Rabu, 07 Januari 2026

LUKAT GENI, TRADISI UNIK DARI KLUNGKUNG




Tradisi lukat Geni di Puri Satria Kawan, Banjar Satria, Dawan, Klungkung hampir mirip dengan tradisi Ter-teran di desa jasri, karangasem. Biasanya melukat atau membersihkan diri secara niskala menggunakan air, tapi kali ini menggunakan sarana geni (api). Tradisi lukat Geni merupakan tradisi turun-temurun masyarakat Banjar Satria yang bertujuan untuk melukat atau membersihkan diri. Tradisi lukat geni merupakan tradisi peperangan dengan sarana api dilaksanakan pada petang menjelang malam hari sebelum pawai arakan ogoh-ogoh. Dengan senjata utama yaitu daun kelapa kering yang sudah dibakar lalu dipukul-pukulkan kepada lawan, yang menimbulkan percikan-percikan api sehingga para peserta terlihat seperti mandi api makin semarak dengan diiringi tabuh baleganjur. Bagi yang menonton diharapkan untuk sedikit menjauh karena tradisi ini kadang memanas sehingga percikan api akan terbang kemana-mana. Setelah perayaan tradisi ini mereka saling tawa dan tidak ada saling dendam karena makna tradisi ini bukanlah perang untuk mencari pemenang tapi lebih kepada kebersamaan. Keyakinan dari para peserta bahwa api tidak akan melukai atau membakar diri peserta tetapi akan membersihkan diri. Lukat Geni berasal dari kata lukat atau melukat yang memiliki makna membersikan diri dari kotoran lahir dan batin, sedangkan geni yang berarti api, sehingga ritual ini bertujuan untuk membersihkan diri secara lahir dan batin dari kekotoran dengan sarana api.

Kisah Keruntuhan Kerajaan Selaparang pada Abad ke-17.

 


Kisah keruntuhan Kerajaan Selaparang telah menghiasi sejarah kerajaan-kerajaan di Nusantara.
Mengutip buku Ekonomi Islam Nusantara karya Ahmad Ubaidillah, diperoleh informasi bahwa Kerajaan Selaparang adalah salah satu kerajaan yang pernah ada di Pulau Lombok.
Pusat kerajaan ini pada masa lampau berada di Selaparang, yang saat ini kurang lebih lebih berada di Desa Selaparang, Swela, Lombok Timur.
Mengenal Kisah Keruntuhan Kerajaan Selaparang.
Sejarah Indonesia penuh dengan cerita tentang kerajaan-kerajaan yang pernah berdiri dan mengalami masa kejayaan dan selanjutnya mengalami keruntuhan. Salah satunya adalah Kerajaan Selaparang, yang mengalami keruntuhan pada abad ke-17.
Dalam artikel ini diungkap mengenai kisah keruntuhan Kerajaan Selaparang dan faktor-faktornya:
1. Profil Kerajaan Selaparang
Kerajaan Selaparang adalah sebuah kerajaan yang berdiri di pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, Indonesia.
Kerajaan ini diperkirakan didirikan pada abad ke-13 oleh seorang bangsawan dari Bali. Oleh karena itu akan ditemukan dua periode Kerajaan Selaparang yakni Periode Hindu dan Periode Islam.
Selaparang menjadi salah satu kerajaan yang kuat di wilayah Nusa Tenggara dengan pengaruh yang meluas di sekitar pulau Lombok.
2. Letak Kerajaan Selaparang
Kerajaan Selaparang terletak di pulau Lombok, di sebelah timur. Pulau Lombok terkenal dengan keindahan alamnya, seperti pantai-pantai yang menakjubkan, Gunung Rinjani, dan budaya Sasak yang khas.
Kerajaan Selaparang memanfaatkan posisi strategisnya di pulau ini untuk mengembangkan perdagangan dan kekuasaannya.
3. Kebudayaan Kerajaan Selaparang
Kerajaan Selaparang memiliki kebudayaan yang kaya dan unik. Masyarakatnya, yang mayoritas adalah suku Sasak, memiliki tradisi dan adat istiadat yang khas.
Mereka mengembangkan seni, kriya, dan musik tradisional yang indah.
Selain itu, Kerajaan Selaparang juga memiliki sistem pemerintahan yang terorganisir dengan baik, di mana raja menjadi pemimpin tertinggi dan dibantu oleh para bangsawan dan petinggi kerajaan.
4. Keruntuhan Kerajaan Selaparang
Keruntuhan Kerajaan Selaparang pada abad ke-17 disebabkan oleh beberapa faktor.
Salah satunya adalah serangan dari luar, terutama oleh kerajaan-kerajaan Bali yang berusaha memperluas pengaruhnya.
Kerajaan Selaparang juga menghadapi perselisihan internal dan konflik antara golongan bangsawan yang saling bersaing untuk kekuasaan. Ketidakstabilan politik ini melemahkan kerajaan secara keseluruhan.
Sejarah keruntuhan Kerajaan Selaparang pada abad ke-17 terjadi akibat serangan dari luar, konflik internal, dan faktor ekonomi yang mempengaruhi stabilitas kerajaan. 


Jumat, 05 Desember 2025

MAKNA UPACARA MAPEGAT




Mapegat berasal dari kata “pegat” yang berarti putus. Dengan menggunakan banten papegat, upacara Mapegat ini dilaksanakan bertujuan untuk memutuskan ikatan duniawi dan sekaligus untuk meningkatkan kesucian atman seseorang yang telah meninggal dunia sebagai rangkaian upacara ngaben di Bali. Upacara yang juga disebut Mapepegat ini dilaksanakan di pintu kori masuk pekarangan rumah. Mereka yang mengantarkan ke setra, menyelenggarakan upacara mepepegat, sebagai simbol pemutusan hubungan duniawi ini dengan sang meninggal yang sarananya disamping bebantenan satu soroh dengan tali benang yang dihubungkan pada daun carang dapdap.Setelah selesai banten (yadnya) dihaturkan, tali benang ini dilabrak masuk hingga putus yang menandai bahwa putusnya sebuah hubungan.





#bali #baliindonesia #taksu #taksubali #taksu_bali #upakara #bantenbali #canangsari #hindu #hindubali #pura #tradisibali #infobali #infodenpasar