Memahami Fenomena Spiritual Sekala dan Niskala
Dalam kehidupan spiritual umat Hindu Bali, kerauhan (kerawuhan) sering terjadi dalam berbagai upacara suci seperti piodalan, ngusaba, atau upacara yadnya. Kerauhan dipahami sebagai keadaan ketika kesadaran seseorang dipengaruhi atau dimasuki oleh kekuatan niskala, baik berupa manifestasi suci maupun energi alam lainnya.
Fenomena ini bukan hanya dipandang secara mistis, tetapi juga sebagai bagian dari komunikasi antara alam sekala (dunia nyata) dan niskala (dunia spiritual).
Hal ini selaras dengan sloka suci dalam kitab Bhagavad Gita 4.11:
"Ye yathā māṁ prapadyante
tāṁs tathaiva bhajāmy aham
mama vartmānuvartante
manuṣyāḥ pārtha sarvaśaḥ."
Artinya:
“Bagaimanapun manusia mendekati-Ku, demikian pula Aku membalas mereka. Semua manusia menempuh jalan-Ku dalam berbagai cara.”
Sloka ini menjelaskan bahwa Ida Sang Hyang Widhi dapat hadir melalui berbagai cara dan perantara, termasuk melalui seseorang yang mengalami kerauhan.
Kerauhan ini dianggap paling suci, karena diyakini sebagai turunnya manifestasi Dewa atau Bhatara untuk memberikan tuntunan kepada umat.
Biasanya terjadi pada orang yang sudah memiliki taksu spiritual atau telah disucikan secara niskala seperti pemangku atau orang yang memang dipilih secara spiritual.
Ciri-ciri kerauhan Dewa:
Kerauhan jenis ini sering muncul saat puncak upacara piodalan atau saat pemanggilan taksu.
Kerauhan ini diyakini berasal dari roh leluhur keluarga atau leluhur desa yang hadir untuk menyampaikan pesan kepada keturunannya.
Hal ini berkaitan dengan ajaran Pitra Yadnya, yaitu kewajiban umat Hindu untuk menghormati dan menyucikan leluhur.
Dalam kitab Manava Dharmasastra III.203 disebutkan:
"Pitṝṇāṁ prītyai dātavyam
śraddhayā hutam eva ca."
Artinya:
“Persembahan yang dilakukan dengan penuh ketulusan akan menyenangkan para leluhur.”
Ciri-ciri kerauhan leluhur:
Kerauhan ini berkaitan dengan energi Bhuta Kala, yaitu kekuatan alam yang belum tersucikan.
Dalam filosofi Hindu Bali, Bhuta Kala bukan semata-mata jahat, tetapi bagian dari unsur alam yang perlu diseimbangkan melalui Bhuta Yadnya.
Ciri-ciri kerauhan Bhuta:
Fenomena ini mengingatkan umat agar selalu menjaga keseimbangan dengan alam.
Fenomena kerauhan mengajarkan bahwa kehidupan manusia selalu berada dalam hubungan antara sekala dan niskala.
Kerauhan juga mengingatkan manusia untuk menjaga kesucian melalui ajaran Tri Kaya Parisudha, yaitu:
Manacika – berpikir yang baik
Wacika – berkata yang baik
Kayika – berbuat yang baik
Dengan menjaga ketiga hal tersebut, manusia akan hidup selaras dengan Dharma dan keharmonisan alam semesta.
Kerauhan dalam tradisi Hindu Bali bukan sekadar fenomena mistis, melainkan bagian dari kearifan spiritual yang mencerminkan hubungan manusia dengan Tuhan, leluhur, dan alam semesta.
Dengan pemahaman yang bijaksana, umat dapat melihat kerauhan sebagai pengingat untuk selalu menjaga kesucian diri dan keseimbangan hidup.
#bali #baliindonesia #taksu #taksubali #taksu_bali #upakara #bantenbali #canangsari #hindu #hindubali #pura #tradisibali #infobali #infodenpasar


Tidak ada komentar:
Posting Komentar