Minggu, 31 Desember 2017

Segehan

Dagang Banten Bali

CARA MUDAH DAPAT UNTUNG DARI TRADING FOREX KLIK DISINI







Segehan cacah yi tamas, 6 aled segehan yang 5 diisi nasi yang satu diisi beras n benang 
Segehan panca warna yi utara nasi hitam, selatan merah, timur putih, barat kuning

Tebasan pengenteg bayu

Peras pengambean



peras pengambean
dulang, aled kiri, kulit sayut kanan, 2 kojong rasmen
4 raka yi dapetan, pengambean, peras, sayut
kiri atas dapetan yi diatas aled raka (pisang, bantal, tape, tebu, jaja begina), 1 tumpeng, sampyan nagasari
krir bawah peras yi diatas aled kasi sejumput beras, porosan, kulit peras, nasi penek/nasin peras, raka, sampyan peras
kanan atas pengambean yi diatas kulit sayut raka, 2 tumpeng, tulung pengambean, tipat pengambean, sampyan pengambean
kanan bawah sayut yi diatas kulit sayut, 1 nasin sodan, raka, sampyan nagasari



ini tulung pengambean




ini peras pengambean untuk tumpeng 5 diisi penyeneng


Sabtu, 30 Desember 2017

TANTRA




Dagang Banten Bali


Andira Puspita Sharma
PENGERTIAN TANTRA
'Tantra' berasal dari akar kata 'tan' (menyebarkan) dengan sufiks 'strana' ditambahkan. Ada juga mengatakan berasal dari akar kata 'tatri' atau 'tantri' (mengetahui), sementara dua akar kata 'tan' dan 'tantri' dimaknai sebagai 'menyebarkan' atau 'merajut'. Dalam pengertiannya yang umum, 'tantra' bermakna sekelompok kesusastraan yang menyebarkan pengetahuan, khususnya pengetahuan mengenai hal-hal yang mendalam dengan bantuan diagram-diagram mistik (yantra) dan kata-kata yang mempunyai makna-makna esotorik (mantra), dan membantu di dalam mencapai pembebasan (moksa). Penggunaan kata 'tantra' untuk pertama kalinya ditemukan di dalam Srauta Sutra, Harivamsa, Susruta, dan Sankhya.
Tantra sastra merupakan kitab suci untuk zaman Kaliyuga. Namun, Tantra itu tetap merupakan transformasi dari Waidika Karmakanda yang dirumuskan untuk memenuhi tuntutan zaman. Siwa telah besabda, "Untuk menyempurnakan manusia di zaman Kaliyuga, ketika manusia menjadi sangat lemah dan hidupnya hanya bergantung kepada makanan, maka O Dewi, dirumuskanlah ajaran Kaula (Bab. IX, bait 12 Maha Nirvana Tantra)". Dengan pengetahuan Tantra kita akan memahami apa arti ritual, yoga dan berbagai bentuk sadhana yang lain, demikian pun memahami sebagai prinsip dan praktek yang bernilai ekspresif objektif.
Wahyu kitab suci dari paham Saiwa disebut Tantra, dan tindakan-tindakan yang dilakukan menurut aturan-aturan mereka, oleh karena itu, disebut tantrika. Istilah 'tantra' bermakna sebuah sistem ritual atau ajaran-ajaran esensial; tetapi ketika diterapkan dalam konteks spesial ini, maka ia membedakan dirinya dari tradisi yang menurunkan otoritasnya dari Weda (wahyu langsung: sruti) dan seperangkat teks-teks belakangan yang mengklim dirinya sebagai berdasarkan Weda (wahyu tidak langsung: smrti). Korpus sruti dan smrti ini menjelaskan ritus-ritus, kewajiban dan kepercayaan yang membentuk tatanan dasar atau ortodoks dan steorologi masyarakat Hindu. Orang-orang pengikut paham tantra melihat teks-teksnya sendiri sebagai wahyu tambahan dan mengkhusus (visesasastra) yang menawarkan sebuah steorologi yang lebih kuat bagi mereka yang lahir dalam tatanan eksotorik ini. Ritual-ritual tantrik tentang inisiasi (diksa) dilaksanakan untuk menghancurkan kekuatan-kekuatan yang menyebabkan lahir kembali dari karma seseorang di masa lalu di dalam skup nilai-nilai Weda.;

CARA MUDAH DAPAT UNTUNG DARI TRADING FOREX KLIK DISINI


WEDA DAN TANTRAYANA
Baik Weda (nigama) maupun Tantra (agama) diterima sebagai wahyu (revelation) yang mengungkapkan pengetahuan ekstra impirik atau esotorik tentang realitas. Tantra jelas mempunyai nilai yang sangat berarti bagi peradaban India, karena ia tidak hanya bersifat teoritas tetapi juga pragmatik, menggabungkan antara Niwrtti (kebahagiaan rohani) dan Prawrtti (kebahagiaan dunia).
Menurut Weda dan Tantra, Realitas atau Prinsip Tertinggi adalah kesadaran (citi atau samvit) yang disebut Brahman atau Siwa. Hakikat Tertinggi yang disebut Brahman adalah pasif; namun Tantra memahami kekuatan tertinggi sebagai kekuatan yang aktif, memancar (vimarsa). Oleh karena itu, dunia ini dipandang sebagai pancaran sinar Siwa. Tantrayana memandang dunia sebagai sesuatu yang suci, bukan sebagai ilusi (maya), bukan pula sebagai superimposisi Brahman (adhyasa), tetapi suci karena sesungguhnya adalah vibrasi kekuatan tertinggi tersebut. Sikap Tantrayana sangat positif terhadap dunia. Kesadaran tersebut adalah pengetahuan (jñana) dan aktivitas atau dinamika spontan (kriya atau spanda) dan aspek dinamika inilah yang bertanggung jawab atas proses evolusi dan involusi alam semesta beserta segala isinya. Dinamika ini disebut juga sakti atau kriya. Hal ini berimplikasi bahwa prinsip tertinggi tersebut tidak hanya mengetahui tetapi juga bertindak atau aktif. Jika Adwaita Wedanta menganut paham Wiwarta Wada, dimana dunia dipandang sebagai maya, tidak rill sebagai superimposisi Brahman, maka Tantrayana menganut paham Abhasawada, yaitu dunia sebagai pancaran sinar kekuatan tertinggi. Kesadaran ini disimbulkan dengan wanita; dan aspek pengetahuan (jñana) dengan laki-laki. Itulah sebabnya aspek Sakti (energi) sering disebut sebagai nama-nama wanita, seperti Vama, Tripura, Bhairawi, Sundari, Sodasi, Durga, Kali, Uma, Parwati, Radha, Sita, dan sebagainya. Oleh karena itu Tantra menerima Realitas sebagai pengetahuan dan aktivitas di dalam satu konsep. Itulah sebabnya Realitas disebut Siwa-Sakti. Secara simbolis, Realitas digambarkan sebagai seseorang yang mempunyai aspek laki-laki dan wanita di dalam satu figur. Konsep ini disebut Ardhanareswara di dalam ajaran Tantrisme Siwa, Yuganaddha di dalam Tantrisme Buddha dan Radha-Krsna atau Sita-Rama di dalam Tantrisme Waisnawa.
Menurut pandangan Tantrayana dunia ini bukanlah ilusi atau riil, namun adalah sebuah sinar (prakasa) dari sumber sinar yang Maha Agung (disebut Siwa). Teks-teks Tantra, seperti Tantraloka mengistilahkan hubungan dunia dengan kekuatan tertinggi sebagai sinar dengan bayangan benda pada cermin. Bayangan yang nampak di cermin tidaklah ilusi, atau riil, namun dia rill pada cermin tersebut. Di dalam teks-teks Tantra maupun Siwa dikenal dengan istilah Utpethi, Shtiti dan Pralina. Konsep dinamika (kriya) ini disajikan secara implisit di dalam kitab-kitab Upanisad, namun eksplisit di dalam teks-teks Tantra. Upanisad belum membahas aspek dinamika ini dan ini diambil oleh Tantra.
Tantra tidak bertentangan bahkan saling melengkapi dengan Weda. Weda disebut nigama atau nigamana yang berarti "deduksi"; sementara Tantra disebut agama atau agamana yang berarti "induksi". Weda diyakini sebagai bentuk wahyu dari sumber yang lebih tinggi para Rsi bukanlah penulis atau pencipta Weda; mereka semata-mata menerimanya. Oleh karena itu, ujaran-ujaran Weda dipandang sebagai hukum-hukum yang diterima dari mana konkluksi-konkluksi dideduksi. Dengan demikian pengetahuan Weda adalah deduksi (nigamana) dari hukum-hukum yang telah diterima melalui wahyu. Pada sisi lainnya, agama atau Tantra berdasarkan pada bukti-bukti pengalaman para Rsi dan Yogi. Tantra sesungguhnya adalah sebuah tradisi yoga, karena pada intinya mengandung praktek-praktek yoga. Tantra menyajikan yoga dalam berbagai bentuk, tidak satu saja. Kebhinnekaan dan kemampuan manusia di dalam mencari Prinsip Tertinggi sangat dihargai. Sebagai sebuah "teknologi spiritual", yoga dapat diterapkan di dalam berbagai keadaan dan tingkat kemampuan manusia. Oleh karena itu kedudukan dan fungsi tubuh manusia menjadi sangat sentral. Semua pencarian kebenaran melalui tubuh (bhuana alit) dan dimasyarakatkan dalam skupnya yang lebih luas. Hasil-hasil temuan di dalam Tantra tidak diungkapkan di dalam bahasa ilmiah prosaik, namun diungkapkan di dalam istilah-istilah puitik menggunakan metafora, simbol dan alegori. Para kawi-wiku sangat suka menggunakan ragam bahasa ini untuk memuja dewa pujaannya. Tradisi Tantra sangat kaya dengan simbol-simbol yang sarat dengan makna religius. Begitu kita mendengar kata 'tantra' terbayanglah simbol-simbol: seperti diagram, warna, aksara, mantra, arca, upakara, dan lain-lain.


- JUAL ES KRIM / ES PUTER PERNIKAHAN KLIK DISINI

DEWATA NAWA SANGHA




CARA MUDAH MENDAPATKAN PENGHASILAN ALTERNATIF KLIK DISINI


DEWATA NAWA SANGHA
Dewata Nawa Sangha adalah sembilan gelar kemahakuasaan atau perwujudan Sang Hyang Widhi dalam fungsi dan tugas beliau sebagai penguasa alam semesta. Kesembilan kemahakuasaan Sang Hyang Widhi inilah menjaga agar dunia ini selalu sejahtera, subur dan lestari. Kesembilan kemahakuasaan Sang Hyang Widhi ini menempati kesembilan penjuru mata angin. Tiap penjuru mata angin mempunyai senjata tertentu dan urip (nilai) tertentu juga dan juga mempunyai aksara suci masing-masing. Kesembilan kemahakuasaan Sang Hyang Widhi beserta arah mata angin yang dijaga yaitu :
1. TIMUR
Dewata Penguasa Daerahnya : ISWARA.
Warnanya : Putih.
Uripnya (Nilainya) : 5 (Lima).
Senjatanya : Bajra.
Aksara Sucinya : SA.
2. TENGGARA
Dewata Penguasa Daerahnya : MAHESORA.
Warnanya : Dadu.
Uripnya (Nilainya) : 8 (Delapan).
Senjatanya : Dupa.
Aksara Sucinya : NA.
3. SELATAN
Dewata Penguasa Daerahnya : BRAHMA.
Warnanya : Merah.
Uripnya (Nilainya) : 9 (Sembilan).
Senjatanya : Gada.
Aksara Sucinya : BA.
4. BARAT DAYA
Dewata Penguasa Daerahnya : RUDRA.
Warnanya : Jingga.
Uripnya (Nilainya) : 3 (Tiga).
Senjatanya : Mosala.
Aksara Sucinya : MA.



5. BARAT
Dewata Penguasa Daerahnya : MAHADEWA.
Warnanya : Kuning.
Uripnya (Nilainya) : 7 (Tujuh)
Senjatanya : Nagapasa.
Aksara Sucinya : TA.
6. BARAT LAUT
Dewata Penguasa Daerahnya : SANGKARA.
Warnanya : Hijau.
Uripnya (Nilainya) : 1 (Satu).
Senjatanya : Angkus.
Aksara Sucinya : SI.
7. UTARA
Dewata Penguasa Daerahnya : WISNU.
Warnanya : Hitam.
Uripnya (Nilainya) : 4 (Empat).
Senjatanya : Cakra.
Aksara Sucinya : A.
8. TIMUR LAUT
Dewata Penguasa Daerahnya : SAMBU.
Warnanya : Biru.
Uripnya (Nilainya) : 6 (Enam).
Senjatanya : Trisula.
Aksara Sucinya : WA.
9. TENGAH
Dewata Penguasa Daerahnya : SIWA.
Warnanya : Pancawarna.
Uripnya (Nilainya) : 8 (Delapan).
Senjatanya : Padma.
Aksara Sucinya : I dan YA.


Men Tiwas lan Men Sugih

Dagang Banten Bali

CARA MUDAH DAPAT UNTUNG DARI TRADING FOREX KLIK DISINI

Men Tiwas teken Men Sugih
#menggalisatuabali
Ada katuturan satua Men Tiwas teken Men Sugih. Men Tiwas buka adane Ia mula tiwas pisan. Gegaene tuah ngalih saang kaalase. Kerana Ia tuah megae ngalih saang, apa tuara gelahanga. Kadirasa baas lakar jakan jani Ia tuara ngelah.
Yadin Ia tiwas buka keto nanging solahne melah, demen ia matetulung, jemet maturan, lan setata mabikas sane beneh. Len pesan teken Men Sugih. Men Sugih mula saja buka adane Ia sugih pesan nanging bikasne jele. Sombong, demit, jail teken anak tiwas, miwah setata mabikas jele.
Sedek dina anu ritatkala Men Tiwas nyakan, ia tusing ngelah api. Kemu lantas Ia ka umah Men Sugihe ngidih api.
“Mbok mbok ngidih ja tiang apine” keto Men Tiwas makaukan
“Ngujang nyai mai ngdidih api? Kanti api nyai sing ngelah?” keto pasutne Men Sugih sada bangras pesu uling jumahan umahnee.
“Tiang lakar nyakan mbok nanging tusing ngelah api jumah”


“Nah lakar kebaang nyai api, kewala opin malu ngaliin kutu di sirah wakene. Aliin nganti kedas sirah wakene nyanan baanga ja upah baas acrongcong” keto pesautne Men Sugih. Nyak lantas Men Tiwas ngaliin kutune Men Sugih nganti tengai mare suud. Men Tiwas lantas baanga upah baas acrongcong teked jumahne baase ento jakana. Sesampune Men Tiwas mulih, Men Sugih nyiksikin sirahne lan bakatanga kutu aukud. Gedeg basange Men Sugih kerana makatang kutu aukud. Kemu lantas Ia ka umah Men Tiwase.
“Eh Nyai jelema tiwas, tolih ne wake makatang kutu aukud di sirah wakene. Mai jak baase ne baang wake busan!” keto Men Sugih ngomong neked jumahne Men Tiwas.
“Baase busan suba bakat jakan tiang mbok” Men Tiwas nyautin.
“Nah ento suba mai aba, kadong ja suba dadi nasi!” lantas Men Sugih nyemak baase ane lakar lebeng dadi nasi ento.
“Nyai masi busan ngidih api teken wake, jani saange ne misi api ene jemak wake aba mulih!” Men Sugih merondong nasine Men Tiwas ane makiken lebeng lan saange ane misi api abane ke umahne. Men Tiwas tusing ngidaang ngomong apa. Ia tuah ngidaang bengong ningalin tingkahne Men Sugih sambilanga naanang basangne seduk.
Buin manine Men Sugih nundenin Men Tiwas ngopin nebukang padi lan nyanjiang upah baas duang crongcong. Men Tiwas nyak nebukang padine Men Sugih. Nganti tengai mare ia suud lan baanga upah baas duang crongcong teken Men Sugih. Sesampune Men Tiwas mulih, Men Sugih maliin baasne lan bakatanga latah dadua. Gedeg pisan Men Sugih lantas Ia kemu ka umah Men Tiwase lakar nuntun Men Tiwas.
“Eh nyai Men Tiwas, mula saja nyai tusing bisa magarapan. Ibi tunden ngaliin kutu tusing kedas. Jani tunden nebuk padi, ne tolih wake maan latah dadua. Kerana nyai tusing melah nyemak gae, jani mai aba baase ane wake baang teken nyai I nuni semeng!” keto omongne Men Sugih dawa malemad.
“Kenkenang tiang nguliang mbok, baase suba jakan tiang lan mekiken lebeng” Men Tiwas mesaut.
“Nah ento suba mai aba!” Men Sugih merondong baase ane mekiken lebeng ke umahne. Men Tiwas engsek atine ningalin tingkah Men Sugihe buka keto. Sing kerasa ngetel yeh paningalane ngenehang basang seduk uli semengan tusing misi apa, jani buin kajailin olih Men sugih.
Sedek dina anu Men Tiwas kemu ka alase ngalih saang teken paku. Sedek iteha ngalih paku di bet-bete saget teka kidang kencana.
“Eh Men Tiwas, apa kaalih ditu?” keto Sang Kidang metakon. Men Tiwas makesiab nepukin ada kidang bisa ngomong.
“Tiang ngalih saang teken paku nika jero Kidang” pesautne Men Tiwas sada ngejer.
“Anggon gena ngalih keketo?”.
“Lakar adep tiang nika, yen ada sisa wawu ja anggen tiang jumah”.
“Eh Men Tiwas, yen nyai nyak nyeluk jit nirane, ditu ada pabaang nira tekening nyai!”. Men tiwas lantas nyak nyeluk jit kidange ento. Mara kedenga limane bek misi emas. Kendel pesan Men Tiwas maan mas bek pesan. Mara konanga Men Tiwas lakar ngaturang suksma teken Sang Kidang, lautan Sang Kidang suba ilang.
Men Tiwas ngaba emase ento mulih. Prejani Men Tiwas dadi anak sugih. Ia teken pianakne mekejang nganggo bungah dugase mablanja ka peken. Men Sugih iri ningalin Men Tiwas lan pianakne makejang makronyoh nganggo mas. Kisi-kisi ia matakon teken Men Tiwas.
“Men Tiwas, dija nyai maan emas kene ebekne?”
“Kene mbok, ibi tiang ngalih saang teken paku. Saget teka kidang bisa ngomong nunden nyelek jitne. Nyak lantas tiang, mara kedeng adi bek limane misi emas” keto Men Tiwas nyatuaang undukne ibi. Ningeh satuane Men Tiwas buka keto, ngencolang ia mulih lan mapanganggo buka anak tiwas. Men Sugih lantas kemu ke alase lan manyaru buka anak tiwas. Teka lantas Sang Kidang lan nakonin Men Sugih.
“Eh jadma tiwas ngudiang nyai ditu krasak-krosok? Apa kaaliah?”.
“Uduh jero Kidang, tiang niki durung ngajeng. Awinan nika tiang driki ngalih saang lan paku lakar adep tiang lan pipisne anggon tiang meli baas” Men Sugih melog-melogin Kidang Kencana.
“Lamun keto lan seluk jit nirane, ditu ada pabaang nira”. Nyak lantas Men Sugih nyelek jit kidange ento. Kendel pesan kenehne kadenanga lakar maan mas. Nanging pas seluka jit kidange, Sang Kidang ngijemang jitne. Men Sugih paida abana ka dui-duine nganti awakne telah matatu.
“Uduh tulung tulung! Tiang kapok, tiang kapok!” keto Men Sugih makuuk kesakitan. Mare neked di pangkunge mare elebanga Men Sugih. Men Sugih tusing nyidaang naanang sakit lantas ia pingsan. Disubane ingetan megaang ia mulih. Teked jumahne ia gelem keras lantas ngemasin ia mati.

- JUAL ES KRIM / ES PUTER PERNIKAHAN KLIK DISINI

Jumat, 29 Desember 2017

Doa selesai makan Hindu




Dagang Banten Bali

Doa selesai menilmati makanan 

Om OM, Dhirgayurastu, Awighnamastu, Subham Astu

Eklavya

Dagang Banten Bali




Eklavya. Ayahnya adalah seorang kepala suku di kerajaan Hastinapura. Eklavya adalah anak yang sangat pemberani dan selalu jujur serta adil. Meskipun semua orang yang mengenalnya mencintainya, namun ekalavya tetap merasa tidak bahagia.
Tak lama kemudian ayahnya menyadari ada sesuatu yang membuat Eklavya merasa tidak bahagia. Dia sering mendapati anaknya termenung dalam pikiran, meski seolah - olah Ekalavya sedang melakukan sesuatu yang dia sukai. Suatu hari dia bertanya kepada anaknya, 'Eklavya, mengapa kamu tidak bahagia? Apakah kamu tidak tertarik untuk berburu? Kenapa kamu tidak pergi dengan teman-temanmu dan menikmati hari dengan bermain dan berburu di hutan? "
Eklavya terdiam beberapa saat, lalu dia berkata, Ayah, aku ingin menjadi pemanah dan ingin diajari oleh guru besar Hastinapura yang hebat, yaitu Guru Dronacharya. Gurukul adalah tempat dimana Guru Dronacharya mengajar, tempat dimana penuh keajaiban, tempat di mana dia mengajar anak laki-laki sederhana seperti diriku dan segera mengubahnya menjadi pejuang yang pemberani dan gagah perkasa.
Ayah Eklavya kemudian terdiam. Melihat wajah ayahnya yang termenung Ekalavya segera berkata, "Ayah, aku tahu apa yang engkau pikirkan. Kita berasal dari suku yang hidup dari berburu, tapi aku tidak ingin tetap menjadi pemburu sepanjang hidupku. Aku ingin menjadi seorang pejuang yang gagah perkasa. Maukah engkau mengizinkanku untuk meninggalkan rumah dan pergi menuju Guru Dronacharya di Gurukul ?
Ayah Eklavya khawatir. Dia tahu bahwa apa yang diimpikan anaknya tidak akan menjadi sesuatu yang mudah. Dan pada kenyataannya hal itu bisa menjadi sesuatu yang tidak pernah dia miliki. Tapi dia sangat mencintai anaknya dan tidak mau menolak keinginannya. Jadi dia memberkati anaknya serta mendoakannya untuk menjadi sukses dan kemudian ia pun memberikan restu Eklavya untuk pergi ke gurukul , belajar dari Guru Dronacharya sendiri.
Eklavya berangkat ke gurukul dan segera sampai di sebuah tempat, dimana tempat itu adalah hutan tempat dimana Guru Dronacharya sedang mengajar memanah kepada para pangeran kerajaan Hastinapura.
Pada masa yang lalu, gurukul adalah tempat belajar yang paling sakral. Tidak ada sekolah atau perguruan tinggi menyamai kesakralan tempat ini, dan gurukul adalah tempat para guru dan murid tinggal bersama. Saat Eklavya sampai di Gurukul, dia bisa melihat beberapa gubuk yang dikelilingi beberapa pohon dan memiliki halaman yang dimaksudkan untuk latihan memanah. Murid-murid Dronacharya sedang berlatih menembakkan anak panah dengan menggunakan busur mereka di dalam halaman latihan. Eklavya terpesona saat melihat tapi dia masih mencari Guru Dronacharya. Dimana calon gurunya itu? Apakah dia bisa bertemu pemanah terbaik di kerajaan pada akhirnya? Jika tidak bisa bertemu Guru Dronacharya, tidak akan ada artinya bagi Eklavya untuk berada di gurukul. Bahkan saat Eklavya khawatir dengan pikiran ini, kegelisahannya berhenti saat dia melihat idolanya Guru Dronacharya berdiri diam di dekat pohon. Dia memberi instruksi kepada salah satu muridnya. Murid itu adalah kesayangan Guru Dronacharya, meskipun Eklavya tidak mengetahuinya saat itu, dia adalah pangeran Arjuna, yang merupakan pangeran Pandava yang ketiga. Eklavya menuju Guru Dronacharya, dan saat berhadapan dengannya ia pun segera memberikan hormat seraya membungkuk.
Guru Dronacharya sangat terkejut melihat seorang anak laki-laki asing di gurukul. Dia bertanya kepada Ekalavya "siapa kamu?'
Eklavya menjawab, 'Saya Eklavya, dan saya adalah putra seorang kepala suku. Ayah saya adalah seorang kepala suku yang mendiami hutan di belahan barat Kerajaan Hastinapura. Saya datang ke sini hendak belajar darimu wahai Guru Dronacharya, jadi mohon terimalah saya sebagai muridnya dan ajari saya bagaimana menjadi kesatria yang ahli dalam memanah".
Tapi Guru Dronacharya tidaklah terkesan dengan apa yang disampaikan oleh Ekalavya, segera ia berkata dengan lantang "Eklavya, jika kau adalah putra kepala suku, itu berarti kau berasal dari kasta Shudra. Ini adalah kasta manusia terendah sesuai dengan sistem kasta Hindu. Aku adalah seorang Brahmana, dan Aku berasal dari kasta tertinggi, aku tidak bisa mengajarimu, karena kau berasal dari kasta terendah....!"
Mendengar ini, Pangeran Arjuna berkata, " Guru Dronacharya adalah seorang guru kerajaan. Raja sendiri telah menunjuknya sebagai guru kami, Beliau hanya melatih mereka yang lahir dari keluarga kerajaan, seperti raja dan pangeran, bukan Shudras sepertimu. Bagaimana mungkin kau berani masuk ke dalam Gurukul? Arjuna marah karena Eklavya telah mengganggu latihannya dan meneriaki bocah itu.
Eklavya kaget akan reaksi kedua orang itu, Sebagai putra kepala suku, dia tidak pernah menghina siapapun yang berada di bawahnya saat berdiri. Dia menatap Dronacharya, mengharapkan beberapa kata motivasi darinya. Tapi guru Dronacharya tetap diam dan menolak untuk berbicara, dia telah menjelaskan dengan sangat jelas bahwa dia tidak ingin mengajar Eklavya, seorang anak laki-laki shudra.
Eklavya sangat terluka oleh ketidakadilan tersebut. 'Tuhan tidak pernah membedakan siapapun jika menyampaikan pengetahuan,' pikirnya. "Hanya manusia yang saling membedakan satu sama lain."
Ekalavya segera pergi dari Gurukul , tapi meski dia sangat sedih, dia tahu dia tidak akan pernah melepaskan keinginannya untuk menjadi seorang ahli dalam memanah, walaupun ia adalah seorang shudra. Ekalavya pun berkata dalam hatinya , "Aku harus berlatih setiap hari. Lalu aku akan menjadi seorang pemanah yang berani dan hebat seperti para pangeran yang telah diajari oleh Guru Dronacharya".
Begitu kembali ke hutannya, Eklavya membuat patung Dronacharya dan mulai berlatih memanah setiap hari. Dia percaya bahwa patung Guru Dronacharya itu nyata dan gurunya sedang mengawasi dan menginspirasinya. Dengan latihan yang rajin dan sungguh sungguh , Eklavya segera menjadi salah satu pemanah terbaik dan yakin bahwa dia lebih baik dari pada Pangeran Arjuna, murid terbaik Guru Dronacharya.
Suatu hari saat berlatih, suara gonggongan seekor anjing telah mengganggunya. Segera Ekalavya menembakkan tujuh anak panah ke arah mulut sang anjing, tanpa menyakitinya sama sekali. Anjing itu segera pergi, dengan panah masih ada di mulutnya. Pada saat itu para Pangeran Pandava, bersama Guru Dronacharya, telah tiba di bagian hutan itu untuk pergi berburu, dan tanpa sengaja melihat anjing itu. Mereka tercengang dan mulai mencari orang yang telah melakukan prestasi ini. Mereka segera sampai di tempat dimana Eklavya berlatih.
Dronacharya bertanya kepadanya 'Kau memiliki keahlian yang menakjubkan, siapakah gurumu?' Eklavya pun menjawab, 'Engkaulah adalah guru saya, saya telah belajar darimu.'
Guru Dronacharya sekarang ingat semua tentang anak laki-laki yang telah dia tolak menjadi muridnya. Dia bertanya kepada Eklavya apa maksudnya, dan dia mengatakan kepada guru segala sesuatu yang telah terjadi. Arjuna sangat marah, karena Dronacharya telah berjanji kepadanya bahwa dia akan menjadi pemanah terbaik. Dronacharya juga diam. Melihat Pangeran Arjuna marah, dia berpikir untuk menghukum Eklavya.
"Jika kau menganggap diriku sebagai gurumu, Kau harus memberi ku 'Guru Dakshina' sebagai wujud bahktimu kepadaku.' Eklavya sangat bahagia dan bertanya apa yang diinginkan gurunya.
'Berikan ibu jari tangan kananmu sebagai Guru Dakshina' katanya.
Semua orang diam. Eklavya tahu tanpa ibu jari, dia tidak akan bisa menembak lagi. Sambil mengambil pisaunya, dia memotong ibu jarinya tanpa ragu sedikit pun dan memberikannya pada Guru Dronacharya.
Guru Dronacharya tersentuh hatinya. Dia pun memberkati anak laki-laki itu, meskipun dia tidak memiliki ibu jari, namun dia tetap akan bisa menembakkan anak panah, dan kelak dunia akan mengenalnya sebagai pemanah yang lebih besar dari pada Arjuna.

Dalam geguritan ATMA PRASANGSA





Dalam geguritan #ATMA_PRASANGSA diceritakan perjalanan ATMA / ROH MENUJU SORGA bersatu dengan #Parama_Atma ( IDA SANGHYANG WIDI
WASA / TUHAN YANG MAHA ESA ). Bagi yang percaya dengan adanya reingkarnasi dan kehidupan setelah ajal menjemput maka Saya akan coba
menceritakan perjalanan tersebut
sedangkan yang tidak percaya tidak ada salahnya untuk membaca cerita ini.
Ketika telah ditakdirkan atau telah saatnya manusia meninggal maka badan halus ( Roh / Jiwa /Atma ) akan meninggalkan badan kasar ( tubuh) sehingga tubuh manusia yang telah ditinggalkan oleh Atma akan tidak bisa melakukan aktivitas apapun dan
disebut mati, nah sekarang diceritakan seseorang yang telah mendalami ajaran agama dimana dalam cerita ini orang tersebut telah tiba waktunya untuk terpisah dari badan kasarnya (Meninggal Dunia).
Dalam cerita ini diceritakan orang
yang suci tersebut dapat segera menyadari bahwa badan halusnya
telah terpisah dari badan kasarnya, dalam ceritera ini atma dari orang suci tersebut melihat badan kasarnya sangat
mengerikan jika diandaikan seperti melihat sosok Barong( biasa ditarikan dalam tarian barong dibali ), atma tersebut duduk didepan jasatnya yang
tengah diupacarai oleh keluarganya dimana ketika duduk di samping jasatnya di ceritakan #atma tersebut berterima kasih kepada jasatnya yang telah diajaknya hidup semasa hidupnya di Dunia (#mercepada ), sambil menangis sang atma berpesan kepada jasatnya.
Pesan yang disampaikan antara lain agar sang jasat yang sangat disayangi, dimana telah diajak semasa hidupnya mengarungi kehidupan, tempat untuk belajar agama dan kehidupan kembali keasalnya sesuai dengan perintah
(#titah) SANG PENCIPTA, yang berasal dari api kembali ke api ( #Brahma_Loka ), yang berasal dari angin kembali ke angin, yang berasal dari air kembali ke air, yang berasal dari tanah kembali ke tanah, semua unsur kembali dari asalnya masing-masing, jika tiba saatnya nanti (reingkarnasi) yang kembali ke tanah akan masuk ke tubuh ibu melalui tanaman dan menjadi unsur tubuh, yang kembali ke angin maka akan masuk pada saat manusia/si ibu bernapas begitu juga unsur lainnya di dalam kandungan sang ibu maka seluruh unsur akan berkumpul dan akan membentuk kembali tubuh manusia.
Diceritakan setelah menyampaikan pesan terakhir tersebut sang atma yang telah mengerti /mempelajari aji kemoksan menuju pura di rumah
( #pemerajan ) untuk menghadap kepada IDA BETARA HYANG GURU untuk memohon petunjuk menuju perjalanannya selanjutnya, petunjuk yang diperoleh dari IDA BETARA HYANG GURU supaya sang atma melanjutkan perjalanan menuju PURA DALEM menghadap kepada IDA HYANG BETARI #DURGA yang merupakan ratu dari dunia kegelapan dimana IDA HYANG BETARI DURGA akan menunjukan jalan yang harus ditempuh oleh sang atma. Diceritakan Sang atma melanjutkan perjalanan untuk menuju tempat yang di tunjukkan oleh IDA BETARA HYANG GURU.
Sang atma sudah berada di sekitar
areal PURA DALEM untuk menghadap IDA HYANG BETARI DURGA, setelah tiba di pura dalem atma tersebut mendengar suara yang sangat keras seperti suara singa yang sangat galak sehingga sang atma merasa terkejut dan ragu, namun karena sang atma sudah sangat mengerti dengan ajaran kemoksan
( perjalanan menuju kehidupan selanjutnya) maka sang atma melanjutkan perjalanan untuk menghadap IDA HYANG BETARI DURGA tanpa rasa takut, pada saat itu sang surya sudah mulai bersembunyi pertanda malam telah tiba. Setelah tiba di tempat IDA HYANG BETARI DURGA kebetulan IDA HYANG BETARI DURGA sedang melakukan pertemuan kecil dengan para bawahannya(#rencangnya) dimana bawaha IDA HYANG BETARI DURGA sangat banyak dan dengan rupa yang menyeramkan serta mengerikan rupanya disamping itu para bawahan IDA HYANG BETARI DURGA terlihat sangat beringas siap untuk menerkam dan memangsa sang atma, para bawahan IDA HYANG BETARI DURGA seperti macan kelaparan dan tidak terkendali melihat sang atma yang hadir dalam pertemuan tersebut namun mereka tidak berani untuk mendekati sang atma sebelum ada perintah dari IDA HYANG BETARI DURGA.IDA HYANG BETARI DURGA yang melihat kehadiran sang atma suci tersebut langsung menghampiri sang atma, dan duduk didepan sang atma yang sedang duduk menghaturkan sembah bakti, IDA HYANG BETARI DURGA berkata kepada sang atma sambil menangis adapun perkataan IDA HYANG BETARI DURGA antara lain “ wahai anakku sang atma suci jangan takut melihat semua bawahan dan muridku yang ada disini apalagi engkau seorang atma yang suci dimana semasa hidup telah dapat menerapkan ajaran agama dengan baik dan benar dapat menjaga hubungan baik dengan sang pencipta, sesama manusia dan dengan alam sekitarnya “.Sang atma menghaturkan sembah bakti kepada IDA HYANG BETARI DURGA sambil berkata “sembah bakti hamba haturkan kepada IDA HYANG BETARI DURGA semoga hamba tidak kena #chakra_wibawa,
tidak kena kutukan dan tidak kena kutukan sebagai atma yang durhaka, IDA HYANG BETARI DURGA di sebut SANG HYANG #BHAGAWATI ketika di puja di Pura Bale Agung dimana pada saat dipuja disana SANG HYANG BETARI memberikan ilmu dan kepintaran.
Ketika berada di Pura Dalem SANG HYANG BETARI disembah sebagai IDA HYANG BETARI DURGA yang berhak untuk mengatur dan memberikan jalan
kepada seluruh roh / atma, Ketika berada di #Pemuhun ( tempat pembakaran mayat ) SANG HYANG BETARI bernama SANG HYANG BERAWI, ketika berstana di Gunung Agung SANG HYANG GIRI PUTRI nama SANG HYANG BETARI, ketika dipuja di Gunung #Batur SANG HYANG #DANU nama SANG HYANG BETARI.
Kalau SANG HYANG BETARI berada di #telaga dan di #pancoran DEWI #GAYATRI nama SANG HYANG BETARI, jikalau SANG HYANG BETARI berada di sungai yang besar dan dalam ( #tukad ) DEWI GANGGA nama SANG HYANG BETARI. Jika berstana di pura #sawah ( ulun carik ) BETARI #SRI nama SANG HYANG BETARI semua anugrah SANG HYANG BETARI sangat besar bagi kehidupan umat manusia, saat ini
terimalah sembah bakti hamba dan sesajen yang telah disiapkan oleh sanak sodara hamba semoga SANG HYANG BETARI dapat menerima dan memaklumi segala kekurangannya “SANG HYANG BETARI DURGA berkata “ wahai engkau atma suci yang telah mendalami ajaran kemoksan sekarang silakan lanjutkan perjalananmu menuju #swarga_loka semoga mendapatkan #swarga bhuana yang sangat baik, semoga kamu tegar dalam perjalanan karena dalam perjalanan nanti kamu akan melewati banyak rintangan dimana akan melewati goa, gunung dan hutan yang angker, “ Setelah selesai menerima pesan dari SANG HYANG BETARI DURGA dan menghaturkan sembah untuk berpamitan akhirnya sang atma melanjutkan perjalanan keluar dari #candi_bentar yang ada di pura dalem menuju arah #timur_laut ( kaja #kangin / #airsenia )
sepanjang jalan yang dilalui oleh sang atma terlihat pemandangan yang indah mempesona, banyak sekali bunga yang sedang berbunga disana sini serta
berwarna warni dengan bau yang
harum semerbak hal tersebut dikarenakan pada saat itu adalah
musim semi dimana semua tanaman dan bunga sedang berbunga dan berbuah, burung-burung bersuara merdu bagaikan
musik dari kayangan Diceritakan sang atma sudah sampai di sebuah sungai yang sangat besar ( #tukad_ageng )
dimana airnya sangat jernih, dipinggir sungai tersebut ada sebuah batu kali yang bentuknya pipih serta dipayungi oleh pahon cempaka yang sangat rindang, sang atma duduk di batu tersebut sambil melihat kearah seberang sungai yang sangat jauh, melihat
air yang sangat jernih dan sejuk timbul keinginan sang atma untuk mandi di sungai tersebut, namun ketika sang atma akan melanjutkan niatnya tersebut tiba – tiba muncul seekor #buaya yang sangat besar mendekati sang atma dan siap untuk menggigit serta memangsa sang atma. Untuk menghindari sang buaya
sang atma naik kembali ke atas batu sambil melihat mata sang buaya yang ada di depannya, sang atma berkata “ uduh dewa ( wahai engkau ) sang #jugul_ageng ( sang buaya besar ), jangan engkau mengelak karena aku sudah mengetahui siapa engkau sebenarnya, engkau adalah adikku yang lahir dari satu rahim ibu, waktu itu engkau dan aku lahir bersamaan tidak lain engkau adalah ari – ari. (untuk lebih jelasnya masalah persaudaraan tersebut silakan baca di #kanda_pat_rare )
Wahai sang jugul ageng ( buaya besar ) engkau dan aku bersaudara untuk itu sebaikan antar aku menyebrangi sungai ini supaya lebih cepat aku bisa menyelesaikan perjalanan ini, siapa lagi selain idewa( engkau ) yang pantas menolong aku “mendengar penjelasan sang atma, sang buaya sadar dan menangis seraya berkata” uduh kakak sang atma mohon ampun atas kesalahan hamba, silakan naik ke punggungku akan ku antar kakak sampai di tepi sungai besar ini “ setelah sampai ketepian sang atma menyampaikan terima kasih kepada sang buaya dan melanjutkan perjalanannya menuju arah semula timur laut (kaja kangin / airsenia ).
Sang atma sekarang telah tiba di tepi hutan rimba yang sangat mengerikan, ketika sang atma hendak masuk ke hutan tersebut sang atma merasa terkejut melihat semua hewan lari tunggang langgang, burung – burung yang ada di dahan pohon semuanya terbang ke angkasa semua hewan mencari tempat persembunyian, terdengar dari hutan tersebut suara yang menyerupai auman
macan menuju ke arah sang atma, setelah menunggu beberapa saat muncul raksasa perempuan yang
sangat besar menutup jalan sang atma raksasa tersebut besar bentuknya bulat tidak memiliki tubuh, matanya besar dan melotot, taringnya yang terlihat sangat besar dan tajam, ketika sang raksasi itu berteriak maka seperti suara gemuruh yang menggoncangkan ibu pertiwi. Raksasa tersebut tidak memili badan dan hanya kepala saja yang sangat besar (raksasi #ulu ). Tanpa rasa takut sang atma mendekati raksasi #ulu tersebut
sampil berkata dengan sangat halus, “ ibu terimalah sembah bakti hamba, hamba tidak ada lain adalah anakmu engkau lahirkan dahulu, hamba mengerti
penjelmaan MU ini adalah salah satu kesaktian dari rahim yang ada dalam tubuhmu, ijinkan hamba lewat untuk menuju tempat yang harus hamba tuju “
sang raksasi ulu menjawab “ wahai engkau anakku sang atma suci, engkau sangat paham dengan aji kemoksan (ajaran moksa ) dan sangat tekun dan taat kepada ajaran agama untuk itu ibu sangat mendoakan perjalananmu semoga kamu tidak menemui rintangan sang sulit dan semoga kamu mendapat tempat yang utama nantinya, aku akan membuatkanmu jalan melewati daerah kekuasaanku “ setelah selesai menerima sembah bakti dari sang atma raksasi tersebut berbalik dan bergelinding
membuatkan jalan untuk sang atma karena kesaktian sang raksasi apapun yang tersentuh olehnya hancur berantakan. Sang atma melanjutkan
perjalanan setelah menghaturkan
terima kasih kepada sang raksasi ulu, didepan terlihat pegunungan yang cukup sulit untuk dilewati di sebuah lembah sang atma kembali bertemu dengan macan yang sangat galak dan mengerikan, sambil mengeluarkan suara yang menyayat sang macan bersiap
untuk menerkam sang atma, sang atma berhenti sambil berkata dengan lembah lembut “ uduh idewa ( wahai engkau ) sang #macan mungkin engkau belum
mengetahui siapa aku sebenarnya, aku tiada lain adalah #soudaramu di kehidupan yang lalu, sewaktu didalam kandungan wujudmu adalah darah, setelah waktunya untuk lahir engkau dan aku secara bersamaan lahir dari rahim sang ibu, kelahiran kita secara bersamaan pada saat kehidupan di dunia “ Setelah mendengan perkataan
sang atma sang macan mengerti dan menunduk sambil meninggalkan sang atma yang sedang berdiri, sang atma
melanjutkan perjalanannya setelah melewati lebmah tersebut sang atma kembali melihat hutan dimana di hutan tersebut penuh dengan pohon bunga yang sedang berbunga, bau semerbak wangi dari bunga – bunga yang sedang mekar tersebut membuat sang atma terkagum – kagum, disisi lain burung dan hewan lainnya bernyani riang seperti musik yang menyambut kehadiaran sang
atma, sambil berlompat kesana kemari binatang-binatang yang ada di hutan tersebut seperti menari – nari melihat kehadiran sang atma tidak bisa diceritakan keindahan yang ada di tempat tersebut.
Sang atma melihat seekor anjing besar berwarna hitam pekat menghampiri sang atma seraya duduk didepan sang atma, sang atma yang betul – betul sudah mempelajari ajaran agama dengan baik dan menerapkannya samasa hidupnya berkata dengan lembut“uduh #asu_selem idewa ( wahai sanga ajing hitam engkau ), aku tiada lain adalah
kakakmu dikehidupan yang lalu dimana pada saat di dalam kandungan sang ibu engkau berwujud air #ketuban(#yeh_nyom ) engkau adalah adikku dalam kehidupan yang lalu dimana kita bersama – sama lahir kedunia “ . mendengar perkataan sang atma tersebut sang anjing hitam tersebut menunduk sambil menjilat sang atma, terasa kesedihan dalam diri sang anjing,
sambil berdoa dalam hati sang anjing melepas kerinduannya kepada sang atma, selanjutnya sang anjing meninggalkan sang atma.
Setelah itu sang atma kembali melanjutkan perjalanannya tidak
diceritakan jalan yang ditempuh, sampai sang atma sangat lelah dan dahaga, timbul niat sang atma untuk berhenti melepas lelah di sebuah pancuran yang ada didepannya, setelah tiba di pancuran tersebut sang atma duduk disebuah batu yang ada disana. Tanpa disadari oleh sang atma ada sekelompok bebutan
( sejenis raksasa ) melesat menghampiri sang atma sambil mengepungnya, sambil bersorak gembira bebutan tersebut mengepung sang atma bersiap untuk memangsanya, dengan
mengeluarkan senjata masing – masing para bebutan tersebut bersiap untuk mengoyak dan menikam sang atma .
Sang atma berkata dengan sangat halus kepada kelompok bebutan tersebut “ uduh idewa sang bebuthan sami, kalau memang boleh jangan marah dengan
keberadaan hamba disini, engkau sang bhawal, sang badpamiad dan
seterusnya ……… , engkau dan hamba adalah sama, aku sudah menjadi atma sudah berada di alam niskala ( dialam lain ), lebih baik engkau ke mercepada
( dunia ) disana keluaga hamba telah mempersiapkan sesajen yang berhak untuk kalian nikmati, idewa sang bhuta
#badmoti segehan #bubuh dagianmu, idewa sang bhuta #mrajasela sekar ura #punyamu, merupa #bubur_pirata sang #bhuta_bhawal punyamu dan seterusnya………….” Setelah mendengar
perkataan sang atma suci kelompok bebhutan tersebut segera menghilang dari tempat tersebut.
Diceritakan sang atma sudah sampai di simpang tiga ( marga tiga ), sang atma bermaksud untuk berhenti sejenak untuk
beristirahat namun belum sempat
sang atma untuk duduk tiba – tiba
terdegar suara gemuruh yang sangat keras angin bertiup sangat kencang semua hewan berlarian seperti ketakutan, namun sang atma tetap tegar menunggu apa yang akan datang, secara tiba – tiba muncul empat kala ( sejenis raksasa ) didepan sang atma rambutnya merah dan kusut, sambil setengah menari ke-empat kala tersebut secara bersamaan tertawa, suaranya sangat kerasmenyerupai gemuruh guntur dan kilat, keempat kala tersebut berkata “ ini ada atma disini tampaknya sangat enak untuk dimangsa “ mendengar perkataan keempat kala tersebut sang atma menghaturkan sembah sambil berkata dengan lembut “ uduh beli ( wahai kakakku ) sang #Jogormanik, sang #Suratma, sang #Maha_kala adikku, begitu juaga sang #Doro_kala, hamba mohon engkau tidak menghlangi
perjalanan hamba karena engkau
berempat dan aku tidak ada lain dan tiada bukan adalah bersaudara , ketika engkau kecil sang angga pati yang pertama sang prajepati yang kedua sang
banas pati yang ketiga dan yang keempat sang #banaspati raja ,
didalam tubuh engkau juga memiliki tempat seperti sang #prajapati engkau di hati tempatmu dan seterusnya……………..
begitulah keberadaan kalian semuanya, lebih baik kalian berempat kerumah hamba di mercapada ( bumi ) disana telah disiapkan #saji_darpana_agung
silakan dinikmati di sana.
Selanjutnya ijinkan saya melanjutkan perjalanan” Keempat kala tersebut berkata “ inggih sang atma suci silakan melanjutkan perjalanan semoga engkau memperoleh sorga yang utama” selanjutnya dicerikan sang atma dan sang kala berpisah, sang atma melanjutkan perjalanannya menuju timur laut ( #kaja_kangin / airsenia ), setelah
melewati beberapa rintanggan akhirnya sang atma tiba disebuah #taman yang sangat indah dan semerbak wangi dari kembang yang tumbuh di sekitar taman tersebut airnya sangat suci dan
dingin taman tersebut bernama
#PANCAKA_TIRTA, sang atma mandi ditaman tersebut untuk mensucikan dirinya karena taman tersebut adalah anugrah IDA SANG HYANG WISNU untuk mensucikan atma yang bendak
menuju sorga.
Ketika sang atma sedang mandi berita tentang kedatangan sang atma sudah tiba di swarga selanjutnya para dewa – dewi, bidadari mempersiapkan
penyambutan, dengan diiringi suara musik yang sendu rombongan penyambut tersebut menuju tempat PANCAKA TIRTA tempat sang atma mensucikan diri.
Diceritakan kembali sang atma yang telah selesai mandi berteduh disebuah pohon untuk melepas lelah sambil menikmati pemandangan, terdengan suara sayup – sayup musik yang sangat indah dari kejauhan dengan diiringi bau harum yang semerbak, sang atma duduk bersila sambil menunggu kedatangan suara tersebut, setelah rombongan penjemput tersebut tiba sang atma menghaturkan sembah bakti kepada para dewa yang mendekatinya. Salah satu dari para dewa tersebut berkata “ uduh dewa
( wahai engkau ) sang atma engkau sangat taat, suci dan uttama kami semua datang untuk menjemput kedatangan mu menuju sorga, kamu pantas untuk mendapatkan sorga yang utama, yang akan kamu peroleh adalah rumah yang
terbuat dari emas yang terbaik” Sang atma menghaturkan sembah seraya berkata “ sembah sujud hamba kehadapat para dewata semua hamba mohon jangan melebih – lebihkan hamba sebenarnya hamba tidak mengetahui apa – apa, hamba mohon ampun jika perkataan hamba ada yang salah “Dewa tersebut berkata “ itu memang benar dalam kehidupanmu di dunia kamu telah sangat tulus dalam berbuat baik kepada dewa ( TUHAN ), manusia, dan alam, menjalankan apa yang menjadi tugasmu tanpa pambrih, tidak tergoda dan selalu menghaturkan sesajen walaupun sekedar canang dan dupa, walaupun hanya dengan doa, yang penting adalah ketulusan. Ingat dengan leluhur, beryadnya semampunya, nah sekarang naiklah ke #joli emas itu kita
lanjutkan perjalanan menuju sorga “
Setelah mendengar perkataan dewa tersebut sang atma tidak berani membantah dan naik keatas joli emas yang sangat indah dihiasi dengan manik dan batu permat, diceritakan rombongan
tesebut telah tiba di pintu gerbang menuju sorga didepan pintu gerbang tersebut terdapat sebuah balai
( bangunan ) yang sangat indah dihiasi emas dan permata, di tempat tersebut telah menunggu RESI ( pemimpin umat ) sorga untuk menyucikan sang atma. Upacara penyucian untuk sang atma digelar dengan sangat khusuk, setelah upacara tersebut selesai sang atma diantar menuju sorga dan tempat yang
terlah ditentukan, di tempat tersebut sang atma bertemu dengan orang tua dan sanak saudaranya yang telah terlebih dahulu menempuh perjalanan
tersebut, sambil menangis keluarga tersebut melepas kerinduannya.
Tidak diceritakan berapa lama sang atma berada di tempat tersebut sampai akhirnya semua atma dijemput menuju #SIWA_LOKA ( tempat bersatunya Atma
dengan #Prama_Atma atau atma dengan SANG PENCIPTANYA ) hal tersebut merupakan tujuan terakhir dari perjalanan atma dalam ajaran Hindu.