Selasa, 12 Juli 2022

Pepasangan

 


Pepasangan merupakan bentuk “serangan” negatif secara niskala, ditujukan kepada penghuni rumah oleh orang yang bermaksud tidak baik. Umumnya, pepasangan dipasang di halaman rumah, sehingga penghuni mengalami kesakitan, ketidaknyamanan.
Ada banyak media yang digunakan untuk membuat orang lain tersiksa. Salah satu media yang cukup populer yaitu tanah kuburan. Paling parah, jika tanah kuburan dicampur dengan tulang belulang manusia. Ini akan menyebabkan sakit tak wajar bagi penghuni rumah. Lalu bagaimana cara mengetahui pekarangan rumah ditaburi tanah kuburan?
Menurut penekun spiritual Jro Pandit, ada beberapa ciri yang bisa dirasakan penghuni rumah jika pekarangan rumah ditaburi tanah kuburan. Pertama penghuni rumah akan merasakan gelisah, khawatir, rasa ketakutan dan rasa tidak nyaman di rumah sendiri.
Kedua, munculnya pemikiran tidak rasional seperti ingin mengakhiri hidup. Hal ini dikarenakan adanya gangguan psikis dan depresi yang muncul tanpa sebab. “Kemudian muncul rasa emosi tiba-tiba yang tidak bisa dikontrol,” paparnya.
Lebih lanjut Jro Pandit juga mengungkapkan, penghuni rumah merasa diawasi pada waktu tertentu seperti pagi hari, sandikala, maupun tengah malam. Biasanya di dalam rumah yang ada pepasangan tanah kuburan, masakan yang dibuat akan cepat basi. Penghuni rumah juga akan merasa bau-bau aneh seperti bau amis.
Untuk menetralisir energi negative yang ditimbulkan oleh pepasangan tanah kuburan tersebut, Jro Pandit berbagai cara sederhana yang dapat dilakukan dengan menaburi pekarangan dengan air laut yang dicampur garam uku. Kemudian ditunaskan tirta pengater di sanggah kemulan. Tirta tersebut dipercikkan ke seluruhan pekarangan rumah. Setelah itu sapu pekarangan dengan sapu yang sudah pernah dipakai.
“Terakhir buatkan nasi wong-wongan hitam kemudian dicampur dengan tanah yang telah disapu. Selanjutnya luarang di laut, perempatan atau yang paling baik adalah dibakar untuk mengembalikan energi negatifnya ke si pengirim,” ujarnya.

Sang Nagasesa atau Sang Hyang Anantaboga

 


Sang Nagasesa atau Sang Hyang Anantaboga adalah dewa penguasa dasar bumi. Dewa itu beristana di Kahyangan Saptapratala, atau lapisan ke tujuh dasar bumi. Dari istrinya yang bernama Dewi Supreti, ia mempunyai dua anak, yaitu Dewi Nagagini dan Naga Tatmala. Dalam pewayangan disebutkan, walaupun terletak di dasar bumi, keadaan di Saptapratala tidak jauh berbeda dengan di kahyangan lainnya.
Sang Hyang Antaboga adalah putra Anantanaga. Ibunya bernama Dewi Wasu, putri Anantaswara.
Walaupun dalam keadaan biasa Sang Hyang Antaboga serupa dengan ujud manusia, tetapi dalam keadaan triwikrama, tubuhnya berubah menjadi ular naga besar. Selain itu, setiap 1000 tahun sekali, Sang Hyang Antaboga berganti kulit (jw. m1ungsungi).
Dalam pewayangan, dalang menceritakan bahwa Sang Hyang Antaboga memiliki Aji Kawastrawam, yang membuatnya dapat menjelma menjadi apa saja, sesuai dengan yang dikehendakinya. Antara lain ia pernah menjelma menjadi garangan putih (semacam musang hutan atau cerpelai) yang menyelamatkan Pandawa dan Kunti dari amukan api pada peristiwa Bale Sigala-gala.
Putrinya, Dewi Nagagini, menikah dengan Bima, orang kedua dalam keluarga Pandawa. Cucunya yang lahir dari Dewi Nagagini bernama Antareja atau Anantaraja.
Sang Hyang Antaboga mempunyai kemampuan menghidupkan orang mati yang kematiannya belum digariskan, karena ia memiliki air suci Tirta Amerta. Air sakti itu kemudian diberikan kepada cucunya Antareja dan pernah dimanfaatkan untuk menghidupkan Dewi Wara Subadra yang mati karena dibunuh Burisrawa dalam lakon Subadra Larung.
Batara Guru juga pernah mengambil kulit yang tersisa ketika Sang Hyang Antaboga mlungsungi dan menciptanya menjadi makhluk ganas yang mengerikan. Batara Guru menamakan makhluk ganas Aji Candrabirawa.

Ciri-ciri orang kerauhan serta perbedaannya dengan bebai

 

Kerauhan merupakan tradisi yang diwariskan para leluhur masyarakat Bali sebagai pembuktian tentang kemahakuasaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa Wasa beserta manifestasi-Nya dan masih dilakukan sampai saat ini. Namun saat ini kerauhan seolah menjadi trend di masyarakat sehingga membuat masyarakat menjadi bingung dan keliru dengan esensi kerauhan itu sendiri.
Menurut praktisi spiritual Jro Pandit, sebagai umat Hindu harus paham ciri-ciri orang kerauhan serta perbedaannya dengan bebai.
Lebih lanjut Jro Pandit menjelaskan, kerauhan biasa terjadi di areal pura sebab yang turun adalah Ida Bhatara. Karena itu, masyarakat patut mewaspadai orang yang kerauhan di luar areal pura
Orang kerauhan biasanya kedua matanya tertutup (merem), badan terasa dingin dan tidak pernah ada orang mengaku kerauhan dewa.
“Biasa yang tedun adalah rerancangan Ida Bhatara, bukan dewa. Jadi jangan percaya jika ada yang mengaku kerauhan Dewa Brahma atau dewa yang lainnya,” ungkapnya melalui kanal Youtube Jro Pandit Spiritual.
Jika terjadi di luar areal pura, hal itu disebut dengan kerangsukan. Kerangsukan terjadi akibat badan kasar manusia dimasuki roh halus, jin, maupun bhuta kala. Ciri-ciri berupa mata terbuka dan tingkah laku maupun perilakunya tidak menunjukkan sifat dewa. Sedangkan bebai disebabkan oleh serangan ilmu hitam yang dilakukan oleh manusia.
Untuk menguji fenomena kerauhan yang saat ini marak terjadi, Jro Pandit mengungkapkan, ada dua cara yang dapat dilakukan. Pertama diuji dengan api. Orang yang benar-benar kerauhan tidak akan merasa panas jika menginjak ataupun terkena api. Kedua bisa diuji dengan air. Ketika disiram dengan air, orang yang benar-benar kerauhan tidak akan basah.
Lebih lanjut, pihaknya menyebut kerauhan memiliki tingkatan . Kerauhan dengan tingkat kesadaran hilang total. Orang yang kerauhan dengan tingkat kesadaran hilang total tidak akan mengingat apa-apa setelah dirinya sadar.

Empat jenis makhluk tak kasat mata yang popouler di Bali

 


Leak menjadi makhluk jadian-jadian yang sudah tidak asing dibicarakan di Bali. Namun tidak hanya itu, makhluk astral dari alam gaib juga memiliki ragam jenis. Menurut Jero Dasaran Alit, dalam kanal Youtube Majesty Production, ada empat jenis makhluk tak kasat mata yang popouler di Bali, di antaranya Gamang, Memedi, Samar dan Banas. Lalu apa perbedaan dan ciri-ciri dari keempat makhluk tersebut?
Samar merupakan makhluk yang memiliki perwujudan menyerupai manusia umumnya. Tidak ada yang membedakan wujud manusia dan Samar secara fisik. Akan tetapi Samar tidak memiliki lekukan di atas bibir dan di bawah hidung. Samar juga dapat mengubah wujudnya menjadi seseorang yang diinginkan.
Jero Dasaran Alit mengungkap, Samar terbentuk dari roh manusia yang meninggal dengan cara tidak wajar, seperti bunuh diri. Sebab orang yang mengakhiri hidup sebelum waktunya, rohnya tidak akan diterima dengan baik dan akan menjadi arwah. “Ketika arwah ini tidak mendapatkan tempat yang layak, ia akan memanfaatkan tempat-tempat seperti pohon atau rumah-rumah kosong sebagai tempat tinggal,” jelasnya.
Makhluk astral lainnya, papar Jero Dasaran Alit, adalah Gamang. Menurutnya, Gamang memiliki kesamaan dengan Samar, terutama wujudnya yang menyerupai manusia.
Hanya saja Gamang ada yang tidak memiliki anggota tubuh lengkap. “Kalau Gamang itu memiliki cacat fisik, bisa tidak memiliki tangan, tidak memiliki kaki dan ia suka menempati pohon-pohon bambu yang rimbun,” ungkapnya. Gamang inilah yang biasanya menyembunyikan manusia.
Selanjutnya adalah Memedi. Makhluk halus ini memiliki perwujudan hampir sama dengan Samar, tetapi bisa mengubah wujudnya menjadi makhluk cantik, seram, perwujudan berbagai macam binatang. Memedi juga suka menyembunyikan orang jika wilayahnya diganggu.
Terakhir, terang Jero Alit, adalah makhluk astral berupa Banas. Banas sama dengan rencangan, bisa berbentuk makhluk hitam besar, gendruwo, maupun wujud manusia dengan taring,

Tri Parartha

 


Mencapai kebahagiaan adalah tujuan hidup setiap orang. Mereka pasti menginginkan punya kehidupan yang bahagia di dalam keluarga, pekerjaan, kesejahteraan, dan lainnya. Namun sejatinya, kebahagiaan itu tidak ada ukurannya. Untuk beberapa orang, bisa mandi setiap hari saja bisa dikatakan bahagia.
Hindu mengajarkan bagaimana cara mencapai kebahagiaan. Ajaran ini dikenal dengan nama Tri Parartha. Berikut ini cara mencapai kebahagiaan menurut ajaran Hindu.
Tri Parartha berasal dari kata Tri yang berarti tiga, dan Parartha berarti kebahagian, kesejahteraan, dan keselamatan. Jadi Tri Parartha aadalah tiga jenis perilaku yang dapat mewujudkan kebahagiaan.
Dalam ajaran Hindu, Tri Parartha menjadi pegangan tingkah laku untuk mencapai kebahagiaan. Tri Parartha terdiri dari Asih, Punya, dan Bhakti.
Asih memiliki makna sebagai pereliku kasih sayang terhadap diri sendiri maupun orang lain. Perilaku asih ini dimulai dari diri sendiri seperti menjaga kebersihan dan kesehatan badan dengan cara mandi dua kali sehari, menyantap makanan yang sehat, dan rutin berolahraga.
Punya atau juga sering disebut dengan Punia adalah perilaku untuk membantu sesama atau orang lain yang membutuhkan bantuan. Perilaku ini akan meningkatkan rasa saling tolong menolong di antara sesama.
Bhakti merupakan perilaku hormat kepada orang lain, terutama orangtua dan guru. Kalau dilihat dari bagian-bagian Tri Parartha, semua perilaku tersebut ditujukan untuk sesama manusia.
Parartha sejatinya sebagai wujud umat melakukan sembah bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Subhasita Mantra menyebutkan 'Manava Seva, Madhava Seva' yang berarti pelayanan kepada orang lain sama dengan pelayanan kepada Tuhan dan juga diri sendiri.
Ajaran Tri Parartha dapat diterapkan di mana saja agar berguna bagi diri sendiri dan orang lain. Dengan menjalankan ajaran ini, kamu bisa mempunyai banyak teman, disayangi orangtua, saudara, teman, dan menjadi anak yang disiplin.

Enam tempat melukat di Bangli

 


Bangli, satu-satunya kabupaten di Bali yang tidak memiliki Sumber Daya Alam berupa laut. Namun pemandangan alam di Bangli tak kalah indahnya, di Bangli juga terdapat beberapa lokasi untuk melukat (Pembersihan diri dengan air). Nah berikut enam tempat melukat di Bangli, ada yang diyakini untuk menangkal ilmu hitam
1. Taman Campuhan Sala
Pura dengan pemandangan yang masih asri ini terletak di Banjar Sala, Desa Abuan.
Prosesi melukat di pura ini cukup unik karena terdapat beberapa lokasi melukat di area Taman Campuhan Sala
2. Pura Tirta Sudamala
Di pura ini terdapat beberapa pancuran atau pancoran yang disebut juga dengan nama Pancoran Tirta Sudamala yang terletak di tepi Sungai Tukad Singsing dan berada di dasar lembah sungai yang masih sangat asri. Air pancoran ini diyakini memiliki khasiat untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit, terutama penyakit yang disebabkan oleh ilmu hitam.
3. Pancuran Pangelukatan Dasamala Lan Widyadari
Pancuran Dasamala Lan Widyadari ini diyakini oleh warga setempat memiliki khasiat untuk awet muda dan melebur penyakit yang disebabkan oleh ilmu hitam, Terletak di Pura Taman Sari, Banjar Sama Griya, Desa Jehem, Tembuku.
4. Beji Selati
Tempat melukat di Beji Selati ini dikelilingi tebing dan goa alam yang sangat indah, serta sejumlah pancoran suci yang diyakini bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit
5. Pancoran Solas, Desa Batur
Pancoran Solas (sebelas) terletak di Pura Pelisan di kawasan Seked, Batur, persis di tepi Danau Batur. Air Pancoran Solas bersumber dari air suci (tirta) Telaga Waja, Danu Gadang, Danu Kuning, Bantang Anyud, Pelisan, Mangening, Pura Jati, Rejeng Anyar, Toyabungkah, Perapen, dan Mas Mampeh.
6. Pura Tirta Hulun Danu Batur, Songan
Pura ini berada di ujung Desa Songan, Kintamani. Pura ini terletak persis di pinggir Danau Batur yang sudah terkenal dengan pemandangannya yang sangat indah, prosesi melukat juga dilaksanakan di pinggir Danau Batur.

Sejarah Perlawanan Terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Daerah Bali

 


Sebelum perang berkecamuk di Puputan Klungkung, api perlawanan atas kolonial Belanda telah lebih dulu terjadi di Desa Gelgel. Pemantiknya berawal dari patroli keamanan kolonial di wilayah Kerajaan Klungkung sejak 13-16 April 1908. Para pembesar kerajaan dan rakyat tak terima. Sebab, hal tersebut dianggap melanggar kedaulatan kerajaan. Tak ayal penyerangan terhadap patroli Belanda terjadi di Desa Gelgel.
Made Sutaba dkk dalam buku "Sejarah Perlawanan Terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Daerah Bali" menjelaskan, serangan mendadak itu menyebabkan 10 serdadu kolonial mati, termasuk seorang pemimpin serdadu mereka, Letnan Haremaker. "Mati setelah sampai di Gianyar," tulis Made Sutaba dkk.
Pihak kolonial kemudian murka, dan menuduh Kerajaan Klungkung telah melakukan pemberontakan terhadap pemerintah. Raja Dewa Agung Jambe II dan rakyat diminta untuk menyerah sampai 22 April 1908. Ancaman tersebut ternyata tak mengendurkan nyali raja dan rakyat. Justru semangat menjaga kedaulatan kerajaan semakin membesar.
Bermodal tombak, laskar-laskar Klungkung nan gagah berani menghadapi serangan pasukan Belanda yang berbekal beberapa meriam kaliber 13 dan 15 cm. "Tapi serangan laskar Klungkung dapat dipatahkan," kata Made Sutaba dkk. Selasa, 21 April 1908, Istana Semarapura, Gelgel, dan Satria dibombardir serdadu kolonial selama 6 hari berturut-turut.
Celakanya, pada 27 April 1908, pasukan tambahan kolonial dari Batavia tiba di Desa Kusamba dan Jumpai. Kobaran perang semakin membesar. Perlawanan sengit diberikan rakyat kedua desa itu, meski persenjataan tak berimbang. Serdadu kolonial pun semakin merangsek menuju Klungkung. Istana Semarapura mulai terkepung.
Bersama 3.000 laskar Klungkung, Raja Dewa Agung Jambe maju menyerang kolonial. Tak lama kemudian, mereka pun gugur dalam berondongan peluru serdadu. Selasa, 28 April 1908, sore, Kerajaan Klungkung jatuh ke tangan kolonial Belanda.
Meskipun secara fisik kalah, namun Raja Dewa Agung Jambe dan rakyat menunjukkan sikap masyarakat Bali, yang menempatkan harga diri dan kehormatan di atas segala-galanya.