Dalam mitologi Hindu dikisahkan bahwa Resi Merkandu melaksanakan tapa brata ke hadapan Dewa Siwa demi memperoleh keturunan.
Sang dewa berkenan dengan usaha Merkandu dan mengetahui keinginan sang resi, lalu ia memberikan dua pilihan: seorang anak yang kurang cerdas dan berperilaku buruk tetapi bermur panjang, atau seorang anak yang cerdas dan berbudi pekerti luhur tetapi berumur pendek. Merkandu memilih yang kedua, sehingga ia memperoleh putra yang bersifat mulia, dikenal sebagai "Markandeya" yang secara harfiah berarti "putra Merkandu". Markandeya menguasai Weda dan Dharmasastra sejak usia muda.
Dari orang tuanya, ia mengetahui bahwa umurnya tidak akan panjang. Maka dari itu ia memutuskan untuk mengisi sisa umurnya dengan melaksanakan tapa brata memuja Siwa dalam bentuk arca lingga.
Pada hari kematiannya, para Yamaduta atau utusan Dewa Yama sang dewa kematian tidak berhasil mencabut nyawa Markandeya karena tubuhnya diselimuti oleh energi ilahi perlindungan dari Dewa Siwa.
Maka dari itu, Dewa Yama sendiri memutuskan untuk mencabut nyawanya.
Melihat Dewa Yama datang menjemputnya, Markandeya memeluk lingga Siwa erat-erat.
Dewa Yama melemparkan jerat kematiannya ke tubuh Markandeya, yang secara tidak langsung juga mengenai lingga Siwa.
Tiba-tiba Dewa Siwa muncul dengan rupa murka, lalu membunuh Dewa Yama menggunakan trisulanya untuk menyelamatkan Markandeya. Melihat Dewa Yama tewas, para dewa memohon agar Siwa menghidupkannya kembali.
Siwa pun memenuhi permohonan para dewa dan bersamaan dengan itu, Markandeya akan tetap muda selamanya dan diberikan keabadian oleh dewa siwa dan terhindar dari kematian.
Kelak dimasa depan Markandeya bergelar Maharsi Markadeya salah satu maharsi agung dan menyusun Kitab Markandeya Purana.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar