Minggu, 19 Oktober 2025

WAYANG “LEAK”, WAYANG CALONARANG

 



Wayang Calonarang juga sering disebut sebagai Wayang Leak, adalah salah satu jenis wayang kulit Bali yang dianggap angker karena dalam pertunjukannya banyak mengungkapkan nilai-nilai magis dan rahasia pangiwa dan panengen. Wayang ini pada dasarnya adalah pertunjukan wayang yang mengkhususkan lakon-lakon dari cerita Calonarang. Kekhasan pertunjukan wayang Calonarang terletak pada tarian sisiya-nya dengan teknik permainan ngalinting dan adegan ngundang-ngundang di mana sang dalang membeberkan atau menyebutkan nama-nama mereka yang mempraktekkan pangiwa. Hingga kini wayang Calon arang masih ada di beberapa Kabupaten di Bali walaupun popularitasnya masih di bawah wayang parwa. Wayang calon arang biasanya diselenggarakan pada hari odalan, di daerah-daerah yang oleh masyarakat suku Bali diperkirakan sering dikunjungi leak, misalnya di dekat kuburan atau tempat ngaben. Leak adalah semacam makhluk halus dalam mitologi Bali. Dalam bentuk Wayang Kulit, Wayang Calon Arang menampilkan bentuk-bentuk tokoh makhluk menakutkan. Untuk mempergelarkan Wayang Calon Arang, diperlukan beberapa bebanten atau sesaji yang khusus. 

MAKNA BUDA WAGE KELAWU, PIODALAN RAMBUT SEDANA

 



Piodalan atau upacara yadnya Rambut Sedana adalah untuk memperingati hari pemujaan khusus kepada Bhatara Rambut Sedana yaitu pada Buda Wage, Wuku Kelawu atau lebih dikenal Buda Cemeng Kelawu yang jatuh setiap 210 hari sekali. Pemujaan pada hari ini lebih banyak diperuntukkan untuk Bhatara Sri Sedana. Dewa Kekayaan, kemakmuran, kemurnian, dan kedermawanan selalu dihubungkan dengan Dewi Laksmi. Dalam tradisi agama Hindu di Bali, “Bhatara Rambut Sedana” dipuja sebagai “Dewi Kesejahteraan” yang menganugerahkan harta kekayaan, emas-perak (sarwa mule), permata dan uang (dana) kepada manusia. Kegiatan peringatan “Sri Sedana” yang lazim disebut “Rambut Sedana” merupakan hari raya atau odalan bagi uang maupun nafkah yang telah dianugerahkan Tuhan Yang Maha Esa kepada umat Manusia. Setiap pasar di Bali juga mempunyai pelinggih atau pura Bhatari Melanting yang dihormati sebagai ‘Dewi Perekonomian’ dan setiap hari Buda Cemeng Kelawu akan dilakukan peringatan untuk mengucapkan rasa syukur atas rejeki yang diperoleh yang ditujukan kepada Bhatara Rambut Sedana. Buda Cemeng Kelawu ini merupakan hari perayaan yang cukup penting bagi umat Hindu khususnya di Bali. Tidak heran jika hari Buda Cemeng Kelawu ini lebih banyak dirayakan oleh mereka yang membuka usaha perdagangan di Bali, misalnya pedagang di pasar (kelontong), toko sembako, pemilik warung, bahkan sampai ke perusahaan-perusahaan yang mengalirkan dana secara cepat dalam menjalankan perusahaan tersebut. Di setiap tempat yang digunakan untuk menyimpan uang diberikan sesajen khusus untuk menghormati Dewi Laksmi/Betara Sedana sebagai rasa terima kasih atas pemberian-Nya.

Sumber : mantrahindu.com

FUNGSI ALANG-ALANG (AMBENGAN) DALAM HINDU BALI

 



Banyak kisah cerita yang menguraikan dari fungsi alang-alang dalam agama Hindu. Seperti misalnya dalam naskah Siwa Gama, maupun dalam Adi Parwa. Termasuk pula beberapa kisah dari para balian, bahwa alang-alang merupakan senjata ampuh yang mematikan yang sering digunakan berperang di alam gaib. Alang-alang dalam bahasa bali disebut dengan ambengan. Secara niskala sebagai sarana penyucian ambengan dapat membuat segala sesuatu menjadi suci, itulah salah satu keagungan dari ambengan. Pemasangan karawista sebagai gelung (ikat kepala) pada orang suci (Sulinggih) ketika menyelesaikan suatu upacara dan pada orang-orang yang sedang diupacarai, seperti pada upacara potong gigi, mewinten, mejaya-jaya, dan upacara yang lainnya, dimaksudkan untuk menjadikan badan suci, sehingga Hyang Widhi berkenan bertahta di dalam diri kita. Tak jauh beda halnya dengan pemasangan Karawista pada Ciwambha (sejenis periuk sebagai tempat pembuatan tirta oleh Sulinggih) dengan maksud agar secara niskala priuk tempat tirta dan airnya menjadi suci diterima oleh Ciwatman yang bersifat suci. Sementara untuk aled (alas) dari air suci tersebut juga terbuat dari rumput alang-alang yang sering disebut dengan lekeh.

Jumat, 17 Oktober 2025

MENGENAL PURA LUHUR SERIJONG, PAYUK KEBO IWA

 



Pura Luhur Serijong terletak di Banjar Payan, Desa Pakraman Batu Lumbang, Antap Selemadeg. Pura ini berlokasi sekitar 15 km dari Tabanan arah barat atau 45 km dari Denpasar. Pendirian Pura Serijong ini juga memiliki sejarah yang unik. Di mana pada zaman lampau masyarakat sekitar yang kala itu sebagian besar tinggal di tepi pantai dengan profesi nelayan dan petani melihat seberkas cahaya yang posisinya terletak di tepian pantai yang berbatu karang. Di sekitar cahaya itu, dikelilingi pohon kelapa dan semak-semak. Di tempat itu yang merupakan batu karang dibangunlah sebuah pura oleh masyarakat sekitar dan diberi nama Pura Luhur Serijong. Maka sangat pantaslah pura yang masih terkait dengan perjalanan Dang Hyang Dwijendra ini berfungsi sebagai penerang, pemberi pengetahuan bagi umat manusia. Buda Umanis Prangbakat merupakan piodalan di pura ini yang sangat ditunggu-tunggu oleh krama. Bukan hanya dari daerah Selemadeg, umat dari berbagai wilayah di Bali kerap pedek tangkil ke pura ini.

Secara filosofis, selain berupa pemujaan Tuhan dalam wujud cahaya (sinar) pada mulanya, pura ini juga sebagai pemujaan Dang Hyang Dwijendra yang merupakan guru yang sangat berjasa di Bali dan mampu memberikan penerangan. Areal lain yang masih menjadi satu areal dengan keberadaan pura ini adalah kawasan disucikan yang menurut legenda dan kepercayaan masyarakat setempat merupakan situs peninggalan Kebo Iwa, patih Bali yang sangat termashyur. Di sana terdapat sebuah batu karang dikelilingi pasir dan air laut, berukuran kurang lebih 3 meter, disebut Payuk Kebo Iwa. Payuk berarti periuk, yang dipercaya milik Kebo Iwo. Di sebelah baratnya, di samping Pura Luhur Serijong, terdapat batu karang yang persis seperti dapur penduduk asli, berukuran lebih kurang 1 x 20 meter. Di sanalah Kebo Iwa diyakini memasak dengan mempergunakan periuknya tersebut. 


TRADISI MESABATAN BIU DI DESA TENGANAN



Tenganan adalah sebuah desa tua dan desa wisata di Bali. Desa ini memiliki banyak tradisi, salah satunya tradisi perang pisang atau mesabatan biu. Tradisi ini diadakan saat upacara saat akhir bulan maret dan awal april di Desa Daud Tukad Tenganan, kecamatan manggis, kabupaten karangasem. Upacara unik ini memiliki hubungan ritual dan religi yang dijalankan turun temurun oleh masyarakat Tenangan, dan sering menjadi hiburan bagi para wisatawan. Sesuai dengan namanya, perang pisang atau mesabatan biu menggunakan pisang sebagai senjata dalam perang dengan tambahan buah kelapa. Upacaranya biasanya diikuti oleh 16 pemuda desa yang dipilih untuk dapat melawan 2 orang (dalam hal ini calon ketua dan wakil), kemudian dengan aba-aba dari kelian adat tenganan, perang dimulai dengan para pemuda yang berlari menuju pertengahan jalan hingga mencapai pintu gerbang Pura Bale Agung dimana terdapat 2 calon ketua dan wakil pemuda yang menjadi sasaran perang pisang. Upacara perang pisang atau mesabatan biu memiliki tujuan untuk mencari pemimpin yang kuat fisik serta mental dalam menghadapi berbagai persoalan yang kompleks.

SEJARAH SUKU BALI

 


PRASEJARAH BALI & ASAL USUL NENEK MOYANG
Asal usul nenek moyang orang Bali dapat dilacak hingga masa prasejarah, sekitar 2000 tahun yang lalu. Masyarakat Bali berasal dari bangsa Austronesia, yang menyebar dari Taiwan sekitar 2000 SM dan bermigrasi ke seluruh wilayah Asia Tenggara. Mereka adalah pelaut ulung yang menetap di Bali dan membangun peradaban awal dengan bercocok tanam, terutama penanaman padi di sawah. Bali yang subur menjadi tempat yang ideal untuk pertanian, dan sistem irigasi yang kelak dikenal sebagai subak mulai berkembang pada masa ini.
Pada masa berikutnya, masyarakat Bali mulai menerima pengaruh budaya megalitik, terlihat dari penggunaan batu-batu besar dalam upacara-upacara keagamaan dan penguburan. Artefak megalitik seperti dolmen, menhir, dan sarkofagus ditemukan di beberapa wilayah Bali, seperti di desa Trunyan dan Tenganan. Kepercayaan animisme dan dinamisme mengakar dalam masyarakat Bali awal, di mana roh leluhur dan kekuatan alam dianggap memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari.
Jejak kehidupan manusia di Bali sudah ada sejak masa prasejarah, yang dapat dilacak melalui penemuan artefak-artefak seperti alat-alat batu di kawasan Pejeng, Gianyar. Perkembangan kebudayaan di Bali terjadi seiring dengan budaya megalitik, ditandai dengan ditemukannya sarkofagus, dolmen, dan menhir di beberapa tempat, seperti di desa Trunyan dan Tenganan. Pada masa ini, masyarakat Bali hidup dalam kelompok-kelompok kecil yang mulai mengenal sistem kepercayaan animisme dan dinamisme.
Sekitar abad ke-1 hingga ke-8 M, Bali mulai menerima pengaruh dari India melalui jalur perdagangan, membawa agama Hindu dan Buddha ke Bali. Pengaruh ini melebur dengan kepercayaan lokal, menciptakan sistem kepercayaan Hindu Bali yang unik, yang memadukan pemujaan terhadap dewa-dewa Hindu dengan penghormatan terhadap roh leluhur dan alam.
PENGARUH INDIA & KERAJAAN AWAL
Bali mulai mendapat pengaruh India melalui jalur perdagangan yang berkembang pesat di Asia Tenggara sekitar abad ke-1 hingga ke-8 Masehi. Pengaruh ini membawa agama Hindu dan Buddha, yang kemudian melebur ke dalam kebudayaan lokal Bali. Salah satu bukti awal pengaruh India adalah prasasti Sanur (tahun 914 M), yang mencatat keberadaan seorang raja bernama Sri Kesari Warmadewa. Dinasti Warmadewa adalah dinasti pertama yang tercatat memerintah di Bali, dan mereka dianggap sebagai pelopor kerajaan awal di Bali, termasuk Kerajaan Bedahulu.
Kerajaan Bedahulu (juga dikenal sebagai Pejeng) memerintah Bali hingga abad ke-14. Raja terakhirnya, Sri Astasura Ratna Bumi Banten, dikalahkan oleh ekspedisi Majapahit di bawah pimpinan Gajah Mada pada tahun 1343. Kekalahan ini menandai dimulainya era baru bagi Bali, yaitu integrasi Bali ke dalam Kerajaan Majapahit.
BALI AGA : MASYARAKAT ASLI PRA-MAJAPAHIT
Masyarakat asli Bali yang disebut Bali Aga adalah penduduk yang hidup di pegunungan dan desa-desa terpencil, seperti Tenganan dan Trunyan. Mereka adalah masyarakat yang menjaga tradisi prasejarah dan Hindu lokal sebelum kedatangan pengaruh Majapahit. Bali Aga memiliki adat yang berbeda dengan Bali Majapahit, seperti sistem penguburan mayat yang unik di Trunyan, yang mana jenazah tidak dikuburkan melainkan diletakkan di bawah pohon taru menyan, sebuah pohon besar yang mengeluarkan aroma khas dan menghalau bau busuk jenazah.
ERA MAJAPAHIT / BALI MAJAPAHIT
Setelah ekspedisi Majapahit di bawah Gajah Mada berhasil menaklukkan Bali pada tahun 1343, Bali secara resmi menjadi bagian dari kerajaan besar tersebut. Pengaruh Majapahit sangat kuat di Bali, membawa budaya, agama, dan sistem pemerintahan Jawa Timur ke pulau ini. Hindu-Jawa yang berkembang di Majapahit juga diterima oleh masyarakat Bali, menciptakan apa yang kemudian dikenal sebagai Bali Majapahit. Pada masa ini, pusat kekuasaan Bali dipindahkan dari Bedahulu ke Gelgel, yang menjadi kerajaan Bali yang kuat dan berpengaruh hingga abad ke-17.
Raja-raja Gelgel memerintah dengan kebudayaan Hindu-Bali yang kental, dan pada masa ini, Bali menjadi salah satu pusat kebudayaan Hindu di Nusantara, terutama setelah kejatuhan Majapahit pada abad ke-15. Banyak bangsawan dan seniman dari Majapahit melarikan diri ke Bali, membawa serta kebudayaan Jawa Hindu yang memperkaya budaya lokal Bali.
PERIODE KERAJAAN-KERAJAAN BALI
Setelah era Gelgel, Bali terpecah menjadi beberapa kerajaan kecil, seperti Klungkung, Gianyar, Badung, Karangasem, dan Buleleng. Setiap kerajaan memiliki otonomi sendiri dan sering kali terlibat dalam perselisihan atau perang antar kerajaan. Salah satu kerajaan yang cukup kuat pada periode ini adalah Kerajaan Karangasem yang pada masa tertentu juga menguasai wilayah Lombok.
Meskipun begitu, budaya Bali tetap bertahan dan berkembang dengan sangat pesat. Upacara-upacara keagamaan, seni tari, ukiran, dan arsitektur yang kaya menjadi ciri khas Bali selama periode kerajaan-kerajaan kecil ini. Hingga saat ini, budaya dan tradisi yang diwariskan oleh kerajaan-kerajaan ini masih sangat hidup di masyarakat Bali.
ERA KOLONIAL BELANDA
Pada abad ke-19, Belanda mulai memperluas pengaruhnya ke Bali, yang saat itu masih terpecah dalam kerajaan-kerajaan kecil. Belanda melakukan beberapa ekspedisi militer untuk menaklukkan Bali. Salah satu yang terkenal adalah Perang Puputan, perlawanan heroik rakyat Bali di Badung (1906) dan Klungkung (1908) melawan tentara Belanda. Meskipun perlawanan ini berakhir dengan kekalahan, masyarakat Bali memperlihatkan semangat juang yang luar biasa dengan banyaknya raja dan rakyat yang memilih bertempur hingga mati daripada menyerah.
Setelah berhasil menguasai Bali, Belanda memasukkan Bali ke dalam Hindia Belanda, tetapi mereka tetap menghormati tradisi dan sistem pemerintahan lokal, yang memungkinkan Bali tetap menjaga identitas kebudayaannya.
BALI DI ERA KEMERDEKAAN & ZAMAN MODERN
Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, Bali menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pulau ini kemudian berkembang sebagai salah satu pusat kebudayaan, pariwisata, dan seni di Indonesia. Sejak dekade 1970-an, Bali mengalami ledakan pariwisata, yang membawa banyak perubahan di bidang ekonomi, infrastruktur, dan sosial. Namun, Bali tetap mempertahankan identitas budaya dan tradisinya.
Bali juga mengalami tantangan besar, seperti serangan bom pada tahun 2002 dan 2005 yang merenggut banyak nyawa. Namun, masyarakat Bali berhasil bangkit kembali, dan hingga saat ini Bali tetap menjadi salah satu destinasi wisata paling terkenal di dunia, yang kaya akan budaya, seni, dan spiritualitas.
KEUNIKAN BUDAYA BALI
Hingga kini, masyarakat Bali masih memegang teguh tradisi keagamaan dan adat istiadat mereka. Agama Hindu Bali menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat, dengan ritual keagamaan yang rumit dan sakral, seperti upacara Ngaben (pembakaran jenazah), Galungan, dan Nyepi. Pura, yang menjadi pusat kehidupan spiritual masyarakat Bali, tersebar di seluruh pulau. Pura Besakih, yang terletak di kaki Gunung Agung, adalah pura terbesar dan tersuci di Bali.
Seni tari, ukir, dan musik gamelan Bali juga menjadi ciri khas kebudayaan Bali yang diakui di dunia internasional. Tarian seperti Kecak, Barong, dan Legong sangat terkenal dan sering dipertunjukkan di berbagai tempat untuk wisatawan.
Sejarah Bali mencerminkan perjalanan panjang dari masa prasejarah hingga menjadi pusat kebudayaan Hindu yang kaya dan berpengaruh. Meskipun mengalami berbagai tantangan, baik dari luar maupun dalam, Bali berhasil menjaga identitasnya sebagai pulau yang kaya akan budaya, spiritualitas, dan seni. Hingga saat ini, Bali terus berkembang sebagai salah satu ikon kebudayaan dan pariwisata Indonesia.
Referensi sumber:
Covarrubias, Miguel. Island of Bali. New York: Alfred A. Knopf, 1937.
Geertz, Clifford. Negara: The Theatre State in Nineteenth-Century Bali. Princeton: Princeton University Press, 1980.
Pringle, Robert. A Short History of Bali: Indonesia's Hindu Realm. Crows Nest: Allen & Unwin, 2004.

HAL YANG TERJADI JIKA SALAH MENEMPATKAN PENUNGGUN KARANG

 


Penunggu Karang bagi umat Hindu Bali merupakan salah satu bangunan suci yang wajib dimiliki. Banyak umat Hindu Bali, akibat pekarangan yang sempit, kesulitan tata ruang, ditambah petunjuk yang keliru, lalu menempatkan penunggu karang pada posisi yang tidak benar. Jika sudah begitu maka bukan hanya posisi yang tidak enak dilihat saja namun ada juga beberapa hal yang akan sering terjadi jika terjadi kesalahan penempatan penunggu karang, seperti yang tertulis dibawah ini:
1. Jika Penunggu Karang berada di dalam merajan, akibatnya adalah mudah selisih paham. Penghuni rumah sering bertengkar, mudah sakit kepala belakang, inguh, tidak betah di rumah dan pekarangan mudah dimasuki mahluk gaib.
2. Penunggu karang yang posisinya kaja kangin menyebabkan penghuni mudah selisih paham, sering diganggu manusia sakti, kowos boros.
3. Penunggu karang yang posisinya menghadap ke barat menyebabkan penghuni sering sakit kepala belakang, sering mendapat serangan ilmu hitam.
4. Penunggu karang yang tidak memiliki pagar, menyebabkan penghuni kowos boros dan sering inguh.
5. Penunggu karang tabrak lebuh, menyebabkan penghuni sering sakit pinggang dan punggung.