Selasa, 20 April 2021

Makna dan Isi Banten Ajuman yang Dihaturkan Saat Kuningan






AJUMAN : Banten Ajuman merupakan sarana yang dipakai untuk memuliakan, menghormati, juga sujud kepada Hyang Widhi. (ISTIMEWA)





Dalam perayaan Hari Raya Kuningan, salah satu banten yang sering dihaturkan adalah banten Ajuman atau biasa disebut juga Soda atau Rayunan. Sebenarnya apa saja isi dan makna dari banten Ajuman tersebut?

Baca juga: Kepongor Jika Banten Seadanya Mitos atau Bukan? Ini Penjelasannya


Banten Ajuman atau Rayunan merupakan sarana yang dipakai untuk memuliakan Hyang Widhi. Nama Ajuman sendiri berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti ngajum, menghormati, sujud kepada Hyang Widhi.

Dalam mempersembahkan banten Soda atau Ajuman ini bisa berdiri sendiri, atau dipersembahkan bersama ke dalam suatu banten tertentu, misalnya untuk melengkapi banten Pajati menjadi bagian dalam banten Ayaban tumpeng lima, tumpeng pitu, dan sorohan banten lainnya. Ada juga yang berpendapat, banten Ajuman dipergunakan tersendiri sebagai persembahan ataupun melengkapi daksina suci .



Bila ditujukan ke hadapan para leluhur, salah satu peneknya diisi kunir ataupun dibuat dari nasi kuning, yang disebut juga perangkat atau perayun, yaitu jajan serta buah-buahannya dialasi tersendiri.

Demikian pula lauk pauknya masing-masing dialasi ceper (ituk-ituk), diatur mengelilingi sebuah penek yang agak besar. Di atasnya diisi sebuah canang pasucian, canang burat wangi atau yang lain. Alasnya tamas (taledan atau ceper) berisi buah, pisang dan kue secukupnya, nasi penek dua buah, rerasmen/lauk-pauk yang dialasi tri kona/ tangkih/celemik, sampyan plaus/petangas, canang sari.


"Dalam banten Ajuman biasanya berisi dua buah penek atau Telompokan yang merupakan lambang danau dan lautan. Biasanya dalam banten Ajuman ada dua penek yang merupakan simbol dari purusa dan pradana yang bentuknya disimbolikan dalam danau dan lautan,” ujar Ida Pandita Mpu Nabe Daksa Yaska Charya Manuaba kepada Bali Express ( Jawa Pos Group) di Griya Agung Siwa Gni Manuaba, Denpasar.



Selain dua buah penek, dalam banten Ajuman juga menggunakan tamas atau taledan. Menurut Ida Pandita, tamas merupakan lambang cakra atau simbol kekosongan yang murni (ananda). Taledan merupakan lambang catur marga, yaitu empat jalan untuk menghubungkan diri dengan Tuhan, yaitu Bhakti Marga, Karma Marga, Jnana Marga, dan Raja Marga, sebagai sarana memuliakan Hyang Widhi (ngajum). Selain tamas ada juga rerasmen atau lauk-pauk yang dialasi Tri Kona . Biasanya rasmen berisi serondeng atau sesaur, kacang-kacangan, ikan teri, telor, terung, timun, daun kemangi (kecarum), garam, dan sambal. Rasmen merupakan simbol dari Bhuana Agung yang dipersembahkan, yang juga sebagai sarana memuliakan Hyang Widhi (ngajum).

CARA MUDAH MENDAPATKAN PENGHASILAN ALTERNATIF KLIK DISINI

" Salah satu unsur terpenting dalam banten Ajuman adalah sampian sodan atau disebut juga Sampian Plaus ( Perangas). Ini merupakan simbolisasi dari sebuah keteguhan hati kita sebagai manusia dalam melaksanakan yadnya serta ajaran dharma,” ujarnya.

Sampian Sodan biasanya dibuat dari janur, kemudian dirangkai dengan melipatnya, sehingga berbentuk seperti kipas. "Sampian Sodan bermakna simbol bahwa dalam memuja Hyang Widhi, manusia harus menyerahkan diri secara totalitas dan jangan banyak mengeluh, karunia Hyang Widhi akan turun ketika bhaktaNya telah siap. Dan, dapat pula diartikan sampian itu sebagai keteguhan hati," bebernya.
Ada juga unsur jaje gina dan buah – buahan dalam banten Ajuman, yang fungsinya sebagai perwujudan syukur atas rezeki berupa makanan sehingga membuat manusia tetap hidup.


Dikatakannya, dalam lontar Tegesing Sarwa Banten dipaparkan mengenai makna penggunaan buah yakni 'Sarwa wija, nga; sakalwiring gawe, nga; sane tatiga ngamedalang pangrasa hayu, ngalangin ring kahuripan.


Artinya, segala jenis buah-buahan merupakan hasil segala perbuatan, yaitu satwam, rajas, dan tamas (Tri Kaya Parisudha), menyebabkan perasaan menjadi baik dan dapat memberikan penerangan pada kehidupan dalam bentuk bebantenan.


Satu lagi pelengkap banten Ajuman, yaitu canang sari atau canang genten. Canang sari merupakan inti dari pikiran dan niat yang suci sebagai tanda bhakti atau hormat kepada Hyang Widhi, ketika ada kekurangan saat sedang menuntut ilmu kerohanian. "Jika sebuah banten tidak dilengkapi Canangsari, maka banten tersebut dikatakan tidak sah atau kurang lengkap,” ujarnya. Di sisi lain, ia juga memaparkan, Canangsari adalah suatu upakāra atau banten yang selalu menyertai, melengkapi setiap sesajen (persembahan). Jadi, segala upakāra yang dipersiapkan belum disebut lengkap kalau tidak dilengkapi dengan Canangsari


Dari makna filosofi masing-masing unsur yang ada pada banten Ajuman atau Soda, lanjutnya, bahwa semua unsur-unsurnya bermakna pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widdhi Wasa, mulai dari unsur Bhuana Alit sampai unsur Bhuana Agung yang dipersembahkan secara tulus ikhlas.

Minggu, 18 April 2021

Buli Huma, Ritual Hindu Kaharingan Jelang Tempati Bangunan Baru






BULI HUMA : Cendikia Hindu Kaharingan, Tiwi Etika, Ph.D (KIRI) Basir Ugoi A Bunu pimpin upacara Buli Huma sebelum menempati gedung FDDBW IAHN Tampung Penyang, Kamis (25/3) lalu. (istimewa)





Sebelum menempati bangunan yang baru usai dibangun, umat Hindu umumnya melaksanakan ritual. Di Bali, ritual tersebut biasa disebut Mlaspas. Ada juga yang baru sebatas mamakuh karena situasi dan kondisi tertentu. Setelah nantinya pemilik maupun bangunan siap, baru dilaksanakan Mlaspas.


Serupa dengan Mlaspas, penganut Hindu Kalimantan Tengah yang biasa disebut Hindu Kaharingan memiliki ritual Buli Huma. Ritual Buli Huma dilaksanakan Suku Dayak Ngaju sebelum menempati rumah atau bangunan yang baru dibangun.



Baik Mlaspas maupun Buli Huma, secara esensi hampir sama, yakni menetralisasi energi negatif yang ada, sekaligus memohon anugerah Tuhan agar bangunan yang ditempati kokoh dan penggunanya diberikan keselamatan.

Baca juga: Antisipasi Teror Perayaan Paskah, Gereja di Denpasar Dijaga Ketat



Buli Huma, Upacara Melaspas ala Hindu Kaharingan (Istimewa)








“Jadi ini ritual yang mirip pada esensinya,” ungkap Tiwi Etika, Ph.D selaku Cendikian Hindu Kaharingan dalam kegiatan webinar nasional HUT Integrasi Kaharingan-Hindu ke-41 bertema 'Tantangan dan Masa Depan Integrasi Kaharingan ke dalam Hindu', Sabtu (27/3) lalu.

Wanita yang menjabat Dekan Fakultas Dharma Duta dan Brahma Widya (FDDBW) Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Tampung Penyang ini, menerangkan, dalam ritual Buli Huma juga menggunakan sarana yang di Bali disebut upakara.

Terlihat dalam gambar yang ditampilkan, ada daging ayam, jajan, serta minuman yang disuguhkan secara sederhana dalam wadah. Ritual ini biasanya dipimpin orang suci yang disebut Basir.

CARA MUDAH MENDAPATKAN PENGHASILAN ALTERNATIF KLIK DISINI

Seperti saat pelaksanaan Buli Huma sebelum menempati gedung FDDBW IAHN Tampung Penyang, Kamis (25/3), dilansir dari website IAHN Tampung Penyang, ritual dipimpin Basir Ugoi A Bunu. Dilaksanakan pula Mlaspas dan Macaru yang dipimpin pinandita AA Gede Wiranata, M.Ag.

“Buli Huma dan Mlaspas gedung baru merupakan ritual yang dilaksanakan ketika kita menempati rumah atau gedung baru, guna memohon izin dan menetralisasi dari segala hal yang tidak diinginkan,” ungkapnya.

Harapannya, lanjutnya, agar penghuni selalu didekatkan dengan hal-hal yang baik dan terhindar dari keburukan. Sehingga dapat memanfaatkan dan memelihara gedung baru Fakultas Dharma duta dan Brahma Widya dengan semaksimal mungkin.

Menurut Tiwi, Buli Huma sebagai salah satu ritual yang mirip dengan Mlaspas diibaratkan sebagai kulit telur. Pada bagian kuning telurnya adalah teologi, sedangkan pada bagian putihnya adalah tata susila.

“Kulit telur satu dengan lainnya terlihat berbeda, namun pada esensinya adalah sama,” kata dia. Tiwi juga sempat menyinggung ritual Hindu Kaharingan yang menggunakan salah satu sarana berupa darah binatang. Hal ini pun mirip dengan sekte Bhairawa yang sempat berkembang pada beberapa abad silam. Hanya saja, apakah ritual-ritual Hindu Kaharingan juga dipengaruhi sekte tersebut atau justru memang memiliki sekte tersendiri, ia belum bisa menyimpulkan.

CARA MUDAH MENDAPATKAN PENGHASILAN ALTERNATIF KLIK DISINI

Di sisi lain, ia berharap agar momentum Hari Ulang Tahun (HUT) Integrasi Kaharingan-Hindu ke-41 menguatkan pemahaman terhadap agama Hindu. Apalagi mengutip dari Prof. Dr. Ida Bagus Mantra, M.A, bahwa Suku Dayak Kaharingan merupakan penganut Hindu zaman Weda. Sehingga ajaran yang diwariskan hingga kini sangat berharga karena bisa bertahan di tengah tantangan zaman.

Sementara itu, Dirjen Bimas Hindu, Dr. Tri Handoko Seto, S.Si., M.Sc selaku Keynote Speaker dalam webinar itu, berharap 41 tahun integrasi Kaharingan-Hindu tak sekadar integrasi semata. Melainkan Hindu Kaharingan diharapkan memunculkan teologi yang nantinya memperkaya teologi Hindu.

“Jangan sampai hal-hal yang dibahas dalam webinar ini hanya berhenti menjadi sebatas catatan webinar saja,” katanya.

Dengan berbagai tantangan yang dihadapi Hindu Kaharingan, menurutnya, diperlukan penguatan pemahaman terhadap agama Hindu. Sehingga Sumber Daya Manusia Hindu Kaharingan semakin meningkat kualitasnya. “Diperlukan tata pikir untuk menguatkan hal itu,” tegasnya.

Sedangkan Ketua PHDI Pusat Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya pada kesempatan itu menekankan pentingnya semangat Bhinneka Tunggal Ika.

Ia juga mengajak seluruh umat agar memahami dan mengamalkan ajaran-ajaran Hindu dalam kehidupan sehari-hari.

Pria yang juga anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila ini, mengingatkan adanya hukum Rta dan Karma Phala, agar umat selalu ingat kepada dharma agama dan dharma negara.

Ini Makna dan Ritual Saat Hari Pemacekan Agung






Ilustrasi (ISTIMEWA)





Pemacekan Agung adalah hari raya umat Hindu sebagai pemujaan terhadap Sang Hyang Widhi dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Prameswara, yang dirayakan setiap Soma Kliwon Wuku kuningan. Hal itu dilaksanakan dengan menghaturkan yadnya untuk memohon keselamatan.


“Sore hari (sandikala) menghaturkan segehan di halaman rumah dan di muka pintu pekarangan rumah yang ditujukan kepada Sang Kala Tiga Galungan beserta pengiringnya agar kembali dan memberi keselamatan,” ujar Dekan Fakultas Pendidikan Agama dan Seni UNHI, Dr. I Made Yudabakti, S.sp, M.Si yang diwawancarai Bali Express (Jawa Pos Group).




Lebih lanjut dijelaskan, kata Pemacekan Agung berasal dari kata Pacek yang dapat diberikan arti Tapa. Sedangkan kata Agung berarti kuat atau teguh. Dengan demikian, makna pelaksanaan hari suci Peemacekan Agung yakni karena telah kuat tapanya para umat Hindu terhadap godaan Sang Kala Tiga, sehingga Sang kala Tiga dapat di-somya dan kembali ke sumbernya.







Pemacekan Agung jatuh pada hari kelima setelah perayaan Hari Suci Galungan Pemacekan berarti ‘saat menancapkan sesuatu’ dan kata Agung berarti ‘besar, mulia, utama’. Secara filosofis Pemacekan Agung mengandung makna, bahwasanya hari ini manusia diingatkan agar ‘kemenangan’ yang telah ia peroleh melalui pertempuran melawan adharma dijadikan sebagai ‘tonggak’ kebangkitan kesadaran diri, sebagai ‘pengukuhan’ komitmen untuk selalu menjaga martabat kemanusiaan, dan menghindarkan diri dari ‘momo angkara’.

Di lain pihak, Ida Pedanda Gde Menara Putra Kekeran yang saat walaka bernama Drs Ida Bagus Sudarsana, menjelaskan, pada hari Suci Pemacekan Agung umat Hindu melaksanakan upacara kecil, berupa menghaturkan banten soda pada masing-masing palinggih dan melaksanakan persembahyangan sampai selesai metirtha. Sesudah selesai metirtha sebagian tirtha tadi diperciki ke seluruh pekarangan pemerajan dan perumahan.



Hal itu tiada lain adalah untuk menetralisir pengaruh Sang Kala Tiga. Etika dalam melaksanakan Pemacekan Agung adalah dengan memerciki tirtha ke arah Ngider Kiwa. Kemudian menghaturkan segehan agung di lebuh yang disertakan dengan api takep, tetabuhan arak berem. Dengan demikian selesailah pelaksanaan Hari pemacekan Agung.

Dalam lontar Dharma Kahuripan disebutkan: “Pamacekan Agung nga, panincepan ikang angga sarira maka sadhanang tapasya ring Sanghyang Dharma” (Pemacekan Agung, namanya demikian adalah pemusatan diri dengan sarana tapa kepada Sanghyang Dharma). Pemacekan Agung adalah sebuah ‘tapasya’ atau janji diri untuk selalu mengedepankan dharma dalam setiap tindak-tanduk kita mengisi hidup-sehingga kemenangan yang telah kita raih tidak tersapu oleh godaan ahamkara.

Pemacekan Agung adalah saat dimana panji-panji dharma ditancapkan dan ditegakkan. “Sehingga semua bentuk musuh baik yang berasal dari luar diri, pun yang bersumber dari dalam diri tidak memiliki kesempatan dan kekuatan melemahkan jati diri kita sebagai manusia (manusa sane masesana),” katanya.

Kamis, 15 April 2021

PERTEMPURAN ANTARA SRI KRISHNA DAN SHIVA

 


Ketika Aniruddha tidak kembali dari Sonitapura, keluarga dan teman-temannya melewati empat bulan musim hujan dengan sangat tertekan. Ketika mereka akhirnya mendengar dari Narada Muni bagaimana Aniruddha ditangkap, pasukan besar prajurit Yadawa terbaik, di bawah perlindungan Krishna, berangkat ke ibu kota Banasura dan mengepungnya. Banasura dengan ganas menentang mereka dengan pasukannya sendiri yang berukuran sama. Untuk membantu Banasura, Dewa Siva, ditemani oleh Kartikeya dan segerombolan orang bijak, mengangkat senjata melawan Balarama dan Krishna. Bana mulai berperang melawan Satyaki, dan putra Bana bertempur melawan Samba. Semua dewa berkumpul di langit untuk menyaksikan pertempuran itu. Dengan anak panah-Nya, Sri Krsna mengusir para pengikut Dewa Siva, dan dengan membuat Dewa Siva dalam kebingungan, Ia mampu menghancurkan pasukan Banasura.Kartikeya dipukul dengan sangat keras oleh Pradyumna sehingga dia melarikan diri dari medan perang, sementara sisa-sisa pasukan Banasura, diganggu oleh pukulan gada Balarama, tersebar ke segala arah.


Marah melihat kehancuran tentaranya, Banasura bergegas menyerang Krishna. Tetapi Sang Bhagavān segera membunuh pengemudi kereta Bana dan mematahkan kereta dan busurnya, dan kemudian Dia membunyikan kulit kerang Pancajanya. Selanjutnya ibu Banasura, mencoba menyelamatkan putranya, muncul telanjang di depan Sri Krishna, yang memalingkan wajah-Nya untuk menghindari menatapnya. Melihat peluangnya, Bana kabur ke kotanya.
Setelah Sri Krishna benar-benar mengalahkan hantu dan hobgoblin yang bertempur di bawah pimpinan Dewa Siva, senjata Siva-jvara - personifikasi demam dengan tiga kepala dan tiga kaki - mendekati Sri Krishna untuk melawan Dia. Melihat Siva-jvara, Krishna melepaskan Wisnu-jvara-Nya. Siva-jvara diliputi oleh Wisnu-jvara; karena tidak memiliki tempat lain untuk berlindung, Siva-jvara mulai berbicara kepada Sri Krishna, memuliakan-Nya dan meminta belas kasihan. Sri Krishna senang dengan Siva-jvara, dan setelah Tuhan menjanjikan kebebasan dari rasa takut, Siva-jvara sujud kepada-Nya dan pergi.


Selanjutnya Banasura kembali dan menyerang Sri Krishna lagi, memegang semua jenis senjata di seribu tangannya. Tetapi Sri Krishna mengambil cakra Sudarsana-nya dan mulai memotong semua lengan raksasa itu. Dewa Siva mendekati Krishna untuk berdoa bagi nyawa Banasura, dan ketika Sang Bhagavān setuju untuk menyelamatkannya, Ia berkata sebagai berikut kepada Siva: "Banasura tidak pantas mati, karena Ia lahir di keluarga Prahlada Maharaja. Saya telah memutuskan semua kecuali empat lengan Bana hanya untuk menghancurkan harga dirinya yang palsu, dan saya telah memusnahkan pasukannya karena mereka adalah beban bagi bumi. Selanjutnya dia akan bebas dari usia tua dan kematian, dan tetap tidak takut dalam segala keadaan, dia akan menjadi salah satu pembantu utama Anda. "
Yakin bahwa dia tidak perlu takut, Banasura kemudian mempersembahkan penghormatannya kepada Sri Krishna dan meminta Usha dan Aniruddha duduk di kereta pernikahan mereka dan dibawa ke hadapan Sang Bhagavān. Krishna kemudian berangkat ke Dwaraka dengan Aniruddha dan mempelai wanita memimpin prosesi. Ketika pengantin baru tiba di ibu kota Sri Krishna, mereka dihormati oleh warga negara, kerabat dan para brahmana.
ya evaṁ kṛṣṇa-vijayaṁ
śaṅkareṇa ca saṁyugam
saṁsmaret prātar utthāya
na tasya syāt parājayaḥ
Siapapun yang bangun pagi-pagi dan mengingat kemenangan Sri Kṛṣṇa dalam pertempuran melawan Dewa Siva tidak akan pernah mengalami kekalahan. (SB 10.63.53)

Senin, 12 April 2021

Hukum Alam dan Karma Phala Akibat Kekeliruan Laku Spiritual






TIRTA: Pinisepuh Pasraman Sastra Kencana Jro Nabe Budiarsa memercikkan tirta kepada umat tangkil di pasraman di Banjar Tegak Gede, Desa Yehembang Kangin, Mendoyo, Jembrana sebelum pandemi Covid-19. (istimewa)





Menekuni ajaran spiritual seolah menjadi tren belakangan ini. Pembahasan hal-hal yang berhubungan dengan rohani kian terbuka, lantaran media sosial. Jika dahulu belajar spiritual cukup pingit, kini stigma tersebut perlahan kabur.


Orang-orang bisa dengan mudah mengakses berbagai informasi mengenai spiritual dari berbagai sumber. Jadilah penekun spiritual kian banyak jumlahnya.




Menekuni spiritual tentu merupakan hal yang baik. Hal ini berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan rohani. Namun, hendaknya berhati-hati dalam menekuninya. Sebab, jika tak cukup cerdas, maka bisa tersesat dan terseret dalam lubang penderitaan. Alih-alih menemukan kedamaian hidup, justru terjatuh dalam problem berkepanjangan.

Baca juga: Pengendalian Inflasi Mengacu 4K, Badung Optimalisasi CAS




Terkait hal ini, Pasraman Sastra Kencana selama ini berupaya mengkaji berbagai hal tentang spiritual. Sebelum menukik ke persoalan menekuni spiritual, Pinisepuh Pasraman Sastra Kencana, Jro Nabe Budiarsa mulai dari penjelasan isi alam semesta.

Alam Bhuana Agung ini, dikatakan terdiri dari zat, gelombang energi dan pancaran sinar. Jenis zat, gelombang energi dan pancaran sinar ini tak terhingga jumlahnya, dari yang bisa disebutkan hingga tak bisa diberi nama.

“Zat alam menurut sastra adalah unsur kebendaan, yaitu Panca Maha Butha dengan seluruh bagiannya. Gelombang energi adalah kekuatan alam yang memiliki getaran dan frekuensi tertentu. Sedangkan pancaran sinar alam adalah korelasi hubungan antar benda alam dalam bentuk bias dan pancaran sinar yang nyata ada, namun tak memiliki bentuk, hanya memiliki warna,” ungkapnya, akgir pekan kemarin.

Alam juga dihuni oleh berbagai makhluk. Ada yang kasat mata maupun makhluk astral yang tak kasat mata. Wujudnya sangat beragam, layaknya makhluk hidup.

Ada yang berwujud seperti manusia, binatang, bahkan seram. Kemudian ada roh yang bersifat suci yang memiliki sifat positif disebut roh suci dan ada roh kotor yang memiliki sifat negatif disebut Butha Cuil alias kotor.

“Roh ini juga banyak sekali tak terhitung jumlah dan wujudnya, termasuk yang sering dibilang roh gentayangan,” ujar Jro Nabe Budiarsa dari Banjar Tegak Gede, Desa Yehembang Kangin, Mendoyo Jembrana.

CARA MUDAH MENDAPATKAN PENGHASILAN ALTERNATIF KLIK DISINI

Dikatakannya, dari isi alam ini, baik yang nyata maupun tidak nyata, gelombang energi, zat, dan pancaran sinarlah yang paling besar. Sedangkan makhluk hidup, baik yang nyata maupun tak nyata, para roh sesungguhnya sangat kecil.

Layaknya manusia yang membutuhkan energi lima unsur untuk bertahan hidup, maka makhluk astral dan para roh pun sama, namun tergantung sifat yang dimiliki oleh makhluk itu sendiri.

“Bagi roh negatif membutuhkan energi negatif dari alam ini, para makhluk positif membutuhkan energi positif dari alam ini,” terang Jro Nabe Budiarsa.

Pada manusia yang cerdas memilih wiweka jnana dyatmika, lanjutnya, akan mampu menata energi agar tercipta energi positif maupun negatif. Ketika mampu menciptakan energi positif dalam tata kelola energi alam, maka dengan mudah mendatangkan dan mengundang roh positif untuk di ajak bersinergi.

Sebaliknya, ketika mampu menciptakan energi negatif dalam sistem tata kelola energi, maka akan dengan mudah untuk mengundang dan mendatangkan makhluk gaib negatif untuk diajak bersinergi dalam spiritual.

“Namun yang perlu dipahami adalah jika bersinergi dengan makhluk dan energi negatif, diri pasti akan kena pengaruh negatif. Jika bersinergi dengan makhluk dan energi positif, maka diri pasti akan menjadi positif. Jadi, menciptakan sinergitas diri dengan makhluk, roh, dan energi hendaklah sangat berhati-hati agar tujuan hidup tercapai,” ucapnya.

Dikatakannya, dalam merumuskan energi alam dikenal dua rumusan sastra. Pertama, rumusan energi cakra, yaitu mengawinkan empat jenis energi untuk menghasilkan satu energi kelima atau energi tujuan.

Kedua, adalah rumusan energi padma, yaitu mengawinkan delapan jenis energi untuk menghasilkan satu energi kesembilan atau energi tujuan.

CARA MUDAH MENDAPATKAN PENGHASILAN ALTERNATIF KLIK DISINI 

Baik energi kelima dalam ilmu Cakra maupun energi kesembilan dalam ilmu Padma, diatur oleh sistem rumusan sastra Kanda Empat dan Dasa Aksara yang termuat dalam Pangider Buana Dewata Nawa Sanga, tertata sesuai tata susunan arah mata angin.

“Bila kita mampu menciptakan rumusan energi itu, maka kita dengan mudah mengundang berbagai makhluk gaib apapun yang ada di muka bumi, maupun mendatangkan kekuatan roh apapun yang ada di bumi ataupun di langit. Karena seluruh roh maupun makhluk gaib itu membutuhkan energi itu dan menjadikan energi itu sebagai kekuatan bagi semua makhluk di bumi ini, entah itu makhluk hidup maupun makhluk astral,” papar pria 54 tahun ini.

Jro Nabe Budiarsa mencontohkan, bila bisa merumuskan sirkulasi energi angin, maka seseorang dengan mudah bisa mengundang makhluk gaib dan roh dari unsur angin atau unsur Timur.

Bila mampu menciptakan siklus energi angin negatif, seseorang akan mudah mengundang kekuatan Anggapati maupun Dhurga Petak, bersama pengikut makhluk gaibnya dari seisi gua, batu besar, tebing batu, dan pinggir laut.

Sedangkan, jika bisa menciptakan energi angin yang positif, maka orang itu mudah mengundang dan mendatangkan para roh suci para roh leluhur, Bhatara Kawitan dan roh suci lain yang memiliki sifat putih angin, kosong atau sunya.

“Jika kita bisa membuat siklus energi panas yang positif, maka kita akan mudah memanggil para roh atau Bhatara yang memiliki kemampuan sakti, kuat, dan cerdas, panas, hangat, dan lain sejenisnya. Bila bisa membuat siklus energi panas yang negatif, maka kita mudah mengundang makhluk gaib Mrajapati, Dhurga Bang, bersama seluruh kekuatan makhluk gaib penghuni kuburan, jalan, pempatan, pertigaan, tempat angker dan lain sebagainya. Begitulah seterusnya, sistem kerja siklus energi itu,” jelasnya.

Seluruh makhluk di alam ini menurutnya, membutuhkan energi alam sebagai sumber kekuatan dan kehidupan. Jadi, manusia sesungguhnya berebut energi dengan makhluk gaib maupun para roh di dunia ini.

Sementara, menurut sastra dan agama, lanjutnya, manusia adalah makhluk paling sempurna dan paling tinggi di antara makhluk ciptaan Tuhan. “Maka manusialah yang paling bisa menata energi alam ini agar memiliki daya guna dan fungsi guna. Untuk itu, manusia dituntut mampu menata alam dan menata energi supaya terjadi keseimbangan siklus energi tersebut,” tegas sesepuh Perguruan Wahyu Siwa Mukti tersebut.

Ditegaskan pula, jika paham tentang rumusan energi alam, maka manusia mampu menata alam dan menata energi. Sehingga mendatangkan manfaat luar biasa.

“Jadi, bukan karena sakti, hebat, setengah dewa, tulus ikhlas, jujur dan baik, tapi karena benar cara pelaksanaannya,” katanya.

Lebih lanjut, Jro Nabe menerangkan, akibat cara kerja pikiran manusia yang memengaruhi alam tersebut, sehingga orang yang menekuni spiritual mengalami dan menjalani dua jenis hukuman bila melakukan kesalahan dalam hidup.

CARA MUDAH MENDAPATKAN PENGHASILAN ALTERNATIF KLIK DISINI 

Pertama, akibat salah dalam melibatkan kekuatan gelombang energi alam dan roh halus, roh suci, dan pancaran sinar alam yang disebut dengan nama Dewa dan Bhatara, maka ia kena hukum alam atau Hukum Rta. “Ketika terjadi kesalahan dalam spiritual, singkat kata bermain-main dengan kekuatan alam, maka akan terkena hukum alam,” ungkapnya.

Akibat dari kesalahan itu, kata dia, maka alam yang akan menghukum diri saat terjadi kesalahan, baik sengaja maupun tidak sengaja. Akibat terkena hukum alam, maka hidup akan kacau, bahkan bisa hancur memprihatinkan. “Bisa kowos-boros hingga miskin, bisa sakit-sakitan sulit disembuhkan, banyak konflik dan masalah,” ujarnya.

Ironisnya, terkadang masalah itu muncul justru saat orang tersebut rajin sembahyang, rajin beryadnya, tulus ikhlas, jujur dan pasrah. Malah pada saat itu cobaan dan godaan hidup datang tak terhindarkan.

“Karena tanpa kita sadari kita telah melakukan kesalahan-kesalahan pada kegiatan spiritual melalui proses upacara ataupun doa yang kita lakukan. Apa yang kita anggap benar karena tanpa melakukan kaji, uji bukti dan evaluasi, justru menimbulkan masalah dalam hidup yang berkepanjangan,” ujarnya.

Sehingga, menurutnya, banyak para pelaku dan penekun spiritual mengalami nasib yang tragis dalam hidupnya. Tujuan menekuni jalan spiritual untuk menyelamatkan diri, malahan menghancurkan kehidupan diri dan keluarga.

 

Oleh karena itu, Jro Nabe Budiarsa menekankan agar berhati-hati jika ingin mengikuti pengaruh orang lain dalam menekuni spiritual. Perlu analisa dan logika.

Selain Hukum Rta, dikenal pula Karma Phala, yaitu hukum personal atau pribadi yang hanya berdampak dominan pada diri sendiri. Kesalahan pribadi atas karma yang tidak melibatkan energi alam, menurutnya, tak membuat goncangan energi alam tersebut. Sebab, dalam perbuatan orang itu, tidak melibatkan nama-nama Dewa, Bhatara, Tuhan dan lainnya.

Nah, hukum Karma Phala ini, menurutnya, bisa mendapat pengampunan. “Sehingga kita sering salah tafsir ketika melihat orang melakukan kesalahan, maka mereka akan terkena dampak hukum atas perbuatannya. Dalam tafsiran kita, kesalahan orang akan membawa penderitaan dan hukuman dalam hidupnya, malah kehidupan orang yang kita katakan salah tetap biasa-biasa saja, bahkan justru kadang lebih baik dari kita,” ujarnya.

Sementara, orang yang kelihatan hebat, bisa berdoa mantra yang luar biasa, bisa membuat upakara yang luar biasa, rajin sembahyang, rajin beryadnya, tekun dan ulet, terlihat jujur, omongannya bagus dan halus, justru hidupnya semakin surut bahkan terpuruk.

“Itulah bentuk hukum Rta, hukum alam atas kesalahan spiritual yang tak disadarinya. Apalagi orang tersebut sering bersumpah menyebut nama Tuhan, ataupun memiliki sumpah spiritual dalam hidup, maka sumpah dan janji spiritual itu bila tak dijalaninya akan membawa kehancuran lebih berat dan fatal pada hidupnya, baik disadari atau tidak,” tegasnya.

Sumpah spiritual apapun dalam hidup, kata dia, akan membawa hukuman mutlak dalam hidup. Namun bentuk hukuman itu ada bermacam-macam. Bisa hukuman pisik sakit-sakitan, bisa hukuman ekonomi serba susah, bahkan jatuh miskin. Bisa juga hukum mental moral berupa perubahan sikap, seperti angkuh, sombong, egois, serakah dan lain sebagainya,” jelasnya.

Senin, 05 April 2021

Caru Netralisasi Kekuatan Negatif, Menuju Yadnya Berefek Positif






CARU: Proses pembuatan caru ayam brumbun dengan berbagai kelengkapannya. (SURPA ADISASTRA/BALI EXPRESS)





Caru merupakan salah satu bentuk upakara atau sesajen yang biasa dihaturkan umat Hindu di Bali. Caru dipersembahkan kepada Bhutakala dengan tujuan untuk menyomya kekuatan negatif Bhutakala. Selanjutnya, kekuatan yang telah somya atau netral itu diarahkan menjadi kekuatan positif. Kekuatan positif dan negatif ini merupakan keseimbangan yang diharapkan mendatangkan efek baik dalam sebuah upacara.


Caru ada beberapa jenis. Mulai dari yang sederhana, hingga kompleks. Sehingga bagi seseorang yang belum mempelajarinya, akan terkesan rumit. Sebab, rangkaiannya tak sekadar terbentuk. Melainkan ada perhitungan tertentu yang berhubungan dengan pangurip-urip bahan-bahannya.



Menurut Jro Mangku Wayan Sadia, keberadaan Caru berangkat dari berbagai sumber sastra agama Hindu. Caru, kata dia, dalam artinya adalah cantik. Cantik dalam hal ini, berupa susunannya yang sedemikian rupa sebagai simbol kekuatan para Bhutakala.

Baca juga: Tabung Gas hingga Pentol Bakso Raib, Pengelola 'Lepas Tangan'




“Jika diperhatikan, Caru khususnya sebagai bagian dari upakara tak dibuat dan diletakkan sembarangan. Melainkan disusun sedemikian rupa sehingga rapi dan menarik. Yang sangat penting dan tak boleh disepelekan, peletakan bagian-bagiannya sesuai dengan ketekan atau perhitungan uripnya,” ungkapnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Selasa (23/3).

Jro Mangku Sadia menjelaskan, Caru adalah bentuk persembahan yang harus didasarkan pada niat yang tulus dan ikhlas. Hal ini berlaku dalam seluruh pembuatan upakara yadnya.

“Ini yang sering dilupakan di era yang serba modern ini. Bahwa Caru sebagai upakara harus didasari niat yang tulus dan ikhlas dalam pembuatannya,” terangnya.

Meski di satu sisi, terkadang bahannya bagi sebagian orang cukup menjijikkan, lantaran menggunakan sarana seperti daging, darah, bahkan jeroan," paparnya.

Namun, ia kembali menegaskan, semua itu adalah bagian dari persembahan. Sehingga membuatnya pun tak boleh asal-asalan. Tetap perlu ketenangan dan kebersihan.

“Meski bentuknya demikian, ini adalah persembahan. Bisa dibayangkan jika Anda disuguhkan sesuatu yang dibuat secara tak karuan. Tentu ada rasa yang tak ikhlas juga menerima. Begitu pun Caru. Walau konon Bhutakala senang dengan sesuatu yang berbau amis, atau oleh sebagian orang Bhutakala digambarkan berbentuk mengerikan, namun persembahan yang disuguhkan kepadanya mestinya tetap dibuat dengan sebaik-baiknya. Karena disinilah letak kesungguhan kita dalam menghaturkan yadnya,” jelas pria asal Karangasem ini.

CARA MUDAH MENDAPATKAN PENGHASILAN ALTERNATIF KLIK DISINI

Kata dia, jangan pula Caru dibuat dengan didasari rasa takut. Ia kembali menegaskan, bahwa upakara yang suci, harus dibuat dengan hati yang bersih dan suci pula. “Ini sangat penting. Oleh sebab itu, sangat disarankan dalam pembuatan upakara, si pembuat dalam keadaan stabil emosinya. Jangan sedang marah, sedih, takut, atau terlalu gembira. Apapun yang berlebih, tentu tak baik. Bagaimana sebuah Caru bisa menetralisasi kekuatan negatif, jika si pembuat dan dalam pembuatannya senantiasa didasari niat negatif. Jadi ini modal pertama,” tegasnya.

Diterangkannya, dalam kitab Sarasamuscaya 135 disebutkan : Matangnyan prihen tikang buthahita, haywa tan masih sing sarwaprani. Apan ikang caturwarga nang dharma, artha, kama, moksa. Hana pwa mangilangken prana, ndya ta tan hilang denika. Mangkana ikang rumaksa ring bhutahita, ya ta mamagehaken caturwarga ngaranya, abhutahita ngaranikang tan karaksa denya.

Terjemahannya, oleh karenanya usahakanlah kesejahteraan makhluk itu, jangan tidak belas kasihan kepada semua makhluk. Karena kehidupan itu menyebabkan tetap terjaminnya Catur Warga, yaitu Dharma, Artha, Kama, dan Moksa. Ada yang disebut mencabut nyawa, betapa itu tidak musnah olehnya.

Demikianlah orang yang menjaga kesejahteraan makhluk itu, ia itulah yang disebut menegakkan Catur Warga, dinamakan tidak mensejahterakan makhluk hidup jika sesuatunya itu tidak terjaga olehnya.

“Caru juga sebagai bagian untuk mengharmoniskan dan menyejahterakan alam, atau yang disebut Bhutahita. Ini tak lain guna mewujudkan jagadhita atau keharmonisan alam,” ujarnya.

Setelah memiliki niat yang tulus, lanjutnya, dalam membuat Caru harus paham tattwa atau makna Caru tersebut. Maknanya apa, bentuknya bagaimana, dan tujuannya pada siapa.

“Tri kerangka agama Hindu kan selalu demikian. Tattwa, kita paham makna sesuatu. Susila, lakunya bagaimana. Acara, implementasinya juga harus tepat,” terangnya.

Oleh karena itu, pembuatan Caru, menurutnya harus berdasarkan sumber yang jelas. Jika tidak berupa sastra, minimal ada satu orang yang memang benar-benar menguasai tentang Caru yang memberi arahan secara jelas dan pasti. Dengan demikian, kerumitan pembuatannya jadi lebih jelas dan bisa dipahami.

Ia tak menutup diri dengan kemajuan zaman yang membiasakan manusia serba praktis. Namu, baik Caru maupun upakara lainnya, hendaknya dipahami dan dimengerti. Sehingga, upakara yang biasa dibeli di jasa pembuat upakara, bisa diperhatikan dan diteliti.

“Namanya manusia, kan bisa saja keliru atau salah dalam pembuatan upakara, termasuk Caru. Jika betul-betul tak bisa membuat karena halangan waktu dan kesibukan, ya memang seperti saat ini, akhirnya membeli. Hanya saja, jika kita paham bentuknya, maka kita bisa mengecek upakara itu. Apakah benar, salah, lebih, atau ada yang kurang,” jelasnya.

Dikatakannya, upakara tersebut tak hanya sebatas produk jual-beli, layaknya barang-barang biasa. Jika umat paham, maka bisa berdiskusi dengan si pembuat upakara. Misalnya ada yang belum dilahami atau justru terlihat aneh, lantaran ada lebih atau kurang.

 

“Terkesan ribet? Justru menurut tyang (saya) ini adalah ketelitian kita sebagai umat. Karena dampak yadnya yang kita persembahkan kan nantinya menimpa kita. Boleh percaya dengan si pembuat, tapi teliti sangat dianjurkan agar upakara yang kita haturkan jelas dipahami,” katanya.

Caru tujuannya adalah Bhutakala yang diharapkan energinya bermanfaat dalam menyokong upacara yadnya. Oleh karena itu, dalam persembahannya pun harus melafalkan ucapan atau mantra yang benar dan tepat. Sehingga Caru yang kita haturkan tepat guna.

“Misalnya Caru A, dipersembahkan untuk Butha apa, agar jelas. Contohnya Anda dihadapkan pada makanan, maka si pemberi menjelaskan makanan itu, lalu mempersilakan Anda untuk menikmati makanan yang sesuai dengan Anda. Tentu Anda akan merasa dihargai. Anda pun tak bingung, tiba-tiba dipanggil, disuguhkan makanan, tapi tak diberi penjelasan. Yang parah lagi, penjelasannya justru tak jelas. Ini fatal,” paparnya.

Kata Jro Mangku Sadia, persembahan apapun, termasuk Caru hendaknya dipahami betul oleh orang yang mempersembahkan. Di samping tulus dan ikhlas, maka dalam mempersembahkan, umat akan lebih mantap dan percaya diri.

“Inilah seninya menjadi umat Hindu, khususnya di Bali. Kita tak hanya belajar praktik keagamaan dalam tataran wacana, melainkan dalam praktik. Tak kalah penting, mengingat Caru tujuannya mengharmoniskan alam, maka kita sebagai umat Hindu di Bali juga perlu memelihara alam dan lingkungan sekitar. Jika alam terpelihara dengan baik, niscaya kita aman dan tenteram hidup di dalamnya. Ditambah dengan yadnya yang tepat, maka secara sekala dan niskala keharmonisan dapat terwujud,” pungkasnya.

Fungsi dan Makna Guwungan Bagi Umat Hindu di Bali




Simbol Bayu Sabda Idep dan Sad Ripu



MATEBUS: Guwungan digunakan dalam upacara matebus. Yang bersangkutan akan ditutup dan diberikan panglukatan serta sesajen lainnya. (SURPA ADISASTRA/BALI EXPRESS)





Sangkar ayam atau yang dalam Bahasa Bali disebut dengan nama guwungan merupakan salah satu benda yang akrab dengan kehidupan masyarakat Pulau Dewata. Sangkar ayam yang terbuat dari bambu dengan bentuk dan anyaman yang khas bisa ditemui hampir di setiap rumah di desa-desa. Selain digunakan untuk mengurung ayam aduan, guwungan juga menjadi salah satu perlengkapan ritual.


Guwungan biasa digunakan dalam ritual, di antaranya mengubur ari-ari, abulan pitung dina (satu bulan tujuh hari), dan matebus. Saat ritual menguburkan ari-ari di pekarangan, guwungan digunakan sebagai penutup ari-ari yang telah dikubur dengan beberapa sesajen dan perlengkapan lainnya.



Setelah dikubur, di atas gundukan tanah ari-ari tersebut diletakkan batu hitam dan lampu dari minyak kelapa. Biasanya diisi juga brotowali dan pandan berduri. Semuanya kemudian ditutup dengan guwungan. Tentunya guwungan yang digunakan adalah guwungan yang belum pernah digunakan atau sukla.

Baca juga: Ini Tujuan Pemujaan Saat Purnama-Tilem, Salah Satunya Melebur Mala




Sementara itu, dalam upacara satu bulan tujuh hari dan matebusan, guwungan biasanya digunakan untuk menutup si bayi atau orang yang mengikuti prosesi panebusan. Setelah ditutup, biasanya diperciki tirta panglukatan dan beberapa runtutan sesajen lainnya. Oleh karena itu, banyak masyarakat yang penasaran tentang fungsi dan makna guwungan tersebut. Di satu sisi, guwungan digunakan sebagai sangkar ayam, sedangkan di sisi lainnya sebagai peralatan ritual.

Direktur Pasca Sarjana IHDN Denpasar, Dr. Drs. I Ketut Sumadi, M.Par kepada Bali Express (Jawa Pos Group) beberapa waktu lalu mengatakan, keberadaan guwungan akrab dengan kehidupan masyarakat Bali secara tradisional. Demikian pula beberapa ritual seperti di atas juga melibatkan guwungan sebagai sebuah alat upacara. Ia mengatakan guwungan merupakan sebuah simbol. Dalam upacara abulan pitung dina dan matebusan, dikatakannya guwungan secara keseluruhan adalah simbol dari kandungan seorang ibu.

"Guwungan dalam proses ritual tersebut merupakan simbol kandungan seorang ibu. Di dalam kandungan tersebutlah tumbuh kehidupan baru yang disebut dengan jabang bayi," ungkapnya.

Oleh karena itu, ketika seseorang ditutup dengan guwungan, secara simbolis ia diberikan berbagai bentuk ruwatan sehingga secara magis yang bersangkutan memperoleh kebersihan jiwa dan fisik. Ia dikurung dengan guwungan yang bermakna agar yang bersangkutan menyadari dirinya lahir sebagai manusia selain memiliki berbagai kelebihan, juga memiliki tanggung jawab untuk mengekang berbagai pengaruh buruk yang ada di dalam dirinya.

CARA MUDAH MENDAPATKAN PENGHASILAN ALTERNATIF KLIK DISINI

Setelah prosesi terlewati, guwungan tersebut kemudian dibuka sehingga yang bersangkutan kembali bebas. "Awalnya di dalam kandungan, ketika guwungan dibuka, ia kemudian keluar ke dunia yang baru," jelasnya.

"Dengan prosesi ritual itu, dia lahir kembali lewat pembersihan. Lahir kembali dengan fisik dan jiwa yang bersih," tambahnya.

Selanjutnya, Sumadi menerangkan, jika dibahas secara parsial, guwungan bisa dimaknai dari beberapa segi. Pertama, guwungan berbahan bambu dan rotan. Bambu, sebagaimana diketahui dipercaya oleh orang Bali memiliki sisi magis sehingga disucikan. Namun demikian, dari segi filosofi, dijelaskannya, bambu adalah perlambang bayu (tenaga), sabda (suara), dan idep (pikiran). Dari segi bayu, bambu meskipun memiliki rongga di dalamnya, namun kekuatannya luar biasa dan memiliki tingkat kelenturan tertentu. Sebagai manusia, hendaknya memiliki kekuatan dan keluwesan dalam menjalani hidup.

Selanjutnya, dari segi sabda, bambu jika digunakan sebagai alat musik atau kentungan akan menghasilkan suara yang merdu bila diraut dengan benar. Sebagai manusia, hendaknya memiliki kepandaian alam bertutur kata sehingga mendatangkan manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain. Seperti kata pepatah, lidah bisa lebih tajam dari pedang. Oleh karena itu, dengan bicara manusia bisa menemukan keselamatan atau celaka. Terakhir adalah idep. Di dalam bambu ada rongga yang berisi udara.

"Bambu itu seolah-olah kosong, tapi berisi. Manusia yang lahir itu kosong, melalui pendidikan dan pengalaman ia kemudian berisi," jelasnya.

Di samping itu, bambu juga memiliki sekat-sekat di batangnya atau biasa disebut dengan istilah buku-buku oleh masyarakat Bali. "Buku-buku itu merupakan simbol pengendalian diri," ungkapnya. Buku-buku tersebut tidak hanya satu, tapi banyak. Hal itu sebagai simbol tahapan yang ada dalam hidup. "Hidup itu terdiri dari berbagai tahapan. Salah satu contohnya adalah catur asrama. Hingga suatu saat ketika sudah di posisi puncak, ia merunduk. Namun demikian ia tetap berdiri kokoh," paparnya.

Sementara itu, rotan adalah salah satu jenis tumbuhan yang lentur namun alot. Ia lebih lentur dan alot daripada bambu. Sebagai manusia hendaknya tidak cukup berpuas dengan sebuah pencapaian sementara atau semu. Ketika sudah bisa selentur dan sekuat bambu, tetap meningkatkan kualitas diri seperti rotan. Namun demikian rotan tersebut mengelilingi anyaman bambu yang menyimbolkan bahwa meski sudah mencapai kualitas diri yang baik, tetap merangkul orang lain sehingga timbul persatuan yang kokoh. Dengan demikian, manusia yang memiliki kelebihan tidak boleh sombong, namun merangkul masyarakat dan membagi hal-hal yang bermanfaat guna persaudaraan dan kehidupan sosial yang lebih baik.



Tidak hanya itu, jika diperhatikan, anyaman bambu memiliki bentuk yang unik, yakni segi enam atau perpaduan dua buah segitiga yang menghadap ke atas dan ke bawah. "Lubang dari guwungan berbentuk segi enam sebagai simbol sad ripu atau enam musuh dalam diri manusia," ujarnya. Bagian-bagiannya adalah kama (nafsu), lobha (tamak/rakus), krodha (kemarahan), moha (kebingungan), mada (mabuk), dan matsarya (dengki/iri hati).

Jika ditambah datu lengkungan rotan di atasnya, maka bisa dimaknai sebagai Sapta Timira atau tujuh kegelapan dalam diri manusia. Bagian-bagiannya adalah surupa (mabuk atau sombong karena kecantikan atau ketampanan), dhana (mabuk karena harta), guna (mabuk karena merasa pintar), kulina (mabuk karena merasa keturunan ningrat atau bangsawan), yowana (mabuk karena masa muda), sura (mabuk karena minuman keras), kasuran (mabuk karena kekuatan). "Sifat-sifat ibilah yang harus dibersihkan dari dalam diri," tegasnya.

Sedangkan perpaduan antara dua segitiga yang menghadap ke atas dan ke bawah adalah simbol pertemuan purusha (unsur kejiwaan) dan pradana (unsur kebendaan) yang merupakan proses penciptaan. Dengan demikian, menurutnya juga berkaitan dengan guwungan sebagai simbol kandungan seorang ibu yang di dalamnya berisi benih kehidupan.