Kamis, 17 Juli 2025

Kisah Yudistira yang Pergi ke Surga Ditemani Seekor Anjing: Sebuah Pelajaran tentang Dharma dan Kesetiaan

 


Dalam epik Mahabharata, salah satu karya agung dalam tradisi Hindu, Yudistira, putra sulung Pandawa, dikenal sebagai simbol kebenaran, keadilan, dan kebijaksanaan. Setelah perang besar di Kurukshetra, yang membawa kehancuran bagi banyak keluarga, Yudistira dan saudara-saudaranya memilih untuk mengasingkan diri dan menjalani kehidupan yang lebih murni dan spiritual, atau disebut Vanaprastha. Di sinilah perjalanan spiritual Yudistira menuju surga dimulai, yang dipenuhi ujian-ujian berat, termasuk ditemani oleh seekor anjing misterius yang akhirnya membuka makna lebih dalam tentang dharma, kesetiaan, dan spiritualitas dalam tradisi Hindu.
Perjalanan Spiritual Yudistira Menuju Surga
Setelah berakhirnya pertempuran di Kurukshetra dan berbagai konflik besar yang menyertainya, Yudistira, meskipun adalah seorang raja yang dihormati, memutuskan untuk meninggalkan dunia material dan menuju ke hutan. Di sana, ia merenungkan kehidupan, dosa, dan kebajikan. Namun, perjalanan Yudistira menuju surga bukanlah sekadar perjalanan fisik, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang mendalam untuk mencapai pembebasan (moksha).
Dalam kitab-kitab Purana, terutama dalam Vishnu Purana dan Bhagavata Purana, diceritakan bahwa Yudistira, yang dikenal penuh kesadaran tentang dharma, memulai perjalanannya menuju surga setelah meninggalkan kerajaannya. Dalam perjalanan ini, ia ditemani oleh seekor anjing, yang sering diinterpretasikan sebagai manifestasi dari Dharma, dewa kebenaran dan ayah dari Yudistira sendiri.
Anjing dalam tradisi Hindu bukan hanya hewan peliharaan biasa, melainkan simbol dari kesetiaan yang tulus, penjaga jalan spiritual, dan penjaga dunia bawah. Dalam Rigveda, anjing bahkan dipuji sebagai penjaga yang melindungi kebenaran dan membantu dalam perjalanan jiwa menuju dunia yang lebih tinggi. Anjing yang menemani Yudistira melambangkan kesetiaan pada prinsip dharma, yang tidak mengenal batas waktu atau ruang.
Anjing Sebagai Simbol Dharma dan Kesetiaan
Dalam perjalanan menuju surga, Yudistira diuji oleh berbagai tantangan dan ujian spiritual. Salah satu ujian terbesar datang ketika mereka tiba di gerbang surga, tempat para dewa dan makhluk suci tinggal. Dewa-dewa memberikan ujian terakhir dengan meminta Yudistira untuk meninggalkan anjing yang menemani sepanjang perjalanan. Ini adalah momen kritis dalam kisah ini, karena keputusan ini menjadi titik tolak bagi Yudistira untuk menunjukkan apakah ia lebih setia pada dharma ataukah pada ikatan pribadi.
Dalam dialog antara Yudistira dan dewa-dewa, yang terinspirasi oleh filosofi Vedanta dan Purana, Yudistira dengan bijaksana memilih untuk tetap setia pada anjing, yang pada akhirnya terungkap sebagai manifestasi dari Dharma itu sendiri. Keputusan Yudistira untuk tidak meninggalkan anjing ini menunjukkan bahwa prinsip dharma lebih besar daripada ikatan pribadi, dan bahwa kebenaran tidak hanya terkait dengan tindakan tetapi juga dengan keputusan yang dilakukan dalam ujian-ujian hidup.
Pada akhirnya, Yudistira diterima masuk ke surga, ditemani oleh anjing yang juga diangkat ke alam yang lebih tinggi. Ini menunjukkan bahwa mereka yang tetap setia pada dharma, bahkan dalam ujian yang paling berat sekalipun, akan mencapai pembebasan dan kedamaian sejati.
Apakah Keempat Saudara Yudistira Masuk Surga?
Dalam kisah perjalanan spiritual ini, tidak hanya Yudistira yang mengalami ujian untuk mencapai surga, tetapi juga keempat saudaranya: Bima, Arjuna, Nakula, dan Sahadeva. Meskipun mereka semua adalah pahlawan yang dihormati dalam Mahabharata, mereka masing-masing juga harus menjalani ujian yang sesuai dengan karakter dan perjalanan hidup mereka.
Setelah berperang di Kurukshetra, mereka bersama Yudistira meninggalkan dunia material dan memulai perjalanan menuju surga. Namun, selama perjalanan tersebut, masing-masing dari saudara Yudistira menjalani ujian moral dan spiritual yang berbeda. Dalam kisah ini, Bima dan Arjuna mengalami cobaan yang berat, tetapi mereka gagal dalam ujian akhir mereka. Mereka tidak berhasil mencapai surga dalam tubuh fisik mereka karena mereka masih terikat pada dosa-dosa yang mereka lakukan, meskipun mereka adalah pahlawan besar.
Nakula dan Sahadeva, meskipun lebih rendah dalam ketenaran dibandingkan dengan saudara mereka yang lain, tetap lebih murni dalam perjalanan mereka. Namun, seperti halnya Arjuna dan Bima, mereka juga tidak sepenuhnya bebas dari ikatan duniawi. Pada akhirnya, hanya Yudistira yang berhasil mencapai surga dalam tubuh fisiknya, bersama dengan anjing yang menemani, yang sebenarnya adalah manifestasi dari Dharma.
Kesimpulan: Pembelajaran dari Kisah Yudistira dan Anjing
Kisah Yudistira yang pergi ke surga ditemani oleh anjing bukan hanya cerita tentang seorang raja yang mencari kedamaian akhir. Lebih dalam dari itu, ini adalah simbol dari kesetiaan, keadilan, dan pencarian dharma. Dalam perjalanan spiritual kita masing-masing, kita semua menghadapi ujian dan godaan. Seperti Yudistira yang setia pada prinsip kebenaran, kita pun diajak untuk tidak tergoda oleh dunia material dan terus setia pada nilai-nilai kebenaran yang lebih tinggi. Kesetiaan pada dharma adalah jalan menuju kebebasan, dan meskipun ujian hidup datang, seperti anjing yang menemani Yudistira, prinsip kebenaran akan selalu menuntun kita menuju tujuan akhir yang lebih baik.
Mari berdiskusi lebih dalam tentang makna perjalanan spiritual ini dalam kehidupan kita saat ini. Apa yang bisa kita pelajari dari kesetiaan Yudistira pada dharma dan anjing yang setia menemaninya? Bagaimana kita bisa menerapkan ajaran ini dalam kehidupan sehari-hari? Jangan lupa untuk like, share, dan follow agar kita bisa terus berbagi pemahaman spiritual ini.
Sumber:
• Mahabharata oleh Vyasa
• Vishnu Purana
• Bhagavata Purana
• Lontar Bali dan sumber-sumber tradisional Hindu lainnya

#bali #baliindonesia #taksu #taksubali #taksu_bali #upakara #bantenbali #canangsari #hindu #hindubali #pura #tradisibali #infobali #infodenpasar 

Mitos tentang beberapa jenis pohon yang dianggap angker Di Bali

 


Dalam ajaran Bali, setiap pohon tidaklah sekadar hadir sebagai penyejuk, tapi padanya terkandung suatu getaran tertentu yang bisa ditangkap oleh kepekaan manusia tentang manfaat maupun sifat dari energinya. Karena itu segala pohon yang buahnya berguna bagi manusia selalu diupacarai pada hari Tumpek Bubuh.
.
Di Bali berkembang mitos tentang beberapa jenis pohon yang dianggap angker, pohon kepuh misalnya, maka orang Bali mengatakan kalau pohon tersebut dihuni oleh wong samar (manusia gaib). Atau pada serumpun pohon bambu di tepi sungai dikatakan dihuni kawanan memedi usil dan pohon asam yang besar dihuni mahkluk halus bernama Banas.
.
Ini artinya masyarakat Bali mengasosiasikan suatu energi itu ke dalam suatu wujud yang lebih mudah dipahami pikiran, sehingga melahirkan suatu tata cara dalam bersikap dalam berhubungan dengan keberadaan energi-energi alam gaib itu dan menganggap pohon-pohon itu angker dan keramat. Dan yang terpenting adalah, dari keangkeran pohon-pohon itu masyarakat berharap mendapat perlindungan darinya.
.
Bila mohon sesuatu pada sebuah pohon tenget, maka pikirannya kembali dikuatkan, harapannya dipulihkan. Misalnya, dalam suatu kasus ada warga yang mengalami sakit tertentu karena melakukan hal yang tidak boleh dilakukan. Lalu diadakanlah permakluman, keluarga si sakit datang melakukan upacara tertentu.
.
Selain pohon kepuh, beringin, pule, bunut, juga ada pohon berumur pendek yang dikeramatkan. Orang-orang Bali mencabuti pohon pepaya renteng bila tumbuh dekat-dekat rumahnya. Pohon ini dianggap terkutuk, karena bila terlanjur besar, maka leak suka bersandar di batang pepaya itu pada malam buta untuk mengisap aura magis pohon itu. Sehingga pohon pepaya renteng sengaja dipunahkan.
.
Begitu juga dengan pohon kepuh, jika ia tidak tumbuh di tebing yang sulit dijangkau atau di hutan tak bertuan, niscaya pohon ini pun terancam punah. Kalau tumbuh di tegalan atau tanah warga maka pohon yang dianggap calon “rumah wong samar” ini akan dibabat sejak pohon itu masih pendek. 

API TAKEP

 


SEDERHANA TAPI MEMILIKI PERAN YANG SANGAT PENTING.

Api Takep adalah api yang dibuat dalam dua buah sabut kelapa yang dicakupkan menyilang sehingga membentuk tapak dara ( + )

Dalam penggunaan saat upacara yadnya memiliki fungsi yang berbeda-beda yaitu :

+ Dalam Caru Sasih fungsinya sebagai salah satu upaya niskala yang sangat penting dilakukan agar terhindar dari pengaruh kala.

+ Sebagai perlengkapan sesuwuk yang ditaruh di “lebuh” / depan rumah berfungsi untuk menetralisir kekuatan - kekuatan jahat agar menjadi suatu kekuatan yang baik.

+ Dalam Nglungang Ida Bhatara sebagai perlengkapan pemendakan dalam prosesi mengiringi Ida Bhatara yang telah hadir.

+ Api takep yang membumbung ke udara dari tetimpug diyakini sebagai penghantar ritual dalam upacara yadnya.

+ Sebagai sarana perlengkapan dalam pawiwahan berfungsi agar setiap pasangan Selalu setia terhadap janji dan kata hati.

+ Dan penggunaanya saat Kajeng Kliwon Enyitan, api takep dari dua buah sabut kelapa tersebut biasanya disertai dengan segehan, beras dan tetabuhan berupa air, tuak, arak serta berem berfungsi untuk menetralisir dan menghilangkan pengaruh negatip sekitar rumah. 

Ngeruak membangun rumah lan melaspas




Pemilihan Tanah Pekarangan.

Tanah yang dipilih untuk lokasi membangun perumahan diusahakan tanah yang miring ke timur atau miring ke utara, pelemahan datar (asah), pelemahan inang, pelemahan marubu lalah(berbau pedas).

Tanah yang patut dihindari sebagai tanah lokasi membangun perumahan adalah :

karang karubuhan (tumbak rurung/ jalan),

karang sandang lawe (pintu keluar berpapasan dengan persimpangan jalan),

karang sulanyapi (karang yang dilingkari oleh lorong (jalan)

karang buta kabanda (karang yang diapit lorong/ jalan),

karang teledu nginyah (karang tumbak tukad),

karang gerah (karang di hulu Kahyangan),

karang tenget,

karang buta salah wetu,

karang boros wong (dua pintu masuk berdampingan sama tinggi),

karang suduk angga, karang manyeleking dan yang paling buruk adalah

tanah yang berwarna hitam- legam, berbau "bengualid" (busuk)

Tanah- tanah yang tidak baik (ala) tersebut di atas, dapat difungsikan sebagai lokasi membangun perumahan jikalau disertai dengan upacara/ upakara agama yang ditentukan, serta dibuatkan palinggih yang dilengkapi dengan upacara/ upakara pamarisuda.

Perumahan Dengan Pekarangan Sempit, bertingkat dan Rumah Susun.

Pekarangan Sempit.

Dengan sempitnya pekarangan, penataan pekarangan sesuai dengan ketentuan Asta Bumi sulit dilakukan. Untuk itu jiwa konsepsi Tri Mandala sejauh mungkin hendaknya tercermin (tempat pemujaan, bangunan perumahan, tempat pembuangan (alam bhuta).

Karena keterbatasan pekarangan tempat pemujaan diatur sesuai konsep tersebut di atas dengan membuat tempat pemujaan minimal Kemulan/ Rong Tiga atau Padma, Penunggun Karang dan Natar.

Rumah Bertingkat.

Untuk rumah bertingkat bila tidak memungkinkan membangun tempat pemujaan di hulu halaman bawah boleh membuat tempat pemujaan di bagian hulu lantai teratas.

Rumah Susun.

Untuk rumah Susun tinggi langit- langit setidak- tidaknya setinggi orang ditambah 12 jari. Tempat pemujaan berbentuk pelangkiran ditempatkan di bagian hulu ruangan.

Dewasa Membangun Rumah.

Dewasa Ngeruwak:
Wewaran : Beteng, Soma, Buda, Wraspati, Sukra, Tulus, Dadi.
Sasih: Kasa, Ketiga, Kapat, Kedasa.

Nasarin:

Watek: Watu.
Wewaran: Beteng, soma, Budha, Wraspati, Sukra, was, tulus, dadi,
Sasih: Kasa, Katiga, Kapat, Kalima. Kanem.

Nguwangun
Wewaran: Beteng, Soma, Budha, Wraspati, Sukra, tulus, dadi.

Mengatapi
Wewaran : Beteng, was, soma, Budha, Wraspati, Sukra, tulus, dadi.

Dewasa ala : geni Rawana, Lebur awu, geni murub, dan lain- lainnya.

Memakuh/ Melaspas

Wewaran : Beteng, soma, Budha. Wraspati, Sukra, tulus, dadi.
Sasih : Kasa, Katiga, Kapat, Kadasa.

Upacara Membangun Rumah.

Upacara Nyapuh sawah dan tegal.
Apabila ada tanah sawah atau tegal dipakai untuk tempat tinggal.

Jenis upakara : paling kecil adalah tipat dampulan, sanggah cucuk, daksina l, ketupat kelanan, nasi ireng, mabe bawang jae.

Setelah "Angrubah sawah" dilaksanakan asakap- sakap dengan upakara Sanggar Tutuan, suci asoroh genep, guling itik, sesayut pengambeyan, pengulapan, peras panyeneng, sodan penebasan, gelar sanga sega agung l, taluh 3, kelapa 3, benang + pipis.

Upacara pangruwak bhuwana dan nyukat karang, nanem dasar wewangunan.

Upakaranya ngeruwak bhuwana adalah sata/ ayam berumbun, penek sega manca warna.

Upakara Nanem dasar: pabeakaonan, isuh- isuh, tepung tawar, lis, prayascita, tepung bang, tumpeng bang, tumpeng gede, ayam panggang tetebus, canang geti- geti.

Upakara Pemelaspas.

Upakaranya : jerimpen l dulang, tumpeng putih kuning, ikan ayam putih siungan, ikan ayam putih tulus, pengambeyan l, sesayut, prayascita, sesayut durmengala, ikan ati, ikan bawang jae, sesayut Sidhakarya, telur itik, ayam sudhamala, peras lis, uang 225 kepeng, jerimpen, daksina l, ketupat l kelan, canang 2 tanding dengan uang II kepeng.

Oleh karena situasi dan kondisi di suatu tempat berbeda, maka upacara dan upakara tersebut di atas disesuaikan dengan kondisi setempat.


KONSULTASI ATAU PESAN BANTEN KEBUTUHAN UPAKARA WA: 08976687246 ATAU KLIK DISINI

Kisah Dewi Gangga dalam Rambut Dewa Siwa: Perjalanan Air Suci Menyucikan Dunia

 


Dalam mitologi Hindu, Dewi Gangga memegang peranan penting sebagai personifikasi dari Sungai Gangga yang dihormati dan dianggap suci. Kisah tentang Dewi Gangga sangat mendalam, dengan simbolisme yang mencakup penyucian dan pembebasan, tidak hanya dalam hal fisik tetapi juga dalam dimensi spiritual. Salah satu cerita yang paling terkenal mengenai Dewi Gangga adalah kisah penurunannya dari surga ke bumi, di mana ia melalui rambut Dewa Siwa untuk memastikan airnya sampai ke bumi dengan cara yang aman dan penuh berkah. Kisah ini tidak hanya menggambarkan betapa pentingnya air sebagai elemen spiritual dalam agama Hindu, tetapi juga menyoroti nilai gotong royong dan keharmonisan dalam dunia ilahi dan manusia.
Menurut mitologi, Dewi Gangga yang tinggal di surga ingin turun ke bumi untuk memberikan berkah kepada umat manusia. Namun, air yang sangat deras yang dibawa Gangga dari surga berpotensi menimbulkan bencana besar bagi bumi. Air tersebut terlalu kuat dan bisa merusak segala sesuatu yang ada di bumi. Menyadari bahaya yang dapat ditimbulkan, Dewa Siwa, dengan kekuatan ilahinya, menawarkan solusi dengan membiarkan air Gangga mengalir melalui rambutnya yang panjang. Rambut Dewa Siwa yang melambangkan kontrol dan kebijaksanaan itu menjadi saluran untuk menenangkan aliran air yang sangat deras. Dengan cara ini, air Gangga bisa mengalir ke bumi dengan penuh berkah dan penyucian, tetapi tanpa menimbulkan kerusakan atau bencana.
Kekuatan simbolis dari rambut Dewa Siwa sangat mendalam dalam tradisi Hindu. Rambutnya yang panjang tidak hanya melambangkan kekuatan fisik, tetapi juga kontrol terhadap segala hal yang ada di dunia ini, terutama yang berkaitan dengan alam dan kekuatan yang lebih besar dari manusia. Dalam banyak representasi, rambut Dewa Siwa melambangkan hubungan antara dunia fisik dan spiritual, di mana air yang mengalir melalui rambut tersebut adalah perwujudan dari harmoni antara kedua dunia tersebut. Dalam hal ini, rambut Dewa Siwa tidak hanya bertindak sebagai tempat penyaringan, tetapi juga sebagai penghubung antara alam semesta, Tuhan, dan umat manusia.
Ketika air Gangga mengalir melalui rambut Dewa Siwa, ia membawa bukan hanya air fisik, tetapi juga energi spiritual yang membersihkan segala bentuk dosa dan memberi kehidupan baru kepada semua yang bersentuhan dengannya. Air tersebut dianggap sebagai sumber kehidupan yang murni dan memiliki kekuatan untuk membersihkan segala kekotoran, baik dalam hal fisik maupun spiritual. Air Gangga yang suci ini digunakan dalam berbagai upacara keagamaan untuk penyucian diri, seperti melukat, yang merupakan ritual penyucian diri umat Hindu Bali. Dalam upacara tersebut, air Gangga dianggap sebagai simbol dari pemurnian jiwa dan pembersihan dosa.
Lebih dari sekadar sebuah kisah tentang air, rambut Dewa Siwa dan air Gangga juga menunjukkan bagaimana umat Hindu menghargai dan merawat alam, serta pentingnya menjaga keseimbangan dalam segala aspek kehidupan. Proses penyaluran air yang begitu bijaksana melalui rambut Dewa Siwa juga mengajarkan kita tentang perlunya kebijaksanaan dalam menghadapi kekuatan alam, bukan dengan kekuatan kasar, tetapi dengan keharmonisan dan pengertian. Dalam kehidupan sehari-hari, ini juga menjadi ajaran bagi kita untuk selalu mencari cara untuk hidup selaras dengan alam, menjaga keharmonisan antara dunia fisik dan spiritual.
Upacara yang melibatkan air Gangga, seperti melukat, menggambarkan betapa besar makna spiritual dan kultural air ini dalam kehidupan masyarakat Hindu, khususnya di Bali. Air Gangga tidak hanya digunakan untuk membersihkan tubuh, tetapi juga digunakan untuk membersihkan pikiran dan jiwa. Ini adalah bagian dari proses untuk mencapai kesucian batin, agar seseorang bisa hidup lebih dekat dengan Tuhan dan memahami makna hidup yang lebih dalam.
Cerita tentang Dewi Gangga ini juga mengajarkan kita tentang pentingnya kebijaksanaan dalam menjaga dan memanfaatkan kekuatan yang ada di sekitar kita. Dalam dunia yang semakin sibuk dan penuh dengan tantangan, kita diajarkan untuk tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik atau material, tetapi juga untuk mencari cara untuk menjaga keseimbangan hidup melalui kebijaksanaan spiritual. Seperti halnya rambut Dewa Siwa yang mengalirkan air dengan penuh keharmonisan, kita juga bisa belajar untuk menenangkan kehidupan kita dengan penuh kesadaran, menghargai nilai-nilai spiritual, dan menjaga keseimbangan dalam setiap tindakan kita. 

Jembatan Rama




Jembatan Rama, disebut juga Jembatan Ram Setu berarti "Jembatan Rama", adalah rantai batu kapur antara pulau Mannar, di dekat Sri Lanka barat laut dan Rameswaram, di pantai tenggara India. Menurut kepercayaan Hindu, jembatan ini dibangun oleh Rama, inkarnasi Dewa Wisnu, untuk menyelamatkan Sita yang diculik ke Alengka oleh Rahwana, seperti yang ditulis dalam kisah Ramayana. Banyak inskripsi, koin, panduan pengelana tua, referensi lama, peta religius kuno menandakan struktur ini dianggap suci oleh umat Hindu. Jembatan itu pertama kali disebutkan dalam wiracarita berbahasa Sanskerta, Ramayana, gubahan Walmiki. Dunia barat pertama kali menemukannya dalam buku "karya bersejarah pada abad ke-9" oleh Ibnu Khordadbeh dalam Buku tentang Jalan dan Negara (sekitar 850 M), merujuk kepada tempat yang disebut Set Bandhai atau "Jembatan Laut". Nama Jembatan Rama atau Rama Setu (Setu berarti jembatan) diberikan kepada bentang alam mirip jembatan ini di Rameshwaram, karena legenda Hindu mengidentifikasinya sebagai jembatan yang dibangun oleh Wanara (manusia monyet), tentara Rama, yang digunakan untuk mencapai Alengka dan menyelamatkan istrinya Sita dari raja Rakshasa, Rahwana. Karena memisahkan laut India dan Sri Lanka, wilayah itu disebut Sethusamudram yang berarti "Jembatan Laut". Petanya dibuat oleh pembuat peta Belanda pada tahun 1747, tersimpan di Perpustakaan Saraswati Mahal di Tanjore, menunjukkan wilayah ini sebagai Ramancoil, dari bahasa Tamil "Raman Kovil" (Kuil Rama) Peta lain disusun oleh J. Rennel tahun 1788 diambil dari perpustakaan yang sama, menyebut daerah ini sebagai Kuil Rama. Peta lainnya terdapat di atlas sejarah Schwartzberg dan sumber-sumber lain menyebut daerah ini dengan berbagai nama seperti koti, Sethubandha dan Sethubandha Rameswaram. Ramayana gubahan Walmiki menyatakan pembangunan jembatan ini di bawah komando Rama dalam Sloka 2-22-76. Rama Bridge merupakan salah satu "Mysterious Places in the World’s". Jembatan purba misterius sepanjang 18 mil (30 Km) yang menghubungkan Pulau Mannar (Srilanka) dan Pulau Pamban (India) ini diperkirakan telah berumur lebih dari 1.000.000 tahun. Citra dari Jembatan Adam itu sendiri sangat mudah terlihat dari atas permukaan air laut karena letaknya yang tidak terlalu dalam, yaitu hanya tergenang sedalam kira-kira 1,2 meter (jika air laut sedang surut). Status dari jembatan tersebut masih merupakan misteri hingga saat ini, dan menurut tafsiran para ahli, diperkirakan Jembatan Adam erat kaitannya dengan wiracarita terkenal India, Ramayana. S.U.Deraniyagala, Direktur Jenderal Arkeologi Srilanka yang juga merupakan pengarang buku Early Man and the Rise of Civilization in Sri Lanka: the Archaeological Evidence mengatakan bahwa peradaban manusia telah muncul di kaki Gunung Himalaya sekitar 2.000.000 tahun silam. Walaupun menurut para sejarawan peradaban paling awal didaratan India adalah peradaban bangsa Ca, hal itu bukan merupakan suatu jaminan bahwa terdapat peradaban yang lebih tua lagi dari mereka sebelumnya. Para sarjana menaksirkan bahwa mungkin jembatan purba ini dibangun setelah daratan Sri Lanka terpisah oleh India jutaan tahun silam. Menurut wiracarita Ramayana, jembatan itu dibangun oleh pasukan manusia monyet (wanara) di bawah pengawasan Rama, dan dalam pewayangan Jawa disebut "Situbanda" atau "Situbandalayu". Maksud dari pembangunannya sendiri ialah sebagai tempat penyebrangan menuju Kerajaan Alengka dalam misi untuk menyelamatkan Dewi Sita (Sinta), dimana pada saat itu Dewi Sita sedang berada dalam masa penculikannya oleh Raja Kerajaan Alengka, yaitu Rahwana. Menurut agama Hindu, sejarah dunia terbagi menjadi 4 masa, yaitu Satyayuga (1.728.000 tahun), Tretayuga (1.296.000 tahun), Dwaparayuga (864.000 tahun) dan Kaliyuga (432.000 tahun). Tahap sekarang menurut kalender mereka ialah Kaliyuga. Kisah dalam Ramayana, menurut Kalender Hindu, terjadi pada masa Tretayuga. Berarti menurut catatan dalam epos tersebut, usia dari Jembatan tersebut berkisar 1.700.000 tahun.


KONSULTASI ATAU PESAN BANTEN KEBUTUHAN UPAKARA WA: 08976687246 ATAU KLIK DISINI