Jumat, 18 Juli 2025

Hari Tumpek Wayang.




 Dicertakan Dewa Kumara, juga lahir pada hari “tumpek wayang” sama seperti kakaknya yaitu Bhatara Kala. Maka, Bhatara Kala boleh memakannya bila sudah besar, Dewa Siwa pun menganugerahi Dewa Kumara agar selamanya menjadi anak-anak. Hal itu diketahui Bhatara Kala dan akhirnya Dewa Kumara dikejarnya.

.
Dalam pelarian Dewa Kumara ke bumi, ia bersembunyi gulungan alang-alang yang masih terikat. Bhatara Kala mengetahuinya dan membongkar alang-alang tersebut dengan melepas talinya, Dewa Kumara lari sekuat-kuatnya. Ketika itu Bhatara Kala mengutuk siapa saja yang mengikat alang-alang tanpa melepas talinya, akan menjadikan makanan bagi Bhatara Kala.
.
Dewa Kumara lalu bersembunyi di tumpukan kayu bakar yang juga terikat, Bhatara Kala mengikuti bau telapak kaki Dewa Kumara, akhirnya dijumpai di tumpukan kayu api, tetapi Dewa Kumara kembali lolos, Bhatara Kala mengutuk akan memakan orang-orang menumpuk kayu api tanpa melepas talinya.
.
Dewa Kumara lalu bertemu dengan orang sedang memasak di dapur, namun tidak menutup lubang tungkunya kanan dan kiri, Dewa Kumara bersembunyi di sana. Bhatara Kala dengan segera mencarinya, namun Dewa Kumara dapat meloloskan diri melalui lubang tungku tersebut. Orang yang memasak tidak menutup lubang tungkunya, dikutuk akan dimakan oleh Bhatara Kala.
.
Kemudian Bhatara Kala bertemu Dewa Siwa dan Dewi Uma dan memberinya teka-teki, karena tak mampu menjawabnya, Bhatara Kala pun melanjutkan pengejarannya mencari Dewa Kumara. Setelah lama mengejar, akhirnya ia kelelahan menemukan sesajen yang dihaturkan Sang Mangku Dalang yang tak ada lain adalah Dewa Wisnu sedang main wayang.
.
Karena haus dan lapar, sesajen itu dilahapnya habis. terjadilah perdebatan antara Sang Mangku Dalang dengan Bhatara Kala, yang meminta agar segala sesajen yang dimakan dimuntahkan kembali. Bhatara Kala pun berjanji tidak akan memakan orang yang lahir pada wuku wayang, jika sudah menghaturkan sesajen menggelar wayang "sapuh leger". Dan sampai sekarang orang bali yang lahir pada wuku wayang pasti memohon tirtha pengeruwatan wayang sapuh leger pada hari Tumpek Wayang.
-
-
Via: @calonarangtaksu 

Kamis, 17 Juli 2025

Paradigma Berfikir Orang Kebanyakan Terhadap PEREMPUAN BALI

 


____________________
Perempuan Bali, setelah pernikahannya ia dituntut bisa segala hal. Suka tidak suka dan mau tak mau ia akan dibelenggu lingkungan Patriarki.
.
Harus jago dalam urusan Sumur, Dapur dan Kasur.
Tidak bisa masak? Menjadi gunjingan..
Tidak bisa ngurus anak? Dibilang egosentris.. sibuk dengan diri sendiri
Tak bisa urus suami? Suami dilegalkan berselingkuh..
Tak bisa mandiri? Disangkanya menjadi beban suami...
Tak bisa menyama braya? Disangkanya individualis...
Tak bisa mejaitan? Dikatanya tak tahu adab budaya
PADAHAL....
Tak semua perempuan expertis dalam semua bidang : SUMUR,DAPUR ,KASUR.. ada perempuan cerdas yang kemampuannya berfungsi pada segmen ilmu tergentu.
.
Tak semua perempuan Bali itu beruntung dalam pernikahannya. Tak semua dianugerahi laki-laki bertanggung jawab dan bisa membahagiakan baik materi maupun batin. Namun ia tak mengeluh..
Ia malah ikut banting tulang bekerja keras. Jika tak untuk orang lain, setidaknya dia melakukan untuk dirinya. Siapa menjamin esok tetap baik - baik saja?? Dia tak mau di cemooh jadi beban suami.
Saat ia berdikari, berkarier dan menyambung asanya, ada hal lain dia harus korbankan. Kesempatan menyama braya yang maksimal, kesempatan melihat tumbuh kembang anak, kesempatan sekedar ngopi dan makan bareng suaminya.
Masih saja dia dipersalahkan ketika kesibukannya menjadi bumerang atas segala keretakan yang terjadi. Suami selingkuh, anak-anak broken home??? Rumah tak terurus?? Kasepekang banjar?? Yang salah adalah murni 100% perempuan.
Kita sadar, tak semua hal bisa sempurna dilakukan. Perempuan Bali sejajar seperti halnya laki-laki. Hanya saja budaya patriarki membentuk persepsi bahwa perempuan Bali tetaplah berada di kelas nomor 2. Laki- laki tetap ada di kelas pertama.
Perempuan Bali berjuang untuk mampu dalam segala urusan yang menjadi standar perempuan sempurna ala budaya patriarki.
Bisa mejaitan, bisa masak,bisa menyama braya, bisa mencari nafkah, bisa melahirkan anak laki-laki dan berbakti kepada mertua. Masih banyak tetek bengek lainnya.
Meski ia bisa segala hal,tempatnya akan tetap di kelas sosial nomor 2 dibawah laki-laki.
Sebaik-baiknya hasil yang ia ciptakan, jarang sekali mendapat reward dari kawanan sosial. Sekalinya dia salah, yang bulat salah adalah ia. Bukan pihak yang lain.
Perempuan Bali era neo liberal bukan tulang rusuk. Tapi tulang ekor. Menyangga suami selaku kepala sekaligus tulang punggung. Menjaga tegaknya anak-anak selaku rusuk. Sekalinya dia tumbang dan apatis, semua pusat kesadaran rumah tangga hancur.
Yang tersisa hanya ke-cacadan. Maka dari itu,ia perlu mendapat posisi. Jika tidak di masyarakat minimal di hati suami dan keluarganya❤
Perempuan Bali. Sekali berdikari,selamanya sulit terkendali lagi.
Perempuan Bali : asal muasal peradaban Bali. Ia patut disyukuri, dijaga dan dicintai.
#Women #Empowerment
sc Eka desmiari 

Kisah Yudistira yang Pergi ke Surga Ditemani Seekor Anjing: Sebuah Pelajaran tentang Dharma dan Kesetiaan

 


Dalam epik Mahabharata, salah satu karya agung dalam tradisi Hindu, Yudistira, putra sulung Pandawa, dikenal sebagai simbol kebenaran, keadilan, dan kebijaksanaan. Setelah perang besar di Kurukshetra, yang membawa kehancuran bagi banyak keluarga, Yudistira dan saudara-saudaranya memilih untuk mengasingkan diri dan menjalani kehidupan yang lebih murni dan spiritual, atau disebut Vanaprastha. Di sinilah perjalanan spiritual Yudistira menuju surga dimulai, yang dipenuhi ujian-ujian berat, termasuk ditemani oleh seekor anjing misterius yang akhirnya membuka makna lebih dalam tentang dharma, kesetiaan, dan spiritualitas dalam tradisi Hindu.
Perjalanan Spiritual Yudistira Menuju Surga
Setelah berakhirnya pertempuran di Kurukshetra dan berbagai konflik besar yang menyertainya, Yudistira, meskipun adalah seorang raja yang dihormati, memutuskan untuk meninggalkan dunia material dan menuju ke hutan. Di sana, ia merenungkan kehidupan, dosa, dan kebajikan. Namun, perjalanan Yudistira menuju surga bukanlah sekadar perjalanan fisik, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang mendalam untuk mencapai pembebasan (moksha).
Dalam kitab-kitab Purana, terutama dalam Vishnu Purana dan Bhagavata Purana, diceritakan bahwa Yudistira, yang dikenal penuh kesadaran tentang dharma, memulai perjalanannya menuju surga setelah meninggalkan kerajaannya. Dalam perjalanan ini, ia ditemani oleh seekor anjing, yang sering diinterpretasikan sebagai manifestasi dari Dharma, dewa kebenaran dan ayah dari Yudistira sendiri.
Anjing dalam tradisi Hindu bukan hanya hewan peliharaan biasa, melainkan simbol dari kesetiaan yang tulus, penjaga jalan spiritual, dan penjaga dunia bawah. Dalam Rigveda, anjing bahkan dipuji sebagai penjaga yang melindungi kebenaran dan membantu dalam perjalanan jiwa menuju dunia yang lebih tinggi. Anjing yang menemani Yudistira melambangkan kesetiaan pada prinsip dharma, yang tidak mengenal batas waktu atau ruang.
Anjing Sebagai Simbol Dharma dan Kesetiaan
Dalam perjalanan menuju surga, Yudistira diuji oleh berbagai tantangan dan ujian spiritual. Salah satu ujian terbesar datang ketika mereka tiba di gerbang surga, tempat para dewa dan makhluk suci tinggal. Dewa-dewa memberikan ujian terakhir dengan meminta Yudistira untuk meninggalkan anjing yang menemani sepanjang perjalanan. Ini adalah momen kritis dalam kisah ini, karena keputusan ini menjadi titik tolak bagi Yudistira untuk menunjukkan apakah ia lebih setia pada dharma ataukah pada ikatan pribadi.
Dalam dialog antara Yudistira dan dewa-dewa, yang terinspirasi oleh filosofi Vedanta dan Purana, Yudistira dengan bijaksana memilih untuk tetap setia pada anjing, yang pada akhirnya terungkap sebagai manifestasi dari Dharma itu sendiri. Keputusan Yudistira untuk tidak meninggalkan anjing ini menunjukkan bahwa prinsip dharma lebih besar daripada ikatan pribadi, dan bahwa kebenaran tidak hanya terkait dengan tindakan tetapi juga dengan keputusan yang dilakukan dalam ujian-ujian hidup.
Pada akhirnya, Yudistira diterima masuk ke surga, ditemani oleh anjing yang juga diangkat ke alam yang lebih tinggi. Ini menunjukkan bahwa mereka yang tetap setia pada dharma, bahkan dalam ujian yang paling berat sekalipun, akan mencapai pembebasan dan kedamaian sejati.
Apakah Keempat Saudara Yudistira Masuk Surga?
Dalam kisah perjalanan spiritual ini, tidak hanya Yudistira yang mengalami ujian untuk mencapai surga, tetapi juga keempat saudaranya: Bima, Arjuna, Nakula, dan Sahadeva. Meskipun mereka semua adalah pahlawan yang dihormati dalam Mahabharata, mereka masing-masing juga harus menjalani ujian yang sesuai dengan karakter dan perjalanan hidup mereka.
Setelah berperang di Kurukshetra, mereka bersama Yudistira meninggalkan dunia material dan memulai perjalanan menuju surga. Namun, selama perjalanan tersebut, masing-masing dari saudara Yudistira menjalani ujian moral dan spiritual yang berbeda. Dalam kisah ini, Bima dan Arjuna mengalami cobaan yang berat, tetapi mereka gagal dalam ujian akhir mereka. Mereka tidak berhasil mencapai surga dalam tubuh fisik mereka karena mereka masih terikat pada dosa-dosa yang mereka lakukan, meskipun mereka adalah pahlawan besar.
Nakula dan Sahadeva, meskipun lebih rendah dalam ketenaran dibandingkan dengan saudara mereka yang lain, tetap lebih murni dalam perjalanan mereka. Namun, seperti halnya Arjuna dan Bima, mereka juga tidak sepenuhnya bebas dari ikatan duniawi. Pada akhirnya, hanya Yudistira yang berhasil mencapai surga dalam tubuh fisiknya, bersama dengan anjing yang menemani, yang sebenarnya adalah manifestasi dari Dharma.
Kesimpulan: Pembelajaran dari Kisah Yudistira dan Anjing
Kisah Yudistira yang pergi ke surga ditemani oleh anjing bukan hanya cerita tentang seorang raja yang mencari kedamaian akhir. Lebih dalam dari itu, ini adalah simbol dari kesetiaan, keadilan, dan pencarian dharma. Dalam perjalanan spiritual kita masing-masing, kita semua menghadapi ujian dan godaan. Seperti Yudistira yang setia pada prinsip kebenaran, kita pun diajak untuk tidak tergoda oleh dunia material dan terus setia pada nilai-nilai kebenaran yang lebih tinggi. Kesetiaan pada dharma adalah jalan menuju kebebasan, dan meskipun ujian hidup datang, seperti anjing yang menemani Yudistira, prinsip kebenaran akan selalu menuntun kita menuju tujuan akhir yang lebih baik.
Mari berdiskusi lebih dalam tentang makna perjalanan spiritual ini dalam kehidupan kita saat ini. Apa yang bisa kita pelajari dari kesetiaan Yudistira pada dharma dan anjing yang setia menemaninya? Bagaimana kita bisa menerapkan ajaran ini dalam kehidupan sehari-hari? Jangan lupa untuk like, share, dan follow agar kita bisa terus berbagi pemahaman spiritual ini.
Sumber:
• Mahabharata oleh Vyasa
• Vishnu Purana
• Bhagavata Purana
• Lontar Bali dan sumber-sumber tradisional Hindu lainnya

#bali #baliindonesia #taksu #taksubali #taksu_bali #upakara #bantenbali #canangsari #hindu #hindubali #pura #tradisibali #infobali #infodenpasar 

Mitos tentang beberapa jenis pohon yang dianggap angker Di Bali

 


Dalam ajaran Bali, setiap pohon tidaklah sekadar hadir sebagai penyejuk, tapi padanya terkandung suatu getaran tertentu yang bisa ditangkap oleh kepekaan manusia tentang manfaat maupun sifat dari energinya. Karena itu segala pohon yang buahnya berguna bagi manusia selalu diupacarai pada hari Tumpek Bubuh.
.
Di Bali berkembang mitos tentang beberapa jenis pohon yang dianggap angker, pohon kepuh misalnya, maka orang Bali mengatakan kalau pohon tersebut dihuni oleh wong samar (manusia gaib). Atau pada serumpun pohon bambu di tepi sungai dikatakan dihuni kawanan memedi usil dan pohon asam yang besar dihuni mahkluk halus bernama Banas.
.
Ini artinya masyarakat Bali mengasosiasikan suatu energi itu ke dalam suatu wujud yang lebih mudah dipahami pikiran, sehingga melahirkan suatu tata cara dalam bersikap dalam berhubungan dengan keberadaan energi-energi alam gaib itu dan menganggap pohon-pohon itu angker dan keramat. Dan yang terpenting adalah, dari keangkeran pohon-pohon itu masyarakat berharap mendapat perlindungan darinya.
.
Bila mohon sesuatu pada sebuah pohon tenget, maka pikirannya kembali dikuatkan, harapannya dipulihkan. Misalnya, dalam suatu kasus ada warga yang mengalami sakit tertentu karena melakukan hal yang tidak boleh dilakukan. Lalu diadakanlah permakluman, keluarga si sakit datang melakukan upacara tertentu.
.
Selain pohon kepuh, beringin, pule, bunut, juga ada pohon berumur pendek yang dikeramatkan. Orang-orang Bali mencabuti pohon pepaya renteng bila tumbuh dekat-dekat rumahnya. Pohon ini dianggap terkutuk, karena bila terlanjur besar, maka leak suka bersandar di batang pepaya itu pada malam buta untuk mengisap aura magis pohon itu. Sehingga pohon pepaya renteng sengaja dipunahkan.
.
Begitu juga dengan pohon kepuh, jika ia tidak tumbuh di tebing yang sulit dijangkau atau di hutan tak bertuan, niscaya pohon ini pun terancam punah. Kalau tumbuh di tegalan atau tanah warga maka pohon yang dianggap calon “rumah wong samar” ini akan dibabat sejak pohon itu masih pendek. 

API TAKEP

 


SEDERHANA TAPI MEMILIKI PERAN YANG SANGAT PENTING.

Api Takep adalah api yang dibuat dalam dua buah sabut kelapa yang dicakupkan menyilang sehingga membentuk tapak dara ( + )

Dalam penggunaan saat upacara yadnya memiliki fungsi yang berbeda-beda yaitu :

+ Dalam Caru Sasih fungsinya sebagai salah satu upaya niskala yang sangat penting dilakukan agar terhindar dari pengaruh kala.

+ Sebagai perlengkapan sesuwuk yang ditaruh di “lebuh” / depan rumah berfungsi untuk menetralisir kekuatan - kekuatan jahat agar menjadi suatu kekuatan yang baik.

+ Dalam Nglungang Ida Bhatara sebagai perlengkapan pemendakan dalam prosesi mengiringi Ida Bhatara yang telah hadir.

+ Api takep yang membumbung ke udara dari tetimpug diyakini sebagai penghantar ritual dalam upacara yadnya.

+ Sebagai sarana perlengkapan dalam pawiwahan berfungsi agar setiap pasangan Selalu setia terhadap janji dan kata hati.

+ Dan penggunaanya saat Kajeng Kliwon Enyitan, api takep dari dua buah sabut kelapa tersebut biasanya disertai dengan segehan, beras dan tetabuhan berupa air, tuak, arak serta berem berfungsi untuk menetralisir dan menghilangkan pengaruh negatip sekitar rumah.