Rabu, 16 Juli 2025

Pohon-nya kenapa disembahyangi atau di-ikatkan kain warna Hitam & Putih (poleng)




Sering kali muncul pertanyaan, itu Pohon-nya kenapa disembahyangi atau di-ikatkan kain warna Hitam & Putih (poleng) ? Apakah ada Penunggunya ya, kok serem banget dan jadi takut lewat sana.

Nah sebagai Orang Bali & tinggal di Bali, wajib hukumnya kita paham dan bisa memberikan penjelasan yang benar, agar makna gambar diatas tidak multitafsir

Kita kembali ke dasar dari ajaran Hindu Bali adalah Tri Hita Karana, yang berasal dari kata tiga penyebab terciptanya kebahagiaan manusia. Terciptanya kebahagiaan manusia ini adalah adanya hubungan yang selaras antara Manusia dengan Tuhan, Manusia dengan Alam, serta sesama Manusia. Bagi pohon yang besar seperti beringin termasuk dalam kriteria hubungan Manusia dengan Alam, dimana fungsi pohon adalah sebagai penyaring udara dengan menghasilkan oksigen, sebagai penyedia makanan bagi hewan herbivora, menjaga kesuburan tanah, serta menahan laju air dan erosi, dan menjadikan lingkungan lebih nyaman
.
Sedangkan kain Htam-Putih (poleng) dalam budaya bali merupakan simbol dari Rwa Bhineda suatu konsep keseimbangan baik dan buruk. Jika kembali ke pertanyaan kenapa pohon besar diselimuti kain hitan putih & diberi sesajen, maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa hal tersebut adalah bentuk penghormatan Manusia kepada Alam sekitar dengan memperhatikan dampak baik buruknya perlakuan manusia terhadap alam dengan simbol pepohonan tersebut

Apabila Alam dihancurkan dengan penebangan liar, akan mengakibatkan banjir, polusi, dan kepunahan berbagai habitat didalamnya, dan akan berdampak juga terhadap manusia itu sendiri, sehingga keseimbangan ini harus dijaga dengan bentuk penghormatan, serta diberikan simbol kain hitam putih pada pohon, dan juga pada benda benda tertentu

Demikianlah konsep dari Tri Hita Karana yang selalu di agung agungkan masyarakat Bali dalam menghadapi perkembangan globalisasi. Mungkin saja dahulu masyarakat Bali menggampangkan jawaban dengan mengatakan ada penunggunya dan tenget (angker) dengan tujuan agar manusia tidak merusak/menebang pohon, sehingga kelestarian alam dapat terpelihara..


KONSULTASI ATAU PESAN BANTEN KEBUTUHAN UPAKARA WA: 08976687246 ATAU KLIK DISINI

Kisah Budak Sakti Istimewa yang Dimiliki Raja Airlangga saat Bertakhta



________________________________________________
Airlangga merupakan raja sekaligus pendiri Kerajaan Kahuripan yang merupakan keturunan dari Mpu Sindok. Di bawah pemerintahan Airlangga Kahuripan dibawa menjadi sebuah kerajaan yang begitu disegani dan meneruskan trah raja-raja besar jawa dari anaknya. Sebagaimana umumnya sosok raja, Airlangga juga begitu dihormati oleh rakyatnya. Sang raja juga memiliki pelayan khusus untuk menjalankan pemerintahan sehari-harinya, hal yang sama juga terjadi pada Raja Airlangga. Di masa pemerintahan Airlangga, ia memiliki hak khusus atau istimewa kepada seseorang atau sekelompok orang. Hal ini bertujuan untuk membalas jasa seseorang atau sekelompok orang. Status sosial di masa kekuasaan Airlangga inilah begitu diperhatikan.
Bahkan konon pengaturan budak juga diatur oleh Airlangga. Dikutip dari buku "Airlangga: Biografi Raja Pembaru Jawa Abad XI" dari Ninie Susanti, Prasasti Baru berangka Tahun 952 Saka disebutkan, raja Airlangga memiliki hak beberapa jenis budak yang hanya boleh dimiliki oleh raja saja. Selain itu dari Prasasti Baru tersebut disebutkan selain rakyat Desa Baru menikmati status sima, mereka juga berhak berhambakan dayang, hunjeman, nambi, dan pujut, yang menjadi hak raja dan keluarganya. Dayang adalah permaisuri atau putri raja, pujut konon budak yang berasal dari ras Negrito. Mereka adalah orang-orang yang mempunyai kelainan fisik dan dianggap memiliki kasekten atau yang berarti ilmu kesaktian.
Pada perkembangan selanjutnya, hak istimewa itu dapat berupa gelar kehormatan, pemberian yang berkenaan dengan gaya hidup yaitu memakai atribut - atribut tertentu, hak untuk memakan makanan tertentu, hak untuk memiliki barang-barang tertentu, dan hak untuk memiliki model-model bangunan tertentu. Contohnya adalah Rakai Pangkaja Dyah Tumambong mendapat hadiah gelar Halu, yaitu diperlakukan seperti adik raja karena jasa-jasanya mendoakan dan menyelamatkan raja di dalam peperangan. Kemudian keluarga Dyah Kakingadulengen (Dyah Kakinadulenen) juga mendapat hak-hak istimewa karena jasanya membela raja. Selanjutnya penduduk karaman i Baru mendapat hak istimewa yaitu boleh memelihara budak yang memiliki berbagai macam penampilan, dan Narottama sahabat raja dianugerahi gelar Rakai Kanuruhan karena jasa-jasanya. Konon kebiasaan menganugerahi hak-hak istimewa ini juga dianut dan menjadi kebiasaan yang dilakukan oleh raja-raja Kerajaan Jenggala, Kediri, hingga berlanjut ke zaman Majapahit.


KONSULTASI ATAU PESAN BANTEN KEBUTUHAN UPAKARA WA: 08976687246 ATAU KLIK DISINI

Tari Jauk

 



Tari Jauk menggambarkan raja atau pemimpin yang sangat angkuh dan sombong seperti raksasa bermahkotakan raja.


Topeng Jauk selalu berwarna merah menyala atau putih dengan mata melotot. Tarian ini sudah ada sejak abad ke 18.

Tari ini menggambarkan seorang Raksasa yang menggunakan Mahkota (gelungan) dimana dia ini sedang bekelana.

Tarian ini memiliki gerakan yg fleksibel.
Penarinya menggunakan kostum yg mirip dengan tari Baris, tetapi bedanya, dia menggunakan Topeng dan Gelungan (mahkota) yg mirip mahkota raja dan juga memakai sarung tangan dgn kuku yg panjang.
Tari jauk dibagi menjadi 2 jenis :
Jauk Keras
Jauk Manis

Jauk Keras seperti namanya, gerakannya pun lebih bringas. dimana gerakannya lebih energik dan gongnya pun bertempo cepat. biasanya mempunyai standar gerakan sendiri. Topeng yang di pakai adalah topeng yang berwarna merah, dimana menggambarkan keberingasan sang Raksasa.

Jauk Manis, jauk ini seperti namanya, mempunyai gerakan yang lebih berwibawa. aslinya jauk manis ini pakaiannya sama dengan jauk keras tapi bedanya ada di topengnya dimana topengnya menggunakan warna putih dan kelihatan lebih berwibawa.

Sumber : Sejarah Bali / FB

Tirtha Sunia Mertha dengan simbol warna tirtha,

 


1. Warna Putih, perlambang Ida Bhatara Hyang Genijaya yang disimbolkan dengan warna putih selalu berhubungan dengan kesucian (rokhani).
2. Warna Kuning, perlambang Ida Bhatara Hyang Putrajaya sebagai refleksi dari kehidupan kita dalam hal menegakkan kekuasaan, kewibawaan dan kecerdasan, yang banyak hubungannya dengan keamanan dan ketertiban.
3. Warna Hitam, perlambang Ida Bhatara Dewi Danuh sebagai refleksi kemakmuran, kesuburan dan kesejahteraan peran ini penting untuk tercapainya tujuan hidup "Moksartham Jagathita ya Caiti Darma".

#bali #baliindonesia #taksu #taksubali #taksu_bali #upakara #bantenbali #canangsari #hindu #hindubali #pura #tradisibali #infobali #infodenpasar 


Sabtu, 12 Juli 2025

𝘽𝙖𝙡𝙞𝙣𝙚𝙨𝙚 𝙈𝙖𝙣𝙣𝙚𝙣, 𝙋𝙤𝙚𝙣𝙜𝙜𝙖𝙬𝙖 (𝘿𝙞𝙨𝙩𝙧𝙞𝙘𝙩𝙨𝙝𝙤𝙤𝙛𝙙𝙚𝙣) 𝙫𝙖𝙣 𝘽𝙡𝙖𝙟𝙤𝙚, 𝙑𝙚𝙧𝙢𝙤𝙚𝙙𝙚𝙡𝙞𝙟𝙠 𝙞𝙣 𝘽𝙖𝙙𝙤𝙚𝙣𝙜



adalah sebuah foto sekitar tahun 1920 yang menampilkan para poenggawa (kepala distrik) dari Blajoe, kemungkinan di wilayah Badung, Bali waktu itu.
Foto ini merupakan bagian dari koleksi Bali dan dicetak dalam format cermin terbalik.
Dulu (Circa 1920) – Blajoe sebagai Pusat Pemerintahan Lokal
Pada awal abad ke-20, Blajoe (sekarang Belayu, Tabanan) merupakan bagian dari sistem pemerintahan tradisional Bali. Poenggawa adalah kepala distrik yang berperan dalam administrasi, hukum adat, dan hubungan dengan penguasa kolonial Belanda yang saat itu mengontrol Bali melalui sistem Zelfbestuur (Pemerintahan Sendiri).

Saat ini, Belayu adalah bagian dari Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, Bali. Struktur pemerintahan telah berubah dari sistem poenggawa menjadi pemerintahan desa dalam sistem administrasi Indonesia. Desa-desa di Belayu masih menjaga nilai adat, dengan bendesa adat sebagai tokoh yang memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat.

foto sekitar tahun 1920
Sumber: KITLV 9268.


BAGAIMANA MENENTUKAN HARI TILEM (YANG SEBENARNYA)



Purnama dan tilem (bulan penuh dan bulan gelap) adalah dua hari khusus yang tidak hanya penting bagi umat Hindu, tetapi juga bagi umat lain seperti Buddha, Konghucu, bahkan Islam. Hanya saja, istilahnya berbeda dan masing-masing keyakinan menekankan pada aspek berbeda dari keduanya.
Jika umat Islam sangat mementingkan hari candra darsana (hilal, dalam bahasa Arab), maka umat Hindu dan Buddha menitikberatkan pada hari purnama dan tilem itu sendiri. Karena itu, perhitungan kapan terjadinya purnama dan tilem menjadi sangat penting sebab pada kedua hari itu ada energi kosmik yang besar. Jika perhitungannya salah, maka orang tidak bisa mendapatkan manfaat spiritual yang maksimal.
Mari kita berpikir sederhana. Logikanya, karena purnama dan tilem terkait dengan pergerakan bulan yang bisa diamati langsung, maka kita harus benar-benar langsung mengamati posisi bulan agar sungguh-sungguh yakin kapan purnama dan tilem jatuh--bukan sebatas hitung-hitungan semata tanpa observasi langsung.
Cara agar kita tahu dengan pasti kapan hari tilem jatuh adalah sebagai berikut. Dalam penjabaran ini ada sedikit hitung-hitungan derajat. Jadi, mungkin Anda perlu membacanya beberapa kali.
1) Dua hari sebelum hari di mana tilem diperkirakan tiba, bangunlah sekitar pukul 5 pagi saat langit masih gelap. Tunggulah sampai Anda melihat bulan sabit kecil di cakrawala timur. Catat jamnya.
2) Tilem terjadi ketika bulan dan matahari berada dalam derajat bujur yang sama (0 derajat--keduanya ada di tempat yang sama). Bulan bergerak mendekati matahari sekitar 12 derajat per hari. Dua belas derajat sama dengan 48 menit waktu rotasi bumi.
3) Anggaplah matahari terbit kira-kira pukul 6.30 pagi. Pukul 6.30 dikurangi 48 menit adalah pukul 5.42. Jika Anda melihat bulan sabit kecil terbit di cakrawala timur sebelum pukul 5.42 (katakanlah pukul 5.30 atau malah pukul 5 pagi), maka tilem akan terjadi 2 hari setelah hari itu.
4) Jika Anda baru bisa melihat bulan sabit kecil itu terbit di rentang waktu setelah pukul 5.42, maka tilem bisa dipastikan jatuh keesokan harinya.
Semoga penjelasan saya dapat dipahami. Saya tidak pandai menjelaskan hitungan.
Sistem 48 menit (sebenarnya 47 menit 52 detik) sangat penting dalam Jyotisa Sastra. Rentang waktu 48 menit disebut satu muhurta, yang kemungkinan diadopsi menjadi sistem asta dauh dalam kalender astronomi Bali. 48 menit adalah waktu yang dibutuhkan bumi untuk berotasi sejatuh 12 derajat, yang sama dengan lamanya bulan bergerak dalam satu hari tithi (hari bulan--lunar day).
Sistem ini dipakai oleh banyak ahli astronomi lintas agama dan budaya. Kita bisa melihat di kalender umum bahwa hari Waisak pasti jatuh pada hari purnama dan hari Imlek pasti jatuh pada hari tilem. Mengapa demikian? Karena ahli astronomi mereka menggunakan pengamatan bulan langsung, bukan perhitungan spekulasi. Dari ribuan tahun lalu, hari Waisak dan Imlek pasti jatuh pada purnama dan tilem. Karena itu pula, hari Waisak dikenal dengan nama hari "Buddha Purnima Jayanti" (hari kemunculan Buddha pada hari purnama).

sc Arya Lawa Manuaba


PURA MEDUWE KARANG KUBUTAMBAHAN,BULELENG BALI , INDONESIA

 


Pura Meduwe Karang, sebuah pura dengan relief unik di Bali
Terletak di Desa Kubutambahan, Kecamatan Kubutambahan ± 12 km sebelah timur Kota Singaraja, kurang lebih 1 km dari pertigaan Singaraja, Kubutambahan dan Kintamani. Pura
ini tempat memohon agar tanaman di tegalan bias berhasil dan baik. Gugusan tangga mengantarkan pengunjung ke suatu areal luar pura (Jabaan) yang luas yang di bagian
depannya dihiasi patung-patung batu padas, 34 jumlahnya, yang diambil dari tokoh-tokoh dan adegan-adegan ceritera Ramayana.
Lingkungan Pura Maduwe Karang adalah salah satu lingkungan Pura di Bali yang telah dikenal wisatawan mancanegara sebelum Perang Dunia Kedua. Di Jaman itu wisatawan mancanegara datang ke Bali melalui laut di Pelabuhan Buleleng. Di tempat ini sambil menunggu angkutan umum para wisatawan mempergunakan waktu untuk mengunjungi Lingkungan Pura Beji di Desa Sangsit, Lingkungan Pura Maduwe Karang di Desa Kubutambahan.Lingkungan Pura ini terdiri dari tiga tingkat yaitu Jaba Pura di luar lingkungan pura atau Jabaan, Jaba Tengah, dan Jeroan, bagian paling dalam adalah yang
paling disucikan. Dua buah tangga batu menanjak menuju Jaba Pura, yang di bagian depannya dihiasi patung-patung batu padas, tiga puluh empat jumlahnya, yang diambil dari
tokoh-tokoh dan adegan-adegan ceritera Ramayana.
Patung yang berdiri di tengah-tengah memperlihatkan Kumbakarna yang sedang berkelahi dan dikeroyok oleh kera-kera laskar Sang Sugriwa. Yang unik, pada bagian dinding di sebelah utara terdapat ukiran relief orang naik sepeda yang roda belakangnya terdapat daun bunga tunjung. Daya tarik lain adalah pahatan Durga dalam manifestasinya sebagai Rangda, dalam posisi duduk dengan kedua lututnya terbuka lebar sehingga alat kelaminnya jelas kelihatan.
Tangan kanannya diletakkan di atas kepala seorang anak kecil yang berdiri di sebelah lututnya, kaki kanannya diletakkan di atas binatang bertanduk yang sedang berbaring. Pada bagian lain dari dinding lingkungan pura ini terdapat pahatan seorang penunggang kuda terbang dan pahatan Astimuka. Tokoh ini dilukiskan sama dengan Sang Hyang Gana (Ganesha), yakni dewa dengan muka gajah. Kungkungan Pura Maduwe Karang ini terletak di Desa Kubutambahan, 12 km sebelah Timur Singaraja.
Yang unik, pada bagian bawah dinding disebelah utara terdapat ukiran relief orang naik sepeda yang roda belakangnya terbuat dari daun bunga teratai.
Berdasarkan asal usul sejarah Pura Meduwe Karang, yang bersumber dari hasil studi dan penelitian sejarah Pura-Pura di Bali tahun 1981/1982 oleh pemerintah daerah Bali yang bekerjasama dengan Institut Hindhu Dharma (IHD) Denpasar, Pura Maduwe Karang, di bangun pada abad ke 19 Masehi, tepatnya pada tahun 1890 oleh para migrasi local, yang
berasal dari Desa Bulian, sebuah Desa Bali Kuno, ke lokasi Desa Kubutambahan.
Sesuai dengan istilah yang dipergunakan , disebut Pura Maduwe Karang berarti yang memilikim Karang (memiliki lahan, yang berupa tanah tegalan) di Desa Kubutambahan,
permukiman Baru migrant asal desa Bulian. Sehingga dengan demikian, Pura Maduwe Karang berstatus dan berkedudukan sebagai Pura perlak (Pura subak abian) yang diempon ,
diemong, disungsung dan disiwi oleh karma Subak Kubutambahan yang asal-usulnya berasal dari imigran petani desa Bulian. Dengan kata lain Pura Maduwe Karang
Sumber : http://wisata-bali.com/pura-meduwe-karang.html/
Foto : P.F.VALOIS (Tahun 1935 - 2014 )