Minggu, 26 Oktober 2025

MENGENAL LEBIH DALAM MAKNA TUMPEK WAYANG




Tumpek Wayang merupakan salah satu hari raya suci Umat Hindu yang dirayakan setiap 6 bulan sekali. Tumpek Wayang adalah manifestasinya Dewa Iswara yang berfungsi untuk menerangi kegelapan, memberikan pencerahan ke hidupan di dunia serta mampu membangkitkan daya seni dan keindahan. Tumpek Wayang merupakan cerminan dimana dunia yang diliputi dengan kegelapan, manusia oleh kebodohan, keangkuhan, keangkara murkaan, oleh sebab itu Siwa pun mengutus Sangyang Samirana turun ke dunia untuk memberikan kekuatan kepada manusia yang nantinya sebagai mediator di dalam menjalankan aktifitasnya. Di Bali pada khususnya ada sebuah cerita yang mengatakan bahwa jika ada anak yang lahir bertepatan pada wuku Wayang yaitu hari yang dianggap keramat, warga Bali meyakini bahwa yang dilahirkan pada hari tersebut patutlah diupacarai lukatan (ruwatan) besar yang disebut Sapuh Leger. Bagi anak yang diupacarai lahir bertepatan dengan waktu itu dimaksudkan supaya ia terhindar dari gangguan (buruan) Dewa Kala.

Menurut lontar Sapuh Leger dan Dewa Kala, Batara Siwa memberi izin kepada Dewa Kala untuk memangsa anak/orang yang dilahirkan pada wuku Wayang (cf. Gedong Kirtya, Va. 645). Atas dasar isi lontar tersebut, apabila diantara anaknya ada yang dilahirkan pada wuku Wayang, demi keselamatan anaknya itu, semeton Bali berusaha mengupacarainya dengan didahului mementaskan Wayang Sapuh Leger berikut aparatusnya dipersiapkan jauh lebih banyak (berat) dari perlengkapan sesajen jenis wayang lainnya. Tumpek Wayang juga bermakna ”hari kesenian” karena hari itu secara ritual diupacarai (kelahiran) berbagai jenis kesenian seperti wayang, barong, rangda, topeng, dan segala jenis gamelan. Aktivitas ritual tersebut sebagai bentuk rasa syukur terhadap Sang Hyang Taksu sering disimboliskan dengan upacara kesenian wayang kulit, karena ia mengandung berbagai unsur seni atau teater total. Dalam kesenian ini, semua eksistensi dan esensi kesenian sudah tercakup.

KONSULTASI ATAU PESAN BANTEN KEBUTUHAN UPAKARA WA: 08976687246 ATAU KLIK DISINI

SEJARAH PATUNG KANDA PAT SARI KLUNGKUNG




Patung Kanda Pat Sari sebagai centre Kabupaten Klungkung kerap dijadikan sebagai pusat berlangsungnya suatu acara. Seperti pelaksanaan upacara tawur agung dan pawai ogoh-ogoh, patung ini menjadi pusat perhatian masyarakat Klungkung serta wisatawan asing. Di tempat ini pula diadakan karnaval dan serentetan acara besar lainnya. Patung karya arsitek Ida Bagus Tugur ini memiliki filosofi penting. Empat patung yang mengambil filosofi “Catur Sanak” bersama-sama memperoleh makna dari mitologi tentang air suci yang berasal dari “Sindu Rahasia Muka”. Patung ini berlatar kisah tentang keempat “saudara” manusia saat lahir yakni ari-ari (Sang Anta), tali pusar (Sang Preta), darah (Sang Kala), dan air nyom (Sang Dengen), usai mendapat anugerah berganti nama menjadi Sang Anggapati (Bhagawan Penyarikan) berkedudukan di timur, Sang Prajapati (Bhagawan Mrcukunda) di selatan, Sang Banaspati (Bhagawan Sindu Pati) di barat dan Sang Banaspatiraja (Bhagawan Tatul) di utara. Menurut budayawan Klungkung Kanda Pat Sari memiliki arti yakni empat saudara yang sudah memiliki suatu kekuatan murni dari unsur-unsur yang memberikan kebahagiaan dalam kehidupan. Empat saudara tersebut lahir dan mati bersama. Ketika ada seseorang yang jatuh, disana akan dilakukan upacara “Ngenteg Bayu”. Upacara itu dilakukan agar saudara-saudara yang tertinggal disana kekuatannya kembali kepada kita, baik itu ari-ari, tali pusar, darah, dan air nyom. Lalu kenapa bisa beredar berbagai istilah untuk menyebut patung ini? Kondisi seperti ini sudah ada sejak zaman kakek nenek kita. Kurangnya pemahaman dan sosialisasi adalah penyebab utama kesalahpahaman masyarakat. Sejak awal masyarakat cenderung menyebut patung itu adalah Patung Catur Muka, sehingga tertanamlah jika itulah penyebutan yang sebenarnya.

KONSULTASI ATAU PESAN BANTEN KEBUTUHAN UPAKARA WA: 08976687246 ATAU KLIK DISINI

FILOSOFI DAN MAKNA LIS TIRTA



Lis adalah sarana yang digunakan untuk mencipratkan atau memercikkan tirtha atau air suci sebagai penyucian diri guna menjauhkan diri dari kekuatan negatif yang dapat mengganggu manusia dan tentunya bertujuan untuk kekuatan dan kesucian lahir bathin. Dalam tingkatan upacara yang lebih besar biasanya digunakan lis ageng/lis gede sedangkan dalam upacara biasa/kecil digunakan lis alit atau lis padma. Sebagai salah satu bagian penting dari sekelompok banten karena merupakan alat pensucian, makna simbol dari setiap susunannya sebagai berikut :
1. Tangga menek sebagai lambang dan permohonan kepada Ida Sanghyang Widhi semoga hal-hal yang bersifat kebaikan selalu meningkat.
2. Tangga tuwun sebagai lambang dan permohonan kepada Ida Sanghyang Widhi semoga hal-hal yang bersifat keburukan berkurang atau hilang.
3. Jan sesapi: terbuat dari reringgitan janur sebagai lambang dan permohonan kepada Ida Sanghyang Widhi semoga tujuan me-yajnya tercapai.
4. Lilit linting sebagai lambang kebulatan tekad untuk berbhakti kepada-Nya.
5. Lawat buah sebagai lambang permohonan kepada Ida Sanghyang Widhi, semoga yajnya yang diselenggarakan mendapat pahala kebaikan.
6. Lawat nyuh: terbuat dari reringgitan janur, berbentuk buah kelapa, ditandai dengan menyisipkan secuil sabut kelapa, sebagai lambang permohonan kepada Ida Sanghyang Widhi dalam manifestasi-Nya sebagai Bhatara Brahma sang Maha Pencipta, semoga penyelenggaraan yajnya ini direstui dan berjalan lancar.
7. Tepung tawar sebagai lambang dari keseimbangan hidup manusia, terutama perwujudan rwa bhineda, misalnya: siang-malam, baik-buruk, lelaki-perempuan, dst.
8. Daun dapdap, dalam Lontar Taru Pramana disebut sebagai don kayu sakti, sebagai lambang kekuatan untuk menjaga keseimbangan-keseimbangan tri hita karana dan keseimbangan-keseimbangan rwa bhineda.

Selain sebagai perlengkapan tetandingan banten seperti durmangala dll, penggunaan pada waktu piodalan di sanggah kemulan atau di Pura atau dalam rentetan upacara Panca Yadnya disebutkan dalam serba serbi Hindu Bali digunakan banten lis senjata sakti ketika Ida Pemangku/Ida Pedanda mepuja. 

Minggu, 19 Oktober 2025

MAKNA TEBU PADA SAAT MEJAUMAN




Apabila Anda pernah ikut mengantar pengantin ke rumah pengantin perempuan saat mejauman pada perkawinan adat Bali, mungkin Anda akan melihat pohon tebu yang diikatkan pada kendaraan yang mengangkut kedua mempelai. Lalu apa makna pohon tebu tersebut ? Setelah upacara awiwaha samkara (ngayab banten pekeraban) selesai umumnya akan dilanjutkan dengan upacara mejauman. I Gusti Rai Partia, B.A. dalam bukunya Berbuat Benar Belum Tentu Baik menjelaskan makna pohon tebu dianalisis berdasarkan sifat-sifat yang ada pada pohon tebu. Sifat-sifat yang baik pada pohon tebu tersebut yang hendaknya dapat ditiru oleh pengantin baru yaitu:

Pertama, sifat pohon tebu itu adalah manis dari akar sampai dengan pucuknya. Walaupun sampai ke pucuk manisnya berkurang yang penting rasa manis tetap ada. Demikianlah hendaknya kedua pengantin itu hidup dalam suasana bermanis-manis (bermesra-mesraan) dari awal sampai akhir.

Kedua, pengantin laki-laki hendaknya jangan bersifat sebagai orang yang makan tebu, yaitu habis manis sepah dibuang.

Ketiga, tebu itu dapat hidup dalam segala iklim dari pantai sampai ke pegunungan. Maksudnya agar pengantin itu hidup rukun dalam suasana suka dan duka.

Keempat, sifat pohon tebu itu makin diperas makin bertambah manisnya. Maksudnya agar kebencian dibalas dengan kasih sayang dalam kehidupan bersuami istri. Kalau sang suami memarahi sang istri maka sang istri membalas dengan nada yang mampu melenyapkan kemarahan sang suami. Dengan demikian hidup rukun suami istri bisa tercapai. 


MENGENAL PIS BOLONG ATAU JINAH BOLONG




Jinah bolong, pis bolong atau uang kepeng adalah simbul kekuatan hidup Panca Dewata. Jinah bolong yang dibuat dari campuran 5 jenis logam itu diyakini mempunyai kekuatan hidup Lima Dewa. Kelima jenis logam dengan kekuatan Lima Dewata itu disebut Panca Dhatu. Panca berarti lima, sedangkan Dhatu bermakna kekuatan hidup. Sehingga Panca Dhatu berarti lima jenis kekuatan hidup. Kelima jenis logam bahan pembuat uang kepeng itu adalah besi, tembaga, kuningan, perak dan emas.

Besi yang berwarna hitam, melambangkan kekuatan Dewa Wisnu,sedangkan tembaga yang berwarna merah melambangkan kekuatan Dewa Brahma. Kemudian perak yang berwarna putih, melambangkan kekuatan Dewa Iswara dan kuningan yang berwarna kuning, melambangkan kekuatan Dewa Mahadewa. Sementara itu emas sebagai logam yang paling mulia,dianggap mempunyai lima warna atau Panca Warna, melambangkan memuatan Dewa Siwa. Karena mempunyai kekuatan Lima Dewata, maka uang kepeng itu dipergunakan sebagai sarana Upacara Dewa Yadnya antara lain :
1. Untuk bahan membuat Rambut Sedana sebagai simbul stana Ida Sanghyang Widhi.
2. Sebagai sarana pelengkap misalnya untuk akah banten, buah lis, orti dan sebagainya.
3. Sebagai peralatan upakara seperti tamiang, penyeneng dan lain-lain.
4. Sebagai bahan untuk membuat kewangen.
5. Sebagai sesari atau aturan atau ucapan terima kasih kepada Sang pemuput karya.

Harus diingat pula bahwa sekarang ini uang kepeng yang dijual dipasaran ada dua macam. Ada uang kepeng kuno dan ada juga uang kepeng baru. Uang kepeng kuno boleh saja diganti dengan uang kepeng baru, sepanjang uang kepeng baru ini dibuat dari lima jenis logam sebagaimana dijelaskan diatas.

Sumber & Gambar : kb.alitmd.com

WAYANG “LEAK”, WAYANG CALONARANG

 



Wayang Calonarang juga sering disebut sebagai Wayang Leak, adalah salah satu jenis wayang kulit Bali yang dianggap angker karena dalam pertunjukannya banyak mengungkapkan nilai-nilai magis dan rahasia pangiwa dan panengen. Wayang ini pada dasarnya adalah pertunjukan wayang yang mengkhususkan lakon-lakon dari cerita Calonarang. Kekhasan pertunjukan wayang Calonarang terletak pada tarian sisiya-nya dengan teknik permainan ngalinting dan adegan ngundang-ngundang di mana sang dalang membeberkan atau menyebutkan nama-nama mereka yang mempraktekkan pangiwa. Hingga kini wayang Calon arang masih ada di beberapa Kabupaten di Bali walaupun popularitasnya masih di bawah wayang parwa. Wayang calon arang biasanya diselenggarakan pada hari odalan, di daerah-daerah yang oleh masyarakat suku Bali diperkirakan sering dikunjungi leak, misalnya di dekat kuburan atau tempat ngaben. Leak adalah semacam makhluk halus dalam mitologi Bali. Dalam bentuk Wayang Kulit, Wayang Calon Arang menampilkan bentuk-bentuk tokoh makhluk menakutkan. Untuk mempergelarkan Wayang Calon Arang, diperlukan beberapa bebanten atau sesaji yang khusus. 

MAKNA BUDA WAGE KELAWU, PIODALAN RAMBUT SEDANA

 



Piodalan atau upacara yadnya Rambut Sedana adalah untuk memperingati hari pemujaan khusus kepada Bhatara Rambut Sedana yaitu pada Buda Wage, Wuku Kelawu atau lebih dikenal Buda Cemeng Kelawu yang jatuh setiap 210 hari sekali. Pemujaan pada hari ini lebih banyak diperuntukkan untuk Bhatara Sri Sedana. Dewa Kekayaan, kemakmuran, kemurnian, dan kedermawanan selalu dihubungkan dengan Dewi Laksmi. Dalam tradisi agama Hindu di Bali, “Bhatara Rambut Sedana” dipuja sebagai “Dewi Kesejahteraan” yang menganugerahkan harta kekayaan, emas-perak (sarwa mule), permata dan uang (dana) kepada manusia. Kegiatan peringatan “Sri Sedana” yang lazim disebut “Rambut Sedana” merupakan hari raya atau odalan bagi uang maupun nafkah yang telah dianugerahkan Tuhan Yang Maha Esa kepada umat Manusia. Setiap pasar di Bali juga mempunyai pelinggih atau pura Bhatari Melanting yang dihormati sebagai ‘Dewi Perekonomian’ dan setiap hari Buda Cemeng Kelawu akan dilakukan peringatan untuk mengucapkan rasa syukur atas rejeki yang diperoleh yang ditujukan kepada Bhatara Rambut Sedana. Buda Cemeng Kelawu ini merupakan hari perayaan yang cukup penting bagi umat Hindu khususnya di Bali. Tidak heran jika hari Buda Cemeng Kelawu ini lebih banyak dirayakan oleh mereka yang membuka usaha perdagangan di Bali, misalnya pedagang di pasar (kelontong), toko sembako, pemilik warung, bahkan sampai ke perusahaan-perusahaan yang mengalirkan dana secara cepat dalam menjalankan perusahaan tersebut. Di setiap tempat yang digunakan untuk menyimpan uang diberikan sesajen khusus untuk menghormati Dewi Laksmi/Betara Sedana sebagai rasa terima kasih atas pemberian-Nya.

Sumber : mantrahindu.com