Senin, 01 September 2025

Japamala: Tasbih Sakral Umat Hindu Bali yang Penuh Makna dan Energi



✨
Japamala, atau tasbih Hindu, bukan sekadar untaian butiran biasa. Dari kata “Japa” (pengucapan nama suci Tuhan secara berulang) dan “Mala” (untaian butiran), alat ini digunakan untuk mendekatkan diri dengan Tuhan.
Menurut Sira Mpu Dharma Agni Yoga Sogata dari Griya Taman Giri Candra, Batubulan, fungsi Japamala adalah melatih diri dalam memuja Tuhan, sekaligus menyeimbangkan energi jasmani dan rohani.
💎 Bahan Japamala bisa bermacam-macam, mulai dari Rudraksha untuk pemuja Siwa, Tulasi untuk pemuja Wisnu, hingga kayu cendana, majagau, cempaka, gaharu, bahkan batu mulia.
📿 Jumlah Butiran: Biasanya 108, simbol dari nama Tuhan dalam Hindu, dibulatkan menjadi 9 yang melambangkan Dewata Nawa Sanga.
✋ Cara Penggunaan:
Telunjuk mewakili atman, ibu jari paramatman, dan jari lainnya Triguna (Sattwam, Rajas, Tamas).
Japamala digeser dari depan ke belakang, menyentuh Guru sebagai simbol pertemuan atman dan paramatman.
Jika sampai di Guru, diputar 180° sebelum melanjutkan japa.
🕒 Waktu Terbaik Berjapa:
Sandhya (pagi dan sore), atau Brahma Muhurta pukul 02.00–06.00, saat diyakini dewa juga bermeditasi.
🗣️ Lafal & Teknik Nafas:
Bisa menggunakan nama Tuhan atau mantra Om Kara, dengan pernapasan teratur, duduk bersila, punggung tegak, mata terbuka sedikit, mulut sedikit terbuka.
Posisi suara: “A” di perut, “U” di dada, “M” di ubun-ubun.
💫 Manfaat:
Menenangkan pikiran, meningkatkan konsentrasi, kesehatan jasmani dan rohani.
Memberikan kesucian dan perlindungan, terutama jika Japamala terbuat dari bahan berkualitas seperti Rudraksha.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar