Jumat, 09 Januari 2026

Ratu Niang Lingsir

 



Ratu Niang Lingsir, siapakah sejatinya beliau⁉️šŸ¤” Kenapa Beliau dipuja ⁉️šŸ¤”

Ratu Niang Lingsir, yang juga dikenal sebagai Ida Bhatari Lingsir atau Ratu Niang Sakti, adalah sosok dewi yang sangat dihormati dalam kepercayaan Hindu Bali. Beliau diyakini sebagai manifestasi dari Ida Sanghyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) yang bersthana di beberapa tempat suci.
Siapakah Beliau⁉️šŸ¤”
Beliau digambarkan sebagai sosok wanita tua ("Niang" berarti nenek, "Lingsir" berarti lanjut usia) yang memiliki kekuatan spiritual besar.
Asal-usul pemujaannya sering dikaitkan dengan:
Perjalanan Danghyang Nirartha: Pemujaan beliau diyakini memiliki hubungan sejarah dengan perjalanan suci Danghyang Nirartha dari Jawa Timur ke Bali pada abad ke-16.
Penguasa Wilayah: Beliau dianggap sebagai penguasa spiritual wilayah Tanah Kilap dan sekitarnya.
Mengapa Beliau Dipuja⁉️šŸ¤”
Umat Hindu memuja Ratu Niang Lingsir karena beliau dipercaya sebagai sosok yang sangat pemurah dan memiliki berbagai fungsi spiritual, di antaranya:
Memberikan Kesejahteraan dan Kemakmuran: Beliau diyakini mampu menganugerahkan kesejahteraan bagi masyarakat yang memohon dengan tulus.
Memohon Keselamatan: Banyak pemuja yang datang untuk memohon keselamatan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Memohon Keturunan: Bagi pasangan yang belum dikaruniai anak, beliau diyakini dapat membantu memberikan anugerah keturunan.

SIAPAKAH SESUNGGUHNYA SUMBER SEMUA SENJATA ILAHI?



Dalam Vana Parva (Āraṇyaka Parva) adhyāya 39–45 — khususnya episode KirātārjunÄ«ya — Mahābhārata secara eksplisit menegaskan bahwa:
Sumber seluruh senjata ilahi adalah Nārāyaṇa (ŚrÄ« Kṛṣṇa / Viṣṇu),
sedangkan Śiva (Mahādeva) hanyalah perantara (nimitta-mātra) dalam pemberiannya kepada Arjuna.
Berikut sloka-sloka kunci yang menjadi dasar pernyataan tersebut.
1. Śiva menyatakan dirinya bergantung pada Nārāyaṇa
Vana Parva 43 (CE: 3.43)
Ketika Arjuna telah lulus ujian dan mengenali Kirāta sebagai Mahādeva, Śiva berkata:
nārāyaṇād ahaṁ prāpto brahmā caiva pitāmahaįø„ |
nārāyaṇāc ca devendro varuṇo yama eva ca ||
"Aku (Śiva) berasal dari Nārāyaṇa; demikian pula Brahmā sang Pitāmaha. Dari Nārāyaṇa pula Indra, Varuṇa, dan Yama berasal."
Makna teologis:
Śiva menolak posisi sebagai sumber otonom. Ia menegaskan bahwa dirinya dan para deva lain berakar pada Nārāyaṇa.
2. Semua senjata ilahi bersumber dari Nārāyaṇa
Vana Parva 43
Śiva melanjutkan penegasan mengenai senjata:
nārāyaṇo ’strakartā ca
devānām api devatā |
matto labhante devā hi
tāni tasmāt sanātanāt ||
"Nārāyaṇa adalah pencipta senjata,
Tuhan bahkan bagi para dewa.
Para dewa menerimanya melalui diriku, namun senjata itu berasal dari Dia yang abadi."
Ini sloka paling eksplisit:
Nārāyaṇa = astrakartā (pencipta senjata)
Śiva = saluran distribusi, bukan sumber
3. Śiva menyebut dirinya hanya pelaksana kehendak Nārāyaṇa
Vana Parva 43
nārāyaṇasya tejo ’haṁ
dhārayāmi na saṁśayaįø„ |
ājñayā tasya lokeṣu
vicarāmi mahābala ||
"Aku menanggung cahaya (śakti) Nārāyaṇa tanpa keraguan.
Dengan perintah-Nyalah aku berkelana di dunia-dunia, wahai Arjuna."
Implikasi:
Śiva bukan otoritas independen, melainkan eksekutor kehendak Nārāyaṇa.
4. Pemberian Pāśupatāstra sendiri terjadi setelah pengakuan ini
Baru setelah penegasan supremasi Nārāyaṇa tersebut, Śiva berkata:
गृहाण पाशुपतं दिव्यमस्त्रं
लोकभयंकरम्
“Terimalah Pāśupatāstra ilahi ini, yang menakutkan seluruh alam.”
#Urutan ini sangat penting:
• Pengakuan sumber tertinggi = Nārāyaṇa
• Baru kemudian Śiva memberi senjata
Kesimpulan tegas (berdasarkan Vana Parva sendiri)
✔ Semua senjata ilahi berasal dari Nārāyaṇa
✔ Śiva hanyalah perantara pemberian
✔ Ini bukan tafsir GauįøÄ«ya belaka, melainkan pengakuan eksplisit Śiva dalam Mahābhārata
Kirātārjunīya bukan glorifikasi independen Śiva,
melainkan teologi Vaiṣṇava yang disampaikan lewat mulut Śiva sendiri.
Berikut sloka-sloka paralel (teks sejajar) dari Mahābhārata dan Purāṇa yang menguatkan pernyataan Vana Parva bahwa:
Seluruh senjata (astra) bersumber dari Nārāyaṇa,
Śiva berfungsi sebagai perantara / pelaksana kehendak-Nya, bukan sumber otonom.
5. Mahābhārata – Bhīṣma Parva (Viṣṇu Sahasranāma)
Bhīṣma Parva 13.135 (VS 25–27)
nārāyaṇaįø„ paro devaįø„
devatānāṁ ca daivatam |
viśvasya jagataįø„ kartā
saṁhartā ca narādhipa ||
"Nārāyaṇa adalah Tuhan Tertinggi,
Tuhan bagi para dewa;
Pencipta dan Pelebur seluruh jagat."
Implikasi langsung ke senjata:
Jika pencipta dan pelebur alam, maka astra (alat pelebur kosmik) tidak mungkin bersumber dari entitas lain.
6. Mahābhārata – Śānti Parva (Nārāyaṇīya)
Śānti Parva 349.65–66
nārāyaṇaįø„ paraṁ brahma
nārāyaṇaįø„ paraįø„ śivaįø„ |
nārāyaṇaįø„ paro dhātā
dhātā cāpi nārāyaṇaįø„ ||
"Nārāyaṇa adalah Brahman Tertinggi;
Nārāyaṇa pula adalah Śiva Tertinggi.
Nārāyaṇa adalah Pencipta,
dan Pencipta itu sendiri adalah Nārāyaṇa."
Kunci teologis:
Śiva bukan entitas independen, tetapi fungsi / manifestasi dari Nārāyaṇa.
Śānti Parva 349.70
yataįø„ sarvāṇi bhÅ«tāni
jāyante yatra yānti ca |
astrāṇi cāpi jāyante
nārāyaṇa-samudbhavāt ||
"Dari-Nya semua makhluk lahir dan kembali; bahkan senjata-senjata ilahi pun muncul dari Nārāyaṇa.
Ini paralel langsung dengan Vana Parva:
astra --> nārāyaṇa-samudbhava
7. Mahābhārata – Droṇa Parva
Droṇa Parva 202.30
nārāyaṇāstram ity etat
trailokya-pralayāvaham |
svayaṁ nārāyaṇo devaįø„
pravartayati nānyathā ||
"Astra ini disebut Nārāyaṇāstra,
yang mampu menghancurkan tiga dunia. Hanya Nārāyaṇa sendirilah
yang dapat menggerakkannya — bukan yang lain."
Prinsip penting:
Senjata tertinggi tidak tunduk pada deva lain, termasuk Śiva.
8. Purāṇa – Padma Purāṇa (Uttara-khaį¹‡įøa)
Padma Purāṇa 236.18–19
yena astrāṇi sį¹›jyante
yenaiva ca vilīyate |
sa eva bhagavān viṣṇuįø„
sarvāstrāṇāṁ prabhuįø„ smį¹›taįø„ ||
"Dia yang darinya senjata diciptakan 8dan ke dalam-Nya senjata lenyap—Dialah Bhagavān Viṣṇu, Tuhan seluruh senjata."
9. Purāṇa – Viṣṇu Purāṇa
Viṣṇu Purāṇa 1.9.69
शक्तयः सर्वदेवानां
नारायणसमुद्भवाः ।
"Seluruh kekuatan para deva
berasal dari Nārāyaṇa."
Astra = śakti yang terpersonifikasi
10. Sintesis Final
| Aspek || Kesaksian |
| Sumber astra || Nārāyaṇa (Vana, Śānti, Droṇa)|
| Peran Śiva || Perantara / manifestasi |
| Pengakuan Śiva sendiri || “nārāyaṇād ahaṁ prāptaįø„”|
| Konsistensi lintas kitab || Itihāsa + Purāṇa |