Kamis, 05 Maret 2026

MAKNA POHON PISANG DAN PEPAYA DALAM PEMENTASAN CALONARANG

 


🌿
Banyak orang ketika menonton pementasan Calonarang hanya fokus pada tokoh-tokoh yang muncul di panggung. Namun jarang yang memperhatikan satu hal penting di depan arena pementasan: pohon pisang saba (biu saba) dan pohon pepaya (gedang) yang sengaja dipasang sebagai bagian dari sarana ritual.
Bagi yang belum memahami tattwa Bali, mungkin pohon-pohon tersebut terlihat seperti hiasan biasa. Padahal dalam ajaran lontar Bali, keberadaannya memiliki makna spiritual yang sangat dalam.
📜 Berdasarkan penjelasan dalam Lontar Andhabhuana, pohon pisang dan pepaya dalam pementasan Calonarang sebenarnya merupakan simbol dari tubuh Dewi Durga.
Kisahnya berawal ketika Dewi Uma mendapatkan kutukan dari Dewa Siwa sehingga berubah menjadi Dewi Durga dan turun ke dunia menjalani hukuman kosmis.
Dalam proses peleburan energi tersebut, bagian-bagian tubuh beliau berubah menjadi berbagai tumbuhan yang kemudian hidup di alam semesta.
Di antaranya disebutkan:
🌿 Air susu berubah menjadi pohon pisang saba (biu saba).
🌿 Payudara berubah menjadi pohon pepaya (gedang).
🌿 Badan berubah menjadi pohon pule.
🌼 Keringat berubah menjadi bunga gemitir.
🎋 Tulang berubah menjadi tebu ireng.
Inilah sebabnya dalam beberapa pementasan Calonarang, pohon pisang dan pepaya sering dijadikan sarana simbolik dalam adegan tertentu.
✨ Makna Filosofinya
Simbol ini mengajarkan bahwa alam semesta berasal dari energi ilahi yang sama. Tumbuhan, manusia, dan seluruh makhluk hidup merupakan bagian dari manifestasi kekuatan alam yang berada dalam kendali Dewa Siwa beserta saktinya.
Pohon pisang dan pepaya dalam pementasan Calonarang menjadi pengingat bahwa:
Alam semesta memiliki hubungan erat dengan dunia spiritual.
Setiap unsur alam mengandung energi sakral.
Ritual dan pementasan sakral dalam tradisi Bali sebenarnya adalah media menjaga keseimbangan alam antara dharma dan adharma.
Karena itu, Calonarang tidak bisa dipandang hanya sebagai pertunjukan seni. Ia adalah ritual budaya yang sarat tattwa dan filosofi leluhur Bali.

MACAM–MACAM KERAUHAN DALAM TRADISI HINDU BALI

 


Memahami Fenomena Spiritual Sekala dan Niskala
Dalam kehidupan spiritual umat Hindu Bali, kerauhan (kerawuhan) sering terjadi dalam berbagai upacara suci seperti piodalan, ngusaba, atau upacara yadnya. Kerauhan dipahami sebagai keadaan ketika kesadaran seseorang dipengaruhi atau dimasuki oleh kekuatan niskala, baik berupa manifestasi suci maupun energi alam lainnya.
Fenomena ini bukan hanya dipandang secara mistis, tetapi juga sebagai bagian dari komunikasi antara alam sekala (dunia nyata) dan niskala (dunia spiritual).
Hal ini selaras dengan sloka suci dalam kitab Bhagavad Gita 4.11:
"Ye yathā māṁ prapadyante
tāṁs tathaiva bhajāmy aham
mama vartmānuvartante
manuṣyāḥ pārtha sarvaśaḥ."
Artinya:
“Bagaimanapun manusia mendekati-Ku, demikian pula Aku membalas mereka. Semua manusia menempuh jalan-Ku dalam berbagai cara.”
Sloka ini menjelaskan bahwa Ida Sang Hyang Widhi dapat hadir melalui berbagai cara dan perantara, termasuk melalui seseorang yang mengalami kerauhan.
🌿 1. Kerauhan Dewa / Bhatara
Kerauhan ini dianggap paling suci, karena diyakini sebagai turunnya manifestasi Dewa atau Bhatara untuk memberikan tuntunan kepada umat.
Biasanya terjadi pada orang yang sudah memiliki taksu spiritual atau telah disucikan secara niskala seperti pemangku atau orang yang memang dipilih secara spiritual.
Ciri-ciri kerauhan Dewa:
✨ Sikap tubuh menjadi tenang dan berwibawa
✨ Mata terlihat tajam namun damai
✨ Gerakan tubuh teratur dan tidak kasar
✨ Sering memberikan wejangan, nasihat, atau petunjuk upacara
✨ Setelah sadar biasanya tidak mengingat apa yang terjadi
Kerauhan jenis ini sering muncul saat puncak upacara piodalan atau saat pemanggilan taksu.
🌿 2. Kerauhan Leluhur (Pitara)
Kerauhan ini diyakini berasal dari roh leluhur keluarga atau leluhur desa yang hadir untuk menyampaikan pesan kepada keturunannya.
Hal ini berkaitan dengan ajaran Pitra Yadnya, yaitu kewajiban umat Hindu untuk menghormati dan menyucikan leluhur.
Dalam kitab Manava Dharmasastra III.203 disebutkan:
"Pitṝṇāṁ prītyai dātavyam
śraddhayā hutam eva ca."
Artinya:
“Persembahan yang dilakukan dengan penuh ketulusan akan menyenangkan para leluhur.”
Ciri-ciri kerauhan leluhur:
✨ Cara berbicara sering menggunakan bahasa atau gaya orang tua zaman dahulu
✨ Menyebut hubungan keluarga atau silsilah
✨ Memberikan pesan kepada keturunan
✨ Ekspresi wajah lebih emosional atau penuh haru
✨ Biasanya terjadi saat upacara keluarga atau piodalan merajan
🌿 3. Kerauhan Bhuta atau Energi Alam
Kerauhan ini berkaitan dengan energi Bhuta Kala, yaitu kekuatan alam yang belum tersucikan.
Dalam filosofi Hindu Bali, Bhuta Kala bukan semata-mata jahat, tetapi bagian dari unsur alam yang perlu diseimbangkan melalui Bhuta Yadnya.
Ciri-ciri kerauhan Bhuta:
🔥 Gerakan tubuh kasar dan tidak teratur
🔥 Wajah tampak garang atau tegang
🔥 Suara berubah keras atau berat
🔥 Kadang memiliki tenaga yang sangat kuat
🔥 Biasanya terjadi saat ritual tertentu atau di tempat yang energi alamnya kuat
Fenomena ini mengingatkan umat agar selalu menjaga keseimbangan dengan alam.
🌼 Makna Filosofis Kerauhan
Fenomena kerauhan mengajarkan bahwa kehidupan manusia selalu berada dalam hubungan antara sekala dan niskala.
Kerauhan juga mengingatkan manusia untuk menjaga kesucian melalui ajaran Tri Kaya Parisudha, yaitu:
Manacika – berpikir yang baik
Wacika – berkata yang baik
Kayika – berbuat yang baik
Dengan menjaga ketiga hal tersebut, manusia akan hidup selaras dengan Dharma dan keharmonisan alam semesta.
✨ Kesimpulan
Kerauhan dalam tradisi Hindu Bali bukan sekadar fenomena mistis, melainkan bagian dari kearifan spiritual yang mencerminkan hubungan manusia dengan Tuhan, leluhur, dan alam semesta.