Senin, 26 September 2016

Begawan penyarikan




Dagang Banten Bali



Bhagawan Penyarikan yang biasanya dikenal sebagai pemberi kesejukan melalui wejangannya dan juga sebagai pencetus arsitektur tempat suci di Bali yang menulis Asta Kosala dan asta Bumi yang dalam Tri Purusha sebagaimana disebutkan ditulis bersama bersama Bagawan Wiswakarma yang menyangkut tentang pembuatan arsitektur Pura atau Sanggah Pamerajan,
  • Sebagai tempat suci para leluhur untuk memperoleh kesejahteraan dan kedamaian atas lindungan Hyang Widhi, mendapat vibrasi kesucian dan menguatkan bhakti kepada Hyang Widhi.
  • Bale Agung di pura desa sebagai lingga Sthana Begawan Penyarikan / Bagawati
  • Pura Ratu Penyarikan di Catur Lawa dengan warna kuning selaku penyade/penanggungjawab di Pura Ulun Kulkul.
Diceritakan dahulu Bhagawan Penyarikan pernah berguru pada Ida Sang Hyang Ratna Traya, mengenai perputaran atau perjalanan manusia masing-masing.

Setelah menyelesaikan pelajarannya, seperti halnya lontar geguritan bhima swarga, Bhagawan Penyarikan pun pergi mengunjungi neraka dan surga melalui titi ugal agil jembatan menuju bale peangen-angen ... dalam Bali Sweet Home diceritakan bahwa :
Pertama Bhagawan Penyarikan datang ke setra maha luas yang disebut tegal penangsaran tempat berkumpulnya para roh laki perempuan, baik maupun jahat. 
Salah satu dari atma yang bernama Sang Tutulak menghampiri Bhagawan Penyarikan dan berkata 
“Apa yang menyebabkan hamba bisa mengalami seperti ini?” 
Diberi wejangan kemudian oleh Bhagawan Penyarikan : “pada saat engkau masih hidup, engkau tidak pernah mengindahkan ajaran dharma
  • Banyak dosa yang engkau perbuat, menghambat kepentingan orang banyak, tidak berdana punia, engkau rakus mengumpulkan harta benda dengan berbagai cara. 
  • Seandainya nanti engkau menjelma / reinkarnasi menjadi manusia, maka menjelmalah engkau pada tumpek pengatag, kemudian setelah tua engkau harus menjalankan dharma kewikon”.
Ada lagi atma yang merintih kesedihan dan menanyakan kepada Sang Bhagawan : 
Mengapa hamba mengalami siksaan seperti ini, padahal ketika semasih hidup hamba rajin menjalankan yadnya dan berdana punia. 
Pertanyaan sang atma tersebut dijawab dengan pertanyaan lagi oleh Sang Bhagawan: 
“Apakah upacara yadnya dan dana punia yang engkau haturkan tersebut berasal dari pekerjaan yang benar berdasarkan dharma ?” 
Ketika itu para atma tidak dapat memberikan jawaban. Bhagawan kembali bersabda : 
“yang terpenting adalah penyucian adnyana, tak pernah lupa dengan sadhu dharma dan melaksanakannya dengan sempurna. 
Yang dapat menjalankan itu, maka sudah pasti ia akan pergi ke suargaloka, alam swah loka yang dihuni oleh jiwa-jiwa (atman), bathinnya bersih hidupnya penuh welas asih dan dharma kebaikan.



Minggu, 25 September 2016

guru piduka



guru piduka
kulit sayut, tumpeng guru meplekir, raka, kuangen, 2 tulung sangkur, daksina taluh siap matah, taluh siap lebeng, ayam panggang, suci cenik, teterag, sampyan tebasan 

bendu piduka
kulit sayut, tumpeng guru meplekir, raka, kuangen, 2 tulung sangkur, daksina taluh bebek matah, taluh bebek lebeng, bebek panggang, suci cenik, teterag, sampyan tebasan

Ajaran Hindu banyak memuat petuah akan pentingnya bakti pada orang tua atau Leluhur, itulah sebabnya umat Hindu khususnya di Bali banyak melakukan suatu upacara yang terkait dengan bhakti pada orang tua (leluhur) seperti Pitra Yadnya dan perayaan lainnya yang kadang lebih marak dibandingkan Dewa Yadnya apalagi Rsi Yadnya. Salah satu perjalanan bhakti pada leluhur adalah ”Guru Piduka” yang mempunyai makna ”Permohonan maaf pada Leluhur”.

Faktor masa lalu banyak berperan terhadap maraknya umat melakukan Guru Piduka ini. Pada masa lalu dimana di Bali masih terdapat kerajaan-kerajaan seperti Wangsa Warmadewa berkuasa yang berakhir sekitar abad XIII, juga setelah Majapahit berkuasa di Jawa Timur sehingga ditempatkannya Adipati (wakil Raja) di Bali yang bergelar Dalem, yang pertama pada Tahun 1350 Masehi. Pada masa-masa itu dan sesudahnya hubungan kekerabatan, penghormatan pada orang tua, juga kebanggaan akan keluarga atau wangsanya, sangat tinggi. Ada suatu keadaan yang disebut ”Petita Wangsa/dihilangkan asal usulnya” oleh penguasa atau ”Nyineb Wangsa/menyembunyikan asal usulnya”.

Pada masa itu Gelar Kebangsawanan seperti ”Kyayi” (bukan Kyai di-jaman sekarang), yang statusnya adalah Pembesar Kerajaan, Mantri Kerajaan, atau Amancha Bhumi, bisa saja karena sesuatu hal dicabut oleh penguasa misalnya karena melakukan kesalahan. Ada juga yang tidak ingin diketahui asal-usulnya sehingga menyembunyikannya (nyineb wangsa) bahkan ada tindakan pembakaran prasasti/lontar, atau mengganti prasasti disuatu tempat dengan yang baru yang tujuan politisnya agar tidak diketahui dengan benar asal-usulnya. Hal-hal seperti ini dikemudian hari menimbulkan masalah karena banyak kemudian yang tidak tahu asal-usulnya atau ada yang salah-sulur.

Bagi yang ingin bhakti pada leluhurnya, baik yang karena dasarnya benar sesuai ajaran agama atau yang dasarnya salah dimana mengatakan ”Kesalahang Kawitan (disalahkan leluhur)” atau ”Pidukain Guru (dimarahi orang tua), akan melakukan suatu Perjalanan Suci (Dharma Yatra) yang tujuannya meminta maaf pada leluhur atau Me-Guru Piduka.

Bagi Damuh yang melakukan Perjalanan Guru Piduka ini, tentu sebelumnya atas petunjuk dari orang yang dipercaya apakah itu Pandita, Pinandita, rohaniawan, ahli babad, atau juga Balian Pipis berupa ”metuunang”, walaupun hal terakhir ini perlu hati-hati karena tidak selalu benar. Umumnya petunjuk yang diberikan adalah agar melakukan persembahyangan ke Parhyangan Sang Catur Sanak (Empat dari Panca Tirta) dilanjutkan dengan ke Mrajan Agung atau Pura Kawitan mereka. Sarana yang dibawa adalah ”Banten Guru Piduka”. Prosesi Perjalanan Guru Piduka diawali dengan sembahyang dirumah (Kemulan Rong Tiga) untuk mohon petunjuk akan melakukan perjalanan Guru Piduka agar berjalan lancar.

Fase berikutnya ke Parhyangan Catur Sanak yang merupakan leluhur sebagian besar orang Bali, baik itu Pasek, Ida Bagus, Anak Agung, I Dewa, dll. Urutannya mengikuti urutan kedatangan Catur Sanak ini ke Bali atas permintaan Raja suami-istri ”Udayana Warmadewa & Gunapriya Dharmapatni” pada sekitar abad X, yaitu : Pertama ke Parhyangan Mpu Semeru (Mpu Mahameru), Parhyangan beliau di Besakih sekarang disebut “Pura Ratu Pasek (Pura Catur Lawa). Beliau pemeluk agama Siwa tiba di Bali pada hari Jum,at kliwon, wara pujut hari purnamaning sasih kawulu, tahun saka 921 (tahun 999 Masehi), menjalani hidup brahmacari (tidak kawin seumur hidup), namun beliu mengangkat putra dharma dari penduduk Bali Mula, yang sesudah pudgala bergelar Mpu Kamareka atau Mpu Dryakah. Selanjutnya Mpu Dryakah ini menurunkan Warga Pasek Kayuselem. Kedua ke Parhyangan Mpu Ghana Parhyangan beliau di Gelgel Klungkung, dan sekarang disebut dengan nama “Pura Dasar Bhuwana”.

Beliau penganut aliran Ghanapatya, tiba di Bali pada hari senin kliwon, wara kuningan tahun saka 922 (tahun 1000 Masehi). Parhyangan beliau berupa Meru Tumpang Tiga yang juga disebut Ratu Pasek. Ketiga ke Parhyangan Mpu Kuturan atau Mpu Rajakretha, pemeluk agama Budha Mahayana, tiba di Bali pada hari Rabu Kliwon, wara pahang, tahun saka 923 (tahun 1001 Masehi).

Beliau berparhyangan di Padangbai, hidup sewala brahmacari (selama hidup kawin hanya sekali) dan berpisah dengan istrinya yang tetap di Jawa yang dikenal dengan Rangda/janda dari Girah penganut ilmu hitam. Ditempat Parhyangan Mpu Kuturan telah berdiri sebuah Pura yang bernama Pura Silayukti. Ke-empat ke Parhyangan Mpu Gnijaya yang tertua dari Panca Tirta, pemeluk Brahmaisme, tiba di Bali pada hari kamis kliwon, wara dungulan, sasih kedasa, tahun saka 971 (tahun 1049 Masehi). Beliau berparhyangan di Bisbis (Gunung Lempuyang), sekarang tempat parhyangan beliau telah berdiri sebuah Pura yang bernama “Pura Lempuyang Madya”.

Setelah perjalanan ke Parhyangan Sang Catur Sanak, Damuh lalu melakukan Persembahyangan Guru Piduka ke Pura Kawitan masing-masing (Mrajan Agung, Dadya Agung). Sesudah itu umumnya dilanjutkan dengan Ngelinggihang Bhatara Kawitan dirumah masing-masing.

Demikian perjalanan Sang Damuh dalam rangka memohon maaf kepada Leluhurnya yang sesungguhnya lebih tepat karena Damuh ingin melakukan ajaran agama dengan baik yang tertuang dalam Ajaran Catur Guru, Tri Rnam, dan Panca Yadnya. Semoga niat baik ini memberikan kedamaian bagi Damuh, keluarga, serta keturunannya. –sumber



Sabtu, 24 September 2016

Bayuh oton



pejati
pengambean
pengenteg bayu
tebasan kelahiran
tumpeng pitu 

wariga 

pon 
pejati
pengambean
pengenteg bayu
tebasan kelahiran
tumpeng pitu :  kulit sayut, raka, tumpeng 7, 2 tulung sangkur, kuangen 1, peras tulung, payasan, kojong umah, prayascita, tebasan guru

kuangen 4 ...........

wariga : aled, raka, ceper nasi diatasnya uang 4 keteng, kojong rangkadan, sampyan

pon : === aled, raka, pis bolong 77 keteng diatasnya penek agung, kojong manak, takir beras kuning
         === aled, raka, pis bolong 77 keteng, nasin sodan agung (sege liwet) diatasnya tebusan benang kuning, kojong umah, ayam putih panggang
         === santun nyuh 3, taluh ... 3, beras 1/4 - 1/2 kg, canang 3 
mepalunemya  


anggara umanis wariga 
kamis pon wariga
kamis umanis matal 
redite umanis langkir  
soma pon ugu
saniscara pon ugu

Umanis 
===== aled, raka, pis bolong 55 cobekmisi nasin sodan agung/ gede (nasi liwet), kojong umah, sampyan .....

===== aled, raka, pis bolong satak, ceper nasi barak, kojong umah, sampyan ....

===== aled, raka,  pis bolong satak diatasnya ..... penek dililit benang tebus, , kojong kurenan, sampyan ....

Matal : nasi uduk. pis bolong 4 keteng, opor ayam n bebek
Ugu :  nasi polan, pis bolong 10 keten, opor bebek



bayuh oton menek kelih 
===banten dedari : raka, kojong kurenan, 10 tanding penek putih kuning

=== tebasan

Bayuh oton / ruwatan menurut kelahiran
Drs. I nyoman singgin wikarman
Penerbit paramita Surabaya
Jl. Pegesangan 59 surabaya
Jl a yani 119 surabaya
Jl hayam wuruk 127 denpasar
Juli 1998

      Manusia lahir dengan karma baik dan buruk yg dibawa dari kelahiran sebelumnya. Sloka svargacyuta yi manusia lahir dr sorga (svargacita) dan dr neraka (nerakacita) (sarasamuscaya 7). Juga dlm Vrhaspati Tattva : “sadu-sadu maha satva karma phalanca,”
Artinya : antyanta dibyaning tatkwan anaku bhagawan brehaspati. Apan akuweh ngaranin wasana ngaran ikang ginaweh jalma, ia ta binuti paring paratra. Ri jalma nia muwah yana ala, yana ayu, asing ngatah, sakaluiraning karma ginaweakena, enti marakalania, kadiangadiun wadaingingu, wusilang ingunia, ikang diun pinasahang inahallang kawekasta amben nia, gandania, rumaket juga ikang karma wasana. Yatika uparenga irikang atma. Koparengganikan atma yataraga ngaran. Ikang wasana wedumadia ning raga matangiang mayuning karma arsa saluiring ikang karma wasana, ikang wasana pwaya dueg, umungparengganing yatadumadyang ikang jatma mapalenang, ana dewa yoni, ana raksasa yoni ana detya yoni, ana naga yoni”
Artinya : sebab banyak yang disebut wasana namanya perbuatan yang telah dikerjakan terdahulu itu dinikmati di alam baka pada penjelmaan lagi, kalau baik atau buruk masing-masing disebabkan oleh karma yang diperbuatnya. Selesai menikmati pahalanya (di alam baka) seperti priuk yang telah berisi mentega telah habis menteganya priuk itu dibersihkan namun bekasnya masih berbau yang melekat pada priuk itu. Itulah yg disebut vaasanaa. Itu menghiasi sang Atma. Hiasan dan vaasanaa menjadi badan. Karma vaasanaa yg menjadi hiasan atma menjadikan wujud badan dan sifat manusia berbeda. Ada yg bersifat deva, rakus, daitya, naga.

Yoni mengacu pada sifat (suksma sarira). Karma buruk menyebabkan sifat detya, naga, sedang karma baik menjadikan manusia bertabiat luhur.

Penglukatan mpu leger
Bhatara siva berputra 2 yi bhatara kala dan deva kumara.
Suatu ketika bhatara kala bertabiat seperti  raksasa bertanya pada ayahnya “siapa saja yg boleh disantapnya?” jawabannya yi “yg berjalan tengah hari dan yg lahir wuku wayang.”
Krn deva kumara lahir wuku wayang maka bhatara kala ingin menyantapnya.
Deva siva menyuruhnya lari ke bumi. Untuk menghalangi tertangkapnya deva kumara siva dan bhatari uma mengendarai lembu putih turun ke bumi tepat tengah hari. Kala ingin menyantapnya. Siva berkelit dengan teka teki, karena kala tak mampu maka tak bisa menyantap, sementara itu kumara telah berlari jauh dan bersembunyi di onggokan sampah. Kala menerkam kumara lolos. Kala mengutuk “siapa saja yang membuang sampah sembarangan agar kena penyakit menular”. Kumara lari lalu bersembunyi di tungku api kala menangkap tapi kumara berkelit lolos, kala mengutuk “siapa yang tidak menutuk tungku agar kebakaran”. Kumara lari hingga menemui pagelaran wayang. Oleh dalang ia disembunyikan di bumbung gender. Tibalah kala, karena lapar lalu menyantap banten. Kala bertanya “dimana kumara bersembunyi?” dalang menjawab kumara ada dalam perlindungannya. Jika kala dapat mengembalikan banten dengan utuh maka kumara akan diserahkan. Kala nyerah. Kala dank i dalang membuat kesepakatan “jika ada yang lahir wuku wayang dan tidak dilukat maka bole disantap”.
Wayang
Sanggah tutuan bantennya suci 2 soroh
Dibawahnya bebangkit n gelar sanga
Caru panca sato
Tebasan bagu yang dibayuh
Mendirikan laapan sudut 3 bantennya suci 1, santun 1, uang kepeng … , penek putih 5, ayam putih
Sanggah cucuk 3 ditempatkan pada batas kelir2 bantennya danaan, kembang payas, lenga wangi burat wangi
Di Wayangnya ; suci n itik,
Pulo gembal, sekar taman, canang pajegan, canang pengraos
Santun serba 4, uang kepeng 1700
Peras penyeneng, segehan agung ditempatkan pada dulang dagingnya betutu
Tirtha penglukatan sang mpu leger ditempatkan pada sangku sudamala beralaskan beras, benang, uang kepeng 225
Bunga 11 warna, duri2, sam-sam, wija kuning

Jalannya upacara
Bumi sudha/Mecaru
Mempersembahkan upasaksi kpd hyang widhi
Mempersembahkan bebangkit kepd catur dewi dengan gelar sanga kpd buthakala
Ki dalang menggelar wayangnya dg lakon buthakala
Penglukatan pd anak
Mejaya-jaya
Natab dapetan

diun endah ia ika wasana ngaran. Samangkana ikang karma wasana ngaran.


Kliwon :
Penek agung 1, daging ayam brumbun panggang, gerih, getem, soring penek uang 88, raka, godoh tumpi, tebusannya anut pancawara, sedehy, segeh liwet pd pinggan. Daging sawung blm bertelur, kuluman, dangdang udung, jangan pepeingasem, sambel tan tinarasem, tebus manca wara; tumpeng agung, pupuknya waringin

Umanis
Tebusannya penek agung 1, ayam putih panggang, uang 55 taruh dibawah penek, raka, tetebus sedah, segeh liwet di pinggan, daging babi seharga 55, tebusannya putih, pupuknya teleng putih

Paing
Carunya penek agung 1 dibawahnya uang 99, ayam biing panggang, balung gegending, raka, godoh tumpi, tetebus sedah 9, sega liwet mewadah pinggan, daging babi harga 99, sayuran kekarahinasem


Pon
Penek agung dibawahnya uang 77, ayam putih kuning panggang, sayur usus diolah,  raka, godoh tumpi,  sega liwet mewadah pinggan, daging babi harga 77, tetebus benang kuning


Wage
Nasi jauman dibawahnya uang 44, ayam ireng panggang, raka, godoh tumpi,  sega liwet mewadah pinggan, daging babi harga 44





Sinta
Nasi, pindang daging kerbau 2 keteng,

Landep
Tumpeng, 4 keteng

Wukir
Nasi uduk, ayam putih diopor, sayuran 5 macam, 4 keteng

Kulantir
Tumpeng, ayam lurik dipecel, 7 keteng

Taulu
Nasi uduk, 3 keteng, opor ayam

Gumbreg
Nasi, pindang ayam brumbun, sayur 9 macam, 4 keteng

Wariga alit
Nasi urab, gecko daging kerbau, 4 keteng

Wariga agung
Nasi uduk, opor bebek, sayuran 5 macam, 5 keteng

Julungwangi
Nasi, ayam brumbun, uang 8,5 sen, kucing

Sungsang
Nasi megana/kebuli n tumpeng, 2, ayam n bebek, sayur 9 macam campur dlm tumpeng, selawat 10 keteng

Dungulan
Nasi, kambing

Kuningan
Nasi kuning, kerbau, uang 6 keteng

Langkir
Nasi uduk, opor kambing n ikan, sayuran lengkap, 5 keteng

Medangsia
Nasi merah, sayur bayam merah, pindang ayam merah, bunga setaman merah, selawat baru masih merah 40 keteng,

Pujut
Tumpeng, ayam merah panggang, sayur 9 macam, selawat 30 keteng

Pahang
Nasi uduk, ayam satu warna opor, sayuran 11 macam, 9 keteng

Krulut
Sayuran macam2, jajan pasar, bunga boreh,

Mrakeh
Nasi uduk, opor ayam bulu 1 warna, ketan uli, 100 keteng

Tambir
Nasi , pindang bebek, kuah merah n putih, timun 25 biji, selawat pisau raut baja n 1 jarum

Medangkungan
Nasi kuning, ayam goring bulu biring kuning brumbun, bubur merah, 5 keteng



Matal
Nasi uduk, opor ayam n bebek, 4 keteng

Uye
Jajan pasar satak slawe (110) sen, madu

Menial
Nasi, ayam n ikan, sayur macam2, sambal goring, 8 kt

Perangbakat
Tumpeng, daging sapi manis, sayur macam2, selawat pacul

Bala
Tumpeng, 7 macam sayur, ayam hitam panggang, 40

Ugu
Nasi, ketan uli, jajan pasar, opor bebek, 10 kt

Wayang
Tumpeng, ayam, macam2 sayur, 40 kt

Kelau
Nasi golong, ayam n bebek bulu merah, daging burung, 5 kt

Dukut
Tumpeng, ayam brumbun putih panggang, 10 sen

Watugunung
Nasi, asam, ketan uli dodol, sayur 7 macam, 9 kt

Lontar wrespati kalpa n beakala wetoning rare

Wrespati kalpa n primbon jawa
Minggu emas
Caru : di sanggah kemulan suci 1, itik yg sudah bertelur, beras 5 catu, uang 555, benang 5 tukel, telur 5, pisang 5 ijas, kelapa 5, semuanya jd 1 bakul/keranjang. Sesayut kusuma jati 1 dulang dengan nasi putih, ayam putih mepanggang, sekar putih 5, airnya 5 mata air, tebasan durmangala, prayascita, peras pengambean

Senen perak
Caru : beras 4 catu, kelapa 5 bungkul, telur 4 butir, benang 4 tukel, pisang 4 ijas, uang 444 jadi 1 bakul. Penglukatan payuk 4 dr 4 mata air, sayut sita rengep 1 dulang dengan nasi ireng, pucuk bunga teleng biru, ayam brumbun panggang, suci 1 dengan daging itik yg pernah bertelur, prayascita, durmangala



Selasa gangsa
Caru : beras 3 catu, benang 3 tukel, kelapa 3 telur 3 pisang 3 ijas uang 333 jd 1 bakul, sesayut wirakesuma 1 dulang, nasi oranya, ayam biing kuning panggang potong2 dipolakan bangun urip dipucaki samsam landep, bunga 3 jenis, suci peras dipersembahkan ke surya. Penglukatan 3 payuk dr 3 mata air,


Rabu besi
Caru : beras 7 catu, telur 7, kelapa 7, pisang 7 ijas, benang tukel 7 uang 777 jd 1 bakul. Sesayut purna sukha 1 dulang, nasi kuning mesaur samsan delina wanta. Ayam putih kekuningan panggang diperesi tebu ratu, sekar putih 7 kuncup, sudamala, suci asoroh, prayascita, durmangala itik yg pernah bertelur, peras, bayuan. Penglukatan 7 payuk dr 7 mata air


Kamis perunggu
Caru : beras 8 catu, kelapa 8, telur 8, pisang 8 ijas, benang 8 tukel, uang 888, sayut kusuma ganda wati dengan nasi dadu, ayam brumbun, prayascita, durmangala. Melukat air 8 payuk dr 8 mata air, suci 1, bebek, peras dg ayam panggang.


Jum at tembaga
Caru : beras 6 catu, sesayutnya; liwet raja kiru adulang, nasi aru cendana mepucuk teleng biru, yam klau panggang, bunga cempaka kuning 6 kuncup, suci itik, prayascita, durmangala. Penglukatan 6 payuk dr 6 mata air

Sabtu timah
Caru : beras 9 catu, telur 9, kelapa 9, pisang 9 ijas, benang 9 tukel, uang 999 jd 1 bakul.  Sayut kusumayudha, nasi merah, ayam biing panggang, sampyan ending bunga 9,
Suci 1 n itik, peras, prayascita, dermangala.

Penglukatan 9 payuk dr 9 mata air