Rabu, 16 Juli 2025

Kematian adalah ilusi (māyā)




 Kematian adalah ilusi (māyā), karena tidak ada kematian bagi sang ātma, kita hanya berganti jubah material saja yaitu badan kasar ini. Identitas kita sebenarnya adalah sebagai roh (disebut jīva atau ātma) yang merupakan percikan rohani yang tidak dapat dibinasakan melainkan sebagai esensi yang kekal dan sebagai kesadaran tertinggi.


"Semua makhkuk hidup yang diciptakan tidak berwujud pada awalnya, terwujud pada pertengahan, sekali lagi tidak terwujud pada waktu
dileburkan. Jadi apa yang perlu
disesalkan

Namun ketika seseorang terperangkap dengan alam material ini, sang roh yang ditutupi oleh jubah material berada dalam keadaan terkondisi atau tercemar. Kita melupakan hubungan sejati kita yang tak terpisahkan dengan Tuhan karena kontak material yaitu dengan cara menyamakan diri dengan badan ini.

Ketika seseorang terperangkap dan menyatakan diri sebagai bagian dari komunitas tertentu, itulah ilusi atau māyā, "Saya orang Amerika", "Saya wangsa begini", "Saya beragama Hindu", "Saya adalah brāhmaṇa" — sebuah pamer pertunjukan julukan-julukan material yang tanpa mentalitas bhakti kepada Tuhan hanyalah sajian energi luar Tuhan / māyā.

Tidak ada perlunya mengukur kadar kebahagiaan orang lain karena semua makhluk hidup menderita di alam material ini. Jīva yang dibungkus oleh badan material ini pasti akan mengalami 3 jenis penderitaan rutin, dan tak seorang pun yang lolos dari 3 jenis penderitaan ini walau betapa termasyurnya atau betapa kayanya orang itu dari luar, 3 penderitaan itu adalah:

1). Adhyātmika: penderitaan yang diakibatkan oleh badan atau pikiran sendiri;
2). Adhidaivika: penderitaan yang diakibatkan oleh masyarakat, komunitas, negara dan makhluk hidup lainnya;
3) Adhibautika: penderitaan yang disebabkan oleh gangguan alam seperti gempa bumi, kelaparan, kekeringan, banjir, wabah, dsb.

Jika seseorang menyadari bahwa kehidupannya dijerat oleh 3 jenis penderitaan ini, ia memenuhi syarat untuk mengerti hakikat ātma-tattva ("saya bukanlah badan ini")
.
Penderitaan tersebut dirasakan / timbul karena hubungan indera-indera dengan obyeknya. Dengan kata lain, semua itu muncul karena mempersamakan diri dengan badan.

Via @filsafat_hindu

Kajeng kliwon




Kajeng kliwon adalah peringatan hari turunnya para bhuta untuk mencari orang yang tidak melaksanakan dharma agama dan pada hari ini pula para bhuta muncul menilai manusia yang melaksanakan dharma.

Rerainan Kajeng kliwon diperingati setiap 15 hari sekali yang pada saat itu kita menghaturkan segehan manca warna sebagaimana yang disebutkan dalam mitologi kajeng kliwon. Dalam mitologi tersebut juga dijelaskan maksud dan tujuan menghaturkan segehan manca warna ini yang merupakan perwujudan bhakti dan sradha kita kepada Hyang Siwa (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) yang telah mengembalikan (Somya) Sang Tiga Bhucari.

Siapa yang disembah saat kajeng kliwon Berarti dengan segehan tersebut, kita telah mengembalikan keseimbangan alam niskala dari alam bhuta menjadi alam dewa (penuh sinar), sedangkan Sekalanya kita selalu berbuat tri kaya parisuda dan Niskalanya menyomyakan bhuta menjadi dewa dengan harapan dunia ini menjadi seimbang. Sebagaimana dijelaskan pula bahwa, saat malam kajeng kliwon sering dianggap sebagai malam sangkep leak yang pada umumnya sebagaimana disebutkan, pada malam kajeng kliwon ini roh-roh jahat maupun para shakta aji pangliyakan akan berkumpul mengadakan puja bakti bersama untuk memuja Shiva, Durga dan Bhairawi. Hal ini biasanya dilaksanakan di Pura Dalem, Pura Prajapati atau di Kuburan.

Saat kajeng kliwon, dalam babad bali disebutkan agar dapat melaksanakan upacara yadnya yang hampir sama dengan upacara Keliwon biasanya, hanya saja segehan-segehannya bertambah dengan nasi-nasi kepel lima warna, yaitu: merah,putih,hitam,kuning ,brumbunTetabuhannya adalah tuak / arak berem. Di bagian atas, di ambang pintu gerbang (lebuh) harus dihaturkan, canang burat wangi, dan canang yasa. Semuanya itu dipersembahkan kepada Ida Sang Hyang Durgha Dewi. Di bawah / di tanah dihaturkan segehan, dipersembahkan kepada Sang Tiga Bhucari :sang butha bucari,sang kala bucari dan sang durgha bucari.
Sehingga adanya peringatan dan upacara yadnya pada hari kajeng kliwon ini, dengan harapan bahwa baik secara sekala maupun niskala dunia ataupun alam semesta ini tetap menjadi seimbang.


KONSULTASI ATAU PESAN BANTEN KEBUTUHAN UPAKARA WA: 08976687246 ATAU KLIK DISINI

Dewa Windhu Sancaya Empat Tujuan Hidup dan Upaya Manusia Mencari Kebahagiaan

 


Hanya ada satu hal yang dicari semua orang--yaitu kebahagiaan--, meskipun berbeda dan dicari dengan cara yang berbeda. Semua bentuk, baik yang sensual, intelektual, atau spiritual berasal dari Brahman, yang merupakan Sumber dan Esensi dari semua Kebahagiaan, dan dirinya sendiri (rasovai sah). Meskipun berasal dari sumber yang sama - kesenangan berbeda dalam bentuk yang lebih tinggi dan lebih rendah, sementara, atau tahan lama, atau permanen. Mereka yang berada di jalan keinginan (prawritti marga) mencarinya melalui kenikmatan dunia ini (bhukti) atau dalam kesenangan surga yang lebih tahan lama, meskipun masih tidak kekal (swarga). Dia yang berada di jalan kembali (niwritti marga) mencari kebahagiaan, bukan dalam dunia ciptaan, tetapi dalam persatuan abadi dengan sumber utamanya (mukti). Dengan demikian dikatakan bahwa manusia tidak akan pernah benar-benar bahagia sampai dia mencari perlindungan pada Brahman (Tuhan YME), yang merupakan Kebahagiaan agung itu sendiri (rasam hyevayam labdhva anandi bhavati).

Irama abadi Nafas Ilahi keluar dari roh ke materi dan masuk dari materi ke roh. Dewi (manifestasi Pradana) sebagai Maya mengembangkan dunia, sebagai Mahamaya. Dia mengingatnya untuk Diri-Nya sendiri. Jalan keluar diri adalah jalan prawritti; sedangkan jalan kembali ke dalam diru adalah niwritti. Setiap gerakan ini adalah Ilahi. Kenikmatan (bhukti) dan pembebasan (mukti) adalah anugerah-Nya. Bahwa hanya Wisnu dan Siwa yang dapat memperoleh mukti, tetapi Dewi (manifestasi Pradana Sakti) dapat meraih baik bhukti maupun mukti; dan ini berlaku sejauh Dewi, dalam pengertian khusus, adalah sumber dari mana hal-hal material itu berasal, yang darinya kenikmatan (bhoga) muncul. Semua jiwa dalam perjalanan mereka, umat manusia, dan sebagian besar umat manusia itu sendiri, berada di jalan maju, dan dengan tepat mencari kenikmatan yang sesuai dengan tahap evolusinya.

Kehausan akan kehidupan akan terus terwujud hingga titik kembali tercapai dan energi yang keluar habis. Manusia harus, sampai saat itu, tetap berada di jalan keinginan. Di tangan Dewi Parwati ada jerat keinginan. Dewi Parwati sendiri adalah keinginan dan cahaya pengetahuan yang dalam diri orang bijak yang telah mengenal kenikmatan, menyingkapkan kesia-siaannya. Namun, seseorang tidak dapat meninggalkannya sebelum ia menikmatinya, dan demikian pula tentang proses dunia itu sendiri dikatakan: bahwa mereka yang belum lahir, para Purusha, tunduk kepada-Nya (Prakriti), dan meninggalkan-Nya karena alasan wiweka.

“Jejak Sejarah Nusantara: Antara Nama, Kerajaan, dan Identitas”

 


Banyak yang mengira bahwa “Sunda” adalah yang lebih dahulu, dan dalam beberapa hal itu benar. Namun, perlu dipahami bahwa “Sunda” yang dimaksud bukanlah nama sebuah pulau, melainkan nama kerajaan yaitu Sundapura. Sementara itu, jika kita berbicara tentang peradaban besar yang dikenal luas di Asia Tenggara dan China pada masa lampau, maka yang muncul adalah nama Bhumi Jawa dan Melayu.
Bukti sejarah mendukung hal ini. Prasasti Amoghapāśa secara eksplisit menyebutkan Bhumi Jawa sebagai entitas yang kuat dan berpengaruh. Sementara itu, Prasasti Sdok K Thom dari Khmer mencatat nama Chava, yang merujuk pada Jawa. Bahkan, dalam bahasa Thailand, Jawa dikenal sebagai Chawa, sementara dalam sumber-sumber China, nama yang muncul adalah Zhaowa.
Tak hanya Jawa yang memiliki penyebutan berbeda dalam berbagai sumber sejarah. Pulau Sumatra, misalnya, dalam catatan China dikenal sebagai San-fo-ts’i, sementara dalam bahasa Thailand disebut Svarnadvipa, yang berarti “Pulau Emas.” Begitu pula dengan Bali, yang dalam sumber-sumber China disebut Dwa Pa Tan atau Po Li.
Menariknya, hingga kini masyarakat Thailand masih memahami bahwa Candi Borobudur dan Prambanan dibangun oleh orang Jawa yakni masyarakat yang bermukim di Pulau Jawa, bukan “Pulau Sunda.” Istilah Sundaland sendiri baru muncul jauh belakangan, diperkenalkan oleh ahli geologi Belanda, Reinout Willem van Bemmelen, dalam bukunya Geography of Indonesia (1949). Namun, sebenarnya istilah ini sudah lebih dahulu digunakan dalam penelitian Gustaaf Adolf Frederik Molengraaff, seorang ahli geologi Hindia Belanda.
Dengan demikian, jejak sejarah mengonfirmasi bahwa sebelum berbagai penamaan modern muncul, dunia telah lebih dulu mengenal Nusantara melalui nama-nama besar seperti Bhumi Jawa dan Melayu, bukan melalui istilah-istilah yang baru dikonstruksi di masa kolonial.

#bali #baliindonesia #taksu #taksubali #taksu_bali #upakara #bantenbali #canangsari #hindu #hindubali #pura #tradisibali #infobali #infodenpasar

Pohon-nya kenapa disembahyangi atau di-ikatkan kain warna Hitam & Putih (poleng)




Sering kali muncul pertanyaan, itu Pohon-nya kenapa disembahyangi atau di-ikatkan kain warna Hitam & Putih (poleng) ? Apakah ada Penunggunya ya, kok serem banget dan jadi takut lewat sana.

Nah sebagai Orang Bali & tinggal di Bali, wajib hukumnya kita paham dan bisa memberikan penjelasan yang benar, agar makna gambar diatas tidak multitafsir

Kita kembali ke dasar dari ajaran Hindu Bali adalah Tri Hita Karana, yang berasal dari kata tiga penyebab terciptanya kebahagiaan manusia. Terciptanya kebahagiaan manusia ini adalah adanya hubungan yang selaras antara Manusia dengan Tuhan, Manusia dengan Alam, serta sesama Manusia. Bagi pohon yang besar seperti beringin termasuk dalam kriteria hubungan Manusia dengan Alam, dimana fungsi pohon adalah sebagai penyaring udara dengan menghasilkan oksigen, sebagai penyedia makanan bagi hewan herbivora, menjaga kesuburan tanah, serta menahan laju air dan erosi, dan menjadikan lingkungan lebih nyaman
.
Sedangkan kain Htam-Putih (poleng) dalam budaya bali merupakan simbol dari Rwa Bhineda suatu konsep keseimbangan baik dan buruk. Jika kembali ke pertanyaan kenapa pohon besar diselimuti kain hitan putih & diberi sesajen, maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa hal tersebut adalah bentuk penghormatan Manusia kepada Alam sekitar dengan memperhatikan dampak baik buruknya perlakuan manusia terhadap alam dengan simbol pepohonan tersebut

Apabila Alam dihancurkan dengan penebangan liar, akan mengakibatkan banjir, polusi, dan kepunahan berbagai habitat didalamnya, dan akan berdampak juga terhadap manusia itu sendiri, sehingga keseimbangan ini harus dijaga dengan bentuk penghormatan, serta diberikan simbol kain hitam putih pada pohon, dan juga pada benda benda tertentu

Demikianlah konsep dari Tri Hita Karana yang selalu di agung agungkan masyarakat Bali dalam menghadapi perkembangan globalisasi. Mungkin saja dahulu masyarakat Bali menggampangkan jawaban dengan mengatakan ada penunggunya dan tenget (angker) dengan tujuan agar manusia tidak merusak/menebang pohon, sehingga kelestarian alam dapat terpelihara..


KONSULTASI ATAU PESAN BANTEN KEBUTUHAN UPAKARA WA: 08976687246 ATAU KLIK DISINI

Kisah Budak Sakti Istimewa yang Dimiliki Raja Airlangga saat Bertakhta



________________________________________________
Airlangga merupakan raja sekaligus pendiri Kerajaan Kahuripan yang merupakan keturunan dari Mpu Sindok. Di bawah pemerintahan Airlangga Kahuripan dibawa menjadi sebuah kerajaan yang begitu disegani dan meneruskan trah raja-raja besar jawa dari anaknya. Sebagaimana umumnya sosok raja, Airlangga juga begitu dihormati oleh rakyatnya. Sang raja juga memiliki pelayan khusus untuk menjalankan pemerintahan sehari-harinya, hal yang sama juga terjadi pada Raja Airlangga. Di masa pemerintahan Airlangga, ia memiliki hak khusus atau istimewa kepada seseorang atau sekelompok orang. Hal ini bertujuan untuk membalas jasa seseorang atau sekelompok orang. Status sosial di masa kekuasaan Airlangga inilah begitu diperhatikan.
Bahkan konon pengaturan budak juga diatur oleh Airlangga. Dikutip dari buku "Airlangga: Biografi Raja Pembaru Jawa Abad XI" dari Ninie Susanti, Prasasti Baru berangka Tahun 952 Saka disebutkan, raja Airlangga memiliki hak beberapa jenis budak yang hanya boleh dimiliki oleh raja saja. Selain itu dari Prasasti Baru tersebut disebutkan selain rakyat Desa Baru menikmati status sima, mereka juga berhak berhambakan dayang, hunjeman, nambi, dan pujut, yang menjadi hak raja dan keluarganya. Dayang adalah permaisuri atau putri raja, pujut konon budak yang berasal dari ras Negrito. Mereka adalah orang-orang yang mempunyai kelainan fisik dan dianggap memiliki kasekten atau yang berarti ilmu kesaktian.
Pada perkembangan selanjutnya, hak istimewa itu dapat berupa gelar kehormatan, pemberian yang berkenaan dengan gaya hidup yaitu memakai atribut - atribut tertentu, hak untuk memakan makanan tertentu, hak untuk memiliki barang-barang tertentu, dan hak untuk memiliki model-model bangunan tertentu. Contohnya adalah Rakai Pangkaja Dyah Tumambong mendapat hadiah gelar Halu, yaitu diperlakukan seperti adik raja karena jasa-jasanya mendoakan dan menyelamatkan raja di dalam peperangan. Kemudian keluarga Dyah Kakingadulengen (Dyah Kakinadulenen) juga mendapat hak-hak istimewa karena jasanya membela raja. Selanjutnya penduduk karaman i Baru mendapat hak istimewa yaitu boleh memelihara budak yang memiliki berbagai macam penampilan, dan Narottama sahabat raja dianugerahi gelar Rakai Kanuruhan karena jasa-jasanya. Konon kebiasaan menganugerahi hak-hak istimewa ini juga dianut dan menjadi kebiasaan yang dilakukan oleh raja-raja Kerajaan Jenggala, Kediri, hingga berlanjut ke zaman Majapahit.


KONSULTASI ATAU PESAN BANTEN KEBUTUHAN UPAKARA WA: 08976687246 ATAU KLIK DISINI

Tari Jauk

 



Tari Jauk menggambarkan raja atau pemimpin yang sangat angkuh dan sombong seperti raksasa bermahkotakan raja.


Topeng Jauk selalu berwarna merah menyala atau putih dengan mata melotot. Tarian ini sudah ada sejak abad ke 18.

Tari ini menggambarkan seorang Raksasa yang menggunakan Mahkota (gelungan) dimana dia ini sedang bekelana.

Tarian ini memiliki gerakan yg fleksibel.
Penarinya menggunakan kostum yg mirip dengan tari Baris, tetapi bedanya, dia menggunakan Topeng dan Gelungan (mahkota) yg mirip mahkota raja dan juga memakai sarung tangan dgn kuku yg panjang.
Tari jauk dibagi menjadi 2 jenis :
Jauk Keras
Jauk Manis

Jauk Keras seperti namanya, gerakannya pun lebih bringas. dimana gerakannya lebih energik dan gongnya pun bertempo cepat. biasanya mempunyai standar gerakan sendiri. Topeng yang di pakai adalah topeng yang berwarna merah, dimana menggambarkan keberingasan sang Raksasa.

Jauk Manis, jauk ini seperti namanya, mempunyai gerakan yang lebih berwibawa. aslinya jauk manis ini pakaiannya sama dengan jauk keras tapi bedanya ada di topengnya dimana topengnya menggunakan warna putih dan kelihatan lebih berwibawa.

Sumber : Sejarah Bali / FB