Selasa, 12 Juli 2022

Pura Luhur Candi Narmada Tanah Kilap

 


Pura Luhur Candi Narmada Tanah Kilap, pura ini memiliki jejak sejarah yang panjang. Pura ini berlokasi di perbatasan Kabupaten Badung dan Kota Denpasar. Tepatnya di Muara Tukad Badung di jalan Bypass I Gusti Ngurah Rai Denpasar. Diyakini yang berstana Ida Ratu Bhatari Niang Sakti, sebagai Dewi Kemakmuran.
Dari penuturan Pemangku Pura Luhur Candi Narmada, IB Made Sudana, sebelum berdiri megah seperti saat ini, pura Luhur Tanah Kilap ini sudah ada, namun masih berupa pura sederhana. "Sejarah pura ini tertulis dalam lontar yang ditemukan di Griya Gede Gunung Beau Muncan- Karangasem," jelasnya.
Adapun sejarah dari pura ini, seperti yang diceritakan Sudana, pada zaman pemerintahan kerajaan Bandana Raja, di pesisir bagian selatan pulau Bali hiduplah seorang Bendega (nelayan) bernama Pan Santeng, yang sehari-harinya hidup dari aktivitasnya sebagai nelayan di muara sungai yang menghadap ke laut Selatan Bali. Pada suatu hari, ketika sedang melaut, ternyata Pan Santeng sama sekali tidak mendapat hasil, dan kejadian tersebut berlangsung selama tiga hari berturut-turut.
Akhirnya pada hari ketiga, akhirnya Pan Santeng mengucapkan janji masesangi (kaul), jika mendapatkan ikan, maka dia akan menghaturkan pekelem dan doanya pun terkabul.
"Sehingga Pan Santeng membangun palinggih di atas batu karang dan setiap hari dengan tekun sang Bendega menghaturkan Bhakti di pelinggih tersebut, seiring dengan semakin banyaknya hasil tangkapan yang diperolehnya," lanjut Sudana.
Hingga suatu hari, Pan Santeng mendapat sabda jika pelinggih tersebut adalah tempat stana Ida Brahma Putri dari Patni Keniten yang bernama Ida Ayu Ngurah Saraswati Swabhawa.
Demikianlah intisari dari sejarah Pura Luhur Candi Narmada dan pura tersebut selama berabad-abad tetap berupa pelinggih batu sederhana di atas karang, hingga akhirnya dilanjutkan Sudana pada tahun 1958 ada seorang ibu dari Kuta menerima pewisik untuk membangun sanggar agung di kawasan pelinggih Ratu Niang Sakti.

Doa atau mantra untuk mengusir atau menangkal ilmu leak

 


Leak sebenarnya ilmu spiritual yang ada di Bali, bisa digunakan untuk kebaikan maupun menyakiti orang lain. Biasanya orang yang mempelajari ilmu ini dalam keadaan tidak kuat mental dan menahan godaan, pasti akan menggunakannya untuk melakukan perbuatan yang tidak baik. Karena hal itu, ilmu leak sering dianggap sebagai aliran kiri atau ilmu hitam.
Menurut Buku Lontar Pengejukan Leak karya Drs I Wayan Sumawa, terdapat beberapa doa atau mantra untuk mengusir atau menangkal ilmu leak. Mantra ini bisa digunakan oleh siapa saja dan bisa digunakan sehari-hari. Berikut ini 7 mantra penangkal leak.
1. Mantra Ki Dukuh Sakti
2. Mantra pengasih desti
3. Mantra pengejukan atau menangkap leak tanpa sarana
4. Mantra pengejukan leak menggunakan sarana tembakau
5. Mantra membuat leak menjadi buta
6. Mantra Gni Astra atau panah api
7. Mantra penolak bala atau ilmu hitam
Dalam menggunakan mantra-mantra ini diperlukan keyakinan yang teguh dan percaya akan kekuatan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Ketika memohon kepada-Nya, harus dengan rasa bakti yang mantap, dan pasti apa yang diinginkan akan tercapai.

Ade ne ngendah

 


Bagi umah Hindu Bali yang memiliki bayi baru lahir pasti memiliki kendala bayinya menangis terus menerus saat menjelang malam atau tengah malam dan terjadi pada saat menjelang hari-hari yang dianggap keramat, seperti sehari sebelum Kajeng Kliwon.
Orang Bali percaya hal tersebut disebabkan oleh adanya gangguan dari orang yang menjalankan ilmu leak yang sedang iseng saat mempraktekan ilmunya dengan mengganggu sang bayi.
Istilah Balinya “ade ne ngendah” yang artinya ada orang yang mengganggu, sehingga di batu tempat ari-ari ditanam, akan ditaruh kurungan ayam dan lampu, dan ditanam pandan berduri, bertujuan orang yang berilmu leak tidak dapat mengganggu sang bayi.
Adapun upacara untuk melindungi sang bayi setiap hari hingga dilaksanakannya 3 bulanan, ada 2 cara yang hingga kini masih dipercaya, yaitu membuat Perlindungan di Tempat Ari-ari dan perlindungan di Kamar.

Nyiam tanah sema

 


Iri! Segala cara akan dilakukan untuk membuat orang lain menderita. Alasannya itu mungkin karena dendam atau persaingan bisnis bahkan ada karena warisan.
Salah satunya adalah (nyiam tanah sema) atau menabur tanah kuburan yang di lempar ke rumah korban atau warung korban.
Tidak heran jika di Bali masih banyak mendengar kejadian seperti ini, dan ada juga yang menabur tanah kuburan dicampur tulang hewan dengan doa-doanya.
Berikut ini adalah ciri-ciri rumah atau warung yang di Tabur tanah kuburan seperti, sakit yang tak wajar, bau Busuk, merasa ada yang mengawasi, makanan akan cepat basi, kadang pelanggan batal mampir sampai pendapatan menurun
Jika anda merasa rumah anda terkena tanah kuburan karena ulah musuh atau orang iri persaingan bisnis ini, maka anda harus waspada dan melakukan tindakan. Salah satu upaya adalah selalu sembahyang, kalau masyarakat Hindu Bali tetap Mesegeh pada Rahina Kajeng Kliwon, purnama, dan tilem. Lukat rumah menggunakan bungkak nyuh gading atau Tirta dari griya atau segara.

Tugu penunggun karang

 


Tugu Karang berasal dari kata ‘tuhu’ yang artinya tahu atau mengetahui dan berpengetahuan. Karang artinya pekarangan atau halaman rumah, bisa juga karang diri atau tubuh. Siapa yang memahami dan mengetahui karang dirinya dengan baik, maka ia adalah yang mencapai keseimbangan sekala dan niskala.
Banyak umat Hindu Bali, akibat pekarangan yang sempit, kesulitan tata ruang, ditambah petunjuk yang keliru, lalu menempatkan penunggun karang pada posisi yang tidak benar. Jika sudah begitu, maka bukan hanya posisi tidak benar saja yang dilihat, namun ada juga yang beberapa hal yang akan sering terjadi jika ada kesalahan penempatan penunggun karang, antara lain:
1. Jika penunggun karang berada di dalam merajan, akibatnya adalah mudah selisih paham. Penghuni rumah sering bertengkar, mudah sakit kepala belakang, inguh, tidak betah di rumah dan pekarangan mudah dimasuki makhluk gaib.
2. Penunggun Karang yang posisinya kaja kangin menyebabkan penghuni mudah selisih paham, sering diganggu manusia sakti, kowos atau boros.
3. Penunggun karang yang posisinya menghadap ke barat menyebabkan penghuni sering sakit kepala belakang, sering mendapat serangan ilmu hitam.
4. Penunggu karang yang tidak memiliki pagar, menyebabkan penghuni kowos atau boros dan sering inguh.
5. Penunggu karang tabrak lebuh, menyebabkan penghuni sering sakit pingganng dan punggung.
Pelinggih tidak perlu mewah, jika posisinya benar, mengetahui siapa yang berstana dan mengerti tata cara berdoa sebagai umat Hindu yang benar, maka pasti akan mendapatkan panugrahan dari beliau.
Selalulah ingat, perbuatan yang baik dan benar akan menghasilkan sesuatu yang baik pula. Rahayu sareng sami!

Pohon Raksasa Banjar Bayan

 


Keberadaan pohon unik yang satu ini mencuri perhatian publik sejak beberapa tahun silam. Bagaimana tidak, pohon ini bisa dikatakan sangat langka dan membuat siapapun yang melihatnya akan terpukau sekaligus takjub karena pohon itu disebut Pohon Raksasa. Banjar Bayan, yang merupakan salah satu Desa yang ada di Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan.
Saat ini Banjar Bayan sering dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara karena keberadaan sebuah pohon raksasa. Pohon setinggi 50 meter dengan diameter lebih dari tersebut berada dibelakang Pura Babakan Banjar Bayan. Konon Pohon Raksasa yang disebut oleh warga sekitar Pohon Kayu Putih, pohon ini sudah ada jauh sebelum Pura Babakan tersebut dibangun. Namun semenjak Pura itu dibangun pada zaman Raja Perean, Baturiti, Pura dan Pohon Raksasa menjadi satu kesatuan karena dikatakan memiliki kaitan.
Menurut Prajuru Pura Babakan I Made Kurnawijaya, hingga saat ini tidak ada yang tahu pasti apa jenis pohon raksasa yang diperkirakan telah berumur lebih dari 500 tahun tersebut. “Jadi kalau ada pengunjung yang bertanya ini pohon apa pasti kami jelaskan kalau hingga saat ini belum tahu pasti jenisnya apa, hanya saja warga Banjar Bayan menyebutnya Kayu Putih karena kalau dilihat langsung batangnya memang dominan berwarna putih,” jelasnya.
Kurnawijaya yang rumahnya berada tepat di depan lokasi pohon pun menceritakan bahwa menurut penuturan dari nenek moyangnya, dari pohon raksasa tersebut seringkali terdengar alunan suara gamelan gender. Dan hal tersebut biasa didengar oleh warga sekitar pada malam sehari sebelum ada rahinan. “Sampai sekarang pun katanya masih ada yang mendengar muncul alunan gamelan gender dari pohon ini,” jelasnya

Pura Melanting Jambe Pole

 


Pura Melanting Jambe Pole, satu diantara pura di Bali yang memiliki kisah unik dan menarik untuk dikupas. Kisah mistis juga menjadi bagian pura yang berada di tengah-tengah area, bekas Taman Festival Bali di Padang Galak, Kesiman, Denpasar, Bali.
Walau Taman Festival Bali telah lama mati suri, namun pura ini tetap memiliki denyut nadinya.
Apalagi banyak pamedek dari seluruh Bali, bahkan hingga tanah Jawa datang ke pura ini.
Dahulu sebelum dibangun palinggih, pura ini hanya berisi turus lumbung. Sebagai pertanda bahwa kawasan tersebut memiliki aura niskala yang kuat. Namun saat ini, sudah dalam bentuk bangunan layaknya pura yang ada di Pulau Dewata. Hanya saja, beberapa bagian terlihat mulai rusak dimakan zaman. Kisahnya dahulu dari bapak dari pria bernama Jero Mangku Lilir.
Pria tersebut sering membawa sapi, dan mencari rumput di area sana. Tepat di sebelahnya adalah aliran sungai Ayung, yang langsung bermuara ke pantai Padang Galak. “Turus lumbung itu dibuat, karena ia (ayah Mangku Lilir) melihat pohon pole kembar. Sehingga harus dibuat turus lumbung atau palinggih di sana,” jelasnya.
Setelah itu, Jero Mangku Lilir juga akhirnya sering membawa sapi untuk makan rumput di area sana. Uniknya, ketika ia sedang mandi di sungai Ayung. Entah bagaimana, tiba-tiba saja pohon pole kembar ini hilang. Kagetlah ia karena siang hari bolong, pohon pole kembar ini hilang. Namun anehnya lagi, ketika selesai mandi di sungai Ayung. Pohon pole kembar itu, sudah ada lagi di tempatnya.
“Makanya didirikanlah turus lumbung ini. Sebelum Bali festival ada, nah setelah Bali festival dibangun baru dibuat satu palinggih di ajeng gedong itu,” jelasnya.
Apabila pamedek datang sendiri, bisa membawa peras pejati, canang sari, dan memakai kamen serta selendang. Serta tidak dalam keadaan cuntaka.