Rabu, 13 Juli 2022

Beberapa mitologi Di Bali (Hindu)

 


Di Bali (Hindu) ada beberapa mitologi yang dahulu kerap disampaikan orang tua, agar orang patuh akan aturan. Namun kini banyak mitologi unik ini mulai terlupakan di tengah kemajuan zaman. Salah satunya adalah larangan menyapu pada malam hari. Ada apa dengan aktivitas ringan malam hari ini?
Meski kebanyakan orang tua tak menjelaskan alasannya. Namun, menurut Jro Mangku Pada asal Tabanan ini, menyapu malam hari berisiko menghilangkan benda berharga yang tak sengaja jatuh di lantai.
“Zaman dahulu kan penerangan terbatas, jadi bisa saja benda-benda penting tak sengaja jatuh. Sehingga dikhawatirkan bisa ikut tersapu. Selain itu, menyapu pada malam hari juga hasilnya tak maksimal, karena kotoran, seperti debu atau sampah bisa tertinggal karena tak terlihat,” jelasnya.
Tak hanya menyapu, memotong kuku malam hari juga dilarang. Hal ini dianggap mengundang pamali atau sial. “Ya, seperti itu tadi, kan penerangan terbatas. Nah, memotong kuku malam hari bisa berisiko menyebabkan jari terluka. Sehingga ini mungkin yang disebut mengundang sial,” kata Jro Mangku.
Kemudian ada pula larangan memberikan carikan atau sisa makanan kepada orang tua. Hal ini juga menurutnya berkaitan dengan etika. Layaknya, anak-anak menyuguhkan makanan yang masih sukla kepada orang tua.
Mitos unik lainnya, yakni menempatkan sapu lidi anyar atau belum pernah digunakan untuk menyapu di sebelah bayi sebagai penangkal gaib. Konon sapu lidi memiliki kekuatan yang membuat takut makhluk gaib. Sehingga sapu lidi secara tak langsung dijadikan penjaga bayi agar tenang dan tidurnya nyenyak.
“Diletakkan di samping bayi, agar mudah digapai si ibu. Sapu lidi kan banyak gunanya. Misalnya sebagai penghalau serangga atau binatang. Jadi sapu lidi diletakkan dekat bayi,” katanya.

Pura Mutering Jagat Dalem Sidakarya

 


Pura Mutering Jagat Dalem Sidakarya adalah Pura Kahyangan Jagat yang merupakan tempat untuk nuur atau nunas tirta.
Dalam Buku Babad Sidakarya yang disusun oleh I Nyoman Santun dan I Ketut Yadnya tahun 2003, menceritakan mengenai sejarah pura ini.
Diceritakan, terdapat seorang brahmana yang berasal dari Kerajaan Keling, Jawa Timur. Brahmana Keling ini memiliki hubungan keluarga dengan Raja Dalem Waturenggong.
Brahmana Keling bermaksud akan menjumpai saudaranya dengan penampilannya yang lusuh, untuk mengutarakan keinginannya membantu jalannya upacara tersebut. Namun masyarakat yang berada di sekitar lokasi tidak memercayainya, bahwa Brahmana Keling memiliki hubungan kekeluargaan dengan raja.
Brahmana Keling diusir dengan cara yang hina. Dengan perasaan jengkel dan sambil meninggalkan lokasi upacara, ia mengeluarkan kutukan (pastu).
Singkat cerita, Raja Dalem Waturenggong memerintahkan I Gusti Tegeh Kori, yang merupakan Raja Badung, untuk mendirikan sebuah pura di lokasi peristirahatan Dalem Sidakarya. Pura ini pada awalnya bernama Pura Dalem Sidakarya.
Karena pemujaan Sad Kahyangan terpusat menjadi satu, maka pura ini kemudian diberi nama Pura Mutering Jagat Dalem Sidakarya. Mutering memiliki makna pusat, Jagat berarti alam atau dunia, sedangkan Dalem Sidakarya adalah gelar dari Brahmana Keling.
Untuk menghormati jasa Brahmana Keling, Raja Dalem Waturenggong mengeluarkan sabda bahwa Pura Mutering Jagat Dalem Sidakarya adalah Pura Kahyangan Jagat yang merupakan tempat untuk nuur atau nunas tirta atau memohon air suci jika masyarakat melaksanakan upacara di tingkat madya, hingga utama atau besar.
Piodalan di Pura Mutering Jagat Dalem Sidakarya jatuh pada hari Sabtu, Saniscara Kliwon Wuku Landep, atau bertepatan dengan Hari Tumpek Landep. Selama piodalan di pura ini, biasanya akan dipentaskan sebuah tari sakral bernama Tari Telek, yang diikuti dengan Ida Sesuhunan berwujud Barong dan Rangda mesolah napak pertiwi (Menari).

RAHINA SUCI PURNAMA

 


Purnama dan Tilem adalah hari yang dianggap suci oleh Umat Hindu. Purnama sesuai dengan namanya jatuh pada setiap malam pada waktu bulan penuh (Sukla Paksa).
Mangku I Wayan Satra mengatakan, pada Purnama dilakukan pemujaan terhadap Sang Hyang Candra atau Dewa Bulan, "Ini merupakan manifestasi Sang Hyang Widi yang berfungsi sebagai pelebur segala kekotoran (Mala), " papar Mangku Satra.
Pada hari ini, lanjut Mangku Satra, hendaknya diadakan persembahyangan dengan rangkaiannya berupa upacara yadnya. Beberapa sloka yang berkaitan dengan pelaksanaan hari suci Purnama terdapat dalam Lontar Sundarigama.
Pada umumnya, di kalangan umat Hindu sangat meyakini mengenai rasa kesucian yang tinggi pada hari Purnama. Sehingga hari itu disebutkan dengan 'Devasa Ayu', yakni hari baik. Oleh karena itu, setiap datangnya hari-hari suci yang bertepatan dengan hari Purnama, maka pelaksanaannya disebut 'Nadi'. "Tetapi, sesungguhnya tidak semua hari Purnama disebut ayu, tergantung juga dari petemon dina dalam wariga," imbuhnya.
Menurut sastra Agama Hindu, Lontar Purwa Gama menuntun umat Hindu agar selalu ingat melaksanakan suci laksana, khususnya pada hari suci Purnama. Hal ini memiliki tujuan untuk mempertahankan serta meningkatkan kesucian diri, terutama para wiku atau pemuka agama. Hal itu dilakukan untuk mensejahterakan alam beserta isinya, karena semua mahluk akan kembali ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa. Namun, tetap tergantung kepada tingkat kesucian masing-masing.
Menurut sastra Agama Hindu, proses penyucian diri penekanannya terletak pada 'Suci Laksana' karena pada pelaksanaan mengandung makna yang sangat tinggi. Hal ini memiliki arti penekanan tersebut sudah terjadi penyatuan dari pelaksanaan Catur Yoga. " Catur Yoga tersebut dapat menyucikan Stula Sarira (badan kasar) dan Suksma Sarira (Atma) yang ada pada diri manusia, khususnya umat Hindu Bali," ujar Satra.

Rangkaian upacara adat Bali untuk keselamatan sang buah hati

 


Hingga saat ini Bali masih memegang teguh adat istiadat, budaya, serta kearifan lokal yang ada. Meski perkembangan zaman sudah semakin maju, namun Bali tak mudah tergerus dan tetap menjunjung tinggi adat istiadatnya.
Masih banyak upacara adat di Bali sampai kini tetap dipertahankan oleh umat Hindu. Masing-masing untuk pemujaan kepada Tuhan, bakti kepada leluhur, selamatan untuk manusia, bakti kepada guru, serta menghormati alam semesta. Salah satunya adalah rentetan keselamatan untuk si buah hati, mulai dari dalam kandungan hingga bayi lahir ke dunia dan menyentuh periode usia tertentu.
Berikut ini adalah delapan rangkaian upacara adat Bali untuk keselamatan sang buah hati.
1. Magedong-gedongan untuk ibu hamil usia kandungan 5-7 bulan
2. Nanem ari-ari ketika bayi baru lahir
3. Kepus pungsed ketika tali pusar bayi sudah terlepas
4. Ngelepas aon ketika bayi berumur 12 harickr.com/Sue
5. Tutug kambuhan saat bayi berusia 42 hari
6. Nelu bulanin saat bayi berumur 3 bulan (Kalender Bali)
7. Otonan saat bayi berumur 6 bulan (Kalender Bali)
8. Mepetik rambut saat berumur 6 bulan (Kalender Bali)
Nah itulah delapan rangkaian upacara adat Hindu Bali untuk keselamatan sang buah hati. Semoga alam semesta selalu memberikan kebaikan.

Dewi Durga

 


Dalam setiap pementasan Drama Tari Calonarang di Bali sering menonjolkan kesaktiannya Dewi Durga. Dewi Durga adalah sumber kekuatan Kiwa (kiri) dan Tengen (kanan). Dalam mitologi Hindu, Dewi Durga merupakan sakti (Lambang kekuatan perempuan) dari Dewa Siwa, yang tugasnya untuk membunuh raksasa.
Dewi Durga, yang juga disebut dengan nama Hyang Nini Bhagawati ini, memberikan jenis ilmu pengiwa (Ilmu hitam) kepada Calonarang sehingga memiliki kesaktian tingkat ketujuh. Hal ini karena Calonarang sangat memuliakan dan memuja Hyang Nini Bhagawati.
Namun di pihak lain, Mpu Bharadah juga menerima anugerah kesaktian dari Dewi Durga berupa ilmu Penengen (Ilmu putih). Sama halnya dengan Calonarang, Mpu Bharadah sangat memuliakan dan memuja Dewi Durga.
Kekuatan-kekuatan Dewi Durga yang dimunculkan dalam Drama Tari Calonarang disebut dengan nama Panca Krtya Sakti. Yaitu Srsti Sakti, Sthiti Sakti, Samhara Sakti, Anugraha Sakti, dan Tirobhawa Sakti.
Pementasan Drama Tari Calonarang yang di dalamnya terdapat tarian rangda, secara tidak langsung menyimbolkan pemujaan terhadap kekuatan atau Panca Krtya Sakti tersebut. Ini juga terlihat dari lokasi pementasan yang dipilih. Yaitu sebagian besarnya mengambil lokasi di Pura Dalem, yang merupakan tempat Dewa Siwa dan saktinya Dewi Durga atau Dewi Uma berstana.



Makna Sate Renteng

 


Sate Renteng, jika dilihat dari beberapa lontar agama Hindu memang belum ada yang membahas secara jelas. Sehingga Sate Renteng dalam upacara Hindu disebut dengan uperengga atau pelengkap upakara yadnya, namun wajib ada dalam setiap upacara yang menggunakan Banten Bebangkit. Sate Renteng sangat erat kaitannya dengan Banten Bebangkit yang menggunakan Babi Guling sebagai ulamnya.
“Hal itu sesuai dengan makna Banten Bebangkit yang merupakan persembahan kepada Dewi Durga,” ujar Budayawan, I Gede Anom Ranuara, S.pd, S.Sn.
Lebih lanjut dijelaskannya, dalam Lontar Tattwa Mpu Kuturan dijelaskan mengenai Rerentengan Jatah yang artinya rangkaian atau susunan sate. Sedangkan dalam Lontar Kadurgan dijelaskan juga mengenai rangkaian sate yang disebut Gayah. Gayah adalah merangkai kembali tulang babi yang akan dipersembahkan kepada Dewi Durga. Karena, apa pun itu segala jenis olahan daging babi pasti dipersembahkan kepada Dewi Durga.
Secara filosofis, Sate Renteng berawal dari permohonan Dewa Wisnu kepada Dewi Durga untuk membunuh Mahesasura, karena diyakini hanya Dewi Durga yang mampu menaklukkannya. Permohonan itu disanggupi oleh Dewi Durga, namun semua senjata para dewa agar berkenan diserahkan untuk mengalahkan Mahesasura. Hal itu dibuktikan dengan terdapatnya sate yang berbentuk sembilan senjata para Dewa.
Sate Renteng terdiri dari beberapa jenis, yakni Sate Renteng Puspusan yang menggunkan kelapa sebagai alasnya. Di mana didalamnya terdapat 13 buah tusuk sate, namun tidak menggunakan bagia Pulekerti. Kedua adalah Sate Renteng Sari. Dalam sate ini terdapat Bagia Pulekerti, namun tetap berpatokan kepada 13 buah tusuk sate. Ketiga adalah sate Renteng Utuh, jenis sate Renteng yang tergolong tinggi, sebab pada alasnya menggunakan kepala babi utuh. Yang terakhir adalah Sate Renteng Durga Dewi yang tertinggi. Hal yang membedakan adalah penggunaan kepala babi yang disertai dengan cabai merah melambangkan taring Dewi Durga.

Selasa, 12 Juli 2022

Pura Dalem Suka Merta atau Pura Suwuk

 


Pura Dalem Suka Merta atau Pura Suwuk berlokasi Banjar Tanjung, Intaran, Sanur Kauh. Pura ini berada di tengah-tengah hutan bakau. Apabila serius menginginkan sebuah kekayaan yang dimohon dari pura ini, tentunya harus siap dengan segala persyaratan yang diminta, di antaranya adalah Guling Buntut (tumbal manusia), penyakit bisul yang sangat menyiksa dan tak kunjung sembuh selama hidup, dan persyaratan berat lainnya.
Pura Dalem Suka Merta di bagi menjadi tiga bagian. Ada pura utama yang difungsikan untuk memohon keselamatan dan tempat memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa seperti pura pada umumnya. Pemedek yang tangkil (datang) cukup membawa banten pejati (sarana persembahyangan umat hindu) seperti biasa. Dipercaya, yang bersemayam di pelinggih ini adalah I Gusti Ngurah Jom, penguasa jagat Intaran.
Ia menambahkan, bangunan pura yang berlokasi di belakang bangunan utama merupakan tempat penyimpanan harta dari Raja Intaran. Raja ini dulu dikenal sangat kaya raya. Bahkan di bawah kekuasaannya, wilayah Sanur berjaya. Pada pelinggih ini terdapat pohon kaktus yang tak pernah mati. Konon harta dari sang penguasa disimpan di bawah pohon ini. Orang yang ingin memohon pesugihan diharuskan membawa sarana pejati dengan minuman tujuh macam, daging kambing serta itik.
Lanjut Patra, di pelinggih ketiga tempat memohon ilmu kanuragan atau kekuatan dan meminta pengobatan. Palinggih ini dihuni oleh jin yang menggunakan permata. Bila memohon di tempat ini, sarananya berupa sesajen yang serba mentah.
Pura Dalem Suka Merta ini juga dipercaya sebagai penjaga wilayah Sanur. Sebab pura ini memiliki keterkaitan antara Pura Pangembak serta Pura Mertasari yang berlokasi tak jauh dari Pura Dalem Suka Merta. Bila dilihat dengan kasat mata, hanya terlihat seperti hutan bakau biasa. Akan tetapi menurut penglihatan orang pintar, hutan bakau itu adalah camp para tentara di alam gaib.