Kisah Maharaja Pṛthu dari tradisi Weda memberikan contoh yang luar biasa tentang bagaimana kekuasaan politik dapat diselaraskan dengan kesadaran spiritual. Beliau sering disebut sebagai Jñānī-raja (Raja yang Bijaksana) karena kemampuannya memimpin dunia material tanpa kehilangan fokus pada pengabdian suci (bhakti). Ia dikenal sebagai raja pertama yang ditahbiskan dan membawa peradaban ke bumi, sehingga bumi juga dikenal dengan nama Prithvi (putri Prithu).
Berikut adalah kisah Maharaja Prithu, yang sebagian besar berasal dari Purana seperti Bhagavata Purana dan Wisnu Purana:
Kisah Prithu dimulai dengan ayahnya, Raja Wena, seorang penguasa jahat yang menindas rakyatnya dan melarang segala bentuk ritual Weda. Karena kejahatannya, para resi (orang suci) membunuh Wena. Tanpa raja, bumi dilanda kelaparan dan kekacauan.
Untuk memulihkan ketertiban, para resi mengaduk lengan kanan jenazah Wena. Dari tubuh Wena yang telah dimurnikan, muncullah Prithu, seorang pangeran yang tampan, bersama dengan permaisurinya, Archi (dianggap sebagai inkarnasi Dewi Laksmi). Prithu lahir dengan busur, anak panah, dan baju zirah, siap menegakkan dharma (hukum abadi).
Pada masa pemerintahan Pṛthu, bumi menahan semua tumbuh-tumbuhan dan biji-bijian, menyebabkan kelaparan parah di dunia. Rakyatnya datang kepadanya mengeluh tentang kelaparan. Untuk mengatasi hal ini, Pṛthu menjadi murka dan mengejar bumi, yang melarikan diri dalam wujud seekor sapi betina.
Saang dewi bumi (Bhumi Devi) memohon ampun dan menjelaskan bahwa ia menahan hasil bumi karena pengelolaan yang buruk dan dosa-dosa para penguasa sebelumnya. Ia setuju untuk "diperas" susunya (hasil bumi), asalkan Pṛthu menyediakan tempat yang rata dan cocok untuk pertanian.
Pṛthu kemudian meratakan permukaan bumi dengan busurnya, menghilangkan bukit dan lembah yang ekstrem, sehingga memungkinkan pertanian, perkebunan, dan pemukiman manusia. Ia menjadi raja pertama yang memperkenalkan peradaban, pertanian, dan irigasi. Tindakan ini menandai dimulainya pertanian, peternakan, dan peradaban yang terstruktur.
Maharaja Pṛthu memerintah dengan penuh kasih sayang dan perhatian terhadap kesejahteraan rakyatnya (seperti yang dijelaskan dalam Instruksi dari Mahārāja Pṛthu dalam Bhagavata Purana). Ia menyebarkan pengaruh kebudayaan Brahmana dan Veda, memastikan setiap orang menjalankan tugasnya sesuai dharma (kewajiban).
Sebagai maharaja di dunia, maka Raja Prthu melakukan upacara Ashvamedha (korban kuda). Asvhamedha merupakan tradisi ritual para maharaja. Seekor kuda putih atau coklat muda emas dibiarkan dan diikuti dan dikawal oleh sekelompok pasukan, yang melindunginya dari serangan orang atau pencuri. Selama setahun kuda itu berkelana kemanapun ia suka. Bila ia melewati perbatasan kerajaan lain, raja yang daerahnya dilewati sang kuda bisa melawan pasukan pengawal atau menyerah. Setelah kuda itu aman berkeliaran secara demikian, maka kedudukan raja yang melepaskannya kuda-kuda itu telah terbukti kekuasaannya. Setelah satu tahun kuda itu akan kembali ke ibu kota dan disambut dengan upacara ritual.
Tidak tanggung-tanggung, Maharaja Prithu berketetapan melakukan upacara 100 Ashvamedha , sehingga kekuasaannya sangat luas. Dikisahkan bahwa Raja Prithu telah berhasil menyelesaikan 99 upacara Ashvamedha . Tinggal satu lagi akan mencapai tujuan 100 upacara.
Namun, Dewa Indra, raja para dewa di surga, merasa iri dengan pencapaian Pṛthu karena pada saat ini hanya dialah yang telah melakukan upacara 100 Ashvameda atau disebut Satakratu , sehingga berupaya mencegahnya. Indra tidak senang ada manusia yang menyamai kekuasaannya sebagai rajanya para dewa. Indra berulang kali mencuri kuda yang akan dikorbankan. Insiden ini menyebabkan konflik di antara mereka, yang akhirnya diselesaikan melalui campur tangan Wisnu sendiri.
Bagi Pṛthu, memerintah bukan tentang kekuasaan, melainkan tentang Yajña (persembahan).
✓Kesejahteraan Rakyat: Beliau menyadari bahwa jika rakyat lapar dan menderita, mereka tidak akan bisa fokus pada kemajuan spiritual.
✓Pendidikan Spiritual: Beliau memastikan bahwa setiap warga negara dididik dalam pengetahuan tentang jati diri (Atma-jñāna).
Para Kumāra datang kepadanya dan mengajarkan jñāna tentang Brahman dan pelepasan. Pṛthu mendengarkan dengan penuh hormat. Namun setelah semua pengetahuan itu diterimanya, ia bertanya dengan rendah hati:
“Apa tujuan akhir semua jñāna dan tapa ini?”
Para Kumāra menjawab bahwa bhakti kepada Bhagavān adalah tujuan akhir. Mendengar itu, Pṛthu bersujud dan berkata bahwa ia ingin memerintah sebagai pelayan Wisnu, bukan sebagai penguasa mandiri.
Meskipun telah melakukan 99 upacara kurban kuda (Aśvamedha-yajña) dan hampir menyaingi Dewa Indra, Pṛthu berhenti atas saran Sri Wisnu. Beliau tidak mengejar gelar "Raja Seratus Kurban," melainkan memilih untuk memuaskan Tuhan.
Beliau memohon agar diberikan "sepuluh ribu telinga" untuk mendengar kemuliaan Tuhan, daripada meminta kekayaan material. Ini adalah tanda utama seorang Bhakta (penyembah).
#Nasihat Spiritual Pṛthu kepada Rakyatnya
Setelah menstabilkan pemerintahan, Maharaja Pṛthu mengumpulkan seluruh rakyatnya di sebuah majelis besar. Pidato beliau (yang tercatat dalam Śrīmad-Bhāgavatam skanda 4) dianggap sebagai salah satu panduan kepemimpinan spiritual terbaik.
Berikut adalah poin-poin utama nasihatnya:
✓Tanggung Jawab Raja: Beliau menyatakan bahwa seorang raja bertanggung jawab atas dosa rakyatnya jika ia tidak mendidik mereka dalam jalan kebenaran (Dharma). Sebaliknya, jika rakyat taat pada Tuhan, sang raja juga mendapat bagian dari pahala mereka.
✓Tujuan Hidup Manusia: Beliau mengingatkan bahwa tubuh manusia sangat langka dan tidak boleh disia-siakan hanya untuk kesenangan indrawi seperti binatang. Tujuan utamanya adalah keluar dari siklus kelahiran dan kematian melalui Bhakti-yoga.
✓Penghormatan kepada Orang Suci: Beliau menekankan pentingnya melayani para brahmana (intelektual spiritual) dan kaum suci. Menurut beliau, debu kaki orang suci lebih berharga daripada harta apa pun karena dapat membersihkan hati dari kekotoran material.
✓Permohonan "Sepuluh Ribu Telinga": Saat Tuhan menawarkan anugerah apa pun, Pṛthu tidak meminta kekayaan. Ia berkata: "Tuhan, aku tidak butuh mukti (pembebasan) yang tanpa rasa cinta. Berikanlah aku sepuluh ribu telinga agar aku bisa terus-menerus mendengar kemuliaan-Mu dari mulut para penyembah-Mu."
Menjelang akhir masa hidupnya, meskipun telah mencapai kemakmuran materi dan spiritual tertinggi, Pṛthu meninggalkan kerajaannya untuk mencari pembebasan spiritual. Ia pergi ke hutan, menjalani kehidupan pertapaan yang ketat, dan mencapai pembebasan (moksa), kembali ke kediaman tertinggi Bhagawan Wisnu dengan sepenuhnya berlindung kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Kisah Maharaja Pṛthu melambangkan tugas suci seorang raja (Kshatriya) yang ideal: melindungi bumi, memelihara rakyatnya, dan memimpin mereka menuju kemakmuran material dan spiritual. Ia dikenang sebagai penguasa ideal (adiraja) dalam Hindu.
✓Kepemimpinan Maharaja Pṛthu mengajarkan bahwa kesejahteraan ekonomi (Artha) dan pemenuhan keinginan (Kama) harus selalu dipandu oleh Kebajikan (Dharma), dengan tujuan akhir Pembebasan Spiritual (Moksha).