Kamis, 17 Juli 2025

Kisah Dewi Gangga dalam Rambut Dewa Siwa: Perjalanan Air Suci Menyucikan Dunia

 


Dalam mitologi Hindu, Dewi Gangga memegang peranan penting sebagai personifikasi dari Sungai Gangga yang dihormati dan dianggap suci. Kisah tentang Dewi Gangga sangat mendalam, dengan simbolisme yang mencakup penyucian dan pembebasan, tidak hanya dalam hal fisik tetapi juga dalam dimensi spiritual. Salah satu cerita yang paling terkenal mengenai Dewi Gangga adalah kisah penurunannya dari surga ke bumi, di mana ia melalui rambut Dewa Siwa untuk memastikan airnya sampai ke bumi dengan cara yang aman dan penuh berkah. Kisah ini tidak hanya menggambarkan betapa pentingnya air sebagai elemen spiritual dalam agama Hindu, tetapi juga menyoroti nilai gotong royong dan keharmonisan dalam dunia ilahi dan manusia.
Menurut mitologi, Dewi Gangga yang tinggal di surga ingin turun ke bumi untuk memberikan berkah kepada umat manusia. Namun, air yang sangat deras yang dibawa Gangga dari surga berpotensi menimbulkan bencana besar bagi bumi. Air tersebut terlalu kuat dan bisa merusak segala sesuatu yang ada di bumi. Menyadari bahaya yang dapat ditimbulkan, Dewa Siwa, dengan kekuatan ilahinya, menawarkan solusi dengan membiarkan air Gangga mengalir melalui rambutnya yang panjang. Rambut Dewa Siwa yang melambangkan kontrol dan kebijaksanaan itu menjadi saluran untuk menenangkan aliran air yang sangat deras. Dengan cara ini, air Gangga bisa mengalir ke bumi dengan penuh berkah dan penyucian, tetapi tanpa menimbulkan kerusakan atau bencana.
Kekuatan simbolis dari rambut Dewa Siwa sangat mendalam dalam tradisi Hindu. Rambutnya yang panjang tidak hanya melambangkan kekuatan fisik, tetapi juga kontrol terhadap segala hal yang ada di dunia ini, terutama yang berkaitan dengan alam dan kekuatan yang lebih besar dari manusia. Dalam banyak representasi, rambut Dewa Siwa melambangkan hubungan antara dunia fisik dan spiritual, di mana air yang mengalir melalui rambut tersebut adalah perwujudan dari harmoni antara kedua dunia tersebut. Dalam hal ini, rambut Dewa Siwa tidak hanya bertindak sebagai tempat penyaringan, tetapi juga sebagai penghubung antara alam semesta, Tuhan, dan umat manusia.
Ketika air Gangga mengalir melalui rambut Dewa Siwa, ia membawa bukan hanya air fisik, tetapi juga energi spiritual yang membersihkan segala bentuk dosa dan memberi kehidupan baru kepada semua yang bersentuhan dengannya. Air tersebut dianggap sebagai sumber kehidupan yang murni dan memiliki kekuatan untuk membersihkan segala kekotoran, baik dalam hal fisik maupun spiritual. Air Gangga yang suci ini digunakan dalam berbagai upacara keagamaan untuk penyucian diri, seperti melukat, yang merupakan ritual penyucian diri umat Hindu Bali. Dalam upacara tersebut, air Gangga dianggap sebagai simbol dari pemurnian jiwa dan pembersihan dosa.
Lebih dari sekadar sebuah kisah tentang air, rambut Dewa Siwa dan air Gangga juga menunjukkan bagaimana umat Hindu menghargai dan merawat alam, serta pentingnya menjaga keseimbangan dalam segala aspek kehidupan. Proses penyaluran air yang begitu bijaksana melalui rambut Dewa Siwa juga mengajarkan kita tentang perlunya kebijaksanaan dalam menghadapi kekuatan alam, bukan dengan kekuatan kasar, tetapi dengan keharmonisan dan pengertian. Dalam kehidupan sehari-hari, ini juga menjadi ajaran bagi kita untuk selalu mencari cara untuk hidup selaras dengan alam, menjaga keharmonisan antara dunia fisik dan spiritual.
Upacara yang melibatkan air Gangga, seperti melukat, menggambarkan betapa besar makna spiritual dan kultural air ini dalam kehidupan masyarakat Hindu, khususnya di Bali. Air Gangga tidak hanya digunakan untuk membersihkan tubuh, tetapi juga digunakan untuk membersihkan pikiran dan jiwa. Ini adalah bagian dari proses untuk mencapai kesucian batin, agar seseorang bisa hidup lebih dekat dengan Tuhan dan memahami makna hidup yang lebih dalam.
Cerita tentang Dewi Gangga ini juga mengajarkan kita tentang pentingnya kebijaksanaan dalam menjaga dan memanfaatkan kekuatan yang ada di sekitar kita. Dalam dunia yang semakin sibuk dan penuh dengan tantangan, kita diajarkan untuk tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik atau material, tetapi juga untuk mencari cara untuk menjaga keseimbangan hidup melalui kebijaksanaan spiritual. Seperti halnya rambut Dewa Siwa yang mengalirkan air dengan penuh keharmonisan, kita juga bisa belajar untuk menenangkan kehidupan kita dengan penuh kesadaran, menghargai nilai-nilai spiritual, dan menjaga keseimbangan dalam setiap tindakan kita. 

Jembatan Rama




Jembatan Rama, disebut juga Jembatan Ram Setu berarti "Jembatan Rama", adalah rantai batu kapur antara pulau Mannar, di dekat Sri Lanka barat laut dan Rameswaram, di pantai tenggara India. Menurut kepercayaan Hindu, jembatan ini dibangun oleh Rama, inkarnasi Dewa Wisnu, untuk menyelamatkan Sita yang diculik ke Alengka oleh Rahwana, seperti yang ditulis dalam kisah Ramayana. Banyak inskripsi, koin, panduan pengelana tua, referensi lama, peta religius kuno menandakan struktur ini dianggap suci oleh umat Hindu. Jembatan itu pertama kali disebutkan dalam wiracarita berbahasa Sanskerta, Ramayana, gubahan Walmiki. Dunia barat pertama kali menemukannya dalam buku "karya bersejarah pada abad ke-9" oleh Ibnu Khordadbeh dalam Buku tentang Jalan dan Negara (sekitar 850 M), merujuk kepada tempat yang disebut Set Bandhai atau "Jembatan Laut". Nama Jembatan Rama atau Rama Setu (Setu berarti jembatan) diberikan kepada bentang alam mirip jembatan ini di Rameshwaram, karena legenda Hindu mengidentifikasinya sebagai jembatan yang dibangun oleh Wanara (manusia monyet), tentara Rama, yang digunakan untuk mencapai Alengka dan menyelamatkan istrinya Sita dari raja Rakshasa, Rahwana. Karena memisahkan laut India dan Sri Lanka, wilayah itu disebut Sethusamudram yang berarti "Jembatan Laut". Petanya dibuat oleh pembuat peta Belanda pada tahun 1747, tersimpan di Perpustakaan Saraswati Mahal di Tanjore, menunjukkan wilayah ini sebagai Ramancoil, dari bahasa Tamil "Raman Kovil" (Kuil Rama) Peta lain disusun oleh J. Rennel tahun 1788 diambil dari perpustakaan yang sama, menyebut daerah ini sebagai Kuil Rama. Peta lainnya terdapat di atlas sejarah Schwartzberg dan sumber-sumber lain menyebut daerah ini dengan berbagai nama seperti koti, Sethubandha dan Sethubandha Rameswaram. Ramayana gubahan Walmiki menyatakan pembangunan jembatan ini di bawah komando Rama dalam Sloka 2-22-76. Rama Bridge merupakan salah satu "Mysterious Places in the World’s". Jembatan purba misterius sepanjang 18 mil (30 Km) yang menghubungkan Pulau Mannar (Srilanka) dan Pulau Pamban (India) ini diperkirakan telah berumur lebih dari 1.000.000 tahun. Citra dari Jembatan Adam itu sendiri sangat mudah terlihat dari atas permukaan air laut karena letaknya yang tidak terlalu dalam, yaitu hanya tergenang sedalam kira-kira 1,2 meter (jika air laut sedang surut). Status dari jembatan tersebut masih merupakan misteri hingga saat ini, dan menurut tafsiran para ahli, diperkirakan Jembatan Adam erat kaitannya dengan wiracarita terkenal India, Ramayana. S.U.Deraniyagala, Direktur Jenderal Arkeologi Srilanka yang juga merupakan pengarang buku Early Man and the Rise of Civilization in Sri Lanka: the Archaeological Evidence mengatakan bahwa peradaban manusia telah muncul di kaki Gunung Himalaya sekitar 2.000.000 tahun silam. Walaupun menurut para sejarawan peradaban paling awal didaratan India adalah peradaban bangsa Ca, hal itu bukan merupakan suatu jaminan bahwa terdapat peradaban yang lebih tua lagi dari mereka sebelumnya. Para sarjana menaksirkan bahwa mungkin jembatan purba ini dibangun setelah daratan Sri Lanka terpisah oleh India jutaan tahun silam. Menurut wiracarita Ramayana, jembatan itu dibangun oleh pasukan manusia monyet (wanara) di bawah pengawasan Rama, dan dalam pewayangan Jawa disebut "Situbanda" atau "Situbandalayu". Maksud dari pembangunannya sendiri ialah sebagai tempat penyebrangan menuju Kerajaan Alengka dalam misi untuk menyelamatkan Dewi Sita (Sinta), dimana pada saat itu Dewi Sita sedang berada dalam masa penculikannya oleh Raja Kerajaan Alengka, yaitu Rahwana. Menurut agama Hindu, sejarah dunia terbagi menjadi 4 masa, yaitu Satyayuga (1.728.000 tahun), Tretayuga (1.296.000 tahun), Dwaparayuga (864.000 tahun) dan Kaliyuga (432.000 tahun). Tahap sekarang menurut kalender mereka ialah Kaliyuga. Kisah dalam Ramayana, menurut Kalender Hindu, terjadi pada masa Tretayuga. Berarti menurut catatan dalam epos tersebut, usia dari Jembatan tersebut berkisar 1.700.000 tahun.


KONSULTASI ATAU PESAN BANTEN KEBUTUHAN UPAKARA WA: 08976687246 ATAU KLIK DISINI

SEJARAH SEPUTAR MAJAPAHIT



Dyah Pitaloka Citraresmi atau Citra Rashmi (1340–1357) adalah seorang putri Kerajaan Sunda Galuh. Menurut Pararaton, ia dijodohkan dengan Hayam Wuruk, raja Majapahit yang sangat berhasrat untuk menjadikannya sebagai permaisuri. Akan tetapi dalam tragedi Perang Bubat, putri raja sunda ini bunuh diri setelah mendapati ayahnya (Prabu Maharaja) dan semua pengiring rombongan tewas. Tradisi menyebutkan Dyah Pitaloka sebagai gadis yang sangat cantik.
Hayam Wuruk, raja Majapahit, dan dengan didasari alasan politik, ingin menjadikan putri Citra Rashmi (Pitaloka) sebagai istrinya. Ia adalah anak perempuan dari Prabu Maharaja Lingga Buana dari Kerajaan Sunda. Pada referensi lain yakni Kitab Pararaton menyebut "...Bhre Prabhu ayun ing Putri ring Suṇḍa. Patih Maḍu ingutus anguṇḍangeng wong Suṇḍa, ahidep wong Suṇḍa yan awawarangana ..." yang menyatakan bahwa saat itu Hayam Wuruk mengutus Patih Madhu, makcomblang dari Majapahit, datang ke kerajaan Sunda untuk menjodohkan dan melamar tuan putri Sunda dalam suatu pernikahan kerajaan.
Adapun pada sisi lain, menurut beberapa sumber lain yaitu Wim Van Zaten, seorang Antropologis dari Universitas Leiden Belanda dalam "The Poetry of Tembang Sunda" dan J Noorduyn dalam " Bujangga Manik's Journeys through Java : Topographical Data from An Old Sundanese Source" menyatakan saat itu Wilayah Jawa dipandang memiliki budaya dan lembaga pendidikan agama yang lebih tinggi oleh masyarakat Sunda, sehingga banyak masyarakat Sunda belajar ke Jawa dan mengadopsi beberapa aspek budaya jawa. Dengan kondisi tersebut, sehingga menjadikan Putri Sunda ingin menikah dengan Raja Jawa sebagaimana di ungkapkan dalam Carita Parahyangan yakni "...Urang reya sangkan nu angkat ka Jawa, mumul nu lakian di Sunda..." yang terjemahannya adalah "... Awalnya mereka pergi ke Jawa, sebab putri tidak mau bersuami orang Sunda...".
Berbesar hati serta melihat perjodohan ini sebagai peluang untuk mengikat persekutuan dengan kerajaan Majapahit yang besar dan jaya, raja Sunda dengan suka cita memberikan restunya dan ikut pergi mengantarkan putrinya ke Majapahit untuk dinikahkan dengan Hayam Wuruk.
Pada tahun 1357 rombongan kerajaan Sunda tiba di Majapahit setelah melayari Laut Jawa. Rombongan kerajaan Sunda mendirikan pesanggrahan di Lapangan Bubat di bagian utara Trowulan, Ibu Kota Majapahit. Mereka menantikan jemputan dari pihak Majapahit serta upacara kerajaan yang pantas layaknya pernikahan agung kerajaan.
Dari Pihak Kerajaan Majapahit memiliki dilema atas kedatangan calon permaisuri ini. Menurut catatan dari Pustaka Rajyarajya yang berasal dari Cirebon & merupakan bagian dari Naskah Wangsakerta yang tersimpan di Museum Sejarah Sunda "Sri Baduga" di Bandung, Kakek Hayam Wuruk yaitu Raden Wijaya (penerus tahta kerajaan Sunda ke-26) adalah putra dari Rakyan Jayadarma yang menikah dengan Dyah Lembu Tal. Dimana Rakyan Jayadarma yang tewas diracun akibat perebutan kekuasaan, merupakan putra mahkota kerajaan Sunda dari Prabu Guru Darmasiksa. Sehingga Hayam Wuruk dianggap masih memiliki kekerabatan dekat dengan calon permaisuri. Hal ini menjadikan Gajah Mada menyampaikan kepada rombongan kerajaan Sunda bahwa perkawinan antara Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka tidak dapat dilaksanakan. Merasa dipermalukan, rombongan kerajaan Sunda pada akhirnya memilih berperang Majapahit demi menjaga kehormatan.
Sedangkan pada bagian lain, menurut seorang Arkeolog Indonesia bernama Agus Aris Munandar yang menafsirkan dari kisah Panji Angreni (1801) menyatakan bahwa ayahanda Hayam Wuruk yang bernama Kertawardhana (suami dari Tribhuwanatunggadewi) berkeberatan dengan pernikahan tersebut, terlebih Hayam Wuruk telah dijodohkan dengan Indudewi, anak Rajadewi Maharajasa yang berkedudukan di Daha (Kediri). Sehingga Kertawarddhana memerintahkan Gajah Mada untuk membatalkan pernikahan tersebut
Selain kedua hal tersebut diatas, sebuah informasi yang masih dipelajari sumbernya menyatakan bahwa Mahapatih Gajah Mada memandang peristiwa ini sebagai kesempatan untuk menaklukan Sunda dibawah kemaharajaan Majapahit, dan bersikeras bahwa Sang Putri dipersembahkan untuk Raja Majapahit, sebagai tanda takluk Kerajaan Sunda di bawah kekuasaan Majapahit
Raja Sunda amat murka dan memilih melawan Majapahit demi menjaga kehormatan.
Akibat ketegangan ini terjadi pertempuran antar rombongan kerajaan Sunda melawan tentara Majapahit. Rombongan kerajaan Sunda berniat untuk bela pati melakukan puputan demi membela kehormatan mereka di Lapangan Bubat. Meskipun memberikan perlawanan dengan gagah berani, rombongan kerajaan Sunda kewalahan dan akhirnya gugur dalam kepungan tentara Majapahit. Hampir seluruh rombongan kerajaan Sunda tewas dalam tragedi ini. Tradisi dan kisah-kisah lokal menyebutkan bahwa dalam kesedihan dan hati yang remuk redam, Sang Putri melakukan bunuh diri untuk membela kehormatan dan harga diri negaranya
Menurut tradisi, kematian Dyah Pitaloka diratapi oleh Hayam Wuruk serta segenap rakyat Kerajaan Sunda yang kehilangan sebagian besar keluarga kerajaannya. Oleh masyarakat Sunda kematian Sang Putri dan Raja Sunda dihormati dan dipandang sebagai suatu keberanian dan tindakan mulia untuk membela kehormatan bangsa dan negaranya. Ayah Sang Putri, Prabu Maharaja Lingga Buana disanjung dan dihormati oleh masyarakat Sunda dengan gelar "Prabu Wangi" (Bahasa Sunda: Raja yang memiliki nama yang harum) karena tindakan heroiknya membela kehormatan negaranya melawan Majapahit. Keturunannya, raja-raja Sunda yang kemudian, diberi gelar "Siliwangi" (dari kata Silih Wangi dalam bahasa Sunda berarti: Penerus Prabu Wangi). Tragedi ini sangat merusak hubungan antara kedua kerajaan ini yang berakibat permusuhan hingga bertahun-tahun kemudian. Hubungan kedua negara ini tidak pernah pulih kembali seperti sediakala. Sementara itu di kraton Majapahit, Gajah Mada menghadapi permusuhan dan ketidakpercayaan, karena tindakannya atas dasar fakta kedekatan kekerabatan Dyah Pitaloka dan menjalankan keinginan Ayahanda Hayam Wuruk (Kertawarddhana) tersebut, namun berakibat kurang baik kepada terlukainya perasaan Raja Hayam Wuruk.
Kisah Putri Dyah Pitaloka dan Perang Bubat menjadi tema utama dalam Kidung Sunda. Catatan sejarah mengenai peristiwa Pasunda Bubat disebutkan dalam Pararaton, akan tetapi sama sekali tidak disinggung dalam naskah Nagarakretagama yang merupakan sumber primer UNESCO The Memory of the World Register for Asia/Pasific dan memiliki informasi lebih kuat, karena Nagarakretagama ini ditulis tahun 1365 (periode kekuasaan Hayam Wuruk). Menurut beberapa sejarawan termasuk Aminuddin Kusdi menyebut bahwa Kidung Sunda digunakan sebagai sumber sejarah sekunder ataupun tersier, karena berbagai fakta sejarah di dalamnya tidak sesuai dengan sumber-sumber lain yang lebih kredibel seperti Prasasti. Disamping melihat periode penulisan Kidung Sunda pada abad ke-19 yang merupakan masa munculnya beberapa karya sastra kontroversial..


KONSULTASI ATAU PESAN BANTEN KEBUTUHAN UPAKARA WA: 08976687246 ATAU KLIK DISINI

Kisah Pendek Arca Sukasrana di Bale Agung Pura Desa Puseh Kapal "Raksasa Pemikul Taman Sri Wedari"




Sukrasana adalah adik dari Bambang Sumantri atau Patih Suwanda. Sukrasana adalah anak dari Begawan Suwandagni dari pertapaan Jatisarana. Walau pun wujudnya buta bajang (raksasa kecil), tetapi ia sangat sakti dan memiliki cinta kasih yang luar biasa kepada saudara tuanya (Sumantri). Ia senantiasa membantu kesulitan kakaknya.

Ketika itu Sumantri sedang mendapat hukuman dari Raja Arjuna Sasrabahu. Ia dapat kembali menjadi patih apabila mampu memindahkan Taman Sri Wedari dari kahyangan utara segara (tempat Batara Wisnu) ke kerajaan Maespati. Sumantri putus asa, karena tidak mungkin dapat melakukannya. Tetapi Sukrasana membantunya dengan ikhlas, bahkan hanya dengan sekejap mata, taman itu telah pindah ke Maespati. Sumantri sangat keheranan dan berterimakasih kepada adiknya itu.

Sebagai tanda terimakasih, Sukrasana minta diperkenankan ikut kakaknya ke mana pun pergi. Ini sebenarnya karena cinta kasih Sukrasana kepada kakaknya, Sumantri agak bimbang karena Sukrasana berbentuk raksasa kecil, sedangkan Sumantri sangat tampan menawan gagah perkasa.
Sumantri kembali menjadi patih (perdana mentri). Sukrasana diam-diam datang ke Maespati. Di sana ia kebingungan apa yang harus dikerjakan sementara kakaknya sedang bertugas. Lalu ia berkeliling istana, ia mendapati para putri keraton sedang mandi. Ia termenung dan terpesona akan kecantikan para putri keraton itu.

Ternyata ada salah satu putri yang menyadari kehadiran Sukrasana. Putri itu menjerit diikuti pula putri-putri lainnya. Sumantri pun segera dipanggil oleh Arjuna Sasrabahu agar adiknya itu dinasehati dan disingkirkan. Sumantri pun agak marah dan menyuruh adiknya pergi, Sukrasana pun menolak dan tetap mengikuti kakaknya. Lalu Sumantri mengangkat busur dan berpura-pura akan memanah adiknya dengan harapan adiknya (Sukrasana) itu mau pergi. Namun tetap saja merengek.

Lama-lama kelamaan tangan Sumantri berkeringat dan secara tidak sadar panahnya lepas dan mengenai Sukrasana. Adiknya pun meninggal seketika. Sumantri sangat menyesal dan menangis sambil memeluk jasad Sukrasana.

@parekan_poleng
Via @info.kapal.official 


KONSULTASI ATAU PESAN BANTEN KEBUTUHAN UPAKARA WA: 08976687246 ATAU KLIK DISINI

Sanggah Pemerajan




 Sanggah Pemerajan berasal dari kata Sanggah yang berarti Sanggar (tempat suci), Pemerajan yang berasal dari kata praja (keluarga).

Jadi Sanggah Pamerajan dapat diartikan sebagai tempat suci bagi suatu keluarga tertentu.

Secara umum kebanyakan orang menyebutnya dengan lebih singkat seperti Sanggah atau Merajan.
Akan tetapi yang perlu diingat tidak berarti bahwa Sanggah untuk orang Jaba, sedangkan Merajan untuk Triwangsa. Yang satu ini kekeliruan di masyarakat sejak lama, perlu diluruskan.

Sejarah Sanggah Pemerajan
Dalam sejarah pembangunan Sanggah Pemerajan, terdapat tiga versi. Yaitu sebagai berikut:

1. Sanggah Pemerajan dengan konsep Mpu Kuturan (Trimurti)

Pelinggih yang letaknya di ‘hulu’ (kaja-kangin) adalah pelinggih Kemulan (Rong Tiga, Dua, Satu), tidak mempunyai pelinggih Padmasana/ Padmasari.
Kemulan yang dikembangkan oleh Mpu Kuturan, Di dalam lontar Tutur Kuturan disebutkan bahwa Kemulan Rong 3 adalah stana Sanghyang Tiga Sakti (Brahma, Wisnu, Siwa) sedangkan di ‘Batur Kemulan’ ruangan di bawah Rong 3 adalah stana roh para leluhur yang sudah disucikan (pitra yadnya)

2. Sanggah Pemerajan dengan konsep Danghyang Nirarta (Tripurusha)

Pelinggih yang letaknya di ‘hulu’ (kaja-kangin) adalah pelinggih Padmasana/ Padmasari, sedangkan pelinggih Kemulan tidak berada di Utama Mandala.
Kemulan yang dikembangkan oleh Danghyang Nirata adalah Kemulan Rong 2, Di mana distanakan Ida Sanghyang Widhi sebagai ‘arde nareswari’ = rua bhineda (lontar Dwijendra Tattwa). Oleh karena itu maka di setiap perumahan agar dibangun tempat suci keluarga, terdiri dari pelinggih-pelinggih: Padmasari (Tripurusha), Kemulan R3 (Trimurti), Taksu (Saraswati), dan di pekarangan ada pelinggih Sedahan Karang (Bhatara Kala). Acuannya Lontar Gong Besi dan Lontar Sundarigama.

3. Sanggah Pemerajan dengan kombinasi keduanya.

Biasanya dibangun setelah abad ke-14, maka pelinggih Padmasana/ Padmasari tetap di ‘hulu’, namun di sebelahnya ada pelinggih Kemulan.

Dalam sejarah ada yang menyebutkan bahwa Mpu Kuturan dan Danghyang Nirarta mendapatkan wahyu mengenai konsep itu di Purancak/ Jembrana.

Apakah itu Trimurti dan Tripurusha? Penjelasannya adalah sebagai berikut:

Trimurti adalah keyakinan stana Sanghyang Widhi sesuai dengan Ang – Ung – Mang (AUM = OM) atau Brahma, Wisnu, Siwa, adalah kedudukan Sanghyang Widhi dalam posisi horizontal, di mana Brahma di arah Daksina, Wisnu di Uttara, dan Siwa di Madya.

Tripurusha adalah keyakinan stana Sanghyang Widhi sesuai dengan Siwa – Sada Siwa – Parama Siwa, adalah kedudukan Sanghyang Widhi dalam posisi vertikal, di mana Parama Siwa yang tertinggi kemudian karena terpengaruh Maya menjadilah Sada Siwa, dan Siwa.

Pembagian Sanggah Pemerajan
Sanggah Pemerajan dapat dibedakan menjadi 3, yaitu sebagai berikut:

1)Sanggah Pamerajan Alit (milik satu keluarga kecil)
2)Sanggah Pamerajan Dadia (milik satu soroh terdiri dari beberapa ‘purus’/ garis keturunan)
3)Sanggah Pamerajan Panti (milik satu soroh terdiri dari beberapa Dadia dari lokasi Desa yang sama)

Sedangkan untuk Pelinggih yang ada di Sanggah Pemerajan, yaitu sebagai berikut

1)Sanggah Pamerajan Alit : Padmasari, Kemulan Rong Tiga, Taksu
2)Sanggah Pamerajan Dadia : Padmasana, Kemulan Rong Tiga, Limas Cari, Limas Catu, Manjangan Saluang, Pangrurah, Saptapetala, Taksu, Raja Dewata
3)Sanggah Pamerajan Panti : Sanggah Pamerajan Dadia ditambah dengan Meru atau Gedong palinggih Bhatara Kawitan
Pelinggih-pelinggih umum yang ada di Sanggah Pemerajan merupakan stana dalam niyasa Sang Hyang Widhi dan para roh leluhur yang dipuja. Penjelasan yang stana pada setiap pelinggih sebagai berikut:

Kemulan Rong Tiga yaitu Sanghyang Trimurti, Sanghyang Widhi dalam manifestasi sebagai Brahma – Wisnu – Siwa atau disingkat Bhatara Hyang Guru .
Selain itu juga ada kemulan
Rong 1 (Sanghyang Tunggal),
Rong 2 (Arda nareswari),
Rong 4 (Catur Dewata),
Rong lima (Panca Dewata).

Padmasana/ Padmasari yaitu Sanghyang Tri Purusha, Sanghyang Widhi dalam manifestasi sebagai Siwa – Sada Siwa – Parama Siwa.

Sapta Petala yaitu Sanghyang Widhi dalam manifestasi sebagai pertiwi dengan tujuh lapis: patala, witala, nitala, sutala, tatala, ratala, satala. Sapta petala juga berisi patung naga sebagai simbol naga Basuki, pemberi kemakmuran.

Taksu yaitu Sanghyang Widhi dalam manifestasi sebagai Bhatari Saraswati (sakti Brahma) penganugrah pengetahuan.

Limascari dan Limascatu yaitu Sanghyang Widhi dalam manifestasi sebagai ardanareswari: pradana – purusha, rwa bhineda.

Pangrurah yaitu Sanghyang Widhi sebagai manifestasi Bhatara Kala, pengatur kehidupan dan waktu.

Manjangan Saluwang yaitu Pelinggih sebagai penyungsungan Mpu Kuturan, mengingat jasa-jasa beliau yang meng-ajegkan Hindu di Bali.
Raja-Dewata yaitu Pelinggih roh para leluhur (di bawah Bhatara Kawitan).

Jika dalam pembangunan Sanggah Pemerajan semeton bingung yang manakah yang baik atau lebih tepat dalam memilih menggunakan konsep dari Mpu Kuturan , Danghyang Nirarta atau konsep kombinasi dari keduanya. Sebenarnya semeton bisa menggunakan konsep yang mana saja sesuai dengan keyakinan masing-masing. Jika dikutip dari pendapat Bhagawan Dwija

” memakai kedua konsep, atau kombinasi A dan B adalah yang tepat karena kita menghormati kedua-duanya, dan kedua-duanya itu benar, mengingat Sanghyang Widhi ada di mana-mana, baik dalam kedudukan horizontal maupun dalam kedudukan vertikal.”

Semoga artikel ini dapat bermanfaat untuk sahabat halopejati.
Jika terdapat penjelasan yang kurang lengkap ataupun kurang tepat. Mohon dikoreksi bersama. Suksma…

sumber:sitidharma.orginputbali.com