Tetandingan Banten Bali

Label

  • Bali inspiration
  • Bali Masa Depan
  • basa Bali
  • Bersenang-senang dengan devanagari
  • Bhagavad Gita
  • Cafe Herbal
  • Caru
  • Dewa Yadnya
  • English for kids
  • Gamelan
  • Hindu bilingual
  • Jenis Banten
  • Jual Banten
  • Karya Ngenteg Linggih
  • Macam-macam Banten
  • Macam-macam Tebasan
  • Manusa Yadnya
  • Memukur
  • Panca Sembah
  • Pitra Yadnya
  • pustaka
  • Rerainan
  • Sampyan
  • saMskrtam
  • Satua
  • Sesayut
  • Tetandingan
  • Toko OnLiNe jualan onlain
  • Upacara upakara
  • Uparengga
  • Yoga Bali

Kamis, 22 Desember 2016

Rumus Perhitungan Wariga dan Dewasa Ayu dalam Kalender Bali


Dengan adanya kalender saka bali, baik kalender bali digital maupun yang digunakan sehari - hari, orang bali tidak akan susah untuk menentukan hari baik berdasarkan wariga dan ala ayuning dewasa ayu.
Tetapi apabila ingin mempelajari secara manual, tentu ada rumus baku untuk wariga tersebut. dibawah ini akan diberikan sekilas perhitungannya, dan bila ingin mendalaminya tentu memerlukan materi yang lebih mendalam. 
Ini hanya kulit luarnya saja, tapi sudah bisa digunakan untuk kegiatan sehari – hari. adapun cara mempelajarinya adalah sebagai berikut;

PEDEWASAN, yang mula – mulanya dapat dibagi dua bagian antara lain;

Pedewasan Sehari – hari yang hanya berdasarkan perhitungan;
  • Pawukon (Ingkel, Rangda Tiga, Tanpa Guru, Was Penganten dll)
  • Tri wara (Pasah untuk memisahkan, Beteng untuk mempertemukan, Kajeng untuk wasiat)
  • Sapta wara (Soma/senin, Budha/rabu dan Sukra/jumat, yang lainya termasuk kurang baik)
  • Sanga wara ( yang terbaik adalah Tulus dan Dadi)
  • Dauh Inti, berlaku pada waktu/jam tertentu saja, dari jam sekian sampai dengan sekian saja.
Pedewasan Inti berdasarkan Perhitungan yang terperinci, antara lain; Ayu nulus, Dauh ayu, Ayu badra, Mertha yoga, Mertha masa, Mertha dewa, Mertha danta, Sedana yoga, Subacara, Dewa ngelayang, dengan tidak melupakan hal – hal yang tersebut diatas serta dihubungkan dengan baiknya sasih dan Penanggal.

 Selanjutnya mari kita ikuti perumusan – perumusan berikutnya;

Urip Wewaran
  • Urip Panca wara; Umanis (5), Pahing (9), Pon (7), Wage (4), Kliwon (8).
  • Urip Sapta wara; Dina Redite/Minggu (5), Soma/Senin (4), Anggara/Selasa (3), Budha/Rabu (7), Wraspati/Kamis (8), Sukra/Jumat (6), Saniscara/Sabtu (9).
  • Urip Wuku; Sita (7), landep (1), ukir (4), kilantir (6), taulu (5), gumbreg (8), wariga (9), warigadean (3), julungwangi (7), sungsang (1), dunggulan (4), kuningan (6), langkir (5), medangsia (8), pujut (9), Pahang (3), krulut (7), merakih (1), tambir (4), medangkungan (6), matal (5), uye (8), menial (9), prangbakat (3), bala (7), ugu (1), wayang (4), klawu (6), dukut (5) dan watugunung (8).
Bilangan
  • Bilangan Sapta wara; Redite (0), Soma (1), Anggara (2), Budha (3), Wraspati (4), Sukra (5), Saniscara (6).
  • Bilangan Wuku; Sita (1), landep (2), ukir (3), kilantir (4), taulu (5), gumbreg (6), wariga (7), warigadean (8), julungwangi (9), sungsang (10), dunggulan (11), kuningan (12), langkir (13), medangsia (14), pujut (15), Pahang (16), krulut (17), merakih (18), tambir (19), medangkungan (20), matal (21), uye (22), menial (23), prangbakat (24), bala (25), ugu (26), wayang (27), klawu (28), dukut (29) dan watugunung (30).

RUMUS PERHITUNGAN WARIGA
Ingkel (pantangan) mulai dari Redite/Minggu dan berakhir pada Saniscara/Sabtu (7 hari) dan bilangan wuku dibagi 6, sisa;
  • Wong / yang berhubungan dengan Manusia.
  • Sato / yang berhubungan dengan Hewan.
  • Mina / yang berhubungan dengan Ikan.
  • Manuk / yang berhubungan dengan Burung/Unggas.
  • Taru / yang berhubungan dengan Tumbuhan Berkayu.
  • Buku / yang berhubungan dengan Tumbuhan Berbuku.
Perhitungan Wewaran
  • Eka Wara ; Urip Pancawara + Urip Saptawara = Ganjil = Luang (tunggal/padat) -> urip 1
  • Dwi Wara ; Urip Pancawara + Urip Saptawara =    Ganjil = menga (terbuka) -> urip 5 ; Genap = pepet (tertutup) -> urip 4
  • Tri Wara ; (Bilangan WUKU x 7 + bilangan Saptawara yang dicari) : 3 = sisa    
           => Pasah (ditujukan kepada Dewa) -> urip 9
           => Beteng (ditujukan kepada Dewa) -> urip 4
           => Kajeng (ditujukan kepada Bhuta) -> urip 7
  • Catur Wara ; (Bilangan WUKU x 7 + bilangan Saptawara yang dicari) : 4 = sisa
           => Sri (makmur) -> urip 6
           => Laba (pemberian/imbalan) -> urip 5
           => Jaya (unggul) -> urip 1
           => Menala (sekitar daerah) -> urip 8

Dari Redite Sinta sampai dengan Redite Dunggulan + 2, Soma Dunggulan + 1, sebelum dibagi. ini disebabkan adanya Jaya Tiga pada Wuku Dunggulan berturut – turut dari redite, selanjutnya rumus berlaku seperti biasa.
  • Panca Wara ; (Bilangan WUKU x 7 + bilangan Saptawara yang dicari) : 5 = sisa
          => Umanis (penggerak) -> urip 5
          => Paing (pencipta) -> urip 9
          => Pon (penguasa) -> urip 7
          => Wage (pemelihara) -> urip 4
          => Kliwon (pemusnah/pelebur) -> urip 8
  • Sad Wara ; (Bilangan WUKU x 7 + bilangan Saptawara yang dicari) : 6 = sisa
          => Tungleh (tak kekal) -> urip 7
          => Ariang (kurus) -> urip 6
          => Urukung (punah) -> urip 5
          => Paniron (gemuk) -> urip 8
          => Was (kuat) -> urip 9
          => Maulu (membiak) -> urip 3
  • Jejepan ; (Bilangan WUKU x 7 + bilangan Saptawara yang dicari) : 6 = sisa
          => Mina (ikan)
          => Taru (kayu)
          => Sato (hewan)
          => Patra (tumbuhan merambat/menjalar)
          => Wong (manusia)
          => Paksi (burung/unggas)
  • Astha Wara ; (Bilangan WUKU x 7 + bilangan Saptawara yang dicari) : 8 = sisa
          => Sri (makmur) -> urip 6
          => Indra (indah) -> urip 5
          => Guru (tuntunan) -> urip 8
          => Yama (adil) -> urip 9
          => Ludra (peleburan) -> urip 3
          => Brahma (pencipta) -> urip 7
          => Kala (nilai) -> urip 1
          => Uma (pemelihara) -> urip 4
Dari Redite Sinta sampai Redite Dunggulan + 2, Soma Dunggulan +1, sebelum dibagi. selanjutnya rumus berlaku sebagai biasa.
  • Sanga Wara ; (Bilangan WUKU x 7 + bilangan Saptawara yang dicari) : 9 = sisa
          => Dangu (antara terang dan gelap) -> urip 5
          => Jangur (antara jadi dan batal) -> urip 8
          => Gigis (sederhana) -> urip 9
          => Nohan (gembira) -> urip 3
          => Ogan (bingung) -> urip 7
          => Erangan (dendam) -> urip 1
          => Urungan (batal) -> urip 4
          => Tulus (langsung) -> urip 6
          => Dadi (jadi) -> urip 8

Dari Redite Sinta sampai Redite Dunggulan + 2, Soma Dunggulan +1, sebelum dibagi. selanjutnya rumus berlaku sebagai biasa.
  • Dasa Wara ; (urip Pancawara + Urip Saptawara yang dicari + 1) : 10 = sisa
          => Pandita (bijaksana) -> urip 5
          => Pati (dinamis) -> urip 7
          => Suka (periang) -> urip 10
          => Duka (jiwa seni / mudah tersinggung) -> urip 4
          => Sri (kewanitaan) -> urip 6
          => Manuh (taat / menurut) -> urip 2
          => Manusa (sosial) -> urip 3
          => Eraja (kepemimpinan) -> urip 8
          => Dewa (berbudi luhur) -> urip 9
          => Raksasa (asura keras) -> urip 1

Dasawara berarti watak agung (karakter)
Watek Madia ; (urip Pancawara + Urip Saptawara yang dicari) : 5 = sisa
    => Gajah (besar) – hewan
    => Watu (kebal) – keras
    => Bhuta (tak nampak) – jerat
    => Suku (berkaki) – meja
    => Wong (orang) – pembantu
  • Watek Alit ; (urip Pancawara + Urip Saptawara yang dicari) : 4 = sisa
           => Uler (beranak banyak)
           => Gajah (besar)
           => Lembu (kuat)
           => Lintah (kurus)
Tanpa Guru ; dalam satu WUKU tidak terdapat GURU (Astha Wara), yang artinya tidak baik untuk memulai suatu usaha terutama mulai belajar.

Was Penganten ; dalam satu WUKU terdapat dua WAS (Sad Wara), baik untuk membuat benda tajam (seperti keris, tombak dll), tembok, pagar dan membuat pertemuan.

Semut Sadulur ; Urip Pancawara + Urip Sapthawara = 13 dan berturut – turut tiga kali, pantangan untuk atiwa – tiwa (menguburkan mayat / ngaben). tetapi sangat baik untuk membentuk organisasi.

Kala Gotongan ; Urip Pancawara + Urip Sapthawara = 14 dan berturut – turut tiga kali, pantangan untuk atiwa – tiwa (menguburkan mayat / ngaben). tetapi sangat baik untuk memulai suatu usaha.
Mitra satruning Dina (segala usaha/acara penting)
  • (Urip Saptawara + Pancawara Kelahiran) + (Urip Saptawara + Pancawara memulai Usaha/acara) = sisa
           => Guru (tertuntun)
           => Ratu (dikuasai)
           => Lara (terhalang)
           => Pati (batal)
Demikian RUMUS untuk mencari hari baik berdasarkan WARIGA dan DEWASA AYU (ref)

- JUAL ES KRIM / ES PUTER PERNIKAHAN KLIK DISINI

BACA JUGA :
-  LAMAR KERJA TANPA BIKIN CV KLIK DISINI
-  CEK LOWONGAN KERJA DI BALI KLIK DI SINI 
- Cara mudah Mendapatkan penghasilan Alternatif yang bisa anda andalkan
- DOWNLOAD FILM SUB INDONESIA GRATIS
- DOWNLOAD MP3 GRATIS
Diposting oleh kedai di 22.53 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Hindu bilingual

Gebogan



Dagang Banten Bali


Gebogan adalah susunan raka-raka berupa buah dan jajanan yang dihaturkan ke hadapan Hyang Widhi sebagai rasa syukur atas rejeki yang kita nikmati demikian disebutkan dalam kutipan keterangan gebogan | Flickr - Photo Sharing.
Dialasi dengan sebuah dulang sebagai simbol yoni yang bermakna agar pertemuan dengan yang dipuja berjalan dengan lancar.

Dan pada zaman dahulu intinya menggunakan gedebong sebagai simbol lingga. 

Gebogan atau Pajegan yang juga disebut sebagai aturan rayunan dibuat sebagai persembahan yadnya untuk bersyukur serta memohon prana/prani sehingga setelah mendapat anugrah kembali kita nikmati, itulah perkembangan jaman,  

apa yang kita makan,
itulah yang kita persembahkan Kepada Tuhan

Banten gebogan itu ada makna filisofinya juga karena bentuknya yang menjulang mirip seperti gunung, makin keatas makin mengerucut (lancip), dan diatasnya juga diletakkan canang dan sampiyan sebagai wujud persembahan dan bhakti kita kehadapan Tuhan sbg pencipta alam semesta.
Akan lebih baik dan terlihat indah bila digabungkan dgn seni... makanya dirangkai, diatur sedemikian rupa supaya banten itu terlihat unik dan cantik...barangkali Hindu memang terkesan unsur 'art-nya'... mungkin itu juga bagian dari kepuasan tersendiri bagi 'si pelaku' tersebut.

Jika kecil, sederhana namun indah akan baik...bila mewah, indah, barangkali lebih baik, namun bukan itu yang jadi ukuran, yang penting 'ikhlas, tulus, jujur, sesuai dgn kemampuan' tak kan menjadikannya beban
. 

- JUAL ES KRIM / ES PUTER PERNIKAHAN KLIK DISINI

BACA JUGA :
-  LAMAR KERJA TANPA BIKIN CV KLIK DISINI
-  CEK LOWONGAN KERJA DI BALI KLIK DI SINI 
- Cara mudah Mendapatkan penghasilan Alternatif yang bisa anda andalkan
- DOWNLOAD FILM SUB INDONESIA GRATIS
- DOWNLOAD MP3 GRATIS
Diposting oleh kedai di 21.36 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Hindu bilingual

Selasa, 20 Desember 2016

Canakya niti sastra




Dagang Banten Bali



CARA MUDAH DAPAT UNTUNG DARI TRADING FOREX KLIK DISINI

BAB I Sloka 16.
Visadapyamrtam grahyam
Amedhyadapi kancanam
Nicadapyuttaman vidyam
Stri-ratnam duskuladapi
Artinya: Saringlah Amerta meskipun ada dalam racun, ambilah emas meskipun ada di dalam kotoran. Pelajari ilmu pengetahuan keinsyafan diri walaupun dari seorang yang masih anak-anak atau orang kelahiran rendah. Dan juga meskipun seorang wanita lahir di keluarga yang jahat dan hina, tetapi kalau ia berkelakuan mulia bijaksana ia patut diambil sebagai istri.
BAB II Sloka 6.
Na visvaset kumitre ca
Mitre capi na visvaset
Kadacit kupitam mitram
Sarva guhyam prakasayet.
Artinya : janganlah menaruh kepercayaan kepada teman jahat/kumitra. Juga jangan terlalu percaya kepada teman dekat sekalipun, sebab kalau ia marah, segala rahasia anda akan dibukanya.
BAB II Sloka 7.
Manasa cintitam karyam
Vacasa na prakasayet
Mantrena raksayed gudham
Karya capi niyojayet
Artinya : Pekerjaan/rencana apapun berada dalam pikiran, jangan sama sekali anda keluarkan dalam kata-kata. Simpanlah dalam-dalam di dalam pikiran anda, dan diam-diam lakukan pekerjaan tersebut dengan penuh kemantapan.
BAB II Sloka 13.
Slokena va tadardhena
Tadarddharddhaksarena va
Avandhyam divasam kuryad
Danadhyayana-karmabhih.
Artinya : isilah waktu setiap hari dengan menghafalkan satu sloka satu ayat, atau setengah sloka, atau seperempat sloka ataupun satu huruf dari sloka tersebut. Atau isilah hari-hari anda dengan bersedekah, belajar kitab-kitab suci dan kegiatan bermanfaat lainnya. Dengan demikian hari-hari anda akan menjadi berarti.
BAB II Sloka 19.
Duracari duradrstih
Duravasi ca durjanah
Yan maitri kriyate pumsa
Sa tu sighram vinasyati
Artinya : Kalau seseorang berteman dengan orang yang tingkah lakunya tidak baik, dengan orang yang penglihatannya jahat, dengan orang yang tinggal di tempat-tempat kotor dan tidak suci, bergaul dengan penjahat, segera menemui kebinasaan.
BAB III Sloka 7.
Murkhastu parihartavyah
Pratyakso dvipadah pasuh
Bhinatti vakyasulyena
Adrsyam kantakam yatha
Artinya : Menjauhlah dari orang bodoh jahat dalam rupa binatang berkaki dua. Bagaikan duri tidak kelihatan ia menusuk dengan pisau tajam kata-katanya.
BAB III Sloka 8.
Rupa yauvana sampanna
Visala kula sambhavah
Vidyahina na sobhante
Nirghandha iva kimsukah
Artinya : Ada orang yang tampan, dalam keadaan yang masih muda, serta lahir di keluarga bangsawan terhormat. Tapi kalau ia miskin dengan pengetahuan keinsyafan diri, sebenarnya orang begini sama sekali tidak berarti apa-apa, bagaikan bunga kimsuka kemerahan menarik tapi tidak berbau wangi.
BAB III Sloka 9.
Kokilanam svaro rupam
Nari rupam pativratam
Vidya rupam kurupanam
Ksama rupam tapasvinam
Artinya : Burung tekukur menjadi indah menarik karena suaranya, seorang istri menarik karena kesetiannya kepada suami, orang yang rupanya buruk menjadi menarik karena ilmu pengetahuannya dan karena memiliki sifat maha pengampun pendeta menjadi menarik.
BAB IV Sloka 4.
Yavat svastho hyayam dehe
Yavan mrtyus ca duratah
Tavad atma-hitam kuryat
Pranante kim karisyam
Artinya : Selama badan masih kuat dan sehat dan selama kematian masih jauh, lakukanlah sesuatu yang menyebabkan kebaikan bagi roh anda, yaitu keinsyafan diri. Pada saat kematian menjelang apa yang bisa dilakukan ?

CARA MUDAH DAPAT UNTUNG DARI TRADING FOREX KLIK DISINI

BAB IV Sloka 15.
Anabhyase visam sastram
Ajirne bhojanam visam
Daridrasya visam gosthi
Vrddhasya taruni visam
Artinya : Ilmu pengetahuan ( kitab-kitab suci ) yang tidak diterapkan dalam praktek adalah racun, makanan yang tidak dicernakan adalah racun, bagi orang miskin pesta/kumpul-kumpul dan pertemuan-pertemuan adalah racun, dan untuk orang tua, wanita muda adalah racun.
BAB V Sloka 10.
Anyatha vedapandityam
Sastramacaramanyatha
Anyatha vadanacchantam
Lokah klisyanti canyatha.
Artinya : Meremehkan kebijaksanaan ajaran Veda, menghina tingkah laku/kegiatan yang sesuai dengan ajaran-ajaran sastra/Veda, menjelekan orang yang selalu berkata-kata lembut bijaksana, tidak lain lagi inilah yang menyebabkan kekalutan dunia.
BAB V Sloka 11.
Daridraya-nasanam danam
Silam durgati-nasanam
Ajnana-nasim prajnya
Bhavana bhaya-nasini.
Artinya : Kedermawanan menghapuskan kemiskinan, perbuatan yang baik menghilangkan kemalangan kecerdasan rohani menghapuskan kegelapan/kebodohan, dan bhaya atau rasa takut bisa dihilangkan dengan merenungkannya baik-baik.
BAB V Sloka 17.
Nasti meghasaman toyam
Nasti catmasamam balam
Nasti caksuh samam tejo
Nasti canna samam priyam.
Artinya : Tidak air yang menyamai air hujan, tidak ada kekuatan yang lebih dari kekuatan diri sendiri, tidak ada sinar yang melebihi sinar matahari dan selain beras tidak ada sesuatu lain yang lebih disenangi orang.
BAB X Sloka 9.
Yasya nasti svayam prajnya
Sastram tasya karoti kim
Lokanabhyam vihinasya
Darpanah kim karisyati
Artinya : Bagi mereka yang tidak mempunyai budi pekerti yang baik dalam dirinya, apa yang akan dilakukan dengan kitab suci? Bagaikan orang yang buta, apa gunanya cermin bagi orang buta ini.
BAB XI Sloka 8.
Na veti yo yasya guna-prakarsam
Sa tam sada nindati natra citram
Yatha kirati kari-kumbha-labdaham
Muktam prityajya vibharti gunjam.
Artinya : Hal ini tidak usah membuat heran, bahwa orang yang belum mengetahui sesuatu dengan sebenarnya selalu menjelek-jelekan hal yang belum diketahui secara jelas. Seperti halnya permaisuri para kirata ( golongan pemburu pada zaman purba ) menolak permata dari kepala gajah, sebaliknya memakai perhiasan biji gunja ( biji-bijian yang terdapat di semak belukar.
BAB XI Sloka 10.
Kaham krodham tatha lobham
Svadam srnggara kautukam
Ati nidrati seva ca
Vidyarthi hyasta varjayet
Artinya : Seorang brahmacari/pelajar kerohanian hendaknya meninggalkan delapan kecenderungan berikut, yaitu : hawa nafsu, amarah, loba, kenikmatan lidah, rasa cenderung berhias, bermain-main, terlalu banyak tidur dan terlalu banyak bekerja.
BAB XIII Sloka 2.
Gate soko na kartavyo
Bhavisyam naiva cintayet
Vartamanena kalena
Pravartante vicaksanah
Artinya : Jangan bersedih terhadap apa yang sudah berlalu, jangan pula risau terhadap apa yang akan datang, orang-orang bijaksana hanya melihat masa sekarang dan berusaha sebaik-baiknya.
BAB XIII Sloka 9.
Jivantam mrtavan-manye
Dehinam dharma-varjitam
Yato dharmena samyukto
Dirgha-jivi na samsayah
Artinya : Orang yang perbuatannya tidak sesuai dengan dharma,sebenarnya ia sudah mati, walaupun masih hidup. Seorang dharmatma yaitu orang yang perbuatannya sepenuhnya sesuai dengan dharma, sebenarnya ia masih hidup, walaupun sudah mati.
BAB XIV Sloka 16.
Susidhomausadhom dharmam
Grhachidram ca maithunam
Kubhuktam kusrutam caiva
Matiman na prakasayet
Artinya : Orang bijaksana tidak akan mengungkapkan keamat-manjuran obatnya, kegiatan saleh yang dilakukan, kejelekan keluarga, hubungan dengan istri, makanan jelek dan kata-kata kotor.
BAB XVI Sloka 17.
Priya-vakya-pradanena
Sarve tusyanti jantavah
Tasmat-tadeva vaktavyam
Vacane kim daridrata
Artinya : Setiap orang akan menjadi senang kalau diberikan kata-kata yang manis menarik. Oleh karena itu, perlu sekali berbicara yang manis menarik. Sesungguhnya apa kekurangan berkata-kata manis?
BAB VII Sloka 1.
Arthanasam manastapam
Grhe duscaritani ca
Vancanam capamanam ca
Matiman na prakasayet
Artinya : Orang bijaksana hendaknya tidak mengatakan kepada orang lain tentang kehancuran harta bendanya, tentang kesedihan pikirannya, tentang kelakuan istrinya yang jelek, tentang penipuan yang dilakukan oeh orang lain kepada dirinya, atau kalau ada orang yang membuatnya malu.
BAB VII Sloka 4.
Santosa trisu kartavyah
Svadare bhojane dhane
Trisucaiva na kartavyo
Dhyayane japa danayoh
Artinya : Hendaknya orang merasa puas terhadap tiga hal ini, yaitu : terhadap istri sendiri, terhadap makanan dan terhadap kekayaan yang didapat dengan cara yang halal. Tetapi terhadap tiga hal, yaitu : mempelajari ilmu pengetahuan suci, ber-japa/memuji nama-nama suci Tuhan dan berdana-punya, haruslah orang tidak merasa puas.
BAB VII Sloka 12.
Natyantam saralair bhavyam
Gatva pasya vanasthalim
Chidyante saralas tatra
Kubjas tisthanti padapah,
Artinya : Janganlah hidup terlalu lurus atau terlalu jujur, sebab begitu Anda pergi ke hutan Anda akan melihat bahwa pohon-pohon yang lurus ditebang, sedangkan pohon-pohon yang bengkok dibiarkan hidup.
Catatan : Ada saat-saat diperbolehkan berbohong disebut Pancanrta.

http://kebangkitan-hindu.blogspot.co.id/2012/09/sloka-dan-makna-yang-indah-di-canakya_10.html#ixzz4TOenbCCq

- JUAL ES KRIM / ES PUTER PERNIKAHAN KLIK DISINI

BACA JUGA :
-  LAMAR KERJA TANPA BIKIN CV KLIK DISINI
-  CEK LOWONGAN KERJA DI BALI KLIK DI SINI 
- Cara mudah Mendapatkan penghasilan Alternatif yang bisa anda andalkan
- DOWNLOAD FILM SUB INDONESIA GRATIS
- DOWNLOAD MP3 GRATIS
Diposting oleh kedai di 20.50 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: pustaka

Tilem Jyesta




Dagang Banten Bali






Tilem Jyesta pada Selasa 11 Mei 2021, adalah tilem yang terjadi setahun sekali.

Sebab umat Hindu di Bali, tidak pernah sepi dari perayaan hari suci. Tilem Jyesta adalah hari suci bulan atau sasih ke-11 menurut perhitungan tahun saka.


Hal tersebut diyakini dan dipercaya, oleh umat Hindu yang merupakan payogan Ida Sang Hyang Widhi Wasa bermanifestasi sebagai Ida Bhatara Surya.

Lanjutnya, Ida Bhatara Surya adalah dewa yang paling diakui kemahirannya oleh Ida Bhatara Siwa.


"Makanya Beliau dianugerahi karunia suatu saat untuk mengganti peran Bhatara Siwa, sehingga Ida Bhatara Surya disebut Bhatara Siwa Raditya," kata Jero Mangku Ketut Maliarsa, Rabu 12 Mei 2021.

Oleh karena beliau mendapat anugerah sebagai penghormatan kepada Bhatara Siwa yang disebut Bhatara Guru yaitu guru alam semesta.

Pada hari suci itu, para umat Hindu memuja dan memuji keagungan Ida Bhatara Surya dengan canang asebit sari atau sekemampuan yang dalam bahasa Bali disebut sakasidan.

Hal seperti ini dilakukan sebagai wujud bakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang maprebhawa Ida Bhatara Surya.


Dengan tujuan mulia mengucapkan rasa syukur kepada beliau yang tidak pernah lelah atau berhenti memberkati umat manusia dengan sinar sucinya.

Di samping itu, umat Hindu memohon warenugeraha agar memperoleh keselamatan, kerahayuan, dan kerahajengan.

Serta dijauhkan dari segala kekotoran atau sarwa mala dalam mengarungi hidup dan kehidupan sebagai umat manusia.

Oleh karena itu, pada hari suci Tilem Jyesta ini sangat dipercaya sebagai bulan atau sasih penuh kekotoran atau sarwa mala sehingga wajib para umat Hindu melakukan persembahyangan secara khusuk agar dijauhkan dari hal-hal negatif atau kekotoran.

Baik bhuana agung, maupun bhuana alit yaitu manusia itu sendiri.

"Makanya pada hari suci ini, juga para umat Hindu sangat perlu melakukan penyucian angga sarira atau stula sarira dan suksema sarira dengan melakukan pembersihan diri yaitu melukat di pantai atau air campuhan agar mencapai bersih lahir batin," katanya.


Para umat Hindu biasanya menghindari melakukan upacara keagamaan atau yadnya karena pada sasih ini kurang baik.

Walaupun demikian, ada juga unsur baiknya yaitu hari suci Tilem, karena sebagai keyakinan bahwa pada bulan mati ada kegelapan.

Bahkan di dalam kegelapan ada kesucian sinar suci serta di dalamnya juga terwujud adanya kesunyian atau sunia sebagai simbol kesunyian niyasa Bhatara Siwa.

Lontar Sundarigama, kata dia, mengatakan bahwa pada saat bulan mati sangat baik melaksanakan penyucian untuk menghilangkan segala dosa, noda, kekotoran dalam diri.

Sesaji yang dipersembahkan adalah canang wewangian, pada sanggah atau di parahyangan.

Juga di atas tempat tidur, yang dipersembahkan kepada bidadara dan bidadari.

Serta menghaturkan sesayut widyadari sebagai sarana memohon warenugeraha agar memperoleh hasil dalam melaksanakan segala kegiatan.

Hal seperti ini sangat tepat dilakukan oleh para umat Hindu, karena hari suci Tilem Jyesta yang diyakini sebagai bulan penuh sarwa mala.
Agama Hindu juga berlandaskan pada rasa yaitu adanya rasa yakin yang mendalam tentang pemahaman dan implementasi ajaran Dharma atau ajaran kebenaran yang bersumber pada sastra atau kitab- kitab suci berupa Weda.(*)

- JUAL ES KRIM / ES PUTER PERNIKAHAN KLIK DISINI

BACA JUGA :
-  LAMAR KERJA TANPA BIKIN CV KLIK DISINI
-  CEK LOWONGAN KERJA DI BALI KLIK DI SINI 
- Cara mudah Mendapatkan penghasilan Alternatif yang bisa anda andalkan
- DOWNLOAD FILM SUB INDONESIA GRATIS
- DOWNLOAD MP3 GRATIS
Diposting oleh kedai di 13.53 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Hindu bilingual

Tari Janger






Dagang Banten Bali


CARA MUDAH DAPAT UNTUNG DARI TRADING FOREX KLIK DISINI


Tari Janger merupakan salah satu tarian populer dari Bali. Kesenian satu ini biasanya banyak diperagakan oleh anak-anak remaja setempat. Inilah alasan mengapa Tari Janger disebut tari pergaulan. Janger sendiri merupakan sebutan untuk penari wanitanya.


Para penari terdiri atas pria dan wanita. Jika penari wanita disebut dengan janger maka pihak lelaki dinamakan kecak. Banyak keunikan yang bisa Anda temukan dari pementasan tari Janger, mulai dari komposisi gerakan sampai dengan alunan musik yang hidup dan sangat seru.




Dari pementasan ini Anda pasti akan merasa sangat dihibur. Sebab akan ada nyanyian sahut-sahutan dari dari para penyanyi sehingga membuat suasana makin meriah. Itulah mengapa interaksi mereka sangat menyenangkan di tonton. Sama sekali tidak membosankan walau sampai berjam-jam.

Asal Usul Sejarah Tari JangerSejarah Tari Janger

Tari Janger diciptakan pada tahun 1930-an. Dibawakan oleh 10 penari yang berpasangan, mereka menari sambil menyanyi lagu Janger bersahut-sahutan. Dulunya tarian ini diadaptasi dari aktivitas para petani yang menghibur diri dari lelahnya bekerja seharian. Itulah mengapa gerakannya santai dan ringan

Tari Janger mulai populer tahun 1960-an, dan mulai bisa dipentaskan dalam berbagai macam acara politik termasuk PKI. Para penari saat itu secara terang-terangan mendukung kampanye pemutusan hubungan RI dengan Malaysia sampai menyita perhatian dari presiden pertama RI yakni Soekarno.





Tahun 1963 Tari Janger sempat dianggap sebagai kelompok yang pro terhadap PKI sampai para penari dikucilkan bahkan dibunuh. Namun seiring berjalannya waktu, sekitar tahun 1970-an popularitas Tari Janger membaik dan kembali naik. Sampai sekarang masyarakat Bali memainkannya dengan riang.
Fungsi Tari JangerFungsi Tari Janger

Dari dulu sampai sekarang Tari Janger tidak mengalami pergeseran fungsi . Hanya saja dulu saat awal-awal terbentuk terkadang ada kepentingan elit-elit tertentu, mengingat Tari Janger sering ditampilkan di acara-acara komunis seperti PKI. Walaupun tetap saja fungsi dari tari janger adalah sebagai hiburan.


Namun sekarang ini Tari Janger memang sudah lebih merakyat dan syarat akan hiburan untuk masyarakat khususnya warga lokal Bali. Saat ini masyarakat sudah bisa dengan mudah menikmatinya karena biasanya banyak desa-desa apalagi pesisir pantai mengadakan pertunjukan Tari Janger.

Menonton pertunjukkan Tari Janger merupakan salah satu list yang harus dipenuhi. Sebab suasananya yang seru dan menyenangkan memang akan membuat Anda rindu untuk selalu kembali ke Bali. Selain itu para warganya juga ramah membuat hati jadi hangat dan tentunya bahagia.
Penyajian Tari JangerPenyajian Tari Janger

Sama seperti tarian Bali lainnya, Tari Janger memiliki beberapa part penyajian yang membuat suasana pertunjukkan semakin hidup dan tidak monoton. Tentunya diiringi dengan musik khas Bali yang membuat para penonton juga merasa ingin menari bersama para penari aslinya.
Pembukaan adalah bagian awal yang diiringi dengan musik seperangkat gamelan. Terdiri dari gendang, ceng-ceng, rebana, juga klenang dan suling. Terkadang ada juga beberapa tunggu gender wayang yang diselaraskan dengan slendro. Bentuk lagunya batel tetamburan.
Pepeson merupakan bagian yang sudah diiringi dengan nyanyian serta tarian dari para penari kecak dan juga Janger. Formasinya juga beragam, mulai dari saling berhadap-hadapan sampai segi empat dengan arah semua kedalam arena tari tersebut.
Penjangeran adalah momen dimana para penari mulai menyanyi dan saling bersahut-sahutan bersama-sama. Suasana sangat hangat dan gembira karena nyanyian yang dilantunkan dengan Bahasa Bali itu penuh dengan semangat para muda-mudi.
Lakon adalah bagian setelah Penjangeran. Saat dimana kisah drama mulai diperankan, biasanya diisi dengan kisah arjuna wiwaha dan para aktor lain seperti gatot kaca dan lainnya. Saat drama dimainkan para penari Janger akan duduk layaknya penonton biasa.
Penutup yaitu saat dimana kisah drama sudah selesai dan ditutup dengan Tarian dan Janger. Mereka menyanyikan lagu dna permohonan maaf juga selamat tinggal kepada para penonton. Kemudian keluar dan menuju ke ruang ganti.



Gerakan Tari JangerGerakan Tari Janger

Dibanding dengan tarian lain dari Bali, Janger memang lebih sederhana. Kebanyakan gerakannya di dominasi posisi berdiri, sesekali juga melakukannya dalam gerakan bersila atau bersimpuh. Semua gerakan dari penari juga tarian khas Bali yang klasik sehingga membuat suasana lebih hidup.

Berikut adalah gerakan yang digunakan dalam Tari Janger
Ngagem Kanan
Ngagem Kiri
Ngeseh bawah
Nyelegog
Mungkah lawing
Nguluh Wangsul
Ngelikas
Nguluh wangsul
Ngelikas
Ngengot
Ulap-Ulap
Pola Lantai Tari JangerPola Lantai Tari Janger

Dalam gerakannya yang dinamis, cepat, dan atraktif namun tetap ada pola lantai yang digunakan. Dalam pementasannya tari janger memakai kombinasi dari pola lantai garis lurus horizontal juga garis lengkung. Terdapat makna terkandung dalam setiap kombinasi tersebut.




Setiap pementasan Tari Janger akan dibawakan secara berkelompok dari 10 sampai 16 penari laki-laki dan wanita. Mereka berpasang-pasangan sampai nanti akhir pementasan, para penari yang membawakannya dengan riang gembira agar nantinya penonton juga tertular kebahagiaan tersebut.


Pola lantai dari Tari Janger memang lebih sederhana dibandingkan Pendet, variasinya lebih simple dan tidak neko-neko. Tak jarang di tengah atau akhir pertunjukkan pengunjung juga akan diajak menari bersama dengan mereka. Hal ini tentunya membuat suasana tambah hangat.

- JUAL ES KRIM / ES PUTER PERNIKAHAN KLIK DISINI

BACA JUGA :
-  LAMAR KERJA TANPA BIKIN CV KLIK DISINI
-  CEK LOWONGAN KERJA DI BALI KLIK DI SINI 
- Cara mudah Mendapatkan penghasilan Alternatif yang bisa anda andalkan
- DOWNLOAD FILM SUB INDONESIA GRATIS
- DOWNLOAD MP3 GRATIS
Diposting oleh kedai di 13.48 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Hindu bilingual

Mengapa Umat Hindu Menghormati Sapi?





Melihat banyaknya arca-arca sapi di tempat suci Hindu baik yang ditemukan di situs purbakala maupun di tempat-tempat suci yang masih aktif digunakan sebagai tempat peribadatan mengundang sebuah anggapan salah kaprah terhadap Hindu. Orang sebagian besar orang, Hindu identik dengan penyembah sapi. Apa lagi pada kenyataannya sebagian besar umat Hindu di dunia berpantang untuk mengkonsumsi daging sapi. Benarkah Hindu memuja Sapi?

Berdasarkan peradaban Veda, sapi memang merupakan binatang yang sangat di sakralkan. Diuraikan bahwa sapi merupakan lambang dari ibu pertiwi yang memberikan kesejahtrean kepada semua makhluk hidup di bumi ini. Karena itulah para umat manusia diajarkan untuk tidak menyemblih dan memakan daging sapi. Selain mempunyai manfaat di dalam kehidupan rohani, sapi juga memelihara kita di dalam kehidupan material kita seperti misalnya dengan memberikan susu sapi dan berbagai produk susu. Selain susu dan berbagai produk, sapi juga memberikan berbagai jenis bahan obat-obatan seperti misalnya kencing sapi dan tahi sapi yang bahkan ilmuwan modern sekalipun menerima bahwa air kencing sapi dan kotoran sapi mengandung zat anti septik yang bisa digunakan untuk mengobati berbagai jenis penyakit. Di India, didalam sistem pengobatan Ayur Veda, terdapat teknik yang di sebut pengobatan panca gavya. Panca gavya adalah lima jenis produk yang di hasilkan oleh sapi yaitu; susu, yogurt, ghee, kencing sapi dan kotoran sapi. Panca gavya ini diangap sebagai bahan bahan yang menyucikan. Bahkan di dalam yajna dan memandikan pratima di berbagai kuil, bahan bahan ini sangat diperlukan. Tanpa panca gavya, seseorang tidak bisa menginstalasi pratima di dalam kuil. Selain bahan bahan yang bisa di komsumsi dari segi material, sapi juga membantu para petani di dalam berbagai hal. Sapi jantan di gunakan untuk membajak dan kotoran sapi digunakan untuk pupuk.





Sri Krsna sendiri yang muncul ke dunia material ini memberikan contoh kepada kita semua untuk menghormati sapi. Beliau bahkan lebih memementingkan sapi dari semua makhluk hidup lainya termasuk para brahmana. Seprti diuraikan di dalam sastra


“namo brahmaëya-deväya go-brähmaëa-hitäya ca jagad-dhitäya kåñëäya govindäya namo namaù”.
Di vrndavan, tradisi menghormati sapi-sapi masih berlangsung sampai sekarang. Di beberpa tempat di daerah pedalaman di Vraja bumi, ketika mereka memasak roti (capati), roti pertama akan diberikan kepada sapi karena mereka mengangap bahwa krsna hanya akan menerima persembahan kalau mereka memuaskan sapi-sapi dan para brahmana. kemudian roti kedua di berikan kepada orang suci yan kebetulan lewat di daerah desa tersebut dan roti lainnya, di persembahkan kepada Sri Krsna.

Disini hendaknya kita membedakan istilah menghormati dan memuja. Orang Hindu memperlakukan sapi secara istimewa adalah untuk menghormati sapi, bukan memuja sapi. Hindu hanya memuja satu Tuhan, “eko narayanan na dwityo”sti kascit” tapi menghormati seluruh ciptaan Tuhan, terutama yang disebut ibu, para dewa yang mengatur alam material dan semua umat manusia.

Dalam tradisi Hindu dikenal beberapa entitas yang dapat disebut sebagai ibu yang harus kita hormati, yaitu;


Ibu yang melahirkan kita, yaitu ibu kandung kita sendiri.
Ibu yang menyusui kita walaupun tidak mengandung kita.
Ibu yang memelihara dan mengasuh kita walaupun tidak melahirkan dan menyusui kita.
Sapi yang telah memberikan kita susu, sumber panca gavya dalam pengobatan Ayur Vedic dan juga yang tenaganya telah kita gunakan untuk membantu pekerjaan-pekerjaan kita.
Ibu pertiwi, yaitu bumi dan alam ini yang telah memberikan penghidupan pada kita dan harus kita jaga kelestariannya.

Sekarang kita gunakan hati nurani kita, apakah kita akan tega membunuh dan memakan daging sapi yang sudah kita minum susunya, yang sudah membantu pekerjaan-pekerjaan fisik kita dalam menarik pedati dan juga membajak sawah?

Disaat manusia dapat dengan mudahnya membunuh, memotong kepala ayam dan sapi tanpa perasaan, maka disaat itulah mereka akan memotong kepala manusia dan bahkan ibu kandungnya sendiri seperti memotong kepala seekor ayam.

Kita tentunya masih teringat di masyarakat kita di kalangan hindu di Bali. Ketika saya masih kecil, orang tua saya sering memperingatkan bahwa kalau kamu makan daging sapi, kamu tidak boleh datang ke pura tanpa mandi terlebih dahulu. Peringatan ini di berikan oleh orang tua saya dan sudah merupakan peringatan turun temurun dari nenek moyang kami. Namu sayangnya beberapa orang berangapan bahwa karena kalau kita makan daging sapi, maka kita tidak bisa masuk ke pura, itu berarti sapi adalah binatang haram. Ternyata setelah kita amati dan mempelajari kitab suci veda, ternyata sapi merupakan binatang yang suci yang dihormati oleh para dewa sekalipun. Bukanlah karena sapi merupakan binatang haram, maka kalau kita makan daging sapi kita tidak bisa ke pura tetapi karena sapi merupakan binatang yang sangat suci, sehinga kalau kita memakan daging sapi, maka kita diangap orang yang sangat berdosa, degan demikian tidak bisa masuk ke pura. Karena itu, setelah makan daging sapi, kita harus menyucikan diri, paling tidak mandi terlebih dahulu sebelum memasuki tempat suci.

Ini bukan berarti bahwa kita bisa berlangsung memakan daging sapi dan kemudian mandi dan menyucikan diri. Tidak! Itu bukanlah proses prayascita yang sejati. Proses prayascita yang sejati adalah menyucikan diri dari perbuatan berdosa, merenungkan kegiatan berdosa tersebut dan berusaha untuk menghindari kegiatan tersebut. Kita hendaknya tidak melakukan prayascita seperti gajah mandi. Sri Pariksit maharaj di dalam Srimad Bhagavatam menguraikan sebagai berikut.


kvacin nivartate ‘bhadrät

kvacic carati tat punaù

präyaçcittam atho ‘pärthaà
manye kuïjara-çaucavat
Kadang kadang, orang sadar akan kegiatan berdosa namun melakukan kegitan berdosa lagi. Dengan demikian saya mengangap proces melakukan kegiatan berdosa yang berulang ulang dan penyucian berulang ulang sebagai hal yang tidak berguna. Ini sama halnya dengan gajah mandi ( kunjara-sauca-vat), karena gajah membersihkan dirinya dengan mandi namun begitu selesai mandi dan kembali ke daratan, sang gajah akan menghamburkan lumpur pada kepala dan badannya. ( Srimad Bhagavatam, 6.1.10).

Jadi ajaran dari orang tua kita, tidak boleh ke pura setelah makan daging sapi, hendaknya diambil serius dan menghindari daging sapi selama lamanya dan berusaha mengerti keagungan sapi. Diuraikan juga bahwa orang yang membunuh sapi, atau makan daging sapi, akan menderita di planet neraka selama ratusan tahun untuk membayar satu dari bulu sapi yang mereka makan. kalau seseorang makan daging sapi yang memliki seratus ribu bulu, maka orang tersebut mesti menderita di neraka selama 100.000 dikali 100 tahun. Sudah tentunya kita menghindari penyemblihan sapi dan makan daging sapi bukan karena takut untuk masuk neraka tapi karena rasa kasih sayang kita kepada sapi yang telah berkenan memberikan kita berbagai jenis makanan seperti yang telah diuraikan di atas.

Sumber : Narayana Smrti

- JUAL ES KRIM / ES PUTER PERNIKAHAN KLIK DISINI

BACA JUGA :
-  LAMAR KERJA TANPA BIKIN CV KLIK DISINI
-  CEK LOWONGAN KERJA DI BALI KLIK DI SINI 
- Cara mudah Mendapatkan penghasilan Alternatif yang bisa anda andalkan
- DOWNLOAD FILM SUB INDONESIA GRATIS
- DOWNLOAD MP3 GRATIS
Diposting oleh kedai di 13.39 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Hindu bilingual

Minggu, 18 Desember 2016

Makna dari "Amor Ring Acintya"





Amor Ring Acintya adalah kata yang sudah tidak lasim lagi ditelinga kita apalagi bagi para umat Hindu di Bali. Kata ini biasanya diucapkan ketika ada orang meninggal dunia. Biasanya dalam masyarakat mengucapkan “Dumogi Amor Ring Acintya”.

Kata Dumugi berarti semoga. Amor berarti bersatu atau menghilang, atau Menuju kedalam situasi ketiadaan atau tidak tampak. Acintya berarti tidak tersentuh oleh pikiran. Dalam konteks filsafat disamakan dengan sūkṣma dan śūnya. Jadi Dumogi Amor Ring Acintya adalah semoga menyatu dengan “yang mahasuci yang maha tidak terpikirkan” atau semoga bersatu dalam ke Dewataan Tertinggi (Acintya).



Sang Hyang Acintya

Tertera dalam Sastra Jawa Kuna mengatakan beberapa baris terkait dengan ungkapan di atas. Berikut kutipan dari naskah kidung dan kakawin Jawa Kuno:


Amor ring Widhi ada dalam Kidung Sunda disebut ‘saṅ wus amor iṅ widi.
Amor ring Śiwātmaka ada dalam naskah Wangbang Wideha,‘agya ni ṅwaṅ amor iṅ Śiwātmaka.
Amor ring dewata ada dalam Kidung Harsa-Wijaya: ‘saṅ wus amor iṅ dewata; saṅ wus amor iṅ dewa; saṅ wus amor i widi.
Ungkapan tersebut ditujukan kepada para raja, atau orang suci, yang dimaksudkan ‘saṅ wus amor iṅ dewata’ (beliau yang telah kembali ke alam kedewataan’, adalah beliau-beliau yang suci, yang terhormat, ‘memenangkan kehidupan ini’ dan kembali ke alam kedewataan. Jika ingin kembali ke alam kedewataan, tentunya kita harus punya kualitas kedewataan dulu. Kalau kualitas diri kita hanya KW2 atau KW3 tujuan itu akan semakin jauh. Slogan tinggal slogan.

Amor ring Acintya tidak lain cita-cita kemanusiaan terdalam ajaran Siwa, Buddha, dan Hindu pada umumnya, yang kita kenal sebagai pencapaian ‘Moksa’ atau ‘Nirvana’.

Di Bali kita mewarisi lontar-lontar berbahasa Jawa Kuno yang menjadi panduan dalam meningkatkan kualitas diri kita dari KW2 atau KW3 menuju jiwa yang ‘orisinil’. Lontar-lontar tersebut antara lain: Aji Kadyatmikan, Aji Kamoksan, Aji Putus, Dharma Sunya, Dharma Patanjala, Wṛhaspatitattwa, dstnya. ‘Amor ring Acintya’ di dalam lontar-lontar tersebut mempunyai padanannya yaitu: sūkṣma dan śūnya.

Amor ring Acintya adalah tujuan tertinggi semua naskah-naskah tersebut. Di salah satu naskah tersebut, yaitu Wṛhaspatitattwa, disebutkan dalil asal muasal kita harus kita pahami jika kita ingin kembali ke asal muasal kita, alam kedewataan. Logikanya: Jika mau sampai tujuan kita harus mengenal jalan. Jika kita mau ke asal muasal kita, bagaimana kita sampai ke asal jika tidak mengerti prinsip asalmuasal kehidupan? Bagaimana tidak mengenal jalan berharap sampai di tujuan? Langkah-langkah dalam lontar-lontar di Bali disebutkan: Pertama mengenal prinsip tattwa atau prinsip penciptaan dan asal muasal. Kedua mengenal jalan, selanjutnya menempuh jalan, dan dijalani dengan penuh ketulus-ikhlasan ketika menempuh jalan. Disebutkan, setelah tahapan-tahapan itu terjalankan dengan kesempurnaan baru kemungkinan sampai tujuan (Amor Ring Acintya)

Dalam buku Samsara Perjalan atman juga dijelaskan bahwa Faktor kunci di alam kematian adalah samskara [kesan-kesan pikiran] kita sendiri. Perjalanan atma di alam kematian digerakkan oleh energi yang sama dengan energi yang membentuk pikiran. Kecenderungan pikiran yang negatif saat kematian akan membawa kita menuju alam-alam yang gelap dan sebaliknya kecenderungan pikiran yang positif saat kematian akan membawa kita menuju alam-alam yang terang. Karena lapisan badan kita di alam kematian digerakkan oleh bahan-bahan energi yang sama dengan yang membentuk pikiran kita. Sehingga setelah mati kita kemudian akan tinggal atau pergi terbawa pada salah satu alam-alam halus yang paling sesuai dengan kualitas dan kecenderungan pikiran kita sendiri.

Dengan kata lain, faktor paling menentukan dalam menyambut kematian adalah bagaimana evolusi keadaan bathin kita semasa kehidupan dan keadaan bathin kita di menit-menit dan detik-detik terakhir ketika kehidupan kita akan berakhir. Itulah yang akan sangat menentukan kita akan pergi kemana. Mereka yang saat kematian tidak siap, penuh ketidakrelaan karena keterikatan duniawi, penuh rasa sakit, takut, ragu, bingung, melawan, apalagi dalam sifat kejam [tanpa welas asih], dalam kemarahan-kebencian, sangat mungkin nantinya pada proses kematian akan memasuki perjalanan yang gelap.

Inilah sesungguhnya yang dimaksud dengan kematian salah pati. Sebaliknya, kalau di menit-menit dan detik-detik terakhir ketika kehidupan berakhir, kita mengalami kedamaian bathin, sangat mungkin nantinya pada proses kematian akan memasuki perjalanan yang terang. Dan yang paling baik [kalau memungkinkan] tentunya kita bisa amor ring acintya, menyatu dengan “yang mahasuci yang maha tidak terpikirkan”. Jiwa yang sudah terbebaskan [jivan-mukti] akan seketika mengalami moksha [pembebasan sempurna].

Karena itu sangat penting diinformasikan kepada orang-orang yang akan meninggal, di menit-menit dan detik-detik terakhir ketika kehidupan akan berakhir, sangat penting mengalami menit-menit dan detik-detik terakhir yang shanti [damai]. Di jalan dharma kematian adalah perjuangan spiritual yang paripurna. Itulah sebabnya bagi para yogi, para mpu, para danghyang, para maharsi, mengajarkan bahwa tugas spiritual pokok manusia semasa hidupnya adalah membina diri melenyapkan sad ripu [enam kegelapan bathin] dan menumbuhkan sifat penuh welas asih dan kebaikan. Gunanya agar ketika kematian itu benarbenar datang, kita sudah sangat siap dan bisa mengalaminya dalam keadaan yang sangat shanti

Sumber : Budayabali via Daerahbali.com

- JUAL ES KRIM / ES PUTER PERNIKAHAN KLIK DISINI

BACA JUGA :
-  LAMAR KERJA TANPA BIKIN CV KLIK DISINI
-  CEK LOWONGAN KERJA DI BALI KLIK DI SINI 
- Cara mudah Mendapatkan penghasilan Alternatif yang bisa anda andalkan
- DOWNLOAD FILM SUB INDONESIA GRATIS
- DOWNLOAD MP3 GRATIS
Diposting oleh kedai di 11.54 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Satua
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Langganan: Komentar (Atom)

Entri Populer

  • SIAPAKAH SESUNGGUHNYA SUMBER SEMUA SENJATA ILAHI?
    Dalam Vana Parva (Āraṇyaka Parva) adhyāya 39–45 — khususnya episode Kirātārjunīya — Mahābhārata secara eksplisit menegaskan bahwa: Sumber se...
  • Banten Pralina Sanggah
    Banten Pralina : tamas, aled, raka, 5 petangas dr pandan diisi nasi, kojong rasmen, ..... Pejati Pralina : pejati, kuangen + pis ...
  • Pis Bolong Arjuna Adalah Salah Satu Uang Magis di Masyarakat Bali
      Pis Rejuna (Pis Arjuna / uang kepeng arjuna), sesuai dengan sebutannya, merupakan uang kepeng yang pada salah satu sisinya terdapat gambar...
  • MELIK
    DAPATKAN CARA MENGHASILKAN PASSIVE INCOME KLIK DISINI MELIK Melik adalah suatu anugrah pada saat kelahiran anak yang teramat besar...
  • Resi Kaśyapa
      Leluhur Para Dewa, Asura, dan Seluruh Keberagaman Makhluk Di antara Sapta Ṛṣi, Kaśyapa menempati posisi yang paling kosmologis. Jika Atri ...
  • MANTRA PENYEMBUHAN DEWA ASWIN
    Dewa Aswin (Ashwini Kumaras) adalah dewa kembar dalam mitologi Hindu yang dikenal sebagai tabib para dewa dan pelindung kesehatan. Berikut ...
  • MAKNA TEBU PADA SAAT MEJAUMAN
    Apabila Anda pernah ikut mengantar pengantin ke rumah pengantin perempuan saat mejauman pada perkawinan adat Bali, mungkin Anda akan melihat...
  • UPACARA PENEBUSAN SEKANCAN PEMARGI MELIK
      PESRAMAN YOGA KERETA KENCANA EMAS, jagi mengadakan Ritual : #UPACARA_PENEBUSAN_SEKANCAN_PEMARGI_MELIK MELANTARAN SIH PEMARGIN IDA RATU SES...
  • TAHUKAH KAMU DI BALI ADA ISTILAH SAMSARA
    Samsara (Sanskerta: saṃsāra) adalah siklus berkesinambungan dari kelahiran, kehidupan, kematian, dan kelahiran kembali (reinkarnasi) yang me...
  • Pemelaspas
    CARA MUDAH MENDAPATKAN PENGHASILAN ALTERNATIF KLIK DISINI Melaspas bangunan baru terdiri dari Memakuh  Melaspas Memakuh  Pemakuhan...

Kontributor

  • goro
  • kedai
  • teroris = tai

Arsip Blog

  • ▼  2026 (29)
    • ▼  Januari (29)
      • TAHUKAH KAMU DI BALI ADA ISTILAH SAMSARA
      • MANTRA PENYEMBUHAN DEWA ASWIN
      • TILEM
      • KEKUATAN DAN MAKNA DOA MENURUT HINDU 🙏😇
      • Penanganan anak usia prasekolah yang diduga terken...
      • MANTRAM GANESHA UNTUK MENETRALISIR PENGARUH NEGATI...
      • MANTRAM DEWI LAKSMI UNTUK MEMOHON REZEKI, KEKAYAAN...
      • Resi Kaśyapa
      • MANTRA DEWA KUWERA AGAR REZEKI BERLIMPAH
      • Semar yang Tidak Pernah Ditulis, Tapi Selalu Hadir
      • APA ITU KARMA PHALA
      • DOA UNTUK MENDAPATKAN KETENANGAN HATI DAN KEJERNIH...
      • Rumah Sikut Satak: Ukuran Ideal Pekarangan dalam A...
      • MANTRA SIWA UNTUK KESEJAHTERAAN dan KETENANGAN:
      • Candi Borobudur
      • Mpu Prapanca User Prompt Engineer pertama di muka ...
      • MANTRA SINGKAT DAN ARTINYA SAAT MENGHATURKAN CANANG
      • Ratu Niang Lingsir
      • SIAPAKAH SESUNGGUHNYA SUMBER SEMUA SENJATA ILAHI?
      • Durhaka Indonesia Kepada Bali
      • Batu Lesung di Sungai Ayung, Antara Kepercayaan Ga...
      • NAGA ANANTA BOGA, WASUKI, DAN BEDAWANG NALA
      • MAHARAJA PṚTHU - Jñānī-raja yang menyadari bahwa b...
      • doa untuk memohon kelancaran rezeki dan kemakmuran...
      • BAGAIMANAKAH AKIBATNYA JIKA KITA LUPA AKAN KAWITAN?
      • apakah benar warung plat M ini mematikan warung na...
      • MENGENAL MATI SALAH PATI DAN NGULAH PATI
      • LUKAT GENI, TRADISI UNIK DARI KLUNGKUNG
      • Kisah Keruntuhan Kerajaan Selaparang pada Abad ke-17.
  • ►  2025 (128)
    • ►  Desember (8)
    • ►  November (7)
    • ►  Oktober (31)
    • ►  September (5)
    • ►  Agustus (18)
    • ►  Juli (55)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (3)
  • ►  2024 (63)
    • ►  Juni (7)
    • ►  Mei (44)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (8)
  • ►  2023 (65)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (8)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (7)
    • ►  Mei (45)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2022 (339)
    • ►  November (10)
    • ►  Oktober (56)
    • ►  Juli (201)
    • ►  April (66)
    • ►  Januari (6)
  • ►  2021 (110)
    • ►  Juli (6)
    • ►  April (7)
    • ►  Maret (21)
    • ►  Februari (27)
    • ►  Januari (49)
  • ►  2020 (118)
    • ►  Desember (41)
    • ►  November (43)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (25)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Januari (5)
  • ►  2019 (7)
    • ►  Desember (7)
  • ►  2018 (68)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (16)
    • ►  Juli (18)
    • ►  Juni (13)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (6)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (11)
  • ►  2017 (74)
    • ►  Desember (16)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  September (8)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (14)
    • ►  Maret (8)
    • ►  Februari (14)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2016 (118)
    • ►  Desember (24)
    • ►  November (36)
    • ►  Oktober (25)
    • ►  September (14)
    • ►  Agustus (10)
    • ►  Juli (2)
    • ►  April (5)
    • ►  Maret (2)
  • ►  2015 (284)
    • ►  Oktober (8)
    • ►  September (68)
    • ►  Agustus (111)
    • ►  Juli (64)
    • ►  Juni (33)
Tema Sederhana. Gambar tema oleh luoman. Diberdayakan oleh Blogger.