Jumat, 07 Juni 2024

MAKNA DARI SIWALATRI

 


Rahajeng Rahina Siwalatri
Dumogi sami ngemolihan Rahayu
LUBDAKA
Lubdaka adalah seorang pemburu binatang yang memakan dan menjual daging hasil buruannya untuk menafkahi keluarganya. Suatu hari ketia sedang berburu ia tidak memperoleh seekor pun binatang untuk dimakan atau dijual. Tanpa pantang menyerah ia terus berburu hingga ke tengah hutan, karena sampai larut malam, ahirnya ia bermalam dihutan.
Ketakutannya terhadap binatang buas membuatnya memanjat pohon bilwa untuk tempat tidurnya. Dibawah pohon bilwa terdapat air telaga yang jernih, dengan sebuah pelinggih dan Lingga. Perlahan Lubdaka memanjat pohon itu kemudian bersandar diatasnya dan berusaha untuk tidur. Meskipun ia sangat mengantuk ia tidak berani tidur karena kan terjatuh dan dimakan binatang buas, untuk menghilangkan rasa mengantuknya ia memetik daun-daun pohon bilwa dan menjatuhkannya ke bawah, sehingga mengenai Lingga yang ada di bawahnya. Lubdaka sendiri tidak menyadari bahwa malam itu adalah malam Siwalatri, di mana Dewa Siwa tengah melakukan yoga.
 
Ketika ia sedang memetik daun bilwa, ia teringat dengan masa lalunya yang selalu memburu binatang. Lubdaka mulai menyesali segala perbuatan jahat yang pernah dilakukannya sepanjang hidup, baik yang disengaja maupun tidak disengaja. Di atas pohon Bila itu, hatinya bertekad untuk berhenti bekerja sebagai pemburu.
Waktu terasa sangat cepat, ia terus membayangkan masa lalunya hingga matahari terbit, itu menggambarkan bahwa dosa-dosa yang pernah dilakukannya sudah terlalu banyak dan tidak bisa diingatnya satu per satu lagi dalam waktu satu malam. Karena sudah pagi, ia berkemas-kemas pulang ke rumahnya.
Sejak hari itu, Lubdaka beralih pekerjaan sebagai petani. Tapi, petani tidak memberinya banyak kegesitan gerak, sehingga tubuhnya mulai kaku dan sakit, yang bertambah parah dari hari ke hari. Hingga, akhirnya hal ini membuat Lubdaka meninggal dunia. Roh Lubdaka, setelah lepas dari jasadnya, melayang-layang di angkasa. Roh Lubdaka bingung tidak tahu jalan harus ke mana.
Pasukan Cikrabala kemudian datang hendak membawanya ke kawah Candragomuka yang berada di Neraka. Di saat itulah, Dewa Siwa datang mencegah pasukan Cikrabala membawa roh Lubdaka ke kawah Candragomuka. Menurut pasukan Cikrabala, roh Lubdaka harus dibawa ke neraka. Ini disebabkan, semasa ia hidup, ia kerap membunuh binatang. Namun Dewa Siwa berkata lain, Beliau mengatakan bahwa, walaupun Lubdaka kerap membunuh binatang, tapi pada suatu malam di malam Sivalatri, Lubdaka begadang semalam suntuk dan menyesali dosa-dosanya di masa lalu. Sehingga, roh Lubdaka berhak mendapatkan pengampunan. Ahirnya, roh Lubdaka dibawa ke Siwa Loka.

ILMU YANG MENYERANG BALIK TUBUH

 


Olih: Made Adi Suadnyana, S. Psi.
Pembimbing Perguruan Dasa Dhurga
Pernah menjabat sebagai Duta Bahasa Negara tahun 2014
(Sebentuk tanggung jawab atas isi tulisan)
-o-
Om Suastiastu
Ngawit tresna
Mugi rahayu sareng sami
Mohon ijin untuk mengupas kasus-kasus oknum semeton penekun Dasa Aksara & Kanda Pat yang mengalami fenomena ilmu yang menyerang balik tubuh
-o-
OM
Sugra Tabik Pakulun
Ida Hyang Aji Saraswati
Sang Hyang Dasa Aksara
Sang Hyang Panca Sanak
Mugi nenten keni pinulah
Rikala ngemargiang sarining sastra
Ong Ano Badrah Kratawo Yantu Wiswantah.
*
Semeton sane dahat tresnain tiang
Tulisan ini tiang rangkai melihat banyaknya kasus di lapangan, yang dialami oknum penekun ilmu tersebut di atas, baik di Bali maupun di luar Bali.
Kasus-kasus yang tiang kupas khusus terkait ilmu yang menyerang balik tubuh.
Serta bagaimana menanganinya agar justru menjadi titik pencerahan spiritual.
**
Ilmu Dasa Aksara maupun Kanda Pat merupakan dua dari tak terhitung jumlahnya, ilmu-ilmu yang diciptakan oleh Tuhan dalam personifikasi Beliau sebagai Ida Hyang Aji Saraswati, Sinar Suci Tuhan penguasa ilmu pengetahuan.
Apapun ilmu yang ada
Tujuannya sama yaitu
DHARMA
Segala niat dan kerja/karma tanpa terikat dengan hasil untuk memberi manfaat kepada semua mahluk hidup (all sentient beings) untuk mencapai pelepasan sempurna di alam kehidupan.
Sekali lagi
Memberi manfaat kepada semua mahluk di sekalian alam. 
 
***
Semua ilmu bertujuan dan bermuara pada DHARMA.
Sehingga setiap pemilik ilmu wajib untuk memiliki spirit DHARMA dengan tujuan menekuni ilmu untuk dan hanya untuk melayani DHARMA.
Lalu apa kebalikan DHARMA?
DOSA
Apa itu DOSA?
Menurut Bhagawad Gita, DOSA adalah segala niat dan karma yang ditujukan hanya untuk kepuasan diri sendiri. Hanya untuk memuaskan hasrat dari seluruh indera dan pencerapan. Atau hanya untuk kepentingan pribadi.
****
Lalu apa hubungan DHARMA, DOSA, dan ilmu yang menyerang balik tubuh?
Semeton-semeton yang sempat mengalami hal ini dan lalu pulih total mengaku bahwa mereka:
1. Belajar ilmu untuk melindungi kepentingan tubuhnya sendiri
2. Belajar ilmu untuk terlihat hebat atau diakui
3. Belajar ilmu untuk menundukkan orang lain, agar patuh dan menurut keinginannya
4. Belajar ilmu untuk balas dendam karena pernah diserang ilmu hitam
5. Belajar ilmu untuk mencari kekayaan pribadi
6. Belajar ilmu untuk memperbanyak pengikut
7. Belajar ilmu sekadar ingin tahu dan mecobai orang lain
Inilah rangkuman tujuh pengakuan rekan-rekan semeton yang sekarang saat ini, atas ijin Tuhan, sembuh dari penyakit-penyakit akibat diserang balik oleh ilmu.
Jika dirangkum, semeton yang pernah sakit tersebut, keliru dalam niatan dasar mempelajari ilmu.
Mereka belum memiliki pondasi filsafat DHARMA.
Mereka belum belajar dengan iringan motivasi untuk melayani DHARMA.
Mereka belajar menuju ke arah yang tidak menjadi tujuan dasar seluruh ilmu yaitu memuaskan hasrat dan kepentingan diri sendiri atau DOSA.
*****
Apa hikmah dari fenomena ini?
Mendasari segala kegiatan hidup khususnya belajar ilmu, untuk pelayanan DHARMA, yaitu memberi manfaat bagi seluruh mahluk di sekalian alam.
Dan
Apabila anda mengalami fenomena ini, cukup anda niatkan untuk minta maaf kepada Sang Hyang Aji Saraswati lalu ubah niatan dasar anda untuk belajar ilmu, dari kepentingan pribadi (DOSA) menuju tindakan karma tanpa terikat hasil,kepada seluruh mahluk dan alam (DHARMA)
Semoga bermanfaat
Tiang berdoa dan selalu berdoa semoga semua mahluk damai berbahagia, bebas derita
Salam hormat
Dengan segala kerendahan hati
Mohon maaf jika ada yang tidak berkenan di hati

Batu Satangtung Lebak Siliwangi

 


AUM Swastiastu _/||\_ Nama Çiwa-Buddhaya, AHUNG Sampurasun, HONG Wilaheng Awighnamastu Jagat Dewa Bhatara Bhuana Langgeng, ONG-SANG-BANG-TANG-ANG-ING-NANG-HMANG-SING-WANG-HYANG, OM NAMAH SIWAYA
*SALAM BUDHIDHAYA NAGARI DWIPANTARA NUSANTARA TRI TANGTU BHUANA SUNDA-JAWA-BALI NAGA-RA-KERTA-GAMA*
Batu Satangtung Lebak Siliwangi
July 3, 2013
Sampai saat ini masih banyak warga Bandung yang mengetahui Lebak Siliwangi sebagai hutan belantara yang tak bisa diakses warga. Di balik Lebak Siliwangi dan isunya mengenai pembangunan restoran dan apartemen, ada sesuatu yang menarik yang belum tentu orang tahu. Dua batu berdiri tegak di kawasan Lebak Siliwangi yang dipayungi dua payung buatan. Satu batu berdiri tegak ke atas berbentuk hampir lonjong dan satu batu di depannya berbentuk gepeng melingkar. Di tengah dua buah batu itu terdapat sesajen dan di depan batu tersebut terdapat sesajen dan menyan bekas ritual yang dilakukan.Dua buah batu tersebut dikenal dengan batu satangtung atau lingga yoni lingga yang berarti penis dan yoni yang berarti vagina. Lingga yoni diartikan sebagai pasangan. Batu satangtung dibangun oleh 42 suku adat di Indonesia kecuali Papua. Batu tersebut baru dibuat sejak dua tahun yang lalu. Menurut Rio, pelukis di Lebak Siliwangi, batu satangtung sering didatangi oleh turis-turis dari luar negeri, dan domestik. Banyak juga yang percaya bahwa batu itu bisa membawa keberuntungan. Ritual batu satungtang juga banyak didatangi semethon dari Bali. Sedangkan menurut Tommy, Ketua Sanggar Olah Seni, batu satangtung berfungsi sebagai simbol untuk ritual pemaknaan tentang nilai-nilai dari filosofi batu tersebut. Ritual atau sesajen dilaksanakan setiap Sabtu Kliwon. Warga yang mengikuti ritual berasal dari berbagai daerah di Indonesia bahkan dunia. Ritual tersebut identik dengan menyan.“Bagaimana ritual dan apa itu menyan memiliki pengertian-pengertian tersendiri yang mengandung kearifan lokal yang seharusnya bisa membentuk masyarakat memiliki nilai-nilai yang baik,” kata Tommy, saat diwawancarai pada Minggu, 30, Juni 2013.
Batu satangtung juga dilirik pengunjung sebagai tempat wisata yang mereka kenal memiliki adat budaya lokal.Terbukti bahwa tidak jadinya mendirikan restoran dan apartemen itu keputusan yang tepat karena ada nilai-nilai budaya yang harus dilestarikan. Kesadaran akan budaya lokal yang yang harus digali dan diamalkan menjadi tolak ukur untuk bagaimana kita mengambil sikap atas nilai-nilai budaya lokal.
Sedangkan dalam ajaran jati Sunda / Sunda Wiwitan
Menhir/Lingga/Batu Tunggal Satantung. Menhir (Lingga) Lingga adalah sebuah Batu Tunggal sebagai simbol atau penanda yang diletakan sebagai "pusat" kabuyutan, masyarakat Jawa Barat sering menyebutnya sebagai"Batu Tunggal Satangtung" dan merupakan penanda wilayah kabuyutan. Bentuk menhir (lingga) di beberapa negara yang tidak memiliki batu alam utuh dan besar pada umumnya digantikan oleh "tugu batu" buatan seperti yang terdapat di Mekah dan Vatican. Lingga sebagai batu kabuyutan berasal dari kata "La-Hyang-Galuh" (Hukum Leluhur Galuh). Maksud perlambangan Lingga sesungguhnya lebih ditujukan sebagai pusat/puseur (inti) pemerintahan disetiap wilayah Ibu Pertiwi, tentu saja setiap bangsa memiliki Ibu Pertiwi-nya masing-masing (Yoni).Dari tempat Lingga (wilayah Rama) inilah lahirnya kebijakan dan kebajikan yang kelak akan dijalankan oleh para pemimpin negara (Ratu) yang menjadi simbol MAPANJI / PATAKA GULA-KALAPA = Bende-RA (Hyang Surya RA-Ditya / Surya Majapahit-Sunda Wiwitan-Sundayana-Surayana) Permulaan Peradaban Bangsa Nusantara / kiblatnya Bangsa Nusantara, Merah-Putih. Merahnya adalah Ibu Pertiwi yaitu Tanah (Bhumi darimana kita dilahirkan dan kemana nanti kita pulang keasal), Putih adalah Ayah / Bapa Akasa sang pemberi bibit yang keduanya menyatu menjadi kesuburan, maka di Tanah Sunda-Jawa-Bali kental sekali istilah eling marang ka Purwa-Daksina yaitu simbol Purwa / Timur (Putih) Sang Hyang Isora / Iswara sbg Matahari, dan Daksina / Selatan (Merah) : Lingga-Yoni, Ayah dan Ibu kita yaitu leluhur yang paling dekat dengan kita dan keatasnya lagi para leluhur kita, karena hanya dari beliaulah kita lahir kedunia bukan dari leluhur orang lain disana tetapi leluhur kita dari sini. Hal ini sangat berkaitan erat dengan ketatanegaraan bangsa Galuh dalam ajaran Sunda, dimana Matahari menjadi pusat (saka) peredaran benda-benda langit. Fakta yang dapat kita temui pada setiap negara (kerajaan) di dunia adalah adanya kesamaan pola ketatanegaraan yang terdiri dari Rama (Manusia Agung), Ratu (Maharaja) dan Rasi (raja-raja kecil/kareysian) dan konsep ini kelak disebut sebagai Tri Tangtu Buana atau Trisula Nagara : Sunda-Jawa-Bali : KaRAMAan-KaRATUan-KaRESI-an yang digunakan pada masa Kerajaan seperti Prabu, Raden , Resi, Dang Hyang, Wiku, Empu, Rakean, Rakyan dsb. Umumnya sebuah Lingga diletakan dalam formasi tertentu yang menunjukan ke-Mandala-an, yaitu tempat sakral yang harus dihormati dan dijaga kesuciannya. Mandala lebih dikenal oleh masyarakat dunia dengan sebutan Dolmen yang tersebar hampir di seluruh penjuru dunia, di Perancis disebut sebagai Mandale sedangkan batunya (lingga) disebut Obelisk ataupun Menhir. Mandala (tempat suci) secara prinsip terdiri dari 5 lingkaran berlapis yang menunjukan batas kewilayahan atau tingkatan (secara simbolik) yaitu :
1. Mandala Kasungka
2. Mandala Seba
3. Mandala Raja
4. Mandala Wangi
5. Mandala Hyang (Inti lingkaran berupa titik Batu Tunggal Satangtung) Ke-mandala-an merupakan rangkaian konsep menuju kosmos yang berasal dari pembangunan ke-manunggal-an diri terhadap negeri, kemanunggalan negeri terhadap bumi, dan kemanunggalan bumi terhadap langit suwung (ketiadaan). Dalam bahasa populer sering disebut sebagai perjalanan dari mikro kosmos / bhuana alit (ingsun-atma manusia), menuju makro kosmos / bhuana agung (keberadaan yang pernah ada dan selalu ada) Sang Dzat Hyang Tunggal (Sang Parama Atma).
 
Sedangkan makna Arca Lingga Yoni Dalam Agama Hindu
Pengertian Lingga dan yoni adalah perlambang alat kelamin laki - laki dan perempuan. Dalam kamus Jawa menjelaskan bahwa “Linga tanda, ciri, isyarat, sifat khas, bukti keterangan, petunjuk; Lingga, lambang kemaluan lelaki (terutama Lingga Siwa dibentuk tiang batu), patung dewa, titik tugu pemujaan, titik pusat, pusat poros, sumbu”.
Yoni rahim, tempat lahir, asal Brahmana, Daitya, Dewa, Garbha, Padma,Naga, Raksasa, Sarwa, Sarwa Batha, Sudra, Siwa, Widyadhara-Widyadari (Bidadara-Bidadari) dan Ayonia." Dengan adanya lingga yoni disuatu tempat menandakan bahwa tempat tersebut adalah daerah yang subur. Lingga yoni paling sering ditemukan berada di dekat Candi / tempat suci Parhayangan ataupun Kahyangan yang disucikan. Lingga berbentuk batu tegak seperti kemaluan laki - laki dengan bentuk bujur sangkar pada bagian paling bawah, segi delapan pada bagian tengah dan bulat di bagian teratas. Lingga berasal dari kata sansekerta yang berarti tanda, ciri, isyarat, bukti dan keterangan. Sedangkan yoni berdenah bujur sangkar dan biasanya terdapat tonjolan di salah satu sisinya. Di tengah yoni biasanya terdapat lubang untuk menanamkan lingga. Permukaan yoni tidak rata dengan bagian tepi lebih tinggi yang berfungsi agar air tidak keluar apabila di siram dari lingga dan hanya akan keluar melalui cerat. Yoni pada era Kerajaan Majapahit memiliki perbedaan daripada zaman sebelumnya. Perbedaan tersebut terletak pada tubuh yoni yang terdapat hiasan serta naga.
Fungsi Lingga Yoni
Mengukuhkan takhta seorang yang berjaya di suatu tempat. Memperingati suatu peristiwa penting. Yoni yang berpasangan dengan lingga berfungsi sebagai tempat untuk meletakkan lingga
Lingga Yoni dalam agama Hindu, lingga dan yoni adalah perlambang kesuburan seperti yang terlihat pada peradaban lembah indus. Lingga dianggap sebagai perwujudan Dewa Siwa sebagai phallus. Sedangkan yoni sendiri berarti unsur wanita. Pendirian lingga erat kaitannya dengan penaklukan suatu kerajaan. Lingga yoni dalam agama Hindu digunakan untuk mendapatkan minuman berenergi Dewata dengan menuangkan lima jenis (panca gawya) yaitu air bunga, susu, madu, ghee (mentega dari susu), serta susu asam (yogurt).
Campuran tersebut kemudian dituangkan dari atas lingga sambil mengucap puja mantra kepada Dewa Siwa dan campuran cairan tersebut mengalir hingga ke ujung moncong yoni dan barulah boleh untuk diminum. Upacara semacam ini disebut #abhiseka, dan sudah tidak pernah kita lihat di Nusantara namun masih tetap berlangsung di India. Bentuk Tri Lingga Purusha dan Yoni, Lingga memiliki penggambaran alat kelamin laki - laki yang merupakan simbol DewaTrimurti (Brahma, Wisnu, Siwa). Ujung lingga berbentuk bulat (Shiva bhaga), pada pertengahan lingga berbentuk segi delapan atau padma (Whisnu bhaga), dan paling bawah berbentuk persegi empat (Brahma bhaga). Sedangkan bagian yoni merupakan perlambang dari prakerti atau pradhana (wadag/alam material). Ada juga yoni yang terdapat makhluk seperti naga, macan dan lain - lain sebagai penyangga. Naga dalam ajaran agama Hindu diibaratkan sama dengan ular terkhusus kobra seperti Dewa Ular Naga Ananta Sesa yang dilambangkan sebagai tempat berbaringnya Dewa Wisnu dan Dewa Naga Vasuki / Basuki yang membantu pengadukan samudera mantana untuk mendapatkan tirtha keabadian amerta bersama Kurma Awatara Dewa Wisnu yang kedua oleh para Dewata dan Raksasa.
Lingga model Sunda, Jawa, Bali dan India inilah keUNIVERSALAN ajaran leluhur kita Ke-BHINEKA-an terapi esensi tattwa filsafatnya sama yaitu Ika satu tunggal tiada yg kedua tan hana dharma mangarwa.

ISVARAH GITA Chapt-3. Sloka 11-15

 


Ulasan:
Purusa adalah unsur yang bersifat kejiwaan sedangkan Prakerti adalah unsur material. Penyatuan keduanya terjadi penciptaan. Prakerti berevolusi menjadi Pancatanmatra yaitu lima benih, dan setelah melalui evolusi yang panjang akhirnya menjadi Pancamahabhuta, ini kemudian membentuk alam semesta dan isinya.
Filsafat Samkya dan Vaisnave memuat 25 prinsip namun Shivaita memuat 36 prinsip/ttatva.
OM NAMAH SHIVA YA 🙏🏻🙏🏻🙏🏻🌹
Sloka: 11-15
//puruṣaḥ prakṛtistho hi bhuṅkte yaḥ prākṛtān guṇān ahaṅkāravimuktatvāt procyate pañcaviṃśakaḥ 11//
Purusha, hanya jika ditempatkan di Prakriti, menikmati atribut Prakriti. Karena dia bebas dari Ahamkara (ego), dia disebut sebagai prinsip ke-25. (11)
//ādyo vikāraḥ prakṛtermahānātmeti kathyate vijñānaśaktirvijñātā hyahaṅkārastadutthitaḥ 12//
Transformasi pertama Prakriti disebut Tatva atau prinsip agung. Dari Tatva, lahirlah ego, yang mengetahui dengan kekuatan pengetahuan. (12)
//eka eva mahānātmā so 'haṅkāro 'bhidhīyate
sa jīvaḥ so 'ntarātmeti gīyate tattvacintakaiḥ 13//
Jiwa yang agung disebut Ahamkara. Itu disebut sebagai Jiva atau Antaratma (jiwa batin) oleh para filsuf. (13)
//tena vedayate sarvaṃ sukhaṃ duḥkhaṃ ca janmasu
sa vijñānātmakastasya manaḥ syādupakārakam 14//
Kesenangan dan rasa sakit dirasakan melaluinya (ego). Itu terdiri dari pengetahuan, dan pikiran adalah asistennya. (14)
//tenāvivekatastasmāt saṃsāraḥ puruṣasya tu
sa cāvivekaḥ prakṛtau saṅgāt kālena so 'bhavat 15//
Dari situ, lahirlah indiskriminasi (tidak dapat membedakan antara kebenaran dan yang tidak nyata). Karena ini, dunia manusia muncul. Diskriminasi lahir karena asosiasi Prakriti dengan waktu. (15)
OM LOKAH SAMASTAH SUKHINO BHAVANTU...