Selasa, 12 Juli 2022

Tiga mantra yang baik untuk perlindungan dan keselamatan diri yang wajib diketahui oleh umat Hindu.

 


Mantra harus diucapkan dengan baik dan benar. Kita juga wajib memahami maknanya agar mantra tersebut dapat membawa vibrasi positif dalam diri, Ada tiga mantra yang ampuh sebagai perlindungan dan keselamatan diri yang wajib dipelajari serta dipahami oleh setiap orang guna memperkuat vibrasi spiritual mereka.
Dilansir dari kanal Youtube Jro Pandit, disebutklan ada tiga mantra yang baik untuk perlindungan dan keselamatan diri yang wajib diketahui oleh umat Hindu.
1.Mantra Kemakmuran
‘Om sarwa mangala mangalye
Shive Sarwatha Sadhike
Sharanye Trayambhake Gauri
Narayani namo stute’
Artinya :
‘Om, Dewi Gauri permaisuri Dewa Siwa, limpahilah kami keberuntungan dan penuhilah keinginan semua orang, hamba bersujud pada-Mu’.
2.Mantra perlindungan dan kekuatan
‘Om tejo asi, tejo mahi dehi
Om wiryam asi, balam mahi dehi
Om ojo asi, ojo mahi dehi
Om manyur asi, manyur mahi dehi
Om saho asi, saho mahi dehi’ (yayur weda 1.1.6),
Artinya :
‘Om, Tuhan Kau adalah sumber cahaya, berilah hamba cahaya.
Kau adalah sumber semangat, berkahi hamba semangat.
Kau adalah sumber kekuatan, berilah hamba kekuatan itu.
Kau adalah sumber cahaya cemerlang, berikan hamba kecemerlangan.
Kau menaklukkan keagungan dan cinta kasih, anugerahkanlah hal itu kepada kami.
Semogalah kami menjadi pusat dan sumber dari kebijakan yang suci.
3.Mantra Panjang Umur
‘Om tat caksur dewahitam parastat sukramucarat
Pasyema saradah satam, Jiwema saradahsatam
Srinuyam saradah satam, Prabawam saradahsatam
Adinah syama saradah satam
Bhuyascasaradah satam’ (reg wefa 7.66.16, yayur weda 36.24).
Artinya :
Om, ya Tuhan semoga 100 tahun kami bisa melihat mata-Mu yang bersinar, semoga kami hidup seratus tahun, mendengar, berkata dan menegakkan kepala 100 tahun, hidup 100 tahun yang akan datang’.
Demikian merupakan sebuah ulasan 3 mantra untuk perlindungan dan keselamatan diri menurut kitab Weda.

Letak kori (pintu) masuk ke pekarangan rumah tidak boleh sembarangan.

 


Menurut Dosen Teologi Hindu, STAHN Mpu Kuturan Singaraja Wayan Titra Gunawijaya, letak atau posisi pintu masuk suatu rumah tempat tinggal juga memengaruhi kehidupan penghuninya.
Membuat pintu masuk ke pekarangan sesuai dengan petunjuk Lontar Asta Bumi yaitu luas pekarangan dibagi sembilan sesuai dengan arah pintu masuk yang akan dibangun.
Cara menghitungnya mulai dari timur ke barat dengan perhitungan: (1) Baya Agung (tidak baik); (2) Tanpa Anak (tidak baik); (3) Sukha Mageng (baik); (4) Brahma Stana (baik); (5) Dewa Werddhi (baik); (6) Sugih Rendah (baik); (7) Teka Wreddhi (baik); (šŸ˜Ž Kepaten (tidak baik); (9) Keperingan (tidak baik).
Kalau pintu masuknya menghadap ke barat, Cara menghitungnya mulai dari utara ke selatan dengan perhitungan: (1) Baya Agung (tidak baik); (2) Musuh makweh (tidak baik); (3) Wreddhi Guna (baik); (4) Wreddhi Guna (baik); (5) Danawan (baik); (6) Brahma Stana (baik); (7) Kinabhakten (baik); (šŸ˜Ž Kapiutangan (tidak baik); (9) Karogha Kala (tidak baik).
Kalau pintu masuknya menghadap ke timur, cara menghitung luas pekarangan atau tembok di sebelah timur dibagi sembilan. Cara menghitungnya mulai dari utara ke selatan dengan perhitungan: (1) Perih (buruk); (2) Kinabhakten (baik); (3) Wreddhi Guna (baik); (4) Dhana Teka (baik); (5) Kabrahmanan (baik); (6) Dhana Wreddhi (baik); (7) Ohan (tidak baik) 8); Setri Jahat (tidak baik); (9) Cendek Tuwuh/ Yusa (tidak baik).
Sedangkan kalau pintu masuknya menghadap ke utara.“Cara menghitungnya mulai dari timur ke barat dengan perhitungan: (1) Tanpa Anak (buruk); (2) Wikara (buruk); (3) Nohan (buruk); (4) Kedalih (buruk); (5) Brahma Stana (baik); (6) Piutangan (buruk); (7) Shuka Mageng (baik); (šŸ˜Ž Kawisesan; (9) Kawighnan (buruk),” pungkasnya.

Ilmu pangiwa dan pangleakan

 


Ilmu pangiwa dan pangleakan adalah warisan yang adiluhung. Konsep kawisesan di Bali, terutama aji pangiwa dan pangleakan merupakan bagian dari praktik Tantra yang sudah berkembang di Nusantara.
Penekun Lontar Ida Bagus Made Baskara, dari Griya Gunung Kawi Manuaba, Tampaksiring, Gianyar mengatakan, Tantra sudah berkembang di Nusantara khususnya Budha yang mengikuti Tantra.
Ida Bagus Baskara menjelaskan banyak lontar yang mengulas tentang aji pangleakan. Hanya saja tidak runut, berasumsi ini adalah salah satu metode yang diterapkan oleh leluhur agar aji pengiwa pangleakan tidak dipelajari secara sembarangan
Maka dari itu, untuk memahaminya, perlu teks pembanding. Salah satunya yang membahas detail tentang Tantra dengan 15 aspeknya adalah Kula Arnawa Tantra.
Kula Arnawa Tantra adalah salah satu kitab yang banyak mengulas metode praktik Tantrayana. Bahkan, jika dibandingkan dengan praktik kawisesan di Bali tentu sangat erat kaitannya.
Dikatakannya, pada praktik pangiwa pangleakan itu yang dilatih adalah unsur api. Pada teks Aji Pengiwa Pangleakan, ritual pembersihan pangiwa identik dengan Bhuta Sudhi, dimana pada orang yang membersihkan unsur api yang ada di dalam tubuhnya sebelum diolah.
“Dapur adalah sumber api yang paling dekat di luar tubuh manusia. Sehingga pembersihan aji pangiwa pangleakan bertujuan nunas panugrahan dari Bhagawan Mercukunda. Tujuannya membersihkan unsur api di tubuh, karena mengolah unsur api,” ungkapnya.
- Purusa Caharana. Dalam teks Kula Arnawa Tantra, ini adalah doa wajib pada hari tertentu untuk memperkuat praktik Tantra.
- Mantra. Berbeda dengan Purusa Caharana. Mantra yang dimaksudkan adalah ucapan yang menyertai praktik Tantra secara keseluruhan.
- Mandala. Dalam praktik Tantra secara universal dikenal dengan Mandala atau simbol yang berhubungan dengan tempat, wilayah di mana praktik Tantra dijalankan.
- Nyasa yang dalam Kula Arnawa Tantra untuk menempatkan berbagai aspek kedewaan, unsur alam yang ada pada tubuh praktisi

Hari ini PEMARIDAN GURU

 


Jatuh pada hari Sabtu Pon Dungulan, Kata “Paridan” artinya: Lungsuran, Waranugraha, Karunia. Sedangkan kata “Guru” menunjuk kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai Guruning Guru atau Guru Sejati.
“Pemaridan Guru”, digambarkan bahwa pada hari ini para Dewata kembali ke Sunya Lokha dan meninggalkan anugrah berupa kadirgayusan yaitu; hidup sehat umur panjang, visi hidup yang baru yang lebih dharmika dan hari ini umat menikmati waranugraha dari Dewata. Dengan harapan agar semua anugrah tersebut dijadikan sebagai bekal dalam mengisi hidup di kehidupanan ini, guna peningkatan kualitas hidup dari yang tidak/belum/kurang baik menjadi baik/semakin/lebih baik lagi.

Hari Ulihan “Mengenang Jasa Leluhur”

 


Berdasarkan sistem kalender Pawukon (kalender penanggalan Bali), hari Redite/Minggu Wage wuku Kuningan dinamakan sebagai Hari Ulihan, yang merupakan satu rangkaian dari hari Suci Galungan.
Tapi, tidak banyak yang merayakan hari Ulihan ini. Lebih banyak lagi yang tak tahu kandungan filosofi perayaan di hari pertama pada wuku Kuningan
Berdasarkan Kamus Bahasa Bali, kata ‘ulihan’ dapat berarti: ‘kembali’. Dan secara tradisi hari Ulihan memang diyakini sebagai saat kembalinya para Dewata ke kahyangan.
Sumber lain yakni: Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir terhadap Aspek-aspek Agama Hindu disebutkan; hari ‘Ulihan’ sebagai hari memberikan oleh-oleh kepada Dewa Hyang, Pitara pada saat kembali ke kahyangan. Karenanya, pada hari Ulihan disuguhkan upakara/banten berupa rempah-rempah, penganan, berbagai lauk-pauk, beras dan sejenisnya.
Pada saat hari Ulihan, umat Hindu dapat melaksanakan upacara kecil berupa menghaturkan banten canang raka, soda/ajuman di merajan atau di kemulan, mohon anugerah tuntunan.
Secara Rohani hari ‘Ulihan’ adalah: sebagai saat untuk mengenang jasa-jasa para leluhur yang telah mendahului kita. Generasi saat ini tentu saja punya kewajiban untuk melanjutkan langkah-langkah perjuangan para leluhur itu, terutama perjuangan yang baik.
Pada saat yang sama juga merenungi segala kesalahan sehingga tidak lagi diulangi oleh generasi kini. Dan yang terpenting adalah bahwa umat manusia hendaknya selalu ingat kepada roh leluhur yang telah membuat manusia ini berkembang hingga saat ini.

Makna Rahinan Pemacekan Agung

 


Lima hari setelah Hari Raya Galungan atau lima hari sebelum Hari Raya Kuningan disebut dengan Pemacekan Agung. Pemacekan Agung diperingati setiap Soma (Senin) Kliwon wuku Kuningan yang pada saat ini dirayakan pada Senin 13 Juni 2022.
Saat Pemacekan Agung ini merupakan pemujaan terhadap Sang Hyang Widi dengan manifestasinya sebagai Sang Hyang Parameswara dengan jalan menghaturkan upakara untuk memohon keselamatan. Dalam Lontar Sundarigama terkait Pemacekan Agung ini disebutkan:
Soma Kliwon, pemancekan agung ngaran, masegeh agung ring dengen, mesambleh ayam samalulung, pakenania. Ngunduraken sarwa buta kabeh.
Artinya:
Soma Kliwon (Kuningan) disebut dengan Pemacekan Agung. Pada sore harinya, umat Hindu patut mempersembahkan segehan agung di depan pintu keluar rumah.
Yang dilengkapi sambleh ayam semalulung yang disuguhkan kepada Sang Bhuta Galungan beserta pengiringnya agar kembali ke tempatnya. Selain itu di dalam teks lontar Dharma Kahuripan disebutkan:
Ini berarti Pemacekan Agung juga merupakan pemusatan diri dengan sarana tapa kepada Sang Hyang Dharma.
Pemacekan ini memiliki arti menancapkan sesuatu dan agung berarti mulia. Sehingga Pemacekan Agung ini merupakan hari untuk menancapkan kemuliaan atau dharma yang telah diperoleh saat ‘pertempuran’ melawan adharma. Agar umat manusia senantiasa terbebas dari nafsu atau indria yang membelenggunya.
Sementara dalam keputusan Seminar Kesatuan Tafsir terhadap Aspek-aspek Agama Hindu disebutkan saat Pemacekan Agung umat melaksanakan pesegehan agung ring dengen, dengan penyambleh ayam samalulung.
Adapun tujuan upacara ini yaitu mengembalikan Sang Bhuta Galungan beserta pengikutnya. Pada saat ini juga merupakan tonggak batas antara permulaan dan berakhirnya kegiatan Galungan (30 hari kemuka dan 30 hari kebelakang), yang dimulai dari Tumpek Wariga dan berlaku sampai Budha Keliwon Pahang

Gambaran PURANAMA dalam Diri

 


Belajar dari SEMESTA merupakan hal yg luar biasa apabila memahami dengan benar dan tepat.
Fenomena Purnama merupakan fenomena Semesta dimana Sejajar planet BULAN DAN MATAHARI ,sehingga Bulan mendapatkan SINAR YG PENUH DARI MATAHARI.
Disaat itu fenomena alam sedang dibersihkan seperti vacum cleaner ,kajian spiritual ilmiah PURNAMA merupakan penterjemah teori GRAVITASI medan magnet sang Bulan mampu menarik atau meneralisir hal hal yg bersifat negati di bumi.
Ibarat VACUM CLEANER raksasa dengan tenaga matahari.
Para spiritualis tradisi bisa merasakan kelegaan atau kekosongan energy negatif selama masa Bulan Purnama.Maka dari itu banyak yg meyakini mengawali apapun disaat bulan purnama karena bumi saat itu sedang sedikit sekali mempunyai energy negatif ,atau bahasa sederhananya FREKWENSI doa lebih bisa bersinergi dengan Semesta.
Semesta merupakan RANGKAIAN ALAM YG BESAR sedangkan diri MERUPAKAN RANGKAIAN ALAM KECIL,
MACROCOSMOS dan MICROCOSMOS
BUANA AGENG dan BUANA ALIT.
Diri juga mengalami PURNAMA
HATI atau ALAM BAWA SADAR
PIKIRAN atau ALAM SADAR
SAAT HATI BISA MENERANGI PIKIRAN MAKA AKAN TERJADI "PURNAMA KECIL DALAM DIRI'
JIWA JIWA YG TERCERAHKAN KARENA SETIAP HARI DALAM PIKIRANNYA SELALU DITERANGI OLEH HATI.
Jiwa jiwa yg damai tidak akan pernah kemana mana selalu bersemayam dalam diri.
Menciptakan PURNAMA SETIAP HARI maka akan menjadikan Jiwa jiwa yg damai.