Sejak berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, bidang kegiatan manusia jauh mengalami perubahan. Tiga puluh tahun lalu, orang masih berpikir menabung pangkal kaya. Saat ini, menabung (saja) justru membuat nilai uang merosot. Saat ini, menabung tidak cukup. Harus ada instrumen investasi yang membuat nilai uang meningkat lebih tinggi daripada nilai rata-rata inflasi tahunan.Contoh lain, saat ini bidang pekerjaan manusia tidak hanya bertani, beternak, atau berdagang. Ada bidang profesi konsultasi hukum, advokat, programmer, Youtuber, konten kreator dan trader saham. Ada pula dokter yang samasekali tidak ada hubungannya dengan pertanian atau perdagangan. Di masa depan akan ada banyak pekerjaan ‘aneh’ lain yang muncul.Terkait dengan bidang-bidang pekerjaan manusia itu, Hindu (dan tentu agama-agama lain juga) memiliki sistem kalender. Dalam sistem kalender itu ada perhitungan hari baik dan hari buruk untuk memulai suatu kegiatan atau pekerjaan. Di Bali, ini disebut wariga dewasa, atau ala-ayuning dewasa. Dalam istilah Sanskerta, istilahnya adalah subha muhurta.Tatkala saya melihat-lihat jadwal hari baik di kalender wariga Bali tadi sore, saya terbesit inspirasi yang mungkin agak aneh. Dari semua hari baik yang tercantum di kalender Bali, tidak ada jadwal hari baik yang sesuai dengan apa yang saya cari sebagai milenial. Di sana hanya tercantum hari baik untuk membuat bubu, membuat pancing, mengairi padi, berdagang, membuat senjata dan berburu—semua itu adalah mata pencaharian zaman dulu yang hampir tidak dilakukan lagi sekarang. Zaman sekarang, orang tidak perlu lagi berburu atau membuat pancing… tinggal beli di toko saja.Masalahnya adalah, hari baik yang saya cari adalah hari baik untuk mulai investasi kripto dan saham. Kebetulan teman saya yang kaya raya bertanya hari ini via WhatsApp, “Ada nggak hari baik (dewasa ayu) untuk mulai investasi kripto?” katanya. “Aku mau beli bitcoin nih!”Saya berpikir keras. Belum pernah ada orang yang bertanya ala-ayuning dewasa terkait dengan investasi kripto! Kalau saya bertanya ke ida pedanda (orang suci), mungkin beliau belum tentu paham apa itu investasi kripto atau bitcoin.Setelah saya amat-amati, memang kalender tradisional Bali yang selama ini kita pakai masih sangat agricultural-oriented. Semua bidang pekerjaan yang dicantumkan hari baik-buruknya hanya terkait dengan bidang pertanian dan kegiatan-kegiatan tradisional. Saya belum pernah melihat kalender Bali updated version yang mencantumkan hari baik untuk bidang-bidang pekerjaan terkini seperti ‘hari baik mulai investasi saham’, ‘hari baik untuk unggah konten Youtube’, atau ‘hari baik deal bisnis dengan perusahaan di Singapura via Zoom’. Dalam kalender tradisional Bali, hanya tercantum ‘hari baik berdagang’ dan ‘hari baik melakukan perjalanan jauh’. Sementara itu, deal bisnis luar negeri via Zoom adalah gabungan dari hari baik berdagang dan jarak yang jauh, tetapi orang tidak perlu melakukan perjalanan jauh. Kompleksitas ini yang belum diakomodasi dalam penyusunan kalender Bali saat ini.Masalah lain yang perlu dimutakhirkan dalam kalender tradisional Bali adalah tentang rentang waktu. Kadangkala, untuk mencari hari yang baik sekali perlu jarak sekian hari bahkan sekian bulan. Jika ini terkait dengan keputusan cepat seperti deal bisnis atau trading, maka tentu ini akan merugikan. Yang barangkali bisa diakomodasi dalam kalender itu adalah perhitungan hari baik untuk kegiatan yang urgensinya tinggi. Barangkali, kegiatan-kegiatan urgen bisa dicarikan hari baik tidak berdasarkan perhitungan wewaran (hari pasaran), wuku atau sasih, tetapi dari dauh (asta dauh, perhitungan jam, menit, detik). Sebab perhitungan wewaran dikalahkan oleh wuku, wuku dikalahkan oleh tithi (hari lunar), tithi dikalahkan oleh sasih (bulan), dan sasih dikalahkan oleh dauh (jam, menit, detik) yang tepat.Lalu, apa jawaban saya untuk kawan saya itu? Saya mencari perhitungan muhurta (dauh) yang paling mujur. “Bisa besok, pukul 13.29 sampai 14.05,” jawab saya via WhatsApp.Dia bertanya balik, “Harus tepat jam sekian?”“Yes,” jawab saya. “Kalau tidak tepat, akan kena pengaruh sasih, wuku atau wara yang kurang baik.”Semoga bermanfaat. Mari berdiskusi ide-ide cemerlang demi kemaslahatan bersama.Arya Lawa Manuaba
Pura Luhur Pucak Bukit Kembar berlokasi di Desa Adat Pacung, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan yaitu di sebelah selatan Desa Adat Baturiti (sebelah selatan Kota Kecamatan Baturiti), dan terletak di sebelah Timur Jalan Jurusan Denpasar- Singaraja. Pura ini sangat mudah dijangkau oleh umat Hindu yang hendak melakukan persembahyangan karena lokasinya sangat strategis yaitu pada jalur Baturiti - Bedugul, yang jaraknya ± 37 km dari kota Denpasar.Keberadaan Pura ini tidak terlepas dari kedatangan para Rsi dan para Arya dari Jawa, karena Pulau Bali dengan Pulau Jawa pada jaman itu terjalin dengan erat, khususnya dengan Jawa Timur. Lebih-lebih expedisi Gajah Mada ke Bali pada tahun 1343 Masehi yang disertai pula turunnya para Arya Wilatikta, untuk menyerang Pulau Bali, karena raja Bali yang bergelar Raja Danawa yang berkedudukan di Bedahulu tidak mau patuh terhadap Majapahit.Dalam peperangan tersebut terjadilah kekalahan pada pihak raja Bali, dan untuk menghindari terjadinya kekosongan di Pulau Bali, maka Mpu Soma Kepakisan atas perintah Raja Wilatikta dirubah status warnanya dari wama Brahmana menjadi ksatria untuk menjadi raja di Pulau Bali dengan gelar Dalem Kreshna Kepakisan, demikian juga para arya yang ikut turun ke Bali ditempatkan pada daerah-daerah yang dianggap penting dan strategis untuk menjaga stabilitas sekaligus mengayomi dan atau membangun tempat-tempat suci, seperti halnya keberadaan Pura Luhur Pucak Kembar tidak terlepas dari kedatangan Rsi Madhura dan Arya Sentong yang lebih dikenal dengan sebutan I Gusti Ngurah Pacung Sakti.Pura Luhur Pucak Bukit Kembar, menurut Purana yang telah diketemukan dan rontal-rontal lain sebagai reprensi, merupakan stana dari manifestasi Tuhan Yang Maha Esa yang bergelar Bhatara Gede Sakti Amurbeng Rat dan menurut analisis sejarah abad ke- 7, oleh Drs. R. Soekomo ada penyebutan Amurbeng Rat, yang tidak lain merupakan gelar dari Bhatara Wisnu. Kalau kita Bandingkan antara isi Purana beliau disebut Dalem Ireng, dimana menurut situs pengideran warna Ireng letaknya di utara dengan Dewanya Bhatara Wisnu. Demikian juga disebutkan pada Purana Bangsul, Bhatara Sakti Amurbeng Rat nama lain dari Bhatara Wisnu, sehingga dengan demikian Pura Luhur Pucak Bukit Kembar merupakan stana dari Bhatara Wisnu serta merupakan kahyangan jagat, dimana statusnya akan jelas apabila telah membaca link buku online dibawah ini dengan seksama.1. Purana Pura Luhur Pucak Kembar di http://new.babadbali.com/.../raja-purana-pura-luhur.../4/2. Cikal Bakal Berdirinya Pura Luhur Pucak Kembar di http://new.babadbali.com/.../raja-purana-pura-luhur.../5/3. Tapakan Nawa Sanga Pura Luhur Pucak Kembar di http://new.babadbali.com/.../raja-purana-pura-luhur.../6/4. Agama Pramana Pura Luhur Pucak Kembar dan Pujawali di http://new.babadbali.com/.../raja-purana-pura-luhur.../7/Pujawali /Patirtan /odalan di Pura Luhur Pucak Kembar jatuh pada hari Anggara Kliwon Prangbakat, namun sesuai dengan tradisi patirtan ageng (jelih) dilaksanakan setiap satu setengah tahun sekali, dengan rangkaian/eedan sebagai berikut:1). Pada hari Jumat (Sukra Kliwon Sungsang) tapakan Ida Bhatara Matangi.2). Pada hari Rabu (Budha Kliwon Dungulan) Ida Bhatara lungha ke Pura Pucak Sari (Pacung) Nunas Pasupati.3). Pada hari Kamis (Wrehaspati Dungulan) Ida Bhatara lungha ke pura Anyar (Baturiti) dengan maksud ngastawa kepada Ida Bhatara agar berkenan malingga pada tapakan masing-masing dan dari pura ini menentukan arah tujuan (pemargi) apakah ke bagian barat atau bagian timur.Pada saat tapakan Ida Bhatara tedun setiap 1,5 tahun sekali melalui beberapa pura yang berlokasi di 4 Kabupaten di Bali seperti : Tabanan, Badung, Gianyar, dan Bangli, dalam tedun tersebut pada Pura-Pura tersebut dibawah ini dilaksanakan upakara masuci seperti di Pura Pucak Tinggah (Angsri), Pura Puseh Senganan, Pura Telaga Waja (Tegeh), Pura Purusada (Kapal), Pura Dhalem Swarga (Blahkiuh) dan Pura Jati (Batur).Semoga berkenan, kurang lebihnya mohon dimaklumi…Ampura Suksma.. Dumogi Sami Rahayu… 

Reference1. Image : https://www.google.com/2. Raja Purana Pura Luhur Pucak Kembar di http://new.babadbali.com/.../raja-purana-pura-luhur.../
Pewarah-warah atau piteket-piteket pada saat Matiti Suara yang merupakan sabda dari Ida Bhatara yang berstana di Pura Ulun Danu Batur, antara lain sebagai berikut.1) Jero krama desa lan umat Hindu pirengang becik-becik nggih: “Mule keliki mula biyu, mula abedik mupu liu, balik mesuryak”.“Apa yang kita tanam, walaupun sedikit akan menghasilkan sesuatu yang lebih. Arti yang lebih luas, yaitu apa yang kita tanam atau persembahkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas kemurahatian Beliau maka hasil yang kita dapat jauh lebih banyak dari apa yang kita harapkan, tentunya jika didasari atas sikap ketulusan hati”.2) Jero krama desa lan umat Hindu pirengang becik-becik nggih: “baas barak baas putih, sane daak dadi sugih, balik mesuryak”.“Orang yang kekurangan (miskin) akan menjadi berlebihan (kaya) atau dari keadaan tidak punya menjadi punya. Arti yang lebih luas, yaitu apabila manusia mau menjalankan sesuatu yang menjadi kewajiban kita di dunia dengan bekerja keras dan selalu berusaha maka hasil dari kerja keras karya sendiri itu akan didapatkan. Jika karena tidak ada hasil tanpa adanya perbuatan dan tidak ada orang yang memiliki segalanya tanpa bekerja keras”.3) Jero krama desa lan umat Hindu pirengang becik-becik nggih: sampunang nganggen kriya upaya, dana upaya anggen, balik mesuryak”.“Dalam berbuat sesuatu pakailah kemampuan yang dimiliki diri bukan mengandalkan kemampuan orang lain. Arti yang lebih luas, yaitu dalam hidup sebagai manusia tentu membutuhkan interaksi dan kerja sama dengan orang lain dan dalam situasi bekerjasama tersebut janganlah mengandalkan kemampuan orang lain untuk memenuhi segala keinginan, namun haruslah berusaha menggali kemampuan dari diri sendiri”.--------- 

-------Berkaitan dengan tradisi Matiti Suara ini, Jero Gede Batur Alitan pada tanggal 14 April 2014,16419 menceritakan secara singkat.“Tradisi Matiti Suara dalam bhakti prapanian serangkaian upacara Ngusaba Kedasa di desa Pakraman Batur sampai saat ini tidak diketahui secara jelas.Latar belakang pelaksanaannya dari segi historis, sampai saat ini, belum ditemukan sumber-sumber tertulis mengenai sejarah ataupun catatan peristiwa peristiwa yang menjadi latar belakang pelaksanaan tradisi ini. Hal ini dikarenakan pada saat gunung Batur meletus, bukti-bukti sejarah hilang tertimbun material dari gunung Batur. Namun secara filosofis, pelaksanaan tradisi Matiti Suara dalam bhakti prapanian serangkaian upacara Ngusaba Kedasa di Pura Ulun Danu Batur merupakan suatu cara atau jalan keadaan luhur untuk mewujudkan kesejahteraan dunia beserta isinya. Wujud riil perilaku masyarakat Batur, dengan kesadaran yang tinggi melaksanakan amal pekerjaan secara tulus dan ikhlas.”Jero Gede Batur Mekalihan (Duwuran dan Alitan), dalam laporan sebagai manggalaning (pemimpin) upacara, mengungkapkan tujuan diadakannya tradisi Matiti Suara untuk menjadikan jagat trepti (aman, tenang, damai, dan tentram).Suasana trepti ini, tercermin dari makna hakiki wacana Matiti Suara, yaitu sabdha saking Ida Bathari sane malinggih ring Pura Ulun Danu Batur sane patut anggen dasar swardharmaning dharma agama kalihdharma negara sane patut kamarginin olih krama desa Batur kalih umat Hindu sareng sami (Sabda dari Ida Bathari yang ber-sthana di Pura Ulun Danu Batur yang patut dijadikan dasar keyakinan saat melakukan kewajiban agama dan negara bagi warga masyarakat desa pakraman Batur dan umat Hindu semuanya). Dalam sabdha Ida Bathari terkandung ajaran sakral agar umat sedharma selalu ingat lahir ke dunia selalu dan senantiasa berbuat atas landasan dharma, terlebih lagi agar berjanji kepada diri sendiri hanya akan memakai kemampuan yang ada di dalam diri untuk dapat menjalani kehidupan dengan baik.Kata jadian Matiti Suara berasal dari bentuk frasa dasar titi suara, yang artinya pralambang sabda suci jembatan emas untuk mematuhi perintah gaib dari Ida Bhatari-Bhatari yang malingga malinggih di Pura Ulun Danu Batur yang disampaikan kepada krama Desa Batur khususnya dan umat Hindu sedharma pada umumnya agar dalam menjalani kehidupan senantiasa berbuat sesuatu yang berdasarkan dharma.Matiti Suara ini dilaksanakan oleh seorang Jero Guru atau disebut juga Jero Keraman yang sudah diwinten terlebih dahulu sebelum melaksanakan tradisi Matiti Suara. Jero Guru Bedanginan merupakan orang yang dituakan dalam desa, yang mempunyai tugas sangat penting di pura, yakni mulai dari menyiapkan upakara sampai menempatkan upakara-upakara di setiap pelinggih pelinggih yang ada di areal pura.Di Desa Batur terdapat enam belas Jero Guru dengan empat tugas yang berlainan, seperti: Jero Pulai, Jero Pemupunan, Jero Pesagian, dan Jero Dis.Pada saat Matiti Suara ini dilaksanakan, Jero Guru Bedanginan yang menjadi Kasinomanlah yang diperkenankan untuk melaksanakan tradisi tersebut. Tradisi Matiti Suara dilaksanakan di jabe tengah Pura Ulun Danu Batur. Namun, sebelum Matiti Suara, Jero Guru melakukan persiapan terlebih dahulu di jeroan, seperti: ngaturang segehan agung, tapakan, dan pejati di Kori Agung, karena pada saat Matiti Suara Jero Guru Bedanginan akan ke jabe tengah dengan melintasi Kori Agung. Pada saat Matiti Suara Jero Guru akan menyerukan sabda dari sesuhunan sebanyak tiga kali, para krama Desa Batur diminta untuk mesuryak (berteriak) sebagai tanda bahwa sabda telah diterima”.Jero Guru atau Jero Keraman yang telah menyampaikan sabda sebanyak tiga kali, kemudian masuk kejeroan mengambil sekar ura dan menaburkan sekar ura ke atas sesuai dengan arah mata angin. Biasanya, juga anak-anak kecil mengikuti beliau pada saat menaburkan sekar ura ke arah mata angin dan berlomba untuk mendapatkan pis bolongnya (uang kepengnya). Krama Desa Batur percaya bahwa sekar ura yang ditabur-taburkan ke setiap arah mata angina merupakan perlambang dari kesejahteraan yang disebarkan oleh Ida Sesuhunan dan pis bolong (uang kepeng) tersebut akan disimpan sebagai pica (anugrah) dari Ida Bhatara. Hal ini mengingatkan tentang tarian topeng Sidakarya yang biasanya dipentaskan pada saat berakhirnya sebuah upacara. Tarian ini juga mempergunakan sekar ura yang dihamburkan, yang mana sekar ura merupakan simbol medana-dana (bersedekah). Dengan kata lain, menghamburkan sekar ura berarti menebarkan kesejahteraan pada umat manusia sehingga terwujudnya rahayuning jagat.Rahayu…
Literatur1. Dr. Ketut Wirata, S.H., M.Kn. 2015. Kebijakan Pengelolaan Wisata Ekoreligi Berkelanjutan Berbasis Masyarakat Hukum Adat Bali. Surya Pena Gemilang2. I Nengah Ardika.2018. Maprani Sebagai Rangkaian Pada Ngusabha Kadasa Di Pura Ulun Danu Batur. Jurnal Penelitian Agama Hindu
Pura Pengubengan BesakihPura Pengubengan adalah yang paling jauh dari Kompleks Pura Besakih. Berada di dekat hutan pinus dengan posisi yang lebih tinggi dari kawasan sekitarnya, Pura Pengubengan menawarkan panorama alam yang menakjubkan.Pura ini terletak di Desa Besakih, Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali. Akses menuju pura kini semakin mudah, melalui jalan darat dari Pura Batu Madeg hingga ke area parkir tepat di sebelah pura. Jalan ini bisa dilalui oleh sepeda motor dan mobil. Akses sebelumnya (masih ada) adalah melalui jalan setapak yang sempit melalui Pura Gelap, jalur yang sama menuju ke Pura Tirtha Pingit.Pura suci ini terletak di lereng barat daya Gunung Agung yang merupakan titik tertinggi (3.142 mdpl) di pulau Bali. Spot ini juga menjadi salah satu titik awal pendakian menuju puncak Gunung Agung.Umat Hindu yang ingin mempersembahkan sesajen ke puncak tetapi tidak memungkinkan untuk melakukan pendakian, dapat membuat persembahan tersebut di Pura Pengubengan.Di Pura Pengubengan diyakini sebagai "Pelinggih Pesamuhan Bhatara Kabeh" sebelum Upacara Bhatara Turun Kabeh. Ritual suci "Bhatara Turun Kabeh" berarti "Dewa turun bersama" dan dirayakan setiap tahun pada Purnama (bulan purnama) Sasih Kedasa (sekitar Maret atau April). Saat ini para Dewa dari semua pura yang ada di Kompleks Pura Besakih dipercaya datang dan berdiam di Pura Penataran Agung Besakih.Palinggih yang terutama di Pura Pangubengan ini adalah Meru Tumpang Solas. Meru Tumpang Solas ini adalah palinggih Pasamuhan Bha , sebelum upacara Bha berlangsung di Pura Panataran Agung. Akan tetapi Meru Tumpang Solas ini disebut sebagai I Dewa Pangubengan pula. Selain itu, ada pula sebuah palinggih berupaSanggar Agung, yang merupakan Palinggih ini terletak di sektor kanan belakang dari Pura Pangubengan itu sendiri.Dalam pada itu, julukan pangubengan itu sendiri berasal dari upacara ngubeng atau ber-pradaksina, berjalan mengelilingi Meru Tumpang Solas tersebut di atas, searah jarum jam. Upacara ini dimaksudkan agar para dewa berkenan untuk hadir dalam upacara yang hendak diselenggarakan di Pura Panataran Agung.Selain itu, Pura Pangubengan juga biasa digunakan sebagai pura pangayengan. Artinya, apabila ada pamedek yang hendak ber-yajña ke Puncak Gunung Agung, namun mengingat karena kondisi fisiknya tidak memungkinkan sampai ke puncak, maka persembahan tersebut cukup di-hatur-kan melalui Pura Pangubengan ini saja.Pura Pengubengan disebut sebagai salah satu “Catur Eswarya Dala”. Catur Eswarya Dala adalah empat buah pura sebagai lambang kelopak bunga teratai yang mengelilingi PadmaTiga (Pura Penataran Agung). Pura-Pura yang termasuk dalam Catur Eswarya Dala adalah:• Pura Pengubengan, sebagai stana dari Ida Bhatara Sambhu / Hyang Naga Taksaka. Naga Taksaka (Kaang) diyakini sebagai naga bersayap, simbol atmosfer (penguasa alam atas).• Pura Peninjoan, sebagai stana Ida Bhatara Sangkara. Pura ini dikenal sebagai tempat Mpu Kuturan melakukan peninjauan (paninjoan) untuk melihat seluruh kompleks Pura Besakih, ketika ia melakukan perbaikan dan perbaikan pada abad ke-10 Masehi.• Pura Pasimpangan, sebagai stana Ida Bhatara Hyang Rudra. Pura ini berfungsi sebagai tempat peristirahatan sementara bagi Ida Bhatara Kabeh (saat Bhatara Turun Kabeh) setelah ritual Melasti.• Pura Pasucian, sebagai stana Ida Bhatara Hyang Mahesora. Kuil ini berfungsi sebagai "pasucian" bagi Ida Bhatara Kabeh.Piodalan atau perayaan hari jadi pura diadakan pada hari Rabu atau Buda Wage Kelawu, setiap 210 hari (enam bulan menurut Kalender Bali). Selain piodalan, pura suci ini juga dikunjungi pada hari-hari tertentu seperti Hari Saraswati, Hari Galungan, dll.Pura ini memiliki arsitektur tradisional yang indah dan terdapat beberapa bangunan pendukung. Pura utama adalah Meru Tumpang 11, bangunan yang menyerupai klenteng dengan atap bertingkat hingga 11 (sebelas) tingkat yang terbuat dari ijuk.Dari halaman pura pengunjung bisa melihat pemandangan Gunung Agung, hasil pertanian warga sekitar, dan juga rumah warga yang terlihat kecil di kejauhan. Anda bisa menghabiskan waktu sambil menikmati segarnya udara pegunungan dan sejuknya suasana hutan pinus yang lebat di sekitar pura. Ini adalah keajaiban, kombinasi antara alam dan spiritual, begitu tenang dan damai.Pura Tirta PingitPura Tirta Pingit merupakan salah satu pura dari sekian pura yang memiliki mata air suci (tirta) di areal pura. Pura ini merupakan pura tempat untuk melukat (membersihkan diri) dari segala jenis keletehan. Tempatnya tidak begitu jauh dari Pura Pengubengan yaitu di sebelah timurnya, kira-kira 10 menit perjalanan (melewati jalan setapak) menuruni sebuah lembah yang indah dan mempesona.Di Pura ini tersedia tempat untuk cuci muka dan tempat melukat (mensucikan diri).Sama seperti pura pada umumnya di Bali, pura ini di bagi menjadi tiga kawasan (mandala) yaitu nista mandala, madya mandala, dan utama mandala. Nista mandala merupakan tempat yang petama kali kami temui (tempat mencuci muka dan melukat). Madya mandala tempat untuk istirahat atau mempersiapkan alat persembahyangan seperti menyiapkan canang sari dan menyalakan dupa. Utama mandala merupakan tempat beridirinya pelinggih-pelinggih. Anehnya lagi tepat di bawah salah satu pelinggih tersebut ada sumber air suci (tirta) yang mengalir. Di pura ini terdapat beberapa pelinggih bebaturan dan beberapa pelinggih gedong. Piodalan di Pura Tirtha Pingit jatuh pada hari Budha Wage Kelawu.(*PandeAnggarnata)Payogan Panca Tirtha Sedayu Pingit (Lingga Kailash Gunung Agung)OM NAMA SIWA YAPerjalanan ke Payogan Panca Tirtha Sedayu Pingit (Lingga Kailash Gunung Agung) mengambil jalur sisi kiri Pura Tirta Pingit, tidak ada jalan beton atau batu sikat, semua jalan setapak yang penuh dengan tumbuhan "padang gajah" dan bebatuan. Sebelum sampai di Kailas, kita akan sampai di Pura Tamba Waras terlebih dahulu. Nama Tamba Waras memang sama dengan Pura Tamba Waras di Tabanan. Sedikit sekali informasi yang didapat mengenai keberadaan Pura ini. Bangunannya pun masih sangat sederhana. Jero mangku di Pura Tirta Pingit bahkan tidak mengetahui nama semua pelinggih yang ada.Setelah 'meketis" dari tirta "palungan" segi empat yang ada di sana, perjalanan dilanjutkan dengan menerobos hutan berbatu sekitar 10 menit akhirnya sampai di Kailash.Tidak ada Pelinggih di Kailash, semua hanya batu saja. Batu batu tersebut di beri kain oleh beberapa pemedek yang datang. Di atasnya kita akan lihat air terjun yang tidak ada airnya. Tirta yang dapat kita minta berasal dari air terjun yang berada di atas, yang keluar air di waktu tertentu. (*PandeAnggarnata)
Dalam lontar Raja Purana Sesana disebutkan di awal penciptaannya, sama seperti pulau Jawa, pulau Bali juga tidak stabil.Pada saat itu terdapat empat gunung yang memancang pulau Bali. Yaitu, Gunung Lempuyang di timur, Gunung Andakasa di selatan, Gunung Batukaru di barat, dan Gunung Pucak Mangu di utara. Pulau Bali terombang-ambing lantaran tidak ada pasak di bagian tengah. Dewa Pasupati kemudian memerintahkan para dewa untuk memindahkan puncak Semeru ke Bali agar pulau menjadi ajek.Puncak Semeru diangkat dan diletakkan di punggung Bedawang Nala. Agar tak jatuh, puncak gunung itu dililit oleh Naga Ananta Boga, Naga Taksaka, dan Naga Basuki, sehingga berhasil diterbangkan ke Bali. Dalam terdapat bongkahan gunung yang jatuh dan menjadi Gunug Batur. Puncak Gunung Semeru itu kemudian ditempatkan di bagian timur Bali, diberi nama Gunung Tohlangkir yang kini terkenal dengan sebutan Gunung Agung. Karena diambil dari pucuk Gunung Semeru itulah, Gunung Agung disebut sebagai anak Semeru.Namun, legenda lain menyebutkan, Gunung Agung tercipta bersamaan dengan pemindahan Gunung Semeru ke Jawa. Ada dua bongkahan yang jatuh di timur, satu menjadi Gunung Agung, yang lainnya menjadi Gunung Rinjani.Source : tempo