Selasa, 12 Juli 2022

API TAKEP SEDERHANA TAPI MEMILIKI PERAN YANG SANGAT PENTING

 


Api Takep adalah api yang dibuat dalam dua buah sabut kelapa yang dicakupkan menyilang sehingga membentuk tapak dara ( + )
Dalam penggunaan saat upacara yadnya memiliki fungsi yang berbeda-beda yaitu :
1. Dalam Caru Sasih fungsinya sebagai salah satu upaya niskala yang sangat penting dilakukan agar terhindar dari pengaruh kala.
2. Sebagai perlengkapan sesuwuk yang ditaruh di “lebuh” / depan rumah berfungsi untuk menetralisir kekuatan - kekuatan jahat agar menjadi suatu kekuatan yang baik.
3. Dalam Nglungang Ida Bhatara sebagai perlengkapan pemendakan dalam prosesi mengiringi Ida Bhatara yang telah hadir.
4. Api takep yang membumbung ke udara dari tetimpug diyakini sebagai penghantar ritual dalam upacara yadnya.
5. Sebagai sarana perlengkapan dalam pawiwahan berfungsi agar setiap pasangan Selalu setia terhadap janji dan kata hati.
6. Dan penggunaanya saat Kajeng Kliwon Enyitan, api takep dari dua buah sabut kelapa tersebut biasanya disertai dengan segehan, beras dan tetabuhan berupa air, tuak, arak serta berem berfungsi untuk menetralisir dan menghilangkan pengaruh negatip sekitar rumah.

Hukum Karma Tidak Perlu Pengatur

 


Oleh karena hukum Karma merupakan sebuah hukum alam,
tidak diperlukan adanya pengatur atau pemberi hukuman.
Yang diperlukan adalah kondisi yang cocok atau sesuai untuk
berbuahnya karma. *Pengatur dari luar atau kekuatan tak
terlihat yang memberi pahala atas perbuatan baik dan memberi hukuman atas perbuatan jahat, tidak dikenal dalam ajaran agama Hindu.*
Manusia bisa berubah dari baik menjadi jahat, dan sebaliknya
dari jahat menjadi baik.
Ada kebebasan yang bisa dipilih oleh manusia, tergantung kepada kehendak dan perbuatannya.
Ini semacam hukum universal tentang kekekalan energi yang
dikembangkan ke bidang moral.
Dengan kita memahami bahwa hukum Karma sebagai suatu kekuatan atau bentuk energi, maka kita tidak memerlukan
suatu awal.
Jika kita bertanya kapan hukum Karma dimulai, ibarat kita bertanya kapan listrik atau gravitasi bumi dimulai.
Karma, seperti listrik atau gravitasi bumi tidak berawal.
Buah karma muncul di bawah kondisi tertentu yang sesuai atau
mendukungnya. Meskipun kita mengatakan bahwa asal karma adalah kehendak namun kita tidak bisa mengatakan bahwa awal karma adalah kehendak, sebagaimana halnya kita tidak bisa mengatakan bahwa asal sebuah sungai adalah di puncak gunung.
Jadi hukum Karma adalah hukum moral universal, yang berlaku bagi siapa saja, kapan saja, dan di mana saja, sesuai dengan kondisi yang terpenuhi.
Hukum Karma bekerja secara independen, bebas dari campur tangan atau intervensi dari makhluk apapun juga.
Hukum Karma sebagaimana hukum gravitasi, bekerja secara independen, tidak membedakan orang, tempat, dan waktu; tidak pilih kasih, sepanjang kondisinya terpenuhi.
Hukum Karma tidak bisa mengampuni pelaku karma meskipun pelaku tersebut berdoa siang dan malam memohon pengampunan.
Pelaku karma baik akan menerima buah karma baik, sedangkan pelaku karma buruk akan menerima buah karma buruk.
*Penggolongan Karma Berdasarkan Perbedaan Fungsi*
1. _Karma penghasil
Setiap kelahiran dikondisikan oleh karma baik atau karma
buruk yang muncul sesaat sebelum kematian sebelumnya.
Karma yang menciptakan kondisi bagi kelahiran berikutnya
disebut sebagai karma penghasil.
Kematian suatu makhluk hanyalah akhir sementara.
Karma penghasil menentukan keadaan seseorang di kelahiran yang berikutnya.
2. _Karma penyokong atau pendorong
Karma penyokong atau pendorong adalah karma yang datang setelah karma penghasil.
Karma ini tidak bersifat baik atau buruk.
Karma penyokong membantu mempertahankan kekuatan karma penghasil dalam rangkaian siklus hidup seseorang.
Durasi kerja karma penyokong adalah dari sesaat sesudah pembuahan hingga pada saat menjelang kematian.
Selama periode tersebut, karma penyokong akan terus bekerja mendorong karma penghasil.
Karma penyokong yang baik akan membantu dalam memberikan hal-hal baik kepada seseorang yang terlahir dengan karma penghasil yang baik.
Sebaliknya, karma penyokong yang buruk akan membantu dalam memberikan hal-hal buruk kepada seseorang yang terlahir dengan karma penghasil yang buruk.
3. _Karma penghalang atau pelemah
Karma penghalang bersifat melemahkan, menghalangi, dan memperlambat berbuahnya karma penghasil.
Jika karma penghasil seseorang baik maka karma penghalang akan mengurangi bahkan mencegah orang tersebut mendapatkan buah yang baik dari karma penghasilnya yang baik tersebut.
Sebaliknya, jika karma penghasil seseorang buruk maka karma penghalang akan mengurangi bahkan mencegah orang tersebut mendapatkan buah yang buruk dari karma penghasilnya yang buruk tersebut.
4. _Karma penghancur _
Kekuatan dari karma penghasil dapat dihapus atau dihancurkan oleh karma berlawanan yang sangat kuat, yang pernah dilakukan di masa lampau. Karma penghancur ibarat sebuah daya penghalang berkekuatan besar yang dapat menghentikan laju anak panah dan menjatuhkannya.
Karma penghancur lebih kuat dibandingkan dengan karma penyokong dan karma penghalang.
Hal ini dikarenakan karma ini dapat menghancurkan karma penghasil secara total.

3 pilar Dasar Umat Sanatana Dharma (Hindu)

 


1.Tattwa (pedoman Hidup/filsafat)
2. Etika (Budhi pekerti/Moral)
3. Upakara (penghormatan/upacara).
OM SWASTYASTU
Seseorang yang giat Belajar memiliki ribuan ide (gagasan).....
sedangkan orang yang Malas Belajar Merasakan ribuan kesulitan....
Yang Belajar Akan Terang...
Yang Tidak Belajar Selalu Kegelapan...
Orang Pintar Punya Tujuan...
Sedangkan Orang Bodoh Tidak Punya Tujuan....
Orang tanpa tujuan akan senantiasa Bekerja untuk Orang-orang yang Memiliki Tujuan....
Kepintaran dapat Membuatmu Kaya Raya...
Emosi dapat Mengalahkan Kecerdasan-mu....
Sedangkan...
Kebodohan dapat Menghabiskan Kekayaan-mu....
Jika ingin Menghindari Barang Mahal...
Tanya-lah Pada Tiga Toko Yang Berbeda....
Jika ingin Menghindari Penipuan...
Tanya-lah pada Enam Orang Yang Berbeda.....
Sifat Dasar Manusia Pada Saat Terlahir
Adalah Sama Yaitu Mempunyai
Kasih Sayang Dalam Sanubari-nya Kepada Siapapun Tanpa Terkecuali
(Hati Nurani)....
Yang Menjadikan Tabiat Mereka Jauh Berbeda Setelah Besar (dewasa)...
adalah Ajaran Yang Menghasut atau Didikan Yang Menghasut Mereka (doktrin)
Sejak Kecil (kanak2)....
Inilah Mengapa Seseorang Bisa Menjadi Fanatik dan Antipati serta Rasis dan Radikal Terhadap Sesama....
Oleh Karena itu Agama Sanatana Dharma (Hindu) Mengajarkan Pada Umat-umatnya (Bakta)...
Ajaran : Vaisudhaiva Kutumbakam dan Ajaran : Tat twam asi....
adalah Dua ajaran Moral yang bernafaskan Agama Sanatana Dharma (Hindu)....
Ajaran : Vasudhaiva Kutumbakam atau wasudewa Kutumbakam...
Adalah ungkapan bahasa Sansekerta yang berarti bahwa seluruh dunia adalah satu keluarga tunggal atau bersaudara tanpa membedakan Agama, suku, bahasa, bangsa, budaya, tradisi dan warna kulit....
Sedangkang Ajaran :
Tat Twam Asi adalah ajaran filsafat Hindu yang mengajarkan tentang kesusilaan yang tanpa batas....
Tat Twam Asi berasal dari kata Tat, artinya ia, Twam artinya kamu, dan Asi artinya Adalah....
jadi arti Keseluruhanya kamu Adalah Aku....
Dengan memahami dan mengamalkan Ajaran Vasudhaiva Kutum Bakam dan Ajaran Tat Twam Asi, yang Bersumber dari Kitab Suci Veda (weda)....
Manusia akan dapat merasakan Berat dan ringan hidup Bersama dalam kehidupan ini....
Selain itu Merupakan
Jiwa Filsafat Sosial/Pedoman Hidup Bermasyarakat Umat Sanatana Dharma (Tattwa)......
Juga Merupakan Bagian Dasar dari Tata Susila (etika) Umat Sanatana Dharma (Hindu) Dalam Usaha Mencapai Perbaikan Srada/ Moral Dan Upakara Pada Sesama (penghormatan)......
Dengan Ajaran Yang Maha Tinggi ini...
Agama Sanatana Dharma (Hindu)
Sudah Mengantisipasi Jauh-jauh Hari Umat-umatnya (sudah ada tuntunan-nya)...
Agar tidak Terpapar Ajaran Hasutan dan Ajaran Kebencian Serta Ajaran Radikalisme.

KONTROVERSI : AMOR ING ACINTYA.

 


Dalam yajur wedha termuat :
Yajur anilam amretani, swadam basmantam kretto sariram
Kalibbhi sariram ah hum krettam sariram,,,
Yang arti, y :
Wahai engkau manusia,,, sesungguh, y engkau adalah aku,,,,, !!! Yg terbelenggu dalam dunia kelahiran dan dunia materi, sehingga menyebabkan dirimu samsara,,,,,
jika saat, y tiba engkau mencapai kelepasan (kematian) maka bakarlah tubuh, mu segera menjadi abu,,,, 🙏🙏🙏
Dari kutipan sastra di atas dapat kita simpulkan, bahwa diri kita ini adlh perwujudan dari tuhan,,,, atau calon" bhatara, karena seluruh umat hindu pd akhir, y akan menjadi bhatara, setelah melinggih di batur kelawasan ( rong tiga), 🙏🙏
Kita" inilah calon" bhatara,,,, yg mseh terbelenggu dlm sebuah hukuman materi dan kelahiran,,,
Sehingga jk mencapai kelepasan di sarankan utk segera melakukan pembakaran jasad, agar secepat, y terlepas dari ikatan dunia materi akibat kamelekatan pada panca maha buta,,,,
Maka secepatnyalah juga melakukan samskara (penyucian roh) hingga dapat menyatu dgn tuhan, ( manunggal ring sangkan paraning dumadi)
Dari sinilah menjadi acuan sastra, y sehingga utk menyampaikan duka cita dlm agama hindu ada sebuah kalimat yg amat sakral, yaitu:
" AMOR ING ACINTYA "
" MANUNGGAL ING KAWULA GUSTI "
Yg semua, y kurang lebih mempunyai arti:
" menyatu dengan tuhan "
Trus pertanyaan, y : jika kalimat AMOR ING ACINTYA, tidak boleh di ucapkan utk menyatakan turut berduka cita,, lalu kalimat apa barangkali yg cocok,,???
Dan siapa" saja di antara umat sedharma yg boleh mengucapkan amor ing acintya,,???
Atau jangan" kita mau di kerdilkan kembali, setelah hilang sirna kertaning bhumi,,??
Seorang cendikiawan di abad pertengahan yg bernama ibnu rusyid pernah mengatakan,,,
Jika ingin mengelabui orang yg bodoh,,, bungkuslah sesuatu yg busuk / rusak itu dgn agama,,,
Janganlah melemparkan statment yg sllu membuat umat bingung, tanpa jalan kluar,,,,hingga tanpa uraian sastra yg jelas, hny berorientasi pada kepentingan fanatisme, feodal dan terjajah kalian,,,,

ANTARA MPU GNI JAYA DAN MPU BRADAH

 


MPU GNI JAYA
Mpu Gni Jaya yang masih tinggal di Gunung Semeru, telah mempunyai tujuh orang putra, dari perkawinannya dengan sepupunya Betari Manik Gni. Adapun nama ketujuh putra beliau tersebut antara lain:
1. Mpu Ketek
2. Mpu Kananda
3. Mpu Wiradnyana
4. Mpu Withadharma
5. Mpu Ragarunting
6. Mpu Prateka
7. Mpu Dangka
Ketujuh Mpu inilah yang menurunkan Maha Gotra Pasek, Tangkas dan Bendesa. Kembali kepada Mpu Gni Jaya, karena beliau akan segera ke Bali, maka Mpu Gni Jaya menasehati adiknya Mpu Bradah dan putra-putranya, demikian sabdanya: “Adikku Mpu Bradah dan anak-anakku semua, saya akan segera meninggalkan adik dan anak-anak, akan kembali keBali, menghadap Hyang Agni Jaya, Hyang Putra Jaya dan Hyang Dewi Danuh, sebab telah sekian lama tidak pernah menghadap Betara-Betari di Nusa Bali. Ini adalah amanatku kepadamu semua, yang kamu harus tetap hormati nanti bila aku telah sampai dan wafat diBali, sembahlah aku olehmu dan keturunan-keturunanmu sampai akhir jaman. Ingat sekali jangan melupakan Petirtayan Hyang Putra Jaya di Besakih, pada hari Purnamaning Kapat, harus anak cucu dan turunan-turunanmu, menghaturkan Pujawali, demikian harus diingat jangan lupa”.
Mpu Gni Jaya segera berangkat pergi ke Bali, pada hari Wraspati (Kamis) Kliwon, sasih Kedasa menuju adiknya di Padang (Silayukti). Banyaklah hal-hal yang terjadi pada saat itu. Begitu Mpu Gni Jaya tiba di padang. Mpu Kuturan melihat kakaknya datang, segera saja menjemput kakaknya, dengan sangat hormatnya menyembah Mpu Gni Jaya dengan tata cara kependetaan. Mpu Gana mendengar khabar kakaknya datang, segera saja pergi menghadap ke Padang (Silayukti). Betapa gembiranya pertemuan waktu itu. Esoknya, Sukra, Umanis sasih Kedasa Mpu Gni Jaya, Mpu Kuturan dan Mpu Gana menuju ke Gelgel, di Gelgel hanya sebentar saja, langsung menuju Besakih. Karena telah sama-sama berbadan suci, sebentar saja telah sampai di Besakih, langsung menuju ke Parhyangan Mpu Semeru. Mpu Semeru melihat kakak dan adik-adiknya datang, betapa gembiranya, segera menyambut sang baru datang, maklumlah kedatangannya tak terduga-duga. Banyaklah hal-hal yang terjadi pada waktu itu.
Entah beberapa lama di Besakih, demikian juga telah sama-sama dapat menghadap Betara Tiga, yang kebetulan ada di Besakih. Mpu Gni Jaya ditugaskan Apryangan di Lempuyang Madya. Oleh karena keluarga Mpu Gni Jaya masih berada di Jawa, maka beliaupun Ngejawa-Ngebali, lama-lama Mpu Gni Jaya membuat Parhyangan di Lempuyang Madya, tempat menuju dan melakukan yoga semadhi. Sekarang Parhyangan Mpu Gni Jaya, Mpu Semeru, Mpu Kuturan dan Mpu Gana dikenal dengan Catur Parhyangan. Demikianlah halnya Mpu Gni Jaya turun ke Bali setelah selesai memperdalam ilmu kependetaan di Gunung Semeru (Di lingkungan Pura Mandara Giri Semeru Agung –Senduro Agung, Jawa Timur).
MPU BRADAH
Mpu Bradah adalah putra Mpu Tanuhun yang ke-5 tinggal di Jawa, menjadi Bhagawanta Kerajaan Deha. Beliau mempunyai 2 orang putra putri, yang laki bernama Mpu Bahula, istrinya bernama Dyah Ratna Manggali, masih sepupu (Putri dari Mpu Kuturan). Mpu Bahula juga menjadi Bhagawanta kerajaan Deha menggantikan ayahnya, mempunyai dua orang putra dan empat orang putri, yang laki bernama :
1. Mpu Tantular, pengarang Sutasoma
2. Mpu Siwa Bandu, setri Betari Giri Dewi, juga menjadi Bhagawanta di Kerajaan Deha
Mpu Tantular mempunyai 5 orang putra, masing-masing bernama:
1. Danghyang Panawasikan
2. Danghyang Sidimantra (Mpu Bekung)
3. Danghyang Semaranata
4. Danghyang Kepakisan
5. Mpu Siwa Raga.
Mpu Bekung (Danghyang Sidimantra) berputra sangkaning yoga, putra beliau bernama Ida Manik Angkeran. Ida Manik Angkeran berputra 3 orang, masing-masing bernama :
1. Ida Banyak Wide, menurunkan Arya Bang Pinatih
2. Ida Tulus Dewa, menurunkan Arya Bang Sidemen, seorang kumpi dari Ida Tulus Dewa
(Perempuan) kawin dengan Arya Dauh, menurunkan Arya Dauh
3. Danghyang Semaranata (Asmaranata) berputra 2 orang yaitu:
a. Mpu Angsoka, berputra seorang bernama Mpu Astapaka, menurunkan Brahmana Buddha di
Bali
b. Pedanda Sakti Wawu Rauh (Danghyang Nirartha/Danghyang Dwijendra), ke Bali tahun
1489 M, menurunkan :
- Brahmana Kemenuh wijiling setri – Deha
- Brahmana Manuaba wijiling setri – Pasuruhan
- Brahmana Keniten wijiling setri – Blambangan
- Brahmana Mas wijiling setri – Okan Bendesa Mas
- Brahmana Petapan wijiling setri – Pelayan Okan Bendesa Mas (Ni Brit dan Ni Petapan)
Putra Mpu Tantular yang ke-4 yang bernama Danghyang Kepakisan mempunyai seorang putra, bernama Sri Soma Kepakisan mempunyai putra 4 orang yaitu :
1. Dalem Wayan menjadi Dalem di Blambangan
2. Dalem Made menjadi Dalem di Pasuruhan
3. Dalem Nyoman Sukania menjadi Dalem di Sumbawa (Perempuan)
4. Dalem Ketut Kresna Kepakisan menjadi Dalem di Bali, bekedudukan di Samprangan, keBali
tahun 1350 M berputra 5 orang ( Dalem Tarukan, A.A. Anom Sudira Pering):
a. Sri Agra Samprangan (Dalem Ile) menjadi Dalem Samprangan (hanya sebentar)
b. Dalem Tarukan menurunkan Warga Pulasari
c. Dalem Nyoman (tidak disebutkan namanya)
d. Dalem Ketut Nglesir diangkat menjadi Dalem Gelgel yang pertama tahun 1380 – 1460
Masehi.
e. Dalem Tegal Besung (beribu putri Arya Gajah Para)
Dalem Ketut Nglesir inilah yang menurunkan Dalem Klungkung.
Sesungguh nya kita adlh satu kesatuan yg utuh
Yg membedakan adlh tingginya ego Yg menyelimuti diri sehingga lupa dengan kesadaran sejati kita adlh SAMETON...
Sama2 katon, atau semua adlh terlihat sama.
Kalau pun Ada ngaku2 sebagai trah yg paling baik dan paling tinggi berarti anda belum memiliki kesadaran penuh tentang alur kehidupan.

Kematian Bisma dalam perang Bharatayudha Kuruksetra.

 


Dewi Amba menitis kepada Srikandi yang akan membunuh Bisma dalam perang Bharatayuddha. Lahirlah Srikandi anak Raja Drupada dari kerajaan Panchala yang merupakan reinkarnasi dari Amba. Meskipun ia seorang wanita tetapi ia terampil dalam ilmu keprajuritan terutama ilmu memanah yang diajarkan Arjuna kepadanya. Srikandilah yang bersedia mengambil dan memakai kalung bunga Dewa Sangkara, dan itu berarti ia lah yang akan menjadi penyebab gugurnya Bisma.
Demi janjinya membela kerajaan Astina, Bisma tampil saat perang Baratayudha, Bisma menjadi panglima Kurawa, sebab ia menepati janjinya akan melindungi Astina siapapun yang menjadi Rajanya. Walau di dalam hatinya Bisma tidak pernah setuju pada perbuatan dan tindakan para Kurawa.
Pada perang kresna yang sudah kehabisan akal menantang Bhisma. Kresna menunjukkan Amarahnya kepada Bhisma lalu Krishna mengatakan kalau dirinya bukan Manusia tapi seorang Dewa yang Utama dan menasihati Bisma tentang kewajiban dan kebenaran lalu Bisma pun sadar,setelah itu Bhisma tersenyum. Kemudian Bhisma menyadari di tangan Pandawa dan penerusnya, Astina akan mendapatkan kejayaan. Bhisma mengakui, anaknya Drstharastra sebagai seorang yang tidak pantas menjadi raja. Bhisma juga menyadari bahwa dia jugalah yang menjadi hambatan besar bagi Pandawa untuk meraih kemenangan. Selain itu Bhisma juga terpengaruh oleh pernyataan Kresna yang menyatakan selama ini Bhisma tidak adil dengan menjadi pelindung Kurawa dan melalaikan Pandawa. Resi Bhisma dinilai tidak membela sama sekali saat Pandawa terusir dari negerinya, juga saat Dewi Drupadi, istri Yudistira mendapat penghinaan dari orang-orang Kurawa. Resi Bhisma terus berdalih bahwa dia selama ini tinggal di padepokannya yang jauh dari Astina Pura. Tetapi dalam hatinya mengakui bahwa dia telah menelantarkan para Pandawa. Akhrinya, Bhisma memberi petunjuk bahwa dia pantang menyerang seorang perempuan, maka tampilkanlah seorang perempuan untuk melawannya dan menjadi perisai bagi Arjuna.
Esok Harinya, hari ke-10 Bharatayuda, Kresna menampilkan Srikandi, Pertimbangannya, Srikandi sangat mahir menggunakan panah. Kutukan Amba akhirnya memang menjadi kenyataan, saat perang akbar di Kurusetra, Srikandi turut terjun ke medan laga. Ketika Srikandi berhadapan Dengan Bisma, Bisma pun teringat, waktu memandang Dewi Srikandhi, seperti berhadapan dengan Dewi Amba. Ketika menatap dekat Srikandi,Bhisma menyadari sepenuhnya, Srikandi adalah titisan Dewi Amba, di mata Bhisma sekejap yang terlihat adalah wajah Dewi Amba seutuhnya. Dia melihat jiwa Dewi Amba berada pada raga Srikandi, pada saat itulah ia menyadari bahwa waktunya telah tiba, Amba telah datang menjemputnya.
Pada saat Dewi Srikandi Berhadapan dengan Bisma, Bisma pun meletakkan Senjatanya, lalu Dewi Srikandi segera memanah Resi Bisma, panahpun dengan cepat melesat kearah Resi Bisma.
Para pandawa pun melesatkan panahnya dan Arjuna melayangkan serbuan anak panah lagi disertai dengan kekuatan agar cepat mengenai dada Resi Bisma. Dengan seketika hujan panah itu begitu ajaibnya langsung tertancap di dada Resi Bisma, seolah pertanda sumpahnya telah tercabut, tubuh Bisma pun jatuh ke bumi di Tegal Kurusetra. Bisma merasakan bahwa inilah saatnya ia terlepas dari tanggung jawab sumpahnya sendiri dan ia bisa menjalin cintanya yang sempat tertunda di kehidupan selanjutnya.
Tubuh Resi Bhisma pun dipenuhi oleh anak panah. Tubuhnya tidak menyentuh tanah karena tersangga oleh panah-panah yang menancap, hanya kepalanya yang tidak terkena anak panah, menjuntai. Melihat Resi Bhisma roboh, peperangan mendadak terhenti. Arjuna melompat dari keretanya dengan menangis menghampiri Resi Bhisma.
Bhisma tidak segera mati. Karena Dia mempunyai kesaktian untuk menentukan hari matinya. Pandawa, Kurawa serta para pini sepuh mendatangi Resi Bhisma. Resi Bhisma berkata bahwa dia butuh bantal untuk menyangga kepalanya. Suyudana segera menyuruh para Kurawa mengambil bantal yang empuk dan indah, berupa tilam bersulam emas dari Istana Astina. Tapi Resi Bhisma menolaknya seraya memanggil Arjuna. Arjuna mengerti maksudnya, dia segera melepaskan tiga buah anak panah yang menancap di tanah sedemikian rupa yang membentuk penyangga kepala Resi Bhisma. Sedangkan Werkudara memberikan perisai-perisai perajurit yang telah gugur untuk menyelimuti Resi Bisma. Pandawa juga membuatkan penutup kelambu untuk menghormati Resi Bisma. Kemudian Resi Bhisma meminta minum. Duryudana segera menyuruh para Kurawa menyediakan minuman buah-buahan yang lezat. Resi Bhisma kembali menolaknya dan meminta Arjuna menyediakan minuman baginya. Arjuna mengambil satu anak panah lagi dan dengan mantranya panah itu dilepas ke tanah yang dari tempatnya menancap muncullah semburan air yang menyiram muka Resi Bhisma. Setelah terpuaskan dahaganya, semburan air itu pun berhenti. Resi Bhisma berkata bahwa dia ingin menyaksikan Bharatayuda sampai akhir. Medan pertempuran pun digeser agar tidak mengganggu Resi Bhisma. Bharatayuda dilanjutkan.
Setelah delapan belas hari Pandawa muncul sebagai pemenangnya. Pandawa kembali mengunjungi Bhisma, bersama ibu mereka, Dewi Kunti Nalibrata. Sebelum meninggal Bhisma berpesan kepada Yudistira untuk tidak mengesampingkan kepentingan negara demi kepentingan lainnya. Bahkan meskipun itu demi kepentingan suatu sumpah yang suci


- Service Laptop / Smartphone Panggilan Denpasar

TERLAHIR SEBAGAI MANUSIA DI ALAM SAMSARA

 


Leluhur kita di Bali mewariskan ajaran dharma tradisional, “Idupe nak anggo ngalih bekel idup lan bekel mati”. Yang berarti tujuan kehidupan ini adalah untuk mempersiapkan bekal kehidupan dan mempersiapkan bekal kematian.
Menyangkut mempersiapkan bekal kehidupan sebagian besar manusia sangat disiplin dan bersemangat. Belajar yang rajin di sekolah, bekerja yang tekun di tempat kerja, membuka usaha, dsb-nya. Hal ini tentu saja hal yang sangat baik dan selayaknya harus kita lakukan.
Hanya sayangnya menyangkut mempersiapkan bekal kematian, sebagian besar manusia cenderung lupa atau mengabaikannya. Padahal kematian pasti akan dialami setiap manusia. Orang suci orang jahat, orang miskin orang kaya, rajin sembahyang tidak rajin sembahyang, siapapun dan apapun kita, semuanya pasti akan mati.
Apa maksud leluhur kita di Bali dengan mempersiapkan bekal kematian ? Ini adalah pengetahuan tentang samsara. Hidup kita disaat ini sangat tidak kekal, paling lama katakan saja selama 100 tahun dan suatu saat kita akan mati. Serta bahwa hidup ini tidak hanya sekali ini saja, kita sudah terlahir milyaran kali di alam samsara ini. Kita terus saja berputar-putar tidak berarti [segala sesuatu tidak kekal] di alam samsara ini, dalam ketidaktahuan, kebingungan dan penderitaan.
Maksud leluhur kita di Bali dengan mempersiapkan bekal kematian adalah agar kita mawas diri, memiliki pandangan terang dan kejernihan pemahaman terhadap realita alam samsara ini. Bahwa hidup sebagai manusia tidak sesederhana yang kita pikirkan, alam samsara ini tidak semudah yang kita pikirkan.
Dari seluruh alam samsara, hidup sebagai manusia kita berada di alam tengah [Bwah Loka], yaitu berada diantara alam-alam rendah yang penuh penderitaan [Bhur Loka] dan alam-alam atas yang penuh kebahagiaan [Svah Loka]. Hal inilah yang memungkinkan kita manusia dapat merasakan datangnya kebahagiaan dan penderitaan secara silih berganti. Kadang di suatu masa waktu kita mengalami lebih banyak kebahagiaan, kadang di suatu masa waktu kita mengalami lebih banyak penderitaan.
Hal ini amat sangat berbeda dengan alam-alam rendah [binatang, mahluk alam bawah] yang sangat dominan sepanjang waktu dipenuhi penderitaan, serta sebaliknya alam-alam atas [Svarga Loka, alam para Dewa] yang sangat dominan sepanjang waktu dipenuhi kebahagiaan.
Di alam samsara ini untuk dapat terlahir sebagai manusia sangatlah sulit dan berharga. Kita sangat beruntung, karena disebabkan oleh akumulasi karma baik kita di banyak kehidupan sebelumnya, yang membuat kita terlahir sebagai manusia. Terlahir sebagai manusia sangat berharga, karena sebagai manusia kita akan dapat melihat dengan jelas penderitaan alam samsara ini, kemudian jika kita dapat memahami kebenaran ajaran dharma, maka kita dapat memiliki keinginan dan tekad kuat untuk membebaskan diri kita dari penderitaan alam samsara.
Tapi bagi orang yang belum dapat memahami kebenaran ajaran dharma tradisional leluhur kita di Bali, agar kita juga mempersiapkan bekal kematian, maka mereka akan menjalani hidup hanya sekedar untuk mengejar kenyamanan, kebahagiaan atau kesenangan. Asal bisa makan, asal bisa hidup enak, asal tercapai apa yang diinginkan. Hidup sebagai manusia itu mudah, untuk apa kita ruwet-ruwet, biasa-biasa saja, yang penting bahagia dan senang-senang.
Di alam samsara ini, kehidupan sebagai manusia yang hanya mengejar kenyamanan, kebahagiaan atau kesenangan, hidup yang biasa-biasa saja, itu bukanlah sebuah kehidupan yang layak. Terutama karena dapat terlahir sebagai manusia di alam samsara ini sangat langka dan sangat berharga.
Jika kita tidak mempersiapkan bekal kematian, maka disaat kematian, setelah melewati Alam Antarabhava, Atma kita akan bernasib seperti debu yang terhisap vacuum cleaner. Langsung terhisap tidak berdaya menuju kelahiran kembali atau menuju alam-alam yang sesuai dengan akumulasi karma kita sendiri. Dari sini terbuka suatu kemungkinan hidup kita sebagai manusia disaat ini dapat menjadi pintu kejatuhan ke alam-alam rendah yang penuh kesengsaraan berat saat kita mati [menjadi hantu, wong samar, setan, atau terlahir kembali sebagai binatang].
Hidup sebagai manusia di alam samsara ini sangat berharga dan sangat langka. Hidup penuh suka cita dan bahagia itu penting, tapi kita juga harus membiasakan diri melakukan praktek-praktek spiritual yang dapat membebaskan diri kita dari penderitaan alam samsara yang tidak berujung akhir ini, khususnya dengan melakukan berbagai usaha agar hidup bukan hanya sebatas untuk diri kita sendiri dan keluarga, tapi lebih luas lagi agar dapat bermanfaat bagi semua mahluk. Salah satunya mengisi hidup ini dengan tekun melaksanakan sadhana belas kasih.