Sabtu, 27 April 2024

Ida Pedanda Ngoerah

  



Ida Pedanda Ngoerah adalah salah satu contoh Brahmana yang masih menerapkan tradisi Brahmana Weda dimana Beliau melakukan perjalanan suci.
Beliau menyadari bahwa sebagaimana tersirat dan tersurat pada Kidung Yadnyeng Ukir ada tujuh gunung yang ada di dalam diri (sapta parwwatĕ minusti haneng garbbha), tujuh sungai suci (sapta gangga), tujuh danau (sapta ranu), hingga tujuh tingkat kasunyatan (sapta sunya). Dengan kekuatan jnyana, amerta diturunkan dengan gagelaran wisarga dan nungswara. Maka menyadari hal tersebut sejatinya penyucian dilakukan di dalam sarira.
===
Pada tahun 1919 dalam Tirta Yatra Beliau ke Bali utara dengan pengiring yang membawa bedil yang dipinjam dari seorang tokoh di Desa Wanagiri oleh karena akan melintasi hutan malam hari, Beliau turun dari Gobleg sampai di Banjar dan kemudian melanjutkan perjalanan lewat laut ke Pulaki lalu terus ke arah barat. Terekam dalam kidung perjumpaan Ida Pedanda Ngoerah dengan tiga ekor Harimau Bali saat sampai di Banyuwedang.


===
Dari Banjar Beliau menaiki perahu ke Pulaki dan di segara “laut”, Ida Padanda Ngoerah menyaksikan jajaran keindahan giri “gunung‟ (katon kalangwaning ukir). Berbagai gunung yang dilihat di sepanjang perjalanan disebutkan oleh Ida Padanda Ngoerah seperti Gunung Gondhol, Gunung Patas, Gunung Malang, Gunung Candi Bunga, Gunung Rebuk, hingga akhirnya tiba di Gunung Pulaki.

Di Pulaki, Ida Padanda Ngurah menguraikan keindahan pegunungan dengan sangat mempesona. Gunung itu seperti bersinar ketika diterangi oleh matahari. Di puncaknya ada dua batu besar yang bercahaya bagaikan candi bentar. Batu di pinggir jurang yang tinggi bagaikan pendeta suci yang kata-katanya utama dan nirmala.

Ida Pedanda Ngoerah kemudian berkonsentrasi pada tujuh gunung yang ada di dalam diri (sapta parwwatĕ minusti haneng garbbha), termasuk pula tujuh sungai (sapta gangga), tujuh danau (sapta ranu), hingga tujuh tingkat kasunyatan (sapta sunya). Dengan kekuatan jnyana, amerta diturunkan dengan gagelaran wisarga dan nungswara. Maka, penyucian dilakukan di dalam sarira.

Lalu Ida Pedanda melanjutkan perjalanan ke Barat merekam berbagai telaga suci yang ditemui dari sekitar wilayah pemuteran ke barat. Ketika sampai di Banyuwedang tengah malam dan air laut surut, rombongan Ida Pedanda tersentak melihat di dalam hutan ada tirta yang berkilau karena disinari Hyang Sitangsu (Bulan). Ketika air suci itu hendak diambil saat itu terlihat Tiga Ekor Harimau yang sedang berendam ditengah telaga.

Hana rakwa tinon dhening wadwanning ngwang, mrĕggha natta ya katriṇi, ring saṇdhinging sĕndhang, sigra yā umintar (Kidung Yajnyeng Ukir, bait 315).

Terjemahan.

Ada yang dilihat oleh pengiringku, yaitu tiga ekor harimau, di tengah telaga, dengan segera mereka pergi.

Mreggha natta disini bermakna Samong atau Harimau kendaraan dari Bhatari Durga.

Melihat sempat ada Harimau di sekitar telaga itu, para pengiring Beliau melarang Ida Pedanda Ngoerah untuk menyucikan diri di telaga tersebut. Ida Pedanda tetap teguh untuk menyucikan diri di tempat itu. Ketika menyentuhkan kaki untuk pertama kalinya di air, beliau terperangah karena airnya ternyata panas. Sesuai dengan nama wilayahnya, tirta itu memang Banyu Wedang: Tirta/Air Panas. Ida Padanda Ngoerah sangat meyakini air panas tersebut dapat mengobati berbagai penyakit.
Silakan
Sumber Putu Eka Guna Yasa Tatkala.co


Tidak ada komentar:

Posting Komentar