Selasa, 12 Juli 2022

Panca Mahabhuta Sebagai Anasir Dasar Lahir, Hidup, Mati

 


Panca Mahabhuta Sebagai Anasir Dasar Lahir, Hidup, Mati. selalu dalam bingkaianya
(Semoga bermanfaat dan Sambil beryadnya)
Kalau kita perhatikan segala sesuatu yang ada di sekitar kita maka beraneka ragam benda, pemandangan yang indah dan mahluk hidup yang dapat kita lihat. Kesemuanya itu merupakan isi alam semesta atau Buana Agung yang dapat menimbulkan sebuah pertanyaan sederhana yang selalu menggelitik hati kita yaitu "Dari manakah asal mula segala sesuatu yang ada di alam semesta ini atau lebih sederhana lagi dari mana asal mula alam semesta ini yang dikenal pula sebagai Buana Agung dalam Agama Hindu?".
Sejauh ini sains (ilmu pengetahuan modern) telah mempelajari segala sesuatu yang ada di alam raya ini (Bhuana Agung) dari berbagai aspek tapi belum dapat menjawab pertanyaan sederhana tersebut di atas. Telah dikemukaan berbagai teori tentang terbentuknya alam raya dan asal mahkluk hidup. Seperti Big Bong, Teori Generasio Spontania dan lain sebagainya, semuanya itu juga tidak dapat menjawab pertanyaan di atas.
Segala sesuatu yang ada dan yang akan ada di alam raya ini semuanya bersumber atau disebabkan oleh penyebab pertama atau sering disebut causa prima, itulah yang dipercaya sebagai Tuhan Yang Maha Esa. Menurut Sada Siwa Tattwa bahwa Sada Siwa merupakan kesadaran kedua setelah Paramasiwa, ia bersifat wyapara yang berstana dalam padmasana yang disebut cadhusakti, dengan saktinya ia menciptakan seluruh alam semesta beserta isinya. Jadi causa prima itu adalah Sada Siwa.
Alam raya atau Bhuana Agung ini disusun dari anasir dasar Panca Mahabhuta, yaitu prethiwi, apah, teja, bayu dan akasa, yang menentukan keberadaan alam semesta beserta isinya.
Penciptaan Panca Mahabhuta
Panca Mahabhuta sebagai penyusun alam semesta (Buana Agung) bersumber dari dua azas yang sangat sukma, gaib dan abadi yaitu Cetana dan Acetana yang juga disebut sebagai sebab mula terciptanya segala yang ada (causa prima). Cetana berkedudukan di atas, berwujud kesadaran tertinggi dan Acetana berkedudukan di bawah berwujud maya (lupa). Azas yang di atas dapat masuk menyusupi dan melingkupi azas yang di bawah. Pertemuan Cetana dan Acetana menciptakan Purusa dan Pradana yang merupakan sumber roh dan materi. Pertemuan Purusa dan Pradana menghasilkan (menciptakan) Citta-Guna.
Citta merupakan perwujudan dari Purusa dan Guna perwujudan dari Pradana, Guna sebagai sifat Citta dan tiga yaitu : satwan, rajas dan tamas. Akibat ketertarikan Citta pada Guna maka terciptalah Buddhi. Buddhi demikian banyaknya dalam rupa yang beraneka sifatnya seperti Catur Aiswarya, Astuti, Asthasiddhi, kebalikan Catur Aiswarya dan Panca Wretaya Citta yang begitu lekat dengan sifatnya maka terbentuklah Ahengkara. Ahengkara yang merupakan ego atau kekuatan bertemu bertemu dengan gunanya (Tri Guna) maka menjadi tiga yaitu Si Wekreta, Si Tejasa dan Si Bhutadi.
Si Bhutadi yaitu merupakan pertemuan buddhi dengan tamah dapat menciptakan Panca Tan Matra merupakan lima keadaan yang sangat halus yaitu:
1. Sabda tan matra
2. Sparsa tan matra
3. Rupa tan matra
4. Rasa tan matra
5. Ganda tan matra
Yang merupakan badan atma yang berwujud wasana. Dari Panca Tan Matra melahirkan Panca Mahabhuta yaitu:
1. Akasa lahir dari sabda tan matra melalui manah
2. Bayu lahir dari soarsa tan matra melalui akasa
3. Teja lahir dari rupa tan matra melalui bayu
4. Apah lahir dari rasa tan matra melalui teja
5. Perthhvi lahir dari ganda tan matra melalui apah
Panca Mahabhuta Sebagai Anasir Dasar Penyusun Alam Semesta (Buana Agung)
Panca Mahabuta yaitu akasa, bayu, teja, apah, dan perthiwi merupakan lima anasir dasar yang dijadikan penyusun alam semesta ini, keberadaannya berstruktur dari yang paling atas yaitu akasa paling halus makin bawah yaitu bayu, teja, apah semakin kasar dan perthiwi yang paling di bawah paling kasar.
1. Akasa
Akasa paling diatas merupakan Panca Mahabhuta yang paling halus berupa ruang kosong yang hampa, sunya tidak berwujud dan tidak tampak. Akasa sebagai anasir dasar penyusun alam semesta berperan sebagai ruang wahana atau tempat keberadaan segala yang ada dan terjadi di alam semesta ini. Alam raya ini terbentuk dari satu ruang yang kosong yang hampa yang tak terbatas luasnya dimana semua isi alam semesta ini seperti planet-planet dan mataharinya, semua materi atau benda-benda yang ada dan semua mahluk hidup berada di dalamnnya. Akasa merupakan ruang kosong pembentuk alam semesta.
2. Bayu
Bayu inipun masih halus, karena rupa,tapi ada tanda-tanda yang dapat menerangkannya misalnya, benda bergerak maka gerakan benda itu sendiri adalah tanda adanya bayu dalam benda itu. Dibandingkan dengan akasa bayu lebih kasar karena letaknya lebih di bawah, Bayu sebagai anasir dasar penyusun alam semesta berperan sebagai tenaga penggerak (energi) semua peroses yang terjadi dan segala sesuatu yang ada di alam semesta ini, seperti benda-benda yang ada di sekitar kita sampai benda planet yang ada diluar angkasa semua bergerak tidak ada yang diam. Gerakannya bermacam-macam ada gerak rotasi, gerak translasi, gerak vibrasi dan sebagainya. Semua gerakan itu disebabkan oleh bayu sebagai tenga penggeraknya.
3. Teja
Teja berada di bawah bayu maka lebih kasar daripada bayu. Teja keberadaannya berupa sinar atau cahaya yang tiak berwujud sehingga tidak dapat disentuh jadi masih halus tapi sudah tampak atau dapat dilihat sedangkan bayu keberadaanna tidak dapat dilihat. Teja sebagai anasir dasar membentuk alam semesta berperan sebagai pembentuk sinar yang menyinari segala benda atau isi alam materi yang ada di alam ini dapat dilihat (tampak) dengan mata. Segala sesuatu yang dapat bersinar di alam ini dominan sebagai pembentuk alam ini, misalnva matahari yang bersinar terang merupakan benda (isi) alam semesta yang dapat mengeluarkan teja yang amat besar dari dalam dirinya demikian juga isi alam lainnya yang besinar.
4. Apah/Jala
Apah sudah kasar karena sudah dapat berwujud walau wujudnya dapat berubah-ubah sesuai dengan tempatnya. Apah sebagai anasir dasar penyusun alam semesta berperan sebagai pembentuk cairan yang menyusun alam semesta beseta isinya. Segala yang cair seperti air, minyak, alkohol, cairan pada tubuh dan lain-lain yang berada di alam ini merupakan peran apah sebagai pembentuk alam semesta.
5. Perthiwi
Perthhvi paling bawah sehingga paling kasar, wujudnya sudah tetap (padat). Perthhvi sebagai anasir dasar paling kasar penyusun alam semesta keberadaannya berperan untuk menentukan wujud benda-benda atau isi alam dan wujudnya padat yang tetap

APA ITU UPACARA MELASTI..??

 


Upacara Melasti dilaksanakan setiap 1 tahun sekali, yang merupakan rangkaian dari Hari raya Nyepi di Bali. Melasti dalam sumber Lontar Sunarigama dan Sanghyang Aji Swamandala yang dirumuskan dalam bahasa Jawa Kuno menyebutkan ” Melasti ngarania ngiring prewatek dewata angayutaken laraning jagat, papa klesa, letuhing bhuwana”.
Dari kutipan Lontar tersebut di atas, maka Melasti itu ada lima tujuannya yaitu:
• Ngiring prewatek dewata, ini artinya upacara melasti itu hendaknya didahului dengan memuja Tuhan dengan segala manifestasinya dalam perjalanan melasti. Tujuannya adalah untuk dapat mengikuti tuntunan para dewa sebagai manifestasi Tuhan. Dengan mengikuti tuntunan Tuhan, manusia akan mendapatkan kekuatan suci untuk mengelola kehidupan di dunia ini. Karena itu melasti agak berbeda dengan berbhakti kepada Tuhan dalam upacara ngodalin atau saat sembahyang biasa. Para dewata disimbolkan hadir mengelilingi desa, sarana pretima dengan segala abon-abon Ida Bhatara. Semestinya umat yang rumahnya dilalui oleh iring-iringan melasti itu menghaturkan sesaji setidak-tidaknya canang dan dupa lewat pintu masuknya kepada Ida Bhatara yang disimbolkan lewat rumah itu. Tujuan berbhakti tersebut agar kehadiran beliau dapat dimanfaatkan oleh umat untuk menerima wara nugraha Ida Bhatara manifestasi Tuhan yang hadir melalui melasti itu.
• Anganyutaken laraning jagat, artinya menghayutkan penderitaan masyarakat. Jadinya upacara melasti bertujuan untuk memotivasi umat secara ritual dan spiritual untuk melenyapkan penyakit-penyakit sosial. Penyakit sosial itu seperti kesenjangan antar kelompok, perumusuhan antar golongan, wabah penyakit yang menimpa masyarakat secara massal, dan lain-lain. Setelah melasti semestinya ada kegiatan-kegiatan nyata untuk menginventariskan berbagai persoalan sosial untuk dicarikan solusinya. Dengan langkah nyata itu, berbagai penyakit sosial dapat diselesaikan tahap demi tahap secara niskala. Upacara melasti adalah langkah yang bersifat niskala. Hal ini harus diimbangi oleh langkah sekala. Misalnya melatih para pemuka masyarakat agar memahami pengetahuan yang disebut “manajemen konflik” mendidik masyarakat mencegah konflik.
• Papa kelesa, artinya melasti bertujuan menuntun umat agar menghilangkan kepapanannya secara individual. Ada lima klesa yang dapat membuat orang papa yaitu; Awidya : Kegelapan atau mabuk, Asmita : Egois, mementingkan diri sendiri, Raga : pengumbaran hawa nafsu, Dwesa : sifat pemarah dan pendendam, Adhiniwesa : rasa takut tanpa sebab, yang paling mengerikan rasa takut mati. Kelima hal itu disebut klesa yang harus dihilangkan agar seseorang jangan menderita.
• Letuhing Bhuwana, artinya alam yang kotor, maksudnya upacara melasti bertujuan untuk meningkatkan umat hindu agar mengembalikan kelestarian alam lingkungan atau dengan kata lain menghilangkan sifat-sifat manusia yang merusak alam lingkungan. Umat hindu merumuskan lebih nyata dengan menyusun program aksi untuk melestarikan lingkungan alam. Seperti tidak merusak sumber air, tanah, udara, dan lain-lain.
• Ngamet sarining amerta ring telenging segara, artinya mengambil sari-sari kehidupan dari tengah lautan, ini berarti melasti mengandung muatan nilai-nilai kehidupan yang sangat universal. Upacara melasti ini memberikan tuntunan dalam wujud ritual sakral untuk membangun kehidupan spiritual untuk didayagunakan mengelola hidup yang seimbang lahir batin.

Dukuh Suladri

 


Dikisahkan seorang ahli ilmu pengeleakan/ilmu hitam yang bernama Dayu Datu
Perilaku jahat Dayu Datu membuat masyarakat mengusirnya hingga mengungsilah ia ke Gunung Mumbu
Di Gunung Mumbul, Dayu Datu hidup bersama abdi setianya, Ni Klinyar dan sisya-sisyanya yang lain. Dayu Datu yang sudah diusir tidak pernah merasa jera justru api dendamnya selalu berkobar untuk terus membalaskan sakit hati atas pengusiran itu. Karenanya Dayu Datu dan muridnya tak henti-henti mengganggu penduduk desa dengan pengeleakan /ilmu hitam.
Wayan Buyar, anak mekel Gde Kedampal ,seorang pria yang merasa diri paling hebat dan kaya. Ia selalu membuat warga di sekitar resah. Kesehariannya dipergunakan untuk berjudi, mabuk-mabukan dan main perempuan. Tak ada yang tidak mungkin untuk Wayan Buyar.
Suatu hari Wayan Buyar mendengar kabar bahwa di Pedukuhan Suladri, Gunung Kawi ada seorang wanita cantik bernama Ni Kusuma Sari. Timbullah niat Wayan Buyar untuk menjadikan Ni Kusuma Sari sebagai istri. Bersama para abdinya, berangkatlah Wayan Buyar menuju ke Gunung Kawi.
Kehidupan di gunung tentu saja damai, nyaman dan tenteram. Begitulah yang selalu dirasakan dalam keseharian Ni Kusuma Sari dan ayahnya, Dukuh Suladri. Selain sebagai anak, Ni Kusuma Sari juga menjadi murid kesayangan Dukuh Suladri. Setiap pengetahuan yang diberikan, selalu dapat dipahami oleh Ni Kusuma Sari. Lengkaplah apa yang dimiliki oleh Ni Kusuma Sari. Selain cantik, ia juga paham sastra agama dan ini terimplementasikan pada kesehariannya.
Dukuh Suladri, dengan kemampuan yang dimiliki telah mampu membuat suasana Gunung Kawi menjadi nyaman dan tentram. Pun dengan binatang-buinatang buas yang ada di hutan, telah dibuat menjadi jinak dan ikut menjaga keamanan pedukuhan.
Terasa seperti tidak ada tempat untuk bersandar apalagi menumpahkan kasih sayang karena hidup hanya seorang diri. Semenjak kecil I Mudita tanpa orangtua. Inilah yang membuat hidupnya gelisah tanpa arah. Namun demikian ia masih memiliki semangat, wasiat pesan orang tua. I Mudita diminta agar menemui pamannya, Dukuh Suladri, di Gunung Kawi. Berbekal cincin “Jaga Satru” sebagai pengingat bahwa I Mudita adalah keponakan Dukuh Suladri. Langkah tegak kaki I Mudita meninggalkan Desa Memeling menuju Pedukuhan Seladri di Gunung Kawi.
Sejatinya I Mudita adalah putra Dukuh Suladri dan Ni Kusuma Sari adalah keponakan sang dukuh. Tidak diceritakan kenapa terjadi pertukaran putra ini.
Kedatangan I Mudita di Pedukuhan Gunung Kawi disambut dengan kebahagiaan. Laksana Bhatara Ratih dan Kamajaya sedang berlila cita di pedukuhan, I Mudita dan Ni Kusuma Sari saling jatuh cinta. Apalagi hal ini mendapat restu dari Dukuh Suladri.
Ketika sedang asiknya I Mudita dan Ni Kusuma Sari bermesraan, tiba-tiba datanglah Wayan Buyar anak dr mekel Gde Kedampal dengan maksud untuk merebut Ni Kusuma Sari. Berbagai rayuan gombal dan kekayaannya diberikan oleh Wayan Buyar namun Ni Kusuma Sari tetap kukuh akan cintanya pada I Mudita.
Wayan Buyar kehabisan akal, ia marah, terbakar oleh api cemburu lalu menyerang dan mengikat I Mudita di sebatang pohon. Bangga akan keberhaslannya, Wayan Buyar segera melarikan Ni Kusuma Sari.
Mendengar jeritan Ni Kusuma Sari, Dukuh Suladri mengerahkan semua binatang di hutan Gunung Kawi untuk melakukan pengejaran. Dalam pelariannya, Wayan Buyar dihadang oleh sekumpulan binatang buas yang bertujuan untuk membebaskan Ni Kusuma Sari. Wayan Buyar tak mampu berbuat apa-apa kecuali melepaskan Ni Kusuma Sari dan berlari menyelamatkan diri. Berhasil menyelamatkan tuannya, sekumpulan binatang mengantarkan Ni Kusuma Sari kembali ke pedukuhan.
Kesal, kecewa, marah, dendam, bercampur menyelimuti pikiran Wayan Buyar yang telah gagal melarikan Ni Kusuma Sari. Ia yang selama ini selalu terkabulkan keinginannya, kali ini harus meminum getah pahit, kegagalan. Demi harga diri, ia bertekad membalas dendam atas perlakuan yang telah diterimanya.
Terketuklah hatinya untuk meminta bantuan pada Dayu Datu. Ketika tekad bulat itu menjadi keputusan, berangkatlah Wayan Buyar ke Gunung Mumbul. Berbekal kebencian, kemarahan dan nafsu balas dendam, disepakatilah bahwa Dayu Datu akan membantu Wayan Buyar untuk membuat wabah penyakit
Dayu Datu, Ni Klinyar dan para sisya menuju Setra Gandamayu. Mereka berdoa, memohon restu Sanghyang Durga Berawi agar dapat menyebar wabah penyakit di masyarakat.
Wabah penyakit aneh menyerang masyarakat. Banyak warga sakit secara tiba-tiba kemudian meninggal. Kondisi masyarakat seperti ini membuat Dukuh Suladri bersedih. Berkat kamampuan dan pengetahuannya, Dukuh Suladri mampu mengetahui bahwa wabah penyakit aneh ini adalah ulah dari Dayu Datu atas permintaan Wayan Buyar.
Segeralah Dukuh Suladri menuju Gunung Mumbul. Maka terjadilah adu kesaktian antara Dukuh Suladri melawan Dayu Datu.
Dayu datu berubah menjadi perwujudan rangda/ raksasa yg sekujur tubuhnya mengeluarkan api sakti, sampai meleleh jatuh ke tanah membuat merinding yg melihatnya sorot mata yg tajam bagaikan sepasang matahari yg siap membakar apapun yg merintangi, taring yg tajam bagai wesiwrani/ baja siap menerkam musuh2 nya
Kuku2 yg tajam dan lancip seakan mencakar dan mencabik2, lidah menjulur keluar seakan2 siap untuk memakan apapun yg ada dihadapanya,
Begitulah sekilas gambaran dr pemurtian Dayu Datu.
Datanglah Dukuh Siladri bersama para penghuni hutan harimau, monyet, kijang dll dan juga bangsa burung .karna sang dukuh memiliki ilmu kedigdayaan yg tak kalah dr ilmunya dayu datu, maka tanpa basa basi para pengikut sang Dukuh langsung menyerang membabi buta.
Petarungan pun sengit saling terkam saling jatuhkan,
Di lain pihak Ni Klinyur berubah menjadi babi hutan yg ganas serta mengeluarkan api dr mulutnya
Menyembur Ni Kusuma sari namun berkat ilmu panugrahan dr Bhatari Durgha maka api tersebut menjadi sirna, berulang Ni klinyur berubah wujud menjadi setan namun Ni Kusuma sari selalu bisa menangkalnya.
Pertarungan mereka sangat seru sehingga menimbulkan percikan2 api terlihat dr kejauhan
Seketika bukit mumbul menjadi merah karna bias kesaktian tersebut.
Hawa pun terasa panas dan mencekam, begitulah sekilas gambaran dr pertempuran tersebut.
Disana juga dikisahkan Wayan Buyar membawa pasukan abdinya,meRasa pengandel dirinya dayu datu dan sisyanya akan kalah ,oleh kelicikannya Menyandera Ni Kusuma sari menyeret dgn kudanya, Kusuma sari mempengaruhi kuda dgn kekuatan jnananya ,melompat meringkik dgn keras sehingga terpentallah Wayan Buyar dari atas kuda dimana saat itu buron macan dan monyet mencengkeram lehernya dgn kuat dan mencabik2 nya.
Diceritakan Setelah sekian lama pertempuran terjadi maka pada saat nya Dayu Datu kehabisan tenaga dan akhirnya bisa di taklukkan oleh Dukuh Siladri,
Yg hanya dgn ketenangan bhatin mengucapkan weda kehadapan Ida Sang Hyang Widhi akhirnya
Sirnalah kesaktian Dayu Datu api pun mulai meredup mengaku kalah Dan meminta maaf.
Jangan pernah menyakiti orang baik karna
Kebaikan akan slalu menang melawan ketidak baikan.
Kesaktian akan menimbulkan sebuah keegoan
Hanya hati yg bersih dan tulus yg bisa meluluhkannya.
Orang pintar bukanlah orang yg hebat
Namun orang hebat adalh orang yg mampu menaklukkan dirinya.
Barang siapa orang yg mampu mengendalikan dirinya maka dia akan menguasai semesta.

BANTEN

 


"Ada orang dari daerah sebrang bertanya apa itu banten? Mengapa membuat banten? Bagaimana jika tidak membuat banten?"
Demikian tanya lelaki paruh baya kepada kami.
Sembari tersenyum, saya pun menjawab,
"Nak, menerjemahkan banten sehingga mudah dimengerti tentulah bukan perkara mudah, namun demikian, bila kita sudi menyelami berbagai teks tinggalan tetua Bali, pekerjaan itu sepertinya menjadi lebih ringan.
Bila dikaji dari maknanya, banten merupakan simbol dari perwujudan Tuhan, Alam semesta dan Diri manusia itu sendiri. Maka demikianlah tegas dipaparkan dalam Lontar Yajna Prakrti, banten pinaka warna rupaning Ida, pinaka anda bhuana dan pinaka raganta tui.
Sebagai simbol perwujudan Tuhan, maka dikenal banten berupa daksina, sarad sebagai simbol alam semesta, lis sebagai simbol manusia , demikian juga untuk bentuk banten lainnya.
Bila dikaji dari fungsinya, selain sebagai lingga, banten juga sebagai bentuk persembahan dan harapan. Banten guru atau daksina misalnya, merupakan salah satu fungsinya sebagai lingga. Sedangkan untuk persembahan, banten akan berbentuk sodaan, japit, atau sejenisnya. Dan untuk pengharapan, ada bentuk banten berupa peras, pengambean dan sebagainya.
Jika kemudian ditanya, mengapa membuat banten? Itu tak lebih hanyalah salah satu dari begitu banyaknya jalan yang ditempuh dalam upaya terhubung dengan Dia Semesta Hidup. Ada yang memilih terhubung melalui tindakan kerjanya, ada yang terhubung dengan jalan pengetahuan, meditasi atau yang lainnya. Maka demikianlah manusia Bali diajarkan untuk selalu terhubung lewat serangkaian ritus bebantenan, Nak.
Lantas, bagaimana bila tidak membuat banten? Tentu itu semua dikembalikan kepada pilihan jalan masing-masing, Nak. Mirip seseorang yang hendak mengunjungi daerah tertentu, entah mempergunakan kendaraan, berjalan kaki, menyewa pesawat, semuanya adalah sah sesuai dengan kemampuannya. Demikian juga jalan bhakti melalui persembahan banten, tentu tak semua orang mesti memakainya. Sesuaikan saja dengan situasi lingkungan serta kondisi batin masing-masing"
Sambil menatap ke arah langit yang mulai dipenuhi kerlip bintang sebagai tanda kumpulan awan gelap disirnakan, lelaki paruh baya itu hanya terdiam dalam renungannya.

NILAI ETIK SANKSI ADAT DI BALI.

 


Pernah suatu ketika, dalam kegiatan adat yang melibatkan krama banjar, salah satu diantaranya diganjar "pamidanda", sanksi adat berupa beras sebanyak 5 (lima) genggam. Tak banyak memang, namun bukan nilai denda materinya yang penting, melainkan jauh lebih berat, ketika sanksi diberikan, ada beban moral yang sungguh luar biasa mesti dipikul, sekaligus mengirimkan pesan kepada seluruh krama adat, betapa orang yang disanksi tidak disiplin dalam berprilaku.
Ketika saya mendesak ihwal apa gerangan sehingga sanksi itu diberikan, tetua itu menyatakan bahwa warga dimaksud sempat menelan sejumput parutan kelapa yang sedang dikerjakannya dalam kegiatan adat. Terkesan naif mungkin, atau malah konyol dan kekanak-kanakan. "Apalah arti sejumput kelapa hingga seseorang mesti disanksi sedemikian rupa?" Pertanyaan itulah yang seketika menyeruak dalam ruang batin ini setelah mendengar cerita di atas, dan semoga saja anda tidak.
Tetua itu kembali melanjutkan pembicaraannya sambil mengajak saya membayangkan. Itu baru sejumput kelapa, bayangkan bila yang dimakan adalah segenggam daging, kemudian yang memakan tidak saja satu orang, melainkan semua warga yang beraktifitas dalam acara adat itu. Atau semuanya mengambil sebiji buah-buahan atau keperluan upacara lainnya, kira-kira bagaimana jadinya upacara adat yang akan dilangsungkan? Dan bayangkan lagi, bila hal-hal yang nampaknya sepele itu dibiarkan, kemudian menjadi kebiasaan bagi setiap individu, bukan tidak mungkin tindakan-tindakan keliru lebih besar akan dilakukan pada masa depan, bukan? Sejumput dibiarkan, segenggam diacuhkan, maka bersiap saja bila dimasa depan seisi rumah bisa saja diambil untuk memenuhi dahaga kerakusannya.
Maka pada titik ini, ketika kekeliruan dilakukan, betapapun itu terlihat sepele, tindakan tegas mesti diberikan. Tidak saja akan menjadi pembelajaran bagi warga lainnya, namun jauh lebih penting, mencegah yang bersangkutan agar tidak semakin terbiasa berperilaku memyimpang pada masa-masa berikutnya.
KEBIASAAN KEKINIAN.
Entah ini bagian dari keniscayaan, atau memang kelemahan kita masing-masing, Adat Bali dengan segala instrumen di dalamnya seperti tak memperoleh ruang untuk tetap eksis. Pelemahan dan degradasi kekuatannya seakan semakin meluas berlangsung hampir diseluruh pelosok Bali, entah datang dari luar tubuh adat atau malah datang dari falam diri Adat Bali itu sendiri. Alih-alih gema "Ajeg Bali" mendengung beberapa dekade belakangan, nyatanya itu tak lebih hanyalah buah bibir semata tanpa makna.
Kasepekang malah dipandang sebagai upaya perlawanan terhadap HAM, pelarangan penggunaan kuburan adat dinyatakan sebagai tindakan kuno, tak berprikemanusiaan, belum lagi narasi-narasi miring lainnya baik dilakukan secara sadar maupun tanpa sadar. Miris memang, saat manusia tak lagi taat azas, maka hukum dihadirkan, dan ketika manusia mulai tak taat akan hukum, kira-kira instrumen apa lagi yang akan diupayakan untuk menghadirkan ketentraman itu?

𝐇𝐢𝐧𝐝𝐮 𝐓𝐢𝐝𝐚𝐤𝐥𝐚𝐡 𝐑𝐮𝐦𝐢𝐭

 


Umat Se-dharma, jika kita lihat dalam tatanan kehidupan sehari hari umat Hindu, ada berkembang Opini bahwa menjadi Orang Hindu Rumit, Ribet dan Sulit. Pandangan ini sangatlah keliru. Praktek praktek ajaran agama Hindu akan terasa sulit, ribet dan rumit manakala belum dipelajari , dan belum dipahaminya isi kitab Agama secara Baik, Benar dan Utuh' Jangan pernah merasa rumit dan ribet menjadi Hindu . Justru menjadi orang Hindu sangatlah membanggakan mengingat ajaran Hindu memiliki karakteristik yang sangat Luar biasa : Sempurna, Simpel, Mudah dan pelaksanaanya sangatlah Luwes & Fleksibel demikian juga sangat Universal.Bangga Menjadi Hindu
Ajaran agama Hindu dengan Pustaka Suci Weda memiliki karakteristik yang sangat Khas antara lain :
Fleksibelitas : Dalam mengimplementasikan ajaran agama Hindu tidaklah kaku , dapat disesuaikan dengan desa Kala dan Partra serta dalam penerapannya berpegang pada Catur Drsta : Purwa Drsta /Kuna Drsta, loka Drsta, Desa Drsta dan Sastra Drsta.
Sanatana Dharma : kitab agama memiliki sifat langgeng, kekal abadi dan berlaku untuk seluruh jaman :' Kerta Yuga / Satya Yuga, Treta Yuga, Dwapara yuga dan Kali yuga.
Universal : ajaran agama Hindu Mengatur seluruh tatanan kehidupan umat manusia dan se- isi alam semesta.
Upakara.atau Acara Agama sangatlah luwes , ukurannya disesuaikan dengan kemampuan masing masing, Kanista, Madya dan Utama begitu juga pelaksanaannya disesuaikan dengan Lokal Genius, Desa, Kala dan Patra.
Untuk itu, Marilah sebagai umat Hindu jangan ragu dan bimbang dalam beragama, mantafkan Sraddha dan Bahkti dengan Belajar agama yang Benar. Niscaya, tidak akan pernah mengalami Kesulitan dan Keragu raguan serta Kebimbangan bahkan Kegamangan sehingga kegiatan keagamaan akan menjadi lebih Yakin dan Mantaf / Sraddha maupun Bhaktinya.
(Kitab Catur Weda Samhita dan Vayu Purana)

Bima swarge

 


Seorang manusia meninggal dunia...
Ketika ia menyadarinya, ia melihat cekre bale mendekati dirinya dengan sambil memegang sebuah koper di tangan-Nya.
Berikut dialog antara cekre bale & arwah manusia tersebut :
Cekre bale : "Mari kita pergi."
Arwah... : "Begitu cepat?
Tapi saya masih memiliki banyak rencana."
Cekre bale... : "Maaf, waktumu sudah habis, saatnya untuk pergi."
Arwah... : "Apakah isi koper yg dipegang itu?"
Cekre bale... : "Benda kamu."
Arwah... : "Benda saya?
Maksudnya barang2 saya ?
Seperti baju saya, uang saya, perhiasan saya ?"
Cekre bale.... : "Bukan, barang itu tak pernah menjadi milikmu. Itu milik Dunia."
Arwah.... :. "Apakah itu ingatan & kenangan saya ?"
Cekre bale.. : "Bukan, itu milik Waktu."
Arwah... : "Apakah itu bakat & kesuksesan saya?"
Cekre bale..... : "Bukan juga, itu milik Anugerah."
Arwah... : "Apakah itu istri/suami & anak2 saya?"..
Cekre bale.... : "Tidak juga, itu milik hatimu."
Arwah... : "Kalau begitu, itu pasti tubuh saya."
Cekre bale.. :. "Tidak, bukan...
Tubuhmu milik Debu Tanah."
Arwah... : "Jika demikian isinya tentu jiwa saya."
Cekre bale... : "Kamu salah besar , sebab jiwamu itu miliknya IDE SANG HYANG SANGKANIN DUMADI."
Cekre bale lalu menyerahkan *koper* tersebut ke sang Arwah....
Dengan kebingungan & dengan ketakutan sang Arwah membuka koper tersebut
Dan ternyata isinya *KOSONG*...!!!
Dengan hati kecewa & airmata berlinang sang Arwah bertanya pada cekre bale,
"Maksud para utusan cekre bale, saya tak pernah memiliki apapun.....???!"
Cekre bale menjawab : "Iya, benar. Sesungguhnya kamu itu tak pernah memiliki apapun..."
Arwah... : "Lalu....., apa yg menjadi miliknya, IDE SANG HYANG SANGKANIN DUMADI...???!"
Lalu cekre bale menjawab.. : *”WAKTU-mu...!*
Saat-saat di waktu kamu HIDUP..... itulah milikmu...!!!"
*Hidup adalah WAKTU*,
Hargai waktu yang tersisa, Jalani hidup ini dengan kasihNYA.. Bersyukur setiap saat atas berkat & anugerah NYA maka hidup kita akan bahagia..
Berusahalah untuk selalu berbuat baik, menolong, jangan pernah menyakiti orang Tuamu, pemimpinmu, teman2mu, jangan merugikan orang2 disekitarmu hindari gosip dan membicarakan kejelekan orang lain, jangan pernah bersikap Paling Benar!
Berhentilah bersungut-sungut dan memviralkan kejelekkan org dan mengomel....
Nikmatilah waktu setiap saat, yg dilalui bersama orang tua, pimpinanmu, Komunitasmu, pasangan, anak-anak dan sahabat, teman2mu bahagiakanlah mereka selagi kita masih punya waktu..
Jangan pernah simpan kebencian, dendam, akar pahit, sakit hati dan kejelekan orang lain..