Minggu, 26 Oktober 2025

SEJARAH PATUNG KANDA PAT SARI KLUNGKUNG




Patung Kanda Pat Sari sebagai centre Kabupaten Klungkung kerap dijadikan sebagai pusat berlangsungnya suatu acara. Seperti pelaksanaan upacara tawur agung dan pawai ogoh-ogoh, patung ini menjadi pusat perhatian masyarakat Klungkung serta wisatawan asing. Di tempat ini pula diadakan karnaval dan serentetan acara besar lainnya. Patung karya arsitek Ida Bagus Tugur ini memiliki filosofi penting. Empat patung yang mengambil filosofi “Catur Sanak” bersama-sama memperoleh makna dari mitologi tentang air suci yang berasal dari “Sindu Rahasia Muka”. Patung ini berlatar kisah tentang keempat “saudara” manusia saat lahir yakni ari-ari (Sang Anta), tali pusar (Sang Preta), darah (Sang Kala), dan air nyom (Sang Dengen), usai mendapat anugerah berganti nama menjadi Sang Anggapati (Bhagawan Penyarikan) berkedudukan di timur, Sang Prajapati (Bhagawan Mrcukunda) di selatan, Sang Banaspati (Bhagawan Sindu Pati) di barat dan Sang Banaspatiraja (Bhagawan Tatul) di utara. Menurut budayawan Klungkung Kanda Pat Sari memiliki arti yakni empat saudara yang sudah memiliki suatu kekuatan murni dari unsur-unsur yang memberikan kebahagiaan dalam kehidupan. Empat saudara tersebut lahir dan mati bersama. Ketika ada seseorang yang jatuh, disana akan dilakukan upacara “Ngenteg Bayu”. Upacara itu dilakukan agar saudara-saudara yang tertinggal disana kekuatannya kembali kepada kita, baik itu ari-ari, tali pusar, darah, dan air nyom. Lalu kenapa bisa beredar berbagai istilah untuk menyebut patung ini? Kondisi seperti ini sudah ada sejak zaman kakek nenek kita. Kurangnya pemahaman dan sosialisasi adalah penyebab utama kesalahpahaman masyarakat. Sejak awal masyarakat cenderung menyebut patung itu adalah Patung Catur Muka, sehingga tertanamlah jika itulah penyebutan yang sebenarnya.

KONSULTASI ATAU PESAN BANTEN KEBUTUHAN UPAKARA WA: 08976687246 ATAU KLIK DISINI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar