Minggu, 27 November 2016

Karawista




Sirawista  atau Karawista Adalah tiga helai alang-alang  yang dirangkai sedemikian rupa hingga bagian depan/ujungnya membentuk lingkaran (windu) dan titik (nada), merupakan simbolisasi dari Aksara Suci OM- yang tersusun melalui Bija Aksara A-U-M.
 


Secara etimologi kata Sirawista merupakan  kata yang terbentuk dari kata ‘SIRAH’ (kepala, mahkota, bagian puncak), dan kata ‘WISTA’ yang artinya: pengendalian untuk mencapai kemanunggalan (dengan yang dipuja). Ini sesuai dengan isi Lontar Aji Gurnita dalam bentuk alih aksara pada tahun 1993, koleksi Kantor Dokumentasi Budaya Bali, yang menyebutkan istilah “Sirawista”.

Sedangkan kata ‘Karawista’, sesuai petikan Lontar Åšiwapakarana. Ada dua Lontar Åšiwapakarana yang dipakai sumber acuan yaitu lontar koleksi Ida Pedanda Gde Putra Tembau serta lontar koleksi  Perpustakaan UNHI Denpasar, secara prinsip isi ke-dua lontar tersebut tidak jauh berbeda, secara umum isinya memaparkan tentang dewa yang bersemayam pada masing-masing sarana pemujaan, tempatnya dalam tubuh sang wiku, asal kedatangannya, hakikat dari karawista, hakikat dari air (tirtha) dalam bhuana agung dan bhuana alit, inti sari dari petanganan dan selebihnya mengenai ajaran kediatmikan. Pada lontar ini ‘Karawista’ berarti pengikatan tiga helai alang-alang (ambengan: bahasa bali), di kepala sebagai lambang agar seluruh Tubuh yang memakai bisa terpusat pada obyek yang dipuja. Kata ‘kara’ menunjuk pada badan/tubuh baik badan jasmani maupun badan rohani. Itu sebabnya saat proses sembahyang ada istilah ‘kara suddhamam’, yang artinya pensucian (suddha)  badan (kara), sendiri (mam). Jadi Sirawista dan atau Karawista dipergunakan ketika sesorang  menjalani upacara pensucian diri (samskara ).

“SIRAWISTA/KARAWISTA”  diikatkan di kepala dengan maksud bahwa sejak itu seseorang telah diberikan kepercayaan dan tanggung jawab untuk selalu mensucikan diri yakni dengan selalu mengingat Hyang Widhi melalui aksara OMkara. Dengan diikatkannya Sirawista/Karawista ini yang akhirnya orang tersebut siap untuk melaksanakan swadharma berikutnya.
Sirawista/Karawista juga bermakna untuk mensakralkan diri dalam kaitan pengukuhan atau sumpah, Misalnya dalam wiwaha pasangan penganten, Sudhi wadani, Potong gigi, Perkawinan dan lain-lain.
Sumber: Lontar Sasananing Aguron-guron, Lontar Aji Gurnita, Lontar Siwapakarana, Dharmavada



KHASIAT GAYATRI MANTRA


Dagang Banten Bali


CARA MUDAH DAPAT UNTUNG DARI TRADING FOREX KLIK DISINI


KHASIAT GAYATRI MANTRA
Khasiat Mantram Gayatri :
* Baca pd saat keluar rumah ,
70000 saudaramu akan menjagamu dari semua sisi
* Baca saat masuk rumah ,
kemiskinan tidak akan memasuki rumahmu .
* Baca setelah mandi pagi ,
Derajatmu akan dinaikkan 70 tingkat .
* Baca pada saat tidur ,
Saudaramu akan menjagamu sepanjang malam .
* Baca setelah sembhyng ,
maka jarak antara kamu dan surga hanyalah kematian .


PUASA CATURDASI PURNAMA KEENEM



Dagang Banten Bali




PUASA CATURDASI PURNAMA KEENEM ADALAH MEMUJA SIWA UNTUK MELEBUR UNSUR2 NEGATIF SKALA NISKALA DIDALAM DIRI KITA TERUTAMA UNSUR SAD RIPU.
Mulailah puasa sebelum jam 6 pagi sampai paling sedikit jam 6 sore. Kalau bisa lebih baik dimulai jam 4 pagi sampai jam 6 sore, kalau mau 24 jam juga sampai jam 6 pagi keesokan harinya pasti sangat bagus. Paling utama adalah makna berpuasanya yaitu menyucikan jiwa, raga dan pikiran melalui upawasa yg menjadi sempurna adanya dg melakukan sembahyang 3x sehari dan berjapa Gayatri mantra 108. Pasti bermanfaat adanya.
Sebelum memulai puasa mohon kekuatan, tuntunan kepada Dewi Gayatri dan lantunkan Gayatri mantra 9 kali dihadapan makananyg telah disediakan. Saat melantunkan 9x Gayatri mantra berkonsentrasilah pada makanan2 itu yg mana taksu Gayatri mantra seolah olah meresap kedalam makanan. Tujuannya puasanya akan berjalan baik, tidak merasa lapar, tidak pusing atau lemas. Semoga bermanfaat. Svaha.

Sabtu, 26 November 2016

TUMPEK KANDANG/TUMPEK CELENG












TUMPEK KANDANG/TUMPEK CELENG
Saturday in the wuku of Uye is called tumpek kandang or tumpek celeng to perform ritual for the animals (the caw, the pig, the chicken, the dog, the cat, etc) with giving the ritual offerings (sesajen).




TUMPEK KANDANG/TUMPEK CELENG

Hari Sabtu di wuku uye yang disebut kandang atau uduh uduh celeng untuk melakukan ritual untuk hewan (sapi, babi, ayam, anjing, kucing, dll) dengan memberikan persembahan ritual (sesajen).