Minggu, 23 November 2025

PAÑCA ŚRADDHĀ — LIMA NAFAS KEYAKINAN HIDUP DALAM SRUTI MURNI

 


🕉️
Om Swastyastu.
Om Awighnam Astu Namah Sidham.
Semeton, Bhakta Hindu Dharma yang saya muliakan,
masih bersama Ida Bhawati I Nyoman Jana dalam Ngopi — Ngobrol Pintar tentang
Pañca Śraddhā, lima keyakinan yang menjadi napas kehidupan rohani seorang Bhakta.
Kadang kita lupa, Śraddhā bukanlah hafalan,
tetapi getaran yang menghidupkan seluruh gerak kehidupan.
Ia seperti lima unsur alam yang menjaga keseimbangan diri dan semesta.
Tanpa Śraddhā, hidup menjadi hampa — sibuk, namun tak bermakna.
🌺 1. ŚRADDHĀ: KEYAKINAN YANG HIDUP, BUKAN SEKADAR PERCAYA
> Ṛgveda X.151.4
“Śraddhayā havyam āśate.”
“Dengan keyakinan, manusia mempersembahkan yajña kepada Tuhan.”
Keyakinan sejati tidak lahir dari doktrin,
melainkan dari kesadaran yang terbukti dalam perilaku.
Śraddhā adalah yajña batin — persembahan kepercayaan murni dari hati kepada Brahman.
Dalam kehidupan modern, Śraddhā tampak ketika Bhakta tetap jujur walau tak diawasi, tetap sabar walau diuji, tetap lembut walau disakiti,
dan tetap berdoa walau dunia tampak bising.
🌿 2. BRAHMAN: SATU CAHAYA, SERIBU NAMA
> Yajurveda 32.3
“Ekam evādvitīyam.”
“Dia satu, tiada duanya.”
Brahman bukan hanya Tuhan di langit,
tetapi kesadaran yang berdenyut di daun, di air, di napas, bahkan di diamnya pikiran.
Dalam Lontar Tutur Gama Tirta disebut:
> “Brahma ring sarwa bhuta, sira hana ring angga.”
“Brahman hadir di seluruh makhluk, juga di dalam diri.”
Semeton, di era modern, Bhakta memuja Brahman dengan menyucikan pekerjaan,
menghargai manusia tanpa memandang suku, dan merawat bumi sebagai tubuh Brahman itu sendiri.
🌸 3. ĀTMAN: KEHADIRAN SUCI DI DALAM DIRI
> Chāndogya Upaniṣad 6.8.7
“Tat tvam asi.”
“Engkau adalah itu (Brahman).”
Ātman bukanlah bayangan, melainkan sinar Brahman yang menuntun dari dalam.
Mengetahui Ātman berarti menemukan arah hidup yang tak lagi goyah.
Dalam Lontar Kawi Tatwa disebutkan:
> “Sapa wruh ring atma, wruh ring hyang.”
“Barang siapa mengenal jiwa, ia mengenal Tuhan.”
Maka Bhakta di masa kini tak lagi mencari Tuhan ke luar,
tetapi menjaga pikirannya tetap suci agar Ātman berbicara melalui kebijaksanaan.
🌿 4. KARMA PHALA: KEADILAN YANG TAK PERLU DIAKUI
> Rigveda X.135.1
“Yathā karma yathā śrutam.”
“Sesuai perbuatannya, demikianlah hasil yang diterima.”
Karma bukan ancaman,
melainkan hukum alam yang penuh kasih. Setiap ucapan, pikiran, dan tindakan adalah benih yang suatu hari akan tumbuh.
Dalam Lontar Dharma Pamacul disebutkan:
> “Yan hana dharma, tumuwuh rahayu.”
“Jika Dharma ditegakkan, keselamatan tumbuh.”
Jadi, karma baik bukan untuk pahala,
tetapi untuk menumbuhkan rahayu — ketenangan dan keseimbangan hidup.
Di era digital, Bhakta bisa menanam karma baik dengan berbagi ilmu,
menyebarkan kata yang menenangkan, dan menjaga kebenaran di ruang maya.
🌸 5. PUNARBHAVA: KESEMPATAN UNTUK MENYEMPURNAKAN DIRI
> Bṛhadāraṇyaka Upaniṣad 4.4.5
“Yathā karma yathā śrutam punar eti.”
“Sesuai dengan perbuatan dan pengetahuannya, jiwa lahir kembali.”
Reinkarnasi bukan hukuman, tetapi kasih Brahman agar kita tumbuh.
Hidup bukan pengulangan, melainkan pendakian menuju kesadaran.
Seperti api yang terus menyala dari dupa ke dupa, jiwa pun terus menyala dari kelahiran ke kelahiran —
membawa cahaya pengetahuan dan karma yang belum selesai.
🌿 6. MOKṢA: PEMBEBASAN, BUKAN KEMATIAN
> Kaṭha Upaniṣad II.3.14
“Na jāyate mriyate vā kadācin.”
“Atman tidak lahir dan tidak mati; ia abadi.”
Mokṣa bukan meninggalkan dunia,
tetapi bebas dari keterikatan terhadap dunia. Manusia tidak berhenti bekerja, tapi berhenti mengikat diri pada hasil.
Dalam Lontar Dwijendra Tatwa disebut:
> “Mokṣa ring urip, tan hana pati ring suksma.”
“Pembebasan terjadi saat hidup, bukan setelah mati.”
Maka Bhakta yang bekerja dengan damai, berdoa dengan kesadaran,
dan mencintai tanpa pamrih,
telah mencapai Mokṣa — bahkan di tengah kesibukan dunia modern.
🌸 7. HIDUP DENGAN PAÑCA ŚRADDHĀ DI ZAMAN INI
Semeton, lima keyakinan ini bukan sekadar ajaran suci,
melainkan panduan hidup di abad penuh teknologi dan kebingungan.
Saat dunia sibuk mengejar nama, Śraddhā mengajarkan makna.
Saat manusia tenggelam dalam ambisi, Śraddhā mengingatkan asal.
Saat kejujuran diuji, Śraddhā menguatkan hati.
Saat rasa takut muncul, Śraddhā menuntun pada damai.
Pañca Śraddhā menanamkan bahwa iman tanpa praktik adalah daun tanpa akar, dan praktik tanpa iman adalah akar tanpa daun.
Keduanya harus menyatu, agar Dharma tumbuh sempurna.
🌺 KESIMPULAN BHAWATI-->Semeton, Bhakta Hindu Dharma,
Pañca Śraddhā adalah lima jembatan antara manusia dan Brahman.
Brahman mengajarkan kita tentang asal.
Ātman menuntun kita mengenal diri.
Karma menjaga keseimbangan langkah.
Punarbhava memberi kita waktu untuk belajar.
Mokṣa adalah pulang — ke rumah kesadaran sejati.
Di zaman ini, Śraddhā bukan sekadar diyakini, tapi dihidupi.
Setiap napas, setiap kerja, setiap kasih,
semua adalah bentuk nyata dari Yajña Śraddhā.
Semetonku, Bhakta Hindu Dharma, demikianlah Ngopi ini —
Pañca Śraddhā: Lima Nafas Keyakinan Hidup dalam Śruti Murni.
Ikuti terus Ngopi selanjutnya.
Kesempurnaan hanya milik Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Brahman).
Atas kekurangan saya, silakan berikan masukan positif di kolom komentar.
Suksme.
Om Śānti Śānti Śānti Om. Rahayu.
📘 LEKSIKON
Śraddhā: keyakinan suci yang disertai kesadaran
Brahman: sumber kehidupan tertinggi
Ātman: jiwa sejati di dalam diri
Karma Phala: hukum sebab akibat
Punarbhava: kelahiran kembali
Mokṣa: kebebasan rohani
📚 DAFTAR PUSTAKA
Śruti Murni:
Ṛgveda X.151.4, X.135.1
Yajurveda 32.3
Chāndogya Upaniṣad 6.8.7
Bṛhadāraṇyaka Upaniṣad 4.4.5
Kaṭha Upaniṣad II.3.14
Lontar Nusantara:

Minggu, 02 November 2025

Subak dan Desa Adat: Warisan Bali Kuno yang Kian Tergerus Zaman



Subak dan desa adat bukan sekadar sistem pertanian dan kelembagaan sosial—keduanya adalah roh peradaban Bali kuno, lahir dari kebijaksanaan lokal yang menyatu dengan alam, ritus, dan kosmologi.
Subak mengajarkan harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan (Tri Hita Karana), sedangkan desa adat menjaga keteraturan hidup melalui pakem desa kala patra, menyesuaikan tatanan dengan konteks ruang, waktu, dan kondisi masyarakat.
Namun sejak Revolusi Hijau, subak mengalami pergeseran besar.
Teknologi pertanian modern dan pupuk kimia memaksakan pola tanam baru yang menyingkirkan kearifan siklus alami. Pola konsumsi pun berubah: dari keberlanjutan menjadi ketergantungan, dari spiritual menjadi industrial.
Subak, yang dulunya bersumber dari spiritualitas sawah dan hulu air, perlahan menjadi sistem teknokratis dan tergantung pada pasar.
Desa adat pun tak luput. Dulu, masing-masing desa tumbuh dengan karakter unik—ritus, kalender, bahkan arsitektur—berdasarkan pakem lokal.
Namun kini, dengan diberlakukannya sistem seragam melalui Majelis Desa Adat (MDA), muncul ketegangan antara pelestarian dan penyeragaman.
Otonomi budaya desa mulai tergantikan oleh struktur administratif yang kaku dan birokratis.
Di tengah perubahan ini, manusia Bali mengalami kegalauan eksistensial. Mereka terjebak di antara dua dunia: dunia warisan leluhur yang makin kabur, dan dunia modern yang menuntut efisiensi tanpa kompromi pada nilai.
Ketika petani tak lagi mengenal dewasa subak dan generasi muda tak paham makna rerainan, maka rasa keterhubungan dengan akar budaya pun tergerus.
Kegalauan ini tak hanya menyentuh budaya, tapi juga jiwa. Rasa terasing dari warisan leluhur menciptakan kekosongan identitas, yang kerap menjelma menjadi stres, kegelisahan kolektif, bahkan keputusasaan. Tak sedikit yang terjebak dalam rasa “tanggung”—menjadi generasi lebeng matah—yang tidak sepenuhnya terhubung pada budaya, namun juga tidak siap sepenuhnya menghadapi dunia modern.
Ini menjadi lahan subur bagi tumbuhnya tekanan mental dan meningkatnya kasus bunuh diri.
Kita sedang menyaksikan paradoks: modernisasi yang semula menjanjikan kemajuan, justru membuat manusia Bali bertanya kembali—“Siapakah aku, dan ke mana aku menuju?” Maka, menyulam kembali hubungan dengan akar budaya bukan langkah mundur, tapi upaya menyelamatkan diri dari kehampaan di tengah arus perubahan.
Dari pemuliaan subak sebagai laku spiritual hingga pemaknaan ulang desa adat sebagai ruang hidup, inilah saatnya manusia Bali kembali ke jati diri—agar tak kehilangan arah di tengah derasnya jaman

FILOSOFI TIRTHA PENGENTAS




Tirta Pengentas atau (Pangetas; Pangentas; Pengetas) adalah tirtha pamuput dalam upacara ngaben yang bertujuan untuk memutuskan ikatan purusa dan pradana(prakerti) sang mati guna dikembalikan kepada sumbernya. Pada pelaksanaan pelebon dengan upacara ngaben yang besar, tali pengikat purusa dan prakerti dilukiskan sebagai naga banda yang berarti naga pengikat yang dalam Lontar Tutur Suksma ada disebutkan bahwa yang dimaksud naga merupakan bayu atau energi yang muncul sebagai akibat menyatunya purusa dan prakerti. Tanpa tirta pangentas itu, ikatan purusa dengan prakerti tak akan bisa diputuskan. Itu sebabnya, tirta pangentas sangatlah prinsipil kehadirannya dalam upacara ngaben. Bila ditinjau dari sisi materialnya, tirta pangentas tak banyak berarti, namun dari sudut spiritual tirta inilah yang menentukan berhasil atau tidaknya upacara ngaben dimaksudkan untuk mencapai tujuannya sehingga seberapa besar pun upacara ngaben dilaksanakan, jika tak memakai tirta pangentas maka upacara ngaben tersebut akan sia-sia. Tirta pengentas yang dibuat khusus sebagaimana disebutkan oleh pemangku dan tirtha pangentas oleh sang pemangku dipergunakan khusus bagi atman sang putus atau orang mati yang juga berguna untuk menunjukkan arah / sasaran perjalanan roh / atma ke alam sunia loka.

𝙁𝙀𝙉𝙊𝙈𝙀𝙉𝘼 𝙈𝙀𝙉𝙐𝙅𝘼𝙇 𝙏𝘼𝙉𝘼𝙃 𝙒𝘼𝙍𝙄𝙎𝘼𝙉




 untuk kebutuhan gengsi di Pulau Bali merupakan isu sosial yang cukup kompleks dan menarik untuk dibahas. Tren ini sering kali mencerminkan pergeseran nilai dan gaya hidup generasi muda di tengah tekanan modernitas dan pariwisata yang berkembang pesat di Bali.

Berikut beberapa poin yang menjelaskan tren ini:
🌴 1. Latar Belakang Sosial dan Budaya
Di Bali, tanah warisan memiliki nilai budaya dan spiritual yang sangat kuat. Tanah bukan hanya aset ekonomi, tapi juga bagian dari identitas keluarga dan hubungan dengan leluhur.
Namun, generasi muda saat ini, terutama di daerah-daerah yang sudah sangat berkembang seperti Canggu, Kuta, atau Ubud, mulai melihat tanah warisan sebagai aset yang bisa dijual untuk mendapatkan uang cepat—sering kali untuk mendukung gaya hidup modern seperti:
Membeli kendaraan mewah
Liburan ke luar negeri
Membiayai gaya hidup media sosial
Membangun rumah atau properti modern
💸 2. Pengaruh Ekonomi dan Pariwisata
Pariwisata yang berkembang pesat di Bali menyebabkan harga tanah melonjak drastis. Banyak investor asing maupun lokal berlomba membeli tanah di daerah strategis. Hal ini membuat godaan untuk menjual tanah sangat tinggi.
⚖️ 3. Tekanan Sosial dan Gengsi
Istilah "biar kelihatan sukses" menjadi alasan utama banyak anak muda menjual tanah. Di komunitas-komunitas tertentu, status sosial kini sering kali diukur dari:
Pakaian bermerek
Mobil baru
Gaya hidup mewah
Popularitas di media sosial
Sayangnya, banyak yang mengorbankan aset jangka panjang seperti tanah warisan hanya untuk pencitraan jangka pendek.
🧓 4. Konflik Keluarga dan Generasi
Tak jarang, keputusan menjual tanah warisan memicu konflik antar anggota keluarga. Orang tua atau generasi tua cenderung menentang keras, karena menganggap tanah sebagai bagian dari keberlangsungan keluarga dan adat.
🤔 5. Dampak Jangka Panjang
Menjual tanah warisan untuk gengsi mungkin terasa menguntungkan dalam jangka pendek, tapi bisa menimbulkan dampak seperti:
Kehilangan akar budaya dan koneksi leluhur
Kehilangan potensi ekonomi jangka panjang (tanah bisa disewakan, dikembangkan)
Ketergantungan pada gaya hidup konsumtif
Tidak adanya warisan untuk generasi berikutnya

MAKNA MENDEM PEDAGINGAN




Mendem atau Mulang Pedagingan adalah upacara yadnya untuk memfungsikan dan menghidupkan bangunan atau pelinggih-pelinggih suci pada sebuah pura yang merupakan upacara inti dari Ngenteg Linggih sebagaimana disebutkan dalam kutipan teks darmawacana ngenteg linggih oleh Bpk. I Made Titib yang dijelaskan upacara mendem pedagingan ini dilaksanakan setelah upacara pamelaspasan dan suddha bhumi akan dilaksanakan upacara mendem pedagingan sebagai lambang singgasana Hyang Widhi yang disthanakan. Bentuk serta jenis pedagingan antara satu Pelinggih dengan Pelinggih yang lainnya tidak sama, hal ini tergantung dari jenis bangunan Pelinggih yang bersangkutan, termasuk jenis tetandingan banten dalam upacara ini juga ada yang berbeda. Tata cara membuat dan memendem pedagingan ini di samping mengikuti sastra agama, juga mengikuti isi Bhisama dari Mpu Kuturan, sebagaimana dilaksanakan ketika membangun meru di Pura Besakih. Setelah penanaman padagingan pada setiap bangunan suci, utamanya bangunan padmasana, dilanjutkan dengan utpati (menghidupkan) untuk memfungsikan bangunan tersebut.

UPACARA PEMELEPEH LINUH




Upacara Pemelepeh Linuh adalah yadnya yang dilaksanakan untuk memohon keselamatan alam beserta isinya yang berkaitan dengan terjadinya gempa bumi (linuh) dan bertujuan untuk memohon kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang bermanifestasi sebagai Sang Hyang Ananta Boga agar melimpahkan keseimbangan alam dan kesejahteraan umat manusia. Upacara ini sebagaimana yang dilaksanakan oleh kabupaten Badung Gelar Upacara Pemelepeh Linuh yang mengandung suatu maksud bahwa adanya kejadian di Bhuana Agung (alam semesta) akan memberikan pengaruh kepada Bhuana Alit manusia. Upakara Pemelepeh Linuh ini terdiri dari upakara caru dan banten lainnya. Caru sampai tingkatan menggunakan Asu Bang Bungkem dengan kelengkapan wewalungan yang lainnya letaknya di Jaba Pura Lingga Bhuwana, di Utama Mandala Lingga Bhuana menghaturkan upakara berupa Prayascita dan tebasan Durmanggala. Sedangkan Caru Panca Sata dilaksanakan di Pura Dalem masing-masing Desa Adat dan di rumah masyarakat dilaksanakan Caru Sasih di masing-masing lawang/lebuh. Setelah melaksanakan persembahyangan, para Bendesa nunas tirta yang akan dipakai untuk melaksanakan upacara di masing-masing Desa Adat.

Rabu, 29 Oktober 2025

FILOSOFI MEPEED




Mepeed (atau Mapeed) merupakan tradisi parade iring-iringan sebagai salah satu rangkaian kegiatan upacara yadnya seperti halnya dalam beberapa kegiatan seperti Upacara Ngangget don bingin, diawali dengan tedung agung, mamas, bandrang dan lain-lain. Lebih lanjut, mepeed dalam rangka piodalan tersebut bertujuan sebagai ungkapan rasa terima kasih umat Hindu Bali kepada Sang Hyang Widhi Wasa, tradisi mepeed di Bali yang bertujuan untuk menghanturkan persembahan suci tersebut yaitu dengan parade yang beriringan diikuti oleh para perempuan Bali yang mengusung Gebogan sebagai rasa syukur atas rejeki yang kita nikmati. Sesampainya di pura, Gebongan yang sudah dibawa oleh peserta kemudian disucikan oleh pemangku setempat. Setelah pensucian dengan memercikan air suci yang disebut Tirtha, barulah persembahyangan dimulai. Ritual Mapeed ini memang sangat menarik perhatian wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Selain tempat pelaksanannya yang indah dengan hamparan sawah yang mengelilinginya, Mepeed dalam panorama Bali disebutkan memang sangat unik dan menarik untuk disaksikan.