Selasa, 12 Juli 2022

Tradisi unik Galungan di Bali

 


Menjelang Hari Suci Galungan, umat Hindu di Bali akan melaksanakan beberapa tradisi sejak dahulu kala.
Berikut ini tradisi unik Galungan di Bali, yang wajib diketahui Tons
1. Mepatung
Mepatung adalah tradisi bergotong royong untuk menyembelih atau memotong babi. Kelompok atau sekeha taruna secara bersama-sama mengeluarkan sejumlah dana yang sama, untuk dibelikan seekor babi yang siap disembelih. Masing-masing orang dalam kelompok tersebut akan mendapatkan jatah daging babi sama rata.
2. Mebat atau ngelawar
Mebat atau sering disebut dengan ngelawar adalah tradisi yang populer untuk menyambut Hari Raya Galungan, Mebat dilaksanakan secara bersama-sama dalam suatu kelompok, sehingga menimbulkan rasa kebersamaan di antara anggota atau keluarga.
3. Ngejot
Tradisi ngejot biasanya dilaksanakan sebelum Hari Raya Galungan. Ngejot memiliki arti memberi. Jadi tradisi ini adalah kegiatan memberikan makanan kepada orang lain, Ngejot juga biasa dilakukan oleh umat beragama lain yang berada di sekitar rumah mereka.
4. Memunjung
Memunjung biasanya dilakukan pada Hari Galungan atau Kuningan. Walaupun orang tersebut sudah meninggal, namun jika belum dilakukan upacara Ngaben, umat Hindu percaya kalau roh atau arwah orang tersebut masih berada di bawah kendali Sang Hyang Prajapati Selama memunjung, keluarga membawakan makanan yang disukai oleh sanak keluarga yang telah meninggal tersebut.
5. Tradisi Ngelawang di Desa Adat Tegal
Ngelawang dapat diartikan sebagai pertunjukan keliling dari satu tempat ke tempat lainnya dalam suatu desa. Tradisi ini menggunakan barong maupun rangda sebagai media hiburannya
Tradisi ini biasanya dilakukan sebanyak enam kali. Yaitu pada saat Galungan, Manis Galungan, Paing Galungan, Penampahan Kuningan, Kuningan, dan Manis Kuningan.
6. Ngerebeg di Desa Penglipuran
Selama prosesi Ngerebeg, Ida Sesuhunan yang berwujud barong berkeliling mengitari desa, yang diikuti oleh masyarakat setempat.

Lontar Usada Brambang Sakti

 


Dalam Lontar Usada Brambang Sakti, bawang mera tidak hanya sebatas jadi bumbu dapur.
Namun juga memiliki khasiat untuk pengobatan (usada) atau sebagai pangraksa secara magis.
Kegunaan bawang merah dibagi tiga. Pertama bawang memiliki efek usada digunakan untuk obat-obatan. Bisa berdiri sendiri (tidak perlu campuran lain). Dalam usada dikenal dengan Tri Ketuka sebagai tiga unsur utama pembuatan obat. Yakni bawang merah, bawang putih, dan jangu.
Bawang merah simbol Brahma, bawang putih simbol Iswara dan jangu simbol wisnu. Ketiganya sebagai obat. “Misal jika ada yang demam, bawang merah dapat disemburkan di bagian di bawah pusar. Tujuannya menurunkan suhu tubuh,” jelasnya.
Kedua, bawang merah juga memiliki efek yang disebut pangraksa atau sebagai sesikepan (penangkal) untuk kekuatan negatif.
Dalam teks Usada Brambang dapat digunakan sebagai pangraksa jiwa atau penjaga diri. Caranya dengan mengambil bawang tunggal, diambil digosokkan di tungku api, kemudian diusapkan di ubun-ubun, atau ditaruh di kantong. Tujuannya adalah pangraksa jiwa, pangraksa umah, pangraksa karang.n
Ketiga bawang merah memiliki fungsi sebagai pangurip (menghidupkan). Ketika ada pohon kelapa yang tidak berbuah, maka bawang bisa ditanam di akarnya. Konon pohon kelapa lahir dari kekuatan Dewa Brahma. Sehingga bawang dapat menyuburkan pohon kelapa.
Kemampuan adaptasi bawang merah juga tak perlu diragukan. Dalam penelitian Nasa di Amerika, menyebut bahwa tanaman yang bisa hidup di luar angkasa adalah bawang. “Karena mampu beradaptasi di luar angkasa,” ungkapnya.

Tradisi Matuun

 


Umat Hindu, khususnya di Bali, masih sangat percaya dengan tradisi matuun yaitu berkomunikasi dengan leluhur yang sudah meninggal melalui balian petuun. Lalu apakah tradisi matuun ini dibenarkan dalam agama Hindu?
Prawerti adalah pemeluk agama menjalankan koridor agama sesuai dengan sastra, tanpa diintervensi oleh hal-hal niskala. Sementara Niwerti adalah menjalankan koridor agama sesuai dengan kepuasan bathin.
“Kalau berbicara Prawerti, orang yang melaksanakan upacara tigabulanan, harus sesuai dengan lontar Dharma Kahuripan. Sementara Niwerti, ketika akan melaksanakan upacara ngaben, dilakukan matuun untuk mencapai Atmanastuti atau kepuasan diri. Jadi keduanya dibenarkan. Hanya perlu disaring koridor-koridor yang akan dilakukan,” jelasnya.
Lebih lanjut Jro Panca menjelaskan, fenomena balian petuun saat ini menjadi sebuah trend di masyarakat. Meski dibenarkan secara agama, Jro Panca mengingatkan, bahwa tidak ada tenung atau ramalan yang 100 % benar. Semua kembali kepada kehendak Ida Hyang Widhi.
Untuk membuktikkan benar tidaknya baos yang diucapkan oleh balian petuun, menurut Jro Panca, hanya bisa dibuktikan dengan logika. Saat nunas baos di balian petuun, hindari orang yang psikologisnya lemah berada di dekat balian. “Orang yang psikologisnya lemah, akan mudah tertanam belive system. Ketika balian nangis, ia akan langsung ikut menangis,” ungkapnya.
Pada saat roh leluhur masuk ke dalam tubuh balian, tanyakan nama lengkap leluhur yang telah meninggal. “Kita memiliki wiweka, sehingga harus memfilter baik dan buruk agar tidak mengambil petunjuk yang salah dari balian,” ungkapnya.
“Balian akan mengikuti sifat dari roh yang tedun. Kalau roh leluhur bisa bahasa kasar, balian juga akan menggunakan bahasa kasar. Kalau semasa hidup roh leluhur tidak bisa berbahasa halus, lalu ketika tedun menggunakan bahasa halus, perlu dipertanyakan,” ungkapnya

Pasamuan Hidangan Tumpek Wayang

 


Desa Adat Kerobokan, Badung memiliki tradisi yang terus dilaksanakan setiap enam bulan sekali, yaitu Pasamuan Hidangan Tumpek Wayang. Upacara ini digelar untuk memohon keselamatan bagi seluruh masyarakat, terutama bagi yang melewati catus pata atau perempatan agung Desa Adat Kerobokan.
Bendesa Adat Kerobokan Anak Agung Putu Sutarja mengatakan, Pasamuan Hidangan Tumpek Wayang dilaksanakan pada Saniscara Kliwon Wuku Wayang.
Upacara ini digelar untuk memohon wara nugraha dari Ida Bhatara Kahyangan Tiga Desa Adat Kerobokan. “Upacara ini dilaksanakan bersamaan dengan piodalan di catus pata Kerobokan,” ujar Sutarja saat ditemui belum lama ini.
Menurutnya, upacara ini digelar berkaitan dengan pengguna jalan. “Lantaran upacara ini untuk memohon keselamatan kepada masyarakat yang melintasi perempatan agung Desa Adat Kerobokan. Disana harus kita netralisir supaya siapa pun yang melewati jalan tersebut agar diberikan keselamatan,” ungkapnya.
Pelaksanaan upacara tersebut, terang Ketua Majelis Desa Adat (MDA) Badung tersebut, digelar pada sore hari. Dalam jalannya upacara, sebanyak 12 palawatan dari masing-masing pura diusung ke catus pata. Kemudian di tengah jalannya Pasamuan Hidangan Tumpek Wayang juga dihaturkan pacaruan kepada bhuta kala.
“Dalam prosesi pacaruan diharapkan dapat menyomia bhuta kala agar kembali ke tempatnya, dan kita selaku manusia dapat keselamatan dalam melaksanakan kegiatan di jalan raya,” terangnya. Setelah melaksanakan upacara tersebut, ia menyebutkan tidak pernah terjadi kecelakaan fatal. Tidak ada kecelakaan yang sampai merenggut nyawa.
Lebih lanjut Sutarja menjelaskan, prosesi upacara ini disebutkan telah berlangsung sejak lama. Bahkan dirinya tidak mengetahui secara detail kapan upacara ini pertama digelar. Namun, pihaknya meyakini akan terjadi gerubug atau wabah jika tidak dilaksanakan upacara tersebut. “Istilahnya upacara ini sudah menjadi tradisi di Desa Adat Kerobokan, dan sudah sejak lama kami lakukan,” pungkasnya.

Tradisi unik Hari Raya Kuningan di Bali

 


Secara umum, tradisi ini dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur umat Hindu terhadap Ida Sesuhunan, Leluhur, dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Berikut ini tradisi unik Hari Raya Kuningan di Bali.
1. Mekotekan di Kabupaten Badung
Tradisi Mekotek kembali dilaksanakan oleh masyarakat Desa Adat Munggu, Mengwi, setiap 210 hari sekali hingga sekarang. Pelaksanaannya jatuh setiap hari Sabtu Kliwon, Wuku Kuningan, atau bertepatan dengan Hari Raya Kuningan.
Masyarakat akan mengelilingi area wilayah Desa Adat Munggu, yang diakhiri dengan menabrakkan dan menyatukan kayu pulet tersebut hingga membentuk seperti gunung.
2. Tradisi Mesuryak di Kabupaten Tabanan
Desa Bongan Gede di Kabupaten Tabanan memiliki tradisi unik yang dilaksanakan oleh masyarakat setempat selama Hari Raya Kuningan. Sejumlah orang akan melemparkan uang ke udara, kemudian masyarakat lain merebutnya sambil mesuryak atau berteriak bersama-sama dalam suasana gembira.
3. Perang Jempana atau Dewa Masraman dari Kabupaten Klungkung
Tradisi ini ada di Banjar Panti Timbrah, Desa Paksebali, Kabupaten Klungkung. Tradisi yang dilaksanakan untuk mengungkapkan kebahagiaan ini sudah ada di zaman Kerajaan Klungkung
Selama pelaksanaan tradisi ini, masyarakat akan mengusung jempana atau joli yang merupakan tempat atau linggih Ida Sesuhunan.
4. Tradisi Ngerebeg di Kabupaten Bangli
Kabupaten Bangli memiliki tradisi unik yang dilaksanakan setiap Kuningan bernama Ngerebeg. Tradisi ini dilaksanakan oleh masyarakat Desa Adat Kawan dan Cempaga.
Tradisi ini memiliki tujuan untuk memohon agar Sang Hyang Catus Pata turun ke dunia untuk menyejahterakan umatnya.
5. Tradisi Ngelawang di hampir seluruh wilayah Bali
Bedanya, Tradisi Ngelawang yang sakral akan menggunakan Ida Sesuhunan berupa barong atau rangda untuk berkeliling di dalam wilayah desa, diikuti oleh masyarakat dan iringan gamelan baleganjur.
Tradisi Ngelawang biasanya diisi dengan keseruan-keseruan, seperti barong yang mengejar dan menangkap anak-anak.

Sang Hyang Kumara

 


Sang Hyang Kumara yang lahir pada tumpek wayang dimana percakapanNya dengan ayahnya tersurat dalam Lontar Sanghyang Maha Jnana antara keduanya tentang ajaran Siwatattwa sebagai ajaran untuk mencapai kelepasan.
Ayah dari Sang Hyang Kumara yang sebagaimana dijelaskan dalam lontar tersebut diatas yaitu Bhatara Guru yang sejatinya dalam lontar Tutur Gong Besi disebutkan bahwa Bhatara Guru merupakan Dewa Siwa itu sendiri yang tidak lain juga merupakan ayah dari Sang Hyang Kumara.
Kisah Sang Hyang Kumara dalam drama ritual Sapuh Leger diceritakan bahwa beliau merupakan adik dari Bhatara Kala yang lahirnya bersamaan dengan kakaknya yaitu pada tumpek wayang dan atas tanggung jawab Dewa Siwa terhadap penyamaran Bhatara Kala sebagai penggembala dalam perjalanan Dewi Uma untuk mencari susu lembu maka Dewa Siwa memberikan janji kepada Bhatara Kala untuk dapat memakan setiap orang yang lahir pada tumpek wayang.
Dewa Rare Kumara menghindarkan dirinya dari tangkapan Dewa Kala. Ketika tengah hari tepat, dan dalam keadaan terengah-engah Dewa Rare Kumara nyaris tertangkap Bhatara Kala kalau tidak dihalangi oleh Dewa Siwa.
Oleh karena dihalangi oleh Dewa Siwa maka Dewa Kala hendak memakan ayahandanya. Hal ini disebabkan karena Dewa Siwa berjalan tengah hari tepat dalam wuku wayang.
Dewa Siwa rela dimakan oleh putranya Dewa Kala, dengan syarat Bhatara Kala dapat menterjemahkan dan menerka ini serangkuman sloka yang diucapkan Dewa Siwa yang pada akhirnya Dewa Kala tidak dapat menerka dengan sempurna sloka itu dan karena Dewa Kala meneruskan pengejaran kepada Dewa Rare Kumara yang telah jauh larinya masuk ke halaman rumah orang.
Pada malam hari bertemu dengan seorang dalang yang sedang mengadakan pertunjukan wayang, Rare Kumara masuk ke bumbung (pembuluh bambu) gender wayang dan Dewa Kala memakan upakara yadnya dari wayang itu.
Oleh karena itu, Ki Mangku Dalang menasehati Dewa Kala agar jangan meneruskan niatnya hendak memakan Dewa Rare Kumara karena sudah memakan sesajen tersebut.

Ruwatan dalam tradisi Hindu

 


Ruwatan dalam tradisi Hindu Nusantara bukanlah sesuatu yang baru. Bahkan, ada banyak naskah kuno atau teks atau pustaka suci yang menyebutkan tentang ritual ini. Salah satunya dalam Lontar Bhuwana Kosa tentang lima sarana yang digunakan.
Penekun lontar Ida Bagus Made Baskara dari Griya Gunung Kawi Manuaba, Tampaksiring, Gianyar mengatakan, banyak ditemukan berbagai peninggalan sejarah yang berkaitan dengan prosesi ruwatan.
Dalam Lontar Bhuwana Kosa, yang merupakan salah satu teks berbasis Siwa Tattwa, khususnya pada Adhiaya 7 sloka 2-3 disebutkan istilah Soca. Dikatakan Baskara, Soca ini disamakan dengan Sauca atau upaya pembersihan diri atau bathin.
Pada Adhyaya 7 sloka 2-3 juga disebutkan setidaknya ada lima sarana yang dapat digunakan untuk Sauca. Masing-masing sarana memiliki level kekuatan untuk penyucian secara lahir dan batin.
Sarana pertama adalah Rondon. Ron itu berarti daun. Yakni upaya pembersihan dapat dilakukan dengan sarana dedaunan. Konon efeknya sampai 100 kali. Sarana kedua adalah tanah. Sarana ini dapat digunakan sebagai pembersihan diri. Ini memiliki efek pembersihan.
Sarana ketiga adalah jala atau air. Sarana ini dapat digunakan sebagai pembersihan atau Sauca. Bukan hanya secara fisik saja. Sarana keempat adalah Basma atau abu suci.
Biasanya abu ini dibuat oleh sang meraga sulinggih. Basma dibuat dari biji beras dan cendana. Ini juga memiliki efek Sauca atau pembersihan. Yang paling utama adalah jnanam atau pengetahuan suci. Ini sifatnya aprameya atau tanpa batas. “Jadi pembersihan yang paling utama menurut Bhuwana Kosa adalah justru jnanam atau pengetahuan,” paparnya.
Di Bali, proses peruwatan sudah menjadi tradisi. Ruwatan berasal dari ruwat yang merupakan upaya pembersihan batin. “Di Bali ruwatan juga dikenal dengan panglukatan. Kata panglukatan ini konon berasal dari kata lugas yang berarti pembersihan diri,” sebutnya.