Kamis, 16 Oktober 2025

Sering kena "Musibah"?, Lupa pernah "MENGGUGURKAN KANDUNGAN"?, ini upacaranya




Jika telah terjadi pertemuan benih pria dan wanita dan terjadi kehamilan berarti telah terjadi kehidupan.

Mengalami keguguran bisa saja terjadi pada pasangan suami istri yang tanpa disengaja, atau telah memiliki keturunan dan tidak lagi menginginkan keturunan, dan atau sepasang kekasih yang belum memiliki ikatan hubungan suami istri, akibat salah pergaulan menyebabkan kehamilan, sehingga digugurkan untuk menutupi aib dan tanggung jawab.

Menggugurkan atau Keguguran merupakan upaya menggagalkan karma hidup manusia yang sebenarnya tanpa bisa dikompromikan akan dosa dosanya. Sebuah proses hak hidup manusia adalah mutlak kewenangan Tuhan.

Banyak alasan menggugurkan hanyalah karena ketidak mampuan mengelola alasan duniawi, seperti menutupi aib, lepas tanggung jawab, karena salah pergaulan dan bahkan karena masalah ekonomi dan masa depan.

Tetapi, bagaimana akibat menggugurkan itu dapat mempengaruhi kehidupan bagi si pelaku ?

Atma atau Sinar Suci Tuhan yang dipaksa dan dibuang begitu saja, tentunya juga akan hidup sesuai karma sinar sucinya. Mungkin secara fisik hanya gumpalan darah kecil yang tercecer dari proses menggugurkan. Namun atma yang merupakan bagian dari darah yang tercecer tetaplah ada, hidup dan pergi seperti halnya manusia yang mengusirnya dari kehidupan ini.

Ilustrasinya adalah, jika kita diusir maka kita hanya bisa berharap untuk mendapatkan teduhan kehidupan ditempat tempat umun sambil berharap belas kasihan, seperti di perempatan jalan, ruangan kosong atau pepohonan rindang dengan waktu bertahun tahun tanpa ada kejelasan. Pun juga atma yang diberlakukan sama.

Seperti halnya anak kecil yang ingusan, tidak ada yang memelihara, duduk dan bersembunyi terkadang di perempatan jalan sambil menangis, menyapa orang tuanya yang lewat, tanpa dilihat dan didengar, yang akhirnya harus hidup bertahan dari makanan atau sesajen yang dihaturkan untuk "bhuta" dipinggiran jalan. Bahkan, hingga terlewatkan sampai 17 tahun lebih.

Hal inilah dapat mempengaruhi kehidupan seseorang, saat orang tuanya disapa di jalan biasanya berakibat kecelakaan, jika disapa dengan permintaan bekal biasanya terjadi keruntuhan ekonomi lalu jika yang disapa kakak atau adiknya bisa saja terjadi kesakitan dari faktor kesehatan bahkan sering pula disapa lewat mimpi mimpi.

Maka dalam kondisi seperti ini, sering kali musibah musibah tersebut kurang dapat disadari, sehingga ketika mempertanyakan kepada orang pintar "metunasan" maka ada petunjuk seluruh musibah ada kaitannya dengan leluhur.

Bagaimana jika hal ini terjadi ?

Ada beberapa langkah untuk diri sendiri yang paling sederhana dilaksanakan sebelum menuju proses upacara lebih lanjut.

Dengan menggunakan sarana Canang dan Dupa dihaturkan melalui pelinggih Surya, lalu Memohonlah maaf, memohonlah ampun dan bertobatlah kehadapan Ida Hyang Widi Wasa, Ida Hyang Pasupati dan Ida Hyang Luhur dan Kawitan, atas kesalaha diri yang telah diperbuat di sekala niskala sehingga mendapatkan jalan dan tuntunan yang baik untuk kehidupan ini.

Sebagai umat Hindu yang percaya dengan keberadaan sang Atma, sangatlah penting untuk melaksanakan upacara kepada si jabang bayi itu, meskipun belum berwujud agar tidak ngerubeda (menyebabkan kekacauan).

Upacara dimaksud seperti upacara PENGEPAH AYU akibat keguguran atau menggugurkan kandungan (DHANDA BARUNANA), mungkin upacara ini sangat jarang dilihat dan jarang juga dilihat dalam implementasinya.

Pelaksanaan upacara ini berdasarkan Lontar Lebur Gangsa dan Sunari Gama. Pemuput pelaksanaan upacara Pengepah Ayu ini dapat dilaksanakan oleh Pemangku Kahyangan khususnya Kahyangan Dalem.

Bagaimana menjalankan upacara ini ?, Sangat penting untuk berkonsultasi kepada sulinggih, pemangku atau penuntun spiritual sesuai dengan keyakinan.

Semoga bermanfaat.

CERITA RAKYAT BALI KISAH PERCINTAAN JAYAPRANA DAN LAYONSARI

 



Pada jaman dahulu kala, ada sebuah kerajaan kecil di daerah utara pulau Bali. Kerajaan itu bernama kerajaan Wanekeling Kalianget. Di kerajaan itu, hiduplah satu keluarga sederhana, terdiri dari suami istri serta tiga anaknya, dua orang laki-laki dan seorang wanita. Kerajaan itu terkena sebuah wabah yang menyebabkan banyak warganya meninggal, baik dari kalangan kerajaan maupun rakyat biasa. Keluarga sederhana itu pun ikut terkena wabah, empat anggota keluarganya meninggal dan menyisakan si bungsu, I Nyoman Jayaprana.

Raja Kalianget saat itu, juga merasakan duka yang mendalam atas banyaknya warga yang meninggal, sehingga Raja memutuskan untuk mengunjungi rakyatnya. Pada saat kunjungan, Raja merasa tertarik dengan Jayaprana yang pada saat itu tengah menangisi kematian kedua orang tua dan kedua saudaranya. Raja merasa iba dan teringat dengan mendiang anaknya hingga membuatnya ingin menjadikan Jayaprana sebagai anak angkat.

Setelah diangkat anak oleh Raja, Jayaprana pun tumbuh di lingkungan kerajaan. Dia mendapatkan pelajaran selayaknya anak kandung Raja. Jayaprana tumbuh menjadi seorang pemuda tampan yang lihai bertarung. banyak gadis yang diam-diam memendam rasa pada Jayaprana. Melihat itu, lantas Raja memerintahkan Jayaprana memilih dayang-dayang istana atau gadis di luar istana untuk dijadikan pendamping. Jayaprana sempat menolak, karena merasa dia masih kekanak-kanakan dan belum cukup pantas untuk menjalin asmara.

Namun karena Raja terus mendesak, maka Jayaprana pun menurutinya. Pada suatu hari Jayaprana berjalan-jalan ke pasar di dekat Istana. Dia melihat para gadis berlalu-lalang di sana. Matanya terpukau pada seorang gadis jelita penjual bunga anak Jero Bendesa dari Banjar Sekar. Nama gadis jelita itu, Ni Komang Layonsari. Pandangan Jayaprana tidak mau lepas dari Layonsari, Layonsari yang merasa dirinya diamati pun berusaha menghilang diantara kerumunan pasar.

Setelah Layonsari menghilang dari pandangannya, Jayaprana buru-buru kembali ke istana untuk melapor pada Raja bahwa dia telah menemukan gadis pujaannya. Raja pun membuat sebuah surat dan memerintahkan Jayaprana membawa surat itu ke rumah Jero Bendesa. Setibanya di rumah Jero Bendesa, Jayaprana langsung menyerahkan surat tersebut. Jero Bendesa membaca isi surat Raja yang ternyata adalah surat pinangan terhadap anak gadisnya, layonsari. Dia pun tidak merasa keberatan apabila anaknya Layonsari dikawinkan dengan Jayaprana. Betapa bahagia hati Jayaprana mendengarnya dan dia pun bergegas kembali ke Istana.

Di istana, Raja sedang mengadakan rapat di pendopo, Jayaprana menyela rapat tersebut untuk memberitahukan Raja bahwa lamarannya diterima Jero Bendesa. Pada saat itu juga, Raja mengumumkan pada segenap hadirin bahwa pada hari Selasa Legi wuku Kuningan, raja akan membuat upacara perkawinannya Jayaprana dengan Layonsari. Raja memerintahkan kepada segenap perbekel, supaya mulai mendirikan bangunan-bangunan rumah, balai-balai selengkapnya untuk Jayaprana. Menjelang hari perkawinannya semua bangunan-bangunan sudah selesai dikerjakan dengan secara gotong royong, semuanya serba indah.

Tibalah hari hari upacara perkawinan Jayaprana diiringi oleh masyarakat desanya, pergi ke rumahnya Jero Bendesa, hendak meminang Layonsari dengan alat upacara selengkapnya. Di Istana, Raja sedang duduk di atas singgasana, dihadapnya ada para pegawai raja dan juga para perbekel. Kemudian datanglah rombongan Jayaprana di depan istana. Kedua mempelai itu lantas turun dari atas kereta kuda, langsung menyembah kehadapan Raja dengan hormatnya. Raja terpesona dengan kecantikan Layonsari hingga tak mampu berkata-kata.

Raja telah sekian lama menduda, diam-diam tumbuh benih cinta di hati Raja pada Layonsari. Rasa cintanya pada Layonsari membutakan akal sehat Raja yang sebelumnya dikenal sangat bijaksana. Raja pun memikirkan stategi untuk membunuh Jayaprana agar dapat memperistri Layonsari. Strategi itu disampaikan Raja kepada patih kerajaan bernama Sawung Galing. Hati Sawung Galing sebenarnya menolak untuk melaksanakan tugas tersebut, tapi Raja berkata bahwa bila dia tidak dapat memperistri Layonsari maka dia akan mati karena sedih. Sebagai abdi setia, patih Sawung Galing pun menuruti kehendak Raja. Skenario untuk membunuh Jayaprana adalah Raja menitahkan agar Jayaprana bersama rombongan pergi ke Teluktrima, untuk menyelidiki perahu yang hancur dan orang-orang Bajo yang menembak binatang di kawasan Pengulon.

Pada hari ketujuh bulan madunya, datanglah seorang utusan kerajaan ke rumah Jayaprana yang menyampaikan titah Raja agar Jayaprana menghadap Raja secepatnya. Jayaprana pun bergegas menuju istana. Raja menceritakan bahwa di perbatasan istana ada pemberontakan, kemudian sesuai skenario, Jayaprana diperintahkan memimpin rombongan bersama patih Sawung Galing ke perbatasan istana di Teluktrima untuk menyelidiki kekacauan di sana.

Sepulangnya dari istana, Jayaprana menceritakan titah Raja. Malam harinya Layonsari bermimpi, rumahnya dihanyutkan banjir besar, ia kemudian terbangun dari mimpinya dan menceritakan mimpi seramnya kepada sang suami. Dia meminta agar keberangkatannya besok dibatalkan karena merasa mimpi itu adalah firasat buruk, tetapi Jayaprana tidak berani menolak perintah Raja. Untuk memenangkan istrinya, Jayaprana berkata bahwa hidup dan mati ada di tangan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Pagi harinya Jayaprana pun berangkat ke Teluktrima, meninggalkan istrinya yang sedang sedih. Sepanjang perjalanan Jayaprana merasa ada yang tidak beres, perasaannya mengatakan bahwa dia akan dibinasakan tapi dia mengacuhkannya. Sesampainya di hutan Teluktrima dengan galaunya patih Sawung Galing menyerang Jayaprana, namun ilmu Jayaprana lebih sakti dari patih Sawung Galing hingga tidak mampu mengalahkan Jayaprana. Ditengah kebingungannya, Jayaprana bertanya pada patih Sawung Galing, mengapa patih ingin membunuhnya. Patih Sawung Galing menyerahkan sepucuk surat dari Raja kepada Jayaprana yang isinya:

Hai engkau Jayaprana

Manusia tiada berguna

Berjalan berjalanlah engkau

Akulah menyuruh membunuh kau

Dosamu sangat besar

Kau melampaui tingkah raja

Istrimu sungguh milik orang besar

Kuambil kujadikan istri raja

Serahkanlah jiwamu sekarang

Jangan engkau melawan

Layonsari jangan kau kenang

Kuperistri hingga akhir jaman.

Jayaprana menangis sesegukan membaca surat tersebut, lalu dia berkata "Lakukanlah patih, bila ini memang titah Raja, hamba siap dicabut nyawanya demi kepentingan Raja, dahulu Beliaulah yang merawat dan membesarkan hamba, kini Beliau pula yang ingin mencabut nyawa hamba". Dalam dukanya Jayaprana menyerahkan keris sakti miliknya sebagai satu-satunya senjata yang dapat digunakan untuk membunuh Jayaprana. Ia berpesan agar keris dan berita kematiannya disampaikan pada istrinya sebagai bukti kesetiaannya pada titah Raja.

Setelah menerima keris itu, dengan mudah patih Sawung Galing membunuh Jayaprana dengan berat hati. Darah menyembur namun tidak tercium bau amis, malahan wangi semerbak. Kematian Jayaprana juga ditangisi oleh alam, tiba-tiba terjadi gempa bumi, angin topan, hujan bunga dan binatang hutan menangis. Setelah mayat Jayaprana itu dikubur, maka seluruh rombongan kembali pulang dengan perasaan sangat sedih. Di tengah jalan mereka mendapat bahaya, diantaranya banyak yang mati. Seekor macan putih juga tiba-tiba menyerang patih Sawung Galing dan menewaskan sang patih.

Kabar tewasnya Jayaprana pun sampai ke telinga Raja. Dengan terpongoh-pongoh Raja segera menghampiri Layonsari di rumahnya. Raja tua itu menyampaikan berita duka dan sekaligus lamaran-nya kepada istri Jayaprana. Layonsari tidak percaya pada kabar meninggalnya sang suami, Raja lalu memperlihatkan keris Jayaprana yang berlumuran darah. Dalam tangisnya Layonsari memaki Raja dan merebut keris milik Jayaprana kemudian menusukkan ke jantungnya sendiri. Layonsari tewas seketika dan dari jasadnya tersebut mengeluarkan aroma wewangian yang menyerbak keseluruh wilayah kerajaan bahkan tercium hingga lokasi jasad Jayaprana berada.

Rakyat sekitar membawa jasad yang mewangi tersebut untuk ditempatkan disebelah jasad Jayaprana agar selamanya kedua kekasih ini dapat selalu bersama. Sedangkan patih Sawung Galing yang dengan setianya menjalankan titah raja turut serta ditempatkan dilokasi tersebut sebagai simbol kesetian seorang abdi.

Lantas bagaimana nasib sang Raja? Melihat tragedi saat Layonsari menikam dirinya dengan sebilah keris dan dilandasi hati yang hancur luluh, Raja gelap mata serta mengamuk membunuh semua pengiringnya, tanpa dapat mengendalikan dirinya. Setelah mati pengiringnya, lalu Raja ke Istana dan membantai seisi rumah, setelah itu Raja menikamkan kerisnya ke dada hingga wafat.

Pengikut setia Raja, tidak percaya Raja bunuh diri, tetapi di bunuh oleh rakyat. Mereka lalu mengamuk membunuh rakyat, tak peduli anak, wanita, orang tua. Rakyat tak terima dan serentak melawan kebiadaban pengikut setia Raja. Tak terelakkan.lagi perang saudara yang maha dahsyat dan penuh kebencian pun terjadi. Akhirnya seluruh rakyat Kalianget tewas dalam perang itu. Begitulah dalam sehari Kerajaan Kalianget di Buleleng Utara itu musnah dengan bergelimpangan mayat manusia. Konon lama kelamaan kerajaan itu berubah menjadi hutan belantara hingga akhirnya dibuka kembali oleh warga lain yang akhirnya menetap di Desa Kalianget hingga kini.

Cerita ini melekat di sanubari masyarakat Bali, mereka menceritakan kisah ini dari generasi ke generasi. Pada tanggal 12 agustus 1949 dilaksanakan upacara Ngaben di Desa Kalianget yang dihadiri banyak orang dari berbagai penjuru dunia.

Tradisi Megibung Di Bali –



Setiap daerah di indonesia selalu memiliki tradisi-tradisi yang unik yang tidak dimiliki oleh daerah-daerah lainnya. Salah satunya adalah daerah pulau bali. Pulau Bali atau yang dikenal juga sebagai pulau dewata atau pulau seribu pura ini memiliki banyak sekali tradisi-tradisi unik yang sangat kental akan nilai-nilai kebersamaan.
Beberapa yang dapat disebutkan dari banyaknya tradisi di bali diantara lain
- Tradisi Pemakaman Unik Di Trunyan,
Ada juga tradisi ciuman masal
- Omed-omedan di sesetan dan masih banyak lagi,dan Kali ini, kita akan coba membahas Tradisi Unik lainnya di bali yakni MEGIBUNG
Semeton adakah yang belum pernah mendengar kata Megibung, karena ‘megibung’ merupakan istilah di bali untuk makan bersama dalam sebuah piring yang besar tanpa harus sungkan saling berbagi...
Acara Megibung di Bali, biasanya di lakukan setelah ada upacara-upacara besar seperti pernikahan, odalan dan upacara-upacara besar lainnya.
Daerah di bali yang masih melanjutkan tradisi ini adalah daerah-daerah yang ada di karangasem bali.

Tata Cara Megibung
makanan akan diletakkan di sebuah wadah yang besar menyerupai piring dimana tata letaknya adalah nasi di tengah-tengah dan lauk pauknya diletakkan di pinggiran nasi.
Wadah besar ini berjumlah lebih dari satu sehingga para tamu akan makan bersama secara berkelompok.
Wadah yang telah diisi makanan akan diletakkan di lantai sehingga para tamu duduk melingkar secara lesehan dan kemudian menyantap makanannya bersama-sama. Mengambil makanan tidak menggunakan sendok atau garpu, melainkan menggunakan tangan kosong jadi sebelum mulai menyantap makanan para tamu akan mencuci tangan mereka terlebih dahulu.

Ada tata cara megibung,
Dalam satu kelompok itu terdiri dari 5-8 orang. Para kaum lelaki dan perempuan tidak boleh membaur melainkan harus berada dalam 1 kelompok yang berbeda dengan laki-laki. kemudian setelah selesai makan, walaupun ada anggota kelompok yang sudah kenyang menyantap makanan dia tidak boleh meninggalkan kelompok mereka begitu saja. Dia harus menunggu anggota lainnya selesai makan baru bisa meninggalkan tempat duduknya.
Banyak sekali keuntungan yang diperoleh dari acara makan dengan cara megibung ini, manfaat yang paling penting adalah mempererat hubungan antara kerabat, sanak saudara ataupun para tetangga.
Itu karena disaat melaksanakan acara megibung, selain kita makan bersama, kita juga bisa langsung berinteraksi dengan anggota megibung satu sama lain. Mereka akan bergurau dan bercengkrama bersama sambil menyantap makanan yang ada. Namun tetap menjaga kebersihan dan ketertiban.
Itulah orang bali, mereka selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kekerabatan untuk selalu dapat mempererat hubungan mereka. Ada banyak lagi cara-cara atau Tradisi-tradisi.
unik lainnya untuk mempererat hubungan satu sama lain selain dengan cara Megibung,Di Bali ini.
Itulah yang membuat orang bali selalu hidup tentram dan damai.

Senin, 01 September 2025

Candi Sewu atau Manjusrighra



Candhi Sèwu adalah candi Buddha yang dibangun pada abad ke-8 Masehi yang berjarak sekitar delapan ratus meter di sebelah utara Candi Prambanan.
Candi Sewu merupakan kompleks candi Buddha terbesar kedua setelah Candi Borobudur di Jawa Tengah. Candi Sewu berusia lebih tua daripada Candi Borobudur dan Prambanan. Meskipun aslinya memiliki 249 candi, oleh masyarakat setempat candi ini dinamakan "Sewu" yang berarti seribu dalam bahasa Jawa. Penamaan ini berdasarkan kisah legenda Loro Jonggrang.
Berdasarkan Prasasti Kelurak yang berangka tahun 782 dan Prasasti Manjusrigrha yang berangka tahun 792 dan ditemukan pada tahun 1960, nama asli candi ini adalah ”Prasada Vajrasana Manjusrigrha”. Istilah Prasada bermakna candi atau kuil, sementara Vajrajasana bermakna tempat Wajra (intan atau halilintar) bertakhta, sedangkan Manjusri-grha bermakna Rumah Manjusri. Manjusri adalah salah satu Boddhisatwa dalam ajaran buddha. Candi Sewu diperkirakan dibangun pada abad ke-8 masehi pada akhir masa pemerintahan Rakai Panangkaran. Rakai Panangkaran (746–784) adalah raja yang termahsyur dari kerajaan Mataram Kuno.

Satyaloka

 



Satyaloka adalah loka tertinggi, kediaman Brahmā. Disebut Satyaloka karena penuh dengan satya (kebenaran abadi). Orang yang sampai di sini hampir tidak kembali lagi ke dunia fana, melainkan sudah di ambang Mokṣa.

Seperti yang telah dijelaskan dalam sastra 📜 Atharva Veda X.8.37
“yasya satyāni lokeṣu satyaṁ brahma sanātanam /
tasya lokaḥ satyalokaḥ paraṁ dhāma sanātanam //”
“Bagi Dia yang kebenaran-Nya ada di seluruh loka, Brahman yang kekal, tempat kediaman itu disebut Satyaloka, kediaman abadi tertinggi.”
Dalam 📜 Śrīmad Bhāgavata Purāṇa 2.2.28 mengatakan:
“satya-lokaṁ tu brahmāṇam
yatra dharmo hy anāvṛtaḥ /
nityānanda-svarūpeṇa
brahma-loka iti smṛtaḥ //”
“Satyaloka adalah kediaman Brahmā, di mana dharma murni bersemayam, penuh dengan kebahagiaan abadi. Karena itu ia disebut Brahmaloka.”
Aktivitas yang Mengantar kita ke Satyaloka yaitu:
1. Satya (Kebenaran Sejati). Tidak sekadar jujur, tetapi hidup sepenuhnya dalam dharma.
Kalau di dunia kita masih suka bilang “macet nih” padahal telat bangun, itu artinya belum lulus ujian masuk Satyaloka. 😅
2. Bhakti & Jñāna. Mengabdi kepada Tuhan dengan pengetahuan suci.
Kalau sembahyang hanya minta “rezeki lancar, proyek banyak”, itu masih level Svarga. Kalau sembahyang sudah bilang “Saya pasrah, apa pun kehendak-Mu”, nah itu level Satyaloka.
3. Meditasi Brahman. Duduk hening, menyatu dengan Brahman.
Kalau di dunia kita masih meditasi sambil kepikiran cicilan, jangan harap dulu sampai Satyaloka.
4. Tapa & Tyāga (Pengendalian dan Pelepasan). Lepas dari keterikatan dunia: gengsi, harta, jabatan.
Kalau sudah bisa ikhlas kehilangan sandal di pura tanpa marah, berarti sudah latihan kecil menuju Satyaloka. 😁
Humor supaya gak bosan yach, contoh Kehidupan Sehari-hari
Ada orang rajin sembahyang, tapi habis sembahyang langsung bilang: “Om Swaha… semoga tetangga saya jatuh miskin biar saya kelihatan kaya.” → Maaf, ini bukan tiket Satyaloka, tapi tiket drama loka. 😆
Ada juga yang bantu orang, tapi tiap kali bantu sambil bilang: “Tolong dicatat ya, aku sudah nolong kamu 10 kali.” Itu bukan Satyaloka, tapi Excel loka.
Sebaliknya, ada orang sederhana, hidup tulus, penuh satya, tidak pamrih, dan bhakti kepada Tuhan. Dialah yang paling pantas naik ke Satyaloka.
Semetonku, Para bhakta yang berbahagia, Satyaloka adalah loka tertinggi, tempat kebenaran sejati bersemayam. Di sana tidak ada kepalsuan, tidak ada ego, tidak ada pamrih. Hanya ada satya, dharma, dan ananda.
Hidup kita di dunia ini hanyalah latihan kecil menuju Satyaloka. Jadi marilah kita belajar:
Satya → jujur dan tulus.
Bhakti → sembahyang dengan ikhlas, bukan transaksional.
Dhyāna → melatih kesadaran Paramātma dalam hati.
Tyāga → berani melepaskan ego dan keterikatan.
Dengan cara itu, bukan hanya Satyaloka yang kita capai, tapi Mokṣa pun akan terbuka.
Om Santih, Santih, Santih Om 🙏