Selasa, 12 Juli 2022

Makna Tamiang Dan Endongan Di Hari Raya Kuningan

 


Hari Raya Kuningan yang dirayakan umat Hindu 10 hari setelah Hari Raya Galungan ditandai dengan ciri khas sejumlah sarana, seperti tamiang, endongan, ter atau pun sampian gantung. Sarana itu dipahami sebagai simbol-simbol yang identik dengan alat-alat perang. Apa makna di balik simbol alat-alat perang itu?
Tamiang sendiri sering dimaknai sebagai simbol perlindungan diri, karena bentuknya seperti perisai, bentuknya yang bulat dipahami juga sebagai lambang Dewata Nawa Sanga yang merupakan penguasa sembilan arah mata angin.
Tamiang juga diartikan sebagai roda alam atau cakraning manggilingan yang dipahami sebagai roda kehidupan yang selalu berputar. Semuanya menjadi warisan budaya Hindu yang terjaga dengan baik yang berkaitan dengan kehidupan beragama di pulau Dewata Bali. Tamiang dipasang di pojok-pojok rumah dan di palingih-palinggih.
Kemudian ada sarana Ter, ter merupakan simbol dari panah yang berarti senjata untuk kelengkapan perang dalam kehidupan ini dan senjata paling ampuh adalah ketenangan pikiran, sarana Sampian gantung adalah sebagai simbol penolak bala, sedangkan Nasi Kuning sebagai lambang kemakmuran.
Selain itu terdapat juga Endongan bentuknya seperti sebuah kompek atau tas, yang berisi perbekalan ini sebagai simbol dari bekal bisa berarti bekal bagi para leluhur dan juga bekal bagi kita dalam mengarungi kehidupan ke depan dan bekal yang laing ampuh adalah jnana atau pengetahuan.
Dari sini akan mengingatkan manusia akan hakikatnya dalam kehidupan memang seperti sebuah peperangan, bagaimana mana manusia selalu berusaha berperang melawan hawa nafsu dalam diri dan keadaan untuk menemukan jalan dan kehidupan yang lebih baik, baik untuk kehidupan di dunia dan di akhirat nantinya.

Ulantaga Kertas Suci Bali Kuno

 


Ulan Taga atau Ulantaga adalah sejenis kertas Bali Kuna yang disakralkan, dimanapenggunaan kertas ulantaga ini hanya digunakan sebagai salah satu sarana penting dalam upacara ngaben , yang berfungsi untuk menulis rerajahan / kekitir upacara ngaben.
Keunikan kertas yang berasal dari bahan baku kulit tanaman yang di Bali dikenal sebagai pohon ulantaga dalam kutipan beberapa lontar sebagaimana yang dijelaskan dari seorang peneliti Prof. Isamu Sakamoto dalam artikel Cyber Tokoh, "Di Bali Langka Kertas Ulantaga untuk Ngaben", bahan dari kertas ulantaga ini dijelaskan sebagai berikut :
Dalam Lontar Arjuna Wiwaha, kertas ulantaga ini terbuat dari kulit kayu dan digunakan saat ngaben.
Dipakai untuk membungkus sawa agar tidak dibawa sang Butagila (Lontar Pujastawa Wedana).
Kertas ini tak hanya untuk menulis rerajahan upacara ngaben. Kaum pendeta sebagai sulinggih masa dulu pun menjadikannya kain, ketu, selendang, dan ikat pinggang saat upacara keagamaan yang peninggalannya masih membekas hingga sekarang.
“Hasil kerajinan berbahan baku ulantaga untuk yang pernah dipakai pedanda untuk upacara, termasuk kertas ulantaga sebagai media lukisan, kini juga tersimpan di Museum Neka, Museum Arma, dan Museum Gunarsa dll.
Kertas Ulantaga ini juga disebut dengan kertas daluang yang dalam kutipan catatan peponia, daluang juga disebut merupakan kertas tradisional nusantara yang terbuat dari bahan lembaran kulit kayu pohon paper mulberry (Broussonetia papyryfera Vent) atau dalam Basa Sunda disebut pohon saeh.
Dikatakan lebih lanjut,vPemanfaatan daluang cukup beragam di Nusantara. Menurut ahli filologi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dan peneliti daluang, Tedi Permadi, pada masa lampau daluang digunakan untuk berbagai keperluan praktis sehari-hari.
Bagi umat Hindu, daluang adalah kertas suci yang digunakan sebagai ketitir dalam pelebon atau ngaben, sebagai kethu (mahkota penutup kepala untuk upacara keagamaan), tika (kalender hindu Bali) dan lainnya.
Di Pulau Jawa, daluang biasa digunakan untuk menulis naskah sejak zaman pra-Islam. Pada zaman kuno tulisan dan prasasti umumnya dilakukan pada tablet bambu atau potongan sutra yang disebut chih.
Tapi karena harga sutra yang mahal dan beratnya bambu, membuat kedua media tersebut tidak nyaman untuk digunakan.
Dan dalam sejarah selanjutnya,dalam kutipan blog penemu, Tshai Lun [Cai Lun] berkebangsaan Tionghoa yang hidup di zaman Dinasti Han, abad ke-1 s/d abad ke-2 Masehi juga mendapatkan ide membuat kertas dari kulit pohon kayu murbei ini, sisa-sisa rami, kain kain, dan jaring ikan.
Saat ini, kertas telah digunakan di mana-mana dan dikenal dengan 'kertas dari Marquis Tshai'.
Cai Lun membuat kertas dari kulit kayu murbei. Bagian dalamnya direndam di air dan dipukul-pukul sehingga seratnya lepas. Bersama dengan kulit, direndam juga bahan rami, kain bekas, dan jala ikan.
Setelah menjadi bubur, bahan ini ditekan hingga tipis dan dijemur. Lalu jadilah kertas yang mutunya masih belum sebagus sekarang.
Pada tahun 105 M ia mempersembahkan contoh kertas pada Kaisar Han Hedi. Catatan tentang penemuan kertas ini terdapat dalam penulisan sejarah resmi Dinasti Han.

Mengapa Dadap disebut dengan “ Kayu Sakti”

 


Dadap atau Cangkring atau Erytrina Variegata merupakan sejenis tanaman yang sangat berguna bagi masyarakat Bali, baik itu dalam bebantenan maupun sarana upacara keagamaan.
Dalam bebantenan, daun dadap melambangkan keseimbangan Tri Hita Karana dan Rwa Bhineda yang berfungsi sebagai pembersih secara rohani. Daun dadap digunakan dalam perlengkapan Matepung Tawar juga dapat diartikan sebagai ‘penawar’ dalam meruwat energi negatif menjadi positif sekala niskala.
Selain pemanfaatan daun, kayunya pun sering digunakan sebagai sarana pembangunan maupun yadnya seperti :
1. Bahan pembuatan Sanggah Turus Lumbung dengan pohon dapdap yang dipercayai sebagai taru sakti. Hal ini dikarenakan sifat kayu Dapdap yang ringan, efisien dan tahan lama.
2. Pada pembuatan Banten Prayascita yang biasanya ditancapi Dapdap, berfungsi untuk menetralisir energi di dalam diri.
3. Pada jaman dulu tanaman Dadap biasanya sering dimanfaatkan sebagai pagar hidup dan atau tanaman peneduh di sekeliling rumah, atau ditanam di areal merajan dan natah (pekarangan) karena tanaman ini dipercaya sebagai penangkal aura-aura negatif.
4. Dalam Usada Bali, daun dadap juga dipercaya sebagai obat penurun panas alternatif yang sangat sederhana. Itulah sebabnya mengapa dapdap disebut juga ‘Punyan Kayu Sakti’.
5. Secara ilmiah, tumbuhan yang memiliki tinggi rata-rata 15 meter ini ternyata dapat meningkatkan kesuburan tanah di sekelilingnya. Tanaman Dadap dapat menangkal aura negatif dikarenakan perakarannya dapat bersimbiosis dengan bakteri Bradyrhizobium di dalam tanah untuk mengikat nitrogen serta mampu menetralisir udara dari patogen/bakteri, selain itu tanaman ini juga dapat digunakan untuk memberantas serangga.
6. Jus dari daun dadap dicampur dengan madu digunakan untuk membunuh cacing pita, cacing gelang dalam tubuh.
7. Jus daun dadap bermanfaat untuk merangsang ASI pada ibu menyusui.
8. Ramuan jus daun dadap penurun panas tubuh, untuk anak dan dewasa.
9. Meminum jus daun dadap dapat memperlancar menstruasi dan gangguan yang disebabkannya.
10. Jus daun dadap juga dapat digunakan untuk menyembuhkan luka dalam tubuh, termasuk radang tenggorokan.
11. Tapal daun yang masih hangat dapat dioleskan untuk mengurangi nyeri sendi dan rematik.
12. Ramuan kulit kayu digunakan sebagai obat pencahar, diuretik dan ekspektoran.
13. Tanaman dadap digunakan dalam pengobatan tradisional sebagai obat penenang syaraf, kolikrium, opthalmia, anti-asma, antiepileptik, antiseptik dan zat astringen.
14. Kulit kayu digunakan untuk menurunkan demam, penyakit hati/lever. Daun Dadap atau ‘Kayu Sakti’ juga memiliki kandungan protein yang tinggi membuatnya layak dikomsumsi sebagai olahan ‘Jukut’ serta ramuan tradisional lainnya.
Secara umum tradisi menanam tanaman di pekarangan merupakan tradisi yang patut dilestarikan sebagai wujud nyata melawan global warming. Walau penduduk Bali berkembang pesat kita bisa lihat lahan lahan kosong di perumahan ditanami tanaman hias dengan berbagai metode penanaman.

Unsur -Unsur Dalam Membuat Daksina dan makna filosopinya

 


Dalam lontar Yadnya Prakerti disebutkan bahwa Daksina melambangkanHyang Guru / Hyang Tunggal
Unsur-Unsur Daksina
Dalam daksina dibuat dari berbagai unsur yang mempunya maknanya masing-masing baik sebagai lambang perwujudan Hyang Tunggal ataupun sebagai Stana Hyang Widi atau Bhuana Agung, yaitu sebagai berikut:
1. Alas bedogan/srembeng/wakul/katung, terbuat dari janur/slepan yang bentuknya bulat dan sedikit panjang serta ada batas pinggirnya. Alas Bedogan ini lambang pertiwi unsur yang dapat dilihat dengan jelas.
2. Bedogan/ srembeng/wakul/katung/ srobong daksina, terbuat dari janur/slepan yang dibuta melinkar dan tinggi, seukuran dengan alas wakul. Bedogan bagian tengah ini adalah lambang Akasa yang tanpa tepi. Srembeng daksina juga merupakan lambang dari hukum Rta ( Hukum Abadi tuhan )
3. Tampak, dibuat dari dua potongan janur lalu dijahit sehinga membentuk tanda tambah. Tampak adalah lambang keseimbangan baik makrokosmos maupun mikrokosmos, dalam tradisi tantra, tapak dara melambangkan Ibu Pertiwi Bapa Akasa. tampak juga melambangkan swastika, yang artinya semoga dalam keadaan baik.
4. Beras, yang merupakan makanan pokok melambang dari hasil bumi yang menjadi sumber penghidupan manusia di dunia ini. Hyang Tri Murti (Brahma, Visnu, Siva)
5. Sirih temple / Porosan dan Kembang: terbuat dari daun sirih (hijau – wisnu), kapur (putih – siwa) dan pinang (merah – brahma) diikat sedemikian rupa sehingga menjadi satu, porosan adalah lambang pemujaan sang Hyang Tri Murti. Juga ada beberapa yang memaknainya sebagai simbol kekuatan Kama untuk manifestasi Hyang Widhi Wasa sebagai Hyang Semara. Kembang sebagai lambang Niat Suci dan kebersihan hati.
6. Kelapa, adalah buah serbaguna, yang juga simbol Pawitra (air keabadian/amertha) atau lambang alam semesta yang terdiri dari tujuh lapisan (sapta loka dan sapta patala) karena ternyata kelapa memiliki tujuh lapisan ke dalam dan tujuh lapisan ke luar. Air sebagai lambang Mahatala, Isi lembutnya lambang Talatala, isinya lambang tala, lapisan pada isinya lambang Antala, lapisan isi yang keras lambang sutala, lapisan tipis paling dalam lambang Nitala, batoknya lambang Patala. Sedangkan lambang Sapta Loka pada kelapa yaitu: Bulu batok kelapa sebagai lambang Bhur loka, Serat saluran sebagailambang Bhuvah loka, Serat serabut basah lambang svah loka, Serabut basah lambanag Maha loka, serabut kering lambang Jnana loka, kulit serat kering lambang Tapa loka, Kulit kering sebagai lambang Satya loka Kelapa dikupas dibersihkan hingga kelihatan batoknya dengan maksud karena Bhuana Agung sthana Hyang Widhi tentunya harus bersih dari unsur-unsur gejolak indria yang mengikat dan serabut kelapa adalah lambang pe ngikat indria.
7. Telor Itik, dibungkus dengan ketupat telor, adalah lambang awal kehidupan/ getar-getar kehidupan , lambang Bhuana Alit yang menghuni bumi ini, karena pada telor terdiri dari tiga lapisan, yaitu Kuning Telor/Sari lambang Antah karana sarira, Putih Telor lambang Suksma Sarira, dan Kulit telor adalah lambang Sthula sarira. dipakai telur itik karena itik dianggap suci, bisa memilih makanan, sangat rukun dan dapat menyesuaikan hidupnya (di darat, air dan bahkan terbang bila perlu)
8. Pisang, Tebu dan Kojong, Kalau di india penggunaan susu dan madu, kita di Bali menggantikannya dengan pisang dan tebu sebagai persembahan , namun ada yang mengartikan kalau Pisang dan tebu itu adalah simbol manusia yang menghuni bumi sebagai bagian dari alam ini. Idialnya manusia penghuni bumi ini hidup dengan Tri kaya Parisudhanya. Kalau dalam arti daksina sebagai wujud Hyang Tungga maka dalam tetandingan daksina, Pisang melambangkan jari, Tebu belambangkan tulang.
9. Buah Kemiri, adalah sibol Purusa / Kejiwaan / Laki-laki, dari segi warna putih (ketulusan)
10. Buah kluwek/Pangi, lambang pradhana / kebendaan / perempuan, dari segi warna merah (kekuatan). Dalam tetandingan melambangkan dagu.
11. Gegantusan, merupakan perpaduan dari isi daratan dan lautan, yang terbuat dari kacang-kacangan, bumbu-bumbuan, garam dan ikan teri yang dibungkus dengan kraras/daun pisang tua adalah lambang sad rasa dan lambang kemakmuran.
12. Papeselan, terbuat dari lima jenis dedaunan yang diikat menjadi satu adalah lambang Panca Devata; daun duku lambang Isvara, daun manggis lambang Brahma, daun durian / langsat / ceroring lambang Mahadeva, daun salak / mangga lambang Visnu, daun nangka atau timbul lamban Siva. Papeselan juga merupakan lambang kerjasama (Tri Hita Karana).
13. Bija ratus adalah campuran dari 5 jenis biji-bijian, diantaranya, godem (hitam – wisnu), Jawa (putih – iswara), Jagung Nasi (merah – brahma), Jagung Biasa (kuning – mahadewa) dan Jali-jali (Brumbun – siwa). kesemuanya itu dibungkus dengan kraras (daun pisang tua).
14. Benang Tukelan, adalah alat pengikat simbol dari naga Anantabhoga dan naga Basuki dan naga Taksaka dalam proses pemutaran Mandara Giri di Kserarnava untuk mendapatkan Tirtha Amertha dan juga simbolis dari penghubung antara Jivatman yang tidak akan berakhir sampai terjadinya Pralina. Sebelum Pralina Atman yang berasal dari Paramatman akan terus menerus mengalami penjelmaan yang berulang-ulang sebelum mencapai Moksa. Dan semuanya akan kembali pada Hyang Widhi kalau sudah Pralina. dalam tetandingan dipergunakan sebagai lambing usus/perut.
15. Uang Kepeng, yang berjumlah 225 kepeng adalah simbol Bhatara Brahma merupakan inti kekuatan untuk menciptakan hidup dan sumber kehidupan. Angka 225 (satak selae) kalau dijumlahkan menjadi angka sembilan, angka suci lambang dewata nawa sanga yang berada di sembilan penjuru Bhuwana Agung. Uang adalah alat penebus segala kekurangan sebagai sarining manah.
16. Sesari, sebagai labang saripati dari karma atau pekerjaan (Dana Paramitha)
17. Sampyan Payasan, terbuat dari janur dibuat menyerupai segi tiga, lambang dari Tri Kona; Utpeti, Sthiti dan Pralina.
18. Sampyan pusung, terbuat dari janur dibentuk sehingga menyerupai pusungan rambut, sesunggunya tujuan akhir manusia adalah Brahman dan pusungan itu simbol pengerucutan dari indria-indria
19. Canang sari. simbol titik, yaitu Compas, timur, selatan, utar dan pusat manifestasi Hyang Widhi Wasa sebagai Hyang Panca Dewata. Seperti dijelaskan dalam Lontar Yadnya Pelutaning ,Makna Daksina adalah simbol salam kepada manifestasi Tuhan (Hyang Widhi Wasa ). Daksina juga berarti buah yadnya. Setelah upacara, daksina disajikan kepada pemimpin uacara untuk bersyukur.

Kulkul Khas Bali, Bukan Kentongan Sembarangan

 


Kulkul tidak bisa lepas dari keadaan sosial dan budaya masyarakat di Bali. Kulkul sejak zaman dahulu digunakan sebagai alat komunikasi, untuk mengingatkan masyarakat akan kegiatan dalam organisasi kemasyarakatan tradisional, seperti banjar maupun subak.
Kulkul biasanya terbuat dari kayu, dan ditempatkan pada bangunan yang disebut bale kulkul. Bale kulkul bisa ditemukan di balai banjar atau pura. Keberadaan bale kulkul pun menjadi bagian yang tidak bisa terlepaskan dalam arsitektur Bali.
Meskipun kini alat komunikasi sudah berkembang pesat dengan kehadiran teknologi, namun kulkul masih menjadi alat komunikasi komunal untuk segala kegiatan organisasi yang bersifat adat di Bali.
Kulkul tercatat dalam naskah kuno di Bali
Keberadaan kulkul diperkirakan sudah ada sejak zaman kerajaan Hindu-Buddha di Jawa. Hal ini bisa ditemukan dalam naskah-naskah kuno di Bali seperti Lontar Awig-awig (Aturan adat) Desa Sarwada (Singkatan dari sarwa ada atau serba ada), Markandya Purana (Memuat dialog antara Markandeya atau resi kuno dalam kepercayaan Hindu dan seorang Resi Jaimini), dan Diwa Karma. Naskah kuno itu menjelaskan bagaimana kayu sebagai kulkul memiliki makna pikiran dalam kehidupan manusia.
Pada masa kolonial Belanda, kulkul dikenal dengan istilah tongtong. Seiring berjalannya waktu, kulkul juga dibuat dari bambu dan lebih dikenal dengan nama kentongan. Fungsinya pun sama, yakni sebagai pemberi pesan kepada masyarakat dengan suara-suara tertentu.
Kulkul mempunyai fungsi yang berkaitan erat dengan kegiatan banjar. Berikut merupakan beberapa fungsi dari kulkul:
1. Tanda Pertemuan Rutin
Masyarakat Bali biasanya melakukan pertemuan rutin sebulan sekali pada setiap banjar . Menjelang hari pertemuan, terlebih dahulu kulkul dipukul dengan sebuah alat pemukul dari kayu.
Suara kulkul akan terdengar sampai ke pelosok banjar. Suara tersebut merupakan panggilan kepada warga untuk segera berkumpul di tempat yang sudah disepakati bersama.
2. Tanda Pengerahan Tenaga Kerja
Selain sebagai tanda pertemuan, bunyi kulkul juga mengandung arti untuk pengerahan tenaga kerja. Pengerahan tenaga kerja tersebut ada yang sudah direncanakan, dan ada pula yang sifatnya mendadak.
Bentuk pengerahan tenaga kerja yang sudah direncanakan contohnya gotong royong membersihkan desa, mempersiapkan upacara di pura bagi masyarakat Bali, dan mencuci barang-barang suci. Pengerahan warga diawali dengan terdengarnya suara kulkul. Segera, setelah warga berkumpul, mereka secara bersama-sama melakukan aktivitas membersihkan desa.
3. Tanda Gejala Alam
Di samping sebagai tanda pertemuan rutin dan pengerahan tenaga kerja, kulkul sering kali digunakan ketika terjadi gejala alam seperti gerhana bulan yang akan disambut oleh seluruh banjar. Masyarakat Bali berkeyakinan bahwa gerhana bulan terjadi karena bulan dimangsa oleh Kalarau. Bunyi kulkul yang menggema di seluruh Bali akan menghilangkan konsentrasi Kalarau, sehingga ia akan melepaskan bulan kembali.
4. Tanda Bahaya
Kulkul biasa juga digunakan sebagai penanda adanya bahaya, seperti bencana alam, kejahatan, dan pertempuran, ritme pemukulan kulkul yang digunakan tempo cepat dan berulang-ulang dikenal dengan kulkul bulus. Ritme tersebut sebagai tanda berkumpul secara cepat atau pergi menjauh secara cepat bergantung pada situasi yang terliha
Ada empat jenis kulkul yang dikenal oleh masyarakat Bali yaitu
1. Kulkul Dewa
Kulkul Dewa adalah kulkul yang digunakan saat upacara Dewa Yadnya. Kulkul Dewa dibunyikan ketika memanggil para dewa. Ritme yang dibunyikan sangat lambat dengan dua nada yaitu ‘tung.... tit.... tung.... tit.... tung.... tit’ dan seterusnya.
2. Kulkul Bhuta
Kulkul Bhuta adalah kulkul yang digunakan saat upacara Bhuta Yadnya. Kulkul Bhuta dibunyikan apabila akan memanggil para Bhuta Kala guna menetralisir alam semesta sehingga keadaan alam menjadi aman dan tenteram.
3. Kulkul Manusa
Kulkul Manusa adalah kulkul yang digunakan untuk kegiatan manusia, baik itu rutin maupun mendadak. Kulkul Manusa terbagi atas tiga jenis yaitu Kulkul Tempekan, Kulkul Sekeha-sekeha, dan Kulkul Siskamling. Bunyi ritme kulkul manusa untuk kegiatan yang rutin ialah lambat dan pendek, sedangkan pada kegiatan mandadak, terdengar cepat dan panjang.
4. Kulkul Hiasan
Diberi nama kulkul hiasan karena kulkul ini diberi hiasan-hiasan untuk menambah keindahannya. Biasanya kulkul ini sering dijadikan oleh-oleh atau buah tangan. Para wisatawan yang datang ke pulau bali menganggap kulkul sebagai sebuah barang antik.

Warna, Jumlah dan Makna Dupa Dalam Bersembahyang Hindu Bali

 


Dalam persembahyangan Umat Hindu khususnya di Pulau Bali menggunakan unsur api yang diwujudkan dengan Dupa. Dupa adalah sejenis harum-haruman yang dibakar sehingga berasap dan berbau harum. Dupa dengan nyala apinya merupakan lambang dari Dewa Agni, yang mana berfungsi sebagai berikut:
1. Sebagai Pendeta pemimpin upacara
2. Sebagai perantara menghubungkan pemuja dengan yang dipuja
3. Sebagai pembasmi segala kotoran dan pengusir roh jahat.
4. Sebagai saksi upacara.
Penggunaan Api dalam tradisi agama Hindu bersumber dari Kitab Suci Hindu. Dalam kelompok kitab suci Vedanga yang terdiri dari kitab :Siksa, Vyakarana, Chanda, Nirukta, Jyotisa, dan Kalpa.
Dalam Reg Weda dan Sama Weda api memiliki peranan:
Api adalah pengantar upacara, penghubung manusia dengan Brahman. (Regweda X, 80 : 4)
Api (Agni) adalah Dewa pengusir Raksasa dan membakar habis semua mala dan dijadikannya suci. (Regweda VII 15 : 10)
Hanya Agni (api) pimpinan upacara Yajna yang sejati menurut weda. (Regweda VIII 15 : 2)
Warna Dupa dan Jumlah Dupa Saat Sembahyang
• Dupa batang warna kuning [atau coklat muda alami] untuk sembahyang dan persembahan umum.
• Dupa batang warna merah untuk sembahyang dan persembahan yang khusus memohon sesuatu.
• Dupa batang warna hitam untuk menemani kita saat meditasi atau menjapakan mantra.
• Dupa batang warna hijau untuk sembahyang dan persembahan [upacara] bagi orang meninggal.
Selain itu, terdapat simbol atau kode niskala berapa batang jumlah dupa yang kita haturkan dalam persembahan, yaitu :
• 1 batang untuk persembahan umum di tempat suci atau palinggih di dalam lingkungan rumah, misalnya saat kita mebanten.
• 3 batang untuk persembahan umum di tempat suci di luar lingkungan rumah.
• 5 batang untuk persembahan di tempat usaha atau dagang.
• 7 batang untuk persembahan yang kita khusus memohon sesuatu secara spesifik.
• 9 batang untuk persembahan saat kita melakukan puja mantra kepada para Ista Dewata.
• 11 batang untuk persembahan ke seluruh penjuru alam semesta, agar semua makluk di alam semesta mendapatkan kebahagiaan.
Menghaturkan dupa batang usahakan berjajar seperti kipas.
Mantra saat meletakkan dupa batang
Ong Ang dupa dipa astra ya namah swaha”
Mantra saat ngayabang [menghaturkan] dupa batang
Om agnir agnir jyotir swaha, Om dupam samarpayami swaha”
Letakkan dan haturkan dupa batang dengan penuh rasa hormat.
Jadi dengan demikian kita bisa ketahui makna dari penggunaan dupa saat sembahyang adalah sebagai lambang penuntun umat, bagi yang melakukan sembahyang agar menghidupkan api dalam dirinya (bhuana alit) dan menggerakkannya menuju persatuan dengan Hyang Widhi. Seperti yang diibaratkan dengan Dupa yang asapnya menuju keatas dan menyatu dengan angkasa.
Makna Pengggunaan Dupa Saat Sembahyang
Tentu dalam persembahyangan selalu kita jumpai Dupa sebagai salah satu saranya. Jika kita coba renungkan kembali akan arti dan fungsinya, tentu mempunyai makna yang dalam. Sehingga wajib ada dalam persembahyangan.
Dupa berasal dari “wisma” yaitu alam semesta menyala dan asapnya bergerak keatas, pelan-pelan menyatu dengan angkasa. Ini dapat dikatakan sebagai lambang penuntun umat, bagi yang melakukan sembahyang agar menghidupkan api dalam dirinya (bhuana alit) dan menggerakkannya menuju persatuan dengan Hyang Widhi. Seperti yang diibaratkan dengan Dupa yang asapnya menuju keatas dan menyatu dengan angkasa.
Dengan demikian, dapat dikutip bahwa Dupa adalah lambang pertemuan antara umat dengan Tuhannya.

API TAKEP SEDERHANA TAPI MEMILIKI PERAN YANG SANGAT PENTING

 


Api Takep adalah api yang dibuat dalam dua buah sabut kelapa yang dicakupkan menyilang sehingga membentuk tapak dara ( + )
Dalam penggunaan saat upacara yadnya memiliki fungsi yang berbeda-beda yaitu :
1. Dalam Caru Sasih fungsinya sebagai salah satu upaya niskala yang sangat penting dilakukan agar terhindar dari pengaruh kala.
2. Sebagai perlengkapan sesuwuk yang ditaruh di “lebuh” / depan rumah berfungsi untuk menetralisir kekuatan - kekuatan jahat agar menjadi suatu kekuatan yang baik.
3. Dalam Nglungang Ida Bhatara sebagai perlengkapan pemendakan dalam prosesi mengiringi Ida Bhatara yang telah hadir.
4. Api takep yang membumbung ke udara dari tetimpug diyakini sebagai penghantar ritual dalam upacara yadnya.
5. Sebagai sarana perlengkapan dalam pawiwahan berfungsi agar setiap pasangan Selalu setia terhadap janji dan kata hati.
6. Dan penggunaanya saat Kajeng Kliwon Enyitan, api takep dari dua buah sabut kelapa tersebut biasanya disertai dengan segehan, beras dan tetabuhan berupa air, tuak, arak serta berem berfungsi untuk menetralisir dan menghilangkan pengaruh negatip sekitar rumah.