Banyak orang ketika menonton pementasan Calonarang hanya fokus pada tokoh-tokoh yang muncul di panggung. Namun jarang yang memperhatikan satu hal penting di depan arena pementasan: pohon pisang saba (biu saba) dan pohon pepaya (gedang) yang sengaja dipasang sebagai bagian dari sarana ritual.
Bagi yang belum memahami tattwa Bali, mungkin pohon-pohon tersebut terlihat seperti hiasan biasa. Padahal dalam ajaran lontar Bali, keberadaannya memiliki makna spiritual yang sangat dalam.
Kisahnya berawal ketika Dewi Uma mendapatkan kutukan dari Dewa Siwa sehingga berubah menjadi Dewi Durga dan turun ke dunia menjalani hukuman kosmis.
Dalam proses peleburan energi tersebut, bagian-bagian tubuh beliau berubah menjadi berbagai tumbuhan yang kemudian hidup di alam semesta.
Di antaranya disebutkan:
Inilah sebabnya dalam beberapa pementasan Calonarang, pohon pisang dan pepaya sering dijadikan sarana simbolik dalam adegan tertentu.
Simbol ini mengajarkan bahwa alam semesta berasal dari energi ilahi yang sama. Tumbuhan, manusia, dan seluruh makhluk hidup merupakan bagian dari manifestasi kekuatan alam yang berada dalam kendali Dewa Siwa beserta saktinya.
Pohon pisang dan pepaya dalam pementasan Calonarang menjadi pengingat bahwa:
Alam semesta memiliki hubungan erat dengan dunia spiritual.
Setiap unsur alam mengandung energi sakral.
Ritual dan pementasan sakral dalam tradisi Bali sebenarnya adalah media menjaga keseimbangan alam antara dharma dan adharma.
Karena itu, Calonarang tidak bisa dipandang hanya sebagai pertunjukan seni. Ia adalah ritual budaya yang sarat tattwa dan filosofi leluhur Bali.
Memahami simbol-simbol seperti ini membuat kita semakin sadar bahwa warisan budaya Bali bukan sekadar tradisi, tetapi juga ajaran spiritual yang sangat dalam tentang hubungan manusia, alam, dan kekuatan ilahi.
#bali #baliindonesia #taksu #taksubali #taksu_bali #upakara #bantenbali #canangsari #hindu #hindubali #pura #tradisibali #infobali #infodenpasar


Tidak ada komentar:
Posting Komentar