Rabu, 07 Januari 2026

Kisah Keruntuhan Kerajaan Selaparang pada Abad ke-17.

 


Kisah keruntuhan Kerajaan Selaparang telah menghiasi sejarah kerajaan-kerajaan di Nusantara.
Mengutip buku Ekonomi Islam Nusantara karya Ahmad Ubaidillah, diperoleh informasi bahwa Kerajaan Selaparang adalah salah satu kerajaan yang pernah ada di Pulau Lombok.
Pusat kerajaan ini pada masa lampau berada di Selaparang, yang saat ini kurang lebih lebih berada di Desa Selaparang, Swela, Lombok Timur.
Mengenal Kisah Keruntuhan Kerajaan Selaparang.
Sejarah Indonesia penuh dengan cerita tentang kerajaan-kerajaan yang pernah berdiri dan mengalami masa kejayaan dan selanjutnya mengalami keruntuhan. Salah satunya adalah Kerajaan Selaparang, yang mengalami keruntuhan pada abad ke-17.
Dalam artikel ini diungkap mengenai kisah keruntuhan Kerajaan Selaparang dan faktor-faktornya:
1. Profil Kerajaan Selaparang
Kerajaan Selaparang adalah sebuah kerajaan yang berdiri di pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, Indonesia.
Kerajaan ini diperkirakan didirikan pada abad ke-13 oleh seorang bangsawan dari Bali. Oleh karena itu akan ditemukan dua periode Kerajaan Selaparang yakni Periode Hindu dan Periode Islam.
Selaparang menjadi salah satu kerajaan yang kuat di wilayah Nusa Tenggara dengan pengaruh yang meluas di sekitar pulau Lombok.
2. Letak Kerajaan Selaparang
Kerajaan Selaparang terletak di pulau Lombok, di sebelah timur. Pulau Lombok terkenal dengan keindahan alamnya, seperti pantai-pantai yang menakjubkan, Gunung Rinjani, dan budaya Sasak yang khas.
Kerajaan Selaparang memanfaatkan posisi strategisnya di pulau ini untuk mengembangkan perdagangan dan kekuasaannya.
3. Kebudayaan Kerajaan Selaparang
Kerajaan Selaparang memiliki kebudayaan yang kaya dan unik. Masyarakatnya, yang mayoritas adalah suku Sasak, memiliki tradisi dan adat istiadat yang khas.
Mereka mengembangkan seni, kriya, dan musik tradisional yang indah.
Selain itu, Kerajaan Selaparang juga memiliki sistem pemerintahan yang terorganisir dengan baik, di mana raja menjadi pemimpin tertinggi dan dibantu oleh para bangsawan dan petinggi kerajaan.
4. Keruntuhan Kerajaan Selaparang
Keruntuhan Kerajaan Selaparang pada abad ke-17 disebabkan oleh beberapa faktor.
Salah satunya adalah serangan dari luar, terutama oleh kerajaan-kerajaan Bali yang berusaha memperluas pengaruhnya.
Kerajaan Selaparang juga menghadapi perselisihan internal dan konflik antara golongan bangsawan yang saling bersaing untuk kekuasaan. Ketidakstabilan politik ini melemahkan kerajaan secara keseluruhan.
Sejarah keruntuhan Kerajaan Selaparang pada abad ke-17 terjadi akibat serangan dari luar, konflik internal, dan faktor ekonomi yang mempengaruhi stabilitas kerajaan. 


Jumat, 05 Desember 2025

MAKNA UPACARA MAPEGAT




Mapegat berasal dari kata “pegat” yang berarti putus. Dengan menggunakan banten papegat, upacara Mapegat ini dilaksanakan bertujuan untuk memutuskan ikatan duniawi dan sekaligus untuk meningkatkan kesucian atman seseorang yang telah meninggal dunia sebagai rangkaian upacara ngaben di Bali. Upacara yang juga disebut Mapepegat ini dilaksanakan di pintu kori masuk pekarangan rumah. Mereka yang mengantarkan ke setra, menyelenggarakan upacara mepepegat, sebagai simbol pemutusan hubungan duniawi ini dengan sang meninggal yang sarananya disamping bebantenan satu soroh dengan tali benang yang dihubungkan pada daun carang dapdap.Setelah selesai banten (yadnya) dihaturkan, tali benang ini dilabrak masuk hingga putus yang menandai bahwa putusnya sebuah hubungan.





#bali #baliindonesia #taksu #taksubali #taksu_bali #upakara #bantenbali #canangsari #hindu #hindubali #pura #tradisibali #infobali #infodenpasar

Candi Sumur, juga Candi Pari




Candi Sumur, juga Candi Pari, dibangun untuk mengenang tempat hilangnya seorang sahabat/adik angkat dari salah satu putra Prabu Brawijaya dan istrinya yang menolak tinggal di keraton Majapahit di kala itu.
Lingga-yoni yang menjadi ciri bahwa Candi Sumur adalah candi yang berlatar agama Hindu, kini tidak ditemukan lagi. Candi ini diperkirakan didirikan pada abad ke-14 Masehi, sezaman dengan Candi Pari.
Candi ini berlokasi di Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, sekitar 100–200 m sebelah barat daya Candi Pari.
Didirikan pada masa yang sama dengan Candi Pari, keduanya termasuk dalam cagar budaya di Kabupaten Sidoarjo.
Saat ini candi dalam keadaan rusak, tinggal sisa dari bagian dinding sebelah timur dan selatan, beserta lantai dan fondasi bangunan. Candi Sumur ini diperkirakan dibangun bersamaan dengan Candi Pari, dan seperti halnya Candi Pari, Candi Sumur juga terbentuk dari susunan bata merah. Susunan bata pada bangunan candi ini mengarah hadap ke barat.
Pada bangunan candi ini juga tidak ditemukan ukiran atau relief-relief yang menghias dinding atau kaki candi. Bentuk unik hanya terlihat dari susunan anak tangga yang berada di sisi selatan candi. Anak tangga ini cukup "curam" dan tidak memiliki dinding tangga di bagian sisinya, sehingga perlu kehati-hatian bila pengunjung ingin menaikinya dikarenakan bata penyusun anak tangga atau tempat berpijak kaki itu sendiri tidak tersusun rata dan rapi...


TRADISI USABA DODOL DESA SELAT DUDA KARANGASEM

 



Usaba Dodol, berlangsung setiap tahun di Desa Duda, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem, Bali. Tradisi ini dilaksanakan saat Tilem Kesanga, di Pura Dalem Selat, sehingga sering disebut Usaba Dalem. Keunikan tradisi ini, membuat masyarakat dan wisatawan berdatangan ke Selat tepat sehari sebelum Hari Raya Nyepi, khusus untuk menyaksikan kemeriahan Usaba Dodol. Sebelum tradisi dilangsungkan, maka jero desa akan beramai-ramai ‘berburu’ pisang kayu di kebun-kebun penduduk. Apabila pisang kayu telah ditemukan, selanjutkan akan disucikan dan diletakkan di bagian jeroan pura. Acara kemudian berlanjut dengan persembahyangan dan akan di-puput Ida Pedanda. Tatkala persembahyangan usai, di senja harinya pisang kayu akan ditanam sebagai pertanda mengembalikan lagi ke bumi. Di lain pihak, di antara prosesi persembahyangan itu, beberapa warga akan sibuk menghaturkan dodol berbagai ukuran. Biasanya orang yang mempersembahkan dodol berukuran ‘raksasa’ karena mempunyai kaul. Jika dodol berukuran normal, tentu biaya pembuatannya tidak memberatkan. Namun, pada dodol pembayar kaul yang sering ukurannya sangat besar, maka baik biaya maupun pengerjaannya dilakukan beramai-ramai dalam suatu keluarga besar. Hal ini membuat proses pembuatan dodol sama sekali tidak memberatkan dan justru memperat hubungan kekeluargaan di antara mereka. Kegiatan ini benar-benar menyisakan kesan mendalam tentang sebuah persembahan yang ikhlas dan terekatnya lebih erat jalinan hubungan kekeluargaan. 

Memenjor hanya saat Galungan Nadi.

 


Petikan Sundari gama
Anggara Wage, penampaan ngaran, yatapanadah Ira butha galungan marmaning pasanggraha, dening prakerti ring desa wehanabuta Yadnya rikeng catuspata, sarupa Ning Yadnya wenang, manuta nista, Masya utamania, pinuja dening sang pandita juga, ngawastonakna, Siwa Budha, sire wenang
Kunang sakweh ikang sanjata prayascitaken, jaya jaya de sang pandita, tekeng jadmania, hapania Prakosa pratameng wekakna, paracaru ring sakuwen kuwen kunang, dening Sega warna 3, tandingania manut Urip
Petak (putih)5, Abang (barak) 9, Ireng (selem)4, iwaknia olahan babi, Saha tabuhan segehan agung1, genahing Natar umah, ring sanggar Muang ring dengen, sambat sang skala Niskala palania jaya Prakosa ri paperangan
Anggara Wage dungulan persembahannya, dicatus PATA ada buta galungan meminta diberikan sebuah persembahan dengan adanya 3 butha
Di tegak karang umah ada 2 persembahan di natah umah dan di depan pintu masuk rumah bagian kanan
Dari sini adanya ingolah babi nantinya sebagai pelengkap upakaranya
Tapi jika diamati dengan cermat PENAMPAAN brarti sigap menerima atau siap memikul
Diambil dari bahasa NAMPA yg berarti memangku atau mempersiapkan sesuatu, dimana jika qta masuk ke besoknya adalah galungan brarti angara Wage adalah waktu terahir persiapan dari galungan
Tegak karang umah ( kala raksa) tugu di bagian barat Utara.
ada Siwa yg akan turun kedunia dari uluning kauh
Sebuah persembahan kepada kala raksa sering disebut ngaturang BEBAKARAN BALUNG GEGENDING dihaturkan disor Pelinggih (ketatwaning kala bang)
Ada 3 hal yg dilakukan di penampaan galungan
1. Menghaturkan Bebakaran balung gegending di sor Pelinggih
2.menghaturkan segehan agung di natah umah
3. Menghaturkan segehan tiga didepan bagian kanan pintu masuk pekarangan rumah
Memenjor disaat GALUNGAN NADI ( galungan yg bertemu dengan ruang purnama) disaat ini NAK BALI pasti akan memenjor
Bisa dipelajari ( usana Bali, Sanghyang tapeni, Widhi tatwa, Yadnya prakerti, tutur ngewangun pekarangan mungkin banyak lagi ada literasi yg mencantumkan bahasa Penjor atau memenjor)

Kalau Tradisi Jadi Tekanan, Apa Masih Kita Sebut Sakral?

 


Jujur aja ya, kadang aku mikir… berat banget jadi anak muda Bali zaman sekarang.
Kemarin aku nonton satu podcast, dia bilang katanya tingkat bunuh diri paling tinggi itu di Bali. Entah itu bener atau nggak, tapi kalau aku lihat realita yang ada, aku bisa ngerti sih kenapa wacana kayak gitu bisa muncul.
Bali ini indah, iya. Budayanya megah, sakral, luar biasa. Tapi di balik itu, ada tekanan yang gak semua orang berani ngomongin. Salah satunya soal adat dan upacara. Di satu sisi, ini warisan leluhur yang harus dijaga. Tapi di sisi lain, biaya buat ngejalaninnya tuh… gak main-main.
Banyak anak muda di Bali yang sekarang hidupnya udah susah: cari kerja susah, harga kebutuhan naik, penghasilan gak seberapa. Tapi tiap ada upacara adat, mereka dituntut buat “tetap jalanin” dengan standar yang tinggi—karena takut dibilang gak hormat sama leluhur, takut dikatain tetangga, atau takut ngecewain orang tua. Jadinya? Banyak yang sampai harus ngutang, jual motor, bahkan ngorbanin tabungan masa depan demi ngejaga image dan kehormatan keluarga.
Aku pribadi, secara finansial bisa dibilang aman. Tapi aku juga gak bisa tutup mata lihat teman-teman seumuran aku yang harus mikirin antara bayar cicilan atau biaya upacara. Mereka bukan gak cinta budaya, bukan juga males ikut adat—mereka cuma lagi kepepet sama realita. Dan sayangnya, gak semua orang berani jujur soal ini. Banyak yang pura-pura kuat, pura-pura sanggup, padahal di dalamnya udah meledak.
Gak sedikit juga yang akhirnya stres. Karena ketika lo terjepit antara “gak enak sama orang tua dan masyarakat” dan “gak punya duit buat hidup layak”, itu bisa bikin orang ngerasa gak punya jalan keluar. Di titik itulah, sebagian orang mungkin ngerasa satu-satunya cara buat bebas ya… dengan cara paling sunyi: ngakhirin hidupnya sendiri.
Sedih banget sih kalau sampe harus ke situ. Makanya aku pikir ini saatnya kita mulai berani ngomong. Gak semua tradisi harus dijalani dengan cara yang sama kayak jaman dulu. Bukan berarti ninggalin adat, tapi nyari versi yang lebih masuk akal buat kehidupan sekarang. Upacara gak harus mewah, gak harus bikin orang ngutang. Yang penting niat dan ketulusan.
Mungkin ini saatnya juga para pemangku adat, tokoh masyarakat, dan orang tua mulai buka telinga. Dengerin curhatan anak-anak muda. Bukan buat ngelawan, tapi buat nyari titik tengah. Karena kalo terus-terusan kayak gini, yang kita jaga cuma bentuknya doang, tapi isi dan makna tradisinya malah pelan-pelan hilang.
Aku nulis ini bukan buat nyindir siapa-siapa, tapi karena aku peduli. Karena aku tahu rasanya hidup di tengah dua dunia: budaya yang aku hormati dan realita yang kadang kejam.
Dan buat yang ngerasa capek, ngerasa sendiri, percaya deh… kamu gak sendirian.

Dewa Gde Wisnu II