Jumat, 18 Juli 2025

Memedi




 Memedi adalah sebutan untuk mahkluk halus di pulau Bali berwujud wanita cantik dengan rambut berwarna merah atau pirang yang dikenal suka menyembunyikan anak kecil, Memedi termasuk kedalam bangsa Wong Samar, tetapi hampir semua Memedi suka bertindak negatif kepada manusia walau tak sampai mencelakai.

.
Tempat tinggal Memedi biasanya pada lahan kosong yang terdapat banyak pohon, di rumpun pohon bambu atau di pinggir sungai, sama halnya dengan Wong Samar, Memedi ada yang hidup menyendiri, dan juga ada hidup berkelompok, namun tak seperti Wong Samar umumnya, kehidupan Memedi lebih primitif. Umumnya Memedi keluar pada tengah hari tepat atau saat menjelang malam, mereka senang bermain dengan anak-anak kecil. Pada kebanyakan kasus menghilangnya anak kecil dan tidak pulang sampai larut malam, sering dipercaya disebabkan karena disembunyikan oleh Memedi. Selain itu mereka juga suka membuat orang tersesat.
.
Berbeda halnya dengan Wong Samar yang suka menculik manusia untuk diubah menjadi pengikutnya, Memedi menyembunyikan anak kecil hanya beberapa jam saja, kecuali ada manusia yang membuat perjanjian gaib kepadanya, seperti pesugihan maka orang tersebut akan tinggal di alam Si Memedi selama berbulan-bulan. Konon saat kembali orang itu mendapat kekayaan namun ia akan ketergantungan dengan si memedi.
.
Menurut penuturan orang-orang tua dahulu Memedi yang berumur muda biasanya berwujud seorang wanita cantik dengan rambut merah atau pirang lurus, dan tak punya cekungan dibawah hidungnya, serta tidak mengenakan busana. Sedangkan yang tua berwujud wanita dengan wajah hancur dengan rambut merah menyala awut-awutan tidak terurus dan sangat panjang hingga menutupi tubuhnya.
.
Namun ada juga yang beranggapan semua Memedi berwujud menyeramkan, mereka akan berubah menjadi wanita cantik untuk menipu manusia yang masuk ke wilayahnya. Dikutip dari Tabloid Bali Niskala bahwa suara memedi terdengar seperti gaung, dan beberapa penekun spiritual bisa berkomunikasi dengan mereka melalui ritual khusus.
.
Via @calonarangtaksu

Leak Gundul




 Sebut saja namanya Ketut A, sekarang berprofesi sebagai mangku di salah satu Pura di luar Bali. Saat masih muda Ketut A mempunyai sifat yang agak jahil, saat itu ia penasaran dengan dunia Leak, Ia pun meminta kepada Pamannya yang berkecimpung di dunia Leak untuk bisa melihat leak secara langsung.

.
Akhirnya Pamannya menyanggupi dengan syarat Ketut A mematuhi segala perintahnya. Suatu hari sebelum Kajeng Kliwon, pamannya mengajak Ketut A untuk pergi ke suatu Pura yang berada di puncak perbukitan. Pamannya mengajak Ketut A untuk bersembahyang untuk memohon keselamatan. Setelah sembahyang pamannya menyuruhnya untuk membaluri sekujur tubuhnya dengan kotoran sapi lalu naik ke atas plafon balai pertemuan di depan Pura dan bersembunyi disana hingga pagi.
.
Kira-kira pukul 11 malam, tiba-tiba terdengar suara langkah-langkah yang sangat berat, membuat bumi bagai bergetar. Muncullah Sesosok mahkluk berukuran raksasa berkepala gundul yang dikenal sebagai Leak Gundul, mahkluk itu menggeram dan duduk di dalam balai pertemuan. Ketut A terkejut, hingga tak bisa mengelurakan suara, saking takutnya. Kemudian disusul Leak lain, seperti leak monyet, leak babi, rangda, leak garuda, dan banyak lagi duduk melingkar di balai tersebut.
.
Ketut A pun sadar bahwa yang sedang terjadi disana adalah Paruman Leak. Sekian lama rapat berlangsung. Rupanya diantara para Leak ada yang mencium bau manusia, tapi Sang Leak Gundul segera berkata itu mungkin sapi, karena berbau kotoran sapi. Saat sedang seriusnya para Leak berdiskusi, Timbul niat iseng Ketut A, ia menjatuhkan talenan yang cukup besar yang ada disana. Bunyi talenan berdentum keras, hingga mengejutkan para Leak, mereka segera lari tunggang langgang, karena mengira penjaga gaib dari Ida Bathara di Pura itu murka.
.
Setelah situasi sepi, Ketut A segera turun lalu mengambil sebuah buku yang ditinggal para leak dan pulang sambil tertawa, Besoknya pamannya memaki-maki Ketut A. Rupanya sosok Leak Gundul kemarin adalah pamannya. Atas nasehat pamannya dia langsung merantau ke Jawa untuk menghindari balas dendam para leak yang ia kerjai.
.
Via @calonarangtaksu

LEGENDA DALANG PEREMPUAN ASAL SUKAWATI, GIANYAR



Ni Wayan Nodri, atau yang akrab disapa Men Badung, menjalani kesehariannya dengan berjualan sembako di Pasar Sukawati, Gianyar, Bali.
Kendati usianya sudah senja, perempuan 78 tahun itu tetap cekatan melayani pelanggan. Tak banyak yang tahu bahwa perempuan ini adalah legenda dalam dunia seni pertunjukan Bali.
Men Badung dikenal sebagai dalang luh atau dalang perempuan pertama di Bali. Perjalanannya memasuki dunia pedalangan dimulai setelah kehilangan suaminya, I Ketut Madra, pada 1979.
Suaminya, yang seorang guru sekaligus dalang, adalah tulang punggung keluarga.
"Saat kematian suami, saya tidak lama bersedih. Sudah langsung kepikiran anak. Memutar otak untuk cari biaya hidup. Saya putuskan jadi dalang," tuturnya saat ditemui detikBali di warung sembakonya, Jumat (8/3/2025).
Men Badung berasal dari keluarga seniman dalang. Selain terbiasa melihat suaminya berlatih mendalang, ia juga belajar dari adik laki-lakinya.
Dalam beberapa bulan, ia sudah bisa tampil di desanya. Kehadirannya sebagai dalang luh sempat mengejutkan masyarakat yang menganggap profesi ini identik dengan laki-laki.
Eksistensi dalang luh semakin diakui sejak festival dalang perempuan pertama di Bali pada 1980. Saat itu, nama Ni Wayan Nodri keluar sebagai juara pertama.
Men Badung terus mengembangkan kariernya dan tampil di Jerman serta Jepang pada 1985. Penampilannya di panggung internasional semakin menegaskan bahwa dalang perempuan dapat sejajar dengan dalang laki-laki.
Dalang perempuan juga menghadapi tantangan lebih besar. Selain minimnya undangan mendalang, faktor biologis seperti menstruasi menjadi kendala.
"Memainkan wayang itu sakral. Harus sembahyang dulu supaya Tuhan menyertai. Tidak boleh juga mendalang saat menstruasi. Kalau tiba-tiba datang bulan, undangan mendalang jadi batal," katanya.
Sumber : detik.com 

Bhuta Laweyan




Dalam kepercayaan masyarakat Bali, semua mahkluk halus berada dibawah kekuasaan Dewi Durga. Dalam beberapa kitab lontar di Bali disebutkan saat Dewi Durga murka beliau menciptakan berbagai macam mahkluk halus dari segala unsur di dunia. Salah satunya adalah Bhuta Laweyan, mahkluk halus dengan rupa yang sangat aneh.
.
Bhuta Laweyan adalah mahluk halus berwujud manusia tanpa kepala, namun memiliki wajah di bagian depan tubuhnya, ada juga yang menyebutkan kalau Lawean hanya berupa tubuh saja tidak memiliki kepala, tangan, serta kaki. Laweyan adalah mahkluk yang diciptakan oleh Dewi Durga dari mayat manusia yang kepalanya sudah terpisah dari tubuhnya atau mayat yang hanya tinggal tubuhnya saja.
.
Konon bila ada mayat yang sudah sangat lama di kubur dan tidak kunjung di kremasi, maka Dewi Durga akan mengutus Laweyan, dan beberapa mahkluk halus lainnya seperti Jerangkong (tengkorak hidup), Kemangmang (iblis kepala), Bangke Maong (mayat busuk), dll, untuk mengunjungi keluarga si mayat melalui mimpi, mereka akan mengingatkan keluarga si mayat bahwa seperti merekalah kondisi si mayat saat ini, agar ia segera mendapat upacara kremasi yang layak.
.
Menurut penuturan orang yang pernah melihatnya, Laweyan sering muncul di jalanan sekitar kuburan, jika dilihat dari belakang Laweyan akan terlihat seperti manusia biasa yang seperti sedang berjalan menunduk, memiliki rambut panjang, bertelanjang dada dan hanya mengenakan kamben, namun ketika membalikan badan ia tidak memiliki kepala, dan wajahnya ada di dadanya, sedangkan rambut panjang tersebut tumbuh dari lehernya.
.
Sumber lain menyebutkan Laweyan sering muncul di areal rumah sakit di Bali, dimana ia hanya berwujud bongkahan tubuh tanpa kepala, lengan dan kaki, yang muncul secara tiba-tiba dan hilang seketika. Tetapi tidak sembarangan orang yang bisa melihatnya. Laweyan sangat jarang memperlihatkan wujudnya kepada manusia dengan sengaja, kecuali jika ada suatu kesalahan yang kita lakukan maka ia berhak mengganggu dengan menakut-nakuti, itu pun hanya untuk mengingatkan kesalahan kita.
Via @calonarangtaksu



KONSULTASI ATAU PESAN BANTEN KEBUTUHAN UPAKARA WA: 08976687246 ATAU KLIK DISINI

Leak Bojog




 Bojog atau monyet adalah perubahan pertama yang bisa dikuasai seorang penekun ilmu leak yang baru belajar, karena itu leak monyet adalah golongan leak terendah dari semua jenis tingkatan ilmu leak yang berwujud binatang.

.
Menurut beberapa sumber, Leak Bojog merupakan leak paling lemah dan tidak mampu menyakiti manusia, biasanya leak monyet ini menampakan diri hanya untuk menakut-nakuti orang saja, walau demikian, wujudnya cukup menyeramkan. Jika seseorang sudah menguasai ilmu leak tingkat pertama, maka ia akan bisa berubah wujud menjadi seekor monyet berbulu hitam legam, yang tingginya seukuran orang dewasa atau tiga kalinya, dengan ekor sangat panjang yang tak bisa digerakkan, dan wajahnya masih menyerupai orang yang berubah menjadi leak ini, namun ditutupi bulu.
.
Leak jenis ini sering menampakan diri di perempatan jalan yang minim pencahayaan, tegalan dekat kuburan atau di depan rumah si pelaku sendiri, menurut penuturan orang yang pernah melihatnya, leak monyet suka nongkrong diatas pohon besar seperti kepuh, pule atau beringin, sambil menatap bulan.
.
Konon, leak monyet beraksi dengan berdiam diri diatas pohon, jika ada orang yang lewat, ia melihat sesuatu seperti tali menghalangi jalan, yang tak lain adalah ekor si leak yang menjulur dari pohon hingga ke tanah, lalu si leak akan melemparinya dengan batu kerikil berkali-kali, saat orang itu melihat keatas, si leak monyet akan tersenyum lebar sambil menjulurkan lidahnya yang panjang, sehingga orang yang melihatnya akan lari tunggang langgang.
.
Leak Monyet tak selalu leak tingkat rendah karena ada dua jenis leak ini, yaitu yang berbulu hitam dan berbulu putih, leak monyet hitam ilmunya masih rendah, jadi sangat mudah ditakuti yaitu dengan menggertaknya dengan sapu lidi atau menarik ekornya yang panjang, karena kelemahan si leak monyet ada pada ekornya. maka ia akan menghilang.
.
Sedangkan leak monyet putih adalah perubahan dari orang yang sudah berilmu sangat tinggi, ada yang mengatakan leak monyet putih tingginya setara dengan rumah, jadi jangan macam-macam bila bertemu leak monyet putih.
-
-
Via: @calonarangtaksu


Hari Tumpek Wayang.




 Dicertakan Dewa Kumara, juga lahir pada hari “tumpek wayang” sama seperti kakaknya yaitu Bhatara Kala. Maka, Bhatara Kala boleh memakannya bila sudah besar, Dewa Siwa pun menganugerahi Dewa Kumara agar selamanya menjadi anak-anak. Hal itu diketahui Bhatara Kala dan akhirnya Dewa Kumara dikejarnya.

.
Dalam pelarian Dewa Kumara ke bumi, ia bersembunyi gulungan alang-alang yang masih terikat. Bhatara Kala mengetahuinya dan membongkar alang-alang tersebut dengan melepas talinya, Dewa Kumara lari sekuat-kuatnya. Ketika itu Bhatara Kala mengutuk siapa saja yang mengikat alang-alang tanpa melepas talinya, akan menjadikan makanan bagi Bhatara Kala.
.
Dewa Kumara lalu bersembunyi di tumpukan kayu bakar yang juga terikat, Bhatara Kala mengikuti bau telapak kaki Dewa Kumara, akhirnya dijumpai di tumpukan kayu api, tetapi Dewa Kumara kembali lolos, Bhatara Kala mengutuk akan memakan orang-orang menumpuk kayu api tanpa melepas talinya.
.
Dewa Kumara lalu bertemu dengan orang sedang memasak di dapur, namun tidak menutup lubang tungkunya kanan dan kiri, Dewa Kumara bersembunyi di sana. Bhatara Kala dengan segera mencarinya, namun Dewa Kumara dapat meloloskan diri melalui lubang tungku tersebut. Orang yang memasak tidak menutup lubang tungkunya, dikutuk akan dimakan oleh Bhatara Kala.
.
Kemudian Bhatara Kala bertemu Dewa Siwa dan Dewi Uma dan memberinya teka-teki, karena tak mampu menjawabnya, Bhatara Kala pun melanjutkan pengejarannya mencari Dewa Kumara. Setelah lama mengejar, akhirnya ia kelelahan menemukan sesajen yang dihaturkan Sang Mangku Dalang yang tak ada lain adalah Dewa Wisnu sedang main wayang.
.
Karena haus dan lapar, sesajen itu dilahapnya habis. terjadilah perdebatan antara Sang Mangku Dalang dengan Bhatara Kala, yang meminta agar segala sesajen yang dimakan dimuntahkan kembali. Bhatara Kala pun berjanji tidak akan memakan orang yang lahir pada wuku wayang, jika sudah menghaturkan sesajen menggelar wayang "sapuh leger". Dan sampai sekarang orang bali yang lahir pada wuku wayang pasti memohon tirtha pengeruwatan wayang sapuh leger pada hari Tumpek Wayang.
-
-
Via: @calonarangtaksu 

Kamis, 17 Juli 2025

Paradigma Berfikir Orang Kebanyakan Terhadap PEREMPUAN BALI

 


____________________
Perempuan Bali, setelah pernikahannya ia dituntut bisa segala hal. Suka tidak suka dan mau tak mau ia akan dibelenggu lingkungan Patriarki.
.
Harus jago dalam urusan Sumur, Dapur dan Kasur.
Tidak bisa masak? Menjadi gunjingan..
Tidak bisa ngurus anak? Dibilang egosentris.. sibuk dengan diri sendiri
Tak bisa urus suami? Suami dilegalkan berselingkuh..
Tak bisa mandiri? Disangkanya menjadi beban suami...
Tak bisa menyama braya? Disangkanya individualis...
Tak bisa mejaitan? Dikatanya tak tahu adab budaya
PADAHAL....
Tak semua perempuan expertis dalam semua bidang : SUMUR,DAPUR ,KASUR.. ada perempuan cerdas yang kemampuannya berfungsi pada segmen ilmu tergentu.
.
Tak semua perempuan Bali itu beruntung dalam pernikahannya. Tak semua dianugerahi laki-laki bertanggung jawab dan bisa membahagiakan baik materi maupun batin. Namun ia tak mengeluh..
Ia malah ikut banting tulang bekerja keras. Jika tak untuk orang lain, setidaknya dia melakukan untuk dirinya. Siapa menjamin esok tetap baik - baik saja?? Dia tak mau di cemooh jadi beban suami.
Saat ia berdikari, berkarier dan menyambung asanya, ada hal lain dia harus korbankan. Kesempatan menyama braya yang maksimal, kesempatan melihat tumbuh kembang anak, kesempatan sekedar ngopi dan makan bareng suaminya.
Masih saja dia dipersalahkan ketika kesibukannya menjadi bumerang atas segala keretakan yang terjadi. Suami selingkuh, anak-anak broken home??? Rumah tak terurus?? Kasepekang banjar?? Yang salah adalah murni 100% perempuan.
Kita sadar, tak semua hal bisa sempurna dilakukan. Perempuan Bali sejajar seperti halnya laki-laki. Hanya saja budaya patriarki membentuk persepsi bahwa perempuan Bali tetaplah berada di kelas nomor 2. Laki- laki tetap ada di kelas pertama.
Perempuan Bali berjuang untuk mampu dalam segala urusan yang menjadi standar perempuan sempurna ala budaya patriarki.
Bisa mejaitan, bisa masak,bisa menyama braya, bisa mencari nafkah, bisa melahirkan anak laki-laki dan berbakti kepada mertua. Masih banyak tetek bengek lainnya.
Meski ia bisa segala hal,tempatnya akan tetap di kelas sosial nomor 2 dibawah laki-laki.
Sebaik-baiknya hasil yang ia ciptakan, jarang sekali mendapat reward dari kawanan sosial. Sekalinya dia salah, yang bulat salah adalah ia. Bukan pihak yang lain.
Perempuan Bali era neo liberal bukan tulang rusuk. Tapi tulang ekor. Menyangga suami selaku kepala sekaligus tulang punggung. Menjaga tegaknya anak-anak selaku rusuk. Sekalinya dia tumbang dan apatis, semua pusat kesadaran rumah tangga hancur.
Yang tersisa hanya ke-cacadan. Maka dari itu,ia perlu mendapat posisi. Jika tidak di masyarakat minimal di hati suami dan keluarganya❤
Perempuan Bali. Sekali berdikari,selamanya sulit terkendali lagi.
Perempuan Bali : asal muasal peradaban Bali. Ia patut disyukuri, dijaga dan dicintai.
#Women #Empowerment
sc Eka desmiari