Sabtu, 12 Juli 2025

Dalem Waturenggong: Raja Keemasan Bali di Abad ke-16

 


Dalem Baturenggong, juga dikenal sebagai ๐ƒ๐š๐ฅ๐ž๐ฆ ๐–๐š๐ญ๐ฎ๐ซ๐ž๐ง๐ ๐ ๐จ๐ง๐ , ๐„๐ง๐ ๐ ๐จ๐ง๐ , atau ๐ƒ๐š๐ฅ๐ž๐ฆ ๐’๐ซ๐ข ๐–๐ข๐ฃ๐š๐ฒ๐š ๐Š๐ž๐ฉ๐š๐ค๐ข๐ฌ๐š๐ง, adalah raja besar yang memerintah Bali pada pertengahan abad ke-16 (1520-1558 M). Di bawah kepemimpinannya, Kerajaan Gelgel mencapai puncak kejayaan dengan ekspansi politik, perkembangan budaya, dan penguatan agama Hindu di Bali.
Masa Keemasan
Mengukuhkan dominasi Gelgel atas kerajaan-kerajaan kecil di Bali dan Nusa Tenggara
Mendorong renovasi budaya, termasuk perkembangan seni dan sastra
Memperkuat pengaruh agama Hindu-Siwa dan Siwa-Buddha dalam struktur kerajaan
Warisan Dalem Baturenggong
Sebagai raja yang dipandang sebagai model ideal, Dalem baturenggong meninggalkan jejak mendalam dalam sejarah Bali, baik dalam sistem pemerintahan maupun kehidupan religius masyarakat.

#bali #baliindonesia #taksu #taksubali #taksu_bali #upakara #bantenbali #canangsari #hindu #hindubali #pura #tradisibali #infobali #infodenpasar


Menjual Tanah Leluhur Dalam ajaran ๐—›๐—ถ๐—ป๐—ฑ๐˜‚ ๐—•๐—ฎ๐—น๐—ถ

  



Dalam ajaran ๐—›๐—ถ๐—ป๐—ฑ๐˜‚ ๐—•๐—ฎ๐—น๐—ถ,terutama yang tertulis dalam berbagai lontar seperti Lontar Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul dan Lontar Sarasamuccaya, ada konsep karmaphala yang mengingatkan bahwa setiap perbuatan akan berbuah, baik atau buruk.

๐Š๐ฎ๐ญ๐ฎ๐ค๐š๐ง ๐๐š๐ง ๐Š๐š๐ซ๐ฆ๐š๐ฉ๐ก๐š๐ฅ๐š ๐๐š๐ฅ๐š๐ฆ ๐Š๐จ๐ง๐ญ๐ž๐ค๐ฌ ๐Œ๐ž๐ง๐ฃ๐ฎ๐š๐ฅ ๐“๐š๐ง๐š๐ก ๐‹๐ž๐ฅ๐ฎ๐ก๐ฎ๐ซ
Lontar Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul
Dikatakan bahwa tanah warisan leluhur memiliki taksu (spiritual energy) yang jika disalahgunakan atau dijual tanpa pertimbangan dharma, akan membawa penderitaan bagi keturunan.
"๐™”๐™–๐™ฃ ๐™ฌ๐™ฌ๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™ก๐™ช๐™ฅ๐™ช๐™ฉ ๐™ง๐™ž๐™ฃ๐™œ ๐™จ๐™ฌ๐™–๐™™๐™๐™–๐™ง๐™ข๐™–๐™ฃ๐™ž๐™ฃ๐™œ ๐™ฅ๐™–๐™ ๐™ง๐™–๐™ข๐™–๐™ฃ, ๐™ž๐™˜๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™–๐™ฅ๐™–๐™ก๐™–๐™ง๐™ž๐™ฃ๐™œ ๐™จ๐™–๐™ฃ๐™œ๐™ ๐™–๐™ก๐™–๐™ฃ, ๐™ฉ๐™–๐™ฃ ๐™ ๐™–๐™ฌ๐™š๐™ ๐™ง๐™ž๐™ฃ๐™œ ๐™—๐™๐™ช๐™ฌ๐™–๐™ฃ๐™–."
(Barang siapa yang melupakan dharma di desanya, ia akan tertimpa kemalangan dan tak akan menemukan kedamaian di dunia.)
Lontar Wrhaspati Tattwa
Mengajarkan bahwa menjual tanah warisan leluhur untuk kepentingan duniawi tanpa dharma akan menimbulkan karmaphala buruk:
"๐™Ž๐™ž๐™ง๐™– ๐™ข๐™ฌ๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™ฉ๐™ช๐™ง๐™ช๐™ฃ๐™–๐™ฃ๐™ž๐™ง๐™– ๐™–๐™ฃ๐™–๐™ข๐™ฅ๐™– ๐™ฌ๐™ž๐™จ๐™š๐™จ๐™–๐™ฃ๐™ž๐™ฃ๐™œ ๐™ฅ๐™–๐™ฅ๐™–, ๐™ข๐™–๐™ฉ๐™ž ๐™ฉ๐™–๐™ฃ ๐™จ๐™ช๐™ ๐™–๐™ฃ๐™ž๐™ ๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™–๐™ฉ๐™ข๐™–."
(Orang yang menjual tanah leluhurnya tanpa dharma, ia dan keturunannya akan menerima penderitaan, bahkan setelah kematian, jiwanya tidak akan tenang.)
Lontar Sarasamuccaya (Sloka 135)
Menjelaskan bahwa tindakan yang ๐ฆ๐ž๐ง๐ ๐ก๐š๐ง๐œ๐ฎ๐ซ๐ค๐š๐ง ๐ค๐ž๐ฌ๐ž๐ข๐ฆ๐›๐š๐ง๐ ๐š๐ง ๐š๐ฅ๐š๐ฆ ๐๐š๐ง ๐ฐ๐š๐ซ๐ข๐ฌ๐š๐ง ๐ฅ๐ž๐ฅ๐ฎ๐ก๐ฎ๐ซ ๐š๐ค๐š๐ง ๐ฆ๐ž๐ฆ๐›๐š๐ฐ๐š ๐ฉ๐ž๐ง๐๐ž๐ซ๐ข๐ญ๐š๐š๐ง ๐›๐š๐ ๐ข ๐ ๐ž๐ง๐ž๐ซ๐š๐ฌ๐ข ๐ฆ๐ž๐ง๐๐š๐ญ๐š๐ง๐ :
"๐™„๐™ ๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™ฅ๐™๐™–๐™ก๐™–๐™ฃ๐™ž๐™ฃ๐™œ ๐™ฌ๐™š๐™ ๐™–๐™จ ๐™ž๐™ ๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™ฅ๐™–๐™ฅ๐™–, ๐™ฉ๐™–๐™ฃ ๐™ฌ๐™š๐™ฃ๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™จ๐™ž๐™ฃ๐™–๐™ฃ๐™œ๐™œ๐™ž๐™๐™–๐™ฃ ๐™ง๐™ž๐™ฃ๐™œ ๐™ฉ๐™ช๐™ง๐™ช๐™ฃ๐™–๐™ฃ."
(Buah dari perbuatan buruk akan diterima oleh keturunan, tidak bisa dihindari.)
๐๐ž๐ฌ๐š๐ง ๐๐š๐ซ๐ข ๐‹๐จ๐ง๐ญ๐š๐ซ ๐ฎ๐ง๐ญ๐ฎ๐ค ๐Š๐ข๐ญ๐š ๐’๐ž๐ค๐š๐ซ๐š๐ง๐ 
Jika kita menjual tanah warisan tanpa mempertimbangkan kesejahteraan masyarakat dan kelangsungan budaya, maka kita tidak hanya mengkhianati leluhur, tetapi juga menanam karmaphala buruk bagi diri sendiri dan anak cucu.
๐ŸŒฟ "๐—๐—ฎ๐—ด๐—ฎ ๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ฎ๐—ต ๐—•๐—ฎ๐—น๐—ถ, ๐—ท๐—ฎ๐—ด๐—ฎ ๐˜๐—ฎ๐—ธ๐˜€๐˜‚ ๐—น๐—ฒ๐—น๐˜‚๐—ต๐˜‚๐—ฟ, ๐—ท๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—ฏ๐—ถ๐—ฎ๐—ฟ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ฒ๐˜๐˜‚๐—ฟ๐˜‚๐—ป๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ถ๐˜๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐—ฝ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ถ ๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ฎ๐—ต ๐˜€๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ถ๐—ฟ๐—ถ."


KONSULTASI ATAU PESAN BANTEN KEBUTUHAN UPAKARA WA: 08976687246 ATAU KLIK DISINI



Jika Tuhan Maha Satu, lalu mengapa ada banyak ritual diluar pemujaan tunggal kepada-Nya?




 Jika Tuhan Maha Satu, lalu mengapa ada banyak ritual diluar pemujaan tunggal kepada-Nya? Tuhan menjawab pertanyaan ini


Akulah ritual, Akulah korban suci, Aku persembahan kepada leluhur, ramuan yang menyembuhkan, dan mantra-mantra yang bertuah. Aku adalah segala apa yang dipersembahkan

Konsep ketuhanan dalam Hindu bukanlah konsep monoteisme agama-agama Abraham dengan dogma siksaan derita api neraka jika menyekutukan-Nya. Vฤsudeva bersabda:

Aku bersemayam di dalam hati semua makhluk. Begitu seseorang menyembah dewatฤ tertentu, Aku menjadikan kepercayaannya mantap supaya ia dapat menyerahkan diri kepada dewa itu.

Tuhan dalam Hindu adalah Maha-netral dan bukan Tuhan yang pencemburu:

Setelah diberi kepercayaan seperti itu, dia berusaha menyembah dewa tertentu dan memperoleh apa yang diinginkannya. Tetapi sebenarnya hanya Aku sendiri yang menganugerahkan berkat-berkat itu.

Jadi Brahman dalam Hindu adalah Maha-meresapi segalanya. Tat-tvam-asi, Tuhan bersemayam di dalam setiap individu, Dia adalah Nฤrฤyaแน‡a, karena memiliki makhluk hidup sebagai tubuh-Nya.

Pemujaan kepada leluhur, dewa, dan unsur-unsur alam didasarkan pada pengetahuan bahwa Maheล›vara adalah penghuni batin mereka sebagai Antaryฤmin (yang mengendalikan dari dalam). Ahaแน hi sarva-yajรฑฤnฤแน
bhoktฤ ca prabhur eva ca, "Satu-satunya Aku yang menikmati dan menguasai semua korban suci."
Bhagavad Gฤซtฤ (9.24)

Maka dari itu konsep 5 macam pengurbanan suci (paรฑca-yajรฑฤ) dalam Hindu tidak dapat diganggu gugat:—

Janganlah kau sampai lupa berbhakti kepada: dewatฤ (deva-yajรฑaแนƒ); unsur-unsur alam (bhลซta-yajรฑaแนƒ); guru (แน›แนฃi-yajรฑaแนƒ); sesama manusia (maแน‡usyฤแธฅ); dan kepada leluhur (pitแน›ya-yajรฑaแนƒ). ⁣
Mฤnava-Dharmaล›ฤstra (4.21) ⁣

Via: @filsafat_hindu


“Menelusuri Asal-Usul Bahasa Sansekerta: Warisan Nusantara yang Terlupakan”



Selama ini, kita diajarkan bahwa bahasa Sansekerta berasal dari India. Namun, ada banyak fakta menarik yang justru mengarah pada kesimpulan berbeda: bahasa Sansekerta memiliki akar yang kuat di Nusantara, bukan di India. Sayangnya, akibat kolonialisme dan propaganda sejarah, peran Nusantara dalam perkembangan bahasa ini nyaris terhapus.
Mengapa Nusantara?
1. Sansekerta Sudah Digunakan Sejak Lama di Nusantara
Sejak ribuan tahun lalu, masyarakat Nusantara sudah menggunakan bahasa Sansekerta dalam berbagai aspek kehidupan, baik dalam keagamaan, sastra, maupun pemerintahan. Kata bhฤแนฃa yang berarti “logat bicara” dalam Sansekerta sendiri sudah melekat dalam bahasa kita, menjadi “bahasa”.
2. Pengakuan Para Ahli Bahasa
Sir William Jones, seorang filolog asal Inggris, dalam pidatonya pada tahun 1786 menyebutkan bahwa bahasa Sansekerta memiliki kesempurnaan yang luar biasa dan memiliki keterkaitan erat dengan bahasa Yunani serta Latin. Namun, ia juga menyebutkan bahwa bahasa ini berasal dari sumber yang “kemungkinan sudah tidak ada lagi.” Bisa jadi, yang dimaksud adalah bahasa Nusantara kuno.
3. Bukti Sejarah: Pusat Pendidikan Nusantara Lebih Tua dari India
• Sebelum Universitas Nalanda di India (427 M) didirikan, Nusantara sudah memiliki pusat pembelajaran besar bernama Dharma Phala di Swarnadvipa (Sumatra).
• Tokoh seperti Dharmapala (670–580 SM), seorang pemikir besar yang lahir di Swarnadvipa, berperan penting dalam menyebarkan ajaran Dharma ke India.
4. Banyaknya Kata Sansekerta dalam Bahasa Indonesia
Ribuan kata dalam bahasa Indonesia berasal dari Sansekerta, seperti agama (ฤgama), cinta (cintฤ), antariksa (antarikแนฃa), dan banyak lagi. Sementara di India sendiri, bahasa Sansekerta justru tidak digunakan dalam percakapan sehari-hari.
Benarkah Sansekerta Berasal dari India?
Sejarah konvensional mengaitkan bahasa Sansekerta dengan Pฤแน‡ini, seorang pakar tata bahasa dari wilayah yang kini disebut Pakistan. Pฤแน‡ini menulis Aแนฃแนญฤdhyฤyฤซ pada abad ke-5 SM, yang berisi 3.959 aturan tata bahasa Sansekerta. Namun, bukti tertulis yang lebih tua dari itu tidak ditemukan di India.
Aksara yang dianggap sebagai asal-usul Sansekerta, seperti Brahmi dan Devanagari, baru muncul sekitar abad ke-3 SM hingga abad ke-11 M. Jika memang Sansekerta sudah ada sejak ribuan tahun sebelumnya, mengapa bukti tertulis tertua di India baru muncul jauh belakangan?
Sebaliknya, Nusantara telah memiliki aksara sendiri yang lebih tua dan berkembang, seperti aksara Kawi, Pallawa, dan lainnya, yang erat kaitannya dengan Sansekerta.
Sansekerta: Bahasa yang Dirakit?
Peneliti seperti Shyama Rao (1999) mengungkapkan bahwa Sansekerta sebenarnya merupakan bahasa yang “dirakit” dari berbagai bahasa lain. Rao menyoroti beberapa kelemahan Sansekerta:
• Tata bahasanya terlalu rumit dan tidak konsisten
• Tidak membedakan jenis kelamin
• Tidak mengenal bentuk tunggal dan jamak
• Banyak sinonim dan homonim yang mirip dengan bahasa Nusantara
Bahkan, pada tahun 1951, hanya ada sekitar 555 orang penutur Sansekerta di India dari total 362 juta penduduknya! Sementara di Nusantara, ribuan kata Sansekerta masih digunakan dalam bahasa sehari-hari.
Siapa yang Mempengaruhi Siapa?
Jika kita menelaah sejarah lebih dalam, justru budaya dan bahasa Nusantara-lah yang lebih dulu berkembang dan mempengaruhi India, bukan sebaliknya. Buktinya:
1. Nama-Nama Raja Kamboja dan Nusantara
• Banyak raja di Kamboja dahulu menggunakan nama dengan akhiran Warman, seperti Adityawarman dari Majapahit.
• Namun, nama raja Kamboja modern, seperti Norodom Sihanouk, sudah jauh dari unsur bahasa Nusantara.
2. Jejak Bahasa Nusantara di Dunia
• Bahasa Jawa, Sunda, dan Bali mengandung banyak kata dari Sansekerta.
• Bahasa Melayu sendiri memiliki sekitar 50% kosa kata yang berasal dari Sansekerta.
Kesimpulan: Saatnya Mengakui Warisan Kita
Kolonialisme telah mengaburkan sejarah asli Nusantara. Kita sering diajarkan bahwa Sansekerta berasal dari India, padahal banyak bukti menunjukkan bahwa Nusantara justru lebih dulu memiliki bahasa dan budaya yang kuat.
Bahkan, jika kita melihat sejarah perkembangan bahasa komputer, yang dipilih sebagai nama bahasa pemrograman fleksibel adalah JavaScript mengacu pada fleksibilitas orang Jawa dalam berbahasa.
Sudah saatnya kita menggali kembali kejayaan nenek moyang kita dan bangga terhadap warisan budaya yang telah diwariskan. Nusantara bukan hanya penerima pengaruh, tetapi justru sumber dari banyak peradaban dunia! 


ANAK RAJA HAYAM WURUK (MAJAPAHIT)



RAJA PERTAMA KERAJAAN NAGARA DIPA DI KALIMANTAN SELATAN."
NAGARA DIPA adalah cikal bakal kesultanan Banjar, Nagara Dipa didirikan pada tahun 1362 di dekat Candi Agung Amuntai Hulu Sungai Utara, kerajaan ini dirintis oleh Ampu Jatmika dan kedua anaknya Ampu Mandastana dan Lambung Mangkurat yg berasal dari Keling salah satu provinsi kerajaan Majapahit yg terletak di sebelah timur kota Kediri dekat kota Pare.
Kerajaan Nagara Dipa dirintis dan dibangun oleh Ampu Jatmika, karena Ampu Jatmika tidak ada keturunan raja maka Ampu Jatmika tidak berani menjadi raja di Kerajaan Nagara Dipa, sehingga dibuat patung dari kayu yg diletakkan di dalam candi Laras yg ada di kabupaten Tapin sebagai simbol Raja agar Ampu Jatmika tidak mendapatkan kualat (Katulahan) .
Setelah kerajaan Nagara Dipa benar benar siap dan kokoh dan dipindahkan ke Amuntai menduduki bekas kerajaan Nan Sarunai,maka Ampu Jatmika berniat menjemput pangeran dari kerajaan Majapahit untuk dijadikan raja di Kerajaan Nagara Dipa, tapi Ampu Jatmika jatuh sakit dan mangkat, kemudian tugas penjemputan dilanjutkan oleh anaknya yang bernama Lambung Mangkurat untuk pergi ke Majapahit untuk menjemput pangeran Surianata anak dari Raja Hayam Wuruk untuk dijadikan raja di Kerajaan Nagara Dipa.
Setelah Pangeran Surianata dari Majapahit diangkat menjadi raja di Kerajaan Nagara Dipa, Pangeran Surianata mengawini Putri sulung dari Raja terakhir kerajaan Nan Sarunai yang bernama Putri Junjung Buih. Sehingga kondisi politik di kerajaan Nagara Dipa menjadi damai tidak ada lagi perseteruan dengan orang Ma'anyan dan suku suku lokal lain nya yg ada di wilayah kerajaan Nagara Dipa, sehingga kerajaan Nagara Dipa menjadi maju pesat dan terus berkembang sehingga mampu menaklukkan berbagai kerajaan lain di pulau Kalimantan.

#bali #baliindonesia #taksu #taksubali #taksu_bali #upakara #bantenbali #canangsari #hindu #hindubali #pura #tradisibali #infobali #infodenpasar