tuhan.html


Ngurah Dwaja, I Gusti dan Mudana, I Nengah. 2015. Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti SMA/SMK Kelas XII. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemdikbud.


Sumber: Buku Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti kelas XII
Kontributor Naskah : I Gusti Ngurah Dwaja dan I Nengah Mudana
Penelaah : I Made Suparta, I Made Sutresna, dan I Wayan Budi Utama Penyelia Penerbitan : Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemdikbud.
Cetakan Ke-1, 2015

Bentuk dan Contoh Pemujaan Tri Purusa Dalam Agama Hindu

 



Tri Purusha adalah jiwa agung tiga alam semesta yakni Bhur Loka (alam bawah), Bhuwah Loka (alam tengah) dan Swah Loka (alam atas). Tuhan sebagai penguasa alam bawah disebut Siwa atau Iswara. Sebagai jiwa alam tengah, Tuhan disebut Sadha Siwa dan sebagai jiwa agung alam atas, Tuhan disebut Parama Siwa atau Parameswara.


Baca: Pengertian Tri Purusa dan Bagian-Bagiannya
.

Pura Tanah Lot (image; shiva_bali_tour)

Salah satu contoh tempat pemujaan Tri Purusha adalah Padmasana, Pelinggih Padma Tiga di Pura Besakih merupakan sarana untuk memuja Tuhan sebagai Sang Hyang Tri Purusha yaitu jiwa agung alam semesta. Purusha artinya jiwa atau hidup. Tuhan sebagai jiwa dari Bhur Loka disebut Siwa, sebagai jiwa Bhuwah Loka disebut Sadha Úiwa dan sebagai jiwa dari Swah Loka disebut Swah Loka. Pelinggih Padma Tiga sebagai media pemujaan Sang Hyang Tri Purusha yaitu Siwa, Sadasiwa dan Paramasiwa. Hal ini dinyatakan dalam Piagam Besakih dan juga dalam beberapa sumber lainnya seperti dalam Pustaka Pura Besakih yang diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan Propinsi Bali tahun 1988.



Padma Tiga - Pura Besakih

Pura Besakih adalah merupakan sumber kesucian, tempat pemujaan Tri Purusha. Pura Besakih banyak mengandung filosofi. Menurut Piagam Besakih, Pura Agung Besakih adalah Sari Padma Bhuwana atau pusatnya dunia yang dilambangkan berbentuk bunga padma. Oleh karena itu, Pura Agung Besakih dijadikan sebagai pusat untuk menyucikan dunia dengan segala isinya. Pura Besakih juga pusat kegiatan upacara agama bagi umat Hindu. Di Pura Agung Besakih setiap sepuluh tahun sekali dilangsungkan upacara Panca Bali Krama dan setiap seratus tahun diselenggarakan upacara Eka Dasa Rudra. 


Pura Agung Besakih secara spiritual adalah sumber kesucian dan sumber kerahayuan bagi umat Hindu. Pelinggih Padma Tiga di Pura Besakih sebagai sarana untuk memuja Tuhan sebagai Sang Hyang Tri Purusha. Fungsi dan jenis pelinggih Padmasana yang memakai bhedawangnala, bertingkat lima dan di puncaknya ada satu ruang. Pelinggih Padma Tiga di Pura Besakih, selain digunakan sebagai niyasa stana Sanghyang Siwa Raditya atau Sanghyang Tripurusa, juga sebagai niyasa Sanghyang Tunggal yaitu Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa. Bangunan yang paling utama di Pura Besakih adalah palinggih Padma (Padmasana) Tiga. Letaknya di Pura Penataran Agung Besakih. Palinggih tersebut terdiri atas tiga bangunan berbentuk padmasana berdiri di atas satu altar. Perkembangan awal dari Tri Purusha ini disebutkan bahwa ketika Dang Hyang Nirartha pertama kali tiba di Pulau Bali dari Blambangan sekitar tahun caka 1411 atau 1489 M, dan ketika itu Kerajaan Bali Dwipa dipimpin oleh Dalem Waturenggong, beliau mendapat wahyu di Purancak, Jembrana bahwa di Bali perlu dikembangkan paham Tri Purusha ini, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 267).

CARA MUDAH DAPAT UNTUNG DARI TRADING FOREX KLIK DISINI

Bentuk bangunan suci Padma Tiga yang berada di Pura Agung Besakih adalah tempat pemujaan Tri Purusha yakni Siwa, Sada Siwa, dan Parama Siwa (Tuhan Yang Mahaesa). Piodalan di Padmasana Tiga dilangsungkan setiap Purnama Kapat. Ini terkait dengan tradisi ngapat. Sasih Kapat atau Kartika, merupakan saat-saat bunga bermekaran. Kartika juga berarti penedengan sari. Padmasana tersebut dibangun dalam satu altar atau yoni. Palinggih padmasana merupakan sthana Tuhan Yang Maha Esa. Padmasana berasal dari kata padma dan asana. Padma berarti teratai dan asana berarti tempat duduk atau singgasana. Jadi, padmasana artinya tempat duduk atau singgasana teratai.


Tuhan Yang Mahaesa secara simbolis bertahta di atas tempat duduk atau singgasana teratai atau padmasana. Padmasana lambang kesucian dengan astadala atau delapan helai daun bunga teratai. Bali Dwipa atau Pulau Bali dibayangkan oleh para Rsi Hindu zaman dulu sebagai padmasana, tempat duduk Tuhan Siwa, Tuhan Yang Maha Esa dengan asta saktinya (delapan kemahakuasaan-Nya) yang membentang ke delapan penjuru (asta dala) Pulau Bali masing-masing dengan Deva penguasanya. Deva Iswara berada di arah Timur, bersemayam di Pura Lempuyang. Brahma di selatan bersemayam di Pura Andakasa. Deva Mahadeva di barat (Pura Batukaru), Wisnu di utara (Pura Batur), Maheswara di arah tenggara (Pura Goa Lawah), Rudra di barat daya (Pura Uluwatu), Sangkara di barat laut (Pura Puncak Mangu), Sambhu di timur laut (Pura Besakih), Siwa bersemayam di tengah, pada altar dari Pura Besakih dengan Tri Purusa-Nya yaitu Parama Siwa, Sada Siwa dan Siwa.

DAPATKAN CARA MENGHASILKAN PASSIVE INCOME KLIK DISINI

Tri Purusha tersebut dipuja di Padmasana Tiga Besakih. Palinggih Padmasana Tiga tersebut merupakan intisari dari padma bhuwana, yang memancarkan kesucian ke seluruh penjuru dunia. ‘’Karena itu, sumber kesucian tersebut penting terus dijaga, sebagai sumber kehidupan. Pembangunan Pura Agung Besakih dan Pura-pura Sad Kahyangan lainnya adalah berdasarkan konsepsi Padma Mandala, bunga padma dengan helai yang berlapis-lapis (Catur Lawa dan Astadala). Pura Besakih adalah sari padma mandala atau padma bhuwana. Pura Gelap, Pura Kiduling Kerteg, Pura Ulun Kulkul dan Pura Batumadeg adalah Catur Lawa. Sedangkan Pura Lempuyang Luhur, Goa Lawah,Andakasa, Luhur Uluwatu, Batukaru, Puncak Mangu, dan Pura Batur adalah Astadala. Pura-pura tersebut sangat disucikan dan merupakan satu kesatuan yang utuh. Pura-pura tersebut pusat kesucian dan kerahayuan bagi umat Hindu.

- JUAL BANTEN MURAH hub.0882-9209-6763 atau KLIK DISINI

Pura Besakih sebagai huluning Bali Rajya, hulunya daerah Bali. Pura Besakih sebagai kepala atau jiwanya Pulau Bali. Hal ini sesuai dengan letak Pura Besakih di bagian timur laut Pulau Bali. Timur laut adalah arah terbitnya matahari dengan sinarnya sebagai salah satu kekuatan alam ciptaan Tuhan yang menjadi sumber kehidupan di bumi. Pura Besakih juga hulunya berbagai pura di Bali, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 268)


Di Padma Tiga ini Tuhan dipuja sebagai Sang Hyang Tri Purusha, tiga manifestasi Tuhan sebagai jiwa alam semesta. Tuhan sebagai Tri Purusha adalah jiwa agung tiga alam semesta yakni Bhur Loka (alam bawah), Bhuwah Loka (alam tengah) dan Swah Loka (alam atas). Tuhan sebagai penguasa alam bawah disebut Siwa atau Iswara. Sebagai jiwa alam tengah, Tuhan disebut Sadha Úiwa dan sebagai jiwa agung alam atas, Tuhan disebut Parama Úiwa atau Parameswara.


Palinggih padma paling kanan tempat memuja Sang Hyang Parama Siwa. Bangunan ini biasa dihiasi busana hitam. Sebab, alam yang tertinggi (Swah Loka) tak terjangkau sinar matahari sehingga berwarna hitam. Bangunan padma yang terletak di tengah adalah lambang pemujaan terhadap Sang Hyang Sadha Siwa. Busana yang dikenakan pada padma tengah itu berwana putih. Warna putih lambang akasa. Sedangkan, bangunan padma paling kiri lambang pemujaan Sang Hyang Siwa yaitu Tuhan sebagai jiwa Bhur Loka. Busana yang dikenakan berwarna merah. Di Bhur Loka inilah Tuhan meletakkan ciptaan- Nya berupa stavira (tumbuh-tumbuhan), janggama (hewan) dan manusia. Jadi, palinggih Padma Tiga merupakan sarana pemujaan Tuhan sebagai jiwa Tri Loka. Karena itu dalam konsepsi rwa-bhineda, Pura Besakih merupakan Pura Purusha, sedangkan Pura Batur sebagai Pura Predana.


Busana hitam pada palinggih Padma Tiga bukanlah simbol Deva Wisnu, tetapi Parama Siwa. Dalam Mantra Rgveda dinyatakan bahwa keberadaan Tuhan Yang Maha Esa yang memenuhi alam semesta ini hanya seperempat bagian. Selebihnya ada di luar alam semesta. Keberadaan di luar alam semesta ini amat gelap, karena tidak dijangkau oleh sinar matahari. Tuhan juga maha- ada di luar alam semesta yang gelap. Tuhan sebagai jiwa agung yang hadir di luar alam semesta yang disebut Parama Siwa. Parama Siwa adalah Tuhan dalam keadaan Nirguna Brahman atau tanpa sifat. Manusia tidak mungkin melukiskan sifat-sifat Tuhan Yang Maha Kuasa itu.

PERTANYAAN YG SERING DITANYAKAN SEPUTAR COVID 19

Padmasana yang berada di tengah, busananya putih-kuning sebagai simbol Tuhan dalam keadaan Saguna Brahman. Artinya Tuhan sudah menunjukkan ciri-ciri niskala untuk mencipta kehidupan yang suci dan sejahtera. Putih lambang kesucian dan kuning lambang kesejahteraan. Sedangkan busana warna merah pada padma paling kiri bukanlah sebagai lambang Deva Brahma. Warna merah itu sebagai simbol yang melukiskan keberadaan Tuhan sudah dalam keadaan krida untuk Utpati, Sthitti dan Pralina. Dalam hal inilah Tuhan Siwa bermanifestasi menjadi Tri Murti. Sementara di kompleks Pura Besakih, manifestasi Tuhan sebagai Batara Brahma dipuja di Pura Kiduling Kreteg, Batara Wisnu di Pura Batu Madeg dan Batara Iswara di Pura Gelap, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 269)


Di tingkat Pura Padma Bhuwana, Batara Wisnu dipuja di Pura Batur, simbol Tuhan Maha Kuasa di arah utara. Bhatara Iswara dipuja di Pura Lempuhyang Luhur, simbol Tuhan di arah timur dan Batara Brahma dipuja di Pura Andakasa, simbol Tuhan Maha Kuasa di arah selatan. Demikianlah keberadaan Pelinggih Padma Tiga yang berada di Mandala kedua dari Pura Penataran Agung Besakih. Di Mandala kedua ini sebagai simbol bertemunya antara bhakti dengan sweca. Bhakti adalah upaya umat manusia atau para bhakta untuk mendekatkan diri pada Tuhan. 

Dagang Banten Bali


Sedangkan sweca dalam bahasa Bali maksudnya suatu anugerah Tuhan kepada para bhakta-nya. Sweca itu akan diterima oleh manusia atau para bhakta sesuai dengan tingkatan bhakti- nya kepada Tuhan. Bentuk bhakti pada Tuhan di samping secara langsung juga seyogianya dilakukan dalam wujud asih dan punia. Asih adalah bentuk bhakti pada Tuhan dengan menjaga kelestarian alam lingkungan dengan penuh kasih sayang. Karena alam semesta ini adalah badan nyata dari Tuhan. Sedangkan punia adalah bentuk bhakti pada Tuhan dalam wujud pengabdian pada sesama umat manusia sesuai dengan swadharma kita masing-masing.


Tuhan telah menciptakan Rta sebagai pedoman atau norma untuk memelihara dan melindungi alam ini dengan asih. Tuhan juga menciptakan dharma sebagai pedoman untuk melakukan pengabdian pada sesama manusia. Dengan konsep asih, punia dan bhakti itulah umat manusia meraih sweca-nya Tuhan yang dilambangkan di Pura Besakih di Mandala kedua ini. Di Mandala ketiga ini tepatnya di sebelah kanan Padma Tiga itu adalah bangunan suci yang disebut Bale Kembang Sirang. Di Bale Kembang Sirang inilah berlangsung upacara pedanaan saat ada upacara besar di Besakih seperti saat ada upacara Batara Turun Kabeh maupun upacara Manca Walikrama, apalagi Upacara Eka Dasa Ludra.


Upacara Pedanaan yang dipusatkan di Bale Kambang Sirang inilah sebagai simbol bahwa antara bhakti umat dengan sweca-nya Hyang Widhi bertemu. Di Pura Penataran Agung Besakih sebagai simbol Sapta Loka tergolong Pura Luhuring Ambal-Ambal. Ini dilukiskan bagaimana umat seyogianya melakukan bhakti pada Tuhan dan bagaimana Tuhan menurunkan sweca pada umat yang dapat melakukan bhakti dengan baik dan benar. Semuanya dilukiskan dengan sangat menarik di Pura Penataran Agung Besakih dan amat sesuai dengan konsep Veda, kitab suci agama Hindu.

- JUAL BANTEN MURAH hub.0882-9209-6763 atau KLIK DISINI

Sementara di tingkat desa pakraman, Batara Tri Murti itu dipuja di Pura Kahyangan Tiga. Ajaran Agama Hindu demikian serius mengajarkan umatnya untuk memuja Tuhan Yang Maha Esa itu dalam manifestasinya sebagai Deva Tri Murti. Salah satu ciri hidup manusia melakukan dinamika hidup. Memuja Tuhan sebagai Tri Murti untuk menuntun umat manusia agar dalam hidupnya ini selalu berdinamika yang mampu memberikan kontribusi pada kemajuan hidup menuju hidup yang semakin baik, benar dan tepat. Pemujaan pada Deva Tri Murti itu agar dinamika hidup manusia itu berada di koridor Utpati, Stithi dan Pralina. Maksudnya menciptakan sesuatu yang patut diciptakan disebut Utpati, memelihara serta melindungi sesuatu yang sepatutnya dipelihara dan dilindungi disebut Stithi. Serta meniadakan sesuatu yang sudah usang yang memang sudah sepatutnya dihilangkan yang disebut Pralina, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 270-271).


Demikian umat Hindu di Bali memuja Tuhan, bagaimana dengan umat Hindu di luar Bali? Seiring dengan kemajuan zaman dan pengetahuan yang ada, terkait tentang sarana pemujaan kehadapan Tuhan oleh umat Hindu di luar Bali, dapat dinyatakan sudah mengalami kemajuan yang patut kita banggakan bersama. Di antara mereka juga sudah memiliki dan mempergunakan “Padmasana” sebagai tempat untuk memuja kebesaran Sang Pencipta. Berikut ini adalah tempat-tempat suci umat Hindu yang ada di luar Bali, antara lain:






RELATED:
Pengertian, Contoh dan Bagian-Bagian Tri Rna
Veda sebagai Sumber Hukum Hindu
Glosarium Materi Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas V
Renungan Atharvaveda XIX.41.1


"Bhadram icchanta åûayas tapo diksàm upanisedur agre,
tato ràstram balam ojaúca jàtam tadasmai devà upasamnamantu". 


Terjemahan:


"Para rsi (futurelog) yang memikirkan tentang kemakmuran bangsa mendapatkan dua faktor, yakni kesetiaan dan pengabdian (dedikasi), Dengan menjalankan faktor-faktor itu bangsa ini menjadi kuat dan mulia. Maka dari itu faktor-faktor ini seharusnya dibina".


Referensi https://www.mutiarahindu.com/2018/11/bentuk-dan-contoh-pemujaan-tri-purusa.html


Ngurah Dwaja, I Gusti dan Mudana, I Nengah. 2015. Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti SMA/SMK Kelas XII. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemdikbud.


Sumber: Buku Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti kelas XII
Kontributor Naskah : I Gusti Ngurah Dwaja dan I Nengah Mudana
Penelaah : I Made Suparta, I Made Sutresna, dan I Wayan Budi Utama Penyelia Penerbitan : Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemdikbud.
Cetakan Ke-1, 2015

Penjelasan Tri Purusa Sebagai Manifestasi Sang Hyang Widhi Dalam Agama Hindu

 



seperti kita ketahui bahwa Tri Purusa merupakan Tiga sifat Tuhan dalam bentuk Dewa Siwa. Ketiga sifat tersebut yakni Parama Siwa, Sada Siwa dan Siwatma. Parama Siwa merupakan sifat Tuhan dalam bentuk tidak terpikirkan, murni, abadi, tidak terbatas, memenuhi segalanya, jiwa segala jiwa, anandi ananta yaitu tidak berawal dan tidak berakhir. Parama Siwa sebagai jiwa agung alam semesta menempati alam atas atau Swah Loka. 



Image; bali.sakral

Tuhan dalam sifat Sada Siwa sebagai jiwa alam tengah ( Bhuwah loka) disebutkan bahwa Tuhan telah terpengaruh maya sehingga memiliki kemahakuasaan yang tidak terbatas. Dalam keadaan seperti ini Beliau juga disebut Saguna barhaman. Tuhan dalam hal ini disebut juga Apara Brahman yaitu Tuhan Pencipta, Pemelihara dan Pelebur. Sedangkan Tuhan Dalam sifat Siwatma atau penguasa alam bawah (bhur loka) disebut juga atmika adalah Tuhan yang telah diliputih oleh maya, menjadi jiwa semua makhluk hidup.

CARA MUDAH DAPAT UNTUNG DARI TRADING FOREX KLIK DISINI

Tri Purusha adalah jiwa agung tiga alam semesta yakni Bhur Loka (alam bawah), Bhuwah Loka (alam tengah) dan Swah Loka (alam atas). Tri Purusha terdiri dari;


1. Parama Siwa: 


Parama Siwa artinya Tuhan dalam keadaan belum beraktivitas. Tuhan dapat digambarkan seperti kilat atau petir. Kilat atau petir itu adalah listrik yang ada di alam dan hanya terlihat pada musim hujan. Listrik ada tetapi belum aktif. Seperti itulah penggambaran Tuhan dalam keadaan Parama Siwa.

- JUAL BANTEN MURAH hub.0882-9209-6763 atau KLIK DISINI

2. Sadha Siwa: 


Sadha Siwa berarti keadaan Tuhan sudah aktif dan berfungsi menciptakan alam. Penggambaran Tuhan (Brahman) sebagai Sadha Siwa dalam keadaan aktif sudah mulai berfungsi, sudah menunjukkan ke-Mahakuasaan-Nya yang diwujudkan dalam wujud Deva. Tuhan berfungsi sebagai pencipta disebut Deva Brahma, Tuhan berfungsi sebagai pemelihara disebut Deva Wisnu dan Tuhan berfungsi sebagai pelebur atau mengembalikan ke asalnya disebut Deva Siwa. Tuhan dalam wujud Sadha Siwa juga memiliki kekuasaan dapat kecil sekecil-kecilnya, besar sebesar-besarnya, bersifat Maha Tahu, Maha Karya, ada di mana- mana dan kekal abadi. Karena Tuhan memiliki ke-Maha Kuasaan, maka Tuhan diberi gelar atau sebutan bermacam-macam sesuai ke-Maha Kuasaan-Nya, seperti:

Brahma,
Wisnu,
Rudra,
MahaDeva,
Sang Hyang Widhi,
Sang Hyang Sangkan Paran, dan lain-lain (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 264).

PERTANYAAN YG SERING DITANYAKAN SEPUTAR COVID 19

3. Siwa: 


Siwa sebagai bagian ketiga dari Tri Purusha adalah keadaan Tuhan sebagai Siwatma yaitu dapat menyatu dan menjiwai tubuh makhluk. Penggambaran Tuhan dalam wujud Siwa digambarkan seperti sebuah bola lampu. Di mana bola lampu akan menyala bila sudah dialiri oleh listrik. Listrik yang mengalir akan menyesuaikan dengan bentuk sebuah lampu. Kalau dalam makhluk hidup, bila Tuhan dalam Siwatma akan menyatu dengan ciptaan-Nya menjadi tubuh makhluk yang disebut Atma. Atmalah yang menjiwai manusia, hewan dan tumbuhan. Ketika Tuhan sudah berada dalam makhluk ciptaan-Nya, maka Tuhan akan dipengaruhi oleh keadaan makhluk itu dan menjadi lupa akan asalnya dan akan mengalami suka duka.


Dalam mahzab Siwaisme dikenal istilah Tri Purusha. “menurut Piagam Besakih, Tuhan dipuja sebagai Sang Hyang Tri Purusha (Tiga Manifestasi Tuhan sebagai jiwa alam semesta)”. Tri Purusha didalam Tattwa Jnana disebutkan “……yang disebut Siwa Tattwa ada tiga yaitu; Paramasiwa Tattwa, Sadasiwa Tattwa, Atmika Tattwa” (Tattwa Jnana). Dengan demikian pada dasarnya Siwa adalah satu namun keadaan dan sifatnya berbeda, yang secara vertikal dipilah menjadi tiga bagian menyangkut keadaan-Nya yaitu: Paramasiwa (Trancendent), Sadasiwa (Immanent), dan Atmika Tattwa atau Siwatma (Immanent).

- JUAL BANTEN MURAH hub.0882-9209-6763 atau KLIK DISINI

Atmika Tattwa/Siwatma merupakan aspek Tuhan yang bersemayam didalam hati setiap makhluk. Sadasiwa Tattwa merupakan aspek Tuhan berwujud (Saguna Brahman), sedangkan aspek Tuhan yang tak berwujud (Nirguna Brahman) adalah Paramasiwa Tattwa.




Dalam mahzab Waisnawa aspek Tuhan yang berwujud adalah Bhagavan, aspek Tuhan tak berwujud adalah Brahman dan aspek Tuhan yang bersemayam di dalam hati setiap makhluk adalah Paramatman (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 265)


Renungan Atharvaveda X.2.23


"Brahma devàn anu kûiyati brahma daivajanir viúah, brahmedam anyat-akúatram brahma sat kûatram ucyate". 


Terjemahan:

Dagang Banten Bali

"Tuhan Yang Maha Esa bersemayam dan berwujud sebagai para Deva. Tuhan Yang Maha Esa, bersemayam pada media-media yang suci, Tuhan Yang Maha Esa adalah abadi (tak terhancurkan) dan Dia adalah pelindung yang agung".




Referensi https://www.mutiarahindu.com/2018/11/penjelasan-tri-purusa-sebagai.html


Ngurah Dwaja, I Gusti dan Mudana, I Nengah. 2015. Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti SMA/SMK Kelas XII. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemdikbud.


Sumber: Buku Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti kelas XII

Kontributor Naskah : I Gusti Ngurah Dwaja dan I Nengah Mudana

Penelaah : I Made Suparta, I Made Sutresna, dan I Wayan Budi Utama Penyelia Penerbitan : Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemdikbud.
Cetakan Ke-1, 2015

Pengertian Tri Purusa dan Bagian-Bagiannya

 


Secara etimologi Kata Tri Purusha (bahasa Sanskerta) terdiri dari kata “tri’ berarti tiga, dan “Purusha” berarti Jiwa Agung, Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan sebagai Tri Purusha, Brahman. Tri Purusha adalah jiwa agung tiga alam semesta yakni Bhur Loka (alam bawah), Bhuwah Loka (alam tengah) dan Swah Loka (alam atas). Tuhan sebagai penguasa alam bawah disebut Úiwa atau Iswara. Sebagai jiwa alam tengah, Tuhan disebut Sadha Úiwa dan sebagai jiwa agung alam atas, Tuhan disebut Parama Siwa atau Parameswara.


Pura Besakih merupakan sumber kesucian, tempat pemujaan Tri Purusha. Pura Besakih banyak mengandung filosofi. Menurut Piagam Besakih, Pura Agung Besakih adalah Sari Padma Bhuwana atau pusatnya dunia yang dilambangkan berbentuk bunga padma. Oleh karena itu, Pura Agung Besakih dijadikan sebagai pusat untuk menyucikan dunia dengan segala isinya. Pura Besakih juga pusat kegiatan upacara agama bagi umat Hindu. 



Photo; kadek_srie26

Di Pura Agung Besakih setiap sepuluh tahun sekali dilangsungkan upacara Panca Bali Krama dan setiap seratus tahun diselenggarakan upacara Eka Dasa Rudra. Pura Agung Besakih secara spiritual adalah sumber kesucian dan sumber kerahayuan bagi umat Hindu (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 258)

DAPATKAN CARA MENGHASILKAN PASSIVE INCOME KLIK DISINI

Pelinggih Padma Tiga di Pura Besakih sebagai sarana untuk memuja Tuhan sebagai Sang Hyang Tri Purusha. Fungsi dan jenis pelinggih Padmasana yang memakai bhedawangnala, bertingkat lima dan di puncaknya ada satu ruang. Pelinggih Padma Tiga di Pura Besakih, selain digunakan sebagai niyasa stana Sanghyang Siwa Raditya atau Sanghyang Tri Purusha, juga sebagai niyasa Sanghyang Tunggal yaitu Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa.


Bangunan yang paling utama di Pura Besakih adalah palinggih Padma (Padmasana) Tiga. Letaknya di Pura Penataran Agung Besakih. Palinggih tersebut terdiri atas tiga bangunan berbentuk padmasana berdiri di atas satu altar. Perkembangan awal dari Tri Purusha ini disebutkan bahwa ketika Dang Hyang Nirartha pertama kali tiba di Pulau Bali dari Blambangan sekitar tahun saka 1411 atau 1489 M, dan ketika itu Kerajaan Bali Dwipa dipimpin oleh Dalem Waturenggong, beliau mendapat wahyu di Purancak, Jembrana bahwa di Bali perlu dikembangkan paham Tripurusha.


Ida Bagus Gede Agastia (Pengamat agama dan budaya) mengatakan bangunan suci Padma Tiga yang berada di Pura Agung Besakih adalah tempat pemujaan Tri Purusa yakni Úiwa, Sada Úiwa, dan Parama Úiwa (Tuhan Yang Mahaesa).

DAPATKAN CARA MENGHASILKAN PASSIVE INCOME KLIK DISINI

Piodalan di Padmasana Tiga dilangsungkan setiap Purnama Kapat. Ini terkait dengan tradisi ngapat. Sasih Kapat atau Kartika, merupakan saat-saat bunga bermekaran. Kartika juga berarti penedengan sari. Padmasana tersebut dibangun dalam satu altar atau yoni. Palinggih padmasana merupakan sthana Tuhan Yang Maha Esa.


Padmasana berasal dari kata padma dan asana. Padma berarti teratai dan asana berarti tempat duduk atau singgasana. Jadi, padmasana artinya tempat duduk atau singgasana teratai.


Tuhan Yang Maha Esa secara simbolis bertahta di atas tempat duduk atau singgasana teratai atau padmasana. Padmasana lambang kesucian dengan astadala atau delapan helai daun bunga teratai. Bali Dwipa atau Pulau Bali dibayangkan oleh para Rsi Hindu zaman dulu sebagai padmasana, tempat duduk Tuhan Úiwa, Tuhan Yang Mahaesa dengan asta saktinya (delapan kemahakuasaan-Nya) yang membentang ke delapan penjuru (asta dala) Pulau Bali masing-masing dengan Deva penguasanya. Deva Iswara berada di arah Timur, bersemayam di Pura Lempuyang (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 259)


Brahma di selatan bersemayam di Pura Andakasa. Deva Mahadeva di barat (Pura Batukaru), Wisnu di utara (Pura Batur), Maheswara di arah tenggara (Pura Goa Lawah), Rudra di barat daya (Pura Uluwatu), Sangkara di barat laut (Pura Puncak Mangu), Sambhu di timur laut (Pura Besakih), Úiwa bersemayam di tengah, pada altar dari Pura Besakih dengan Tri Purusa-Nya yaitu Parama Úiwa, Sada Úiwa dan Úwa.

CARA MUDAH DAPAT UNTUNG DARI TRADING FOREX KLIK DISINI

Tri Purusha tersebut dipuja di Padmasana Tiga Besakih. Palinggih Padmasana Tiga tersebut merupakan intisari dari padma bhuwana, yang memancarkan kesucian ke seluruh penjuru dunia. Karena itu, sumber kesucian tersebut penting terus dijaga, sebagai sumber kehidupan.


Pembangunan Pura Agung Besakih dan Pura-pura Sad Kahyangan lainnya adalah berdasarkan konsepsi Padma Mandala, bunga padma dengan helai yang berlapis-lapis (Catur Lawa dan Astadala). Pura Besakih adalah sari padma mandala atau padma bhuwana. Pura Gelap, Pura Kiduling Kerteg, Pura Ulun Kulkul dan Pura Batumadeg adalah Catur Lawa. Sedangkan Pura Lempuyang Luhur, Goa Lawah, Andakasa, Luhur Uluwatu, Batukaru, Puncak Mangu, dan Pura Batur adalah Astadala. Pura-pura tersebut sangat disucikan dan merupakan satu kesatuan yang utuh. Pura-pura tersebut pusat kesucian dan kerahayuan bagi umat Hindu.

- JUAL BANTEN MURAH hub.0882-9209-6763 atau KLIK DISINI

Di masing-masing Desa Adat/Pekraman dan atau Desa Dinas umat sedharma melaksanakan pemujaan ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa dengan berbagai manifestasi-Nya bertempat di Padmasana yang ada pada Kahyangan Tiga dari Desa yang bersangkutan. Selain itu bagi umat sedharma yang berdomisili di wilayah tingkat Kecamatan, Kabupaten/Kota dan Provinsi dapat memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa di Padmasana seperti yang dibangun pada Pura Jagatnhata di tingkat Kabupaten/Kota yang ada di seluruh Indoesia. Dalam posisi vertikal Tuhan (Parama Úiwa, Sada Úiwa dan Úiwa) dipuja di Padma Tiga Pura Besakih, sedangkan dalam posisi horisontal Beliau (Berahma, Wisnu dan Siwa) dipuja di Pura Kahyangan Tiga masing-masing Desa Pakrama setempat. Demikianlah Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi Wasa dipuja oleh umat sedharma yang ada di Kabupaten/Kota seluruh Indonesia (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 260)



Bagian-Bagian Tri Purusha


Umat Hindu mempunyai keyakinan atau kepercayaan terhadap kekuatan Hyang Widhi. Agama Hindu mempunyai keyakinan atau kepercayaan akan adanya Hyang Widhi (Tuhan Yang Mahaesa) yang memiliki kemahakuasaan di luar batas kemampuan kita. Keyakinan dan kepercayaan itu dalam ajaran agama Hindu disebut dengan Sraddhà. 

PERTANYAAN YG SERING DITANYAKAN SEPUTAR COVID 19

Dengan Sraddhà orang akan mencapai Tuhan. Banyak fakta yang menyebabkan timbulnya keyakinan di dalam diri manusia terhadap adanya Tuhan. Bagi kebanyakan orang keyakinan itu timbul berdasarkan agama yaitu berdasarkan cerita-cerita atau ucapan-ucapan dari orang Suci yang dapat dipercaya seperti para Mahàrsi (Agama pramana). Ada juga orang yang percaya akan adanya Tuhan berdasarkan suatu perhitungan yang logis (Anumana pramana). Serta ada juga orang meyakini adanya Tuhan berdasarkan pengalaman langsung (Praktyaksa pramana).


Misalnya kita ketahui bahwa segala yang ada, ada yang mengadakannya, seperti adanya meja dibuat oleh tukang kayu, adanya rumah dibuat oleh tukang bangunan, adanya HP dibuat oleh pabriknya, dan sebagainya. Kemudian adanya matahari, planet, bintang, gunung, laut, hutan, bumi, binatang, tumbuh- tumbuhan yang beraneka ragam. Siapakah gerangan yang mengadakannya?


Beliaulah yang Maha Pencipta yang merupakan asal mula dari yang ada, tanpa permulaan, tanpa tengah, dan tanpa akhir (tan paadi, tan pamadhya, tan paanta) Demikian pula di dunia ini ada tata tertib sehingga nampak adanya suatu rencana yang berdasarkan pemikiran dan tujuan tertentu. Seperti misalnya mengenai siklus kehidupan semua makhluk di dunia ini. Peredaran bumi, bulan, planet, bintang yang tidak terhitung banyaknya sebagai isi cakrawala ini namun satu dengan yang lainnya tidak saling bertubrukan dan betapa luasnya ruang angkasa ini. 

Dagang Banten Bali

Dari hal tersebut akan timbul kekaguman dalam hati kita mengenang kebenaran dan keanehan di alam ini yang seolah-olah ada kekuatan yang Maha bijaksana dan cerdas yang menciptakan dan mengatur alam ini. Apakah kiranya yang mengatur alam semesta ini. Apakah kiranya kekuatan-kekuatan itu? Ada yang menyebutkan hukum alam, namun ada juga yang menyebutkan hukum kebijaksanaan Tuhan. Dengan menyimpulkan berdasarkan gejala-gejala yang terjadi dari keanehan alam ini manusia dapat percaya dengan adanya Tuhan (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 261)


Tuhan Yang Maha Esa, Tri Purusa, Brahman terdiri dari:


1. Parama Siwa yaitu Tuhan sebagai jiwa agung alam atas, disebut Parama Siwa atau Parameswara.
2. Sadà Siwa yaitu Tuhan sebagai jiwa alam tengah, disebut Sadha Siwa.
3. Siwàtma yaitu Tuhan sebagai penguasa alam bawah disebut Siwa atau Iswara.


Referensi https://www.mutiarahindu.com/2018/10/pengertian-tri-purusa-dan-bagian.html


Ngurah Dwaja, I Gusti dan Mudana, I Nengah. 2015. Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti SMA/SMK Kelas XII. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemdikbud.


Sumber: Buku Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti kelas XII
Kontributor Naskah : I Gusti Ngurah Dwaja dan I Nengah Mudana
Penelaah : I Made Suparta, I Made Sutresna, dan I Wayan Budi Utama Penyelia Penerbitan : Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemdikbud.
Cetakan Ke-1, 2015

Cara Mempraktikkan Ajaran Nawa Widha Bhakti Menurut Ajaran Hindu

 Kedamaian dan ketenteraman (Kerta Langu), adalah dambaan seluruh sekalian alam baik secara komunal maupun secara individual (personal). Maksudnya adalah dambaan akan kedamaian itu tidak hanya bagi umat manusia, tetapi tumbuh-tumbuhan dan binatangpun memerlukan kedamaian itu (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 241).


Kemudian perlu dipahami juga bahwa kedamaian itu bukan dibutuhkan saat ini saja, tetapi kedamaian itu dibutuhkan oleh seluruh sekalian alam baik untuk masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang. Demikianlah sabda, intruksi dan pesan dari Kitab Suci Veda yang harus kita tindaklanjuti dengan sraddha dan rasa bakti (iman dan takwa) yang mantap.



photo; sugaedam17
Apabila dalam kehidupan ini setiap umat manusia umumnya dan khususnya umat Hindu mampu mewujudkan kedamaian itu maka impian umat manusia untuk menciptakan suasana sorga di dunia ini dapat diwujudkan. Tetapi kenyataannya masih banyak umat manusia yang keliru memaknai hidupnya khususnya tentang suasana alam surgawi yang mereka dambakan di saat alam kematian, mereka berharap masuk surga atau menikmati suasana alam surgawi di saat kematian tetapi melupakan suasana alam surgawi dalam kehidupan nyata yaitu kehidupan saat di dunia fana ini.

Pada hal proses kematian yang baik adalah “Hidup yang baik dulu, baru mati yang baik”, karena dengan kehidupan yang baik di saat hidup dapat dijadikan modal dasar dan atau matra untuk pencapaian kehidupan yang lebih baik di saat ini dan saat di alam akhirat.

DAPATKAN CARA MENGHASILKAN PASSIVE INCOME KLIK DISINI

Namun fenomena Devasa ini, ternyata ketenteraman, kesalehan, keharmonisan dan kedamaian semakin menjadi harga mahal bagi sebagian besar individu atau kelompok umat manusia dalam kehidupannya, padahal dalam sebuah pengakuan, hampir setiap orang di dunia ini mengakui dan diakui dirinya sebagai orang yang beragama, dengan status orang beragama itu semestinya orang-orang beragama secara kontinu selalu berupaya mewujudkan kesalehan dan keharmonisan serta kedamaian (santih) di dunia ini.

Orang-orang beragama semestinya mampu memberikan penyembuhan (konseling) terhadap dirinya dan orang lain di saat-saat mengalami goncangan kejiwaan di mana orang- orang psikologi menyebutnya dengan ‘kekusutan mental’ akibat dari suatu masalah yang dihadapinya yaitu dengan menggunakan ayat-ayat kitab suci dan sastra-sastra agamanya sebagai pedoman dan tablet/kapsul yang harus diramu dan selanjutnya dikonsumsi sebagai obat untuk mengonseling atau menterapi psikis dirinya.

Renungkanlah sloka Ågveda X.117.6 sebagai berikut;


"Mogham annaý vindate aprcetaá satyam bravimi vadha it sa satya, nàryamanaý pusyati no sakhàyaý kevalàgho bhavati kevalàdi".


Terjemahan:


"Orang yang kurang pandai memperoleh kekayaan dengan sia-sia, Aku mengatakan kebenaran bahwa jenis kekayaan ini adalah benar-benar kematian untuk dia, Dia yang tidak menolong teman-temannya dan sahabat-sahabat karibnya, dia yang makan sendirian, menderita sendirian" (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 242).

Kemudian selanjutnya sloka Ågveda X.17.1


"Na và u devàá ksubham id vad am daduá utàúitam upa gacchanti måtyavaá,
uto rayiá pånato nopa dasyati utàpånan marditàraý na vindate".

Terjemahan:


"Para Deva telah memberikan rasa lapar kepada umat manusia dalam bentuk kematian, kematian itu bahkan terjadi kepada orang yang makan makanan yang baik (makmur), kekayaan tidak pernah berkurang oleh karena kemurahan hati (didermakan), orang yang kikir tidak pernah menemukan orang yang memiliki rasa belas kasihan".


Tetapi kenyataannya tidak sedikit orang-orang beragama di belahan dunia ini jasmani dan rohaninya tidak harmonis, tidak sedikit pula orang-orang beragama menciptakan suasana disharmoni, jiwanya mengalami kekusutan mental dan paling ironis sikap dan tindakannya justru tidak mencerminkan orang-orang beragama.

DAPATKAN CARA MENGHASILKAN PASSIVE INCOME KLIK DISINI

Kemudian di era globalisasi masa kini menghadapkan umat manusia atau masyarakat manusia kepada serangkaian baru yang tidak terlalu berbeda dengan apa yang pernah dialami sebelumnya dan bahkan kecenderungannya akan semakin berat permasalahan hidup yang akan dihadapinya. Pluralisme agama, suku, ras, etnis, golongan, berbagai kepentingan, dan yang lainnya adalah fenomena nyata.

Di masa-masa lampau kehidupan umat manusia relatif lebih tenteram karena kehidupan umat manusia bagai kamp-kamp yang terisolisasi dari tantangan-tantangan dunia luar. Sebaliknya masa kini kemajuan zaman menyebabkan persaingan hidup semakin ketat, pergaulan lintas etnis tidak bisa lagi dihindari, multi kepentingan semakin beragam, dan lain lain, menyebabkan umat manusia dewasa ini harus pandai-pandai dan arif dalam menghadapi dan mengatasi persoalan dalam hidupnya.


Di manapun masyarakat manusia itu berada di negara-negara di dunia ini termasuk di Indonesia memiliki sederetan perbedaan, di luar perbedaan yang mereka miliki dari sejak lahir. Seperti perbedaan etnis, kebudayaan, adat- istiadat, agama, kepercayaan, politik, dan lain lain. Fenomena ini bukanlah perkara mudah untuk menciptakan keharmonisan, ketertiban dan kedamaian di dunia untuk hidup sebagai masyarakat manusia dengan sederatan perbedaan- perbedaan itu, sekalipun manusia diyakini sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, apabila manusia itu sendiri tidak memiliki kepandaian, kearifan dan kebijaksanaan dalam mengapresiasi sederetan perbedaan-perbedaan yang ada. Kurang pandainya, ketidakarifan dan kebijaksanaan yang dimiliki oleh masyarakat kita mengapresiasi perbedaan itu merupakan beberapa faktor yang menyebabkan di era globalisasi ini timbul berbagai konflik baik konflik individu (personal) maupun konflik komunal (kelompok) (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 243).


Konflik individu misalnya; masih banyak orang stres atau mengalami goncangan kejiwaan (kekusutan mental) dan kasus bunuh diri akibat tidak mampu mengatasi persoalan-persoalan dan tantangan hidup dan kehidupan yang dialami, dan lain sebagainya. Konflik komunal (kelompok) misalnya; timbulnya konflik horizontal antara masyarakat manusia yang satu dengan masyarakat manusia lainnya yang terjadi di belahan dunia yang mana setiap hari selalu mewarnai dan menghiasi pemberitaan media cetak dan elektronik seperti diantaranya; konflik antara anak dan orang tua, antara istri dengan suami, antara individu manusia yang satu dengan manusia yang lainnya, kelompok manusia satu dengan kelompok manusia yang lainnya tentang diskriminasi, kekerasan, pelecehan, ketidakadilan, dan sebagainya tetang berbagai macam hal.

PERTANYAAN YG SERING DITANYAKAN SEPUTAR COVID 19

Selanjutnya konflik yang disebabkan oleh penanaman ajaran-ajaran dan doktrin-doktrin yang ekskulisifisme dan sempit, sehingga tidak sedikit masyarakat manusia seperti itu badannya dipasung, terkungkung, dan mengabaikan kebenaran serta menutup diri untuk menerima perbedaan dan kebenaran orang lain baik itu perihal etnis, kebudayaan, adat-istiadat, agama, kepercayaan, politik, dan sebagainya juga semakin marak terjadi dewasa ini.

Kemudian faktor yang lain juga disebabkan pula oleh karena dewasa ini kecenderungan bagi tidak sedikit orang lebih mengejar dunia material atau kemewahan duniawi ketimbang dunia spiritual. Ketidak seimbangan itu menyebabkan degradasi moral semakin meningkat, sikap dan karakter- karakter Ketuhanan pada setiap individu dan kelompok di tengah-tengah kehidupan masyarakat seperti; cinta kasih sayang, pelayanan, dan lain lain, semakin memprihatinkan.


Renungkanlah sloka Ågveda X.117.4 sebagai berikut;


"Na sa sakhà yo na dadàti sakhye"


Terjemahan:


"Dia bukanlah seorang sahabat yang sejati yang tidak menolong seorang teman yang memerlukan pertolongan".


Situasi dan kondisi konflik yang terjadi di tengah-tengah masyarakat manusia itu menandakan bahwa arah gerak pikiran, perkataan dan perbuatan bagi setiap individu atau kelompok manusia seperti itu sangat mengabaikan prinsip- prinsip dasar tetang nilai-nilai kejujuran, kebajikan, kepatuhan dan ketaatan terhadap aturan keimanan, aturan kebajikan (hukum), hak asasi manusia, kesucian, pengendalian diri, kebersamaan, persatuan, pengorbanan yang tulus ikhlas, pelayanan, cinta kasih sayang, kerukunan, ketentraman dan kedamaian, pembebasan, pemuliaan, dan lain lain (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 244).

DAPATKAN CARA MENGHASILKAN PASSIVE INCOME KLIK DISINI

Oleh karena itu situasi dan kondisi konflik itu baik personal maupun komunal yang terjadi di tengah-tengah masyarakat kita sangat dibutuhkan upaya bersama secara sadar, sabar, dan tulus ikhlas untuk mengatasi dan mencarikan solusi pemecahannya agar situasi dan kondisi hidup dan kehidupan masyarakat manusia masa kini dan dimasa yang akan datang tidak semakin kusut dan rumit, tragedi sosial, kemanusiaan dan rusaknya lingkungan hidup, dapat diminimalisir.

Karakter-karakter Ketuhanan dalam setiap jiwa individual masyarakat manusia perlu ditananamkan sejak dini, sehingga apabila karakter Ketuhanan itu telah tertanam dan tumbuh dalam setiap jiwa individual masyarakat dapat dijadikan modal sosial untuk menciptakan kesalehan dan keharmonisan sosial di tengah-tengah kehidupan masyarakat manusia.


Karakter Ketuhanan dalam setiap jiwa individual masyarakat manusia akan dapat tertanam, tumbuh dan berkembang dengan kesadaran, iman dan takwa yang mantap bahwa kelahirannya menjadi manusia adalah kesempatan untuk berbuat baik berdasarkan atas kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Kitab suci dari agama atau kepercayaan apapun yang ada di dunia ini, termasuk yang tersurat dan tersirat dalam kitab suci Agama Hindu yaitu dalam kitab Sarasamuccaya menyatakan bahwa menjelma, menjadi manusia sungguh-sungguh utama sebabnya demikian karena ia dapat menolong dirinya dari keadaan sengsara (lahir dan mati berulang-ulang) dengan jalan berbuat baik, demikianlah keuntungannya menjelma menjadi manusia.

Oleh karena itu setiap jiwa individual manusia tidak semestinya bersedih hati sekalipun kehidupan manusia itu tidak makmur, dilahirkan menjadi manusia itu hendaklah menjadikan kamu berbesar hati, sebab amat sukar untuk dapat dilahirkan menjadi manusia, meskipun kelahiran hina sekalipun.


Sebagai penjelmaan manusia yang mempunyai keutamaan tersebut maka upaya yang dapat dilakukan oleh masyarakat kita untuk meredam situasi dan kondisi konflik yang semakin marak terjadi di sekitar lingkungan hidupnya internal dan eksternal baik konflik individual mapun konflik komunal.

Perhatikan petunjuk kitab suci Bhagavagita.II.53 sebagai berikut:


"úruti-vipratipannā te yadā sthāsyati niúcalā, samādhāv acalā buddhis tadā yogam avāpsyasi".


Terjemahan:


"Bila pikiranmu yang dibingungkan oleh apa yang didengar tak tergoyahkan lagi dan tetap dalam Samadhi, kemudian engkau akan mencapai yoga (realisasi diri)" (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 245).


Agar dapat keluar dan tidak memperburuk situasi dan kondisi konflik itu masyarakat manusia hendaknya selalu membangunkan kesadarannya dan menyalahkan pelita atau cahaya ke-Ilahian di dalam dirinya dengan selalu berdoa dalam setiap tindakan sehingga cahaya ke-Ilahian dapat bersinar dalam setiap badan dan jiwa manusia sehingga masyarakat manusia dapat membimbing dirinya dan orang lain dari ketidakbenaran menuju kebenaran yang sejati, dapat membimbing masyarakat manusia dari kegelapan menuju jalan yang terang benderang, dan dapat membimbing dirinya dari kematian Rohani menuju kehidupan yang kekal abadi.

- JUAL BANTEN MURAH hub.0882-9209-6763 atau KLIK DISINI

Upaya sepatutnya dimulai dari diri sendiri individu manusia itu sendiri, kemudian dalam lingkungan keluarga, dan selanjutnya dalam kehidupan bermasyarakat yang lebih luas yaitu sesuai dengan tema yang dikemukakan dalam tulisan ini salah satunya dengan ‘Menanamkan Ajaran Nawa Wida Bhakti untuk Menumbuhkan Karakter Ketuhanan di Lingkungan Keluarga Sebagai Modal Dasar Guna Mewujudkan Kesalehan dan Keharmonisan Sosial’.


Pentingnya menanamkan ajaran Nawa Wida Bhakti untuk menumbuhkan karakter Ketuhanan di Lingkungan Keluarga ini dikarenakan beberapa hal diantaranya;


Pertama, kehidupan di lingkungan keluarga dewasa ini juga seolah-olah semakin digiring untuk meninggalkan jati dirinya sebagai anggota masyarakat yang religius dengan berbagai aktivitas ritual keagamaannya, sehingga kualitas iman dan takwa (sradha bhakti) yang selama ini dijunjung tinggi semakin lama semakin tergeser oleh pola kehidupan yang mengglobal dan modern.

Budaya global yang diakibatkan oleh modernisasi dalam berbagai bentuk penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) terus menerus mengikuti perkembangan sosial masyarakat manusia, sehingga kadangkala akibat dari pengaruh dunia global dan modernisasi ini bisa membawa manfaat yang positif dan negatif bagi kehidupan spiritual individu masyarakat manusia.

Dari segi positif modernisasi bisa menguntungkan kehidupan baik jasmani dan rohani individu masyarakat manusia, namun di sisi negatif modernisasi bisa mengakibatkan semakin tergesernya sendi-sendi kehidupan termasuk semakin terkikisnya nilai-nilai religiusitas pada sebagian anggota masyarakat manusia (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 246).

Pengaruh negatif yang dimaksud terhadap anggota masyarakat manusia dewasa ini sering terjadi perselisihan, kekerasan, diskriminasi, ketidak adilan, dan sebagainya yang kecenderungan perilakunya mengarah pada bentuk perilaku yang dapat merugikan dirinya, keluarganya dan kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat atau sosialnya. Hal ini tentunya sangat mengkhawatirkan, karena jika hal tersebut di atas dibiarkan terus terjadi, maka kualitas kebersamaan, persatuan dalam bermasyarakat akan semakin menipis, dan pada akhirnya esensi sebagai masyarakat manusia yang memiliki keutamaan dibandingkan dengan makhluk lainnya melalui cara berpikir, berkata dan berperilaku semakin lama akan mengkhawatirkan.

CARA MUDAH DAPAT UNTUNG DARI TRADING FOREX KLIK DISINI

Kedua, di lingkungan atau internal keluarga merupakan proses pembelajaran, pendidikan dan pembekalan pengetahuan paling awal. Oleh karenanya maka setiap anggota keluarga terutama orang tua, dituntut untuk senantiasa bersikap dan berbuat sesuai dengan dharma-nya, dengan harapan pada setiap anggota keluarga memiliki iman dan taqwa (sradha bhakti) sifat dan budi pekerti yang luhur serta berkepribadian mulia yang sangat diperlukan dalam kehidupan keluarga dan masyarakat manusia.

Dalam kitab suci Veda dan susastra suci Veda yang lainnya banyak menguraikan tentang pentingnya ajaran bhakti, dan swadharma orang tua terhadap anaknya, demikian pula bhakti dan swadharma dari anak kepada orang tuanya. Dalam kitab suci Manavadharmasastra dijelaskan bahwa secara non fisik suami-istri masing- masing mengupayakan agar jalinan cinta dan kasih sayang, kesetiaan, mencari nafkah, menjaga kesehatan, dan seterusnya agar ikatan perkawinan dapat berlangsung abadi.

Kemudian terhadap anak-anak yang lahir, orang tua berkewajiban membesarkannya, memberikan perlindungan, pendidikan dan menyelenggarakan perkawinannya (Vivaha Samkara). Selanjutnya dalam Sarasamuscaya juga diajarkan tentang tiga kewajiban orang tua yang harus dilaksanakan dengan rasa bhakti yang tulus kepada anaknya yaitu sebagai berikut: Pertama, Sarirakrta, yaitu kewajiban orang tua untuk menumbuhkan jasmani anak dengan baik. Kedua, Prannadatta, artinya orang tua wajib membangun atau memberikan pendidikan kerohanian kepada anak. Ketiga, Annadatta, yaitu kewajiban orang tua untuk memberikan pendidikan kepada anaknya untuk mendapatkan makanan (anna) salah satunya kebutuhan hidupnya yang paling esensial.


Demikian pula dalam Kekawin Niti Sastra ada disebutkan syarat-syarat orang yang dapat disebut orang tua yakni apabila telah melakukan lima kewajiban yang disebut Panca Wida yaitu: Pertama, Sang ametuaken, artinya yang menyebabkan kita lahir. Ayahlah yang pertama-tama menyebabkan kita lahir dari rahim ibu. Awal mula dari sikap ayah dan ibu saat-saat menanam benih dalam rahimnya juga amat menentukan keberadaan kita dewasa ini (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 247).

Kedua, Sang anyangaskara, artinya orang tua mempunyai tanggung jawab menyucikan anak melalui upacara sarira samskara. Ketiga, sang mangupadyaya, artinya seseorang dapat disebut ayah apabila ia dapat bertanggung jawab pada pendidikan anak-anaknya. Pendidikan anak tidak dapat begitu saja diserahkan kepada guru-guru di sekolah. Ayah di rumah juga disebut guru rupaka. Keempat, Sang maweh bijojana, artinya orang yang dapat disebut ayah adalah orang yang memberikan anggota keluarganya makan dan kebutuhan- kebutuhan material lainnya.

Dagang Banten Bali


Secara umum seorang ayah memiliki tanggung jawab menjamin kebutuhan ekonomi keluarga. Kelima, Sang matulung urip rikalaning baya, artinya kewajiban seorang ayah melindungi nyawa si anak dari ancaman bahaya. Perlindungan tersebut tidaklah semata-mata berarti fisik, juga perlindungan yang bersifat rohaniah. Sedangkan bakti dan swadharma anak kepada orang tuanya, sesuai dengan perintah dan pesan dari sastra suci Veda, seorang anak dikatakan suputra apabila anak itu memiliki sradha, bhakti dan serta tumbuh menjadi anak yang mampu menyelamatkan dirinya, orang tuanya, dan seluruh keluarganya dari lembah penderitaan menuju kehormatan dan kebahagiaan. Dan yang lebih besar lagi berguna bagi masyarakat, bangsa dan negaranya.


Ajaran Nawa Wida Bhakti untuk menumbuhkan karakter Ketuhanan di lingkungan keluarga sebagai modal dasar guna mewujudkan kesalehan dan keharmonisan sosial, yang dimaksud adalah sebagai berikut:


Ajaran Nawa Wida Bhakti adalah salah satu ajaran Agama Hindu yang dapat dipedomani untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan masyarakatmanusia terhadap aturan keimanan, aturan kebajikan dan aturan upacara keagamaan yang bersumber dari ajaran agama yang dianutnya, serta dapat dipedomani dalam upaya melakukan penyembuhan (konseling) di saat-saat mengalami goncangan kejiwaan oleh masyarakat manusia di lingkungan keluarga yang mana kehidupan di lingkungan keluarga dewasa ini juga seolah-olah semakin digiring untuk meninggalkan jati dirinya sebagai anggota masyarakat yang religius dengan berbagai aktifitas ritual keagamaannya. Perihal penting lainnya adalah untuk mengelimase potensi-potensi konflik akibat kurang pandainya dan kurang kearifan serta kebijaksanaan dari masyarakat manusia terhadap sederetan perbedaan, di luar perbedaan yang mereka miliki dari sejak lahir.

Ajaran Nawa Wida Bhakti adalah salah satu ajaran Agama Hindu yang bersumber dari kitab Bhagavata Purana, VII.5.23, yang menyebutkan bahwa ada 9 (sembilan) cara berbakti (hormat, sujud, pengabdian, cinta kasih sayang, pelayanan, dan spiritual) yang disebut Nawa Wida Bhakti yaitu rasa bakti manusia terhadap Tuhan-nya (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 248).

- JUAL BANTEN MURAH hub.0882-9209-6763 atau KLIK DISINI

Konsep Nawa Wida Bhakti ini dapat dimaknai dalam konteks kehidupan sosial atau arah gerak putarannya secara horizontal yaitu rasa sujud, hormat- menghormati, pengabdian, cinta kasih sayang, spiritual, dan memberikan pelayanan antara manusia dengan sesamanya dan lingkungannya. Sehingga harapannya dengan nilai-nilai dari ajaran Nawa Wida Bhakti (hormat, sujud, pengabdian, cinta kasih sayang, pelayanan, dan spiritual) tercipta karakter Ketuhanan di lingkungan keluarga sehingga pada saatnya nanti dapat dijadikan sebagai modal dasar guna mewujudkan kesalehan dan keharmonisan sosial karena di lingkungan masyarakat umum atau lingkungan masyarakat yang lebih luas telah hidup atau dihuni oleh individu-individu manusia yang telah ditanamkan nilai-nilai ajaran Nawa Wida Bhakti, individu yang bermoralitas, serta memiliki budi pekerti yang luhur melalui proses pembinaan, pendidikan dan pendalaman atau penghayatan sejak awal di lingkungan keluarga.

Berikut uraian Cara Mempraktikkan Ajaran Nawa Widha Bhakti Sebagai Dasar Pembentukan Budi Pekerti Yang Luhur dalam zaman Global Menurut Ajaran Hindu adalah sebagai berikut:


1. Sravanam 

Yaitu bakti dengan jalan mendengar. Arah gerak vertikal dari bakti mendengar ini adalah dalam hal ini masyarakat kita hendaknya meyakini dan mendengarkan sabda-sabda suci dari Tuhan baik yang tersurat maupun tersirat dalam kitab suci atau aturan-aturan keimanan, aturan kebajikan dan aturan upacara. Tetapi penomena arah gerak vertikal dari bakti mendengar yang kita jumpai di tengah-tengah kehidupan kita, termasuk di lingkungan keluarga dan masyarakat tidak sedikit individu manusia yang tidak mau mendengarkan sabda-sabda suci atau aturan- aturan keimanan, aturan kebajikan dan aturan upacara keberagamaan.


Kenyataan ini diperkuat apabila ada orang yang mewartakan ajaran tentang kebajikan, kebenaran, kesucian, dan lain-lain tentang sabda suci Tuhan justru yang terjadi malah ketidakpedulian, pelecehan, atau dengan kata lain respons yang muncul menunjukkan kekurangtertarikan akan pewartaan itu. Contoh kecil saja di sebagian banyak orang tidak mau mendengar atau bahkan mengantuk apabila ada ceramah-ceramah agama baik itu di tempat-tempat suci atau pewartaan melalui media cetak dan eletronik yang lain.


Tetapi kalau ada pewartaan/tayangan sinetron tentang gosip, fitnah, kekerasan, diskriminasi, dan lain-lain justru menjadi sebuah konsumsi bagaikan seorang pecandu. Selanjutnya arah gerak horizontal, bakti mendengar ini hendaknya masyarakat manusia dalam hidup dan kehidupannya menanamkan rasa bakti untuk selalu belajar mendengarkan nasehat dan menghormati pendapat orang lain serta selalu belajar untuk menyimak atau mendengarkan pewartaan tentang sesamanya dan lingkungannya (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 249).


Fenomena yang sering terjadi tidak sedikit juga masyarakat manusia yang tidak peduli dan tidak belajar serta menghormati nasehat dan pendapat orang lain, serta tidak peduli dan tidak belajar untuk menyimak berita-berita tentang tragedi kemanusiaan dan kerusakan lingkungan. Padahal dalam hidup ini untuk mewujudkan cita-cita atau visi-misi hidup hendaknya dimulai dengan adanya kemauan dan kesadaran untuk mendengar. Pengetahuan, pemahaman dan pendalaman tetang berbagai hal hasil dari mendengar dapat dijadikan konsep dasar untuk menata hidup dan kehidupan di dunia ini yang kemudian ditindaklanjuti dengan berupaya untuk berbuat atau mencari solusi yang terbaik dalam mengambil sebuah tindakan akan kemanusiaan/sesama dan lingkungan.

Contoh; di lingkungan keluarga antara anggota keluarga semestinya selalu menanamkan sifat dan rasa bhakti untuk selalu mendengar baik antara suami dan istri, antara orang tua dan anak, untuk selalu membangun komunikasi aktif sehingga dapat mengurangi terjadinya miskomunikasi diantara anggota keluarga.


Sifat dan sikap ini akan dapat menumbuhkan karakter Ketuhanan di lingkungan keluarga itu, seperti; sifat, sikap dan karakter hormat- menghormati, sujud, cinta kasih sayang, pengabdian, pelayanan, berfikir yang baik dan suci, berkata yang baik dan suci, berbuat yang baik dan suci serta teguh dalam melaksanakan disiplin spiritual. Sifat dan sikap individu seperti itu akan dapat dijadikan sebagai modal sosial untuk menciptakan kesalehan dan keharmonisan sosial antara keluarga, antar sesama anggota masyarakat.


Sifat, sikap dan karakter individu yang selalu belajar untuk membuka diri mendengar nasihat, pendapat orang lain atau apa yang diwacanakan orang lain adalah sebuah sifat, sikap dan karakter insklusif yaitu sebuah sifat, sikap dan karakter membuka diri secara tulus ikhlas untuk mau mendengarkan kebenaran dari orang lain, karena dalam diri ada kebenaran tetapi diluar diri juga masih banyak kebenaran yang belum diketahui.


Untuk itu pesan yang ingin disampaikan melalui bhakti dengan jalan mendengar ini adalah dalam hidup ini masyarakat kita untuk selalu berupaya membudayakan untuk mendengar, baik mendengar secara vertical antara manusia dengan Tuhan-nya melalui sabda-sabda sucinya, maupun secara horizontal antar sesamanya dan lingkungannya.

Karena baik mendengar ataupun memberi pendengaran/pewartaan apabila sama- sama dilandasi dengan rasa bakti maka semua akan mendapat hasil (pahala) yang baik atau paling tidak dapat manfaat dari bakti mendegar ini. Iklim saling bakti mendengar ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat manusia yang diawali ditanamkan di lingkungan keluarga selanjutnya ditumbuhkembangkan secara harmonis dan dinamis dalam kehidupan sosial masyarakat di lingkungan masyarakat sosial yang lebih luas (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 250).


2. Wedanam 

Yaitu bakti dengan jalan membaca, menyimak dan mempelajari, mendalami serta menghayati dan memaknai ajaran yang bersumber dari aturan keimanan, aturan kebajikan, dan aturan yang lainnya yang bersumber dari sabda-sabda suci Tuhan dan susastra suci yang lainnya.


Arah gerak vertikal masyarakat manusia dalam menjalani dan menata kehidupannya selalu meluangkan waktu untuk membaca, menyimak dan mempelajari, mendalami serta menghayati dan memaknai kitab suci dan susastra suci serta ilmu pengetahuan yang lainnya tentang Tuhan sebagai pedoman hidup, sehingga gagasan dan arah pilihan jalan hidup masyarakat manusia sesuai dengan sabda suci Tuhan yang tertuang dalam kitab suci atau sumber hukum agama yang diyakini dan dianut, tentunya dengan selalu tidak menutup diri atau mengabaikan hal-hal yang ada di luar dirinya.


Arah gerak horizontal dari bakti ini, masyarakat manusia kepada sesama dan lingkungan hidupnya untuk selalu membaca, menyimak dan mempelajari , mendalami serta menghayati dan memaknai situasi untuk menuju arah gerak yang lebih baik. Karena apabila salah dalam membaca, menyimak dan mempelajari , mendalami serta menghayati dan memaknai situasi maka salah juga dalam pengambilan keputusan. Iklim saling bhakti Wandanam ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat manusia untuk menciptakan kesalehan dan keharmonisan di lingkungan keluarga dan sosial kemasyarakatannya.


3. Kirtanam

Yaitu bakti dengan jalan melantunkan Gita/zikir (nyanyian atau kidung suci memuja dan memuji nama suci dan kebesaran Tuhan), bakti ini juga diarahkan menjadi dua arah gerak vertikal maupun arah gerak horizontal. Arah gerak vertikal melakukan bakti kirtanam untuk menumbuhkan dan membangkitkan nilai-nilai spiritual yang ada dalam jiwa setiap individu manusia, dengan bangkitnya spiritual dalam setiap individu akan dapat meredam melakukan pengendalian diri dengan baik, jiwa lebih tenang, tenteram dan terceriakan, situasi dan kondisi ini akan dapat membantu keluar dari kekusutan mental dan kegelapan jiwa. Sehingga dapat dijadikan modal dasar untuk menciptakan kesalehan dan keharmonisan individual yang damai dan bahagia.


Arah gerak horizontal masyarakat manusia berusaha selalu untuk melantunkan bakti kirtanam yang dapat menyejukkan perasaan hati orang lain dan lingkungannya. Kepada sesama atau anggota masyarakat yang lainnya tidak hanya melantunkan atau melontarkan kritikan dan cemohan tetapi selalu belajar untuk melatih diri untuk memberikan saran, solusi yang terbaik bagi kepentingan bersama dalam keberagamaan, kehidupan sehari-hari tentang kemanusiaan, kebersamaan, persatuan dan perdamaian, serta memberikan pengakuan dan penghargaan atau pujian akan keberhasilan dan prestasi yang telah dicapai terhadap sesama atau anggota masyarakat manusia yang lain (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 251).


Iklim saling bakti Kirthanam ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat manusia yang penanaman nilai-nilai bakti Kirthanam diawali di lingkungan keluarga sebagai modal dasar guna mewujudkan kesalehan dan keharmonisan sosial dalam kehidupan sosial kemasyarakatannya.



RELATED:
Pengertian Dasa Nyama Brata (Bratha) dan Penjelasannya
Bagian-Bagian Dasa Nyama Brata atau Bratha
Tujuan dan Manfaat Ajaran Dasa Nyama Bratha (Brata) dalam Pembentukan Kepribadian dan Budi Pekerti yang Luhur
4. Smaranam

Yaitu bakti dengan jalan mengingat. Arah gerak vertikal dari bakti ini adalah dalam menjalani dan menata kehidupan ini masyarakat manusia sepatutnya selalu melatih diri untuk mengingat, mengingat nama-nama suci Tuhan dengan segala Ke-Maha Kuasaan-Nya, dan selalu melatih diri untuk mengingat tentang intruksi dan pesan atau amanat dari sabda suci Tuhan kepada umat manusia yang dapat dijadikan sebagai pedoman atau pegangan hidup dalam hidup di dunia dan di alam sunya (akhirat) nanti.


Arah gerak secara horizontal dari bakti ini apabila dikaitkan dengan isu-isu pluralisme, kemanusiaan, perdamaian, demokrasi dan gender maka sepatutnya masyarakat manusia selalu berusaha untuk mengingat kembali tragedi dan penderitaan kemanusiaan, musibah dan bencana alam, dan lain-lain, yang diakibatkan oleh konflik-konflik atau pertikaian, kesewenang-wenangan, diskriminasi, dan tindakan kekerasan yang lainnya antara individu yang satu dengan individu yang lain ataupun antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain yang tidak atau kurang memahami dan menghargai indahnya sebuah kebhinekaan dan pluralisme.

- JUAL BANTEN MURAH hub.0882-9209-6763 atau KLIK DISINI

Harapannya dengan mengingat tragedi, penderitaan, musibah dan bencana yang diakibatkan itu masyarakat kita selalu mewartakan dan mengingatnya sebagai bekal untuk mengevaluasi dan merefleksi diri akan indahnya kebhinekaan dan pluralisme apabilamasyarakat manusiamampu mengkemasnya dalam satu bingkai yaitu bingkai kebersamaan, persatuan dan kedamaian. Iklim saling bhakti Smaranam ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat manusia yang ditanamkan di awali dilingkungan keluarga sehingga tumbuh karakter Ketuhanan dalam setiap anggota keluarga sebagai modal dasar guna mewujudkan kesalehan dan keharmonisan sosial dalam kehidupan sosial kemasyarakatannya.


5. Padasevanam

Yaitu bakti dengan jalan menyembah, sujud, hormat di Kaki Padma. Arah gerak vertikal dalam bakti ini masyarakat kita dalam menjalani dan menata kehidupannya sepatutnya selalu sujud dan hormat kepada Tuhan, hormat dan sujud terhadap intruksi dan pesan/amanat dari hukum Tuhan (rtam). Arah gerak horizontal masyarakat manusia untuk selalu belajar dan menumbuhkan kesadaran untuk menghormati para pahlawan dan pendahulunya, pemerintah dan peraturan perundang-undangan yang telah dijadikan dan disepakati sebagai sumber hukum, para pemimpin, para orang tua dan yang tidak kalah penting juga hormat/sujud kepada ibu pertiwi (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 252).


Karena dengan adanya kesadaran untuk saling menghormati inilah kita akan bisa hidup berdampingan dalam kebhinekaan dan pluralisme, sehingga terwujud kebersamaan, perastuan, kesalehan dan keharmonisan sosial. Iklim saling bakti Padasevanam ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat manusia sehingga sejak dini semestinya ditanamkan untuk menumbuhkan karakter Ketuhanan di lingkungan keluarga sebagai modal dasar guna mewujudkan kesalehan dan keharmonisan sosial dalam kehidupan sosial kemasyarakatannya.


6. Sukhynam

Yaitu bakti dengan jalan kasih persahabatan, menaati hukum dan tidak merusak sistem hukum. Baik arah gerak vertikal dan horizontal, baik dalam kehidupan material dan spiritual (jasmani dan rohani) masyarakat manusia agar selalu berusaha melatih diri untuk tidak merusak sistem hukum, dan selalu di jalan kasih persahabatan.


Iklim saling bakti Sakyam ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat kita untuk menumbuhkan karakter Ketuhanan mulai dari lingkungan keluarga dan selanjutnya dapat dijadikan sebagai matra dan sebagai modal dasar guna mewujudkan kesalehan dan keharmonisan sosial dalam kehidupan sosial kemasyarakatannya.


7. Dahsyam

Yaitu bakti dengan jalan mengabdi, pelayanan, dan cinta kasih sayang dengan tulus ikhlas terhadap Tuhan. Arah gerak vertikal dari bakti ini masyarakat manusia dalam menjalani dan menata kehidupannya, untuk selalu melatih diri dan secara tulus ikhlas untuk mengahturkan mengabdikan, pelayanan kepada Tuhan, karena hanya kepada Tuhanlah umat manusia dan seluruh sekalian alam beserta isinya berpasrah diri memohon segalanya apa yang harapkan untuk mencapai kebahagian di dunia dan di akhirat.


Arah gerak horizontal masyarakat manusia kepada sesama dan lingkungan hidupnya untuk selalu mengabdi, memberikan pelayanan dan cinta kasih sayang dengan tulus ikhlas untuk kepentingan bersama tentang kemanusiaan, kelestarian lingkungan hidup dan kedamaian di tengah-tengah kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara. Iklim saling bhakti Dasyam ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat manusia baik dilingkungan keluarga lebih-lebih di kehidupan sosial kemasyarakatannya.


8. Arcanam

Yaitu bakti dengan jalan penghormatan terhadap simbol-simbol atau nyasa Tuhan seperti membuat Arca, Pratima, Pelinggih, dan lain- lain, bhakti penguatan iman dan taqwa, menghaturkan dan pemberian persembahan terhadap Tuhan.


Arah gerak vertikal masyarakat manusia dalam menjalani dan menata kehidupannya untuk selalu menghaturkan dan menunjukkan rasa hormat, sujud, cinta kasih sayang, pelayanan, pengabdian kepada Tuhan dengan iman dan takwa kuat dan teguh dengan jalan menghaturkan sebuah persembahan sebagai bentuk ucapan terimakasih atas tuntunan, bimbingan, perlindungan, kekuatan, kesehatan dan setiap anugerah yang diberikan Tuhan kepada seluruh sekalian alam.


Arah gerak horizontal masyarakat manusia terutama kepada sesama dan lingkungannya dalam kehidupannya untuk selalu belajar untuk memberikan pelayanan, pengabdian, cinta kasih sayang, penguatan dan pemberian penghargaan kepada orang lain. Contoh, Pemerintah, pemimpin dan atau anggota masyarakat hendaknya memberikan pengabdian, pelayanan, cinta kasih sayang dan penghargaan kepada pemerintah dan pemimpinnya demikian pula sebaliknya kepada dan oleh rakyatnya yang telah menunjukan dedikasinya tinggi terhadap segala aspek kehidupan demi kemajuan dan perbaikan situasi dan kondisi bersama dan sekalian alam tentang kemanusiaan, kelestarian lingkungan dan perdamaian.


Karena pemimpin yang baik menghargai rakyatnya, demikian juga sebaliknya. Iklim saling bakti Arcanam ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat manusia di lingkungan keluarga dan di kehidupan masyarakat umum. Hal ini akan dapat menumbuhkan karakter Ketuhanan mulai dari lingkungan keluarga dan selanjutnya dapat dijadikan sebagai matra dan sebagai modal dasar guna mewujudkan kesalehan dan keharmonisan sosial dalam kehidupan sosial kemasyarakatannya.


9. Sevanam atau Atmanivedanam 

Yaitu bakti dengan jalan berlindung dan penyerahan diri secara tulus ikhlas kepada Tuhan. Arah gerak vertikal dan horizontal dari bakti ini masyarakat manusia selalu berpasrah diri dengan kesadaran dan keyakinan yang mantap untuk selalu berjalan di jalan Tuhan, berlindung dan penyerahan diri secara tulus ikhlas kepada Tuhan, sesama dan lingkungan hidupnya atau kepada ibu pertiwi, baik dalam kehidupan duniawi (nyata) maupun kehidupan sunya (niskala). Iklim saling bakti Atmanivedanam ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat manusia baik dalam kehidupan sosial dan kehidupan spiritualnya (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 254).


Renungan Ågveda X.53.8


"Aúmanvati riyate saý rabhadhvam uttisthata pra tarata sakhàyah,
atra jahàma ye asan aúevah sivan vayam uttaremàbhi vàjàn".

Terjemahan:


"Wahai teman-teman, dunia yang penuh dosa dan penuh duka ini berlalu bagaikan sebuah sungai yang alirannya dirintangi oleh batu besar (yang dimakan oleh arus air) yang berat, tekunlah,bangkitlah dan seberangilah ia, tinggalkan persahabatan dengan orang-orang tercela, seberangilah sungai kehidupan untuk pencapaian kesejahteraan dan kemakmuran".

Referensi https://www.mutiarahindu.com/2018/10/cara-mempraktikkan-ajaran-nawa-widha.html

Ngurah Dwaja, I Gusti dan Mudana, I Nengah. 2015. Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti SMA/SMK Kelas XII. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemdikbud.

Sumber: Buku Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti kelas XII
Kontributor Naskah : I Gusti Ngurah Dwaja dan I Nengah Mudana
Penelaah : I Made Suparta, I Made Sutresna, dan I Wayan Budi Utama Penyelia Penerbitan : Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemdikbud.
Cetakan Ke-1, 2015