Jumat, 09 Januari 2026

Durhaka Indonesia Kepada Bali

 


Bali lebih Populer dari Indonesia sejak Republik ini belum ada.
Arabisasi berkedok persatuan dan keragaman budaya. Kita masih ingat saat Nyepi, banyak orang-orang pendatang dari luar yang berani membuka portal tanda larangan beraktivitas diluar rumah. Juga Si nenek sihir Ratna Sarumpaet, berani berkeliaran saat hari raya Nyepi dengan alasan cari ATM.
Begitulah otak orang-orang yang belum pernah digosok diatas aspal, tidak pernah puas dan berhenti sebelum seluruh peradaban di bumi ini ikut gaya mereka. Semua peradaban yang dimasuki agama ini pasti rusak dan hilang keasliannya, hilang jatidiri nya dan dipaksa ikut koplak bersama mereka.
Gila!!!
Saya dan kita semua yang waras dan cinta keaslian budaya bangsa, tentu merasa resah dengan kelakuan manusia-manusia bajindol yang berusaha merusak dan menguasai Bali dengan berbagai cara. Sebab sudah ratusan tahun agama koplak tak mampu menguasai Bali beserta kulturnya.
Sejak abad-15 kesakralan dan kesaktian tanah Bali tak mampu ditundukkan, tapi saat ini dengan dalih kesatuan dan persatuan serta kebhinekaan, mereka berusaha kembali menguasai Bali.
Seolah olah cinta budaya Bali, tapi merusak pakem dan ciri khasnya. Dengan cara itulah mereka berusaha mendestruksi keaslian budaya Bali. Lebih mirisnya lagi, hal itu juga dilakukan oleh orang-orang terkenal, seperti para selebriti dan bahkan dahulu juga oleh ibu negara.
Pemerintah durhaka, negeri ini juga tak mampu berfikir buat melindungi keaslian budayanya sendiri.
Dan hanya negara bodoh yang membiarkan keaslian budayanya dirusak tanpa ada upaya untuk melindungi dan mempertahankannya.
Perlu dibuat Undang-Undang tentang keaslian budaya lokal yang diterapkan di tiap daerah, agar para bajindol tak seenaknya merusak keaslian budaya dan tradisi dimanapun dan darimanapun mereka masuknya.
Bukan rasis atau mau menutup diri, tapi diakui atau tidak, kaum pendatang yang saat ini memadati Bali, sudah mulai bertindak seenaknya dan tak tau diri. Akankah masyarakat Bali juga ikut-ikutan menjadi tamu di rumahnya sendiri?
Belum lagi saat Hare Krisna juga masuk ke Bali, kamuflase dan penyamaran seolah-olah sealiran juga merusak Bali dari dalam. Banyaknya tokoh-tokoh Bali di pusat (Jakarta) yang justru memberi angin pada para perusak. Ini membuat gerakan perusak transnasional ini bebas bergerak dan mendapat simpati dari beberapa masyarakat Bali.
Ada beberapa teman di Bali berkata "Jangan khawatir, kami masih kuat menjaga adat dan budaya kami."
Sampai saat ini hal itu benar adanya, dan saya salut dan juga percaya.
Tapi mohon diingat bahwa,
"Bukan ombak besar yang mampu melubangi batu karang, tapi tetesan-tetesan air yang kecil namun konstan dan tetap dalam waktu lama yang mampu membuat batu karang jebol bahkan ambyar"
Dan hal itu sedang berlangsung saat ini, tidak mungkin mereka para kadrun mampu menjebol budaya Bali secara serta merta dan dalam waktu yang singkat, tetapi sedikit demi sedikit namun konstan mereka berusaha membobol dan mengagahi kebudayaan leluhur kita. Pertanyaanya, apakah ini yang kalian inginkan?
Untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmuran, faktor ekonomi dan pariwisata memang menjadi penunjang yang vital. Namun belakangan media mulai menyoroti ulah beberapa wisatawan juga mulai berbuat seenaknya di Bali. Melanggar dan menantang norma-norma adat dan tradisi serta budaya Bali. Harga diri dan jati diri akankah ditukar dengan kepentingan ekonomi???
Jika pemerintah pusat tidak mau memberi kewenangan konstitusional kepada rakyat Bali untuk membentengi budaya, tradisi dan peradaban Bali. Maka sudah jelas dan terang benderang bahwa Indonesia telah durhaka kepada Bali.
Bali harus diberi kewenangan seperti Aceh!
Kalau aceh boleh, kenapa Bali tidak?
Be Carefull Bali !!!
Semoga gema genta bajra dan wangi sesajimu mampu membangunkan mereka yang mulai tergiur surga yang semu.
Himbauan bagi masyarakat Bali, awasi terus gerak-gerik mereka yang sengaja menelusup masuk untuk merusak adat istiadat peradaban Bali. Karena saat ini yang masih kita banggakan akan kelestariannya adalah di Bali. Maka mau tidak mau kalianlah yang selalu jadi garda terdepan untuk selalu siap menghadapi kaum BAR-BAR yang setiap saat akan merusak dan merongrong kelestarisan dari peradaban budaya-MU🇮🇩🙏
Ingat sekali lagi! 👇
Kaum bar-bar itu dimana kaki berpijak, budaya orang dirusak!
Salam waras.
Salam cerdas
Nuwun...

Batu Lesung di Sungai Ayung, Antara Kepercayaan Gaib dan Kearifan Lokal Bali

 


Percaya atau tidak, kisah tentang dunia niskala masih lekat dalam kehidupan masyarakat Bali. Salah satunya adalah Batu Lesung di aliran Sungai Ayung, tepatnya di Banjar Karangdalem I, Desa Bongkasa, Abiansemal, Badung. Hingga kini, batu ini diyakini memiliki keunikan dan khasiat penyembuhan, dan tetap dijaga penuh hormat oleh warga sekitar.
Seorang pedagang yang biasa melayani wisatawan arung jeram di kawasan tersebut menuturkan, Batu Lesung dipercaya keramat. Konon, di cerukan batu itu terkadang muncul bunga tunjung (teratai). Namun, tidak semua orang bisa melihatnya.
“Katanya hanya orang tertentu yang bisa melihat. Orang yang punya kemampuan batin,” ungkapnya.
Pemilik lahan, Wayan Nantiyasa, menjelaskan bahwa sekilas batu itu tampak biasa. Namun keistimewaannya terletak pada cerukan di bagian atas yang selalu berisi air, meski berada di tepi sungai. Air inilah yang dipercaya warga memiliki khasiat untuk mengobati berbagai penyakit.
“Dari dulu orang kampung berobat ke sini. Ada yang sakit kulit, sakit karena bebai (guna-guna), bahkan yang sulit punya keturunan,” jelas Nantiyasa. Ia juga mengenang pamannya yang dulu dikenal sebagai balian dan kerap mengajak orang berobat di tempat tersebut.
Menariknya, cerukan batu itu meski tampak kecil, dipercaya mampu menampung hingga enam orang sekaligus untuk berendam. Saat berendam, orang yang datang diminta memusatkan pikiran dan memohon kesembuhan dengan tulus.
Cerita lain yang tak kalah unik, menurut penuturan orang tua dulu, cerukan Batu Lesung konon memancarkan cahaya di malam hari, sinarnya disebut-sebut menembus ke angkasa. Karena itu, warga menjaga sikap dan tutur kata di sekitar lokasi, tak berani bertindak sembarangan.
Di sekitar Batu Lesung, Nantiyasa juga menemukan sejumlah batu unik berbentuk lingga, yoni, dan lainnya. Batu-batu itu kini disimpan di sebuah gedong khusus di rumahnya, yang juga ia gunakan untuk sembahyang. Bahkan, pernah ada orang datang jauh-jauh hanya untuk mengembalikan batu soca dan manik, karena merasa benda tersebut “tidak cocok” jika dibawa pulang.
Kisah Batu Lesung bukan semata soal percaya atau tidak percaya, melainkan cerminan kearifan lokal Bali yang menghormati alam, sejarah, dan warisan leluhur. Di tengah modernitas, tempat ini tetap menjadi pengingat bahwa Bali menyimpan banyak cerita sunyi yang hidup dalam keyakinan masyarakatnya.



#bali #baliindonesia #taksu #taksubali #taksu_bali #upakara #bantenbali #canangsari #hindu #hindubali #pura #tradisibali #infobali #infodenpasar

NAGA ANANTA BOGA, WASUKI, DAN BEDAWANG NALA

 


Naga Ananta Boga dan Basuki adalah dua naga yang dikisahkan dalam Korawasrama bersama dengan Bedawang Nala yang menjadi dasar bumi. Apabila ketiganya bergerak bersama maka terjadilah gempa bumi.
Anantaboga artinya sumber makanan tanpa akhir yang secara fisik dapat diartikan sebagai tanah yang mengandung zat hara sumber makanan bagi tumbuhan. Anantaboga juga digambarkan sebagai penguasa Sapta Pattala yang dapat menghidupkan orang mati dengan Tirta Amerta. Ia di gambarkan berwarna merah. Dalam mitologi Sunda air mata Anantaboga menjadi Dewi Sri atau Dewi Padi.
Wasuki atau Basuki terkenal dalam kisah Samudra Manthana yaitu pengadukan lautan susu dalam mencari Tirta Amerta. Ia melilit gunung Mandara yang digunakan para Dewa dan Raksasa mengaduk lautan susu. Basuki sering dikaitkan dengan air sebagai penjaga kesuburan dan kemakmuran.
Bedawang Nala artinya kura-kura api, yang dapat diterjemahkan menjadi panas bumi. Umumnya aksara bedawang saat upacara turun tanah adalah Ang yang melambangkan api.
Intinya Naga Basuki, Anantaboga dan Bedawang berada di bumi ini sebagai penjaga keseimbangan dan sumber kehidupan. Nampaknya filosofis ini menjadi landasan kepercayaan saat terjadi gempa dengan berteriak "idup idup idup..." yang artinya hidup atau Urip.
Karena yang bergerak menggeliat itu adalah sumber kehidupan itu sendiri. Tidak berlebih jika orang Sunda juga memberi nama gunung Sada Hurip, orang Dayak menyebut keyakinan mereka sebagai KAHARINGAN yang artinya Hidup.
Karena itu agama Hindu Nusantara adalah agama kehidupan. Ini dapat dilihat dari puja pengambeyan: Ong Sang Hyang Sapta Pattala, Sapta Dewata, Sang Hyang Panca Korsika Gana, Makadi ta Sang Hyang Urip, Sira apageha RI stanan Ira swang swang ....