Selasa, 12 Juli 2022

Mantram yang bisa dirapalkan ketika merasa takut

 


Semua orang pasti pernah merasa takut, terutama takut kepada hantu, makhluk halus atau jin. Namun sebenarnya tidak sekadar takut kepada hantu, kita juga takut pada rasa takut itu sendiri. Maka ketakutan itu mesti diatasi.
Rasa takut itu muncul dari perasaan diri sendiri. Rasa takut seharusnya dilatih agar muncul keberanian. Ada mantram yang bisa dirapalkan ketika seseorang merasa takut terutama saat melihat hantu atau jin.
“Om Om Jaya Jivat Sarira, Raksan Dadasime, Om Mjum Sah Vaosat, Mrtyun Jaya Namah Svaha”
Artinya: Om Sanghyang Widhi Wasa Yang Maha Jaya, Yang Mengatasi segala kematian, kami memuja-Mu. Lindungilah kami dari marabahaya (Dana Dan Suratnaya, 2013: 42).
Mantra di atas diucapkan ketikan dalam keadaan rasa takut atau sedang mengalami masalah. Bilamana kita mengucapkannya dengan sunggu-sungguh, Tuhan akan melindungi kita dari marabahaya. Membebaskan kita dari kematian.
Mantra di atas bisa diucapkan kapan saja, ketika kita sedang dalam keadaan takut atau kurang yakin dengan sesuatu yang kita kerjakan atau jalani.

Aywa wera tan siddhi phalanya

 


“Aywa wera tan siddhi phalanya”, begitu piteket para tetua yang artinya hendaknya jangan mabuk atau sombong oleh sebab kelebihan yang dimiliki (apapun bentuknya), karena menjadi tiada bermanfaat atau tidak berphala bagi siapapun, bahkan bisa merugikan banyak pihak.
Istilah Balinya, pocol ngelah ilmu (karirihan), sing dadi anggon gena, bilih-bilih ten meduwe geginan (rugi mempunyai ilmu, kemampuan, kelebihan, keunggulan atau bahkan kawisesan, lantaran tidak berguna bagi orang lain, lebih-lebih yang bersangkutan tidak memiliki pekerjaan alias pengangguran), tentunya sangat membahayakan, bisa data-data gaene (bisa macam-macam dikerjakan, entah baik ataupun buruk).
Kalau ilmu misalnya, apalagi ilmu agama yang berkaitan dengan ketuhanan transenden, yang secara permanen diyakini sebagai pondamen sraddha-bhakti, apabila dipelajari atau dipahami dan kemudian dilaksanakan dengan sembarangan/serampangan, dipercaya akan menjadi bumerang baginya. Bahkan acapkali dikatakan bisa membuat "buduh” (gila), setidaknya stres, tampak seperti orang terkena gangguan psikis lantaran belum siap diri mempelajari atau menerima ilmu agama yang berada di tingkatan kasunyatan, lebih-lebih ilmu black magic yang bermain di tataran kesaktian (kawisesan).
Semakin dapat dipahami, menelisik arti adagium “ajya wera” di atas, sesungguhnya mengandung makna sebagai sesanti untuk mana bagi siapapun yang hendak mempelajari apalagi kemudian berhasil menguasai ilmu apapun hendaknya tetap bersikap rendah hati. Seperti ilmu padi, semakin berisi sepatutnya bertambah merunduk. Nasihat panglingsir, “de ngaden awak bisa, depang anake ngadanin”, jangan merasa diri “bisa, nawang” meskipun sudah “dadi”, biarkan orang lain menilai dan mengambil manfaat atas ilmu yang dimiliki.
Adagium “ajya wera”, tampaknya sekaligus juga mengingatkan untuk “aja ewere”, de ewer, adigag adigung, de degag de ajum, karena akan dapat menyerang balik hingga menghancurkan diri sendiri. Pepatah kuno mengisyaratkan, “menepuk air di dulang”, terkena muka sendiri, akan membuat malu, memalukan bahkan memilukan.

Upacara Kepus Pungsed

 


Upacara Kepus Pungsed atau ada juga yang menyebut Kepus Udel dan Kepus Puser. Upacara ini biasanya dilaksanakan ketika si jabang bayi setelah beberapa hari lahir, tali pusarnya yang menempel di pusarnya sejak lahir terlepas secara alami.
Upacara ini pun menurut sumber lainnya disebut dengan istilah Upacara Mepenelahan atau Penelahan, yang bersumber dari kata telah yang memiliki arti habis. Hal ini tentu saja tak lepas dari keyakinan bahwa ketika bayi tersebut masih dalam kandungan, dijaga oleh empat unsur, yang biasa disebut Catur Sanak. Meliputi yeh nyom, ari-ari, dan getih, tiga dari empat unsur tersebut sudah terlepas disaat bayi tersebut lahir. Sedangkan satu unsur lainnya yang tetap melekat saat bayi itu lahir yakni puser atau udel.
Maka ketika lepasnya sisa tali pusar atau udel tersebut, maka terlepas sudah semua unsur Catur Sanak yang sebelumnya melekat pada bayi tersebut, baik ketika masih di dalam kandungan maupun ketika lahir.
Menurut Mangku Nyoman Suparta serta beberapa sumber disebutkan, upacara ini bermakna pembersihan raga dan jiwa dari jabang bayi tersebut. Karena lepasnya satu unsur terakhir itu, membuat bayi tersebut sudah lepas dari pengaruh Catur Sanak. Tujuannya untuk membersihakan secara spiritual tempat-tempat suci dan bangunan-bangunan yang ada di sekitarnya.
Lantas bagaimana dengan puser si jabang bayi yang sudah terlepas. Puser tersebut selanjutnya dibungkus dengan secarik kain, yang selanjutnya dimasukkan dalam sebuah kulit ketupat kecil. Tak hanya itu, ketupat tersebut juga disertai dengan sejenis rempah-rempah yang khasiatnya menghangatkan, seperti cengkeh. Ketupat kecil ini kemudian digantungkan pada arah kaki tempat tidur si bayi.
Sedangkan di beberapa daerah di Bali, seperti diutarakan Mangku Nyoman Suparta, begitu tali pusar itu terlepas maka akan dimasukkan ke dalam sebuah potongan bambu kuning berukuran kecil. Secara kasat mata, ukurannya bambu tersebut tak lebih dari seukuran pensil, dengan panjang sekitar 3cm.

Pusat palukatan Hindu-Bali

 


Secara tradisi Hindu-Bali pusat palukatan adalah Pura Puseh dan Pura Desa. Baik tirta pangentas, panglukatan 3 bulan (telung bulan), 6 bulan (oton), pawiwahan, diksa, semuanya berpusat di sana.
Filolog Sugi Lanus mengatakan, jika ini tidak dikembalikan ke pemahaman yang mendasar, krama Bali yang berporos pada pakraman dan Pura Puseh berpotensi memicu menguapnya kecintaan dan kehormatan pada Puseh-Desa yang semakin tidak mantap lagi.
Masyarakat Bali perlu kembali ke esensi ajaran Mpu Kuturan yang berporos pada Puseh-Desa sebagai pusat tradisi prayascita dan panglukatan bhuana-alit (krama) dan bhuana agung (desa-grama). “Ini yang akan merapuhkan peran desa pakraman jika ditinggalkan atau diabaikan akibat kelalaian memahami esensi dan eksistensi palukatan agung dari Bhatara Puseh,” paparnya.
Masyarakat Hindu Bali yang berporos pada prayascita dan panglukatan Puseh Desa, mendesak dikembalikan ke jalurnya. Ini berpotensi bukannya hanya ancaman gabeng-magama (kegamangan beragama), tapi juga akan menjadi ancaman ekologis.
Palukatan, patoyan, patirtaan, dan semua sumber air yang secara tradisi menjadi sumber tirta panglukatan di Puseh, telah diganti air mineral botolan. Tirta di Pura Puseh bukan lagi dari sumber alami yang sepantasnya dirawat.
“Dengan hilangnya kesadaran Puseh sebagai poros palukatan, akan berdampak tidak akan ada lagi yang mengawal dan urati menjaga secara ekologis dan spiritual sumber air di desa, yaitu bulakan, palukatan, beji, patirtaan, empul, dan semua sumber air,” pungkasnya.

Lontar Usada Rare

 


Pengobatan bayi secara tradisional banyak diulas dalam naskah lontar. Salah satunya di Usada Rare yang mengupas berbagai penyakit yang kerap dialami bayi, termasuk cara mengobatinya.
Penekun usada Bali Gede Sutana mengatakan, beberapa penyakit rare atau anak-anak diobati menggunakan beberapa teknik pengobatan herbal atau tradisional. Teknik ini memang sudah digunakan di Bali sejak zaman dahulu mengacu Lontar Usada Rare.
“Jenis penyakit yang pada umumnya diderita oleh anak-anak seperti batuk, tidak bisa tidur, pusing, diare, muntah, perut kembung, kencingnya seret, hal itu dijelaskan dengan sarana obat,” jelas Sutana,
Untuk penanganan bayi batuk misalnya, Sutana menyebut tamba atau obatnya menggunakan kencur, temu tis, kemiri, bawang merah bagian paling dalam yang sering disebut hati bawang, beras yang sudah direndam lama sehingga mudah remuk
Selain itu, ada juga jenis obat yang lain untuk menyembuhkan batuk biasa, yaitu sarana daun tulasi, rumput lepas, temulawak dan ketumbar. Semua itu dikunyah untuk disemburkan pada dada si anak yang sakit.
Dalam naskah Usada Rare disebutkan: Ta rare watuk giningan. Sa rwaning blimbing wesi, trikatuka, sembar tangkahnya. Jika diterjemahkan tamba atau obat untuk anak-anak yang batuk gatal dengan sarana daun pohon belimbing besi, tiga ramuan bumbu atau rempah-rempah (bawang merah, bawang putih, dan jangu), semburlah dadanya dengan adonan itu.
Lanjut Sutana, pada zaman dahulu, saat pengobatan medis belum begitu populer dan anak menangis semalaman, di dalam lontar Usada Rare diharapkan mengucapkan mantra : Iki Ong Si Barbang Biar, Ong ah siah.

Tari Baris Tekok Jago

 


Desa Adat Kerobokan, Badung hingga kini masih melestarikan Tari Baris Tekok Jago. Tarian ini harus ditarikan oleh 12 orang dengan kostum serba poleng (hitam dan putih). Adanya tarian ini juga dinilai sebagai warisan yang sangat berharga.
Bendesa Adat Kerobokan Anak Agung Putu Sutarja mengatakan, Tari Baris Tekok Jago merupakan tarian yang cukup unik. Pementasannya hanya dilakukan saat upacara tertentu. Selain itu, tarian ini memiliki perbedaan dengan tari baris pada umumnya.
“Tarian itu minimal 12 orang dengan pakaian khas berwarna poleng. Selain itu juga membawa tombak saat dipentaskan, dengan ciri gerakan dan gambelan yang berbeda,” ujar Sutarja.
Menurutnya, Tari Baris Tekok Jago ini hanya dipentaskan pada saat upacara Ngaben Ngwangun atau utama. Tarian ini dipentaskan sebagai persembahan untuk mengantarkan atau membuka jalan kepada sang atma menuju surga.
“Tari tersebut dapat mengembalikan unsur Panca Maha Bhuta dengan cepat. Tetapi juga tergantung pada subha dan asubha karma yang diperbuat semasa hidup,” ungkap Sutarja yang juga Ketua Majelis Desa Adat (MDA) Badung.
Selain dipentaskan saat Ngaben, Sutarja menjelaskan, tarian ini juga dipentaskan saat upacara mendak tirta atau mohon hujan, terutama saat sasih katiga kangkang.
“Misalnya musim kering kita mulai istilahnya mendak tirta di segara, juga dipentaskan Tari Baris Tekok Jago. Sekarang sudah setiap tahun dilaksanakan saat Purnama Sasih Kapat,” jelasnya.
Lebih lanjut ia menambahkan, Tari Baris Tekok Jago adalah tarian yang sakral. Sehingga para penarinya tidak sembarangan orang dapat mementaskan. “Penari merupakan orang pilihan. Mereka harus sudah mawinten atau ekajati,” imbuhnya.

Hotel Grand Inna Bali Beach

 


Hotel Bali Beach adalah nama awal dari Hotel Grand Inna Bali Beach yang terletak di pesisir Pantai Sanur. Merupakan hotel tertinggi sekaligus satu-satunya hotel di Bali yang memiliki 10 lantai.
Apa sejarah hotel tertua di Bali ini?
1. Hotel dibangun dari dana pampasan perang zaman Jepang
Hotel Bali Beach adalah inisiatif dari Bung Karno selaku Presiden RI saat itu. Saat itu pantai Sanur bukanlah lokasi wisata, melainkan pantai yang disakralkan oleh masyarakat setempat. Oleh Bung Karno, hotel ini beserta 4 hotel lainnya
2. Bung Karno sebagai perintis, Tapi tidak menginap di hotel ini
Hotel Bali Beach mulai dibangun pada tahun 1963, pada tanggal 1 November 1966, hotel ini diresmikan oleh Menteri Utama Ekonomi dan Keuangan RI saat itu, Sri Sultan Hamengkubuwono IX.
Namun, Bung Karno sebagai perintis hotel ini tidak ikut dalam proses peresmiannya, Hal ini karena Bung Karno saat itu menjadi tahanan politik di Wisma Yaso
3. Terbakar hebat pada tahun 1993
Hotel Bali Beach mengalami kebakaran hebat. Kebakaran terjadi di bangunan tower yang berlangsung selama 3 hari.
Kebakaran ini menghanguskan seluruh bangunan yang menyebabkan hotel sementara tidak beroperasi, Pada 4 Oktober 1993, Hotel ini telah rampung direnovasi.
4. Memiliki dua kamar yang disakralkan
Kamar ini oleh beberapa praktisi spiritual, diyakini memiliki aura spiritual yang tinggi dan juga dilindungi oleh kekuatan suci dari Bung Karno dan Kanjeng Ratu Kidul sebagai penguasa laut Selatan.
Kamar nomer 327 dan 2401 menjadi yang paling sakral, 2401 adalah kamar Kanjeng Ratu Kidul.
5. Pernah terbakar lagi setelah kebakaran tahun 1993
Hotel Grand Inna Bali Beach mengalami kebakaran lagi setelah tahun 1993. Kebakaran pertama terjadi pada Minggu (1/3/2020), Belum sebulan, kebakaran kembali terjadi di lantai 10 hotel tertua di Bali ini pada Minggu (29/3/2020), Kebakaran ketiga terjadi pada Rabu (11/8/2021).