Jumat, 29 Agustus 2025

Buda Umanis

 


Kenapa Buda Umanis, akeh wenten Pujawali ring sejebag Bali ?
Kenapa Buda Umanis, hari baik untuk memotong Rambut atau ke Salon ( #Mitra_Asih ) ?
Kenapa BUDA UMANIS ?
• PALALINTANGANnya :
.....#LINTANG_TANGIS ? ......
Pemecah masalah, Cekatan,
Suka menolong, Lemah Lembut,
Penyayang, Dermawan, Ikhlas ,
Perilakunya pantas, Sopan,
Adil dan Bijaksana,
Suka mencampuri urusan orang ,
Sering ditimpa penderitaan,
Pikirannya Bimbang dan Sedih.
• PARARASANnya :
Sifatnya seperti #BUNGA;
Mempesona lawan Jenis,
Banyak punya Anak, Banyak Saudara,
Disenangi /dicintai orang.
Penyelesai Masalah,
Rajin Bekerja dan berhasil baik.
PANCA SUDDHA: #SUMUR_SINABA ?
Suka Menolong.
Lemah lembut, Penyayang,
Dermawan, Ikhlas meyadnya,
Dicari karena Petuah/nasehatnya,
Banyak Pengetahuannya
Apakah Makna dari hari ini,
Ketika ,
bertemu dengan
Disaat itulah ,
mendapatkan
Ong Rahayu

Rabu, 27 Agustus 2025

Ngedebleg

 



Salah satu tradisi di bali yang jarang bisa kalian lihat,

karena Upacara ini hanya bisa ditemui setahun sekali tepatnya di hari ‘Kajeng Kliwon’ yaitu saat menjelang peralihan sasih keenam (kalender Bali) dan hanya ada di desa Pekraman Kemenuh, Gianyar, Bali.

Awal mula lahirnya ritual ini adalah banyaknya bencana yang ada pada masa lalu, mulai dari bencana alam sampai wabah penyakit. Oleh karena itu dilakukan sebuah ritual yang dinamakan “Ngedebleg” dan diyakini dapat mengusir bencana dan wabah penyakit.

Prosesi upacara ini dilaksanankan mulai jam 12 siang, dan wajib diikuti oleh seluruh warga desa. dengan mengarak sepasang ‘barong’ sembari membunyikan kentongan, gamelan, dan alat-alat lain yang sudah dipersiapkan...


Banten sesayut




Banten sesayut berasal dari kata “sayut” atau “nyayut” dapat diartikan mensthanakan, karena sayut disimbulkan sebagai lingga dari Ista Dewata, sakti dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Ada beberapa sumber buku yang berbeda arti dari kata sesayut.. Namun admin lebih membahas ke bahan dan caranya saja..

Dari pengertian di atas, dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa sesayut merupakan sthana dari Ista Dewata untuk memohon kerahayuan agar orang yang melaksanakan yadnya itu terhindar dari mala, gangguan, atau penyakit dan sebagainya.

Kulit sesayut bentuknya sama dengan tamas, hanya bedanya di tengah-tengah kulit sesayut terdapat isehan.

Ada dua jenis sampian sesayut, yaitu sampian sesayut untuk banten yang menggunakan tamas, dan sesayut yang menggunakan nampan atau ngiu.

Adapun beberapa jenis sesayut sebagai berikut :

1. Sesayut Mertya Dewa

Sesayut ini terdiri dari sebuah kulit sesayut, di atasnya diisi penek dan beras kuning, dialasi dengan takir (terbuat dari daun kelapa), dilengkapi dengan lauk-pauk, jajan, buah-buahan, sampian naga sari, penyeneng dan canang ganten atau canang jenis lainnya.

2. Sesayut Sida Karya

Banten Sesayut Sidha Karya ditujukan kehadapan Para Dewa pada saat melaksanakan upacara Yadnya dalam bentuk permohonan agar kegiatan yang dilaksanakan tidak menemui kegagalan. Banten sesayut Sidha Karya ini digunakan dalam upacara Panca Yadnya ataupun dalam bentuk pribadi sifatnya. Ada yang secara pribadi menghaturkan banten ini di Sanggah Kemulan atau di Pura Desa. Ada pula yang digunakan pada saat hari kelahirannya atau otonannya.

Ini adalah salah satu Cara pembuatan Sesayut Sidha Karya,,

Alat dan Bahan:

– Kulit Sesayut
– Segehan bentuk segi empat
– Tumpeng kecil
– 4 buah kwangen
– 2 buah tulung berisi nasi
– Raka-raka (jajan-jajan dan buah-buahan)
– Daun sirih dan pinang
– Sampian Sesayut

Cara Menatanya:

Kulit sesayut diletakkan di atas nampan atau nare, di atasnya diisi segehan segi empat dan ditengah-tengah segehan diisi tumpeng kecil. Di sampingnya ditancapi kwangen 4 buah. Ujung tumpeng ditancapi bunga tunjung. Di sampingnya diisi raka-raka (buah dan jajan) serta dua buah tulung berisi nasi yang dibawahnya dialasi dengan daun sirih dan pinang lalu diatasnya diberi sampian sesayut.

3.Sesayut Sida Purna

Sesayut Sidha Purna dihaturkan oleh seseorang dengan tujuan menentramkan dirinya. Apabila seseorang tiba-tiba diliputi rasa takut dan cemas, was-was yang tidak diketahui penyebabnya.

Banten Sesayut Sidha Purna juga digunakan pada saat pelaksanaan Manusa Yadnya baik itu pada saat otonan, mesangih dan yang lainnya.

Cara Pembuatan dan Alat dan Bahan:

– Kulit Sesayut
– nasi 3 bulung
– telur itik rebus dibagi 3
– bunga tunjung
– raka-raka (buah dan jajan)
– sampian nagasari

Cara menatanya:

Untuk alasnya bisa digunakan nampan atau nare.
Diisi 3 bulung nasi, dipinggirnya diisi telur itik yang dibagi 3. Di atas nasi ditancapi bunga tunjung, disampingnya diisi raka-raka (bunga dan buah) dan terakhir disusun dengan sampian nagasari di atasnya.

4. Sesayut Langgeng Amukti Sakti.

Sesayut ini terdiri dari kulit sesayut yang diisi sebuah penek. Penek tersebut disisipi sebuah kalpika dan muncuk dapdap. Kemudian perlengkapan lainnya sama dengan kelengkapan sesayut lainnya.


KONSULTASI ATAU PESAN BANTEN KEBUTUHAN UPAKARA WA: 08976687246 ATAU KLIK DISINI

Banten peras dan maknanya

 



Kata “Peras” berarti “Sah” atau “Resmi”,dengan demikian penggunaan banten “Peras” bertujuan untuk mengesahkan dan atau meresmikan suatu upacara yang telah diselenggarakan secara lahir bathin.

Makna banten peras tersebut adalah sebagai lambang kesuksesan. Artinya dalam banten peras tersebut terkemas nilai-nilai berupa konsep hidup sukses. Konsep hidup sukses itulah yang ditanamkan ke dalam lubuk hati sanubari umat lewat natab banten peras.
Dalam banten peras itu sudah terkemas suatu pernyataan dan permohonan untuk hidup sukses serta konsep untuk mencapainya

Dalam Lontar “Yadnya Prakerti”disebutkan bahwa Peras dinyatakan sebagai lambang Hyang Triguna Sakti,yaitu suatu bentuk Sugesti bagi pikiran telah berhasil melaksanakan suatu keinginan serta mencapai tujuan yang diharapkan.

#. Perlengkapan Peras

Banten Peras terdiri dari beberapa komponen/ bagian berupa Jejahitan / Reringgitan / Tetuasan, antara lain :

- Taledan / Tamas / Ceper
Sebagai dasar dari semua bagian jejahitannya, pemakaian taledan sebanyak 2 lembar, yang mana taledan pertama hanya dibingkai/sibeh yaitu dibawah dan atas (arahnya sama). Sedangkan taledan satunya lagi berbingkai (sibeh) keseluruhan sisinya.

- Tampelan, Benang Tukelan dan Uang.
Ini berupa dua lembar sirih yang telah diisi pinang dan kapur diletakkan berhadapan lalu dilipat dan dijahit, disebut Tampelan atau Base Tampelan disatukan meletakkannya dengan Benang Tukelan warna putih dan Uang.

- Tumpeng
Dibagian depan dari Base Tampelan, Benang Tukelan dan Uang diletakkan Tumpeng Dua buah (simbol rwa bhineda – baik buruk) lambang kristalisasi dari duniawi menuju rohani.

- Rerasmen
Rerasmen (lauk pauk) terdiri dari kacang-kacangan yang digoreng, saur, sambal ikan (telur, ayam, teri), terung, kecarum, mentimun dan lainnya disesuaikan dengan Desa Kala Patra. Sebagai alasnya dapat dipergunakan Tangkih / Celemik atau Ceper kacang yang ukurannya lebih kecil dari Ceper canang.

- Buah
Dibagian belakang tumpeng dan rerasmen diletakkan buah-buahan

- Jajan
Jajan ada banyak jenis dan macamnya. Penggunaannya juga disesuaikan dengan jenis banten yang akan disajikan. Jajan untuk banten Peras, dipergunakan Jaja Begina, Uli, Dodol, Wajik, Bantal, Satuh dan lainnya.

# Sampyan Peras

Berupa sampyan khusus yang dipergunakan hanya untuk Peras, disebut juga “Sampyan Metangga”, jenisnya ada 2 macam yaitu : pertama berbentuk kecil dan sederhana yang biasa dipergunakan pada banten sorohan dan kedua bentuknya agak besar yang dipergunakan pada pejati wujudnya bertingkat, karena itulah disebut sampyan metangga.

Adapun mantra Peras adalah sebagai berikut :

Om Suddha bumi suddha akasa
Om Suddha dewa suddha manusa
Om Siddhir astu tad astu
Om Ksama sampurna ya namah swaha
Om Mili mili maha amrtham
Suksma parama siwa ya namah
Om Ung ung Om Ang Ung Mang.
Om Ekawara, Dwiwara, Triwara
Caturwara, Pancawara
Peras prasiddhanta
Parisudha ya namah swaha, Om.