Sabtu, 12 Juli 2025

𝘽𝙖𝙡𝙞𝙣𝙚𝙨𝙚 𝙈𝙖𝙣𝙣𝙚𝙣, 𝙋𝙤𝙚𝙣𝙜𝙜𝙖𝙬𝙖 (𝘿𝙞𝙨𝙩𝙧𝙞𝙘𝙩𝙨𝙝𝙤𝙤𝙛𝙙𝙚𝙣) 𝙫𝙖𝙣 𝘽𝙡𝙖𝙟𝙤𝙚, 𝙑𝙚𝙧𝙢𝙤𝙚𝙙𝙚𝙡𝙞𝙟𝙠 𝙞𝙣 𝘽𝙖𝙙𝙤𝙚𝙣𝙜



adalah sebuah foto sekitar tahun 1920 yang menampilkan para poenggawa (kepala distrik) dari Blajoe, kemungkinan di wilayah Badung, Bali waktu itu.
Foto ini merupakan bagian dari koleksi Bali dan dicetak dalam format cermin terbalik.
Dulu (Circa 1920) – Blajoe sebagai Pusat Pemerintahan Lokal
Pada awal abad ke-20, Blajoe (sekarang Belayu, Tabanan) merupakan bagian dari sistem pemerintahan tradisional Bali. Poenggawa adalah kepala distrik yang berperan dalam administrasi, hukum adat, dan hubungan dengan penguasa kolonial Belanda yang saat itu mengontrol Bali melalui sistem Zelfbestuur (Pemerintahan Sendiri).

Saat ini, Belayu adalah bagian dari Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, Bali. Struktur pemerintahan telah berubah dari sistem poenggawa menjadi pemerintahan desa dalam sistem administrasi Indonesia. Desa-desa di Belayu masih menjaga nilai adat, dengan bendesa adat sebagai tokoh yang memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat.

foto sekitar tahun 1920
Sumber: KITLV 9268.


BAGAIMANA MENENTUKAN HARI TILEM (YANG SEBENARNYA)



Purnama dan tilem (bulan penuh dan bulan gelap) adalah dua hari khusus yang tidak hanya penting bagi umat Hindu, tetapi juga bagi umat lain seperti Buddha, Konghucu, bahkan Islam. Hanya saja, istilahnya berbeda dan masing-masing keyakinan menekankan pada aspek berbeda dari keduanya.
Jika umat Islam sangat mementingkan hari candra darsana (hilal, dalam bahasa Arab), maka umat Hindu dan Buddha menitikberatkan pada hari purnama dan tilem itu sendiri. Karena itu, perhitungan kapan terjadinya purnama dan tilem menjadi sangat penting sebab pada kedua hari itu ada energi kosmik yang besar. Jika perhitungannya salah, maka orang tidak bisa mendapatkan manfaat spiritual yang maksimal.
Mari kita berpikir sederhana. Logikanya, karena purnama dan tilem terkait dengan pergerakan bulan yang bisa diamati langsung, maka kita harus benar-benar langsung mengamati posisi bulan agar sungguh-sungguh yakin kapan purnama dan tilem jatuh--bukan sebatas hitung-hitungan semata tanpa observasi langsung.
Cara agar kita tahu dengan pasti kapan hari tilem jatuh adalah sebagai berikut. Dalam penjabaran ini ada sedikit hitung-hitungan derajat. Jadi, mungkin Anda perlu membacanya beberapa kali.
1) Dua hari sebelum hari di mana tilem diperkirakan tiba, bangunlah sekitar pukul 5 pagi saat langit masih gelap. Tunggulah sampai Anda melihat bulan sabit kecil di cakrawala timur. Catat jamnya.
2) Tilem terjadi ketika bulan dan matahari berada dalam derajat bujur yang sama (0 derajat--keduanya ada di tempat yang sama). Bulan bergerak mendekati matahari sekitar 12 derajat per hari. Dua belas derajat sama dengan 48 menit waktu rotasi bumi.
3) Anggaplah matahari terbit kira-kira pukul 6.30 pagi. Pukul 6.30 dikurangi 48 menit adalah pukul 5.42. Jika Anda melihat bulan sabit kecil terbit di cakrawala timur sebelum pukul 5.42 (katakanlah pukul 5.30 atau malah pukul 5 pagi), maka tilem akan terjadi 2 hari setelah hari itu.
4) Jika Anda baru bisa melihat bulan sabit kecil itu terbit di rentang waktu setelah pukul 5.42, maka tilem bisa dipastikan jatuh keesokan harinya.
Semoga penjelasan saya dapat dipahami. Saya tidak pandai menjelaskan hitungan.
Sistem 48 menit (sebenarnya 47 menit 52 detik) sangat penting dalam Jyotisa Sastra. Rentang waktu 48 menit disebut satu muhurta, yang kemungkinan diadopsi menjadi sistem asta dauh dalam kalender astronomi Bali. 48 menit adalah waktu yang dibutuhkan bumi untuk berotasi sejatuh 12 derajat, yang sama dengan lamanya bulan bergerak dalam satu hari tithi (hari bulan--lunar day).
Sistem ini dipakai oleh banyak ahli astronomi lintas agama dan budaya. Kita bisa melihat di kalender umum bahwa hari Waisak pasti jatuh pada hari purnama dan hari Imlek pasti jatuh pada hari tilem. Mengapa demikian? Karena ahli astronomi mereka menggunakan pengamatan bulan langsung, bukan perhitungan spekulasi. Dari ribuan tahun lalu, hari Waisak dan Imlek pasti jatuh pada purnama dan tilem. Karena itu pula, hari Waisak dikenal dengan nama hari "Buddha Purnima Jayanti" (hari kemunculan Buddha pada hari purnama).

sc Arya Lawa Manuaba


PURA MEDUWE KARANG KUBUTAMBAHAN,BULELENG BALI , INDONESIA

 


Pura Meduwe Karang, sebuah pura dengan relief unik di Bali
Terletak di Desa Kubutambahan, Kecamatan Kubutambahan ± 12 km sebelah timur Kota Singaraja, kurang lebih 1 km dari pertigaan Singaraja, Kubutambahan dan Kintamani. Pura
ini tempat memohon agar tanaman di tegalan bias berhasil dan baik. Gugusan tangga mengantarkan pengunjung ke suatu areal luar pura (Jabaan) yang luas yang di bagian
depannya dihiasi patung-patung batu padas, 34 jumlahnya, yang diambil dari tokoh-tokoh dan adegan-adegan ceritera Ramayana.
Lingkungan Pura Maduwe Karang adalah salah satu lingkungan Pura di Bali yang telah dikenal wisatawan mancanegara sebelum Perang Dunia Kedua. Di Jaman itu wisatawan mancanegara datang ke Bali melalui laut di Pelabuhan Buleleng. Di tempat ini sambil menunggu angkutan umum para wisatawan mempergunakan waktu untuk mengunjungi Lingkungan Pura Beji di Desa Sangsit, Lingkungan Pura Maduwe Karang di Desa Kubutambahan.Lingkungan Pura ini terdiri dari tiga tingkat yaitu Jaba Pura di luar lingkungan pura atau Jabaan, Jaba Tengah, dan Jeroan, bagian paling dalam adalah yang
paling disucikan. Dua buah tangga batu menanjak menuju Jaba Pura, yang di bagian depannya dihiasi patung-patung batu padas, tiga puluh empat jumlahnya, yang diambil dari
tokoh-tokoh dan adegan-adegan ceritera Ramayana.
Patung yang berdiri di tengah-tengah memperlihatkan Kumbakarna yang sedang berkelahi dan dikeroyok oleh kera-kera laskar Sang Sugriwa. Yang unik, pada bagian dinding di sebelah utara terdapat ukiran relief orang naik sepeda yang roda belakangnya terdapat daun bunga tunjung. Daya tarik lain adalah pahatan Durga dalam manifestasinya sebagai Rangda, dalam posisi duduk dengan kedua lututnya terbuka lebar sehingga alat kelaminnya jelas kelihatan.
Tangan kanannya diletakkan di atas kepala seorang anak kecil yang berdiri di sebelah lututnya, kaki kanannya diletakkan di atas binatang bertanduk yang sedang berbaring. Pada bagian lain dari dinding lingkungan pura ini terdapat pahatan seorang penunggang kuda terbang dan pahatan Astimuka. Tokoh ini dilukiskan sama dengan Sang Hyang Gana (Ganesha), yakni dewa dengan muka gajah. Kungkungan Pura Maduwe Karang ini terletak di Desa Kubutambahan, 12 km sebelah Timur Singaraja.
Yang unik, pada bagian bawah dinding disebelah utara terdapat ukiran relief orang naik sepeda yang roda belakangnya terbuat dari daun bunga teratai.
Berdasarkan asal usul sejarah Pura Meduwe Karang, yang bersumber dari hasil studi dan penelitian sejarah Pura-Pura di Bali tahun 1981/1982 oleh pemerintah daerah Bali yang bekerjasama dengan Institut Hindhu Dharma (IHD) Denpasar, Pura Maduwe Karang, di bangun pada abad ke 19 Masehi, tepatnya pada tahun 1890 oleh para migrasi local, yang
berasal dari Desa Bulian, sebuah Desa Bali Kuno, ke lokasi Desa Kubutambahan.
Sesuai dengan istilah yang dipergunakan , disebut Pura Maduwe Karang berarti yang memilikim Karang (memiliki lahan, yang berupa tanah tegalan) di Desa Kubutambahan,
permukiman Baru migrant asal desa Bulian. Sehingga dengan demikian, Pura Maduwe Karang berstatus dan berkedudukan sebagai Pura perlak (Pura subak abian) yang diempon ,
diemong, disungsung dan disiwi oleh karma Subak Kubutambahan yang asal-usulnya berasal dari imigran petani desa Bulian. Dengan kata lain Pura Maduwe Karang
Sumber : http://wisata-bali.com/pura-meduwe-karang.html/
Foto : P.F.VALOIS (Tahun 1935 - 2014 )

Dalem Waturenggong: Raja Keemasan Bali di Abad ke-16

 


Dalem Baturenggong, juga dikenal sebagai 𝐃𝐚𝐥𝐞𝐦 𝐖𝐚𝐭𝐮𝐫𝐞𝐧𝐠𝐠𝐨𝐧𝐠, 𝐄𝐧𝐠𝐠𝐨𝐧𝐠, atau 𝐃𝐚𝐥𝐞𝐦 𝐒𝐫𝐢 𝐖𝐢𝐣𝐚𝐲𝐚 𝐊𝐞𝐩𝐚𝐤𝐢𝐬𝐚𝐧, adalah raja besar yang memerintah Bali pada pertengahan abad ke-16 (1520-1558 M). Di bawah kepemimpinannya, Kerajaan Gelgel mencapai puncak kejayaan dengan ekspansi politik, perkembangan budaya, dan penguatan agama Hindu di Bali.
Masa Keemasan
Mengukuhkan dominasi Gelgel atas kerajaan-kerajaan kecil di Bali dan Nusa Tenggara
Mendorong renovasi budaya, termasuk perkembangan seni dan sastra
Memperkuat pengaruh agama Hindu-Siwa dan Siwa-Buddha dalam struktur kerajaan
Warisan Dalem Baturenggong
Sebagai raja yang dipandang sebagai model ideal, Dalem baturenggong meninggalkan jejak mendalam dalam sejarah Bali, baik dalam sistem pemerintahan maupun kehidupan religius masyarakat.

#bali #baliindonesia #taksu #taksubali #taksu_bali #upakara #bantenbali #canangsari #hindu #hindubali #pura #tradisibali #infobali #infodenpasar


Menjual Tanah Leluhur Dalam ajaran 𝗛𝗶𝗻𝗱𝘂 𝗕𝗮𝗹𝗶

  



Dalam ajaran 𝗛𝗶𝗻𝗱𝘂 𝗕𝗮𝗹𝗶,terutama yang tertulis dalam berbagai lontar seperti Lontar Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul dan Lontar Sarasamuccaya, ada konsep karmaphala yang mengingatkan bahwa setiap perbuatan akan berbuah, baik atau buruk.

𝐊𝐮𝐭𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐝𝐚𝐧 𝐊𝐚𝐫𝐦𝐚𝐩𝐡𝐚𝐥𝐚 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐊𝐨𝐧𝐭𝐞𝐤𝐬 𝐌𝐞𝐧𝐣𝐮𝐚𝐥 𝐓𝐚𝐧𝐚𝐡 𝐋𝐞𝐥𝐮𝐡𝐮𝐫
Lontar Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul
Dikatakan bahwa tanah warisan leluhur memiliki taksu (spiritual energy) yang jika disalahgunakan atau dijual tanpa pertimbangan dharma, akan membawa penderitaan bagi keturunan.
"𝙔𝙖𝙣 𝙬𝙬𝙖𝙣𝙜 𝙡𝙪𝙥𝙪𝙩 𝙧𝙞𝙣𝙜 𝙨𝙬𝙖𝙙𝙝𝙖𝙧𝙢𝙖𝙣𝙞𝙣𝙜 𝙥𝙖𝙠𝙧𝙖𝙢𝙖𝙣, 𝙞𝙘𝙖𝙣𝙜 𝙖𝙥𝙖𝙡𝙖𝙧𝙞𝙣𝙜 𝙨𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖𝙡𝙖𝙣, 𝙩𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙬𝙚𝙝 𝙧𝙞𝙣𝙜 𝙗𝙝𝙪𝙬𝙖𝙣𝙖."
(Barang siapa yang melupakan dharma di desanya, ia akan tertimpa kemalangan dan tak akan menemukan kedamaian di dunia.)
Lontar Wrhaspati Tattwa
Mengajarkan bahwa menjual tanah warisan leluhur untuk kepentingan duniawi tanpa dharma akan menimbulkan karmaphala buruk:
"𝙎𝙞𝙧𝙖 𝙢𝙬𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙪𝙧𝙪𝙣𝙖𝙣𝙞𝙧𝙖 𝙖𝙣𝙖𝙢𝙥𝙖 𝙬𝙞𝙨𝙚𝙨𝙖𝙣𝙞𝙣𝙜 𝙥𝙖𝙥𝙖, 𝙢𝙖𝙩𝙞 𝙩𝙖𝙣 𝙨𝙪𝙠𝙖𝙣𝙞𝙠𝙖𝙣𝙜 𝙖𝙩𝙢𝙖."
(Orang yang menjual tanah leluhurnya tanpa dharma, ia dan keturunannya akan menerima penderitaan, bahkan setelah kematian, jiwanya tidak akan tenang.)
Lontar Sarasamuccaya (Sloka 135)
Menjelaskan bahwa tindakan yang 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐡𝐚𝐧𝐜𝐮𝐫𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐬𝐞𝐢𝐦𝐛𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐝𝐚𝐧 𝐰𝐚𝐫𝐢𝐬𝐚𝐧 𝐥𝐞𝐥𝐮𝐡𝐮𝐫 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐚𝐰𝐚 𝐩𝐞𝐧𝐝𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚𝐚𝐧 𝐛𝐚𝐠𝐢 𝐠𝐞𝐧𝐞𝐫𝐚𝐬𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐝𝐚𝐭𝐚𝐧𝐠:
"𝙄𝙠𝙖𝙣𝙜 𝙥𝙝𝙖𝙡𝙖𝙣𝙞𝙣𝙜 𝙬𝙚𝙠𝙖𝙨 𝙞𝙠𝙖𝙣𝙜 𝙥𝙖𝙥𝙖, 𝙩𝙖𝙣 𝙬𝙚𝙣𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙞𝙣𝙖𝙣𝙜𝙜𝙞𝙝𝙖𝙣 𝙧𝙞𝙣𝙜 𝙩𝙪𝙧𝙪𝙣𝙖𝙣."
(Buah dari perbuatan buruk akan diterima oleh keturunan, tidak bisa dihindari.)
𝐏𝐞𝐬𝐚𝐧 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐋𝐨𝐧𝐭𝐚𝐫 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐊𝐢𝐭𝐚 𝐒𝐞𝐤𝐚𝐫𝐚𝐧𝐠
Jika kita menjual tanah warisan tanpa mempertimbangkan kesejahteraan masyarakat dan kelangsungan budaya, maka kita tidak hanya mengkhianati leluhur, tetapi juga menanam karmaphala buruk bagi diri sendiri dan anak cucu.
🌿 "𝗝𝗮𝗴𝗮 𝘁𝗮𝗻𝗮𝗵 𝗕𝗮𝗹𝗶, 𝗷𝗮𝗴𝗮 𝘁𝗮𝗸𝘀𝘂 𝗹𝗲𝗹𝘂𝗵𝘂𝗿, 𝗷𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗯𝗶𝗮𝗿𝗸𝗮𝗻 𝗸𝗲𝘁𝘂𝗿𝘂𝗻𝗮𝗻 𝗸𝗶𝘁𝗮 𝗺𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗽𝗲𝗹𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗱𝗶 𝘁𝗮𝗻𝗮𝗵 𝘀𝗲𝗻𝗱𝗶𝗿𝗶."


KONSULTASI ATAU PESAN BANTEN KEBUTUHAN UPAKARA WA: 08976687246 ATAU KLIK DISINI



Jika Tuhan Maha Satu, lalu mengapa ada banyak ritual diluar pemujaan tunggal kepada-Nya?




 Jika Tuhan Maha Satu, lalu mengapa ada banyak ritual diluar pemujaan tunggal kepada-Nya? Tuhan menjawab pertanyaan ini


Akulah ritual, Akulah korban suci, Aku persembahan kepada leluhur, ramuan yang menyembuhkan, dan mantra-mantra yang bertuah. Aku adalah segala apa yang dipersembahkan

Konsep ketuhanan dalam Hindu bukanlah konsep monoteisme agama-agama Abraham dengan dogma siksaan derita api neraka jika menyekutukan-Nya. Vāsudeva bersabda:

Aku bersemayam di dalam hati semua makhluk. Begitu seseorang menyembah dewatā tertentu, Aku menjadikan kepercayaannya mantap supaya ia dapat menyerahkan diri kepada dewa itu.

Tuhan dalam Hindu adalah Maha-netral dan bukan Tuhan yang pencemburu:

Setelah diberi kepercayaan seperti itu, dia berusaha menyembah dewa tertentu dan memperoleh apa yang diinginkannya. Tetapi sebenarnya hanya Aku sendiri yang menganugerahkan berkat-berkat itu.

Jadi Brahman dalam Hindu adalah Maha-meresapi segalanya. Tat-tvam-asi, Tuhan bersemayam di dalam setiap individu, Dia adalah Nārāyaṇa, karena memiliki makhluk hidup sebagai tubuh-Nya.

Pemujaan kepada leluhur, dewa, dan unsur-unsur alam didasarkan pada pengetahuan bahwa Maheśvara adalah penghuni batin mereka sebagai Antaryāmin (yang mengendalikan dari dalam). Ahaṁ hi sarva-yajñānāṁ
bhoktā ca prabhur eva ca, "Satu-satunya Aku yang menikmati dan menguasai semua korban suci."
Bhagavad Gītā (9.24)

Maka dari itu konsep 5 macam pengurbanan suci (pañca-yajñā) dalam Hindu tidak dapat diganggu gugat:—

Janganlah kau sampai lupa berbhakti kepada: dewatā (deva-yajñaṃ); unsur-unsur alam (bhūta-yajñaṃ); guru (ṛṣi-yajñaṃ); sesama manusia (maṇusyāḥ); dan kepada leluhur (pitṛya-yajñaṃ). ⁣
Mānava-Dharmaśāstra (4.21) ⁣

Via: @filsafat_hindu