Senin, 01 September 2025

Sejarah Agnihotra yang Sempat Hilang di Bali: Ada Kaitannya dengan Tragedi di Puri Gelgel



🔥
Agnihotra atau Homayajña kini kembali dibicarakan dan dilaksanakan umat Hindu di Bali, tidak hanya di pura tetapi juga di rumah-rumah. Awalnya dianggap tidak biasa, kini banyak umat tertarik ikut melaksanakannya.
📜 Makna Agnihotra:
Agni = Api Suci
Hotra = Persembahan
Artinya, Agnihotra adalah persembahan kepada Tuhan melalui api, yang diyakini sebagai simbol lidah Tuhan.
🕉️ Sejarah dan Tradisi:
Agnihotra tercantum dalam Catur Weda dan berbagai lontar di Bali, seperti Silakrama dan Prasasti Pande Beratan.
Para leluhur dan pendeta suci di Bali, termasuk Rsi Agastya, Mpu Kuturan, dan Pandita Sakti Wawu Rawuh, senantiasa melaksanakan Agnihotra.
Tradisi sempat terhenti karena insiden kebakaran di Puri Gelgel, namun pada tahun 1990-an, intelektual Hindu Bali kembali mengkaji dan menghidupkan tradisi ini.
🔥 Proses Agnihotra:
Menyiapkan Kunda (tempat api) dan Samagri (bahan persembahan: minyak ghee, kayu cendana, beras, palawija, dll).
Prosesi diawali dengan ngarga tirtha dan acamanyam untuk menyucikan badan.
Penyalakan api suci diiringi persembahan minyak, kayu, dan samagri sambil melafalkan “Swaha”, simbol energi Dewa Brahma dan Dewi Saraswati.
💡 Filosofi Mendalam:
Agnihotra adalah “Raja Yajña”, puncak upacara yajña.
Api suci memiliki berbagai fungsi: memasak (Ahawinaya Agni), mensahkan perkawinan (Grihaspatya Agni), hingga membakar jenazah (Cita Agni).
Melaksanakan Agnihotra dipercaya mendekatkan diri dengan Tuhan dan menyempurnakan upacara Hindu.
✨ Kini, Agnihotra bukan hanya ritual kuno, tetapi tren spiritual yang menyatukan umat Hindu Bali, menghidupkan kembali nilai-nilai leluhur, dan memberikan vibrasi positif di rumah maupun pura.

Bangkitnya Pura Ratu Sakti Kancing Gumi di Banjar Besakih Kawan, Karangasem: Misteri dan Komitmen Warga

 


Sejak letusan Gunung Agung 1963, keberadaan Pura Ratu Sakti Kancing Gumi di Banjar Besakih Kawan, Desa Adat Besakih, Karangasem, terkubur puluhan tahun. Kini, sejumlah warga berkomitmen untuk membangunnya kembali, meski medan menuju lokasi sangat sulit dan berbatu.
📍 Pura ini berada di tengah hutan lindung, Munduk Bukit Keboh, jalurnya terjal dan hanya bisa dilalui motor tertentu. Saat ini, tempat banten sementara dibuat dari bambu, karena keterbatasan biaya.
Warga percaya kawasan itu adalah pura setelah melakukan ngaturang baas jinah di beberapa lokasi lain di Bali, dan menemukan petunjuk niskala yang diyakini sebagai stana Ida Bhatara Ratu Sakti Tedung Jagat.
Beberapa bukti fisik yang mendukung:
Lempengan batu yang diduga dulunya gedong linggihan pura
Sisa bangunan gedong panglurah
Cerita leluhur tentang Desa Kedusan atau Desa Dusa, pemukiman yang kemudian terkubur akibat letusan Gunung Agung.
Sejak 2016, warga mulai yakin dan berinisiatif menghidupkan kembali pura tersebut. Keunikan wilayah ini, termasuk rumput yang tetap hidup di setiap sudut, serta hilangnya musibah setelah komitmen pembangunan, diyakini sebagai pertanda restorasi pura mendapat restu Ida Bhatara.

Japamala: Tasbih Sakral Umat Hindu Bali yang Penuh Makna dan Energi



✨
Japamala, atau tasbih Hindu, bukan sekadar untaian butiran biasa. Dari kata “Japa” (pengucapan nama suci Tuhan secara berulang) dan “Mala” (untaian butiran), alat ini digunakan untuk mendekatkan diri dengan Tuhan.
Menurut Sira Mpu Dharma Agni Yoga Sogata dari Griya Taman Giri Candra, Batubulan, fungsi Japamala adalah melatih diri dalam memuja Tuhan, sekaligus menyeimbangkan energi jasmani dan rohani.
💎 Bahan Japamala bisa bermacam-macam, mulai dari Rudraksha untuk pemuja Siwa, Tulasi untuk pemuja Wisnu, hingga kayu cendana, majagau, cempaka, gaharu, bahkan batu mulia.
📿 Jumlah Butiran: Biasanya 108, simbol dari nama Tuhan dalam Hindu, dibulatkan menjadi 9 yang melambangkan Dewata Nawa Sanga.
✋ Cara Penggunaan:
Telunjuk mewakili atman, ibu jari paramatman, dan jari lainnya Triguna (Sattwam, Rajas, Tamas).
Japamala digeser dari depan ke belakang, menyentuh Guru sebagai simbol pertemuan atman dan paramatman.
Jika sampai di Guru, diputar 180° sebelum melanjutkan japa.
🕒 Waktu Terbaik Berjapa:
Sandhya (pagi dan sore), atau Brahma Muhurta pukul 02.00–06.00, saat diyakini dewa juga bermeditasi.
🗣️ Lafal & Teknik Nafas:
Bisa menggunakan nama Tuhan atau mantra Om Kara, dengan pernapasan teratur, duduk bersila, punggung tegak, mata terbuka sedikit, mulut sedikit terbuka.
Posisi suara: “A” di perut, “U” di dada, “M” di ubun-ubun.
💫 Manfaat:
Menenangkan pikiran, meningkatkan konsentrasi, kesehatan jasmani dan rohani.
Memberikan kesucian dan perlindungan, terutama jika Japamala terbuat dari bahan berkualitas seperti Rudraksha.

Sabtu, 30 Agustus 2025

Shiwa Purusa



Svest upanisad!Mantra 13
a ṅ gu ṣṭ hamātra ḥ puru ṣ o 'ntarātmā sadā janānā ṃ h ṛ daye sa ṃ nivi ṣṭ a ḥ /
h ṛ dā manī ṣ ā manasābhik ḷ pto ya etad vidur am ṛ tās te bhavanti // 3.13 //
Purusha, yang tidak lebih besar dari ibu jari, adalah Diri batiniah, yang selalu bersemayam di dalam hati manusia. Ia dikenal oleh pikiran, yang mengendalikan pengetahuan dan dirasakan di dalam hati. Mereka yang mengenal-Nya menjadi abadi.
Di banyak tempat kita menemukan bahwa Diri telah digambarkan sebagai angushtamatrah , seukuran ibu jari atau sebagai dhashangulam, sepuluh jari lebarnya. Kita seharusnya tidak mengambil istilah-istilah ini terlalu harfiah karena Diri bukanlah entitas fisik sehingga kita dapat mengukurnya atau menggambarkannya sebagai besar atau kecil. Itu berarti bahwa itu hanya tidak terukur atau tak terbatas seperti yang dikatakan Sankara. Diri seperti itu adalah antaryamin , bersemayam di dalam setiap orang, umumnya dinyatakan sebagai di dalam hati dan karenanya hanya dapat dirasakan oleh pikiran saja. Ketika pengetahuan tentang Diri seperti itu muncul, ketika pengalaman transendental seperti itu terjadi, kita bebas, menjadi abadi. Kita harus ingat bahwa kita selalu bebas tetapi hanya kita tidak menyadarinya. Realisasi adalah masalah perubahan kesadaran kita tentang apa yang kita rasakan.


Jumat, 29 Agustus 2025

Balian, Tabib Sakral Bali yang Masih Jadi Pilihan Pengobatan Hingga Kini

 


🌿
Di Bali, masyarakat masih percaya pada Balian sebagai alternatif pengobatan selain medis modern. Menariknya, Balian ternyata punya banyak jenis berdasarkan cara praktik dan sumber kekuatannya.
👉 Menurut akademisi Ayurweda UNHI Denpasar, Dr. Ida Bagus Suatama, ada empat jenis Balian:
1️⃣ Balian Ketakson – kerasukan Ista Dewata saat mengobati.
2️⃣ Balian Kapican – menggunakan sarana gaib seperti keris, permata, atau tumbuhan.
3️⃣ Balian Usada – berlandaskan lontar Usada dan ilmu turun-temurun.
4️⃣ Balian Campuhan – gabungan dari tiga jenis di atas.
Tak hanya itu, Balian juga menggunakan Taru Pramana (tumbuhan obat) hingga Toya Pramana (air dari alam) sebagai sarana penyembuhan. 🌱💧
✨ Lebih dari sekadar tabib, Balian dipercaya memiliki taksu (kharisma spiritual) hasil meditasi, doa, hingga yoga. Itulah sebabnya, pengobatan tradisional Bali bukan hanya soal fisik, tapi juga menyentuh jiwa dan spiritual pasien.
”Seorang Balian harus menjaga etika, moral, dan mempraktikkan Yoga Sastra agar pengobatannya benar-benar membawa kesembuhan,” tegas Dr. Suatama.

Produksi berbagai macam AKSESORIS Dari bahan kayu bertuah nusantara.

 


AUM swastyastu,
Puji syukur dan terimakasih,
Produksi berbagai macam AKSESORIS Dari bahan kayu bertuah nusantara.
#Ready Pratime tinggi 35 cm bahan Cendana Bali.
Manfaat Cendana Bali :
*memiliki Aura daya tarik yang kuat
*dapat membuka aura cakra
*memancarkan aura positif
*memantulkan niat jahat
*menarik aura keberuntungan
*sarana untuk pemagaran gaib
*terhindar dari serangan ilmu hitam
*membuat diri kita ber kharisma
*pelancar rejeki
*sarana keselamatan diri
*dll...
#setiap orang memiliki rasa berbeda dalam ketajaman indra,
Semua kembali kepada kepercayaan/keyakinan pemilik benda_benta bertuah.
Info pemesanan :
Wa : 0877-5686-6988