Selasa, 12 Juli 2022

MEDANG I BHUMI MATARAM

 


Medang atau kaḍatwan mḍaŋ merupakan sebuah kerajaan besar di Pulau Jawa, lebih awal dari periode Kahuripan - Singasari - Majapahit. Berdiri sekitar tahun 732 Masehi.
Yang menarik adalah beberapa kali Medang memindahkan pusat pemerintahan. Dalam prasasti Canggal (732 M) yang juga merupakan pernyataan Sanjaya, tertulis bahwa dirinya adalah sebagai penguasa Medang.
Adapun lokasinya adalah di sebuah daerah bernama Mataram, nama geografis bersejarah untuk menyatakan dataran Kewu (selatan dataran Kedu) dan berada dalam wilayah administratif Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta saat ini. (Lihat peta).
Inilah periode yang dalam prasasti selanjutnya disebut sebagai " mḍaŋ i bhūmi mātaram " berarti "Medang di tanah Mataram", yaitu Medang sebagai nama kedatuan dengan pusatnya di tanah Mataram.
Sanjaya pada mulanya mendirikan kadaton Medang di Bhumi Mataram kemudian oleh raja2 selanjutnya berpindah2 ke Mamrati. Lalu ke Poh Pitu. Dan kembali lagi ke Bhumi Mataram pada era Dyah Wawa (Rakai Sumba). Sebelum kemudian berpindah ke wilayah timur Jawa.
Candi yang terkenal dibangun pada era kerajaan Medang adalah Kalasan, Sewu, Borobudur, dan Prambanan. Termasuk gugusan candi2 lain seperti di gambar : Plaosan.
Gelar "RATU" untuk penguasa Medang
Pada zaman itu istilah Ratu belum identik dengan kaum perempuan. Gelar ini setara dengan 'Datu' yang berarti "pemimpin". Dalam bahasa Jawa, istilah 'Ratu' digunakan sebagai sinonim 'Datu', sehingga di Jawa istilah Karaton (Karatuan) digunakan sebagai sinonim Kadaton (Kadatuan).
mḍaŋ i bhūmi mātaram menurut ahli sejarah kemudian disebut sebagi Mataram Kuno atau Mataram Hindu, kemungkinan krn pralaya letusan Gunung Merapi/Marapoy kemudian pindah ke Jawa Timur.
Lebih kurang 800 tahun kemudian akan muncul di tempat sama (Mataram) yang sudah lama ditinggalkan tersebut akan muncul kerajaan Mataram Baru atau Mataram Islam, saat itu Bhumi Mataram telah menjadi hutan, dan candi2 lama tertimbun tanah. Di Alas Mentaok dibangun perdikan Mataram sebagai hadiah Sultan Pajang.

WUJUDKAN PURUSA PRADANA DALAM BENTUK SEGALA MANTRA

 


“Ong anugraha manoharam dewa dattà nugrahaka arcanam sarwà pùjanam namah sarwà nugrahaka. Dewa-dewi mahàsiddhi yajñanya nirmalàtmaka laksmi siddhisca dirghàyuh nirwighna sukha wrddisca”
“Oh Hyang Widhi, pemberi anugrah, anugrah pemberian Dewata, wujudkanlah dari segala pujaan (mantra), hamba memuja-Mu sebagai pemberi segala anugrah. Kemahasiddhian dari para Dewa Dewi (Purusa Pradana) berwujud yadnya suci. kebahagiaan, kesempurnaan, panjang umur, bebas dari rintangan, kegembiraan dan kemajuan rohani dan jasmani”
Makanya Gama Bali dalam ritualnya mewujudkan dengan banten (Raganta Twi) karena banten menjelaskan tentang mantra (puja puji) bukan mewujudkan dengan patung.
Selain itu para wiku dan wikan leluhur kita menyadari sangat sulit mewujudkan Tuhan dalam bentuk apapun karena Acintya (tak terpikirkan). Maka simbolisasinya adalah sebatas kekuatan-Nya yaitu dengan arah mata angin, sinar/warna, aksara. Kemudian penyatuan ketiganya (pemolaan energi) menjadi senjata hal ini jelas dalam Dewata Nawa Sanga dimana Siwa (Sunya/Tuhan) ditengah tengah.

UNCAL BALUNG pantangan NANGUN YADNYA

 


Rahayu, Rahayu, Rahayu……
Semoga Ida Bhetara memberikan kita pencerahan terhadap pemahaman kita tentang makna Rerainan yang merupakan Loka Dresta berdasarkan Sastra Agama, Tabik Pekulun
Istilah Uncal Balung tak asing lagi, kata ini sering terdengar dalam masyarakat Hindu Bali, cuman bagi masyarakat awam mungkin mereka bertanya, apa itu uncal balung?
Secara sederhana, bahwa kurun waktu dari Buda Pon Sungsang sampai dengan Buda Kliwon Pahang masa itu yang disebut dengan Uncal Balung.
Mereka hanya tahu bahwa pada kurun waktu tersebut tak boleh megaenan (Nangun Karya), yang artinya pada masa uncal balung tak boleh merencanakan atau membangun dan melaksanakan upacara baik itu manusa yadnya, pitra yadnya maupun dewa yadnya kecuali upacara odalan dan terkait dengan kelahiran manusia seperti nyambutin, ngotonin dan lainnya.
Masyarakat Bali juga memahami bahwa kalau Nangun Karya atau Nangun Yadnya pastilah mereka menunggu sampai Buda Kliwon Pegatwakan (buda kliwon pahang), namun mereka tak pernah tahu kenapa tak boleh nangun yadnya, mereka mengikuti saja petunjuk dari orang tua atau orang yang mengerti akan hal tersebut, tanpa pernah repot untuk mencari jawabannya.
Mereka berpikir kalau sudah tak boleh ya jangan, tentang alasannya sesungguhnya ini adalah masyarakat Bali masih memegang teguh “Etika atau Susila”, karena orang awam berpikir bahwa adanya larangan merupakan “kode etik” dari sesana yang masih di pegang melalui Ajaran Gugon Tuwon dari para leluhurnya.
Rahayu Semeton bali dan semeton Bakti Pertiw Jati, kembali ke masa uncal balung, untuk ketentuan uncal balung ini masih dipegang teguh oleh masyarakat Bali secara umum, namun di beberapa daerah sudah ada mulai hal yang sangat kontradiktif dengan banyaknya masyarakat melaksanakan upacara perkawinan, ngaben dan upacara lainnya yang sifatnya nangun karya pada saat masa uncal balung, artinya semua itu sebenarnya sudah menyimpang dari sastra agama.
Masyarakat yang melakukan pelanggaran sastra agama merasa biasa saja karena sudah mendapatkan petunjuk dari “sulinggih” atau sudah di lakukan secara turun temurun melakukan upacara yang melanggar ketentuan uncal balung tersebut, tanpa pernah terasa efek sekala dan niskala.
Namun sebagian masyarakat Bali mencari pembenaran dengan berlindung pada desa kala patra dari masing-masing wilayah, masing-masing kelompok masyarakat memiliki dresta tersendri, sehingga kerapkali dikatakan Agama Hindu Bali bertengger pada desa kala patra berlandaskan Weda dan diukur dengan Rasa.
Inilah pemikiran BEBELOGAN dari orang WIKAN di Bali, bebelogan artinya bukan bodoh tetapi sejatinya orang yang pandai namun dapat menyederhanakan masalah, sehingga tak terlibat dalam polemik, tak terlibat dalam debat kusir, tak terlibat dalam pro kontra mengenai sebuah konsep, orang wikan ini memberi petunjuk dengan sengaja melanggar sastra agama apakah karena mereka tak tahu sastranya atau memang karena drestanya sudah seperti itu.
Sekarang tergantung dari kesepakatan kita bersama sebagai krama Hindu Bali, apakah akan menggunakan sastra agama sebagai pegangan atau berpijak atau di biarkan saja…………?
Ini mesti menjadi bahan renungan dan pemikiran serta bahan diskusi kita bersama.
semoga kita mendapat perlindungan dari Ida Bhatara…..
Sebab dalam filosofinya, bahwa kurun waktu dari Buda Pon Sungsang sampai dengan Buda Kliwon Pahang adalah masih rangkaian Galungan artinya rangkaian Rerainan Galungan seperti yang sudah di jelaskan bahwa merupakan Rerainan dari Sang Prabu sehingga dalam konteks konstitusi kita harus tunduk terhadap keputusan Sang Prabu dan Pura-Pura yang ada adalah merupakan system yang dimiliki oleh Sang Prabu dan oleh sebab itu, diharapkan pada kurun waktu itu menjalankan Tapa Brata Yoga Semadi, sampai akhirnya dilebar atau ditutup pada dina Buda Kliwon Pahang yang di sebut dengan Buda Kliwon Pegatwakan.
Kalau di tinjau dari cerita, bahwa perayaan Galungan tak terlepas dari sejarah Sri Jaya Kesunu yang beryoga Samadi di Pura Dalem Puri untuk mencari jawaban atas situasi prihatin kerajaan saat itu, dimana raja berumur pendek, dan rakyat yang tak sejahtera, maka Sri Jaya Kesunu menjalankan laku pihatin, sehingga Hyang Betari Durga berkenan dan memberikan jawaban atas segala keprihatinan tersebut, dimana rakyat dan kerajaan mesti melaksanakan Galungan dengan benar, karena sebelumnya perayaan Galungan belum dilaksanakan sebagaimana mestinya.
Pertanayaan sekarang sudahkan galungan di jalankan sesuai petunjuk sastra agama?
Demikian juga dengan mitologi Mayadanawa, bahwa Galungan diawali dengan keprihatinan akibat dari peilaku dari Sang Raja Mayadanawa yang menganggap dirinya adalah sesuhunan manusia atau menganggap diri sebagai penguasa manusia dan mahluk hidup, sehingga ia melarang para pertapa untuk melakukan Tapa Brata Yoga Samadi.
Atas semua itu lalu Bhetara Indra turun dari kayangan bersama para Dewa yang lain dan manusia di dunia bersatu untuk menumpas kelaliman dari Sang Mayadanawa, atas kemenangan tersebut manusia kembali dapat menyelengarakan upacara, dan kembali melakukan Tapa Brata Yoga Samadi tanpa ada yang melarang, dan masa Uncal Balung yang seharusnya melakukan Tapa, Brata Yoga Semadi pun menjadi kabur, memudar, lalu lenyap seiring dengan perkembangan jaman dan akibat kemabukan manusia akan kemenangan itu sendiri.
Uncal Balung sebagai bulan pendalaman batin (rohani) untuk mencapai kesucian jasmani rohani mesti perlu dipahami oleh umat, lalu ditradisikan sebagai tradisi pendalaman spiritual, agar terhindar dari pengaruh negatif dari Sang Kala Tiga, dan untuk mendapatkan kekuatan para dewa karena pada masa Uncal Balung kekuatan Rwa Binedha sedang berada diantara manusia yakni kekuatan Dewata sebagai unsur positif dan kekuatan Kala yang berwujud Sang Kala Tiga Galungan sebagai unsur negatif.
untuk jelasnya dapat diperhatikan beberapa kutipan Lontar Sindarigama lembar 17. b. koleksi Universitas Hindu Indonesia,
”Buda Kliwon Pegatwakan, yatika pegating warah, manelasing dyana semadhining dunggulan, nga, wekasing pralina ngranasika, pakena Wiku lamakna sindyanasemadhi, umaring kala naya nguni, saha widhi widhananya sarwa pawitra, wangi-wangi, aturakna ring sarwa dewa, muang sesayut dirgayusa, saha puja hatur ring Sang Hyang Tungal”.
Masa Uncal Balung yang dilandasi oleh Tattwa, Susila dan Upacara sesungguhnya sudah dilaksanakan di Bali dengan baik walaupun sekarang ini sudah mulai di langgar.
Kalau di lihat dari Tattwanya adalah pengendalian diri dalam hidup ini untuk mencapai kesucian lahir dan bhatin, yang lebih sering disebut dengan kemenangan Dharma melawan Adharma, Etikanya Sang Prabu melakukan Tapa Brata Yoga Semadi yang di iringi oleh para Pendetanya serta masyarakat yang sudah masuk ke jenjang spiritual dan semua umat Hindu Bali harus melakukan usaha pengendalian diri selama masa uncal balung serta Upacaranya adalah semua kegiatan upacara pada masa uncal balung mempunyai keterkaitan upacara satu dengan lainnya mulai dari sugihan tenten sampai buda kliwon pegatwakan.

Mengenali Bebahi

 


Bebahi atau bebai adalah penyakit yg dibuat dari raga janin dan Kanda Pat (Kanda Empat), empat saudara janin, yang dapat dikirim masuk ke dlm tubuh seseorang yang ingin dibencanai sehingga jatuh sakit. Orang yang kena bebahi disebut bebainan.
Mnurut Usada Sasah Bebai tanda2 orang bebainan ialah orang merasakan sakit di daerah siksikan (perut diatas kemaluan, di bawah pusar). Terasa seperti ada benda keras sebesar pisang menyumbat di hulu hati.Akhirnya si sakit jatuh pingsan. Ada pula yang berasal dari nyeri, diikuti kesemutan,gelisah dan terasa sakit seperti ditusuk-tusuk di seluruh tubuh serta badan terasa bengkak. Bila sakitnya sampai ke kepala, si sakit seperti orang gila. Jika sakitnya menjalar ke pergelangan tangan, maka penderita akan kejang-kejang dan mengigau. Jika sakitnya di lidah, maka penderita akan berbicara tak karuan-karuan. Sering pula menjerit-jerit dan menangis sejadi-jadinya. Kalau penderita ini dipegang, dia akan meronta-ronta dan mengeluarkan tenaga yang luar biasa, melebihi kekuatan orang biasa.
Para remaja yang paling sering terkena penyakit bebahi ini, terutama putri, menjelang kotor kain atau menstruasi. Dapat pula wanita yang baru kawin atau orang-orang berada dalam keadaan lemah fisik dan mentalnya.
Utk dapat memiliki bebahi ada beberapa cara. Tetapi pada prinsipnya adalah sama, yakni mempergunakan janin yang digugurkan sebagai sarana. Janin ini terjadi akibat persatuandari Kamajaya (kamapetak = mani laki-laki)dengan kama ratih (kamabang = sel telur) di dalam kundha kacupu manik (uterus) di dalam perut ibu. Setelah kedua kama ini bersatu maka terjadilah Sang Kamareka (janin) dan empat penjaga untuk melindungi dan menghidupi Sang Kamareka. Keempat pelindung tersebut terdiri atas yeh nyom (air ketuban), getih (darah), lamadatau lamas (kulit tipis berminyak yang membungkus janin) dan ari-ari (placenta).Keempat alat inilah yang menjaga dan memelihara kelangsungan hidup janin selama berada di dalam uterus ibu. Tanpa ada keempat sarana ini, maka janin tidak akan dapat berkembang dengan sempurna atau mati. Keempatnya disebut juga dengan catur nyama , empat saudara kandung sehidup semati dalam perjalanan hidup selama di dalam garba ibu maupun setelah keluar dari kandungan ibu. Hidup di marcapada, catur nyama ini sering pula dijuluki sebagai Sang Anggapati utntuk yeh nyom, Sang Prajapati, untuk getih, Sang Banaspati untuk ari-ari dan Sang Banaspati Raja untuk lamad. Keempatnya ini disebut Kanda Pat. Setelah janin lahir atau terjadi keguguran, maka Kanda Pat ini ikut pula keluar dari kandungan ibu dan masing-masing mencari tempat sendiri-sendiri untuk hidup dan meneruskan tugasnya di dunia menjaga dan mengemban saudaranya si Rare Kumara, bayi kecil mungil. Menurut Usada Tatenger Beling, yeh nyom dianggap saudara tertua, karena dialah yang lahir paling dahulu, kemudian disusul oleh getih, lalu bayi dan lamas, terakhir yang paling bungsu lahir adalah ari-ari. Sang Anggapati yang berasal dari yeh nyom berdiam di angga sarira mahluk hidup (buana agung) dan di kulit (buana alit).Kawisesan Anggapati ini adalah anglukat sarwa letehing sarira, membersihkan semua kejahatan atau kekotoran badan. Sedangkan Sang Prajapati yang berasal dari darah (buana alit). Prajapati ini mempunyai kekuatan menolak segala mara bahaya dan keletehan. Sang Banaspati Raja menempati pohon kayu yang besar (buana agung) dan di wat atau urat (bhuna alit). Kawisesan dari Banaspati Raja ini yang berasal dari lamas adalah ngalahang kesaktian sarwa sastra muang mantra. Dialah taksu (kekuatan magis) dari Balian, Dalang dan Sastrawan. Dan yang terbungsu Sang Banaspati yang berasal dari ari-ari berada di sungai, di batu yang besar (buana agung) dan di daging (buana alit). Dia inilah yang menguasai pekarangan, pabianan. Dia mampu menghilangkan desti, pepasangan dan segala macam penyakit. Karena kawisesan Kanda Pat ini maka badan manusia terhindar dari mara bahaya. Keempatnya harus selalu diingat dan diberi sajen pada waktu-waktu tertentu. Bila melupakan mereka, maka bencana akan menimpa orang yang mempunyai kanda pat tersebut. Beberapa Balian mengatakan bahwa catur nyama itu dapat menjadi Kanda Pat Bhuta bila dia marah dan menjadi Kanda Pat Dewa atau Kanda Pat Sari kalau mereka baik. Itulah sebabnya manusia harus selalu berusaha untuk menjaga agar catur nyama itu menjadi Kanda Pat Sari sehingga mereka akan tetap menjaga dirinya, serta terhindar dari gangguan penyakit.
Caranya ialah dengan senantiasa ingat padanya dan menghaturkan sajen sebagai perwujudan rasa terima kasih atas segala bantuannya baik selama di dalam kandungan maupun setelah berada di luar kandungan. Sebenarnya catur nyama itu ada adalah berkat kasih sayang dari Hyang Widhi. Dan beliau pula yang menugaskan kepada Kanda Pat itu untuk menjaga ciptaanNya berupa Rare Kumara agar terus hidup dan berkembang menjadi manusia sakti yang luhur budi.
Untuk membuat bebahi atau bebai yang dipergunakan ialah janin atau gugur dari kandungan setelah berumur 3 bulan. Para Balian percaya dan yakin bahwa kamareka baru menjadi Rare Kumara setelah berusia 3 bulan. Pada usia inilah terbentuk catur nyama, yang berupa yeh nyom (air ketuban), darah, lamas dan ari-ari atau placenta. Bayi yang berumur 3 bulan ini besarnya seujung hulu keris, dan sudah berwujud manusia, telah tampak kepala, badan sebagai manusia. Bayi keguguran ini disimpan dalam peti kecil (sekarang disimpan di dalam stoples) dan dibuatkan sesajen sesuai dengan urutan upakara manusia yadnya, mulai dari upacara kelahiran. Setelah 3 hari dianggap tali pusar sudah putus, maka dibuatkan upacara kepus udel. Agar bayi tidak berbau, maka dikeringkan dibawah sinar matahari. Setelah kering dimasukkan lagi ke dalam tempat penyimpanan. Pada hari ke-42 yang di Bali disebut abulan pitung dina, dibuatkan upacara tutug kambuhan. Dan setelah 105 hari, diadakan upacara tiga bulan, kemudian pada umur bayi 210 hari dibuatkan upacara otonan. Upacara otonan ini terus dilakukan setiap hari ke-210 merupakan ulang tahun bagi bayi tersebut. Semua pelaksanaan baik upacara maupun keberadaan bayi tersebut harus dirahasiakan. JIka rahasia ini dilanggar, maka akan dikutuk oleh Bhatara Dalem. Kekuatan kemanjurannya hilang malahan akan menjadi mala petaka bagi dirinya.
Pd hari otonan 1, bayi itu pada malam hari dibawa ke kuburan, biasanya pada hari Kajeng Kliwon. Disini dimohonkan kepada Bhatari Durga agar diberikan kekuatan pada bayi itu, sehingga menjadi sakti mandraguna. Jika permohonannya dipenuhi, maka bayi itu memperlihatkan tandfa-tanda kehidupan. Semenjak itu dia dianggap telah menjadi manusia hidup, sehingga disebut Rare Wong. Sejak itu bayi telah menjadi bebahi dan harus dihidangkan sajen setiap hari tertentu, seperti purnama tilem, hari kajeng kliwon dan pada setiap hari otonannya. Bebahi ini sewaktu-waktu telah siap dikirim oleh pemiliknya untuk membencanai orang. Tetapi sebelum disuruh membencanai orang, terlebih dahulu dihidangkan sajen berupa nasi panca warna disertai lauk daging ayam hitam. Bersama catur nyama Kanda Pat Bhuta mereka akan memasuki badan orang yang akan dibencanai. Bila Catur Nyama Kanda Pat Dewa atau Kanda Pat Sari dari orang yang dibencanai tidak mampu melawan Kanda Pat Bhuta ini maka orang tersebut akan terkena penyakit bebahi. Orang itu menjadi bebahinan . Orangnya menangis dan selalu berteriak-teriak tak ada ujung pangkalnya. Sering pula mengamuk seperti orang gila. Balian penengen yang sakti akan mampu mengusir bebahi ini dari dalam tubuh si sakit. Dan bebahi ini akan mengucapkan kata-kata melalui badan orang yang sakit, bhwa dia takut dan akan pergi dari badan si sakit, serta tidak akan kembali lagi ke badan itu. Kadang-kadang bebahi menyebutkan pula siapa yang menyuruh memasuki badan orang itu. Setelah diberi mantra seperlunya, maka si sakit akan sadar dam pulih seperti semula, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa dalam tubuhnya, kecuali rasa lelah dan lemas. Dia tidak ingat apa yang telah diperbuat dan dikatakan sewaktu kemasukan bebahi. Dia tidak sadar akan dirinya.

Triloka Ketiga: (Svah Loka) Alam-aIam suci.

 


Om awigenammastu namo siddam
Semoga tidak ada halangan dan berhasil
Sembah sujud hamba kehadapan Ida Sanghyang Parama Wisesa,yang(ala-ayuning)kehidupan manusia di dunia ini.Semoga tidak ada halangan dalam penulisan babad(sastra sejarah) ini.Bebas hamba dari segala kesalahan dan kekeliruan,karena kurang paham terhadap Purana Tattwa,serta dengan hati yang tulus dan suci bermaksud menyusun cerita sejarah,sebagai usaha untuk mengingatkan para keluarga dan anak cucu.Semoga berhasil dan mencapai kesempurnaan.
Svah loka sering diistilahkan sebagai alam terang, alam cahaya atau alam atas. Disebut alam terang karena suasana alam ini memang terang dengan cahaya yang indah dan damai. Disebut alam atas bukan karena lokasinya di atas, tapi karena tingkat kesadaran jiwa-jiwa di alam ini tinggi atau lebih di atas. Jadi alam atas adalah alam yang dihuni oleh mereka yang tingkat kesadaran dan kebijaksanaannya paling tinggi.
Svah loka adalah alam yang dihuni oleh jiwa-jiwa yang bathinnya bersih, serta hidupnya penuh welas asih dan kebaikan, sampai pada yang kesadarannya sudah luas. Umumnya kita menyebut mereka sebagai pitara, vidyadhari [bidadari], betara atau dewa-dewi. Mahluk alam-alam atas atau alam luhur selalu tampak bercahaya, ada yang bercahaya putih, ada yang bercahaya keperakan dan ada bercahaya yang ke-emasan. Di lapisan dimensi alam ini kita merasakan kebahagiaan dan kedamaian luar biasa, karena proyeksi positif dari pikiran kita sendiri. Pikiran polos dan ingatan [kenangan] baik, terproyeksikan menjadi nyata oleh energi-energi luhur di alam ini. Demikian juga kondisi keadaan alam ini penuh dengan kebahagiaan.
Svah loka terdiri dari lima lapisan dimensi alam. Setiap lapisan dimensi alam ini memiliki banyak dunia-dunia tersendiri, dalam satu dimensi yang sama. Semakin positif dan halus lapisan dimensi Svah Loka yang kita masuki, semakin dalam kebahagiaan dan kedamaian yang dirasakan sang atma.
Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, bahwa ketika seseorang mengalami kematian, atma akan mengalami pengalaman-pengalaman transenden, yang kemudian diikuti dengan perpindahan ke dimensi yang berbeda dengan berbagai kemungkinan perjalanan. Kemungkinan yang akan kita bahas disini adalah kemungkinan dimana atma kemudian akan berhasil memasuki Svah Loka. Atma
akan memasuki alam-alam suci yang sesuai dengan tingkat kemurnian bathinnya sendiri, serta energi akumulasi karma baik-nya.
Salah satu pengetahuan yang penting untuk diketahui bahwa ketika sang atma berhasil memasuki Svah Loka, dia akan menjadi penghuni alam tersebut dan memperoleh wujud dan jatidiri baru. Wujud dan jatidiri-nya seketika atau bisa juga perlahan-lahan akan berubah, sesuai proses perjalanan dan transisi-nya sendiri, menjadi wujud penghuni dimensi atau dunia alam-alam suci tersebut.
Berikut ini penulis akan menyampaikan penjelasan mengenai Svah Loka. Dengan catatan dalam hal ini ada samaya bahwa penjelasan detail mengenai alam-alam suci ini ada yang diijinkan dibuka dalam tulisan ini dan ada yang tidak.
1. Svah Loka lapisan atau dimensi pertama : SVARGA LOKA.
Pencapaian alam surgawi yang paling bawah adalah mencapai Svarga Loka. Svarga Loka adalah dimensi alam semesta suci tingkat pertama yang berlimpah kebahagiaan, dimana di dalamnya terbagi-bagi lagi dalam berbagai banyak tingkatan alam-alam suci dan masing-masing alam suci berada di bawah perlindungan seorang dewa atau dewi pengayom dan pelindung alam tersebut. Seperti misalnya Ashura Loka, Pitra Loka [alam para leluhur], lalu ada Gandharva Loka, Yama Loka, Daiva Loka, Indra Loka, dsb-nya.
Sang atma akan dapat mencapai alam-alam Svarga Loka setelah kematian berkat hidup penuh dengan kebaikan. Dengan kata lain memiliki akumulasi karma baik yang berlimpah. Sang atma akan merasakan kebahagiaan yang jauh melebihi kebahagiaan dalam kehidupan manusia yang kita rasakan di bumi. Kebahagiaan di alam ini berasal dari kebahagiaan indriya seperti kesenangan sentuhan, kesenangan pikiran, kesenangan makanan, kesenangan pendengaran dan kesenangan wujud. Di alam-alam Svarga Loka ini tidak ada kesulitan atau kesengsaraan.
Akan tetapi dapat mencapai alam-alam Svarga Loka tidak menghentikan siklus samsara [siklus kelahiran kembali yang berulang-ulang], karena sang atma masih terikat dengan karma dan samskara. Lamanya dapat berada di alam-alam Svarga Loka ini bervariasi, mulai dari ratusan s/d ribuan tahun manusia, tergantung malinggih-nya di alam yang mana. Tapi yang jelas semuanya akan
berakhir.
Ciri-ciri akan berakhirnya masa tinggal bagi para dewa di alam ini antara lain pakaian surgawi mulai kotor, tubuh mulai berbau, ketiak mulai berkeringat, tubuh kehilangan pendar cahaya, mata yang jernih mulai redup dan sifat kedewataan-nya mulai tersendat. Inilah pertanda waktunya sang atma harus reinkarnasi atau terlahir kembali ke dunia sebagai manusia untuk menyelesaikan sisa-sisa karmanya sendiri, serta melanjutkan evolusi peningkatan kesadarannya.
Dapat menjadi dewa atau dewi di alam-alam Svarga Loka tentunya sudah merupakan pencapaian yang bagus, kalau kita bandingkan dengan terjerumus ke alam-alam bawah. Tapi di jalan dharma itu bukanlah tujuan utama kita. Pencapaian paling mulia bagi manusia adalah apabila dia bisa mencapai jivanmukti atau bebas dari siklus samsara [tidak dilahirkan kembali] dan memasuki alam-alam mahasuci, atau bahkan dapat mengalami moksha [pembebasan sempurna] Sebagaimana dimensi-dimensi alam lainnya, dimensi alam Svarga Loka ini juga memiliki banyak dunia-dunia tersendiri, dalam satu dimensi yang sama.
Berikut adalah penjelasan beberapa diantara-nya :
- Ashura Loka
Ashura Loka adalah alam Svarga Loka tingkat yang paling rendah. Yang berdiam disini adalah para mahluk setengah-dewa. Wujudnya sama seperti manusia, hanya saja dalam wujud penghuninya ada sesuatu yang ekstrim. Yaitu para laki-laki sangar dan wajahnya sangat buruk rupa, sedangkan para perempuan sangat cantik mempesona. Alam disini cukup mirip alam manusia tapi sangat indah. Ada kota, perkampungan, tempat sembahyang, dsb-nya.
Menurut para satguru dari penulis, atma yang masuk alam ini semasa hidup umumnya punya karma buruk yang banyak, tapi faktor kuncinya adalah semasa kehidupan pernah melakukan karma baik yang bernilai maha-utama. Pernah terjadi satu kejadian nyata seorang penjahat yang semasa hidup banyak melakukan pelanggaran dharma. Tapi dia pernah melakukan satu kebaikan yaitu berjuang menyelamatkan seseorang dari ancaman berbahaya penjahat-penjahat lainnya. Tanpa dia ketahui orang yang diselamatkan ini adalah seorang satguru suci dengan suatu tugas rahasia yang amat penting bagi manusia.
Berkat satu saja karma baik ini, yang ternyata karma baiknya bernilai mahautama, penjahat kelas berat ini ketika meninggal tidak masuk alam-alam bawah, tapi dapat masuk ke alam suci paling rendah, yaitu alam Ashura Loka ini. Menjadi mahluk setengah-dewa. Ini adalah satu kisah yang diceritakan oleh salah satu satguru penulis, dimana beliau mengetahui hal ini karena mempunyai
kemampuan untuk menjelajahi alam-alam niskala. Kunci keberuntungan seperti ini adalah semasih kita hidup, kita penuh welas asih dan kebaikan tanpa syarat dan tanpa mengharapkan imbalan kepada
semua mahluk, sehingga walaupun bathin kita belum bersih sempurna, tetap tersedia peluang untuk memasuki alam-alam suci.
- Pitra Loka
Pitra Loka adalah alam para leluhur. Disebut alam leluhur karena secara umum orang kebanyakan [baca : para leluhur] paling banyak ada yang masuk ke alam ini. Alam Pitra Loka ini mirip alam manusia tapi indah. Ada kota, perkampungan, tempat sembahyang, dsb-nya. Para dewa di alam ini yang kita sebut sebagai pitara. Wujudnya sama seperti manusia, tidak banyak berbeda dengan ketika mereka masih hidup di dunia. Disini atma dapat mengalami hasrathasrat duniawi yang sama seperti halnya di alam marcapada.
- Yama Loka
Alam ini adalah alam tempat transit atau tempat tinggal sementara bagi atma-atma untuk melanjutkan perjalanan berikutnya atau untuk reinkarnasi kembali. Di alam ini keadaannya cukup mirip dengan alam manusia. Atma yang dapat melewati antarabhava dan kemudian perjalanannya ternyata masuk ke Yama Loka ini, akan melihat adanya aula super besar yang merupakan ruang tunggu. Di aula besar ini atma yang berkumpul sangat banyak, mereka berasal dari berbagai tempat dari seluruh penjuru dunia. Tata cara pengaturan niskala di aula besar ini adalah antara atma yang satu dengan lainnya tidak dapat berkomunikasi satu sama lain. Selain itu semuanya pasti tidak saling kenal. Sang atma tidak akan dapat bertemu dengan orang yang dikenalnya dalam masa kehidupan manusia.
Ciri khas dari aula super besar ini adalah ada terdapat ruang pengadilan. Dimana disana atma diadili. Semua kesalahan dan semua kebaikannya semasa kehidupan manusia akan diuraikan. Disini biasanya mereka yang dalam kebodohan [avidya] sering akan sangat sengsara, karena apa yang dia anggap baik dan benar semasa hidupnya ternyata adalah salah. Standar benar-salah dalam ukuran mereka yang bodoh sama sekali tidak berlaku disini. Kelicikan, tipu daya, akal-muslihat, manipulasi, dsb-nya, sama sekali tidak dapat disembunyikan disini. Yang berlaku disini adalah kebenaran universal. Dari ruang pengadilan ini kemudian akan ditentukan perjalanan sang atma berikutnya.
Ada atma yang “diturunkan” dulu ke Bhur Loka untuk sementara, yang tujuannya untuk membersihkan karma-karma buruknya. Nantinya kalau jangka waktunya sudah cukup, atma akan dikembalikan lagi ke alam ini. Ada atma yang kemudian tinggal di Yama Loka ini dan diberikan tugas-tugas tertentu sesuai akumulasi karmanya sendiri. Dia akan tinggal di sebuah rumah di alam ini, dimana di alam ini ada kota dan perkampungan dengan banyak rumahrumah. Ada juga atma yang ditugaskan berlatih sadhana dan membina diri di alam Yama Loka ini, sebelum “dinaikkan” ke alam yang lebih tinggi.
Atma yang berhasil keluar dari Bhur Loka [Sapta Petala] biasanya akan masuk alam ini sebelum dilahirkan kembali. Demikian juga atma yang datang dari Svah Loka untuk reinkarnasi kembali, biasanya juga akan masuk alam ini sebelum dilahirkan kembali. Jangka waktu rata-rata [kebanyakan] untuk reinkarnasi kembali berkisar antara 50 sampai 400 tahun. Tapi bisa lebih cepat atau lebih lambat.
Penyebabnya adalah sang atma hanya dapat lahir kembali ketika ada moment dan tempat yang tepat untuk lahir kembali, sesuai dengan putaran karmanya sendiri. Artinya atma akan tinggal di alam ini, antre untuk dapat lahir kembali, menunggu ada moment dan tempat yang tepat untuk lahir kembali sesuai putaran karmanya sendiri. Pengayom dan pelindung alam Yama Loka ini adalah Dewa Yama atau Sanghyang Yamadipati.
- Indra Loka
Indra Loka adalah alam suci tertinggi pada dimensi Svarga Loka ini. Di alam ini sang atma akan memiliki wujud fisik seperti manusia yang indah, sangat tampan [dewa] atau cantik [dewi] tiada banding. Pemandangan disini juga sangat indah. Selain itu, istana paling indah, pakaian paling indah, makanan paling nikmat dan musik paling merdu semuanya ada disini. Pengayom dan pelindung alam Indra Loka ini [termasuk beserta 33 alam dewa yang lain di dimensi Svarga Loka] adalah Dewa Indra.
2. Svah Loka dimensi kedua : MAHAR LOKA.
Jika enam kegelapan bathin lenyap maka segala bentuk kesengsaraan juga lenyap. Jika enam kegelapan bathin lenyap maka tindakan-tindakan yang didasari penyebab-penyebab karma juga lenyap, sehingga kelahiran kembali tidak terjadi dari alam-alam mahasuci terendah hingga tertinggi, sampai dengan pencapaian moksha [penyatuan kosmik].
Ketika kematian tiba bagi seorang sadhaka dan atma-nya dapat mencapai dimensi Mahar Loka secara mandiri, maka pencapaian ini di dalam ajaran Hindu Dharma disebut sebagai Salokya-Mukti. Mukti berarti lepas atau bebas, salokya berarti “tinggal di alam surga yang sama”. Disebut salokya atau “tinggal di alam surga yang sama” karena sang atma tinggal pada sebuah alam di dimensi alam semesta suci tingkat kedua atau Mahar Loka, di bawah perlindungan seorang dewa atau dewi mahasuci tingkat tinggi pengayom alam tersebut.
Mahar Loka adalah dimensi tingkat pertama alam-alam samadhi para orang-orang suci. Di alam ini para dewa-dewi memiliki wujud fisik seperti manusia, tapi yang wujudnya sangat indah bercahaya ke-emasan, sangat tampan [dewa] atau cantik [dewi], dengan dunia yang juga sangat indah. Sang atma akan merasakan kedamaian yang luas dan dalam, yang berpusat pada kejernihan bathin dan pancaran sifat welas asih. Ini tentunya berbeda dengan kebahagiaan di dimensi alam-alam Svarga Loka dimana kebahagiaan berasal dari kesenangan sentuhan, kesenangan pikiran, kesenangan makanan, kesenangan pendengaran dan kesenangan wujud.
Sang atma yang mencapai dimensi alam ini siklus samsara-nya telah berakhir [tidak dilahirkan kembali ke alam marcapada] dan akan menyelesaikan sisa-sisa putaran karmanya di alam ini. Serta di alam ini juga membina diri untuk melanjutkan evolusi kesadarannya kepada tingkat kesadaran yang lebih tinggi. Dimensi alam-alam semesta suci tingkat kedua atau Mahar Loka ini terdiri dari berbagai alam-alam suci. Artinya ada banyak alam-alam suci di dimensi ini.
Alam suci tingkat yang tertinggi di dimensi Mahar Loka ini adalah Brahma Loka. Pengayom dan pelindung-nya adalah Dewa Brahma. Dalam wujud fisiknya beliau menampilkan diri sebagai dewa yang berwajah empat atau catur muka. Brahma Loka ini terdiri dari tiga mandala. Mandala luar diisi oleh para dewa-dewi yang semasa hidupnya adalah para yogi yang taat bersadhana. Di mandala luar dari Brahma Loka ini para dewa-dewi bersikap dalam posisi meditasi di angkasa raya. Ada yang duduk bersila dalam padmasana, ardha-padmasana, sukasana, siddhasana, ada juga yang dalam posisi tadasana [berdiri], savasana [berbaring terlentang], dsb-nya. Ada yang berpakaian putih-putih, ada yang berpakaian oranye, ada yang berpakaian merah, ada yang tidak memakai baju atas, ada yang tanpa busana sama sekali [avadhuta digambara], dsb-nya. Jumlah dewa-dewi di mandala luar ini sangat banyak. Mereka tekun bermeditasi dan membina diri.
Mandala dalam diisi oleh para asisten Dewa Brahma. Sedangkan pada mandala inti adalah stana dari Dewa Brahma. Dewa Brahma adalah dewa pengayom bagi dewa-dewi suci tingkat awal untuk terus bergerak naik menuju alam-alam suci tingkat tinggi. Dengan kata lain menjadi perintis atau pencipta dewa-dewi dengan kesadaran tinggi. Itulah sebabnya oleh para maharsi dan para mahayogi Dewa Brahma disebut sebagai dewa pencipta.
.
3. Svah Loka dimensi ketiga : JANA LOKA.
Ketika kematian tiba bagi seorang sadhaka dan atma-nya dapat mencapai dimensi Jana Loka secara mandiri, maka pencapaian ini di dalam ajaran Hindu Dharma disebut sebagai Sarupya-Mukti. Mukti berarti lepas atau bebas, sarupya berarti “memiliki bentuk atau wujud yang sama”. Disebut mukti karena siklus samsara-nya telah berakhir [tidak dilahirkan kembali ke alam marcapada] dan disebut sarupya atau “memiliki bentuk atau wujud yang sama” karena kata dewa sendiri berasal dari akar kata “div” yang bermakna cahaya. Dimensi alamnya disebut Jana Loka. Pada dimensi alam ini dewa-dewi wujudnya diselimuti lingkaran cahaya terang benderang dan melayang di udara.
Jana Loka adalah dimensi tingkat kedua alam-alam samadhi para orangorang suci. Alam suci dimensi tingkat ketiga ini dipenuhi oleh cahaya suci tanpa batas yang maha-damai maha-sejuk tiada tara yang saling menyinari, memenuhi sembilan penjuru. Jumlah dewa-dewi di dimensi alam-alam semesta suci tingkat ketiga atau Jana Loka ini sangat banyak. Sebagian dari para dewa-dewi di alam ini semasa kehidupan di alam manusia adalah orang-orang suci yang menempuh jalan spiritual sebagai para Tantrika, para Maha-yogi atau Maha-yogini dan para Siddha. Dan seperti dimensi alam suci lainnya, Jana Loka juga terdiri dari berbagai alam-alam suci. Artinya ada banyak alam-alam suci di dimensi ini. Misalnya Siddha Loka, Sukhawati Loka, dsb-nya. Di alam Siddha Loka ada berjuta-juta dewa-dewi yang masih terus membina diri untuk melanjutkan evolusi kesadarannya kepada tingkat kesadaran yang lebih tinggi.
4. Svah Loka dimensi ke-empat : TAPA LOKA.
Ketika kematian tiba bagi seorang sadhaka dan atma-nya dapat mencapai dimensi Tapa Loka secara mandiri, maka pencapaian ini di dalam ajaran Hindu Dharma disebut sebagai Samipya-Mukti. Mukti berarti lepas atau bebas, samipya berarti “menuju penyelesaian akhir”. Disebut mukti karena siklus samsara-nya telah berakhir dan disebut samipya atau “menuju penyelesaian akhir” karena merupakan tahap pertama menuju kepada penyatuan kosmik atau moksha.
Dimensi alamnya disebut Tapa Loka. Tapa Loka adalah dimensi tingkat ketiga alam-alam samadhi para orang-orang suci. Disebut “tapa” karena kesadarannya konstan laksana samadhi terus-menerus [tapa] dan luas menjangkau penjuru-penjuru ruang semesta. Antara sang diri, semua mahluk dan alam semesta semuanya saling terhubung. Tat tvam asi, saya adalah dia, dia dan saya adalah sama. Lalu semakin dalam sampai tidak terhingga. Semuanya suci, semuanya sempurna. Atma jnana atau kesadaran atman-nya sudah sangat maju.
Kedamaian-nya tidak terhingga, tidak dapat digambarkan. Dimensi alam-alam semesta suci tingkat ke-empat atau Tapa Loka ini terdiri dari berbagai alam-alam suci. Artinya ada banyak alam-alam suci di dimensi ini. Pada alam puncak atau tertinggi dari dimensi alam ini, dewa-dewi tiada berwujud melainkan sebagai kesadaran kosmik, sebagai kesadaran luas melingkupi berbagai penjuru ruang semesta. Tapi beliau juga menampilkan dirinya dalam manifestasi wujud fisik berupa dewa atau dewi mahasuci berbadan laksana manusia. Alam puncak atau alam suci tingkat yang tertinggi di dimensi ini adalah Subhakristna Loka [Vaikuntha Loka]. Dimana Vaikuntha Loka ini terdiri dari tiga mandala. Pengayom dan pelindung-nya adalah Dewa Vishnu. Dalam wujud fisiknya beliau menampilkan diri sebagai dewa yang memegang chakra dan menunggangi burung garuda.
Vaikuntha Loka adalah alam para avatara. Artinya avatara dari Vaikuntha Loka sangatlah banyak, diantaranya terdapat puluhan avatara yang terkenal di dunia manusia. Banyak dewa-dewi dari alam ini, walaupun sesungguhnya telah bebas dari siklus samsara, akan tetapi yang karena mengemban tugas suci atau karena kedalaman welas asih kemudian memutuskan untuk terlahir kembali ke dunia sebagai avatara, dengan misi melindungi alam semesta dan menyelamatkan semua mahluk. Itu sebabnya oleh para maharsi Dewa Vishnu disebut sebagai dewa pemelihara atau dewa pelindung alam semesta. Karena para avatara dengan misi melindungi alam semesta dan menyelamatkan semua mahluk banyak yang berasal dari alam beliau.
5. Svah Loka dimensi kelima : SATYA LOKA.
Ketika kematian tiba bagi seorang sadhaka dan atma-nya dapat mencapai dimensi Satya Loka secara mandiri, maka pencapaian ini di dalam ajaran Hindu Dharma disebut sebagai Sayujya-Mukti. Mukti berarti lepas atau bebas, sayujya berarti “mendekati penyatuan”. Disebut mukti karena siklus samsara-nya telah berakhir dan disebut sayujya atau “mendekati penyatuan” karena merupakan tahap akhir menuju kepada penyatuan kosmik atau moksha, yang sudah sangat mendekati penyatuan kosmik tersebut.
Dimensi alamnya disebut Satya Loka. Satya Loka adalah dimensi tingkat keempat alam-alam samadhi para orang-orang suci. Dimensi alam-alam semesta suci tingkat ke-lima atau Satya Loka ini terdiri dari beberapa tingkat alam-alam suci. Dan alam suci tingkatan yang tertinggi di dimensi ini adalah Maha-Isvara Dharma Loka [Shiva Loka]. Alam ini merupakan alam suci puncak dari semua alam suci, sebelum alam kamoksan. Pengayom dan pelindung alam ini adalah Dewa Shiva. Dewa Shiva adalah pembimbing peleburan jiwa individu menjadi kesadaran kosmik. Peleburan ahamkara [ke-aku-an, ego] menuju moksha. Itu sebabnya oleh para maharsi Dewa Shiva disebut sebagai dewa pelebur.
Maha-Isvara Dharma Loka ini terdiri dari tiga mandala. Mandala luar diisi oleh jutaan dewa-dewi yang taat bersadhana dan penuh bhakti, yang memperoleh karunia Dewa Shiva. Di alam ini para dewa-dewi memiliki wujud fisik seperti manusia, dengan pendaran cahaya yang mahasuci. Mereka tekun bermeditasi dan membina diri. Dewa-dewi dari mandala luar Maha-Isvara Dharma Loka ini juga banyak yang menjadi avatara.
Mandala dalam dari Maha-Isvara Dharma Loka adalah alam yang sangat suci dan diisi oleh para orang-orang suci tingkat tinggi. Umumnya para dewa-dewi di alam ini semasa di alam manusia menjalani kehidupan bertapa dengan keteguhan sadhana yang penuh. Selalu merelakan sandang, merelakan pangan, menahan lapar [melakukan upavasa atau puasa], membisu [merelakan ucapan], merelakan harga diri, merelakan nama baik, merelakan tubuh jasmani, merelakan wujud manusia [artinya bertelanjang] dan merelakan kematian. Serta dalam dirinya mengembangkan sifat welas asih tanpa batas.
Dewa-dewi di mandala dalam dari Maha-Isvara Dharma Loka ini selalu terserap ke dalam nirvikalpa samadhi atau samadhi kemanunggalan semesta. Ini adalah mendekati kesempurnaan kesadaran atman yang luas dan dalam. Berlangsung tanpa henti. Ini juga merupakan alam para avatara, dimana karena kedalaman welas asih beliau para dewa atau dewi dari alam ini banyak yang lahir kembali ke dunia menjadi satguru yang terang dan membebaskan bagi manusia. Pada mandala inti dari Maha-Isvara Dharma Loka adalah stana Dewa Shiva.
Ini merupakan alam puncak dimensi alam semesta suci tingkat ke-lima atau Satya Loka. Para mahadewa yang “melebur menjadi satu” dengan Dewa Shiva di alam ini adalah mereka yang disebut mahat atau maha-kesadaran kosmik. Tidak memiliki wujud, tapi sebagai chittakash atau maha-kesadaran yang menyatu konstan laksana meditasi terus-menerus dan luas tidak terbatas sebagai seluruh penjuru ruang alam semesta dan para mahluk itu sendiri. Berpusat pada keseimbangan bathin yang sempurna [upeksha] serta pancaran sifat welas asih [dayadhvam] yang tidak terhingga tanpa batas. Yang kemudian menghasilkan kebijaksanaan sempurna [rtam bhara prajna], sebuah kebijaksanaan tidak terjelaskan yang jauh melampaui standar manusia.
MOKSHA
Moksha adalah penyatuan kosmik antara Atman dengan segala keberadaan maupun diluar keberadaan. Tercapai ketika sang atma telah mencapai kondisi penuh keheningan sempurna. Atman Brahman Aikyam. Di Jawa disebut manunggaling kawulo lan Gusti. Laksana setetes air yang tersadar bahwa dirinya bukanlah setetes air, melainkan samudera yang maha luas.
Ini adalah puncak pencapaian samadhi yang sangat sulit dijelaskan. Tidak ada kebahagiaan dan tidak ada kesengsaraan, tidak ada kesucian dan tidak ada kegelapan, ini disebut advaitta citta atau melampaui seluruh dualitas, segala keterkondisian bathin sudah lenyap sempurna. Dan di tingkat kesempurnaan yang maha-sempurna, semua kata-kata, bahasa dan logika manusia tidak lagi dapat menjangkaunya. Itu sebabnya para satguru yang sudah sampai di sini semuanya menggunakan simbol-simbol, bahasa simbolik yang puitis atau penjelasan sesingkat mungkin.
SIKAP KITA SEBAGAI MANUSIA
Dengan mahluk-mahluk alam suci manapun sudah selayaknya kita sebagai manusia harus memiliki rasa hormat dan sopan santun. Banyak buku-buku suci Hindu yang menerangkan bagaimana cara menghormati para dewa yang kita kenal dengan dewa yajna. Ini sudah selayaknya kita lakukan karena para dewa sering membantu, menjaga dan melindungi kita agar kita bisa mengembangkan diri.