Jumat, 27 Februari 2026

Dyah Balitung




Raja Mataram Kuno Ini Tinggalkan 45 Prasasti Selama Berkuasa, Bahas Keringanan Pajak hingga Penertiban Perampokimages info

Dyah Balitung adalah salah satu raja yang pernah berkuasa di Kerajaan Mataram Kuno
dari tahun 899 hingga 911. Ketika berkuasa, dia memakai gelar Rakai Watukura Dyah Balitung Sri Iswarakesawasamarattungga.
Pria yang berasal dari Watukura, atau sekarang dinamakan Bagelen di Kecamatan Purwodadi, Purworejo, Jawa Tengah ini tercatat sebagai 13 Raja Paling Berpengaruh Sepanjang Sejarah Kerajaan di Tanah Jawa. Hal ini karena dia mencetak setidaknya 45 prasasti selama berkuasa.
Dyah Balitung tercatat telah mengeluarkan prasasti pada tahun 11 September 899 dengan nama Prasasti Telahap. Prasasti ini saat ini hanya sebagian yang masih bisa terbaca.
“Prasasti ini tampaknya mencatat hibah sīma yang diberikan oleh Balitung,” tulis Novida Abbas dalam Liangan. Mozaik Peradaban Mataram Kuno di Lereng Sindoro.
Catatan mengenai prasasti
Pada tahun 900 M, Balitung mengeluarkan Prasasti Ayam Teas III yang menjadikan Desa Ayam Teas sebagai tanah tempat pedagang. Kemudian ada Prasasti Taji pada tahun 901, berisikan peresmian tanah di wilayah Taji menjadi daerah perdikan untuk bangunan suci “kuil Dewasabhā“.
Pada tahun yang sama, ada juga Prasasti Luitan yang berisi tentang persoalan pajak.
Disusul, pada tahun 902 ada Prasasti Watukara yang menyebutkan jabatan Rakryan Kanuruhan yaitu semacam perdana menteri.
Dyah Balitung begitu fokus memperhatikan kondisi masyarakat. Hal ini terbaca dari Prasasti Telang yang dicetak pada 904 berisi mengenai pembangunan komplek penyeberangan di tepi Bengawan Solo.
“Balitung membebaskan pajak desa-desa sekitar Paparahuan dan melarang para penduduknya untuk memungut upah dari para penyeberang,” jelasnya.
Ada juga Prasasti Rumwiga yang dikeluarkan pada tahun 904 berisi tentang permohonan pengurangan besarnya pajak di desa Rumwiga. Permohonan ini dikabulkan oleh raja.
Masyarakat di desa Rumwiga juga mengadu mengenai penyelewengan pajak kepada Mpu Daksa yang menjabat sebagai Mahamantri I Hino atau calon raja. Hal ini diabadikan dalam Prasasti Rumwiga II yang dicetak pada 905 M.
Dyah Balitung juga mengeluarkan Prasasti Poh pada tahun 905 yang berisi pembebasan pajak untuk Desa Poh. Hal ini karena masyarakat di tempat itu ditugasi mengelola bangunan suci Sang Hyang Caitya dan Silunglung peninggalan raja sebelumnya yang dimakamkan di Pastika, yaitu Rakai Pikatan.
Pada tahun 905, Dyah Balitung mengeluarkan Prasasti Kubu-Kubu yang berisi anugerah desa Kubu-Kubu kepada Rakryan Hujung Dyah Mangarak dan Rakryan Matuha Dyah Majawuntan. Hal ini karena keduanya berjasa memimpin penaklukan daerah Bantan atau Bali.
Ada juga Prasasti Mantyasih (907) dan Prasasti Kinewu (907) yang memberikan anugerah kepada beberapa tokoh berjasa lainnya. Prasasti Rukam (907) mencatat pemberian anugerah kepada Rakryan Sanjiwana karena merawat bangunan suci di Limwung.
Ada juga Prasasti Bangle (908) yang tidak bisa terbaca secara keseluruhan. Sedangkan Prasasti Kaladi (909) mencatat soal tindakan Dyah Balitung soal perampok-perampok di daerah Gunung Penanggungan, Jawa Timur.
Prasasti Tulungan (910) tercatat sebagai prasasti terakhir yang dikeluarkan oleh Dyah Balitung. Prasasti ini ditemukan di Jedung, Mojokerto, Jawa Timur di mana Dyah Balitung sudah menyandang gelar Śrī Mahārāja Rakai Galuḥ Dyaḥ Garuda Mukha Śri Dharmmodaya Mahāsambu.

TRADISI NGUSABA BUKAKAK DI SANGSIT




Tradisi atau Ngusaba Bukakak, digelar berhubungan dengan prosesi upacara keagamaan, karena pergelaran tersebut berhubungan dengan yadnya dan kewajiban umat dalam melaksanakan prosesi keagamaan, sehingga bagaimanapun tradisi tersebut tetap terjaga lestari, terjaga dengan baik sampai sekarang ini. Tradisi Bukakak tersebut digelar setiap hari Purnama sasih Kedasa dalam kalender Isaka atau pada sekitar bulan April. Pada awalnya digelar setahun sekali, namun karena pertimbangan biaya maka sekarang hanya digelar sekali dalam dua tahun. Digelarnya tradisi Bukakak tersebut bertujuan untuk mengucapkan terima kasih kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa dalam manifestasinya sebagai dewi Kesuburan, atas kesuburan tanah dan segala hasil pertanian yang melimpah. Wilayah desa Sangsit memang memiliki areal pertanian yang luas, subur dan gembur, sebagian besar warganya berprofesi sebagai petani, sehingga tidak mengherankan juga tradisi Ngusaba Bukakak ini berkembang baik sampai sekarang ini. Apalagi memang warga Bali terutama umat Hindu memang sangat menjaga nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh leluhurnya.

Sumber & Gambar : balitoursclub.net

#bali #baliindonesia #taksu #taksubali #taksu_bali #upakara #bantenbali #canangsari #hindu #hindubali #pura #tradisibali #infobali #infodenpasar

Benarkah leluhur orang Bali sudah ada sejak Jaman Manusia Prasejarah Gilimanuk

 



Mencari Leluhur :

" Benarkah leluhur orang Bali sudah ada sejak Jaman Manusia Prasejarah Gilimanuk "
Semangat untuk memahami jati diri sebagai orang Bali kini tumbuh dengan kekuatan yang luar biasa.
Di berbagai kalangan, muncul gairah baru untuk menelusuri akar leluhur, atau kawitan, yang selama ini kerap dibatasi oleh cerita babad sejarah dari abad ke-15 hingga ke-16 Masehi.
Pulau Bali telah menjadi tempat berpijak bagi manusia diperkirakan sdh dimulai jaman Bali purba sampai Jaman Bali Dwipa.
Salah satu bukti paling nyata datang dari temuan arkeologis di daerah Gilimanuk.
Di sana, para peneliti menemukan tulang-belulang manusia prasejarah, sarkopagus serta bekal kubur yang diperkirakan sdh ada disekitar 100 tahun SM sampai 300 tahun M.
Temuan ini menegaskan bahwa Bali telah dihuni jauh sebelum era kerajaan, bahkan sebelum aksara dikenal.
Berdasarkan temuan arkeologis, diperkirakan pada jaman itu sdh memiliki kebudayaan yg maju, yaitu telah terjadi perdagangan Trans Asiatik, karena benda2 berupa bekal kubur yg ditemukan di daerah Gilimanuk juga ditemukan di Negara2 Asia, spt Kamboja, Vietnam dll.
Mencari kawitan bukan hanya soal asal-usul biologis, tetapi juga menyangkut spiritualitas, kebudayaan, dan identitas.
Dalam konteks ini, Bali tidak bisa terus-menerus dipahami sebagai daerah yang menerima peradaban dari luar.
Sebaliknya, Bali adalah peradaban itu sendiri.
Adalah keliru jika kita menganggap sejarah Bali dimulai ketika catatan tertulis muncul.
Warisan budaya yang hidup hingga kini — sistem Subak, Desa adat, Asta Kosala Kosali, Asta Bumi, Desa-Kala-Patra — sesungguhnya berakar dari kebijaksanaan lokal yang telah tumbuh sejak masa prasejarah.
Kini, semangat menelusuri jejak kawitan orang Bali menjadi lebih dari sekadar penelitian sejarah; ia adalah bentuk penghormatan kepada para leluhur yang telah lebih dulu hadir, membentuk relung-relung kebudayaan yang kita nikmati hari ini.
Adalah tugas generasi kini untuk melihat sejarah secara utuh: bukan dari siapa yang datang, tapi dari siapa yang telah lama menetap serta puncak2 peradaban yg dilahirkannya.
Karena semakin dalam kita menggali, semakin tampak bahwa Bali memiliki peradaban yang berdiri atas kakinya sendiri.