Jumat, 27 Februari 2026

TRADISI NYADEGAN UNTUK MEMPERERAT PERSAUDARAAN

 



Tradisi, adat dan budaya yang dimiliki Bali memang tak akan pernah habis untuk ditelusuri. Selalu ada keunikan disetiap sisinya. Seperti halnya tradisi Nyadegan di Desa Pekraman Batununggul, Nusa Penida, Klungkung. Dari pantauan di lapangan, tradisi tersebut hampir sama dengan Magibung yang ada di Karangasem. Hanya saja ada sedikit perbedaan. Menurut Kelian Banjar Pakraman Batununggul I Dewa Ketut Anom Astika, tradisi Nyadegang ini dilaksanakan menjelang upacara Ida Bhatara Pelawatan Barong dan Randa nyejer selama 4 hari tepatnya pada rahina Purnama Sasih Kewulu. Ditambahkan oleh tokoh masyarakat setempat, I Dewa Ketut Suarya, tradisi Nyadegang sejauh ini memang tidak seterkenal Magibung di Karangasem. Kendatipun tradisi ini memiliki banyak kesamaan, hanya saja yang membuatnya berbeda adalah dari cara menyajikan dan jumlah peserta. Ia menambahkan, Nyadegang berarti duduk secara bersama-sama menikmati hidangan yang disajikan sebagai ungkapan terima kasih atas karunia Tuhan yang sudah berikan. Tradisi ini juga bisa digelar saat acara adat Pelebon, Pawiwahan, Ngotonin dan lainya. Menurutnya, selain untuk tetap melestarikan tradisi yang ada, kegiatan ini juga dapat memupuk rasa kebersamaan di antara anggota krama dan pemuda karena kegiatan yang bersifat tradisi biasanya membutuhkan orang banyak untuk mengerjakannya.

Sumber & Gambar : jawapos.com

#bali #baliindonesia #taksu #taksubali #taksu_bali #upakara #bantenbali #canangsari #hindu #hindubali #pura #tradisibali #infobali #infodenpasar

Resi Merkandu

 



Dalam mitologi Hindu dikisahkan bahwa Resi Merkandu melaksanakan tapa brata ke hadapan Dewa Siwa demi memperoleh keturunan.

Sang dewa berkenan dengan usaha Merkandu dan mengetahui keinginan sang resi, lalu ia memberikan dua pilihan: seorang anak yang kurang cerdas dan berperilaku buruk tetapi bermur panjang, atau seorang anak yang cerdas dan berbudi pekerti luhur tetapi berumur pendek. Merkandu memilih yang kedua, sehingga ia memperoleh putra yang bersifat mulia, dikenal sebagai "Markandeya" yang secara harfiah berarti "putra Merkandu". Markandeya menguasai Weda dan Dharmasastra sejak usia muda.
Dari orang tuanya, ia mengetahui bahwa umurnya tidak akan panjang. Maka dari itu ia memutuskan untuk mengisi sisa umurnya dengan melaksanakan tapa brata memuja Siwa dalam bentuk arca lingga.
Pada hari kematiannya, para Yamaduta atau utusan Dewa Yama sang dewa kematian tidak berhasil mencabut nyawa Markandeya karena tubuhnya diselimuti oleh energi ilahi perlindungan dari Dewa Siwa.
Maka dari itu, Dewa Yama sendiri memutuskan untuk mencabut nyawanya.
Melihat Dewa Yama datang menjemputnya, Markandeya memeluk lingga Siwa erat-erat.
Dewa Yama melemparkan jerat kematiannya ke tubuh Markandeya, yang secara tidak langsung juga mengenai lingga Siwa.
Tiba-tiba Dewa Siwa muncul dengan rupa murka, lalu membunuh Dewa Yama menggunakan trisulanya untuk menyelamatkan Markandeya. Melihat Dewa Yama tewas, para dewa memohon agar Siwa menghidupkannya kembali.
Siwa pun memenuhi permohonan para dewa dan bersamaan dengan itu, Markandeya akan tetap muda selamanya dan diberikan keabadian oleh dewa siwa dan terhindar dari kematian.
Kelak dimasa depan Markandeya bergelar Maharsi Markadeya salah satu maharsi agung dan menyusun Kitab Markandeya Purana.


Senin, 26 Januari 2026

TAHUKAH KAMU DI BALI ADA ISTILAH SAMSARA



⁉️🤔
Samsara (Sanskerta: saṃsāra) adalah siklus berkesinambungan dari kelahiran, kehidupan, kematian, dan kelahiran kembali (reinkarnasi) yang menjadi konsep inti dalam agama Hindu, Buddha, Jainisme, dan Sikhisme. Ini sering digambarkan sebagai roda kehidupan atau pengembaraan tanpa tujuan, di mana makhluk terperangkap akibat karma.
Dalam ajaran agama Hindu proses kehidupan yang selalu berputar putar / berulang ulang lahir (utpeti), hidup (sthiti) dan mati (pralina) tiada henti di sebut Samsara. Samsara pada dasarnya adalah suatu penderitaan. menderita disebabkan karena Dosa.
CONTOH SAMSARA
Dalam samsara, suatu makhluk dilahirkan ke dalam tubuh tertentu. Jika, misalnya, jiwa atau atman makhluk tersebut mengumpulkan karma negatif, atman tersebut dapat bereinkarnasi sebagai seseorang dari kasta yang lebih rendah, hewan, atau tumbuhan .
PERBEDAAN SAMSARA DAN REINKARNASI
Jika diibaratkan sebuah perjalanan, reinkarnasi adalah mobil yang terus berganti setiap kali rusak, sedangkan samsara adalah jalanan macet yang berputar tanpa ujung yang membuat mobil tersebut harus terus berjalan.
CARA MENGHILANGKAN SAMSARA MENURUT AGAMA HINDU
Cara menghilangkan samsara (siklus kelahiran kembali) dalam ajaran Hindu adalah dengan mencapai moksha, yaitu penyatuan Atman (jiwa) dengan Brahman (Tuhan). Ini dicapai dengan melepaskan diri dari keinginan duniawi, menghilangkan ego, dan menghapus karma buruk melalui jalan spiritual (marga/yoga) seperti bakti, pengetahuan, dan perbuatan tulus.




#bali #baliindonesia #taksu #taksubali #taksu_bali #upakara #bantenbali #canangsari #hindu #hindubali #pura #tradisibali #infobali #infodenpasar